• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian

C. Deskripsi Data Penelitian

3. Analisis Tambahan

Analisis uji beda dilakukan untuk melihat perbedaan antara regulasi emosi anak laki-laki dan perempuan yang dijabarkan pada tabel 20 sebagai berikut:

Tabel 20

Hasil Uji Beda antara Regulasi Emosi Anak Laki-Laki dan Perempuan Regulasi diketahui nilai probabilitas (p) > 0,05 dimana nilai (p) pada penelitian ini adalah 0,088 dan 0,086, maka Ho ditolak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara regulasi emosi anak laki-laki dan perempuan.

E. Pembahasan

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kelekatan aman dengan orang tua dan regulasi emosi pada anak-anak pada masa akhir.

Sebelum melakukan pengujian terhadap hipotesis dilakukan evaluasi uji asumsi meliputi uji normalitas dan uji liniearitas. Berdasarkan hasil uji asumsi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa data dalam penelitian ini normal, yang artinya data yang diperoleh dari populasi terdistribusi secara normal. Jadi dapat diasumsikan bahwa sampel yang diperoleh benar-benar mewakili populasi sehingga hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan pada sebuah populasi. Selain itu, data dalam penelitian ini juga menunjukkan ada hubungan yang linear atau berada pada garis lurus antara kelekatan aman dengan orang tua dan regulasi emosi anak pada masa akhir. Sehingga

diprediksikan, semakin tinggi kelekatan aman dengan orang tua maka akan diikuti dengan tingginya regulasi yang dimiliki anak pada masa akhir.

Berdasarkan hasil uji asumsi didapatkan hasil yang normal dan linear, maka selanjutnya akan dilakukan uji hipotesis.

Analisis yang telah dilakukan terhadap mean empirik dan mean teoretik menunjukkan bahwa rata-rata subjek memiliki kecenderungan kelekatan aman dengan ayah dan kelekatan aman dengan ibu yang tinggi. Hal tersebut terlihat dari mean empirik yang lebih tinggi dari pada mean teoritik pada masing-masing skala kelekatan aman orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa subjek memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mempercayai orang tua, memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua, dan merasa diterima oleh orang tua (Gullone & Robinson, 2005). Menurut Berk (2012) faktor yang menyebabkan anak memiliki kelekatan aman adalah kondisi orang tua, seperti orang tua mampu memberikan waktu lebih bersama dengan anak sehingga peluang anak untuk dekat dengan orang tua semakin besar. Subjek dalam penelitian ini kebanyakan memiliki ibu yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, sehingga peluang untuk dekat dengan ibu semakin tinggi karena ibu memiliki waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi dan mengasuh anak. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa kondisi orang tua berhubungan dengan kelekatan aman.

Variabel selanjutnya yaitu regulasi emosi yang menunjukkan hasil yang sama yaitu mean emprik yang lebih tinggi dari pada mean teoritik. Hal ini juga menunjukkan bahwa subjek pada penelitian ini memiliki kemampuan

meregulasi emosi yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek memiliki kecenderungan yang tinggi dalam mengontrol emosi, peka dengan emosi yang dirasakan, dan mampu merespon emosi dengan baik (MacDermott et al., 2010).

Salah satu faktor yang dapat membuat anak meregulasi emosi adalah lingkungan sosial. Menurut Ratnasari dan Suleeman (2017) faktor lain yang dapat mendukung terbentuknya regulasi emosi adalah lingkungan sosial yang meliputi institusi pendidikan seperti lingkungan sekolah. Subjek dalam penelitian ini secara keseluruhan sedang menempuh pendidikan sekolah dasar, dimana disekolah anak-anak harus mematuhi peraturan yang sudah ada salah satunya anak harus berperilaku baik dan sopan saat disekolah sehingga anak akan berperilaku baik dengan cara meregulasi emosi. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa pendidikan berhubungan dengan regulasi emosi. Faktor lingkungan lain yang mempengaruhi regulasi emosi selain faktor pendidikan adalah faktor teman sebaya (Nisfanoor & Kartika, 2004).

Subjek dalam penelitian ini masih tergolong anak-anak, sehingga subjek cenderung menghabiskan waktu lebih banyak bersama teman-teman di sekolah. Anak-anak yang banyak menghabiskan waktu bersama teman sebaya akan berusaha untuk diterima, dimana salah satu cara agar diterima oleh teman sebaya yaitu dengan meregulasi emosi dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan penelitian dari Cohen dan Mendez (2009) yang menyatakan bawah teman sebaya dapat mempengaruhi regulasi emosi.

