B. Analisis Teks Kerukunan dalam Website IBTimes.id
Dalam analisis Fairclough, teks dapat dianalisis secara linguistik sebagai bagian awal untuk tahapan mencari ideologi dibalik teks. Di bawah ini akan diambil lima artikel yang dimuat di situs IBTimes.id tentang kerukunan dan/atau toleransi yang dimuat sejak awal tahun 2021 pada kolom tajdida. Dipilihnya kelima artikel ini karena sudah dianggap merepresentasikan gagasan dan wacana kerukunan didalam IBTimes.Id, didalamnya terdapat bangunan konseptual dan praktik yang tercermin didalam teks. Penulis artikel dalam situs IBTImes.id memiliki posisi sama dengan wartawan bagi media. Hal ini dikarenakan orang yang menulis di website tersebut telah memahami karakter dan ideologi yang ada dibalik situs IBTimes.id. Oleh karena itu, pembatasan penulis artikel diambil karena pada dasarnya ideologi dapat dilihat dari satu segmen dan waktu tertentu, sehingga menurut peneliti cukup membatasinya pada tahun 2021.
Selain itu juga, peneliti menggunakan analisis teks yang ditawarkan oleh Fairclough. Analisis tekstual memperhatikan pada pemilihan kata dan klausa. Hal yang akan diungkap adalah apa yang ada atau dikatakan dalam teks. Menurut Fairclough ada empat hal yang dapat dianalisis dalam teks yaitu kosakata, tata bahasa, kohesi dan struktur teks. Kosakata berhubungan dengan kata per kata itu sendiri, tata bahasa berhubungan dengan kombinasi-kombinasi di dalam klausa dan kalimat, kohesi berhubungan dengan bagaimana klausa dan kalimat dihubungkan
42
dengan yang lain secara bersamaan, dan struktur teks berhubungan dengan kekayaan penyusunan teks.47
1. Teks 1 “Peneguhan Moderasi Islam ala Muhammadiyah”
Artikel ini ditulis oleh Wardi, pada bagian awal peneliti mengambil artikel yang berjudul “Peneguhan Moderasi Islam ala Muhammadiyah”. Dalam artikel ini peneliti akan menggunakan analisis kosakata dalam artikel tersebut. Dari segi judul IBTimes.id membuat judulnya dengan kata „Peneguhan Moderasi‟. Kata ini mengandung arti bahwa Muhammadiyah sejatinya telah mengaplikasikan konsep moderasi Islam dan telah menjadi bagian dari komitmen awal sejak dibentuknya organisasi tersebut. Kata „peneguhan‟ merepresetnasikan adanya penguatan kembali atau penegasan kembali tentang moderasi Islam bagi kalangan Muhammadiyah.
Pada bagian awal artikel tersebut menjelaskan tentang kegiatan pelatihan mubaligh Muhammadiyah. Dalam teks dijelaskan bahwa kegiatan tersebut dilkasanakan atas dasar surat edaran dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Acara tersebut diselenggarakan berdasarkan kepada Surat Edaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 109/EDR//11ED/2020 tanggal 6 Syawal 1441 H bertepatan dengan 06 Juni 2020 tentang protokol kesehatan dalam Ibadah di Masjid/Mushala Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Gunungkidul”
Pada teks tersebut, menjelaskan bahwa kegiatan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gunung Kidul yang berupa Pembinaan
47 Norman Fairclough, Discourse and Social Change, (Cambridge: Polity Press, 1992), hlm. 75
43
Muballigh Muhammadiya adalah kegiatan yang legal, diketahui dan disetujui oleh organisasi Muhammadiyah. Disamping itu, kegiatan tersebut merupakan bentuk pelatihan yang dipersiapkan oleh PDM Gunug Kidul terhadap semua Muballigh yang ada di Gunung Kidul. Bahasa ini diungkapkan agar dapat memberikan pemahaman bahwa secara organisasi, Muhammadiyah telah mempersiapkan anggota dan kadernya untuk mengisi mimbar-mibar agama. Hal ini dirasakan sangat penting, karena hari ini telah diketaui bersama bahwa mimbar agama banyak diisi oleh orang yang tidak mempunyai wawasan agama yang baik dan tepat.
Masih dalam artikel yang sama, terdapat penegasan dalam teks bahwa organisasi Muhammadiyah telah berkomitemen sejak awal terhadap Indonesia, salah satu diantaranya adalah dengan dihapuskannya tujuh kata dalam Pancasila.
Parji Singodimejo yang saat itu merupakan perwakilan dari Ormas Muhammadiyah tidak langsung menyetujui usulan dari kelompok Islam lainnya perihal dihapus nya tujuh kata dalam Panacasila, namun beliau masih memita fatwa terlebih dahulu kepada Pimpinan Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo.
Selain itu, sejak awal Muhammadiyah telah menjadi bagian ormas yang mengaktualisasikan nilai-nilai moderasi dalam Islam. Hal ini dipertegas dalam teks tersebut dengan memberi contoh ketika kalangan Muhammadiyah menerima perubahan sila pertama dari sila „Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya‟ menjadi „Ketuhanan Yang Maha Esa‟. Di sisi lain,
44
artikel ini juga menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah menerima NKRI, UUD 45, dan Pancasila sebagai darul wahdi wa syahadah (negeri hasil kesepakatan).
“Wawasan kebangsaan Mubaligh Muhammadiyah sudah selesai dan tidak perlu diragukan. Ketika Indonesia merdeka, Muhammadiyah sudah berumur 33 tahun, berdiri 1912. Tanggal 18 Agustus 1945, andai kata tidak ada pemikiran dari tokoh-tokoh Muhammadiyah, sidang Pancasila di PPKI sudah deadlock”.
Secara Organisasi, Muhammdiyah dengan sendirinya telah mendeklarasikan diri sebagai organisasi yang Moderat (Washat), yakni satu paham keagamaan yang tidak melenceng ke kanan dan tidak melenceng kekiri, berdakwah dengan cara amar ma;ruf Nahi munkar sesuai dengan ajaran dan sumber aslinya, yakni
Al-Quran dan Hadits Mutawatir,
Di akhir pembahasan artikel ini memberi penguat argumentasi moderasinya dari Q.S. Al-Baqarah: 143. Selain itu juga dijelaskan tentang ciri-ciri Islam moderat yaitu tawasuth (mengambil jalan tengah), tawazun (berkesimbangan), I’tidal (lurus dan tegas), tasamuh (toleransi), muswah (legaliter), syura
(musyawarah), islah (reformasi), aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif). Dari sini tampak bagaimana tasamuh
atau toleransi antar umat beragama menjadi bagian dari moderasi beragama.
Moderasi beragama lebih pada sikap keterbukaan, dengan beranggapan bahwa paham ang berada diluar diri kita, masih memmungkinkan untuk diteriema dan benar. Dengan demikian, kerukunan tidak hanya mengandalkan sikap saling
45
menghargai kepada sesama umat beragama, namun lebih dari itu, kerukunan dapat diterapkan dari tingkat ideologi negara (politik) dan adil.48
2. Teks 2 “Muhammadiyah, Teladan Toleransi Otentik”
Artikel kedua ini diambil dari tulisan Hendra Hari Wahyudi yang diposting pada 29-Juni-2021 dengan judul „Muhammadiyah, Teladan Toleransi Otentik‟.
Dari judul tersebut tampak bagaimana penulis artikel ingin menghiglight tentang toleransi yang sejak awal memang menjadi ruh dari Muhammadiyah itu sendiri.
organisasi yang berdiri di daerah Kauman Yogyakarta tersebut telah menjadi bagian integral dari bangsa Indonesia dalam menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama. Penegasan tersebut tampak dalam judul dengan kata „otentik‟.
