III. METODE PENELITIAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Analisis Swot
5.2.3. Analisis Swot
Bardasarkan hasil analisis faktor internal dan eksternal di atas, maka diperoleh analisis swot seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.
Matrik
IFAS
Matrik EFAS
Kekuatan (Strengths)
1.Komitmen petugas lapangan 2.Dukungan Manajemen TNGL 3.Keberadaan pal batas di
lapangan 4.Peraturan perundang-undangan 5.Penerapan strategi pengamanan hutan Kelemahan (Weaknesses)
1.Kualitas & kuantitas polhut 2.Koordinasi dgn pihak
terkait
3.Penyelesaian masalah tidak fokus & tuntas
4.Investasi dana utk persoalan strategis
5.Sarana dan prasarana
Peluang (Opportunies)
1.Dukungan penegakan hokum 2.SK Meknko kesra
penyelesaian pengungsi 3.Status TNGL sebagai warisan
dunia
4.Isu perubahan iklim dan karbon trade
5.Lembaga local
6.Pengelolaan hutan berbasis masyarakat
Strategi SO
1.Mempertahankan dan memaksimalkan penerapan strategi pengamanan hutan yang telah berjalan.
2.Memanfaatkan status TNGL sebagai warisan dunia untuk meminta dukungan para pihak dalam melestarikasikan kawasan TNGL
Strategi WO
1.Investasikan dana yang tersedia secara efektif dan efisien terutama utk persoalan strategis.
2.Share pendanaan dengan para pihak yang komit dengan pelestarian kawasan TNGL.
Ancaman (Treaths)
1.Keberadaan pengungsi korban konflik aceh
2.Perambahan hutan & jual beli
lahan
3.Illegal logging 4.Tumpang tindih lahan 5.Kecemburuan social
masy.sekitar hutan
Strategi ST
Memaksimalkan penerapan strategi pengamanan hutan pada lokasi-lokasi yang rawan aktivitas illegal di luar lokasi pengungsi korban konflik aceh untuk menghambat laju kerusakan hutan.
Strategi WT
Dana yang ada dimaksimalkan utk menyelesaikan
persoalan-persoalan yang tidak bersentuhan secara langsung dengan pengungsi korban konflik aceh.
Dari Tabel 12 di atas diperoleh beberapa strategi penyelesaian terhadap
permasalahan yang berlangsung di wilayah kerja TNGL Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang. Strategi ini diharapkan dapat membantu manajemen TNGL dalam menyelesaikan persoalan yang sedang berlangsung di kawasan ini. Strategi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
yang telah berjalan terutama untuk lokasi-lokasi yang rawan aktivitas illegal di luar lokasi pengungsi korban konflik aceh guna menghambat laju kerusakan hutan.
2. Memanfaatkan status TNGL sebagai warisan dunia untuk meminta dukungan
para pihak dalam melestarikan kawasan TNGL termasuk dukungan pendanaan.
3. Manajemen TNGL dapat memanfaatkan dan menginvestasikan dana yang
tersedia secara efektif dan efisien terutama untuk menyelesaikan persoalan strategis.
6.1. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Kerusakan hutan Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Pengelolaan Taman
Nasional Wilayah VI Besitang sampai dengan tahun 2009 seluas 7.435 ha, sedangkan laju kerusakan hutan Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser selama kurun waktu delapan tahun terakhir (2001 s/d 2009) seluas 448,450 ha/tahun.
2. Strategi pengamanan hutan yang diterapkan manajemen TNGL di kawasan Seksi
pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang paling efektif menekan laju kerusakan hutan di wilayah kerjanya terutama di resort Trenggulun, Sei Betung, Cinta Raja dan Tangkahan. Penerapan strategi tersebut kurang berhasil di resort Sekoci dan Sei Lepan karena keberadaan pengungsi Aceh yang hingga saat ini belum dikeluarkan dari kawasan TNGL.
3. Dukungan para pihak dalam pengelolaan kawasan TNGL Seksi Pengelolaan
Taman Nasional Wilayah VI Besitang sangat besar terutama terkait dengan statusnya sebagai warisan dunia , namun dukungan masyarakat sekitar hutan belum maksimal dalam mendukung pengelolaan kawasan TNGL.
4. Keberadaan pengungsi korban konflik Aceh di dalam kawasan TNGL Seksi
Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI merupakan ancaman terbesar dalam pengelolaan kawasan konservasi tersebut, ancaman lainnya berturut-turut
kecemburun sosial masyarakat sekitar hutan.
5. Manajemen TNGL dapat menerapkan beberapa strategi dalam menyelesaikan
persoalan di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang, yaitu :
a. Mempertahankan dan memaksimalkan penerapan strategi pengamanan hutan
yang telah berjalan terutama untuk lokasi-lokasi yang rawan aktivitas illegal di luar lokasi pengungsi korban konflik aceh guna menghambat laju kerusakan hutan.
b. Memanfaatkan status TNGL sebagai warisan dunia untuk meminta dukungan
para pihak dalam melestarikan kawasan TNGL termasuk dukungan pendanaan.
c. Manajemen TNGL dapat memanfaatkan dan menginvestasikan dana yang
tersedia secara efektif dan efisien terutama untuk menyelesaikan persoalan strategis.
6.2. Saran
Dari hasil dan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Mengingat keberadaan pengungsi korban konflik aceh merupakan ancaman
terbesar dalam pengelolaan kawasan TNGL Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang, maka disarankan kepada pemerintah Republik Indonesia Cq. Kementrian Kehutanaan kiranya dapat memprioritaskan penyelesaian
efektifitas penerapan strategi pengamanan hutan yang telah diterapkan manajemen TNGL SPTN Wilayah VI Besitang hendaknya dapat dijadikan dasar dan langkah awal bagi penentu kebijakan dalam menentukan strategi penyelesaian persoalan di kawasan konservasi ini.
Awang, S.A, 2003. Politik Kehutanan Masyarakat. Penerbit Centre for Critical Social Studies bekerja sama dengan Kreasi Wacana Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik, 2009. Kecamatan Batang Serangan Dalam Angka 2009. Kerja Sama Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat dan Badan Perencanaan Pembangunan daerah Kabupaten Langkat.
Badan Pusat Statistik, 2009. Kecamatan Besitang Dalam Angka 2009. Kerja Sama Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat dan Badan Perencanaan Pembangunan daerah Kabupaten Langkat
Badan Pusat Statistik, 2009. Kecamatan Kejuruan Muda Dalam Angka 2009. Kerja Sama Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang dan Badan Perencanaan Pembangunan daerah Kabupaten Aceh Tamiang.
Badan Pusat Statistik, 2009. Kecamatan Sei Lepan Dalam Angka 2009. Kerja Sama Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat dan Badan Perencanaan Pembangunan daerah Kabupaten Langkat
Badan Pusat Statistik, 2009. Kecamatan Trenggulun Dalam Angka 2009. Kerja Sama Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang dan Badan Perencanaan Pembangunan daerah Kabupaten Aceh Tamiang.
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2007. Buletin Jejak Leuser, Menapak Alam Konservasi bersama TNGL. Vol.3 No.8. ISSN 1858-4268.
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2007. Buletin Jejak Leuser, Menapak Alam Konservasi bersama TNGL. Vol.3 No.9. ISSN 1858-4268.
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2008. Buletin Jejak Leuser, Menapak Alam Konservasi bersama TNGL. Vol.4 No.12. ISSN 1858-4268.
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2008. Laporan Upaya Penyelesaian Eks Pengungsi Korban Konflik Aceh di Dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2009. Laporan Hasil Kegiatan
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2009. Laporan hasil Kegiatan Pokja
Rehabilitasi Kawasan.
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2009. Laporan Tahunan.
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2010. Laporan Hasil Sensus Sarang
Orangutan di Taman Nasional Gunung Leuser Wilayah Langkat. Kerja sama
Balai Besar TNGL, YEL, Paneco, Unesco dan Pemerintah Spanyol.
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser,2008. Buletin Jejak Leuser, Menapak Alam Konservasi bersama TNGL. Vol.4 No.10. ISSN 1858-4268.
Balai Taman Nasional Gunung Leuser, 1994. Rencana Pengelolaan TNGL
(1995-2020) Buku II dan III. Kutacane.
Balai Taman Nasional Gunung Leuser, 2000. Draf Review Rencana Pengelolaan
TNGL (2000-2026). Kutacane.
Balai Taman Nasional Gunung Leuser, 2007. Rencana Strategis Pengelolaan TNGL
2006 – 2010.
Balai Taman Nasional Gunung Leuser,2005. Buletin Jejak Leuser, Menapak Alam Konservasi bersama TNGL. Vol.1 No.3. ISSN 1858-4268.
Bapenas, 2003, Strategi Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003-2020. Dokumen Regional Cochran.G.W, 2005. Teknik Penarikan Sampel. Penerbit Universitas Indonesia.
Batubara, S.M.R, 2008. Hubungan Antara kegiatan perambah Masyarakat pendatang Dengan Kondisi Sosial Ekonomi di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) (Studi kasus di Kecamatan Sei lepan dan kecamatan Besitang Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Program Pasca sarjana Universitas Sumatera Utara.