Berdasarkan uji korelasi yang telah dilakukan dengan menggunakan Person Correlation menghasilkan koefisien korelasi pada masing-masing skala menunjukkan hasil bahwa terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara skala kelekatan aman ayah dan skala kelekatan aman ibu dengan skala regulasi emosi. Hal tersebut terlihat dari koefisien korelasi yang diperoleh antara kelekatan aman dengan ayah dan regulasi emosi yaitu sebesar 0,540 dengan signifikansi 0,00 (p< 0,05) yang masuk dalam kategori sedang. Jadi terdapat hubungan yang sedang antara kelekatan aman ayah dan regulasi emosi anak pada masa akhir. Uji korelasi selanjutnya antara kelekatan aman dengan ibu dan regulasi emosi memiliki koefisien korelasi sebesar 0,380 dengan signifikansi 0,00 (p< 0,05) yang termasuk dalam kategori rendah.

Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang rendah antara kelekatan aman dengan ibu dan regulasi emosi anak pada masa akhir.

Berdasarkan uji korelasi yang dilakukan, terdapat hubungan kelekatan aman dengan ayah dan regulasi emosi anak. Ayah yang cenderung memiliki kelekatan aman dengan anak akan meningkatkan kemampuan anak dalam meregulasi emosi dengan baik (Adzania & Masykur, 2013). Hasil tersebut sesuai dengan penelitian lain mengungkapkan bahwa kelekatan aman dengan ayah berhubungan dengan perkembangan emosi anak (Press, dalam Oates 2007). Anak yang memiliki kelekatan aman dengan ayah akan memiliki perilaku yang baik di sekolah, sedangkan anak yang tidak merasakan

kelekatan aman dengan ayah cenderung memiliki kesulitan dalam meregulasi emosi sehingga anak akan berperilaku buruk di sekolah.

Berdasarkan hasil uji korelasi didapatkan hasil bahwa terdapat hubugan antara kelekatan aman dengan ibu dan reguasi emosi anak.

Kelekatan aman dengan ibu dapat mendorong terbentuknya kemampuan anak dalam meregulasi emosi (Kerns et al., 2007). Hubungan kelekatan aman denagn ibu merupakan sumber emosioal bagi anak, di mana hubungan yang terjalin antara anak dan ibu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplor lingkungan atau kehidupan sosialnya (Larasati & Dasiningrum, 2017). Berdasarkan hasil yang didapat terlihat bahwa kelekatan aman dengan ibu memiliki hubungan dengan regulasi emosi anak.

Taraf hubungan atau koefisien korelasi antara kelekatan aman dengan ayah tergolong sedang berbeda dengan koefisien korelasi kelekatan aman dengan ibu yang tergolong rendah. Menurut Freud dalam Berk 2012 mengungkapkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan dengan kelekatan.

Di mana anak perempuan akan memilki kecenderungan dekat dengan ayah, sedangkan anak laki-laki akan memiliki kecenderungan dekat dengan ibu. Hal ini sesuai dengan data yang didapat dalam penelitian ini bawa anak perepuan lebih banyak dari pada anak laki-laki, sehingga kecenderungan koefisien korelasi kelekatan aman dan regulasi emosi lebih tinggi dari pada koefisien korelasi kelekatan aman dengan ibu dan regulasi emosi. Penelitian lai Larasati dan Desiningrum (2017) juga mengungkapkan bahwa kelekatan aman dengan ibu hanya berkonstribusi sebesar 10% terhadap regulasi emosi anak. Hasil

tersebut menunjukkan bahwa kelekatan aman ibu memiliki hubungan yang rendah dengan regulasi emosi anak.

Uji tambahan dilakukan dengan melihat perbedaan regulasi emosi antara anak laki-laki dan perempuan. Berdasarkan uji tambahan yang telah dilakukan didapatkan hasil 0,088 (p > 0,05), hasil tersebut menunjukkan bahwa H0 diterima, yaitu tidak ada perbedaan antara regulasi emosi anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki-laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk merasakan emosi dari yang sedih, marah, hingga senang (Tamres, 2002). Hal tersebut yang menyebabkan tidak adanya perbedaan regulasi emosi anak laki-laki dan perempuan Nolen-Hoeksema dan Aldao (2011). Penelitian lain mengungkapkan bahwa jenis kelamin bukan faktor yang dapat memengaruhi regulasi emosi seseorang, melainkan dari pola asuh yang diterima, lingkungan sosial, dan pendidikan yang diraskan oleh individu (Ratnasari & Suleeman, 2007).

F. Keterbatasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyadari bahwa penelitian ini memiliki kekurangan. Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu tidak dapat mengukur anak yang tidak memiliki ayah dan atau ibu secara lengkap. Peneliti sudah berusaha untuk memberikan kontrol dalam melakukan penelitian yaitu dengan memberikan kriteria tertentu saat pengambilan data berlangsung. Walaupun penelitian ini memiliki keterbatasan, namun penelitian ini telah dilakukan sesuai dengan prosedur

yang telah ditetapkan, sehingga hasil yang didapat sesuai dengan tujuan dan dapat dipertanggungjawabkan.

61 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait