DI MAJLIS DZIKIR AL-ISHLAH CIKARANG UTARA BEKASI.
Kegiatan Dzikir Pondok Pesantren Al-Ishlah dalam Dakwah Islam di Cikarang Utara. Dalam bab ini dapat dipaparkan mengenai aktivitas Dakwah, Dzikir Pondok Pesantren Al-Ishlah yang meliputi: Analisis Tentang Isi Pesan Dakwah Pada
kegiatan Dzikir Yang di Bimbing KH. Ahmad Dasuki Harun Bagi Jamaah, Analisis Tentang Tingkat Keberhasilan Penyampaian Dzikir Syaikh Abdul Qadir Jailani oleh KH. Ahmad Dasuki Harun di Majlis Dzikir Al-Ishlah, Analisis Tentang Faktor Keberhasilan dan Kegagalan Penyampaian Dzikir KH. Ahmad Dasuki Harun di Majlis Dzikir Al-Ishlah, Analisis Tentang Respon Masyarakat Terhadap Penyampaian Dzikir KH. Ahmad Dasuki Harun Dalam Membina Kesehatan Mental.
BAB V : PENUTUP.
Dalam bab ini memuat kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan yang dikemukakan di tambah dengan kontribusi saran-saran yang penulis ajukan berkenaan dengan bidang yang penulis teliti.
BAB II
KERANGKA TORI DAKWAH ISLAM, DZIKIR, KESEHATAN MENTAL DAN PONDOK PESANTREN AL-ISHLAH
A. Dakwah Islam
1. Pengertian Dakwah
Secara etimologi, kata dakwah berasal dari bahasa Arab yang berarti seruan, ajakan, atau jamuan. Bentuk kata tersebut dalam bahasa Arab disebut masdar, diambil dari kata kerja - yang berarti menyeru, memanggil, mengajak atau menjamu.22 Dalam Kamus Kontemporer Arab – Indonesia yang disusun oleh Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, dakwah diambil dari kata - – yang berarti panggilan atau seruan.23 Pengertian tersebut banyak terdapat dalam Al-Quran, surat Yunus ayat 25:
!" # $ %& '() *+, -./ 012 3 5$ 67 8
“Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”.
Sejalam dengan pandangan di atas, Mansyur Amin memberikan makna dakwah secara bebas sebagai berikut:24
22
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990), Cet. Ke-8, hal 127.
23
Atabik Ali, Ahmad Zudli Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia,
(Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1998), Cet. Ke-3, hal. 895.
24
Mansyur Amin, Dakwah dan Pesan Mora, (Yogyakarta: Al-Amin Perss, 1997), Cet ke-1, hal 8.
a. Mengharap dan berdo’a kepada Allah
Makna ini sesuai dengan pengertian yang terdapat pada Al-Quran, Surah Al-Baqarah ayat 186, yaitu:
9: ;9 < = > ?@A (B C9D FG9H I J.AKL ( MN O 9: 8P >J R S D 9D T $U9 JV W !XZ[ \9 ]^ &_!G 6` 8
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
b. Memanggil dengan suara lantang, makna ini sesuai dengan Al-Quran, Surat Al-Rum ayat 25, yaitu:
# $ bc d S & P L e f 9g %& h +i! 3j c FGV$ < k lX\ 9: !X&m T( n# o$ 6i! 3j 9: 3p L P A GV $ 67 8
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur)”.(Q.S. Ar-Rum/30:25)
c. Mendorong seseorang untuk memeluk sesuatu keyakinan tertentu, makna ini sesuai dengan Al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 221, yaitu:
qr 9.sT9g t um - vhV ?w1 d x# $U9 z ${j |z(} $U95$ -!G n # o$ ;zum - v5$ ! 9 !X&sUS > R L s qr 9.sT\g ~• m - vhV ?w1 d T $U9 ? !; \9 N# $U95$
-!G n # o$ ;0 - v5$ ! 9 !X&s > R L s ;€[ 9 < KL P •T z•} RV ( G bV hV c d pV: C k ~ o• ; c d S & • •} !XZ[ \9 P G_muJ S 677`8
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (Q.S. Al-baqarah/2:221).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dakwah memiliki dua arti yaitu: “(1) penyiaran, propaganda: (2) penyiaran agama dan pengembangan di kalangan masyarakat: seruan untuk memeluk, mempelajari dan mengemalkan ajaran agma.” Dalam Ensiklopedia Islam,
dakwah yang berarti setiap kegiatan yang menyeru, mengajak, dan memanggil untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis aqidah, syariat, dan akhlak Islamiah.25
Sedangkan pengertian dakwah dari segi terminologi tersebut ada beberapa pendapat, namun tidak jauh berbeda, terkadang pendapat yang satu dengan yang lain saling melengkapi.
Prof. Toha Yahya Oemar, M.A. Dalam bukunya, Ilmu Dakwah,
mendefinisikan dakwah sebagai berikut: Dakwah adalah mengajak
25
Kafrawi Ridwan, dkk., Ensiklopedia Islam, (Jakarta: P.T. Ichtiar Baru van Hoeve, 1999), Cet. Ke-6, h,181
menusia dengan bijaksana pada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.26
K.H. Didin Hafidudin, memberikan pengertian yang intregalistik bahwa dakwah merupakan “suatu proses yang berkesinambungan yang dilakukan oleh para pengemban dakwah untuk mengubah sasaran dakwah agar bersedia mesuk ke jalan Allah secara bertahap menuju perikahidupan yang Islami.”27
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa dakwah adalah sebuah proses pengaktualisasian atas keimanan seseorang dengan berbagai upaya-upaya agar kualitas diri dan masyarakatnya meningkat.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Drs. Amrullah Ahmad bahwa dakwah merupakan: Aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara terartur untuk mempengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap, dan bertindak manusia pada tataran realitas pada individual dan sosio-kultural dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan dengan cara tertentu.28
Prof. H. M. Arifin, M, Ed. mendefinisikan dakwah sebagai berikut: suatu kegiatan ajakan, baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha
26
Toha Yahya Oemar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Wijaya, 1997), Cet. Ke-1, h. 1
27
Didin Hafidudin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Perss, 1998), Cet. Ke-1, h. 77
28
Amrullah Ahmad, (ed), Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta: PLP2M, 1985), Cet. Ke-2, h. 11
mempengaruhi orang lain, baik secara individu maupun secara kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan, dan pengamalan terhadap ajaran agama sebagai Message yang disampaikan kepadanya tanpa ada unsur-unsur paksaan.29
Dr. Hamzah Ya’kub memberikan pengertian dakwah secara umum dan khusus. Dakwah secara umum ialah “suatu pengetahuan yang mengajarkan seni dan tehnik menarik perhatian orang guna mengikuti ideologi dan pekerjaan tertentu”. Dengan kata lain, ilmu yang mengajarkan cara mempengaruhi alam pikiran manusia. Dakwah berusaha “menyeberangkan” alam pikiran manusia kepada suatu ideologi tertentu. Sedangkan dakwah secara khusus dalam Islam ialah “mengajak manusia dengan hikmah kebijaksanaan untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya”.
H.S.M. Nasaruddin Latif, mendefinisikan dakwah sebagai “setiap usaha atau aktivitas dengan lisan, tulisan, dan sebagainya, yang bersifat menyeru, mengajak, dan memanggil manusia lainnya untuk beriman dan mentaati Allah SWT, sesuai dengan garis-garis akidah dan syari’ah serta akhlak Islamiyah”.30
Bertitik tolak dari beberapa definisi dakwah yang telah dikemukakan di atas, terlihat bahwa dakwah telah menjadi kewajiban setiap Musmin di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kewajiban
29
H. M. Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), Cet. Ke-5, h. 6
30
H.S.M. Nasaruddin Latif, Teori dan Praktek Dakwah Islamiyah, (Jakarta: Firma, 1971, Cet, ke-1,h, 11
tersebut sesuai dengan kesanggupan dan proporsinya. Hal ini diungkapkan dengan Al-Qur’an sebagai berikut;
#&s 3V !X&s} o$ z•$KL P -!G9 V* P G $D< . GU\zpDƒ k P! ZUT 6# FG9s}hV ;€[ 9 < KL X\„ ]^ 9 VbhV 6` 8
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Al-Imran/3;104)
(Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya).
Dalam hadist Rasulullah SAW:
! !" # "$%ﻡ $%ﻡ ' ﻡ
( ) * + , - . . /012 ( ﻥ 2 . /012 (
4
5
2ﻡ !
