• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Pencarian Data berdasarkan Proyek yang diambil

 Survey Site

Survey lapangan untuk mengumpulkan data mengenai lokasi yang akan dibangun.

Menganalisis dari orientasi tempat baik eksternal maupun internal bangunan, aksesibilitas, arah mata angin, arah matahari, dan view.

 Studi Literatur

5

Suatu bentuk pengumpulan data yang berkaitan dengan Hotel dan Resort dan lokalitas Bandung yang dapat membantu untuk perancangan Hotel dan Resort.

 Survey

Survey lapangan untuk mengumpulkan data dan informasi lain mengenai Hotel dan Resort. Data tersebut mencakup aktivitas apa saja yang dilakukan di Hotel dan Resort baik oleh pengunjung maupun pegawai, fasilitas apa saja yang diperlukan di Hotel dan Resort, dan ruang penunjang apa saja yang dibutuhkan di Hotel dan Resort.

 Wawancara

Wawancara merupakan suatu bentuk pengumpulan data untuk mendapatkan informasi lain mengenai Hotel dan Resort yang sedang di survey. Wawancara ini dilakukan kepada pihak Dinas Pariwisata Bandung untuk mendapatkan data mengenai berapa jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerah Bandung.

b. Masalah

Menemukan masalah di sekitar baik terhadap pengguna maupun lingkungan sekitar.

c. Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah berdasarkan desain.

d. Analisis

Menganalisis masalah-masalah serta pemecahan masalah di sekitar cakupan desain.

Menganalisis kebutuhan ruang apa saja yang dibutuhkan.

e. Programming

Membuat data kebutuhan ruang, zoning blocking, dan tabel kedekatan ruang.

f. Pendekatan Desain

Pada tahap ini, menentukan pendekatan desain yang cocok dan berfungsi sebagai sarana untuk memecahkan permasalahan dalam desain. Sebagai solusi untuk menciptakan suatu desain yang lebih baik.

g. Konsep

Setelah menentukan pendekatan desain, tahap selanjutnya adalah menentukan konsep desain yang berhubungan dengan pendekatan yang diterapkan.

h. Desain Awal

Pada tahap ini, menentukan bentukan secara kasar ide perancangan yang akan dibuat.

6 i. Desain Alternatif

Pada tahap ini, desain telah diciptakan dan diterapkan pada perancangan.

j. Pengembangan desain

Pada tahap ini, merupakan pelengkap dari komponen desain yang kurang dan masih perlu dikembangkan agar lebih baik lagi.

k. Desain Akhir

Jika seluruh tahap telah terlaksanakan, maka pada tahap ini, berupa sketsa 3D menggunakan software sketchup, gambar teknik menggunakan software autocad dan maket (presentasi hasil perancangan).

7 1.8 Pembaban

BAB I : PENDAHULUAN

Berisi mengenai latar belakang yang menjelaskan secara ringkas mengenai proyek Hotel Resort, mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah pada Hotel Resort, menjelaskan tujuan dan sasaran akhir pada perancangan, manfaat perancangan, batasan perancangan, metoda perancangan, pembaban, dan diagram berpikir.

BAB II : KAJIAN LITERATUR STANDAR DAN PENDEKATAN DESAIN

Berisi teori-teori pendukung dari berbagai sumber dengan berbagai kajian literatur, standarisasi yang diambil untuk menjadi sebuah acuan dalam perancangan dan penjelasan mengenai pendekatan yang akan digunakan dalam perancangan.

BAB III : ANALISA STUDI BANDING DAN PROYEK

Berisi mengenai studi banding proyek sejenis, studi preseden, tapak, kebutuhan, pendekatan dan konsep pada perancangan.

BAB IV : TEMA, KONSEP PERANCANGAN, DAN APLIKASI PERANCANGAN Berisi mengenai konsep perancangan yang akan digunakan sebagai pemecahan masalah dan bagaimana cara mengaplikasikannya pada perancangan.

