The Alana Hotel, Solo.
The Alana Hotel mengambil konsep dari lokalitas daerah Solo.
Gambar 3.1 Logo Alana Hotel.
(sumber: alanahotels.com)
Lokasi : Jl. Adi Sucipto, Blukukan, Blulukan, Kec. Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57174
Klasifikasi: Hotel bintang 4
Fasilitas:
1. Kamar dengan 6 tipe kamar:
a. Kamar Superior b. Superior Family c. Kamar Deluxe
d. Kamar Deluxe Family e. Kamar Junior Suite f. Kamar President Suite 2. Aquamarine Pool & Bar 3. Cinnamon Restaurant 4. Rosemary Spa
5. Fitness Centre 6. Kids Club
34 7. Function Room
Gambar 3.2 Kamar Deluxe (sumber: alanahotels.com)
The Alana Hotel di Solo ini merupakan salah satu hotel bintang 4 yang diminati oleh wisatawan yang datang ke daerah Solo. Penerapan lokalitas pada hotel ini dilihat pada pengaplikasian batik di daerah kaca di kamar tidur dan pada plafon di area lobby.
Gambar 3.3 Lobby Alana (sumber: alanahotels.com)
Selain pada lobby hotel, penerapan lokalitas terlihat pada area restoran yang mengaplikasikan motif batik-batik lokal khas Solo dan pada area kamar yang diaplikasikan pada bagian kaca.
35
Gambar 3.4 Pengaplikasian Motif Batik (sumber: alanahotels.com) 3.1.2 Analisis Studi Banding 2
The Alana Hotel, Yogyakarta.
The Alana Hotel mengambil konsep dari lokalitas daerah Yogyakarta.
Gambar 3.4 The Alana Hotel (sumber: alanahotels.com)
Lokasi: Jl. Palagan Tentara Pelajar KM.7, Mudal, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581
Klasifikasi: Hotel bintang 4 Failitas:
1. Kamar dengan 3 tipe kamar:
a. Deluxe Room
b. Executive Club Room c. Executive Suite Room 2. Swimming Pool
3. Andrawina Restaurant 4. Numero Uno Pizza Bar 5. Executive Lounge
36 6. Axura Spa
7. Axura Gym 8. Kids Club 9. Function Room 10. Pawon Semar
Gambar 3.5 Deluxe Room (sumber: alanahotels.com)
Penerapan lokalitas di hotel ini terlihat dari penggunaan material lokalitas, pengaplikasian motif batik di partisi, dan sangat terlihat di area pawon semar karena menerapkan rumah adat daerah Jawa.
37
Gambar 3.6 Pengaplikasian Lokalitas di Alana Yogyakarta (sumber: alanahotels.com)
Suasana Yogya dan lokalitas terasa di hoetl ini terutama di area Pawon Semar yang tempatnya didesain mirip dengan rumah adat Jawa, selain itu pengaplikasian material lokalitasnya pun terlihat di area ini. Cara pelayanan di Pawon Semar pun terkesan hangat, pelayanannya lebih terasa kekeluargaan karena terasa seperti dirumah.
38 3.1.3 Analisis Studi Banding 3
The Alana Hotel, Yogyakarta.
The Alana Hotel mengambil konsep dari lokalitas daerah Surabaya.
Gambar 3.5 The Alana Hotel (sumber: alanahotels.com)
Lokasi: Jl. Palagan Tentara Pelajar KM.7, Mudal, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581
Klasifikasi: Hotel bintang 4 Fasilitas:
1. Kamar dengan 4 tipe kamar:
a. Superior Room b. Deluxe Room c. Club Room d. Suite Room
2. Pusat Kesehatan Bodhi dan Spa 3. Phoenix Lounge
4. Swimming Pool 5. Indoor swimming pool 6. Restoran
7. Function Room
39
Gambar 3.6 Deluxe room.
(sumber: alanahotels.com)
Penerapan lokalitas di hotel ini tidak terlalu terlihat seperti hotel-hotel Alana sebelumnya, pada hotel ini pengaplikasian lokalitas berupa batik yang ditempel di area kamar tidur, penggunaan material lokalitas di beberapa area, dan pengaplikasian motif batik di ceiling restoran. Suasana yang didapatkan pun lebih terasa megah dan mewah dibanding hotel Alana yang lain.
Gambar 3.7 Pengaplikasian lokalitas di Alana Surabaya.
(sumber: alanahotels.com)
40 3.2 Studi Presedence
a. Pullman Ciawi Vimala Hills Resort Spa & Convention, Bogor.
Gambar 2.31 Area Lobby.
(sumber: google)
Pullman Ciawi Vimala Hills ini merupakan salah satu resort yang mengangkat lokalitas daerah Bogor, lebih tepatnya mengangkat lokalitas budaya Sunda. Lokalitas tersebut terlihat dari beberapa pengaplikasian motif batik, wayang, material lokal, serta satu area yang dinamakan tepas yang dikhususkan sebagai tempat untuk memperkenalkan budaya Sunda seperti permainan angklung, pengenalan batik Sunda, dan wayang golek.
Suasa interior yang diberikan ialah nuansa budaya sunda yang dipadukan dengan modernisasi sehingga tetap meninggalkan kesan menarik. Nuansa yang dapat terlihat jelas ialah pada lobby menempatkan beberapa tokoh wayang di dalam partisi kayu, dan partisi membentuk motif-motif batik yang ditempatkan disisi jendela sehingga ketika terkena sinar matahari motif dan karakter wayang itu akan memunculkan bayangannya pada lantai.
Penggunaan elemen-elemen rumah adat sunda pada area restoran pun digunakan pada jendela khas rumah adat sunda yang digunakan pada elemen interiornya.
Gambar 2.32 Area Restoran.
(sumber: google)
41 3.1.4 Tabel Komparasi Studi Banding
Tabel 3.1 Tabel Komparasi No. Objek The Alana Hotel, Solo. The Alana Hotel.
Yogyakarta
The Alana Hotel, Surabaya. Pullman Ciawi Vimala Hills Resort Spa & Convention, Bogor.
1. Klasifikasi (****) (****) (****) (*****)
2. Konsep Memenuhi konsep penerapan lokalitas di beberapa area, dengan menonjolkan batik lokal seperti batik Parang, dan penggunaan material lokal seperti kayu jati.
Memenuhi konsep penerapan lokalitas di beberapa area, dengan menonjolkan motif batik lokal seperti batik Kawung.
Kurang memenuhi karena lokalitas Surabaya kurang menonjol, karena minim menonjolkan motif batik lokal atau penggunaan material lokal.
Memenuhi konsep penerapan lokalitas dengan menonjolkan batik, dan wayang di beberapa area.
3. Lobby
Penerapan Lokalitas
42 Penerapan lokalitas pada
area Lobby terlihat di penggunaan material dan pengaplikasian motif batik
Parang di area plafon dan backdrop resepsionis.
Penerapan lokalitas pada area Lobby terlihat di penggunaan material dan pengaplikasian
motif batik Kawung di area ceiling dan backdrop
resepsionis.
Tidak ada penerapan lokalitas pada area Lobby.
Penerapan lokalitas pada area jendela yang diterapkannya wayang, sehingga ketika ada cahaya yang masuk maka menjadi memantulkan motif wayang tersebut ke lantai. Dan penerapan batik pada partisi.
Kesimpulan: Penerapan lokalitas mayoritas terlihat dengan penerapan batik lokal pada beberapa area seperti ceiling,dan backdrop resepsionis.
Pencahayaan Pencahayaan yang
digunakan pada area Lobby ini lebih didominasi oleh pencahayaan buatan dengan
menggunakan lampu jenis accent light.
Untuk pencahayaan alami didapatkan dari beberapa
bukaan. Sehingga, menimbulkan kesan terang
dan megah.
