CIKARANG UTARA BEKASI
SkripsiDiajukan Kepada Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Untuk Memenuhi Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)
Oleh :
HILMAN AFIF
NIM : 203051001431
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
CIKARANG UTARA BEKASI
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Untuk Memenuhi Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)
Oleh :
HILMAN AFIF NIM : 203051001431
Pembimbing
DR. H. Asep Usman Ismail. M.A NIP : 150246393
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang ajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli
saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya
bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta 10 Desember 2008
i ABSTRAK
Hilman Afif
Ananlisis Isi Pesan Dakwah Dalam Kegiatan Dzikir Syaikh Abdul Qadir Jailani Di Majlis Dzikir Pondok Pesantren Al-Ishlah Cikarang Utara Bekasi
Pesan dakwah melalui kegiatan dzikir cukup benar pengarahannya dalam membentuk dan mengajak masyarakat kepada jalan yang benar dan bermakna. Maka dari itu, setiap manusia menginginkan kehidupannya bermakna. Makna hidup adalah nilai-nilai penting dan sangat berarti bagi kehidupan pribadi seseorang yang berfungsi sebagai tujuan hidup yang harus dipenuhi dan mengarah pada kegiatan-kegiatannya. Oleh sebab itu, meraih hidup bermakna merupakan motivasi utama pada diri manusia. Karena setiap orang senantiasa menginginkan dirinya menjadi orang yang berguna dan berharga bagi keluarganya, lingkungan dan masyarakat serta dirinya sendiri.
Dengan kata lain, meraih hidup bermakna adalah menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan kehampaan, mempunyai tujuan hidup yang jelas sehingga mempunyai kegiatan yang terarah.
Persoalan yang ada dilingkungan masyarakat sekarang ini ialah kehidupan yang ingin selalu mengutamakan dunia, mengejar dan merebut kekuasaan. Ketika manusia merasakan kehampaan ruhaniah dengan mengutamakan dunia,seperti yang terjadi dewasa ini, manusia kembali kepada hakikat jati dirinya yang sejati. Hal ini dimaksudkan, hakikat jati diri dirasakan ketika manusia menghubungkan dirinya lahir batin dengan Allah melalui dzikir, manusia modern membutuhkan wirid, shalat, sunnah dan dzikir, baik melalui tarekat maupun tidak.
Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana tanggapan jama’ah dan santri terhadap pesan dakwah melalui kegiatan dzikir di Majlis Pondok Pesantren Al-Ishlah. Melalui observasi dan wawancara, tanggapan jama’ah sangat antusias sekali, sehingga jama’ah pun tidak rela meninggalkan sedikitpun dalam kegiatan dzikir tersebut.
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat,
karunia dan rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik. Sholawat beserta salam tidak lupa senantiasa tercurahkan
kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, sebagai Nabi dan Rasul terakhir
yang telah membimbing umatnya dari jalan kegelapan kejalan terang benerang.
Penulis menyadari bahwa selesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan
segala pihak, baik berupa materiil maupun moril, berupa saran-saran, bimbingan,
nasehat dan sebagainya. Oleh karena itu, sudah semestinya penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah berjasa, diantaranya
kepada :
1. Dekan Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Murodi, MA dan para pembantu Dekan, yang
telah member ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian ini.
2. Kordinator tehnik Program Non Reguler Fakultas Dakwah Dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Dra. Hj. Asriati
Jamil. M,Hum, beserta jajarannya yang telah memberikan kemudahan selama
perkuliahan berlangsung.
3. DR. H. Asep Usman Ismail, MA selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis dan memotivasi
iii
4. Seluruh dosen Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmunya sehingga
penulis dapat meyelesaikan studinya.
5. Teristimewa Kedua Orang Tua Penulis Ayahanda Tercinta H. Ahmad Dasuki
Harun dan Ibunda Hj. Romlah yang tanpa kenal lelah dan pamrih senantiasa
mendukung dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan studinya. Do’a dan
pengharapan yang tak henti-hentinya membuat penulis tegar dalam
menghadapi kehidupan yang penuh dengan cobaan ini. Budi baikmu tidak
pernah penulis lupakan sepanjang masa. Serta Kakak dan adik yang telah sabar
dalam memberikan nasehat agar cepat terselesaikan skripsi ini.
6. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah beserta guru-guru yang selalu
memberikan motivasi untuk selesainya penulisan skripsi ini.
7. Pimpinan Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Dakwah Dan
Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
beserta jajarannya dan seluruh karyawan yang telah membantu penulis selama
studi dan khususnya dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-teman angkatan 2003, khususnya Fakultas Dakwah Dan Komunikasi
Non Reguler Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Bothel, Rasyidhi, Erikc, Londoy, Ibun, Borland, Topan, serta kelompok KKS
Ciawi dan teman-teman wanita Titi, Huzai, Izzy dan yang lain-lain yang tak
bisa penulis sebutkan satu persatu. Untuk Arifin (some) thank’s banget atas
iv
Hong) special thank you tempat tinggalnya yang memunculkan
inspirasi-inspirasi sampai selesainya skripsi ini.
9. Ira Purnama Sari (Mimiyo) terima kasih atas do’a dan dorongan selama ini
sehingga Fifiyo bisa menyelesaikan skripsi ini.
Pada semua pihak yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu. Tanpa
mengurangi rasa hormat penulis menyadari bahwa skripsi ini tak luput dari segala
kekurangan, saran dan kritik yang bersifat membangun selalu penulis harapkan
dari anda yang budiman, sehingga menjadi catatan kebaikan untuk penulis dalam
mengembangkan ilmu.
Akhirnya hanya kepada ALLAH SWT semua amal baik tersebut penulis
kembalikan, semoga Allah membalas jasa dan bantuan yang telah diberikan
kepada penulis dengan balasan yang berlipat ganda. Penulis berharap semoga
skripsi ini menjadi bermafaat bagi para pembaca umunya dan bagi penulis
khususnya.
Alhamdulillahi rabbil’alamin.