Departemen Kehutanan Republik Indonesia, 2005. Pengelolaan Kolaboratif. Peraturan menteri Kehutanan No.P.19/Menhut-II/2004.
Departemen Kehutanan, 2007. Buku Informasi 50 Taman Nasional di Indonesia. Seri KWS-II.02.2007
Pengembangan Kehutanan.
Departemen Kehutanan, 2007. Undang-undang no.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, Sub direktorat Bina Cinta Alam Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan wisata Alam Dirjen PHKA.
Departemen Kehutanan, 2007. Undang-undang no.5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekositemnya, Sub direktorat Bina Cinta Alam
Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan wisata Alam Dirjen PHKA.
Departemen Kehutanan, 2008. Majalah Kehutanan Indonesia Edisi IX . ISSN No. 0216681
Erwin M, 2008. Hukum Lingkungan. Penerbit PT.Refika Aditama, Bandung.
Global Forest Watch, 2001. Potret Keadaan Hutan Indonesia, Bogor,Indonesia. Forest Watch Indonesia dan Washington D.C.
Iskandar U dan Nugraha A, 2004. Politik Pengelolaan Sumber Daya Hutan, Issue dan Agenda Mendesak. Penerbit Debut Press Yogyakarta.
Natsir, M.1988. Metoda Penelitian. Darussalam : Ghalia, Indonesia.
Nugraha A, 2004. Menyongsong Perubahan Menuju Revitalisasi Sektor Kehutanan. Penerbit Wana Aksara, Banten.
Pamulardi B, 1995. Hukum Kehutanan dan Pembangunan Bidang kehutanan. Penerbit PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Puntodewo. A, Dewi S, dan Tarigan. J, 2003. Sistem Informasi Geografis Untuk
Pengelolaan Sumberdaya Alam. Center for International Forestry Research.
Putro. R. H, 2004. Panduan konservasi Hutan bagi Pengambil Keputusan. Inform Campaign.
Rangkuti. F, 2008. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit. PT Gramedia Pustaka Utama.
Rusyana N, 2007. Memahami GIS Melalui Arc View GIS 3.3.Seri Manual GIS Basic Level.
Sembiring, N.S, 2001. Kajian Tentang Pedoman Penegakan Hukum di Kawasan
Taman Nasional. Direktorat jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam.
Sugiarto, Siagian. D, Sunaryo. T. L, dan Oetomo. D. 2001. Teknik Sampling. PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre, 2007. Laporan Triwulan
II. Mobile Awareness Unit.Medan.
Triono, H.E, 2008. Kajian Hukum Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara
Van Beek. C.G.G, 1996. Geology, Geomorphology and Climate of Gunung Leuser
National Park. Dalam Schaik Van, CP and J. Supriatna (Ed), 1996.
LEUSER.A. Sumatran Sanctuary. Yayasan Bina Sains Hayati Indonesia.
Wiranata, A.S, Dalem,A.A.G.R, Pujaastawa, I.B.G, Madiun.I.N, dan Isdaryono. 2009. Laporan Akhir Pengembangan Ekowisata Taman Nasional Gunung Leuser di Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara. Yayasan Bali Greenery.
Wiratno, 2005. Nakhoda, Leadership dalam Organisasi Konservasi. Conservation International Indonesia.
Wiratno, Indrio. D, Syarifuddin.A, dan Kartikasari. A. 2001. Berkaca di Cermin Yang
Retak. Publikasi Foret Press, The Gibbon Foundation Indonesia, PILI – NGO
Moverment.
WWF-Indonesia, 2006. Kemitraan Dalam Pengelolaan Taman Nasional. Komite PPA – MFP.
Yayasan Leuser International, 2008. Buletin Leuser Volume 6. ISSN No. 1441-299X. Yayasan Orangutan Sumatera Lestari- Orangutan Information Centre, 2009. Laporan
Tahunan.