Kata „otentik‟ secara leksikal berarti „dapat dipercaya‟, „asli atau tulen‟, dan „sah‟.
Dalam judul tersebut, yang dimaksud dengan otentik adalah asli. Maksudnya Muhammadiyah sejak awal merupakan organisasi Islam yang berprinsip tasamuh atau toleransi.
Artikel tersebut menceritakan tentang keterlibatan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDCM) Kudus yang memulangkan jenazah non-muslim.
Contoh itulah yang diambil untuk memperkuat argumentasi judul, yakni tindakan tanpa tidak memandang bulu dari agama mana yang dibantu untuk penanganan covid-19. Aksi ini adalah bentuk toleransi tanpa basa-basi karena praktik toleransi tidak hanya dibuktikan dalam kondisi tidak pandemi, melainkan juga ketika
48 Wardi, “Peneguhan Moderasi Islam ala Muhammadiyah”, dalam https://ibtimes.id/peneguhan-moderasi-islam-ala-muhammadiyah/ diakses pada 13 Agustus 2021.
46
pandemi toleransi tetap diperlukan. Bantuan tersebut sangat dibutuhkan oleh umat agama lain karena ini merupakan bagian dari tanggung jawab Islam sebagai agama mayoritas yang sudah seharusnya membantu umat agama lain.
selain contoh diatas, terdapat pula bentuk toleransi yang nyata disaat tidak terjadinya pandemi, yakni dibukanya sekolah Muhammadiyah bagi masyarakat luas, tidak hanya untuk golongan dan kelompok internal semata, hal ini membuktikan bahwa komitemen toleransi bagi Muhammdiyah tidak dapat diragukan lagi serta ingin menyampaikan bahwa pendidikan sejatiya untuk segenap masyarakat Indonesia, tanpa memandang latar belaang Agama, Ras dan suku manapun.
“Sebagaimana yang kita tau, sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak hanya diisi oleh siswa muslim saja, belum lagi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang lain.” 49
3. Teks 3 “Masa Depan dan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia”
Artikel ketiga yang ditulis oleh Yoso triwibo dengan judul „Masa Depan dan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia‟ dalam IBTimes.id yang diposting pada 15-Februari-2021. Artikel ini menegaskan tentang masa depan umat beragama di Indonesia yang sebagian besar cenderung membahas persoalan politik negara.
Dalam artikel ini terdapat kata „ultimate values’ (nilai tertinggi) yang terkandung dalam Pancasila. Apa yang dimaksud dengan nilai tertinggi adalah adanya moral-etik dalam berbangsa dan bernegara yang dianut oleh Indonesia. Pancasila sila
49 Hendra Hari Wahyudi, “Muhammadiyah, Teladan Toleransi Otentik”, dalam https://ibtimes.id/muhammadiyah-teladan/ diakses pada 13 Agustus 2021.
47
pertama mengandung nilai tertinggi yang disarikan dari ajaran agama-agama yang tersebar di Indonesia. Nilai tertinggi ini harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terciptalah kerukunan antar umat beragama. Karena adanya nilai tertinggi ini sebagai bentuk kesadaran bahwa Indonesia tidak hanya terdiri dari masyarakat yang beragama Islam, tapi ada kelompok dan agama lain yang harus dihormati. Namun pada realitanya, hal ini masih jauh dari apa yag telah di cita-citakan bersama. Bahkan cenderung pancasila yang menjadi dasar negara hari ini telah dijadikan alat bahkan meteor untuk menghantap kelompok lain yang tidak sejalan.
“Pancasila yang dijadikan sebagai dasar negara, selama ini terkesan terlalu dipergunakan secara membabi buta. Berangkat dari Pancasila lah lahir UU Ormas, berangkat dari Pancasila Ahmadiyah dilarang, berangkat dari Pancasila pula segala hal yang berkaitan dengan FPI dilarang, bahkan sebelum kasus penembakan yang melibatkan enam anggotanya sebagai korban belum selesai.”
Pancasila selama ini dijadikan sebagai alat untuk menghantam organisasi atau kelompok tertentu yang kemudian dianggap menjadi pengganggu dan pengacau, dengan berlindung dibalik menjaga stabilitas negara. Narasi „membabi-buta‟
sebagai mana didalam teks merupakan narasi yang menggambarkan tindakan yang tidak mempunyai aturan, etik-moral dan tidak benar. Artinya, Pemerintah atau ormas apapun yang menghantam socity menggunakan pancasila merupakan tindakan yang tidak dibenarkan, hal ini karena tidak senada dengan nilai tertinggi yang terkandung didalam Pancasila maupun ajaran agama.
Dalam pembahasan artikel, dituliskan kata „Beban Moral Islam sebagai Agama Mayoritas‟. Beban moral tersebut berimplikasi pada dua hal, Pertama,
48
meski Islam menjadi mayoritas namun bukan berarti ia bisa bertindak semena-mena, misalnya dengan mendirikan khilafah, dengan menafikan keberadaan kelompok agama lain. Kedua, Islam bisa menjadi suri tauladan yang dapat membantu negara dalam mengendalikan keadilan dan kesejahteraan sosial karena di dalam Islam terdapat cita yakni rahmatan lil alamin. Untuk mencapai cita-cita tersebut Islam sedapat mungkin mewujud menjadi contoh yang baik kepada agama lain, menjalin kerjasama dan saling bertoleransi.
Beban moral tersebut menjadi tantangan yang besar bagi umat Islam di Indonesia. Pasalnya banyak ragam tafsir yang kemudian memanfaatkan mayoritas Islam sebagai kekuatan politik yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia.
Apabila ini terjadi, maka kerukunan dan toleransi antar umat beragama bisa terancam sebab Islam telah menjadi kendali politik. Hal ini yang dikhawatirkan oleh penulis artikel ini. Oleh karena itu, penulis artikel tersebut menawarkan pembaruan Islam sebagai bagian dari solusi atas ancaman tersebut.
Ada dua macam tawaran yang diberikan oleh penulis dalam artikel ini yakni purifikasi dan dinamisasi. Upaya purifikasi pembaruan menggunakan akal sebagai alat untuk menggali kembali sumber-sumber yang ada dalam al-Qur‟an dan sunnah. Sementara dinamisasi digunakan untuk melapangkan cakralawala dengan cara membuka seluas-luasnya ilmu pengetahuan modern yang kemudian disesuiakan dengan ajaran Islam atau yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dua tawaran ini yang diberikan oleh penulis untuk menyelesaikan persoalan bangsa, terutama untuk menghindari penguasaan segala sektor di negara ini.
49
Dengan purifikasi dan dinamisasi, gejolak politik maupun tantangan lain dapat dikendalikan untuk menjaga kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia.50
4. Teks 4 “Moderasi Beragama dalam Bingkai Toleransi”
Artikel keempat diambil dari judul „Moderasi beragama dalam Bingkai Toleransi‟ yang ditulis oleh M. Arif Kriswanto pada 10-Juni-2021. Terdapat beberapa kata dalam artikel tersebut yang berkaitan dengan kerukunan yakni moderasi beragama dan toleransi dalam Islam. Kata pertama moderasi beragama.
Secara bahasa moderasi berarti pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstriman. Dalam hal ini penulis ingin menjelaskan bahwa moderat memang tidak berlebih-lebihan, ditengah dan menghindari kekerasan baik secara tindakan dan prilaku. Sehingga untuk mengukur moderasi haruslah dilihat dari bagaimana cara pandang dan prilaku keagamaannya, tidak hanya dilihat sebagai bahan kampanye dan teriakan semata-mata.