6
“Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda. “Siapa yang melihat sebuah perbuatan munkar, haruslah mengubahnya dengan tangannya (tindakan). Jika tidak sanggup, maka dengan mulutnya (kata-kata). Jika tidak sanggup pula, maka dengan hatinya (ketidak setujuan) namun yang terakhir ini merupakan menifestasi yang paling lemah”. (H.R. Muslim).31
Dari uraian di atas, dapat dirangkum bahwa dakwah adalah sebuah proses berkesinambungan harus dibangun oleh unsur kesadaran, keteraturan, peningkatan, dan fleksibilitas. Karena itu aplikasi dakwah harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Allah SWT memberikan rambu-rambu kebijaksanaan untuk orang-orang beriman
31
Abu Zakariyya Yahya ibn Syaraf an Nawawi, Riyad as-Salihin, (Bairut: Dar al-Fikr 1992), t, c,. h, 67
dalam melaksanakan dakwah yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an yang berikut: &NU 8…J > = ; k z hs V* k z9f ! hV z T‡ z V* ZV A ? 1_ k ˆ „ #‡ d L •P ;‰k \„ + L # h k •…‡` # c L J > = \„ + L ~Š S ZhV k 6`7 8
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. Al- Nahl/16:125).
(Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil).
Dalam ayat tersebut terkandung tiga prinsip pelaksanaan dakwah yaitu: a. Hikmah, yaitu yang berlandaskan informasi tentang hakikat kehidupan psikologi manusia suatu kebijaksanaan yang diambil berdasarkan atas pertimbangan matang sebagai objek dakwah. Informasi tersenut merupakan bahan pengetahuan yang secara obyektif mengambarkan tentang kehidupan manusia dalam segala dimensi dan aspeknya menurut situasi dan kondisi yang melengkapinya.
b. Mau’izah hasanah, yaitu perilaku yang dinyatakan dalam bentuk penasihatan atau ajakan serta keterangan-keterangan yang disampaikan dengan metode yang ckup baik dilihat dari segi kedayagunaan psikologi manusia.
c. Sistem penyampaian secara tatap muka (face to face meeting) antar pribadi dan kelompok yang dilakukan secara tertib dan berlangsung secara konsisten atas dasar pendekatan-pendekatan psikologi.32
2. Tujuan Dakwah
Adapun tujuan dakwah dapat dijelaskan sebagai berikut:
Abdur Rosyad Shaleh membagi tujuan dakwah menjadi dua, yaitu tujuan akhir (ultimate goal) dan tujuan utama: adapun tujuan akhir, yakni terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat yang diridhai Allah SWT, dan tujuan antara (intermediategoal), yakni perumusan nilai yang diingin dicapai sebagai perantara tujuan utama dakwah.33
Menurut K.H. Didin Hafiduddin dalam bukunya, Dakwah Aktual,
tujuan dakwah secara umum adalah untuk mengubah perilaku sasaran dakwah agar menerima dan merealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan yang penuh keberkahan samawi dan ardi34 sebagaimana dijelaskan dalam
Al-Qur’an sebagai berikut:
! 9 •P L q…U„ L Gf V T $ & ! 9 •g T9 Sub9 X"!-‹t um G k n# o$ & h 6i! 3j #.s 9 kOJum tZ pJ9j <9D h k p qŒ P ;. s 6• 8 32
H.M. Arifin , M.Ed Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), Cet. Ke-5,h. 20-21
33
Abd. Rosyad Shaleh, Management Dakwah Islam, (Jakarta Bintang, 1997), Cet, ke, h. 21-22
34
K.H. Didin Hafiduddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Perss, 1998), Cet. Ke-1,. h. 78
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Q.S. Al-A’raf/7;96)
Kemudian tujuan umum tadi dirumuskan ke dalam tujuan-tujuan operasional sehingga dapat dievaluasi keberhasilan yang dicapai. Misalnya berkurangnya angka kemaksiatan, berkurangnya tingkat pengangguran, dan sebagainya.35
3. Sasaran Dakwah
Sasaran dakwah adalah manusia, baik individu maupun kelompok (masyarakat). Dalam hal ini Amrullah Ahmad mengklasifikasikan sasaran dakwah menjadi tujuh kelompok, yaitu:
a. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan tempat tinggal, yaitu pendduduk kota dan desa
b. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan struktur kemasyarakatan, yaitu masyarakat agraris dan industri.
c. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan tingkat pendidikan,
d. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan peranan dan struktur kekuasaan, yaitu pemimpin dan rakyat.
e. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan agama, yaitu Islam dan non Islam.
f. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan sikap terhadap dakwah yaitu orang yang cinta terhadap Islam atau sebaliknya.
35
g. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan usia, misalnya anak (6-13 th), remaja (14-16 th), dewasa (17-35 th), orang tua (35-55 th), dan lanjut usia (55-ke atas).36
Hal ini juga diungkapkan oleh Prof. H.M. Arifin M.Ed, dalam buku Psikologi Dakwah. bahwa sasaran dakwah menjadi delapan kelompok, yaitu:
a. Sosiologis: yaitu masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan kecil, serta masyarakat di daerah marginal dari kota besar.
b. Struktur kelembagaan: yaitu masyarakat, pemerintahan, dan keluarga. c. Sosio-kultural: yaitu golongan priyayi, abangan, dan santri, klasifikasi
ini terdapat dalam masyarakat Jawa.
d. Tingkat usia: yaitu golingan anak-anak, remaja, dan orang tua.
e. Okupasional (propesi atau pekerjaan) yaitu petani, pedagang, seniman, buruh, pegawai negeri, dan sebagainya.
f. Tingkat sosio-ekonomi: yaitu orang kaya, menengah, dan miskin. g. Masyarakat khusus: yaitu tuna susila, tuna wisma, tuna karya,
narapidana, dan sebagainya.37
h. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini menuntut adanya sistem dan metode dakwah yang berbeda pula. Dengan demikian, kegiatan dakwah akan lebih
36
Amrullah Ahmad (ed), Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta: PLP2M, 1985), Cet. Ke-2, h. 300
37
H.M. Arifin, M.Ed Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), Cet. Ke-5,h. 3-4
efektif dan efesien jika penggunaan sistem dan metodenya sesuai dengan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
Dari uraian tentang sasaran dakwah tersebut di atas, menurut hemat penulis, yang sesuai dengan kondisi sasaran dakwah dalam penelitian skripsi ini:
a. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan tempat tinggal, yaitu pendduduk desa Tanjung Sari, Kecamatan Cikarang Utara.
b. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan struktur kemasyarakatan Desa Tanjung Sari Kecamatan Cikarang Utara, yaitu masyarakat agraris dan industri.
c. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan agama, yaitu Islam
d. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan usia, misalnya anak (6-13 th), remaja (14-16 th), dewasa (17-35 th), orang tua (35-55 th), dan lanjut usia (55-ke atas).38
e. Struktur kelembagaan: yaitu masyarakat, pemerintahan, dan keluarga f. Okupasional (propesi atau pekerjaan) yaitu petani, pedagang, seniman,
buruh, pegawai negeri, dan sebagainya.
g. Tingkat sosio-ekonomi: yaitu orang kaya, menengah, dan miskin. 4. Strategi Dakwah
a. Pengertian Strategi Dakwah 1) Prespektif Etimilogis
38
Amrullah Ahmad (ed), Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta: PLP2M, 1985), Cet. Ke-2. h. 300
Pada awal istilah strategi digunakan dalam dunia militer, yaitu untuk memenangkan suatu peperangan.39 Istilah strategi berasal dari kata Yunani “Strategia” (Stratis = militer, dan ag = memimpin), yang atinya adalah seni atau ilmu untuk menjadi seorang jendral. Strategi bisa juga diartikan sebagai sesuatu rencana untuk pembagian dan penggunaan kekuatan militer dan material pada daerah-daerah tertentu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.40
Secara umum, strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, penetapan strategi harus didahului oleh analisis kekuatan lawan yang meliputi jumlah personal, kekuatan dan persenjataan, kondisi lapangan, posisi musuh, dan sebagainya.41
Strategi mempunyai beberapa pengertian yaitu: siasat perang dan akal (daya upaya) untuk mencapai suatu maksud.42 Sama halnya yan diungkapkan oleh Harimukti Kridalaksana, bahwa strategi berarti siasat untuk tehnik memenangkan suatu persaingan antara kelompok-kelompok yang berbeda orientasi hidupnya.43
Menurut Prof. Dr. A.M. Kadarman, strategi adalah penentuan tujuan utama yang berjangka panjang dan sasaran dari suatu perusahan
39
Komaruddin, Ensiklopedi Manajemen, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), Cet. Ke-1, h. 539
40
Ziauddin Sardar, Tantangan Dunia Islam Abad 21, Terjemahan A.E. Priyonodan Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1996), h. Prakata
41
Abu Ahmad, et al., Strategi Belajar Mengaja, (Bandung: Pustaka setia, 1997), h. 11
42
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Nusa Indah, 1981), Cet. Ke-1, h. 173
43
Fuad Amsyari, Strategi Umat Islam Indonesia, (Bandung: Penerbit Mizan, 1990). Cet. Ke-1, h. 40
atau organisasi serta pemilihan cara-cara bertindak dan mengalokasian sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Jadi strategi menyangkut soal pengaturan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan agar dalam jangka panjang tidak kalah bersaing.44
Dalam rangka suatu menyusun strategi dakwah diperlukan suatu pemikiran yang luas dan rasional dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi tersebut.
Dalam penyusunan dan strategi ada lima faktor yang perlu diketahui: a) Tujuan, baik tujuan jangka panjang (tujuan akhir) atau tujuan jangka
pendek (tujuan sementara). b) Ilmu Medal (tujuan dan kondisi). c) Kekuatan-kekuatan.
d) Kebijaksanaan Pemimpin. e) Pemimpin.45
Prof. Dr. Onong Ushyana, M.A menyatakan bahwa dalam rangka menyusun strategi diperlukan:
a) Pengenalan susunan, yang meliputi: (1) Faktor kerangka referensi (2) Faktor situasi dan kondisi. b) Pemilihan media.
44
A.M. Kadarman, et al., Pengantar Ilmu Manajemen, (Jakarta: PT. Prenhallindo), h. 58
45
Syarif Usman, Strategi Pembangunan Indonesia dan Pembangunan, (Jakarta: Firma Djakarta, Tanpa Tahun). Cet. Ke-1, h. 6
c) Pengkajian media d) Peranan komunikator.46
Dr. Fuad Amsyari, membicarakan perjuangan umat Islam Indonesia menyatakan tiga hal pokok dalam penyusunan strategi yaitu: a) Potret umat
b) Permasalahan umat c) Alternatife pemecahan. 5. Media Dakwah
Dalam arti sempit media dakwah dapat diartikan sebagai alat bantu dakwah. Alat bantu yang berarti media dakwah memiliki peranan atau kedudukan sebagai penunjang tercapainya tujuan tanpa adanya media masih dapat mencapai semaksimal mungkin.
Ada beberapa media komunikasi, dakwah yang dapat digolongkan menjadi lima golongan besar, yaitu:
a. Lisan: termasuk dalam bentuk ini adalah khutbah, pidato, diskusi, seminar, musyawarah, nasihat, ramah tamah dalam suatu acara, obrolan secara bebas setiap ada kesempatan yang semuanya dilakukan dengan lidah atau suara.
b. Tulisan: dakwah yang dilakukan dengan perantara tulisan umpamanya, buku-buku, majalah, surat kabar, buletin, risalah, kuliah-kuliah tertulis, pamplet pengumuman tertulis, spanduk, dan lain sebagainya.
46
Onong Uchyana, Teori dan Praktek Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992). Cet. Ke-6, h. 35
c. Lukisan: yakni gambar-gambar dalam seni lukis, foto dan lain sebagainya. Bentuk tertulis ini banyak menarik perhatian orang dan banyak dipakai untuk menggambarkan suatu maksud yang ingin disampaikan kepada orang lain umpanya komik-komik bergambar Islami untuk anak-anak.
d. Audio visual: yaitu suatu cara menyampaikan sekaligus merangsang penglihatan dan pendengaran. Bentuk ini dilaksanakan dalam televisi, radio, film dan sebagainya.
e. Akhlak: yaitu suatu cara penyampaian langsung ditunjukan dalam perbuatan yang nyata.47
Dari paparan tentang media dakwah di atas, media dakwah yang digunakan di dalam subyek penelitian yaitu: Lisan, Tulisan, Audio Visual
dan Akhlak. adapun alasan hemat penulis, Lisan adalah ucapan langsung dari pembimbing Dzikir, karena itu bisa merangsang akal pikiran seseorang agar teringat selalu akan dzikirannya. Tulisan, sebelum kegiatan dzikir para panitia memberikan pengumuman kepada masyarakat dengan menggunakan tulisan berupa surat kabar dan spanduk, adapun kegiatan dzikir ketika dimulai, para jama’ah diberikan tulisan berupa buku panduan dzikir agar mereka membaca tersusun dengan baik. Audio visual, adapun yang digunakan dalam melaksanakan dzikir menggunakan alat pengeras
47
DR. Hamzah Ya’kub, Publisistik Islam: Tehnik Dakwah dan Ledership, (Bandung: Diponogoro, 1998), h. 47-48
suara yaitu Sound system, agar jama’ah mendengar dengan jelas apa yang diucapkan pembimbing dzikir.
Dalam literatur lain dikatan bahwa dakwah sebagai suatu kegiatan komunikasi keagamaan dihadapkan pada perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi yang semakin canggih, memerlukan suatu adaptasi terhadap itu. Artinya dakwah dituntut agar dikemas dengan terapan media komunikasi sesuai aneka mad’u yang dihadapai. Dakwah yang menggunakan media komunikasi lebih efektifdan efesien atau dengan bahasa lain dakwah yang dimiliki merupakan dakwah komunikatif.48 a. Media Visual
Media komunikasi visual merupakan alat komunikasi yang digunakan dengan memanfaatkan indera penglihatan dalam menangkap datanya. Jadi masalah yang paling beperan dalam pengembangan dakwah, media komunikasi yang berwujud alat yang merupakan penglihatan sebagai pokok persoalannya.49 Terdiri dari beberapa jenis alat komunikasi yang sangat komplit media visual tersebut meliputi:
1) Film Slide
2) Overhead Proyektor (OHP) 3) Gambar foto diam
4) Komputer. b. Media Auditif
48
Dr. M. Bahri Ghazali, M.A. Dakwah Komunikatif Membangun Kerangka Dasar Ilmu Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997). Cet. Ke-1, h. 33
49
Media auditif dalam pemahaman komunikatif merupakan alat komunikasi berbentuk hasil teknologi canggih dalam wujud dan hadwer, media auditif dapat ditangkap melalui indra pendengaran.50 6. Pesan Dakwah.
Dalam komunikasi, pesan menjadi salah satu unsur penentuan utama selain komunikator dan komunikan terjadi komunikasi antar manusia. Tanpa ada unsurnya pesan, maka tidak pernah terjadi komunikasi antar manusia.
Pesan dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung arti perintah, nasihat, permintaan, amanat yang harus dilakukan atau disampaikan kepada orang lain.51 Menurut HAW Widjaja pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator.52sedangkan menurut Onong Uchyana Efendi, pesan adalah seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator.53 Pesan dakwah mengandung arti segala peringatan yang berorientasi pada pembntukan perilaku Islam baik secara pribadi (individu) maupun secara kelompok.54
Dari definisi-definisi di atas pemahapan penulis tentang dakwah, maka pesan dakwah dapat diartikan sebagai pernyataan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang disampaikan untuk mengajak seluruh
50
Ibid, h. 36
51
Departemen Pendidikan Nasional Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta balai pustaka, 2003), h. 761
52
HAW Widjaja, Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Rineka cipta,2000), cet ke-2, h. 32
53
Onong Uchyana Efendi, Ilmu Komunikasi: Teori dan praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), cet ke 8, h, 18
54
Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta Balai Pustaka, 1989)
umat manusia agar mengikuti ajaran islam dan mampu merealisasikan dalam kehidupan dengan tujuan kebahagiaan baik di dunia dan akhirat.
Pesan dakwah terdiri dari:
a. Masalah aqidah, yaitu pesan dakwah yang mencakup pada masalah-masalah yang berhubungan erat dengan keimanan atau rukun iman. b. Masalah syari’ah, yaitu pesan dakwah yang berhubungn dengan amal
lahir (nyata) dalam rangka mentaati semua peraturan atau hukum Allah swt. Untuk mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhannya (Habluminallah) dan pergaulan hidup anatara sesame manusia (Habluminannas)
c. Masalah akhlak, yaitu pesan dakwah berupa budi pekerti seseorang yang menjadi penyempurnaan keimanan dan keislaman.
d. Masalah tasawuf, yaitu pesan dakwah yang berkaitan langsung dengan masalah hati.
B. Dzikir
1. Pengertian Dzikir
Kata dzikir berasal dari bahasa arab ( "7- - "78 - "7 - ) Artinya: menyebut, mengingat,55 dzakarallah ( "7 -) artinya: “Memelihara Allah
55
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990), Cet. Ke-8,h. 134
dalam ingatan”. Maksudnya: selalu mengingat dan menyebut nama