Jakarta, 30 Agustus 2008
v
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Metodologi Penelitian ... 10
E. Sistematika Penulisan ... 13
BAB II KERANGKA TEORI TENTANG DAKWAH, DAN DZIKIR, DI MAJLIS DZIKIR PONDOK PESANTREN AL-ISHLAH A. Dakwah ... 16
1. Pengertian Dakwah ... 16
2. Tujuan Dakwah ... 22
3. Sasaran Dakwah. ... 23
4. Strategi Dakwah ... 26
5. Media Dakwah ... 28
vi
B. Dzikir ... 33
1. Pengertian Dzikir ... 33
2. Macam-macam Dzikir ... 35
3. Tujuan Dzikir ... 36
4. Manfaat Dzikir ... 37
BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG OBYEK PENELITIAN A. Syaikh Abdul Al-Qadir Al-Jailani ... 40
1. Riwayat Hidup dan Pendidikan Syaikh Abdul Qadir Jailani ... 40
2. Karya-karya Ilmiah Syaikh Abdul Qadir Jailani ... 43
3. Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani ... 44
4. Dzikir Syaikh Abdul Qadir Jailani ... 46
B. Pondok Pesantren Al-Ishlah ... 46
1. Latar Belakang Berdirinya Pondok Pesantren Al-Ishlah ... 46
2. Tujuan, Visi dan Misi Pondok Pesantren Al-Ishlah ... 48
3. Kiprah Pondok Dalam Pendidikan dan Dakwah ... 49
vii
B. Analisis Tentang Tingkat Keberhasilan Penyampaian
Dzikir Syaikh Abdul Qadir Jailani oleh KH. Ahmad Dasuki
Harun di Majlis Dzikir Al-Ishlah ... 54
C. Analisis Tentang Faktor Keberhasilan dan Kegagalan
Penyampaian Dzikir KH. Ahmad Dasuki Harun di Majlis
Dzikir Al-Ishlah. ... 58
D. Analisis Tentang Respon Masyarakat Terhadap
Penyampaian Dzikir KH. Ahmad Dasuki Harun Dalam
Membina Kesehatan Mental ... 60
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 63
B. Saran... 63
8 A. Latar Belakang Masalah
Setiap manusia menginginkan kehidupannya bermakna. Makna hidup
(meaning of life) merupakan sesuatu yang dianggap penting, dirasakan
berharga dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan
hidupnya.1 Makna hidup adalah nilai-nilai penting dan sangat berarti bagi
kehidupan pribadi seseorang yang berfungsi sebagai tujuan hidup yang harus
dipenuhi dan mengarah pada kegiatan-kegiatnnya. Oleh sebab itu, meraih
hidup bermakna merupakan motivasi utama pada diri manusia. Karena setiap
orang senantiasa menginginkan dirinya menjadi orang yang berguna dan
berharga bagi keluarganya, lingkungan dan masyarakatnya serta dirinya
sendiri. Penghayatan hidup bermakna dapat diraih dengan mengaktualisasikan
kesadaran diri, pengembangan diri, moralitas, transendensi diri, kebebasan dan
tanggung jawab.2 Dengan kata lain, meraih hidup bermakna adalah menjalani
kehidupan dengan penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan
kehampaan, mempunyai tujuan hidup yang jelas sehingga mempunyai
kegiatan yang terarah.
Pengertian makna hidup di atas menunujukan bahwa di dalamnya
terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi,
1
Hanna Djuhana Bastman, Meraih Hidup Bermakna, (Jakarta : Paramadina, 1996), Cet. Ke-1, h.14.
2
seperti terpenuhinya kebutuhan materi dan spiritual. Bila makna hidup bisa
berhasil dan sukses dipenuhi, maka kehidupan ini sangat berarti (meaningful)
yang pada gilirannya akan menimbulkan kebahagiaan. Itulah hidup
bermakna.3 Sebaliknya, seseorang yang tidak berhasil menemukan dan
merealisasikan arti hidup akan menghayati hidupnya tanpa dan tak bermakna
(meaningles) yang biasanya gerbang ke arah kesesatan dan penderitaan.
Kehidupan modern yang sarat dengan tantangan dan godaan
sering-sering menjadikan seseorang lupa akan makna dan hakikat kehidupan duniawi
yang serba fana.4 Abad modern, yang diawali oleh Descartes dan Newton,
melahirkan pandangan hidup mekanistik dan atomik. Abad ini ditandai oleh
perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan yang
berhasil mencipatakan peradaban modern yang menekankan pada rasionalitas,
sekularisme, pola hidup materealistik dan menjanjikan berbagai kemajuan.5 Di
sisi lain, manusia modern lebih berorientasi pada gaya hidup serba
keberadaan. Etos kesuksesan material menjadi pandangan dan tujuan hidup
mereka. Dan materialisme telah memproyeksikan dan mengukuhkan
kapitalisme yang memaksa manusia untuk menjadi hedonistik dan
konsumeristis. Bila hedonistik itu adalah pandangan hidup yang menganggap
bahwa kesenangan dan kenikmatan materi itu menjadi tujuan utama bagi
3
Hanna Djuhana Bastman, Makna Hidup Bagi Manusia Modern, Dalam Rekontruksi dan Renungan Religius Islam, (Jakarta : Paramadina, 1996), Cet. Ke-1, h.14.
4
Miftah Faridi, dalam Pengantar Buku Hakikat Dzikir Jalan Taat Menuju Allah, (Depok : Intuisi Press, 2003), Cet. Ke-1, h.9.
5
kehidupan ini.6 Dan kaum konsumer adalah mereka yang selalu diperbudak
oleh kebutuhan-kebutuhan di luar dirinya sendiri. Konsumsi tidak lagi sekedar
berkaitan dengan nilai guna dalam rangka memenuhi fungsi rutilitas atau
kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, akan tetapi berkaitan dengan
unsur-unsur simbolik untuk menandai kelas, status atau simbol sosial tertentu.
Dalam masyarakat konsumer, barang-barang pada akhirnya menjadi pada
sebuah tempat para konsumer menemukan makna kehidupan.7 Sehingga
mereka kehilangan jati dirinya sendiri. Inilah salah satu fenomena
keterasingan pada masyarakat modern yang menimbulkan krisis dalam
dimensi-dimensi intelektual, spiritual, dan moral. Kemungkinan, fonomena
krisis itu mengejawantah dalam bentuk keterasingan diri dari sosial:
kekerasan, kekejaman, kriminalitas, konflik dan sebagainya. Semua itu
menunjukan bahwa dalam kegelimangan materi kehidupan modern,
kemakmuran jasmani yang melimpah, kebudayaan yang bertumpu pada
kebendaan ternyata melahirkan kegersangan ruhaniah.8
Persoalan yang ada di lingkungan masyarakat sekarang ini ialah
kehidupan yang ingin selalu mengutamakan dunia, mengejar dan merebut
kekuasaan. Ketika manusia merasakan kehampaan ruhaniah dengan
mengutamakan dunia, seperti yang terjadi dewasa ini, manusia kembali
kepada hakikat jati dirinya yang sejati. Hal ini dimaksudkan, hakikat jati diri
6
A.M. Saefuddin et.al, Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, (Bandung : Mizan, 1998), Cet. Ke-4, h.19.
7
Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia Yang Dilipat, (Bandung : Mizan, 1999), Cet. Ke-3, h.145.
8
dirasakan ketika manusia menghubungkan dirinya lahir batin dengan Allah
melalui dzikir, manusia modern membutuhkan wirid, shalat, sunnah dan
dzikir, baik melalui tarekat maupun tidak.
Dzikir bukan sekedar repitisi lisan, melainkan merasakan dan
meresapkan keagungan Allah, kebaikan Allah, nikmat-nikamat-Nya, dan
memikirkan kekurangan hamba dalam bersyukur dan kelemahannya dalam
memenuhi hak-hak Allah, serta mengakui nikmat-nikmat lahiriah dan
batiniah. Jadi, dalam dzikir terdapat pemikiran dan perenungan. Kesadaran
mengenai dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan hamba
kepada-Nya, dan perenungan mengenai nikmat-nikmat Allah kepadanya dan
kewajiban untuk mensyukurinya. Jika seorang hamba sudah merasakan makna
dzikir, maka setiap ia mengingat Allah, ia akan berkonsentrasi penuh dengan
keseluruhan dirinya, dan hadir bersama Allah dengan totalitasnya. Ia tidak
sibuk dengan selain diri-Nya, dan tidak juga lengah dari mengingat diri-Nya,
sampai keagungan Allah menguasai hatinya. Hamba pada saat mencapai
dzikir maknanya, maka hilanglah bencana kelalaian, dan terhapuslah dari
dalam hatinya segala hubungan dan alasan. Sebab, hubungan hati dengan
Allah menjadikan sang manusia kosong dari segala-galanya selain Allah.