“Moderasi adalah sebuah kata yang diambil dari kata moderat. Moderat merupakan kata sifat, yang berasal dari kata moderation, yang bermakna tidak berlebih-lebihan, sedang atau pertengahan. Dalam bahasa Indonesia, kata ini kemudian diserap menjadi moderasi, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai pengurangan kekerasan, atau penghindaran keekstriman.”
Kata kedua yakni „toleransi beragama‟. Apa yang dimaksud oleh penulis artikel dengan toleransi beragama ialah bukan untuk saling menukarkan keyakinan kepada agama lain, namun toleransi beragama dalam arti menghargai dan
50 Yogo Triwibowo, “Masa Depan dan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia”, dalm https://ibtimes.id/masa-depan-dan-kerukunan-umat-beragama-di-indonesia/ diakses pada 13 Agustus 2021.
50
menghormati yang dibuktikan dalam bentuk interaksi sosial dalam masyarakat.
Toleransi beragama memiliki batasan yang harus dipahami oleh kedua belah pihak. Tujuannya adalah untuk tidak saling menjatuhkan satu sama lain dan menyakiti perasaan orang lain. Dalam mendefinisikan moderasi, terdapat kata
„atau‟ yang menunjukkan adanya parenti kohesi yang berupa konjungsi koordinatif.
Makna toleransi juga berkaitan dengan makna Islam. Penulis artikel ini menghubungkan arti Islam sebagai „selamat‟ dan „damai‟ sertai „menyerahkan diri‟ sebagai bagian dari spirit toleransi. Kedamaian dan keselamatan dapat terwujud apabil hubungan antar agama di Indonesia menjalin interaksi dengan kerukunan. Kerukunan tidak hanya menghargai namun juga mengajak kerjasama untuk saling menjaga satu sama lain. Kerja sama tersebut sebagai cara untuk mewujudkan agama sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dalam kontek ini maka Islam tidak akan kehilangan orientasinya karena menjadi bagian dari interaksi antar umat beragama di Indonesia.
Moderasi beragama juga dapat djadikan sebagai strategi kebudayaan dalam menciptakan kerukukan antar umat beragama. Penulis artikel ini mencoba menguraikan fungsi dan peran moderasi sebagai salah satu strategi kebudayaan yang dapat mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini dikarenakan heterogenitas bangsa Indonesia yang beragam sehingga memerlukan strategi untuk mempertahankannya. Strategi kebudayaan moderasi diarahkan untuk menyadarkan masyarakat secara horizontal. Dibutuhkan komitmen bersama dalam merawat
51
Indonesia. Proses politik moderasi memang dibutuhkan namun semua itu dapat terwujud apabila bersinergi dengan komponen masyarakat sehingga moderasi dapat menjadi bagian dari strategi kebudayaan, selain iu, diharapkan juga agar masyarakat beragama tidak terkontaminasi oleh paham-paham yang ekstrimis, radikalisme dan intoleransi yang dapat merong-rong kebhinnekaan Indonesia.
“Moderasi dalam kerukunan beragama haruslah dilakukan, karena dengan demikian akan terciptalah kerukunan umat antar agama atau keyakinan. Untuk mengelola situasi keagamaan di Indonesia yang sangat beragam seperti digambarkan di atas, kita membutuhkan visi dan solusi yang dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan keagamaan, yakni dengan menerapkan moderasi beragama untuk saling menghargai keragaman tafsir, serta tidak terjebak pada intolarisme, radikalisme dan ekstremisme.”51
5. Teks 5 “Tiga Cara Membangun Kerukunan Beragama di Sekolah”
Artikel kelima yang diambil dari IBTimes.id dengan judul „Cara Membangun kerukunan Beragama di Sekolah‟, ditulis oleh Rudi ahmad Suryadi. Dari judul tampak bagaimana cara membangun kerukunan beragama melalui sekolah. Upaya ini memperkuat apa yang telah dijelaskan sebelumnya tentang moderasi sebagai strategi kebudayaan dalam mewujudkan kerukunan Umat beragama. Upaya membangun moderasi beragama juga memiliki peran dan fungsi yang sama yakni menyemaikan moderasi beragama melalui sistem Pendidikan. Hal ini dirasa tepat karena diakui atau tidak kerukunan antar umat beragama menjadi sangat berhasil apabila dilakukan diberbagai sektor kehidupan masyaraat, sekolah, kantor, rumah
51 M. Arif Kriswanto, “Moderasi Beragama dalam Bingkai Toleransi”, dalam https://ibtimes.id/moderasi-beragama-dalam-bingkai-toleransi/ diakses pada 13 Agustus 2021
.
