6. Faktor 6 : Enhancement of Relationship
4.7. Analisis Tabulasi Silang (Crosstab)
Analisis crosstab pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil anggota (responden) dari masing-masing cluster. Hasil crosstab antara profil responden dengan cluster 1 dan cluster 2 dijelaskan di bawah ini:
Tabel 4.23. Crosstab Antara Profil Responden dan Hasil Cluster
Profil Responden Cluster 1 Cluster 2
F % F %
Jenis Kelamin
Pria 13 37,1 28 43,1
Wanita 22 62,9 37 56,9
Usia
18-24 tahun 5 14,3 9 13,8
25-34 tahun 6 17,1 13 20,0
35-44 tahun 11 31,4 13 20,0
45-54 tahun 8 22,9 18 27,7
> 54 tahun 5 14,3 12 18,5
Household Income Per Bulan
Rp 30 jt - Rp 50 jt 11 31,4 18 27,7
Rp 50 jt - Rp 70 jt 12 34,3 21 32,3
Rp 70 jt - Rp 90 jt 7 20,0 14 21,5
> Rp 90 jt 5 14,3 12 18,5
Keluarga yang Berlibur
Pasangan saja 8 22,9 8 12,3
Pasangan dan anak (keluarga inti) 15 42,9 33 50,8 Pasangan, anak dan orang tua
(keluarga besar) 12 34,3 24 36,9
Waktu yang Dipilih untuk Berlibur
Musim dingin (Des-Mar) 11 31,4 20 30,8
Musim gugur (Sept-Des) 6 17,1 14 21,5
Musim semi (Mar-Jun) 13 37,1 22 33,8
Musim panas (Jun-Sept) 5 14,3 9 13,8
Total Kolom 35 100,0 65 100,0
Sumber : Lampiran 11
Berdasarkan tabel 4.23 dapat diperoleh informasi sebagai berikut:
Dari segi jenis kelamin diketahui 62,9% anggota cluster 1 adalah wanita dan 56,9% anggota cluster 2 adalah wanita. Hasil ini menunjukkan kedua cluster didominasi oleh wisatawan wanita.
Dari segi usia diketahui 31,4% anggota cluster 1 berusia 35 hingga 44 tahun, sedangkan 27,7% anggota cluster 2 berusia 45 hingga 54 tahun. Hasil ini menunjukkan cluster 1 didominasi oleh wisatawan dari kategori usia 35 hingga 44
66
Universitas Kristen Petra
tahun, sedangkan cluster 2 didominasi oleh wisatawan dari kategori usia 45 hingga 54 tahun.
Dari segi household income diketahui 34,3% anggota cluster 1 mempunyai household income 50 hingga 70 juta per bulan, dan 32,2% anggota cluster 2 mempunyai household income 50 hingga 70 juta per bulan. Hasil ini menunjukkan kedua cluster didominasi oleh wisatawan dengan household income per bulan 50 hingga 70 juta.
Dari segi keluarga yang berlibur diketahui 42,93% anggota cluster 1 berlibur dengan pasangan dan anak (keluarga inti), dan 50,8% anggota cluster 2 berlibur dengan pasangan dan anak (keluarga inti). Hasil ini menunjukkan kedua cluster didominasi oleh wisatawan yang berlibur dengan pasangan dan anak (keluarga inti).
Dari segi waktu yang dipilih untuk berlibur diketahui 37,1% anggota cluster 1 memilih musim semi (Mar-Jun) untuk berlibur ke Jepang, dan 33,8%
anggota cluster 2 memilih musim semi (Mar-Jun) untuk berlibur ke Jepang. Hasil ini menunjukkan kedua cluster didominasi oleh wisatawan yang memilih musim semi (Mar-Jun) untuk berlibur ke Jepang.
Berdasarkan hasil analisis crosstab di atas dapat diketahui bahwa profil yang membedakan antara cluster 1 dan cluster 2 adalah usia, cluster 1 didominasi oleh wisatawan dari kategori usia 35 hingga 44 tahun, sedangkan cluster 2 didominasi oleh wisatawan dari kategori usia 45 hingga 54 tahun.
67
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.24. Crosstab Antara Usia dan Keluarga yang Berlibur
Usia
Keluarga yang Berlibur
Total Baris Pasangan
saja
Pasangan dan anak (keluarga
inti)
Pasangan, anak dan orang tua (keluarga besar)
F % F % F % F %
18-24 tahun 6 42,9 5 35,7 3 21,4 14 100,0 25-34 tahun 5 26,3 8 42,1 6 31,6 19 100,0 35-44 tahun 2 8,3 14 58,3 8 33,3 24 100,0 45-54 tahun 2 7,7 14 53,8 10 38,5 26 100,0
> 54 tahun 1 5,9 7 41,2 9 52,9 17 100,0 Sumber : Lampiran 11
Berdasarkan tabel 4.24 diketahui dari 14 responden yang berusia 18 hingga 24 tahun, terdapat 6 responden (42,9%) yang berlibur dengan pasangan saja. Dari 19 responden yang berusia 25 hingga 34 tahun, terdapat 8 responden (42,1%) yang berlibur dengan pasangan dan anak (keluarga inti). Dari 24 responden yang berusia 35 hingga 44 tahun, terdapat 14 responden (58,3%) yang berlibur dengan pasangan dan anak (keluarga inti). Dari 26 responden yang berusia 45 hingga 54 tahun, terdapat 14 responden (53,8%) yang berlibur dengan pasangan dan anak (keluarga inti). Sedangkan dari 17 responden yang berusia di atas 54 tahun, terdapat 9 responden (52,9%) yang berlibur dengan pasangan, anak dan orang tua (keluarga besar). Hasil ini menunjukkan bahwa wisatawan yang berusia 18 hingga 24 tahun mayoritas berlibur ke Jepang dengan pasangan saja, wisatawan yang berusia 25 hingga 54 tahun mayoritas berlibur ke Jepang dengan pasangan dan anak (keluarga inti), sedangkan wisatawan yang berusia di atas 54 tahun mayoritas berlibur ke Jepang dengan pasangan, anak dan orang tua (keluarga besar).
68
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.25. Crosstab Antara Keluarga yang Berlibur dengan Usia Anak Termuda yang Ikut Berlibur
Keluarga yang Berlibur
Usia Anak Termuda (Anak 1)
Total Baris 0 - 2
tahun
3 - 5 tahun
6 - 12 tahun 13 - 18 tahun
18 tahun ke atas
F % F % F % F % F % F %
Pasangan dan anak (keluarga inti)
9 18,8 9 18,8 12 25,0 9 18,8 9 18,8 48 100,0
Pasangan, anak dan orang tua (keluarga besar)
5 13,9 2 5,6 14 38,9 7 19,4 8 22,2 36 100,0
Sumber : Lampiran 11
Berdasarkan tabel 4.25 diketahui dari 48 responden yang berlibur dengan pasangan dan anak (keluarga inti), terdapat 12 responden (25%) yang mengajak anak terkecil berusia 6 hingga 12 tahun ikut berlibur. Dari 36 responden yang berlibur dengan pasangan, anak dan orang tua (keluarga besar), terdapat 14 responden (38,9%) yang mengajak anak terkecil berusia 6 hingga 12 tahun ikut berlibur. Hasil ini menunjukkan bahwa wisatawan yang berlibur ke Jepang dengan pasangan dan anak (keluarga inti), maupun wisatawan yang berlibur ke Jepang dengan pasangan, anak dan orang tua (keluarga besar), mayoritas mengajak anak terkecil berusia 6 hingga 12 tahun ikut berlibur.
69
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.26. Crosstab Antara Jenis Kelamin dengan Usia
Jenis Kelamin
Usia
Total Baris 18-24
tahun
25-34 tahun
35-44 tahun
45-54
tahun > 54 tahun
F % F % F % F % F % F %
Pria 1 2,4 8 19,5 9 22,0 12 29,3 11 26,8 41 100,0
Wanita 13 22,0 11 18,6 15 25,4 14 23,7 6 10,2 59 100,0
Sumber : Lampiran 11
Berdasarkan tabel 4.26 diketahui dari 41 responden pria, terdapat 12 responden (29,3%) berusia 45 hingga 54 tahun. Sedangkan dari 59 responden wanita, terdapat 15 responden (25,4%) berusia 35 hingga 44 tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa wisatawan pria yang berlibur ke Jepang mayoritas berusia 45 hingga 54 tahun, sedangkan wisatawan wanita yang berlibur ke Jepang mayoritas berusia 35 hingga 44 tahun.
4.8. Pembahasan
Setelah melakukan penelitian, penulis menemukan bahwa wisatawan keluarga yang bepergian dengan keluarga inti maupun keluarga besar kebanyakan membawa anak dengan usia 6-12 tahun karena anak pada usia tersebut sudah memiliki sifat disiplin yang didapat dari sekolah sehingga tidak terlalu merepotkan. Namun hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak dengan usia lain memiliki selisih frekuensi yang tidak terlalu signifikan yang dapat disimpulkan bahwa Jepang merupakan destinasi wisata yang cocok untuk anak dengan segala usia. Wisatawan yang ke Jepang memiliki household income 50 hingga 70 juta rupiah, hal yang dapat dimaklumi karena bepergian ke Jepang tidaklah murah. Wisatawan keluarga cenderung memilih musim semi dan dingin ketika mengunjungi Jepang, karena Jepang terkenal dengan bunga sakuranya yang tumbuh ketika musim semi serta dapat bermain salju pada musim dingin.