Maka tidak ada ruang bagi dunia, syahwat, terlebih kepada kesalahan dan
ungkapan filosofisnya merupakan sarana keterpisahan zat dari obyek
eksternal, atau dari ketergantungan kepada keinginan tertentu.9
Salah satu jalan menepis kehampaan spiritual dan nestapa keterasingan
itu adalah dengan mengembalikan manusia modern pada jati dirinya kepada
fitrah (agama) dengan sebuah alternatif yaitu Dzikrullah. Dengan berdzikir di
sini, manusia bisa lebih baik didalam kehidupannya. Tak diragukan lagi
bahwa dzikir adalah sarana para sufi menuju kehidupan ruhaniah mereka yang
sebenarnya. Karena seseorang yang sedang berdzikir benar-benar tenggelam
di hadapan Allah sehingga ia keluar dari kelalaian menuju musyahadah
(kesaksian) dan mukasyafah (keterbukaan). Karenanya, para sufi
mengutamakan dzikir atas seluruh perbuatan lainnya, dan mengistimewakan
dzikir atas ragam ibadah apapun, seperti jihad dan shalat. Karena dalam
pandangan mereka, dzikir adalah tujuan dari shalat.10
Dalam buku Ensiklopedi Nasional Indonesia, dzikir berarti mengingat
kepada Allah dengan menghayati kehadiran-Nya, kemahasucian-Nya,
kemahaterpujian-Nya, dan kemahabesaran-Nya. Dzikir merupakan sikap batin
yang biasanya diungkapkan melalui ucapan tahlil (la ilaha illallah), tasbih
(subhanallah), tahmid (alhamdulillah), dan takbir (allahuakbar)11
Menurut Mustafa Zahri, tarekat adalah jalan atau petunjuk dalam
melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang di contohkan oleh Nabi
9
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, I, h. 264-270
10
Al-Qusyayri, al-Risalah, Hanna Djuhana Bastman, Meraih Hidup Bermakna, (Jakarta : Paramadina, 1996), Cet. Ke-1.h. 101
11
Muhammad SAW dan dikerjakan oleh para sahabat, tabi'in, tabi'it tabi'in turun
menurun sampai kepada guru-guru secara berantai pada masa ini.12
Di antara jamaah yang banyak diikuti pola dzikir dan tarekatnya di
Nusantara adalah Syaikh Abdul Qadir Jailani, beliau lahir di kota Jilan pada
tahun 470 H/ 1077 M. Wafat di Kota Baghdad pada tahun 561 H/ 1166 M.
Baliau ulama yang ahli di bidang ushul dan fiqh dalam Mazhab Hanbali, dia
seorang sufi besar di zamannya, dan pendiri tarekat Kadiriah. Ia juga disebut
dengan nama Abdul Qadir Jili. Di Baghdad ia dikenal dengan panggilan
al-Jami. Nama lengkapnya adalah Muhiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin
Abi Salih Zangi Dost al-Jailani. Ada pula yang mengatakan bahwa nama
lengkapnya adalah Muhiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih
Zangi Dost Musa bin Abi Abdillah bin Yahya az-Zahid Muhammad bin Daud
bin Musa bin Abdillah bin Musa Jun bin Abdul Muhsin bin Hasan
al-Musanna bin Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA. Menurut garis
keturunan ini, ia termasuk cucu Nabi Muhammad SAW.
Abdul Qadir Jailani lahir dan di didik dalam lingkungan keluarga sufi.
Ia tumbuh di bawah tempaan Ibu Fatimah binti Abdullah as-Sauma'I dan
kakeknya Syeikh Abdullah as-Sauma'I, keduanya Wali. Sejak kecil beliau
berbeda dengan anak yang lainnya, ia tidak suka bermain. Sejak usia dini ia
terus mematangkan kekuatan batin yang dimilikinya dan mulai belajar
mengaji pada umur sepuluh tahun.
12
Dalam usia 18 tahun ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu (488
H/1095 M). karena tidak diterima di Madrasah Nizamiyah yang pada waktu
itu dipimpin oleh seorang sufi besar, Ahmad al-Ghazali, Abdul Qadir Jailani
mengikuti pelajaran fiqh mazhab Hanbali dari Abu Sa'd Mubarak
al-Mukharrimi (pemimpin sekolah hukum Hanbali) sampai ia mendapat ijazah
dari gurunya tersebut. Mulai tahun 521 H/1127 M Abdul Qadir Jailani
mengajar dan berfatwa dalam mazhab tersebut kepada masyarakat luas sampai
akhir hidupnya.13
Adapun motif jama'ah Majlis dzikir Pondok Pesantren Al-Ishlah
mengikuti wirid dzikir Syaikh Abdul Qadir Jailani adalah, mereka selalu ingin
mengharapkan berkah dan kesehatan jiwanya, sehingga mereka merasakan
dekat dengan Allah SWT, karena dzikir adalah mengingat Allah SWT yang
bisa melahirkan cinta kepada-Nya, dan mengosongkan hati dari kecintaan
serta ketertarikan dunia fana ini.
Kaum muslimin yang mengikuti wirid dzikir Syaikh Abdul Qadir
Jailani pada prinsipnya terbagi kedalam dua kelompok; Pertama kelompok
yang mengikuti wirid dzikir Syaikh Abdul Qadir Jailani ini dengan cara
mengikuti tarekat Qadiriyah, tarekat yang di nisbahkan kepada Syaikh Abdul
Qadir Jailani. Kedua, kelompok yang mengikuti wirid dzikir Syaikh Abdul
Qadir Jailani dengan tanpa mengikuti terkat Qadiriyah.
13
Pondok Pesantren Al-Ishlah yang terletak di wilayah Cikarang Utara,
termasuk kelompok yang kedua. Pesantren ini hanya melakkukan wirid dan
dzikirnya Syaikh Abdul Qadir Jailani tanpa tarekat Qadriyah. Pesantren ini di
selenggarakan wirid dzikirnya setiap bulan minggu kedua pada hari selasa
malam Kliwon.
Sementara itu, harapan Majlis Dzikir Pondok Pesantren Al-Ishlah
untuk mendapatkan berkah, kesehatan mental, kedekatan dengan Allah dan
kecintaan yang mendalam kepada pengamalan wirid dzikir Syaikh Abdul
Qadir Jailani. Secara akademik masih menyisakan ruang pertanyaan. Apakah
hal itu sebatas harapan atau benar-benar sudah menjadi kenyataan?
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, penulis meneliti
Majlis Dzikir tersebut dalam bentuk penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Isi Pesan Dakwah Dalam Kegiatan Dzikir Syaikh Abdul Qadir Jailani Di Majlis Dzikir Pondok Pesantren Al-Ishlah Cikarang Utara, Bekasi, Jawa-Barat”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Dari latar belakang masalah dapat dinyatakan bahwa pembatasan
masalah di dalam skripsi ini adalah bagaimana dzikir dapat memberikan
makna hidup kepada orang beriman sehingga melahirkan akhlak yang
baik.
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimanakah pelaksanaan dzikir di Majlis dzikir Al-Ishlah?
b. Apa yang disampaikan oleh Pembimbing dzikir?
c. Apakah penyampaian dzikir KH. Ahmad Dasuki Harun berperan
dalam membina kesehatan mental jamaah?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Penelitian ini di maksudkan untuk mengetahui iss pesan dakwah yang
ada di Majlis dzikir Al-Ishlah.
b. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui penyampaian yang
digunakan pembimbing dzikir
c. Penelitian ini untuk mengetahui penyampaian dzikir KH. Ahmad
Dasuki Harun dalam membina kesehatan mental jamaah..