52
dan lain sebagainya. Selain itu, keberhasilan dapat begitu maksimal apabila mendapatkan dorongan dari berbagai pihak, orang tua, guru serta sektor pemerintah sama-sama mengkampanyekan moderasi beragama sebagai upaya dalam mewujudkan kerukunan umat antar beragama.
“Sekolah menjadi pendorong harmonisasi antar umat beragama. Harmonisasi ini dianggap tepat apabila gerakan kerukunan melibatkan seluruh komponen warga sekolah. Begitu pula, dorongan ini akan lebih kuat apabila pemerintah memberikan kebijakan yang mendorong sekolah untuk penguatan kerukunan.”
Terdapat sub pembahasan yang menarik dalam artikel tersebut yakni
„Pendekatan Penguatan Kerukunan Umat Beragama di Sekolah‟. Artikel yang ditulis oleh Rudi Ahmad Suryadi ini memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk mengaktualisasikan moderasi beragama. Pertama, kerukunan umat beragama yang mengacu pada aspek kerjasama dengan agama lain. Kedua, kerukunan sosial yang melibatkan kerja sama dengan agama lain untuk melakukan tindakan sosial seperti membantu korban bencana alam. Ketiga, kerukunan budaya merupakan kerjasama antar umat beragama yang bertujuan untuk mempertemukan perbedaan masing-masing agama, sehinga budaya dijadikan infrastruktur untuk saling merekatkan dan membangun kerukunan antar umat beragama. Tujuannya adalah untuk mengetahui ajaran agama satu sama lain sehingga dari pemahaman tersebut orang tidak akan mudah menjatuhkan kata-kata yang bernada intoleran.
Ketiga pendekatan tersebut yang dapat diimplementasikan dalam bidang sekolah. Siswa, orang tua, dan guru dapat bekerjasama untuk melakukan dialog
53
dengan agama lain dan mengajak siswa untuk bekerjasama dengan agama lain dalam hal membentuk korban bencana alam. Pelatihan ini penting bagi siswa untuk memahami pentingnya saling mengenal satu sama lain yang dapat mewujudkan kehidupan yang harmonis antar umat beragama.52
Dari beberapa teks yang diambil dari IBTimes.id mulai dari bulan Januari-Agustus 2021 di atas memperlihatkan adanya kontruksi dan penafsiran dari kerukunan. Kerukunan ditafsirkan dalam bentuk moderasi dan toleransi atau yang disebut dengan tasamuh. Konstruksi tersebut dapat dilihat dari sejarah awal mula terbentuknya IBTimes.id yang terdiri dari penulis muda Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang literasi untuk menyemaikan wawasan toleransi dan kerukunan di medis sosial. Penegasan ini diperjelas dalam salah satu teks di atas yang menegaskan bahwa sejak awal Muhammadiyah menjadikan toleransi atau tasamuh sebagai salah satu ruh gerakannya. Penafsiran toleransi dan kerukunan dari Muhamamdiyah ini lah yang menjadi ruh dari artikel-artikel dalam IBTimes.id.