Judul Tesis : Analysis Kerusakan Hutan di Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang. DATA RESPONDEN 1. Kabupaten ... Kode: ... 2. Kecamatan ... Kode: ... 3. Desa ... Kode: ... 4. Nama ... 5. Alamat ... ... No HP (jika ada)
6. Jenis Kelamin 1. Pria/ 2. Wanita Lingkari 7. Umur
8. Status 1. Belum Kawin/ 2. Kawin/ 3. Janda/duda Lingkari 9. Pekerjaan ... Kode: ... 10. Pendidikan ... Kode: ...
Pertanyaan-pertanyaan :
1. Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem
asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan , menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. a. ya
b. Tidak c. Ragu-ragu
2. Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu taman nasional pertama
di Indonesia yang saat ini sedang mengalami kerusakan yang cukup parah akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
4. Kerusakan kawasan hutan Seksi Pengelolaan TN wilayah VI dimulai pada akhir
tahun 70-an akibat kesalahan kebijakan pemerintah pusat yang melaksanakan kegiatan proyek pembinaan habitat di SM langkat Sekundur.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
5. Kerusakan hutan semakin parah ketika pendudukan kawasan oleh pengungsi
korban konflik Aceh tidak ditangani secara tuntas oleh pemerintah a. Ya
b. Tidak c. Ragu-ragu
6. Selain persoalan pengungsi Aceh, aktivitas illegal lainnya yang hingga saat ini masih berlangsung di dalam kawasan TNGL adalah illegal logging, perambahan hutan dan jual beli lahan
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
7. Penyelesaian kasus pengungsi Aceh merupakan kunci penyelesaian persoalan
lainnya di dalam kawasan TNGL. a. Ya
b. Tidak c. Ragu-ragu
tempat lain yang status kawasannya tidak bermasalah atau pola lainnya sesuai undang-undang.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
9. Penyelesaian terhadap pelaku aktivitas illegal dapat dilakukan dengan kegiatan per emtif (penyadaran/penyuluhan), preventif (pencegahan), dan represif (penangkapan).
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
10. Kegiatan represif (penangkapan) dilakukan terhadap tokoh atau actor dibalik
aktivitas illegal tersebut. a. Ya
b. Tidak c. Ragu-ragu
11. Terhadap pelaku lapangan yang bekerja karena disuruh dan bukan untuk memperkaya diri sendiri masih memungkinkan ditangani dengan pola preventif dan persuasif.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
12. Bila tindakannya sudah lebih dari satu kali dan tidak mengindahkan arahan petugas lapangan akan dilakukan langkah represif (penangkapan).
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
termasuk pengamanan kawasan hutan. a. Ya
b. Tidak c. Ragu-ragu
14. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta lembaga swadaya masyarakat dan mitra pemerintah lainnya harus melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam melaksanakan pekerjaan di dalam atau disekitar kawasan hutan TNGL.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
15. keterlibatan masyarakat sekitar hutan disalurkan melalui lembaga local, sehingga warga desa sekitar hutan diharapkan membentuk lembaga local di desanya masing-masing.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
16. lembaga local yang ada diarahkan agar bisa mandiri sehingga ke depan menjadi mitra strategis TNGL dalam pengelolaan kawasan.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
17. Lembaga local dapat diberi ruang untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan melalui kegiatan ekowisata, rehabilitasi, sarang burung wallet, budidaya lebah madu atau kegiatan lainnya yang tidak merusak kawasan TNGL dan diatur UU. a. Ya
b. Tidak c. Ragu-ragu
atau zona lainnya kecuali zona inti dan zona rimba. a. Ya
b. Tidak c. Ragu-ragu
19. Banyak pihak yang terlibat dalam pengrusakan kawasan hutan TNGL termasuk oknum aparat pemerintah.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
20. Keterlibatan oknum aparatur pemerintah dalam kapasitas sebagai pengawal, pemodal atau back up bila ada masalah.
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
21. Selain oknum aparatur pemerintah, masyarakat sekitar dan pengusaha juga terlibat dalam pengrusakan kawasan TNGL
a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu
22. Keterlibatan oknum masyarakat sekitar sebagai pekerja dan juga pemilik lahan sedangkan pengusaha hanya manjadi pemodal dan memiliki lahan secara tidak langsung. a. Ya b. Tidak c. Ragu-ragu.
Lampiran 2. Kuisioner Kondisi Lingkungan Internal dan Eksternal KUESIONER LINGKUNGAN INTERNAL
Mohon berikan nilai terhadap kebijakan Balai TNGL dalam menyelesaikan masalah kerusakan hutan di Besitang di bawah ini : Beri tanda silang (x) pada salah satu nilai dengan ketentuan sebagai berikut :
0 : Tidak tepat 1 : sangat tidak tepat 2 : kurang tepat 3 : tepat
4 : sangat tepat
Mohon berikan bobot terhadap tingkat kepentingan strategi pengamanan hutan di bawah ini.