2. Manfaat Penelitian
a. Penelitian ini dapat menambah wawasan penulis. Berkaitan dengan
konsep dan metodologinya, penelitian ini dapat memberikan masukan
bagi pengembangan penelitian serupa dilingkungan Fakultas Dakwah
dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
b. Penelitian ini diterapkan dapat menambah wawasan bagi para teoritis,
praktisi, dan pemikir Dakwah dalam menyikapi perkembangan
Kegiatan Dzikir sebagai sebuah institusi yang memiliki kontribusi
nyata terhadap perkembangan Dakwah Islam di Indonesia. Juga dapat
menjadi masukan khususnya bagi Majlis dzikir Al-Ishlah dalam
melakukan aktivitas dakwahnya.
D. Metodologi Penelitian
Metode yang penulis gunakan dalam skripsi ini adalah deskriptif
analisa. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan suatu fenomena social
keagamaan dengan variabel pengamatan sudah ditentukan secara jelas dan
spesifik.14 Pendekatan deskriptif digunakan ketika menggambarkan secara
umum tentang pengamalan akhlakul karimah dalam kehidupan serta gambaran
umum Majlis dzikir Al-Ishlah Cikarang Utara Bekasi. Selanjutnya pendekatan
analisis dilakukan sebagai upaya penulis untuk mengetahui lebih jauh jamaah
Majlis dzikir dalam menerapkan akhlakul kariamah serta kesehatan mental
dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini yang dijadikan populasi adalah jamaah Majlis dzikir
Al-Ishlah. Populasi adalah jumlah keseluruhan subjek atau elemen yang ada
didalam wilayah penelitian.15 Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi
adalah seluruh peserta dzikir di Majlis Dzikir Al-Ishlah yang berjumlah 40
orang. Sampel adalah bagian atau wakil populasi yang diteliti dan dianggap
dapat menggambarkan populasinya.16 Untuk mengambil besar sampel, penulis
14
U. Maman KH, MetodologiPenelitian Agama, (Jakarta : Logos, 2002), h.225
15
Suhasimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Tinjauan Praktek, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1998), Cet. Ke-11, h. 15
16
berpedoman kepada pendapat Winarno Surahmad yaitu apabila jumlah
populasi kurang dari 100 responden, maka jumlah sampelnya adalah 50% dari
jumlah populasi.17 Yaitu berjumlah 20 orang.
Teknik analisa data dalam penelitian ini dilakukan pendekatan logika
untuk data kualitatif, dan rumus menentukan prosentasenya, yaitu:
P = N F
× 100%
Keterangan:
P = Adalah prosentase
F = Adalah jumlah yang mengisi
N = Adalah sampel
100% = Adalah bilangan tetap.18
Sedangkan untuk memperoleh data yang berkenaan dengan judul
penelitian, penulis menggunakan dua cara sebagai berikut :
1. Library Research (Penelitian Kepustakaan), yaitu mengadakan kajian
dengan mencari dan membaca buku-buku yang berkenaan dengan masalah
yang diteliti.
2. Field Research (Penelitian Lapangan), yaitu penulis menggunakan
penelitian dengan datang langsung ke lapangan atau objek penelitian di
Majlis dzikir Al-Ishlah.
17
Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung : Tarsito, 1982), h.100
18
Dalam penelitian lapangan, penulis menggunakan beberapa teknik
untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan pembahasan. Adapun teknik
pengumpulan data tersebut adalah:
1. Observasi
Observasi berarti pengamatan atau pencatatan secara sistematik
terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.19 Observasi ini dilakukan
untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan skripsi ini seperti
tentang gambaran umum Majlis dzikir Al-Ishlah dengan keadaan jamaah
dan pelaksanaan kegiatannya.
2. Wawancara
Wawancara atau interview merupakan cara yang digunakan dengan
mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari
responden.20 Atau metode pengumpulan data dengan tanya jawab sepihak
yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan
penyelidikan.21 Berkaitan dengan skripsi ini, maka dilakukan wawancara
secara langsung dengan pengelola Majlis Dzikir Al-Ishlah dengan tujuan
memperoleh data yang akurat tentang sejarah berdiri dan perkembangan
19
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Offset,1992), Cet. Ke-21, h.136
20
Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Dalam Masyarakat, (Jakarta: PT. Gramedia,1993), Cet. Ke-5, h.129
21
Majlis Dzikir Al-Ishlah, kondisi jamaah, pengurus dan bentuk-bentuk
kegiatan teknik pelaksanaanya serta struktur organisasi.
3. Penyebaran Angket
Untuk memperoleh data yang komprehensif, penulis menyebarkan
angket atau kuesioner yang merupakan suatu daftar atau rangkaian
pertanyaan yang disusun secara tertulis mengenai suatu hal yang berkaitan
dengan penelitian, penulis menyebarkan angket kepada jamaah Majlis
Dzikir Al-Ishlah yang menjadi sampel penelitian.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada buku “Pedoman
penulisan skripsi, Tesis dan Disertasi”, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang diterbitkan oleh UIN Jakarta Press, tahun 2002.
E. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran secara sederhana agar mempermudah
penulisan skripsi ini, maka disusun sistematika penulisan yang terdiri dari lima
bab dengan rincian sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini dijelaskan hal-hal seputar latar belakang
masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan
sistematika penulisan.
Kegiatan Dzikir, Dakwah Islam dan Pondok Pesantren
Al-Ishlah. Dalam bab ini dijelaskan mengenai Dzikir yaitu,
Pengertian Dzikir, Manfaat Dzikir, Tujuan Dzikir,
Macam-macam Dzikir, Dakwah Islam, Pengertian Dakwah, Tujuan
Dakwah, Sasaran Dakwah, Strategi Dakwah, Media Dakwah.
Pesan Dakwah.
BAB III : GAMBARAN UMUM TENTANG OBYEK PENELITIAN. Pembahasannya mencakup tentang Riwayat Hidup dan
Pendidikan Syaikh Abdul Qadir Jailani, Karya-karya Ilmiah
Syaikh Abdul Qadir Jailani, Corak Tasawuf Syaikh Abdul
Qadir Jailani, Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani, dan Dzikir
Syaikh Abdul Qadir Jailani. Pondok Pesantren Al-Ishlah, Latar
Belakang Berdirinya Pondok Pesantren, Tujuan, Visi dan Missi
Pondok Pesantren, Kiprah Pondok Pesantren dalam Pendidikan
dan Dakwah, Corak Tasawuf di Pondok Pesantren.
BAB IV : ANALISIS TENTANG ISI PESAN DAKWAH DALAM KEGIATAN DZIKIR SYAIKH ABDUL QADIR JAELANI
DI MAJLIS DZIKIR AL-ISHLAH CIKARANG UTARA BEKASI.
Kegiatan Dzikir Pondok Pesantren Al-Ishlah dalam Dakwah
Islam di Cikarang Utara. Dalam bab ini dapat dipaparkan
mengenai aktivitas Dakwah, Dzikir Pondok Pesantren
kegiatan Dzikir Yang di Bimbing KH. Ahmad Dasuki Harun
Bagi Jamaah, Analisis Tentang Tingkat Keberhasilan
Penyampaian Dzikir Syaikh Abdul Qadir Jailani oleh KH.