Bentuk teks sebagaimana yang dimuat didalam lima artikel diatas, dapat membangun nilai ekspreiental, ekspresif, relasional, dan koneksi. Bagi Fairclough, nilai-nilai tersebut merupakan bagian dalam pembentukan diskursus.53 Nilai eksperiental mengungkap perbedaan ideologis direpresentasikan melalui kata-kata
52 Rudi Ahmad Suryadi, “Tiga Cara Membangun Kerukunan Beragama di Sekolah”, dalam https://ibtimes.id/kerukunan-beragama/ diakses pada 13 Agustus 2021.
53 Norman Fairclough, Language and Power, (New York: Longman, 1989), hlm. 94.
54
dalam suatu bangunan teks. Aspek ini memiliki efek struktural berupa produksi pengetahuan dan keyakinan yang diharapakan diterima publik dan memenangkan pertarungan ideologis. Pada bagian ini, Situs IBTimes.id membangun narasi dan wacana toleransi dan kerukunan sebagai basis ideologi mereka melalui teks. Nilai kedua adalah relasional, yang merupakan jejak tentang relasi sosial yang ditampilkan dalam teks. Nilai ini memfokuskan pada bagaimana pilihan penggunaan kata dalam teks berperan dan berkontribusi pada penciptaan relasi sosial di antara para partisipan.54 Dalam hal ini, IBTimes.Id menggunakan pilihan bahasa ragam formal namun dapat dipahami oleh masyarakat secara umum. Bentuk ketiga adalah nilai konektif yang menghubungkan bagianbagian dalam teks. Selain menghubungkan bagian-bagian internal teks, nilai konektif juga terkait dengan hubungan teks dengan konteks situasional teks tersebut. Pada bagian ini, persoalan yang melatar belakangi teks didalam website IBTimes.Id adalah narasi-narasi kebencian dan intoleran di dunia maya. Dengan kata lain, keberadaan narasi toleran dan kerukunan di IBTimes.id sebagai modal perlawanan terhadap narasi yang bernada diskriminatif, maupun intoleransi, terhadap agama lain.
Terdapat satu nilai yang tidak termasuk bahasan terkait dengan analisis teks dari IBTimes.id adalah nilai ekspresif. Nilai ekspresif pada dasarnya menandakan adanya peniadaan subjek yang partikular. Artinya dalam penarasian teks, subjek tidak menampakkan satu golongan ormas tertentu. Namun dalam penelitian ini menemukan
54 Norman Fairclough, Language and Power, (New York: Longman, 1989), hlm. 93.
55
bahwa munculnya IBTimes.id tidak bisa dilepaskan dari kalangan muda Muhamamdiyah. Selain itu juga, ditemukan penyebutan ormas Muhammadiyah dalam body teks. Dengan demikian penarasian teks dipengaruhi oleh ormas Muhammadiyah.
Kelima teks di atas merupakan bagian dari representasi ideologi IBTimes.id. Di luar kelima teks tersebut sesungguhnya banyak artikel yang mengarah pada kerukunan dan toleransi. Namun menurut peneliti kelima teks itu cukup untuk mengetahui ideologi kerukunan dalam situs IBTimes.id. Hal ini dikarenakan dalam kelima teks telah memuat unsur yang dibutuhkan yaitu keterkaitan dengan Muhammadiyah, ideologi kerukunan Muhammadiyah, implementasinya dalam kehidupan sehari-hari, dan pada implementasi dalam ranah pendidikan sebagai salah
Kelima teks di atas merupakan bagian dari representasi ideologi IBTimes.id. Di luar kelima teks tersebut sesungguhnya banyak artikel yang mengarah pada kerukunan dan toleransi. Namun menurut peneliti kelima teks itu cukup untuk mengetahui ideologi kerukunan dalam situs IBTimes.id. Hal ini dikarenakan dalam kelima teks telah memuat unsur yang dibutuhkan yaitu keterkaitan dengan Muhammadiyah, ideologi kerukunan Muhammadiyah, implementasinya dalam kehidupan sehari-hari, dan pada implementasi dalam ranah pendidikan sebagai salah