70
Universitas Kristen Petra
Dari penggabungan 7 push factors dan 9 pull factors melalui analisa faktor, terbentuk 6 faktor yang baru yang menentukan masyarakat Surabaya untuk berlibur ke Jepang sebagai destinasi wisata keluarga
1. Recreation, activities, and shopping yang merupakan gabungan dari faktor penarik yaitu banyaknya bangunan bersejarah dan museum bersejarah yang ada, serta terdapat pusat budaya dan kuil-kuil di Jepang, dan tentunya Jepang memiliki tempat berbelanja, theme park, dan taman bermain.
2. Social motivations merupakan gabungan beberapa faktor pendorong yaitu keinginan untuk melepaskan diri dari kegiatan rutin, dengan bersosialisasi bersama keluarga dan teman baru, serta menunjukkan status sosial, dan mendapatkan pengetahuan dan wawasan tentang Jepang.
3. Sightseeing natural environment and weather yang merupakan faktor dimana terdapat pemandangan alam yang menakjubkan, taman , serta musim-musim yang tidak ada di Indonesia.
4. Image adalah citra negara Jepang sebagai negara maju dan memiliki budaya yang kental.
5. Ease of access yaitu pertimbangan kemudahan untuk mengakses negara tersebut.
6. Enchancement of relationship adalah peningkatan hubungan antar keluarga ketika bepergian bersama.
Faktor-faktor ini terbentuk karena seseorang ketika melakukan perjalanan akan mencari kegiatan yang dapat membuat mereka melupakan sejenak akan segala urusan mereka ketika bekerja, sehingga benar-benar merasa relaks dan meningkatkan keakraban dalam keluarga. Selain itu, mereka juga ingin memperlihatkan status sosial mereka ketika bepergian.
Pada penelitian analisis cluster, penulis menetapkan jumlah kelompok sebanyak 2. Dari hasil penemuan penulis melalui analisa cluster, ditemukan bahwa masyarakat yang termasuk di cluster 1 ialah masyarakat yang lebih tertarik dan terdorong memilih Jepang sebagai destinasi wisata karena faktor 4 (image) dan faktor 6 (enhancement of relationship). Sedangkan masyarakat yang termasuk di dalam cluster 2, ialah masyarakat yang lebih tertarik dan terdorong bepergian ke Jepang karena faktor 1 (recreation, activities and shopping), faktor 2 (social
71
Universitas Kristen Petra
motivations), faktor 3 (sightseeing natural environment and weather) dan faktor 5 (ease of access).
Responden wisatawan keluarga yang termasuk di dalam cluster 1 kebanyakan wanita, dengan angka hampir 2 kali lipat dari responden pria.
Sedangkan pada cluster 2, jumlah responden wanita dan pria tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Dari sisi usia, cluster 1 memiliki jumlah responden terbanyak pada kategori usia 35-44 tahun dan cluster 2 memiliki jumlah responden terbanyak pada kategori usia 45-54 tahun. Dilihat dari sisi pendapatan per bulannya, responden yang memilih Jepang sebagai destinasi wisata memiliki penghasilan 50-70 juta baik cluster 1 maupun cluster 2. Responden yang termasuk di dalam cluster 1 kebanyakan bepergian ke Jepang dengan keluarga inti nya saja, tidak sedikit juga yang bepergian dengan pasangannya saja, sedangkan pada cluster 2, masyarakat yang termasuk di dalam cluster ini bepergian ke Jepang dengan keluarga inti, namun memiliki angka yang sangat kecil pada kategori bepergian dengan pasangannya saja. Baik pada cluster 1 maupun cluster 2, responden memilih bepergian ke Jepang pada saat musim semi.
Dari responden dengan usia 18-24 tahun yang berjumlah 14 orang, 6 diantaranya bepergian hanya dengan pasangannya saja, bisa jadi mereka dalam kategori usia ini berbulan madu. Sedangkan pada kategori usia 35 – 55 tahun dan 45 – 54 tahun, responden lebih banyak bepergian dengan keluarga inti mereka.
Namun ketika memasuki kategori usia di atas 54 tahun, banyak responden yang bepergian dengan keluarga besar mereka. Hal ini sangat lazim karena pada kategori usia tersebut, terdapat responden yang telah memiliki cucu. Dari 14 responden yang berusia 18-24 tahun, 13 orang diantaranya adalah wanita. Hal ini membuktikan bahwa responden pada usia tersebut hampir semuanya wanita yang telah menikah. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Swarbrooke &
Horner, seseorang yang berada di tahap young couple (pasangan yang baru menikah) membutuhkan pengalaman yang baru serta pada tahap growing families, seseorang akan membutuhkan aktivitas yang dapat dilakukan oleh seluruh anggota keluarga.