Ahmad Dasuki Harun di Majlis Dzikir Al-Ishlah, Analisis
Tentang Faktor Keberhasilan dan Kegagalan Penyampaian
Dzikir KH. Ahmad Dasuki Harun di Majlis Dzikir Al-Ishlah,
Analisis Tentang Respon Masyarakat Terhadap Penyampaian
Dzikir KH. Ahmad Dasuki Harun Dalam Membina Kesehatan
Mental.
BAB V : PENUTUP.
Dalam bab ini memuat kesimpulan yang merupakan jawaban
dari permasalahan yang dikemukakan di tambah dengan
kontribusi saran-saran yang penulis ajukan berkenaan dengan
BAB II
KERANGKA TORI DAKWAH ISLAM, DZIKIR, KESEHATAN MENTAL DAN PONDOK PESANTREN AL-ISHLAH
A. Dakwah Islam
1. Pengertian Dakwah
Secara etimologi, kata dakwah berasal dari bahasa Arab yang
berarti seruan, ajakan, atau jamuan. Bentuk kata tersebut dalam bahasa
Arab disebut masdar, diambil dari kata kerja - yang berarti
menyeru, memanggil, mengajak atau menjamu.22 Dalam Kamus
Kontemporer Arab – Indonesia yang disusun oleh Atabik Ali dan Ahmad
Zuhdi Muhdlor, dakwah diambil dari kata - – yang berarti
panggilan atau seruan.23 Pengertian tersebut banyak terdapat dalam
Al-Quran, surat Yunus ayat 25:
yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”.
Sejalam dengan pandangan di atas, Mansyur Amin memberikan
makna dakwah secara bebas sebagai berikut:24
22
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990), Cet. Ke-8, hal 127.
23
Atabik Ali, Ahmad Zudli Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia,
(Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1998), Cet. Ke-3, hal. 895.
24
a. Mengharap dan berdo’a kepada Allah
Makna ini sesuai dengan pengertian yang terdapat pada Al-Quran,
Surah Al-Baqarah ayat 186, yaitu:
9:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
b. Memanggil dengan suara lantang, makna ini sesuai dengan Al-Quran,
Surat Al-Rum ayat 25, yaitu:
# $
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur)”.(Q.S. Ar-Rum/30:25)
c. Mendorong seseorang untuk memeluk sesuatu keyakinan tertentu,
makna ini sesuai dengan Al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 221, yaitu:
-!G n
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (Q.S. Al-baqarah/2:221).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dakwah memiliki dua
arti yaitu: “(1) penyiaran, propaganda: (2) penyiaran agama dan
pengembangan di kalangan masyarakat: seruan untuk memeluk,
mempelajari dan mengemalkan ajaran agma.” Dalam Ensiklopedia Islam,
dakwah yang berarti setiap kegiatan yang menyeru, mengajak, dan
memanggil untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis
aqidah, syariat, dan akhlak Islamiah.25
Sedangkan pengertian dakwah dari segi terminologi tersebut ada
beberapa pendapat, namun tidak jauh berbeda, terkadang pendapat yang
satu dengan yang lain saling melengkapi.
Prof. Toha Yahya Oemar, M.A. Dalam bukunya, Ilmu Dakwah,
mendefinisikan dakwah sebagai berikut: Dakwah adalah mengajak
25
menusia dengan bijaksana pada jalan yang benar sesuai dengan perintah
Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.26
K.H. Didin Hafidudin, memberikan pengertian yang intregalistik
bahwa dakwah merupakan “suatu proses yang berkesinambungan yang
dilakukan oleh para pengemban dakwah untuk mengubah sasaran dakwah
agar bersedia mesuk ke jalan Allah secara bertahap menuju perikahidupan
yang Islami.”27
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa dakwah adalah sebuah
proses pengaktualisasian atas keimanan seseorang dengan berbagai
upaya-upaya agar kualitas diri dan masyarakatnya meningkat.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Drs.
Amrullah Ahmad bahwa dakwah merupakan: Aktualisasi iman yang
dimanifestasikan dalam suatu kegiatan manusia beriman dalam bidang
kemasyarakatan yang dilaksanakan secara terartur untuk mempengaruhi
cara merasa, berfikir, bersikap, dan bertindak manusia pada tataran realitas
pada individual dan sosio-kultural dalam rangka mengusahakan
terwujudnya ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan dengan cara
tertentu.28
Prof. H. M. Arifin, M, Ed. mendefinisikan dakwah sebagai berikut:
suatu kegiatan ajakan, baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan
sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha
26
Toha Yahya Oemar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Wijaya, 1997), Cet. Ke-1, h. 1
27
Didin Hafidudin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Perss, 1998), Cet. Ke-1, h. 77
28
mempengaruhi orang lain, baik secara individu maupun secara kelompok
agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan,
dan pengamalan terhadap ajaran agama sebagai Message yang
disampaikan kepadanya tanpa ada unsur-unsur paksaan.29
Dr. Hamzah Ya’kub memberikan pengertian dakwah secara umum
dan khusus. Dakwah secara umum ialah “suatu pengetahuan yang
mengajarkan seni dan tehnik menarik perhatian orang guna mengikuti
ideologi dan pekerjaan tertentu”. Dengan kata lain, ilmu yang mengajarkan
cara mempengaruhi alam pikiran manusia. Dakwah berusaha
“menyeberangkan” alam pikiran manusia kepada suatu ideologi tertentu.
Sedangkan dakwah secara khusus dalam Islam ialah “mengajak manusia
dengan hikmah kebijaksanaan untuk mengikuti petunjuk Allah dan
Rasul-Nya”.
H.S.M. Nasaruddin Latif, mendefinisikan dakwah sebagai “setiap
usaha atau aktivitas dengan lisan, tulisan, dan sebagainya, yang bersifat
menyeru, mengajak, dan memanggil manusia lainnya untuk beriman dan
mentaati Allah SWT, sesuai dengan garis-garis akidah dan syari’ah serta
akhlak Islamiyah”.30
Bertitik tolak dari beberapa definisi dakwah yang telah
dikemukakan di atas, terlihat bahwa dakwah telah menjadi kewajiban
setiap Musmin di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kewajiban
29
H. M. Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), Cet. Ke-5, h. 6
30
tersebut sesuai dengan kesanggupan dan proporsinya. Hal ini diungkapkan kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Al-Imran/3;104)
(Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya). mendengar Rasulullah SAW bersabda. “Siapa yang melihat sebuah perbuatan munkar, haruslah mengubahnya dengan tangannya (tindakan). Jika tidak sanggup, maka dengan mulutnya (kata-kata). Jika tidak sanggup pula, maka dengan hatinya (ketidak setujuan) namun yang terakhir ini merupakan menifestasi yang paling lemah”. (H.R. Muslim).31
Dari uraian di atas, dapat dirangkum bahwa dakwah adalah sebuah
proses berkesinambungan harus dibangun oleh unsur kesadaran,
keteraturan, peningkatan, dan fleksibilitas. Karena itu aplikasi dakwah
harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Allah SWT
memberikan rambu-rambu kebijaksanaan untuk orang-orang beriman
31
dalam melaksanakan dakwah yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an yang
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. Al- Nahl/16:125).
(Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil).