Pencahayaan yang digunakan pada area Lobby ini lebih didominasi oleh pencahayaan
buatan dengan menggunakan lampu jenis downlight dan
accent light.
Untuk pencahayaan alami didapatkan dari beberapa bukaan. Karena, di lobby ini
di dominasi dengan warm light sehingga menimbulkan
kesan hangat.
Pencahayaan yang digunakan pada area Lobby ini lebih didominasi oleh pencahayaan buatan dengan menggunakan lampu jenis accent
light.
Untuk pencahayaan alami didapatkan dari beberapa bukaan.
Untuk pencahayaan alami didapatkan dari beberapa bukaan.
Sehingga, menimbulkan kesan terang dan megah.
Pencahayaan yang digunakan pada area Lobby ini lebih didominasi oleh
pencahayaan buatan dengan menggunakan lampu jenis downlight
dan accent light.
Untuk pencahayaan alami didapatkan dari beberapa bukaan. Karena, di lobby ini di dominasi dengan warm
light sehingga menimbulkan kesan hangat dan nuansa Sunda lebih
kental.
43
Kesimpulan: Menggunakan pencahayaan yang didominasi dengan warm light menimbulkan kesan lokalitas lebih terasa dan lebih hangat.
Penghawaan Karena, ruangan sangat
tertutup sehingga penghawaan yang dominan
dan digunakan ialah penghawaan buatan berupa
AC.
Karena, ruangan sangat tertutup sehingga penghawaan yang dominan
dan digunakan ialah penghawaan buatan berupa
AC.
Karena, ruangan sangat tertutup sehingga penghawaan yang dominan dan digunakan ialah penghawaan buatan berupa AC.
Karena, ruangan sangat tertutup sehingga penghawaan yang dominan
dan digunakan ialah penghawaan buatan berupa AC.
Kesimpulan: Penghawaan yang digunakan lebih memaksimalkan penghawaan buatan karena bukaan yang kurang pada area tersebut.
Treatment Lantai dan Material Pada area lobby material
lokal tidak digunakan pada treatment lantai karena menggunakan material marmer.
Pada area lobby material lokal tidak digunakan pada treatment lantai karena menggunakan material marmer.
Pada area lobby material lokal tidak digunakan pada treatment lantai karena menggunakan material marmer.
Pada area lobby tidak menggunakan material lokal, namun menggunakan material vinyl finishing glossy.
Kesimpulan: Pada treatment lantai mayoritas tidak menggunakan material lokal seperti bambu, atau kayu jati. Menggunakan marmer untuk menimbulkan kesan megah pada area lobby.
Treatment Dinding dan Material Penggunaan material kayu
sangat dominan terutama pada bagian backdrop
Penggunaan material kayu sangat dominan terutama pada bagian backdrop
Penggunaan material kayu sangat dominan terutama pada bagian backdrop resepsionis dilengkapi
Penggunaan material kayu sangat dominan menimbulkan rasa lokal yang lebih terasa.
44 resepsionis dilengkapi
dengan penggunaan accent lighting menimbulkan kesan megah namun tetap
ada rasa hangat.
resepsionis menimbulkan rasa lokal yang lebih terasa.
dengan penggunaan accent lighting menimbulkan kesan megah namun tetap ada rasa hangat.
Kesimpulan: Penggunaan material lokal seperti kayu banyak digunakan pada treatment dinding.
Treatment Ceiling dan Material Pada area ceiling terdapat
satu area yang
menggunakan material kayu dan diaplikasikan motif batik, dilengkapi dengan accent led lamp.
Pada ceiling menggunakan material gypsum dengan warna putih senada dengan warna dinding. Dilengkapi dengan accent led lamp pada up ceiling.
Pada ceiling menggunakan material gypsum dengan warna putih senada dengan warna dinding. Dilengkapi dengan accent led lamp pada up ceiling.
Pada area ceiling menggunakan material lokal kayu seperti pada rumah adat Sunda dilengkapi dengan accent led lamp pada up ceiling.
Kesimpulan: Penerapan up ceiling menimbulkan kesan megah pada area lobby, untuk penerapan lokalitas diaplikasikan pada material lokal seperti kayu menyesuaikan dengan rumah adat daerah sekitar, seperti pada Pullman hotel resort.
4. Deluxe Room
45
Penerapan Lokalitas Penerapan lokalitas terlihat
pada penerapan motif batik di area kaca. Namun, dengan penerapan ini tidak terlalu terlihat oleh penginap.
Penerapan lokalitas pada area ini terlihat pada penerapan
material lokalitas yang digunakan yaitu kayu jati.
Dengan penerapan lokalitas yang hanya berupa penerapan material kayu jati
sehingga tidak terlalu menonjol.
Penerapan lokalitas daerah di area ini tidak terlihat.
Penerapan lokalitas pada area ini terlihat pada penerapan material lokalitasyaitu kayu jati pada backdrop dan penerapan motif batik pada area backdrop.
Kesimpulan: Penerapan lokalitas terlihat diterapkan pada penerapan motif batik dan penggunaan material lokal.
Pencahayaan Pencahayaan
memaksimalkan menggunakan pencahayaan
buatan seperti downlight dan accent light dengan tone warm light. Namun, pada siang hari penggunaan pencahayaan alami terpakai
dengan maksimal.
Pencahayaan memaksimalkan menggunakan pencahayaan buatan seperti downlight dan
accent light dengan tone warm light. Namun, pada
siang hari penggunaan pencahayaan alami terpakai
dengan maksimal.
Pencahayaan memaksimalkan menggunakan pencahayaan buatan
seperti downlight dan accent light dengan tone warm light. Namun,
pada siang hari penggunaan pencahayaan alami terpakai dengan maksimal tetapi di malam
hari masih terlalu gelap.
Pencahayaan memaksimalkan menggunakan pencahayaan buatan
seperti downlight dan accent light dengan tone warm light. Namun, pada siang hari pencahayaan alami
digunakan dengan maksimal.
Dengan penggunaan warm tone lebih terasa hangat dan cocok untuk
keluarga.
46
Kesimpulan: Menggunakan pencahayaan yang didominasi dengan warm light menimbulkan kesan lokalitas lebih terasa dan lebih hangat.
Penghawaan Penghawaan
dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC Split.
Kesimpulan: Penghawaan yang digunakan lebih memaksimalkan penghawaan buatan.
Treatment Lantai dan Material Pada area ini tidak
menggunakan material lokal, namun menggunakan material vinyl finishing glossy.
Pada area ini tidak menggunakan material lokal, namun menggunakan material vinyl finishing glossy.
Pada area ini tidak menggunakan material lokal, namun menggunakan material vinyl finishing glossy.
Pada area ini tidak menggunakan material lokal, material yang digunakan ialah parquet kayu.
Kesimpulan: Penerapan lokalitas pada treatment lantai tidak terlihat, karena pada area kamar tidur lebih banyak menggunakan material vinyl dan parquet.
Treatment Dinding dan Material Dinding yang diterapkan
ialah menggunakan cat berwarna abu-abu dan di area belakang kasur terdapat kaca yang terdapat
Dinding yang diterapkan ialah cat berwarna abu-abu, namun dipermanis dengan penggunaan material lokal yaitu kayu jati.
Dinding yang diterapkan ialah cat berwarna abu-abu, dan tidak diterapkan lokalitas baik berupa motif batik atau material lokalitas pada treatment dinding.
Dinding yang diterapkan ialah cat berwarna lebih krem dan pada satu sisi dinding diaplikasikan material lokal yaitu kayu jati dan diterapkan motif batik.
47 penerapan motif batik lokal.