BAB V : KESIMPULAN

Pada bab ini merupakan bagian akhir pada laporan yang berisi penjabaran tentang simpulan mengenai perancangan Hotel Resort di Bandung.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

8 1.9 Kerangka Berpikir

THE ALANA HOTEL BANDUNG

LATAR BELAKANG

FENOMENA: Kunjungan wisata terus meningkat dan termasuk tertinggi di Jawa Barat.

FAKTA: Kunjungan wisatawan meningkat 21,59% dan tingkat kebutuhan kamar meningkat 6,15%

LOKASI PROYEK: Jl. Pada Betah, Ledeng.

BUKU DAN JURNAL:

- Data Arsitek

- Decorative Art in Architecture as a Part of Bandung History, Dibyo Hartono

PRESEDEN:

Pullman Ciawi Vimala Hills Resort Spa & Convention

SURVEY DATA PRIMER, SEKUNDER, DAN

WAWANCARA:

- Data pengunjung dan peminat pengunjung pada daerah sekitar lokasi tersebut dari dinas pariwisata dan budaya Bandung.

- Wawancara dari wisatawan dan dinas pariwisata dan budaya Bandung.

STUDI BANDING:

- The Alana Hotel, Solo - The Alana Hotel, Yogyakarta - The Alana Hotel, Surabaya

MASALAH

PROGRAMMING

- Merancang hotel resort dengan menerapkan regulasi-regulasi dari The Alana Hotel.

- Diterapkannya sarana edukatif, informatif, dan rekreatif mengenai lokalitas daerah yang belum ada di The Alana Hotel.

UMUM: Menciptakan ruang yang nyaman, efektif, efisien dan penerapan suasana ruang sesuai dengan budaya sunda.

KHUSUS: Pengaplikasian pada organisasi ruang, sirkulasi, bentuk, material, warna, pencahayaan dan penghawaan.

PROSES DESAIN FINAL DESAIN

Aktivitas Pengguna

Data Kebutuhan Ruang

Zoning-Blocking

Tabel Kedekatan Ruang PROBLEM

STATEMENT

- Bagaimana mendesain hotel resort bintang 4 dengan menerapkan regulasi dari The Alana Hotel?

- Bagaimana menerapkan sarana edukatif, informatif, dan rekreatif di The Alana Hotel?

KONSEP DESAIN PENDEKATAN DESAIN:

Lokalitas Bandung

9 BAB II

KAJIAN LITERATUR DAN STANDARISASI

2.1 Literatur 2.1.1 Definisi

Hotel berasal dari kata hostel yang diambil dari Bahasa Perancis kuno. Makna dari kata hostel adalah “tempat penampungan buat pendatang” atau bisa juga “bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum”.

Menurut beberapa pengertian, Hotel didefinisikan sebagai berikut : 1. Menurut Dirjen Pariwisata

Hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan, untuk menyediakan jasa penginapan makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial.

2. Menurut Surat Keputusan Menteri Perhubungan R.I 10/PW 1100//PPWW 10/PW – 301/Phb.77, tanggal 12 Desember 1977

Hotel adalah suatu bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan penginapan, berikut makan dan minum.

Sehingga, dapat disimpulkan hotel merupakan salah satu tempat yang menyediakan jasa penginapan secara sementara yang didalamnya terdapat pelayanan seperti makan, minum, dan tempat beristirahat.

2.2 Klasifikasi

a. Klasifikasi Lokasi

Berdasarkan letak lokasi hotel yang terletak didaerah pegunungan dan diperuntukkan untuk masyarakat yang ingin mempunyai pengalaman liburan yang berbeda atau berekreasi, maka hotel ini termasuk dalam klasifikasi Hotel Resort.

2.2.1 Klasifikasi Hotel Resort

10

Hotel resort dibagi kembali menjadi beberapa klasifikasi, namun diliat dari letak hotel resort ini berada di pegunungan dengan nuansa tatanan lereng gunung dan terdapat di sebuah kota dengan fasilitas yang menunjang pada aspek kepariwisataannya, maka hotel resort ini termasuk ke dalam klasifikasi Mountain Resort Hotel Resort.