Dalam ayat tersebut terkandung tiga prinsip pelaksanaan dakwah yaitu:
a. Hikmah, yaitu yang berlandaskan informasi tentang hakikat kehidupan
psikologi manusia suatu kebijaksanaan yang diambil berdasarkan atas
pertimbangan matang sebagai objek dakwah. Informasi tersenut
merupakan bahan pengetahuan yang secara obyektif mengambarkan
tentang kehidupan manusia dalam segala dimensi dan aspeknya
menurut situasi dan kondisi yang melengkapinya.
b. Mau’izah hasanah, yaitu perilaku yang dinyatakan dalam bentuk
penasihatan atau ajakan serta keterangan-keterangan yang disampaikan
dengan metode yang ckup baik dilihat dari segi kedayagunaan
c. Sistem penyampaian secara tatap muka (face to face meeting) antar
pribadi dan kelompok yang dilakukan secara tertib dan berlangsung
secara konsisten atas dasar pendekatan-pendekatan psikologi.32
2. Tujuan Dakwah
Adapun tujuan dakwah dapat dijelaskan sebagai berikut:
Abdur Rosyad Shaleh membagi tujuan dakwah menjadi dua, yaitu
tujuan akhir (ultimate goal) dan tujuan utama: adapun tujuan akhir, yakni terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat
yang diridhai Allah SWT, dan tujuan antara (intermediategoal), yakni perumusan nilai yang diingin dicapai sebagai perantara tujuan utama
dakwah.33
Menurut K.H. Didin Hafiduddin dalam bukunya, Dakwah Aktual,
tujuan dakwah secara umum adalah untuk mengubah perilaku sasaran
dakwah agar menerima dan merealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan
yang penuh keberkahan samawi dan ardi34 sebagaimana dijelaskan dalam
Al-Qur’an sebagai berikut:
H.M. Arifin , M.Ed Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), Cet. Ke-5,h. 20-21
33
Abd. Rosyad Shaleh, Management Dakwah Islam, (Jakarta Bintang, 1997), Cet, ke, h. 21-22
34
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Q.S. Al-A’raf/7;96)
Kemudian tujuan umum tadi dirumuskan ke dalam tujuan-tujuan
operasional sehingga dapat dievaluasi keberhasilan yang dicapai. Misalnya
berkurangnya angka kemaksiatan, berkurangnya tingkat pengangguran,
dan sebagainya.35
3. Sasaran Dakwah
Sasaran dakwah adalah manusia, baik individu maupun kelompok
(masyarakat). Dalam hal ini Amrullah Ahmad mengklasifikasikan sasaran
dakwah menjadi tujuh kelompok, yaitu:
a. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan tempat tinggal, yaitu
pendduduk kota dan desa
b. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan struktur kemasyarakatan, yaitu
masyarakat agraris dan industri.
c. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan tingkat pendidikan,
d. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan peranan dan struktur
kekuasaan, yaitu pemimpin dan rakyat.
e. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan agama, yaitu Islam dan non
Islam.
f. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan sikap terhadap dakwah yaitu
orang yang cinta terhadap Islam atau sebaliknya.
35
g. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan usia, misalnya anak (6-13 th),
remaja (14-16 th), dewasa (17-35 th), orang tua (35-55 th), dan lanjut
usia (55-ke atas).36
Hal ini juga diungkapkan oleh Prof. H.M. Arifin M.Ed, dalam buku
Psikologi Dakwah. bahwa sasaran dakwah menjadi delapan kelompok,
yaitu:
a. Sosiologis: yaitu masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan kecil,
serta masyarakat di daerah marginal dari kota besar.
b. Struktur kelembagaan: yaitu masyarakat, pemerintahan, dan keluarga.
c. Sosio-kultural: yaitu golongan priyayi, abangan, dan santri, klasifikasi
ini terdapat dalam masyarakat Jawa.
d. Tingkat usia: yaitu golingan anak-anak, remaja, dan orang tua.
e. Okupasional (propesi atau pekerjaan) yaitu petani, pedagang, seniman,
buruh, pegawai negeri, dan sebagainya.
f. Tingkat sosio-ekonomi: yaitu orang kaya, menengah, dan miskin.
g. Masyarakat khusus: yaitu tuna susila, tuna wisma, tuna karya,
narapidana, dan sebagainya.37
h. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut memiliki karakteristik
yang berbeda. Hal ini menuntut adanya sistem dan metode dakwah
yang berbeda pula. Dengan demikian, kegiatan dakwah akan lebih
36
Amrullah Ahmad (ed), Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta: PLP2M, 1985), Cet. Ke-2, h. 300
37
efektif dan efesien jika penggunaan sistem dan metodenya sesuai
dengan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
Dari uraian tentang sasaran dakwah tersebut di atas, menurut hemat
penulis, yang sesuai dengan kondisi sasaran dakwah dalam penelitian
skripsi ini:
a. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan tempat tinggal, yaitu
pendduduk desa Tanjung Sari, Kecamatan Cikarang Utara.
b. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan struktur kemasyarakatan Desa
Tanjung Sari Kecamatan Cikarang Utara, yaitu masyarakat agraris dan
industri.
c. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan agama, yaitu Islam
d. Kelompok sasaran dakwah berdasarkan usia, misalnya anak (6-13 th),
remaja (14-16 th), dewasa (17-35 th), orang tua (35-55 th), dan lanjut
usia (55-ke atas).38
e. Struktur kelembagaan: yaitu masyarakat, pemerintahan, dan keluarga
f. Okupasional (propesi atau pekerjaan) yaitu petani, pedagang, seniman,
buruh, pegawai negeri, dan sebagainya.
g. Tingkat sosio-ekonomi: yaitu orang kaya, menengah, dan miskin.
4. Strategi Dakwah
a. Pengertian Strategi Dakwah
1) Prespektif Etimilogis
38
Pada awal istilah strategi digunakan dalam dunia militer, yaitu
untuk memenangkan suatu peperangan.39 Istilah strategi berasal dari kata
Yunani “Strategia” (Stratis = militer, dan ag = memimpin), yang atinya
adalah seni atau ilmu untuk menjadi seorang jendral. Strategi bisa juga
diartikan sebagai sesuatu rencana untuk pembagian dan penggunaan
kekuatan militer dan material pada daerah-daerah tertentu untuk mencapai
suatu tujuan tertentu.40
Secara umum, strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis
besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah
ditentukan, penetapan strategi harus didahului oleh analisis kekuatan
lawan yang meliputi jumlah personal, kekuatan dan persenjataan, kondisi
lapangan, posisi musuh, dan sebagainya.41
Strategi mempunyai beberapa pengertian yaitu: siasat perang dan
akal (daya upaya) untuk mencapai suatu maksud.42 Sama halnya yan
diungkapkan oleh Harimukti Kridalaksana, bahwa strategi berarti siasat
untuk tehnik memenangkan suatu persaingan antara kelompok-kelompok
yang berbeda orientasi hidupnya.43
Ziauddin Sardar, Tantangan Dunia Islam Abad 21, Terjemahan A.E. Priyonodan Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1996), h. Prakata
41
Abu Ahmad, et al., Strategi Belajar Mengaja, (Bandung: Pustaka setia, 1997), h. 11
42
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Nusa Indah, 1981), Cet. Ke-1, h. 173
43
atau organisasi serta pemilihan cara-cara bertindak dan mengalokasian
sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk mewujudkan
tujuan-tujuan tersebut. Jadi strategi menyangkut soal pengaturan berbagai sumber
daya yang dimiliki oleh perusahaan agar dalam jangka panjang tidak kalah
bersaing.44
Dalam rangka suatu menyusun strategi dakwah diperlukan suatu
pemikiran yang luas dan rasional dengan memperhatikan faktor-faktor
yang mempengaruhi strategi tersebut.