Kesimpulan: Penerapan lokalitas pada dinding biasanya terlihat pada penerapan material lokalitas dan dipadukan dengan motif batik lokal.
Treatment Ceiling dan Material Ceiling yang digunakan
ialah up ceiling dengan material gypsum dan cat warna putih.
Ceiling yang digunakan ialah up ceiling dengan material gypsum dan cat warna putih.
Ceiling yang digunakan ialah flat
Kesimpulan: Tidak terlihat penerapan lokalitas pada treatment ceiling, 5. Restoran
Penerapan Lokalitas Penerapan lokalitas terlihat
pada penggunaan material kayu dan pengaplikasian motif batik di backdrop.
Penerapan lokalitas tidak terlalu terlihat.
Penerapan lokalitas terlihat pada ceiling yang membentuk motif batik Surabaya. Penerapan ini hanya dilakukan di ceiling
Penerapan lokalitas diterapkan pada penggunaan material lokal yaitu kayu jati dan diterapkan pada bentuk jendela dari rumah adat sunda
48
sehingga tidak begitu menonjol karena tidak terlalu terlihat oleh pengunjung.
Kesimpulan: Penerapan lokalitas diterapkan pada penerapan material lokal seperti kayu jati dan motif batik lokal di area dinding atau ceiling.
Pencahayaan Pencahayaan
memaksimalkan
menggunakan pencahayaan buatan seperti downlight dan accent light dengan tone light.
Pencahayaan memaksimalkan
menggunakan pencahayaan buatan seperti downlight dan accent light dengan tone light. Pada ruangan ini terasa lebih megah.
Pencahayaan memaksimalkan menggunakan pencahayaan buatan seperti downlight dan accent light dengan tone light. Namun, di siang hari masih terasa gelap.
Pencahayaan memaksimalkan pencahayaan seperti downlight dan accent light. Dengan pencahayaan seperti ini pada ruang ini menjadi menimbulkan suasana hangat pada area ini.
Kesimpulan: Menggunakan pencahayaan yang didominasi dengan warm light menimbulkan kesan lokalitas lebih terasa dan lebih hangat.
Penghawaan Penghawaan
dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu
AC Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC Split.
Kesimpulan: Penghawaan yang digunakan lebih memaksimalkan penghawaan buatan.
Treatment Lantai dan Material
49 Pada area restoran material
lokal tidak digunakan pada treatment lantai karena menggunakan material marmer.
Pada area restoran material lokal tidak digunakan pada treatment lantai karena menggunakan material marmer.
Pada area restoran material lokal tidak digunakan pada treatment lantai karena menggunakan material marmer..
Pada area ini tidak menggunakan material lokal, material yang digunakan ialah parquet.
Kesimpulan: Pada area restoran tidak menggunakan material lokalitas pada lantai, lebih menggunakan marmer atau parquet.
Treatment Dinding dan Material Dinding yang diterapkan
ialah menggunakan cat berwarna putih namun dipadukan dengan kayu.
Dinding yang diterapkan ialah menggunakan cat
berwarna putih namun dipadukan dengan kayu.
Dinding yang diterapkan ialah didominasi warna putih.
Dinding yang diterapkan didominasi dengan kaca dan pengaplikasian kayu.
Kesimpulan: penerapan lokalitas pada area ini lebih ditonjolkan dengan pengaplikasian material lokal seperti kayu jati.
Treatment Ceiling dan Material Ceiling yang digunakan
ialah up ceiling dengan material gypsum dan cat warna putih.
Ceiling yang digunakan ialah down ceiling dengan warna cat putih dan terdapat satu area yang mengaplikasikan memakai kayu.
Ceiling yang digunakan ialah up-ceiling dengan membentuk motif batik khas Surabaya.
Ceiling pada area ini lebih flat, namun memadukan penggunaan material lokal seperti kayu jati pada area ceiling.
Kesimpulan: Lokalitas diterapkan pada penggunaan material lokal dan penerapan motif batik.
50 6. Function
Room
Penerapan Lokalitas Penerapan lokalitas tidak
terlihat di area ini.
Penerapan lokalitas terlihat pada area ceiling membentuk
motif batik. Penerapan ini hanya dilakukan di ceiling
sehingga tidak begitu menonjol karena tidak terlalu
terlihat oleh pengunjung.
Penerapan lokalitas tidak terlihat pada area ini.
Penerapan lokalitas pada area ini terlihat pada area ceiling yang membentuk seperti kerangka rumah adat Sunda.
Kesimpulan: Penerapan lokalitas pada ruangan ini lebih terlihat dari penerapan motif batik lokal dan penggunaan material lokal.
Pencahayaan Pencahayaan
memaksimalkan menggunakan pencahayaan
buatan seperti downlight
Pencahayaan memaksimalkan menggunakan pencahayaan buatan seperti downlight dan
Pencahayaan memaksimalkan menggunakan pencahayaan buatan seperti downlight dan accent light.
Pencahayaan memaksimalkan menggunakan pencahayaan buatan seperti downlight dan accent light.
Pada ruangan ini terkesan lebih
51 dan accent light. Pada
ruangan ini terkesan lebih megah dan luas dengan
pencahayaan yang digunakan.
accent light. Pada ruangan ini terkesan lebih megah dan
luas dengan pencahayaan yang digunakan.
megah dan luas dengan pencahayaan yang digunakan.
Kesimpulan: Dengan pencahayaan yang digunakan lebih terasa megah dan luas.
Penghawaan Penghawaan
dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu
AC Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan
yaitu AC Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC
Split.
Penghawaan dimaksimalkan dari penghawaan buatan yaitu AC Split.
Kesimpulan: Penghawaan yang digunakan lebih memaksimalkan penghawaan buatan.
Treatment Lantai dan Material Material lantai
menggunakan karpet yang ukurannya menyesuaikan
ukuran ruangan.
Material lantai menggunakan karpet yang ukurannya
menyesuaikan ukuran ruangan.
Material lantai menggunakan karpet yang ukurannya menyesuaikan ukuran ruangan.
Material lantai menggunakan karpet yang ukurannya menyesuaikan
ukuran ruangan.
Kesimpulan: Pada treatment lantai tidak menggunakan material lokal.
Treatment Dinding dan Material Dinding yang diterapkan
ialah menggunakan cat
Dinding yang diterapkan ialah menggunakan cat
Dinding yang diterapkan ialah menggunakan cat berwarna putih
Dinding yang diterapkan ialah menggunakan cat berwarna putih
52 berwarna putih namun
dipadukan dengan kayu dibeberapa area.
berwarna putih namun dipadukan dengan kayu
dibeberapa area.
namun dipadukan dengan kayu dibeberapa area.
namun dipadukan dengan kayu dibeberapa area.
Kesimpulan: Pengaplikasian lokalitas terlihat pada penggunaan material lokal dan pengaplikasian motif batik.
Treatment Ceiling dan Material Ceiling yang digunakan
lebih up ceiling dengan menggunakan material gypsum dan beberapa area menggunakan material kayu.
Ceiling menggunakan material gypsum dan di aplikasikan motif batik.
Ceiling yang digunakan lebih up ceiling dengan menggunakan material gypsum.
Ceiling dibuat mengikuti kerangka pada rumah adat Sunda dengan menggunakan material lokal.
Kesimpulan: Pengaplikasian lokalitas terlihat pada penggunaan material lokal dengan dibentuk seperti kerangka rumah adat Sunda dan pengaplikasian motif batik.
(sumber: Pribadi)
53 3.2 Analisis Projek
3.3.1 Analisis Site 1. Deskripsi Lokasi
- Lokasi : Jalan Pada Betah, Ledeng, Bandung, Jawa Barat.
- Luas Lahan : ± 8.014 m².