2.2.2 Mountain Resort Hotel

Mountain Resort Hotel memiliki 4 (empat) karakteristik yang membedakan dengan jenis hotel lainnya. Karakteristik yang dimiliki adalah sebagai berikut :

 Lokasi

Lokasi Mountain Resort Hotel biasanya berada di suatu kawasan wisata biasanya terletak di area lereng atau pegunungan. Alam panorama serta budaya sehingga memiliki peluang untuk dijadikan komoditi bagi wisatawan yang terletak di pegunungan.

 Fasilitas

Adanya fasilitas pokok maupun fasilitas penunjang, seperti fasilitas rekreasi indoor dan outdoor, dapat meningkatkan kepuasan pengunjung. Fasilitas pokok adalah ruang tidur sebagai area privasi. Fasilitas rekreasi indoor dapat berupa ruang public seperti restoran, lounge, dan ballroom. Sedangkan, fasilitas rekreasi outdoor meliputi kolam renang, dan penataan landscape. (Manuel dan Fred, 1977).

 Fungsi

1. Sebagai fasilitas penginapan, peristirahatan dan rekreasi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang menyuguhkan view pegunungan sebagai salah satu daya tarik.

2. Sebagai sarana yang memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi para pengguna disibukkan oleh berbagai aktivitas perkotaan yang padat.

11 2.2.3 Klasifikasi berdasarkan jumlah kamar

Jumlah kamar yang akan dirancang ialah 54 kamar, maka menurut Tarmoezi hotel resort ini termasuk ke dalam klasifikasi Medium Hotel.

2.2.4 Klasifikasi Berdasarkan Jenis Atau Tipe Tamu

Pada perancangan ini termasuk ke dalam klasifikasi Family Hotel, karena sebagian besar tamu yang menginap di hotel ini terdiri dari keluarga.

2.2.5 Klasifikasi Berdasarkan Lama Tamu Menginap

Dari lama tamu menginap perancangan hotel resort ini termasuk ke dalam klasifikasi Semi Residential Hotel, karena rata-rata tamu yang menginap di hotel ini untuk dua atau tiga hari bahkan sampai satu minggu.

2.2.6 Klasifikasi Berdasarkan Desain Dan Struktur Hotel

Berdasarkan struktur hotel, perancangan ini termasuk ke dalam klasifikasi Conventional Hotel karena bentuk bangunan yang tinggi bertingkat menjulang ke langit.

2.3 Standarisasi Hotel Resort

a. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Terdapat pada BAB II pasal 4 yang berisikan sebagai berikut,

(1) Setiap Usaha Hotel wajib memiliki Sertifikat dan memenuhi persyaratan Standar Usaha Hotel.

(2) Usaha Hotel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. Hotel Bintang; dan b. Hotel Nonbintang.

(3) Hotel Bintang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, memiliki penggolongan kelas hotel terdiri atas: a. hotel bintang satu; b. hotel bintang dua; c. hotel bintang tiga; d. hotel bintang empat; dan e. hotel bintang lima.

(4) Hotel Nonbintang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, tidak memiliki penggolongan kelas hotel dan dapat disebut sebagai hotel melati.

b. Berdasarkan kutipan dalam Direktorat Jendral Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi

12

No-22/U/VI/1978 menyatakan bahwa hotel Resort berdasarkan tingkatannya dibedakan menjadi:

Tabel 2.1 Standarisasi Tingkatan Hotel Resort Berbintang

Sumber : Direktorat Jendral Pariwisata Pos, dan Telekomunikasi No-22/U/VI/1978

Berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM 3/HK 001/MKP/02 untuk jumlah kamar tidak harus sesuai dengan golongan kelas hotel asalkan seimbang dengan fasilitas penunjang serta seimbang antara pendapatan dan pengeluaran dari hotel tersebut.

Kesimpulan, untuk pada perancangan ini tetap mengikuti standarisasi dari pemerintah dengan luas kamar tipe standard 24 m2, kamar tipe suite 48 m2, kamar mandi dalam, serta dilengkapi fasilitas penunjang seperti area relaksasi dan rekreasi

Kelas Hotel Resort Persyaratan Hotel Resort

Hotel Bintang Empat (****) 1. Jumlah kamar standar

minimal 50 kamar.

2. Kamar mandi berada di dalam kamar.

3. Luas kamar standar minimal 24 m².

4. Memiliki kamar suite minimal tiga kamar.

5. Luas kamar suite minimal 48 m².

13

b. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomer PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel Bintang 4

Tabel 2.2 Tabel Standar Pemerintah Tentang Standar Usaha Hotel Bintang 4

No. UNSUR SUB. UNSUR STANDAR HOTEL

BINTANG 4 1. Kamar Tidur Tamu Kamar Standar Luas minimal 24 m2

termasuk kamar mandi.

Kamar Suite Luas minimal 2x kamar standar, dilengkapi area living room terpisah dari mekanikal / elektrikal dengan lubang pengintai (peep hole) dan rantai pengaman (safety-chain)

Sistem penghemat energi

Sumber energi di kamar dengan kunci kamar dan seperti keran,tanki, kloset hemat air dan sebagainya.

Jendela Dilengkapi kunci dan alat pengaman. Material yang aman : tempered glass untuk jendela kaca.

Keamanan Kamar dilengkapi smoke detector dan sprinkler.

Penempatan tidak

14

mengganggu interior dan tingkat kepekaan dapat diatur.

Pencahayaan dan sirkulasi udara

Intensitas cahaya minimum 7 watt per m² atau 150 lux dan sirkulasi dan ventilasi udara yang baik

Petunjuk arah di ceiling

Arah kiblat di ceiling kamar tidur, peletakan serasi dengan interior kamar

Furnitur Tersedia pilihan dengan satu tempat tidur (king bed-room) atau dua tempat tidur (twin-bedded) dengan meja di samping tempat tidur dan lampu baca. Dilengkapi tempat gantung baju, rak koper, sofa, kursi duduk, kaca rias (full length mirror) dan pesawat TV. Meja dan kusi kerja dilengkapi lampu meja dan laci. Meja dan kursi duduk di lengkapi dengan lampu baca dan material yang sangat baik.

Tingkat kebisingan Kenyamanan suara antara 30-35 Db

2. Kamar Mandi Lantai Material tidak licin dan cepat kering, mudah dibersihkan dan aman digunakan.

Kelengkapan Minimal westafel, kloset dan shower/bathtub/bak air.

Kondisi terawat dan berfungsi sangat baik serta hemat air

15 Pencahayaan dan sirkulasi udara

200 lux serta ventilasi udara yang aman dan sehat

3. Lobi Pencahayaan dan

sirkulasi udara

Dapat di akses langsung dari pintu utama hotel. Sirkulasi udara 30ltr/detik/orang dan pencahayaan 350 lux

Penjelasan fasilitas hotel

Papan atau media penunjuk letak area terbuat dari material yang baik dengan desain yang menarik dan tertulis dengan jelas

Lounge Kenyamanan suata 45-55 Db atau di bawahnya

4. Front Office Front desk sebagai penerimaan tamu

Kondisi bersih dan terawat

Gerai pelayanan tamu

Dilengkapi, luggage trolley, payung, sarana komunikasi dan ada petugas berjaga 5. Toilet Umum Kelengkapan Urinoir beserta washletnya

(untuk toilet pria), kloset duduk dengan hand shower/washlet, pengharum ruangan dan toilet paper.

Dilengkapi pengering tangan otomatik dengan sistem timer tersedia cermin ukuran besar, bersih dan terawat, dan tempat sampah.

6. Koridor Kelengkapan Material lantai dapat

meredam suara ribut, dinding dan plafon kualitas cukup baik, lebar minimum 1,8 m diberi pengaman dinding, rambu nomer kamar dan rambu exit dengan huruf

16

jelas, tinggi rambu minimal 10cm, tersedia APAR dalam jumlah cukup dan cara penggunaan yang mudah dimengerti

Pencahayaan Minimal 5 watt atau 100 lux/m², penggunaan bola lampu dan armatur yang baik 7. Restoran Ruang Makan Ruang cukup luas atau

jumlah kursi yang sesuai atau lebih dari 50% jumlah kamar tamu. Terdapat buffet untuk pelayanan prasmanan.