Dalam penyusunan dan strategi ada lima faktor yang perlu diketahui:
a) Tujuan, baik tujuan jangka panjang (tujuan akhir) atau tujuan jangka
pendek (tujuan sementara).
b) Ilmu Medal (tujuan dan kondisi).
c) Kekuatan-kekuatan.
d) Kebijaksanaan Pemimpin.
e) Pemimpin.45
Prof. Dr. Onong Ushyana, M.A menyatakan bahwa dalam rangka
menyusun strategi diperlukan:
a) Pengenalan susunan, yang meliputi:
(1) Faktor kerangka referensi
(2) Faktor situasi dan kondisi.
b) Pemilihan media.
44
A.M. Kadarman, et al., Pengantar Ilmu Manajemen, (Jakarta: PT. Prenhallindo), h. 58
45
c) Pengkajian media
d) Peranan komunikator.46
Dr. Fuad Amsyari, membicarakan perjuangan umat Islam
Indonesia menyatakan tiga hal pokok dalam penyusunan strategi yaitu:
a) Potret umat
b) Permasalahan umat
c) Alternatife pemecahan.
5. Media Dakwah
Dalam arti sempit media dakwah dapat diartikan sebagai alat bantu
dakwah. Alat bantu yang berarti media dakwah memiliki peranan atau
kedudukan sebagai penunjang tercapainya tujuan tanpa adanya media
masih dapat mencapai semaksimal mungkin.
Ada beberapa media komunikasi, dakwah yang dapat digolongkan
menjadi lima golongan besar, yaitu:
a. Lisan: termasuk dalam bentuk ini adalah khutbah, pidato, diskusi,
seminar, musyawarah, nasihat, ramah tamah dalam suatu acara,
obrolan secara bebas setiap ada kesempatan yang semuanya dilakukan
dengan lidah atau suara.
b. Tulisan: dakwah yang dilakukan dengan perantara tulisan umpamanya,
buku-buku, majalah, surat kabar, buletin, risalah, kuliah-kuliah tertulis,
pamplet pengumuman tertulis, spanduk, dan lain sebagainya.
46
c. Lukisan: yakni gambar-gambar dalam seni lukis, foto dan lain
sebagainya. Bentuk tertulis ini banyak menarik perhatian orang dan
banyak dipakai untuk menggambarkan suatu maksud yang ingin
disampaikan kepada orang lain umpanya komik-komik bergambar
Islami untuk anak-anak.
d. Audio visual: yaitu suatu cara menyampaikan sekaligus merangsang
penglihatan dan pendengaran. Bentuk ini dilaksanakan dalam televisi,
radio, film dan sebagainya.
e. Akhlak: yaitu suatu cara penyampaian langsung ditunjukan dalam
perbuatan yang nyata.47
Dari paparan tentang media dakwah di atas, media dakwah yang
digunakan di dalam subyek penelitian yaitu: Lisan, Tulisan, Audio Visual
dan Akhlak. adapun alasan hemat penulis, Lisan adalah ucapan langsung
dari pembimbing Dzikir, karena itu bisa merangsang akal pikiran
seseorang agar teringat selalu akan dzikirannya. Tulisan, sebelum kegiatan
dzikir para panitia memberikan pengumuman kepada masyarakat dengan
menggunakan tulisan berupa surat kabar dan spanduk, adapun kegiatan
dzikir ketika dimulai, para jama’ah diberikan tulisan berupa buku panduan
dzikir agar mereka membaca tersusun dengan baik. Audio visual, adapun
yang digunakan dalam melaksanakan dzikir menggunakan alat pengeras
47
suara yaitu Sound system, agar jama’ah mendengar dengan jelas apa yang
diucapkan pembimbing dzikir.
Dalam literatur lain dikatan bahwa dakwah sebagai suatu kegiatan
komunikasi keagamaan dihadapkan pada perkembangan dan kemajuan
teknologi komunikasi yang semakin canggih, memerlukan suatu adaptasi
terhadap itu. Artinya dakwah dituntut agar dikemas dengan terapan media
komunikasi sesuai aneka mad’u yang dihadapai. Dakwah yang
menggunakan media komunikasi lebih efektifdan efesien atau dengan
bahasa lain dakwah yang dimiliki merupakan dakwah komunikatif.48
a. Media Visual
Media komunikasi visual merupakan alat komunikasi yang digunakan
dengan memanfaatkan indera penglihatan dalam menangkap datanya.
Jadi masalah yang paling beperan dalam pengembangan dakwah,
media komunikasi yang berwujud alat yang merupakan penglihatan
sebagai pokok persoalannya.49 Terdiri dari beberapa jenis alat
komunikasi yang sangat komplit media visual tersebut meliputi:
1) Film Slide
2) Overhead Proyektor (OHP)
3) Gambar foto diam
4) Komputer.
b. Media Auditif
48
Dr. M. Bahri Ghazali, M.A. Dakwah Komunikatif Membangun Kerangka Dasar Ilmu Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997). Cet. Ke-1, h. 33
49
Media auditif dalam pemahaman komunikatif merupakan alat
komunikasi berbentuk hasil teknologi canggih dalam wujud dan
hadwer, media auditif dapat ditangkap melalui indra pendengaran.50
6. Pesan Dakwah.
Dalam komunikasi, pesan menjadi salah satu unsur penentuan
utama selain komunikator dan komunikan terjadi komunikasi antar
manusia. Tanpa ada unsurnya pesan, maka tidak pernah terjadi komunikasi
antar manusia.
Pesan dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung arti
perintah, nasihat, permintaan, amanat yang harus dilakukan atau
disampaikan kepada orang lain.51 Menurut HAW Widjaja pesan adalah
keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator.52sedangkan
menurut Onong Uchyana Efendi, pesan adalah seperangkat lambang
bermakna yang disampaikan oleh komunikator.53 Pesan dakwah
mengandung arti segala peringatan yang berorientasi pada pembntukan
perilaku Islam baik secara pribadi (individu) maupun secara kelompok.54
Dari definisi-definisi di atas pemahapan penulis tentang dakwah,
maka pesan dakwah dapat diartikan sebagai pernyataan yang bersumber
dari Al-Qur’an dan Sunnah yang disampaikan untuk mengajak seluruh
50
Ibid, h. 36
51
Departemen Pendidikan Nasional Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta balai pustaka, 2003), h. 761
52
HAW Widjaja, Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Rineka cipta,2000), cet ke-2, h. 32
53
Onong Uchyana Efendi, Ilmu Komunikasi: Teori dan praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), cet ke 8, h, 18
54
umat manusia agar mengikuti ajaran islam dan mampu merealisasikan
dalam kehidupan dengan tujuan kebahagiaan baik di dunia dan akhirat.
Pesan dakwah terdiri dari:
a. Masalah aqidah, yaitu pesan dakwah yang mencakup pada
masalah-masalah yang berhubungan erat dengan keimanan atau rukun iman.
b. Masalah syari’ah, yaitu pesan dakwah yang berhubungn dengan amal
lahir (nyata) dalam rangka mentaati semua peraturan atau hukum Allah
swt. Untuk mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhannya
(Habluminallah) dan pergaulan hidup anatara sesame manusia
(Habluminannas)
c. Masalah akhlak, yaitu pesan dakwah berupa budi pekerti seseorang
yang menjadi penyempurnaan keimanan dan keislaman.
d. Masalah tasawuf, yaitu pesan dakwah yang berkaitan langsung dengan
masalah hati.