Beri tanda silang (x) pada salah satu nilai dengan ketentuan sebagai berikut : 1 : Tidak penting
2 : Kurang penting 3 : Penting
4 : Sangat penting
A. Komitmen petugas lapangan
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Tidak terlibat dalam aktivitas illegal 0 1 2 3 4 1 2 3 4 2 Aktif melakukan penindakan di lapangan 0 1 2 3 4 1 2 3 4 B. Dukungan Manajemen TNGL
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Dukungan penanganan kasus hukum 0 1 2 3 4 1 2 3 4 2 Pengawalan kasus hukum di lembaga penegak hukum 0 1 2 3 4 1 2 3 4 C. Keberadaan Pal batas di lapangan
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Bukti fisik pal batas ada dilapangan 0 1 2 3 4 1 2 3 4 2 Sosialisasi pal batas di lapangan 0 1 2 3 4 1 2 3 4 D. Peraturan perundang-undangan
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Sosialisasi peraturan perundang-undangan 0 1 2 3 4 1 2 3 4 2 Dukungan Perpu dlm melakukan penindakan hukum 0 1 2 3 4 1 2 3 4
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT 1 Mengutamakan tindakan preventif dan persuasif 0 1 2 3 4 1 2 3 4 2 Tindakan represif alternative terakhir 0 1 2 3 4 1 2 3 4 3 Tindakan tegas terhadap aktor 0 1 2 3 4 1 2 3 4
F. SDM Polhut
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Penambahan tenaga polhut 0 1 2 3 4 1 2 3 4
2 Peningkatan kualitas polhut 0 1 2 3 4 1 2 3 4
G. Koordinasi dengan pihak terkait
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Komunikasi & koordinasi dgn aparat penegak hukum 0 1 2 3 4 1 2 3 4 2 Mengawal kasus hukum di bidang kehutanan 0 1 2 3 4 1 2 3 4 H. Fokus dan tuntas menyelesaikan masalah
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Mengawal penyelesaian persoalan pengungsi 0 1 2 3 4 1 2 3 4
2 Konsisten penegakan hukum 0 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Pendanaan untuk persoalan strategis
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Dukungan dana utk kegiatan perlindungan & pengamanan hutan
0 1 2 3 4 1 2 3 4 2 Dukungan dana utk penyelesaian persoalan pengungsi
dan perambahan
0 1 2 3 4 1 2 3 4
J. Sarana dan Prasarana
No Upaya yang dilakukan NILAI BOBOT
1 Memaksimalkan pemanfatan sarpras perlindungan hutan 0 1 2 3 4 1 2 3 4 2 Melengkapi kekurangan sarpras perlindungan hutan 0 1 2 3 4 1 2 3 4
IDENTITAS RESPONDEN Nama : ………. Alamat : ……….... Umur : ……….. Pekerjaan : ……….. No.Telp : ………..
Petunjuk Pengisian
Berilah nilai pada dukungan pihak-pihak terkait dalam penyelesaian persoalan TNGL di wilayah kerja SPTN VI Besitang dengan memberikan tanda rumput (v) pada kolom yang tersedia di bawah ini :
Bobot : 4. sangat penting, 3. Penting, 2. kurang penting, 1. Tidak penting Rating : 4. Sangat baik, 3. Baik, 2. Kurang baik, 1. Tidak baik
N0 Indikator Bobot Rating
Sangat Pentin (4) Pentin (3) Kurang Penting (2) Tidak Penting (1) Sangat Baik (4) Baik (3) Kurang Baik(2) Tidak Baik (1)
1. Dukungan penegakan hukum
a. Konsitensi penegakan hukum
b. Komitmen penegakan hukum
2. SK. Menko Kesra Penyelesaian
pengungsi
a. Memastikan lokasi relokasi b. Mempercepat proses relokasi.
3. Status TNGL sbg warisan Dunia
4. Isu Perubahan iklim dan karbon
trade
5. lembaga lokal
a. Pembentukan lembaga lokal b. Penguatan lembaga lokal
6. Pengelolaan hutan berbasis
masyarakat
a. Keterlibatan masyarakat dalam
pengelolaan TNGL
b.Masyarakat diberi ruang
mengelola TNGL melalui lembaga lokal
7. Keberadaan Pengungsi korban
konflik Aceh
8. Penanganan aktivitas perambahan
hutan & Jual Beli lahan
9. Penanganan aktivitas Illegal
Logging
10. Penanganan Tumpang Tindih
lahan
11. kecemburuan social masy
sekitar hutan
a. Penegakan hokum yang adil dan tepat sasaran
b. Perlakuan yang sama dihadapan hukum
1. Nama : ……….. 2. Alamat : ………. 3. Umur : ………. 4. Pekerjaan : ………. 5. No. HP : ……….
Judul Tesis : Analysis Kerusakan Hutan di kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang.