• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Analisis Praktik Diskursif

1. Produksi Teks

Produksi teks yang dimaksud oleh Fairclough adalah terkait dengan media itu sendiri. Media memiliki ideologi tertentu yang direpresentasikan melalui teks yang diproduksi. Website yang lahir pada 10 April 2019 ini boleh dibilang pemain baru dalam jagad dunia maya. Dalam bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa kemunculan website ini merupakan jawaban untuk mengatasi meningkatnya

56 Septiawan Santana , Jurnalisme Investigasi, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), hlm 137.

58

wacana kekerasan, intoleransi, dan isu sejenisnya di jagad maya. Oleh karena itu, dalam lounching website pada tahun 2019, dijelaskan bahwa dengan adanya media IBTimes.id ini diharapkan dapat menjadi penyejuk di tengah percaturan jagad maya. Selain itu, tim redaksi di IBTimes.id kebanyakan berasal dari aktivis muda Muhammadiyah yang melek literasi digital.

Keterlibatan aktivis muda Muhammadiyah untuk mengelola situs tersebut lantaran era saat ini teknologi dan informasi telah berkembang. Internet telah berkembang menjadi ruang publik baru yang memiliki tingkat kesulitan apabila dari kalangan tua yang mengoperasikannya. Meskipun tidak menutup kemungkinan masih ada keterlibatan kaum tua, namun penggerak dari media ini tetap dari kalangan muda karena mereka yang setiap harinya bergelut dengan dunia digital. Algoritme internet mudah mereka pahami sehingga beban ini diberikan kepada mereka. Orang-orang yang telah disebutkan di bab II itulah yang menggerakkan media ini.

Media online seperti IBTimes.id tidak seperti media pemberitaan secara umum. Media ini berbicara banyak tentang keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. Tema-tema tersebut bisa dijelaskan dalam pelbagai perspektif seperti politik, sosial, sejarah, filsafat, fiqih, teologi, dan lainnya. Oleh karenanya, dalam headlinenya terdapat pelbagai macam kanal yang bisa diisi oleh penulis.

Penulis bisa memilih tema mana yang hendak dikirimkan ke media IBTimes.id.

Secara kelembagaan, media ini tidak memiliki kontributor tetap yang dicantumkan

59

dalam website. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya media IBTimes.id terbuka untuk siapapun yang ingin mengirimkan tulisan di media ini.

Namun, sebagai media pada umumnya, IBTimes.id juga memiliki aturan yang perlu dipelajari dan dipahami oleh penulis yang hendak mengirimkan artikelnya.

Dalam kanal kirim tulisan telah dijelaskan bahwa tulisan yang dikirimkan harus sesuai dengan tiga topik yang menjadi fokus media IBTimes.id, yaitu keislaman, kemodernan, dan kemanusiaan. Tulisan yang masuk akan diseleksi kelayakannya.

Ada beberapa hal tentang disclaimer yang dibuat acuan oleh tim editorial IBTimes.id;

1. Penulis dilarang mengirimkan satu tulisan pada saat bersamaan ke media lain. Penulis juga dilarang mengirimkan artikel yang pernah diterbitkan di media lain, baik media online atau cetak tanpa sepengetahuan redaksi IBTimes.id.

2. Hak cipta setiap karya yang telah dimuat di IBTimes.id berada pada penulis/kontributor. Artinya IBTimes.id hanya memiliki hak untuk mempublikasikan saja.

3. Redaksi berhak menolak/tidak menerbitkan tulisan yang telah dikirimkan.

Jika dalam tiga hari tulisan tidak terbit di IBTimes.id maka secara otomatis ditolak.

4. Redaksi berhak menyunting tulisan dari penulis, seperti mengubah judul dan isi naskah tanpa mengubah substansinya, atau menghilangkan segala

60

isi unggahan pengguna yang melanggar aturan hukum sebagaimana diatur oleh pedoman pemberitaan media siber.

5. Penyebaran karya IBTimes.id di tempat lain diperkenankan sejauh menyebut nama penulis dan sumber IBTimes.id serta minimal seminggu setelah ditayangkan di IBTimes.id.

6. Pihak yang merasa dirugikan oleh artikel-artikel yang diterbitkan di IBTimes.id bisa melayangkan protes melalui email57.

Pada poin nomer 3 & 4 di atas menunjukkan peran tim editorial dan redaksi dalam proses produksi teks. Ketika penulis mengirimkan artikel di website IBTimes.id, artikel tersebut akan masuk terlebih dahulu ke meja redaksi. Di meja redaksi artikel akan dipilah apakah layak atau tidak. Dalam kolom kirim tulisan ada tema yang telah ditentukan oleh redaktur yaitu keislaman, kemodernan, dan kemanusiaan. Tiga tema tersebut menjadi acuan bagi penulis ketika hendak mengirimkan artikelnya di IBTimes.id. Penyesuaian ini juga disesuaikan dengan visi dan misi IBTimes.id. Adapun visi-misi tersebut adalah:

1. Media Islam yang menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup bagi seluruh umat manusia;

2. Media Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia (laki-laki maupun perempuan) tanpa diskriminasi;

57 https://ibtimes.id/disclaimer/ diakses pada tanggal 10 September 2021

61

3. Media Islam yang memperjuangkan misi antiperang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, antiketerbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk kerusakan di muka bumi;

4. Media Islam yang menjujung budi pekerti yang luhur untuk memayungi kemajemukan agama, suku, ras, golongan, bahasa, dan budaya umat manusia. 58

Keempat kaidah tersebut menjadi acuan bagi penulis ketika hendak mengirimkan artikel ke situs IBTimes.id. Ketika artikel yang diterima tidak sesuai dengan kaidah tersebut maka dewan redaksi akan menolaknya. Selain itu juga, dewan redaksi berhak untuk mengubah redaksi teks apabila kurang sesuai dengan editorial redaksi. Ini merupakan proses bagaimana teks itu diproduksi oleh situs IBTimes.id. Semua artikel yang dikirim ke meja redaksi akan disortir terlebih dahulu apakah sudah sesuai dengan visi dan misi media atau belum. Jika artikel itu tidak sesuai dengan visi dan misi maka akan ditolak, dan jika sudah sesuai maka akan disunting kembali sebelum diposting.

Sebagai media online, karakteristik dari media secara umum tidak bisa ditanggalkan. Terkait dengan hal ini media IBTimes.id juga memiliki kaidah jurnalistik yang menjadi panduan dalam memproduksi teks. Akan tetapi, dalam setahun awal pembentukannya April 2019-April 2020, tim editorial mengakui bahwa:

58 https://ibtimes.id/tentang-kami/ diakses pada 10-September-2021.

62

Kaidah jurnalistik IBTimes.id selama setahun awal perkembangannya masih mencari format yang sesuai dengan karakteristik generasi milenial.

Hal ini disebabkan karena kadiah-kaidah jurnalistik konvensional saat ini sudah terasa tumpul ketika berhadapan dengan selera milenial. bisa bertaruh, sebuah berita yang bagus ditulis dengan kaidah konvensional ketika dipublis di media online dipastikan tidak akan diklik, apalagi dibaca oleh netizen.59

Dari penjelasan itu tampak bahwa tim editorial masih mencari format yang sesuai dengan selera generasi milineal. Hal ini menunjukkan komposisi dari tim editorial itu sendiri yang digandrungi oleh generasi milenial yang melek literasi digital dalam lingkungan Muhammadiyah. Pencarian format ini penting untuk meningkatkan rating dan jumlah pengunjung dari media itu sendiri. Sebab, apabila tidak dicari format yang sesuai maka generasi milenial tidak akan tertarik dengan media IBTimes.id. Maka dari itu, secara kode jurnalistik yang dimiliki oleh situs IBTimes.id belum memiliki patokan yang khas.

Meskipun demikian, dari kelima artikel yang dibahas dalam penelitian ini telah menunjukkan proses produksi teks yang sesuai dengan ideologi yang termuat dalam visi dan misi IBTimes.id. Wacana tentang toleransi dan kerukunan merupakan satu tema keislaman yang melawan tindak kekerasan atas nama agama, diskriminasi agama, dan sejenisnya. Kelima artikel tersebut mewakili isu yang diangkat oleh media IBTimes.id sebagai media dakwah yang mengembangkan Islam yang rahmatan lil alamin.

59 Redaksi, “Genap Setahun: Inilah 15 Tuduhan Kepada IBTimes” https://ibtimes.id/genap-setahun-inilah-15-tuduhan-kepada-ibtimes-yang-bikin-ngenes/ diakses pada 17-September-2021.

63

Selanjutnya terkait dengan penulis artikel, media IBTimes.id terbuka untuk umum. Artinya semua komunitas muslim, atau tidak, dapat mengirimkan artikel di website tersebut. Dari kelima artikel yang dijadikan sebagai obyek penelitian ini, terdapat lima penulis yang berbeda. Adapun nama-nama penulis tersebut adalah Wardi, Hendra Hari Wahyudi, Yogo Triwibowo, M. Arif Kiswanto dan Rudi Ahmad Suryadi. Dari kelima penulis tersebut masing-masing menuliskan tema toleransi dan kerukunan dengan perspektif yang berbeda. Latar belakang dari masing-masing penulis menentukan corak kepenulisan dan perspektif yang digunakan. Oleh karena itu, kelima artikel memiliki perbedaan perspektif meskipun kajiannya sama yaitu tentang toleransi dan kerukunan.

Penulis pertama adalah Wardi, S. Pd, MA. Wardi merupakan salah satu penulis aktif di IBTimes.id. Ia menulis sebanyak 57 artikel di IBTimes.id. Wardi juga menjadi anggota Majelis Pustaka PCM Semin.

Penulis kedua yaitu Hendra Hari Wahyudi. Hendra merupakan sekretaris Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Solokuro, Lamongan. Pemuda satu ini telah menulis sebanyak 84 artikel di IBTimes.id. selain menulis artikel di IBTimes.id Hendra juga aktif menulis di situs rahma.id.

Penulis ketiga yang masih dari kalangan mahasiswa adalah Yogo Triwibowo.

Meskipun artikelnya masih ada satu di IBTimes.id, dengan judul Masa Depan dan kerukunan Umat Beragama di Indonesia, namun ia telah banyak menulis artikel di beberapa media lain seperti mojok.co dan rahma.id. Yogo Triwibowo tercatat

64

sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan pernah menjadi ketua Kordinator komisariat IMM UMS 2020/2021.

Penulis keempat, yaitu M. Arif Kriswanto, merupakan mahasiswa S1 Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Semarang. M. Arif telah menulis enam artikel di IBTimes.id dengan berbagai macam disiplin keilmuan.

Penulis terakhir, Rudi Ahmad Suryadi merupakan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhary Cianjur. Jenjang pendidikannya dihabiskan di UIN Bandung, mulai dari S1 hingga S3 dengan konsentrasi Pendidikan Agama Islam.60 Latar belakang pendidikan tersebut telah membentuk dimensi kognitif penulis.

Oleh karena itu tulisan yang dimuat di IBTimes.id tentang kerukunan tidak lepas dari latar belakangnya sebagai pakar pendidikan agama Islam. Rudi Ahmad Suryadi telah menulis 15 artikel di IBTimes.id dan salah satu artikelnya yang menjadi obyek penelitian ini berjudul “Tiga Cara Membangun Kerukunan Beragama di Sekolah”. Dengan melihat latar belakang pendidikannya maka perspektif yang digunakan dalam membingkai kerukunan dari sudut pandang sekolah.

Semua penulis di atas berasal dari kalangan Muhamamdiyah. Dari kelima penulis, dua di antaranya masih berstatus mahasiswa dan satu masih menjadi bagian dari pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, pemuda Muhammadiyah aktif dalam hal kepenulisan. Ketiganya juga tidak hanya menulis di satu website

60 Deden Faried MY, “Rudi Ahmad Suryadi, Guru PNS Kemenag Cianjur, Raih Gelar Doktor di Usia 28 Tahun” https://jabar.kemenag.go.id/portal/read/rudi-ahmad-suryadi-guru-pns-kemenag-cianjur-raih-gelar-doktor-di-usia-28-tahun diakses pada 17 Agustus 2021.

65

saja melainkan ke website afiliasi Muhammadiyah lainnya yaitu rahma.id. Bukti ini menunjukkan bagaimana peminatan kaum muda Muhammadiyah terkait dengan literasi digital. Keberadaan IBTimes.id secara khusus dan website yang berafilaisi dengan Muhammadiyah secara umum, merupakan wadah bagi generasi muda untuk aktif dalam kepenulisan. Tujuannya sama yakni mencerdaskan bangsa Indonesia.

Dokumen terkait