2. Latar Belakang Pemilihan Tapak
Ledeng merupakan salah satu daerah yang sering dilewati ketika akan menuju tempat wisata, melihat hal tersebut maka dibutuhkan ketersediaan penginapan yang dapat mengakomodasi kegiatan wisatawan.
Jika melihat dari lokasi tapak perencanaan, Ledeng sedang berkembang menjadi lokasi yang strategis yang dapat dijadikan wisatawan yang datang dari kota untuk mencari rekreasi berupa penginapan.
3. Deskripsi Proyek
Proyek perancangan interior Hotel dan Resort ini merupakan sebuah perancangan dengan fasilitas yang menyediakan sarana akomodasi dengan menghadirkan suasana yang sangat bersahabat dengan keluarga. Berikut deskripsi singkat dari proyek perancangan:
- Jenis Proyek : Rekreasi dan Komersil
- Judul Proyek : Perancangan Hotel dan Resort di Ledeng, Bandung - Klasifikasi : Hotel dan Resort (bintang 4)
- Status Proyek : Fiktif (New Design) - Brand Hotel : The Alana Hotel - Skala Proyek : Provinsi - Nasional - Pemilik Proyek: Pihak Swasta
- Lokasi Tapak : Jl. Pada Betah, Ledeng, Bandung, Jawa Barat.
- Pengguna : Pria, Wanita, dan Keluarga.
54
Untuk klasifikasi Hotel dan Resort di bagi menjadi dua area utama. Yang pertama adalah area utama hotel yang terdiri dari kamar hotel dengan berbagai jenis kamar serta ruang pendukung area hotel itu sendiri, seperti lobby, restaurant, office dan area service. Yang kedua adalah area resort yang berarti terdapat fasilitas rekreasi dan relaksasi yang melengkapi jenis hotel ini.
4. Analisa Lokasi
Gambar 3.22 Site Projek.
(sumber: Pribadi)
Lokasi perancangan berada di Jalan Pada Betah, Ledeng, Bandung, Jawa Barat dengan luasan lahan sebesar ± 8.014 m².
55 - Site Plan
Gambar 3.23 Site Plan.
(sumber: Pribadi)
KETERANGAN
A Kantor Pengelola Hotel dan Resort
B Lobby utama
C Fasilitas Penunjang
D Lounge and Bar
E Elevator Hall
F Restoran
G Area Utama Hotel dan Resort H Fasilitas Penunjang
A
B C
D E F
G G
H
56 5. Analisa View Kawasan
Gambar 3.24 Lokasi View Perancangan (sumber: Pribadi)
A
B D C
A B
C D
57
Pada bagian utara terdapat pemandangan daerah Bandung dan sekitarnya.
Pada bagian barat dan timur terdapat rumah makan dan tempat oleh-oleh. Pada bagian selatan terdapat lahan kosong dan perkebunan warga dan perumahan.
Kesimpulannya, view utara dan selatan dapat dijadikan media relaksasi.
Gambar 3.25 Lokasi View Perancangan (sumber: Pribadi)
KETERANGAN
Pemandangan Bandung dan sekitar.
Tempat makan dan oleh-oleh.
Perumahan.
Kebun.
58 6. Analisa Matahari
Gambar 3.26 Analisa Matahari (sumber: Pribadi)
Potensi Sinar matahari langsung dan cahaya matahari pada iklim tropis yang ada sepanjang tahun dapat dimanfaatkan sebagai pencahayaan alami. Bagian timur site, beberapa area kamar mendapatkan matahari pagi.
Kendala Pada bagian barat, beberapa area kamar mendapat sorotan cahaya matahari sore yang akan mengakibatkan panas.
Solusi Pencahayaaan alami di buat tidak langsung atau indirect.
Pagi
Sore
59 7. Analisa Angin
Gambar 3.27 Analisa Angin (sumber: Pribadi)
Potensi Karena, site yang berkontur dan bangunan berbentuk seperti
Potensi Karena, site yang berkontur dan bangunan berbentuk seperti