Sirkulasi udara yang baik (4,8 liter/ detik/orang) dan pencahayaan (9 watt atau 250 lux/m²)

Bar Ruangan luas dengan interior yang dapat menciptakan

ambiance yang

menyenangkan, tersedia bar counter cukup luas.

Dapur Luas dapur sesuai kapasitas restoran dan function room di hotel yang dilayani dapur tersebut. Dinding : kedap air, lantai : tidak licin dan ceiling : tinggi minimum 280cm, material tahan api dan akustik. Sistem drainase dilengkapi dengan perangkap lemak (grease trap) dan selokan yang semi tertutup.

Setiap sink dilengkapi grease trap yang portable.

17

Pencahayaan : 300 lux atau 10 watt/m² Sirkulasi udara : 10 liter / detik / m² Temperatur ruang : maksimal 25 ºC

Sumber : Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomer PM.53/HM.001/MPEK/2013

2.3.1 Standarisasi Ruang

Standarisasi ruang menurut Pemerintah dan The Alana Hotel:

Tabel 2.3 Tabel Standarisasi Ruang

No. Nama Ruang Standar Ruang

1. Kamar Deluxe Kamar Deluxe memiliki standar luasan ruang sebesar 24m2.

Didalamnya meliputi area beristirahat, kamar mandi, dan area kerja.

Fasilitas:

- Kasur berukuran 120x200cm - Meja Kerja

- TV

- Single Sofa - Coffee Table - Kamar Mandi

Gambar 2.1 Standar kamar deluxe 24 m2

18

2. Kamar Suite Kamar Suite memiliki standar luasan ruang sebesar 48m2.

Didalamnya meliputi area beristirahat, living room, mini kitchen, area kerja, dan kamar mandi.

Fasilitas:

- Kasur 200cmx200xm - Mini pantry

- Kamar mandi - Meja makan - TV

- Sofa

- Single Sofa - Coffee Table - Lemari

Gambar 2.2 Standar kamar suite luasan 48 m2.

3. Resepsionis Resepsionis memiliki standar luasan ruang sebesar 40m2.

19

Gambr 2.3 Standar recepsionist luasan 40 m2.

4. Lobi dan Lounge Lobi dan Lounge memiliki standar luasan ruang sebesar 270m2. Didalamnya meliputi area tunggu dan resepsionis.

Gambar 2.4 Standar lobby dan lounge luasan 270 m2.

5. Restoran dan cafe Restoran dan cafe memiliki standar luasan ruang sebesar 254 m2. Meliputi area tunggu, kasir, dan area makan.

Gambar 2.5 Standar restaurant dan cafe luasan 254 m2.

6. Ruang Meeting Ruang meeting memiliki standar luasan ruang sebesar 406 m2.

Ruang meeting ini dibagi menjadi 3:

1. Area meeting untuk kapasitas <30 orang 2. Area meeting untuk kapasitas 30 orang 3. Area meeting untuk kapasitas >30 orang

20

Gambar 2.6 Standar ruang meeting luasan 406 m2.

7. Hotel Kitchen Hotel Kitchen memiliki standar luasan ruang sebesar 168 m2.

Didalamnya meliputi area preparation, area memasak, dan area penyimpanan.

Gambar 2.7 Hotel Kitchen luasan 168 m2.

8. Area Back of House (BOH),

Administrative Office

Administrative Office memiliki standar luasan ruang sebesar 6.75 m2 – 9 m2.

Gambar 2.8 Standar ruang administrative office luasan 6.75-9m2.

9. Gym Gym memiliki standar luasan ruang sebesar 75m2.

1 2

2 3

21

Gambar 2.9 Standar gym luasan 75 m2.

10. Spa Spa memiliki standar luasan ruang dengan ukuran 8.5 x 5.5 m2. Meliputi area spa, kamar mandi, sauna, dan berganti pakaian.

Gambar 2.10 Spa luasan 8.5 x 5.5 m2.

Sumber : Pribadi.

22 2.4 Deskripsi Projek Perancangan

a. The Alana Hotel

Gambar 2.1 Logo Alana.

(sumber: alanahotels.com) Nama Hotel : The Alana Hotel

Klasifikasi Hotel : Hotel bintang 4 (****)

The Alana Hotel merupakan salah satu hotel bintang 4 yang tersebar di pulau Jawa yaitu, Solo, Surabaya, Bogor, dan Yogyakarta. The Alana Hotel ini merupakan bagian dari Archipelago International. Archipelago International merupakan operator hotel terbesar dibidang hotel, kondotel, resort, serviced suite, dan branded residences dengan lebih dari 15.000 unit kamar dan juga apartemen di Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Selain The Alana Hotel, brand yang juga dikelola oleh Archipelago International adalah Grand Aston, Aston, Kamuela, Harper, Quest, Neo+, Neo, dan Fave.

b.

Visi dan Misi Visi:

Diakui secara universal sebagai perusahaan perhotelan pilihan di Asia untuk tamu, pemilik, dan karyawan.

Misi:

Memberi harapan lebih para tamu di semua hotel kami, membantu staf kami mengembangkan karier mereka sambil mendukung pemilik dalam merancang, menciptakan, dan berhasil mengoperasikan hotel "terbaik di kelas" yang dapat dibanggakan.

Seperti pada umumnya setiap hotel memiliki ciri khas masing-masing, untuk The Alana sendiri memiliki ciri khas konsep hotel yang dipadukan dengan suasana etnik lokal dengan dekorasi modern, memadukan kecanggihan klasik dengan gaya kontemporer.

23

Gambar 2.2 The Alana Hotel, Solo.

24 c. Organisasi The Alana Hotel

Gambar 2.2 Struktur Organisasi.

25

Hotel terbagi menjadi beberapa departemen sebagai penunjang kelancaran dalam sebuah perusahaan berikut ini merupakan beberapa fungsi dan peranan dalam department hotel:

1. Kantor depan Hotel (Front Office)

Front Office adalah departemen yang berperan penting untuk menjual kamar kepada para tamu, juga sebagai administrator dan sebagai pelayan yang ada di hotel. Berikut adalah beberapa seksi yang ada di Front office:

a. Reception Bagian dari Front Office, melayani tamu saat proses check in maupun check out, bertugas melayani tamu secara langsung.

b. Reservation, petugas reservasi bertanggung jawab untuk menangani permintaan pemesanan kamar, kegiatan ini biasanya dilakukan sebelum tamu datang.

c. Information, bertugas untuk memberikan informasi yang ada di hotel seperti kamar dan fasilitas hotel lainnya.

2. Tata Graha Hotel (Housekeeping)

Housekeeping adalah memelihara, merawat atau menjaga, yang berarti Housekeeping bertugas untuk merawat segala keindahan yang berada di dalam hotel.

3. Makanan dan Minuman (Food and Beverage)

Bagian makan dan minuman (Food and Beverage Departmen) adalah salah satu bagian yang terdapat di hotel, yang berfungsi melaksanakan penjualan makanan dan minuman.

Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan usaha pengembangan produk makanan dan minuman, melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menjadi daya tarik bagi tamu untuk makan dan minum direstoran hotel.

4. Marketing dan Sales

Bagian ini berfungsi dalam memasarkan produk hotel, serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pemasaran hotel dengan berbagai cara. Bagian ini berusaha untuk dapat menarik minat tamu sebanyak mungkin ke dalam hotel, agar dapat menentukan banyaknya peningkatan pendapatan yang diperoleh melalui tamutamu yang menginap dan menggunakan fasilitas-fasilitas hotel.

5. Security

26

Bagian ini bertugas dalam hal yang berhubungan dengan masalah yang ada kaitannya dengan keamanan di dalam hotel maupun di luar hotel serta memelihara ketertiban di wilayah kerjanya. Untuk keperluan tamu maupun untuk keperluan karyawan hotel.

2.4 Pendekatan

Bandung merupakan salah satu kota yang terkenal mempunyai banyak bangunan art deco. Gaya art deco ini cukup dikenal di Hindia-Belanda, khususnya kota Bandung.

Karena, bandung terdapat banyak bangunan bertemakan art deco, UNESCO menobatkan Bandung sebagai kota yang memiliki bangunan bergaya art deco paling banyak dan lengkap di dunia.

Art Deco mulai masuk dan berkembang di kota Bandung sejak tahun 1920. Art Deco di kota Bandung dikombinasikan juga dengan iklim tropis di Indonesia, untuk dekorasi banyak menggunakan ukuran dan hiasan yang terdapat pada candi-camdi dan rumah tradisional di Indonesia.

1. Landmark Bandung a. Vila Isola

Vila Isola mulai dibangun pada bulan Oktober 1932 dan selesai bulan Maret 1933, dirancang oleh arsitek ternama Charles Prosper Wolff Schoemaker, salah seorang arsitek yang banyak menghiasi kota Bandung dengan karyanya. Untuk bangunannya sendiri memadukan gaya arsitektur modern dan konsep tradisional Jawa dengan poros kosmik utara-selatan seperti halnya Gedung Sate dan gedung utama ITB.

Vila Isola memiliki bentuk simetris, berkesan formal dan berwibawa. Bentuk bangunannya sendiri melengkung-lengkung membentuk seperempat lingkaran. Secara keseluruhan bangunan ini bagaikan air bergelombang. Sehingga, gedung ini merupakan penyesuaian arsitektural antara bangunan terhadap lingkungan.

27

Gambar 2.1 Vila Isola

2. Karakteristik Art Deco

Karakteristik Art Deco yang diterapkan dalam perancangan ialah:

a. Lengkungan

Art deco ini mempunyai salah satu karakteristik yang khas yaitu dengan adanya lengkungan dibeberapa area, lengkungan ini dapat diterapkan pada penggunaan furniture.

Gambar 2.2 Bentuk Lengkungan

28 b. Motif

Untuk motif art deco sendiri lebih geometris. Namun, dalam motif ini akan

diterapkan dibentuk ragam hias, menjadi sebuah bentuk baru perpaduan antara bentuk art deco dengan motif lokal atau batik.

Gambar 2.3 Motif 2.4.1 Wayang Golek Purwa

Gambar 2.19 Wayang Golek Purwa

Wayang golek merupakan salah satu dari ragam kesenian wayang yang terbuat dari bahan kayu yang merupakan hasil perkembangan wayang kulit dari keterbatasan waktu supaya dapat ditampilkan pada siang atau malam hari. Wayang Golek ini pada awalnya merupakan salah satu cara penyebaran Islam, lalu semakin berkembang dengan mulai menceritakan cerita Ramayana dan Mahabrata, dan semakin kesini lebih menceritakan mengenai kehidupan sehari-hari. Wayang golek sunda ini memiliki beberapa jenis, salah satunya ialah wayang golek purwa yang merupakan salah satu kesenian khas Bandung.

 Tokoh Wayang:

1. Baladewa

29

Baladewa sendiri merupakan salah satu tokoh wayang didalam cerita Mahabrata, identik dengan warna putih, biru, dan merah tua pada kain yang dikenakannya. Baladewa memiliki watak mudah naik darah tapi pemaaf, arif bijaksana dan terburu-buru dalam hal memutuskan suatu hal serta mengakui kesalahannya.

Gambar 2.20 Wayang Golek Bladewa

2. Arjuna

Arjuna merupakan salah satu tokoh wayang didalam cerita Mahabrata, identik dengan warna putih dan emas. Arjuna memiliki watak cerdik, jujur,

Arjuna merupakan salah satu tokoh wayang didalam cerita Mahabrata, identik dengan warna putih dan emas. Arjuna memiliki watak cerdik, jujur,

Dokumen terkait