B. Dzikir
1. Pengertian Dzikir
Kata dzikir berasal dari bahasa arab ( "7- - "78 - "7 - ) Artinya:
menyebut, mengingat,55 dzakarallah ( "7 -) artinya: “Memelihara Allah
55
dalam ingatan”. Maksudnya: selalu mengingat dan menyebut nama
Allah.56
Imam Abul-Hasanat Muhammad Abdul Hayyi Luknawi
Al-Hindi menjelaskan sebagai berikut:
"7 8
ﻥ ( 2 ) 9
:
ﻡ ; ) < = ( 2 + "7 8 (
<.
'"78
2 >ﻡ
ﻡ ? $ﺡ >
ABﻡ C <ﻥ 2
Sesungguhnya dzikir lawan katanya adalah lupa dan dzikir itu asalnya merupakan perbuatan qalbu bkan lisan. Benar, berdzikir dengan lisan memiliki pengaruh yang istimea dan hukum (aturan) yang diketahui tidak ada dalam dzikir qalbu.57
Menurut Hasbi Assiddiqi, dzikir adalah menyebut nama Allah
SWT, dengan menbaca tasbih ( ( . ), Tahli ( ) )), tahmid ( ),
basmallah ﺡ " ﺡ " 2dan membaca al-Qur’an serta membaca
do’a-do’a yang diterima dari Nabi-nabi.58
Sedangkan menurut Dr. Mir Valuddin, dzikir adalah senantiasa dan
terus menerus mengingat Allah yang bisa melahirkan cinta kepada Allah
serta mengosongkan hati dari kecintaan dan ketertarikan pada dunia fana
ini.59
Arti dzikir menurut istilah adalah suatu bentuk usaha bathiniyah
dengan melalui proses panca indera yang sifatnya intelektual dengan
56
M. Arifin Ilham dan Bebby Nasution, Hikmah Dzikir Berjama’ah, (Jakarta: Republika, 2003), Cet. Ke-1, h. 1
57
Imam Abul Hasanat Muhammad Abdul Hayyi Al-Luknawi Al-Hindi, Sibahatul Fikri – fi Jahribidz ~ dzikir, Terjemahan Al-Baqir, h. 69
58
Hasbi Asshiddiqi, Pedoman Dzikir dan Do’a, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), Cet. Ke-6, h. 36
59
sarana menyebut nama Allah baik secara jahar maupun khofi guna
memperoleh kontemplasi tingkat tinggi.
Dari beberapa pendapat tentang makna dzikir di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa makna dzikir terdiri dari dua makna. Pertama arti
khusus adalah dzikir dengan ucapan (jahar) yaitu mengucapkan tasbih,
tahmid, takbir, tahlil, istighfar dan sebagainya dengan cara tertentu yang
telah diajarkan Rasulullah SAW, untuk mengingat atau mendekatkan diri
kepada Allah. Kedua makna umum adalah dzikir yang berupa perbuatan
atau dzikir dengan anggota tubuh (akhlak), semua itu untuk memuliakan
keagungan Tuhan sebagai sarana untuk taqarrub (mendekatkan) diri
kepada Allah.
Majlis dzikir berasal dari Bahasa Arab, majelis yang berarti tempat
duduk. Bila digabungkan keduanya maka pengertian majlis dzikir adalah
tempat bagi kita umat Islam untuk selalu mengingat Allah, mendekatkan
diri dan tempat renungan bagi kita atas semua fasilitas dan kenikmatan
yang tidak ada henti-hentinya yang telah diberikan oleh Allah SWT, agar
kita senantiasa bersyukur dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
2. Macam-macam Dzikir a. Dzikir Jahar (ucapan jelas)
Dzikir jahar dilakukan untuk lebih mempengaruhi hati, dengan
lebih mengeraskan suara di dalam dzikir, akan lebih mudah meluluhkan
hati yang kadang-kadang keras seperti batu. Batu masih ada yang
petunjuk-petunjuk Allah yang telah menutup hati dan pendengaran mereka
dan pada penglihatan mereka ad penutup dalam hati mereka ada penyakit.
Lalu Allah menambah penyakit mereka dan bagi mereka azab yang pedih,
disebabkan apa yang mereka dustakan.60 Maka dengan dzikir yang keras
dan dilakukan dengansepenuhnya harapan dan kekhusyuan diharapkan
bisa meluluhkan hati yang keras tersebut.
Dzikir yang keras ini akan membuat Qalbu menjadi panas dan bila
dilakukan dengan kontinyu akan melahirkan cinta kepada Allah.61 Di
dalam buku karya Al-Ghazali “Rahasia Dzikir dan Do’a” disebutkan
bahwa pada awal seseorang berdzikir terlebih dahulu harus memaksakan
diri agar dapat memalingkan hati dan pikiran dari perasaan was-was
bimbang dan ragu kemudian memfokuskan perhatian pikiran, dan perasaan
sepenuhnya kepada Allah. Apabila berhasil melakukan secara kontinyu,
maka orang yang melakukan berdzikir merasakan kedekatan kepada Allah
di dalam jiwa dan tertanamlah di dalam hati perasaan cinta kepada Dia
yang kepada-Nya ditunjukan dzikir tersebut.62
b. Dzikir Amaliyah
Sebenarnya cita-cita kita sama adalah dzikir amaliyah ( < "7 - )
sebagai manifestasi kesalehan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Agar
kita bisa sampai kepada dzikir amaliyah ini, mestilah kita melakukan
60
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Saudi Arabia), h. 8-9
61
Mir Valuddin, Zikir Dan Kontemplasi Dan Tasawuf (Jakarta: Pustaka Hidayah, 2000), Cet. Ke-6, h. 40
62
dzikir ritual/lisan terlebih dahulu, jika hal ini dilakukan, insya Allah akan
menjadikan hati dan jiwa kita bersih dan suci.63
3. Tujuan Dzikir
Adapun tujuan berdzikir adalah mensucikan jiwa dan
membersihkan hati serta membangunkan nurani. Hal ini yang ditunjukkan
Allah SWT dalam firman-Nya: Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Kanbuut: 29/45).
Tujuan dari kegiatan dzikir, tentunya adalah menyikap sisi dalam
kehidupan manusia untuk sama-sama merasakan hidangan Allah SWT.
Dan tentunya, tujuan dzikir taubah itu bercorak moral, seperti membina
kejujuran, kesabaran, cinta sesama, penyantun dan mempertajam kepekaan
sosial (kecerdasan spiritual).64
4. Manfaat Dzikir
63
M. Arifin Ilham, Harakat Zikir Jalan Taat Menuju Allah, (Jakarta: Intuisi Pres, 2003), Cet. Ke-1, h. 57
64
Dzikir yang dilakukan seorang hamba, sangatlah memiliki manfaat
yang besar bagi tingkat keimana serta ketakwaan atau ibadah seorang
hamba. Selain itu, dzikirpun mampu memberikan ketenangan batin
seorang hamba (manusia) yang bergelut ditengah bobroknya kehidupan
dunia.
Sesuai dengan pendapat Drs. A. Sayuti dalam buku “Percik-percik
kesucian”:
Sungguh manakala pengalaman dzikir telah mersap didalam hati seorang hamba Allah, maka buah dzikir itu akan tampak tanda-tandanya dalam setiap perbuatan dan perkataannya. Lidah orang-orang ahli dzikir tidak mempercakapkan kecuali nama-nama-Nya, tubuh mereka tidak bergerak kecuali untuk menjalankan perintah-Nya, dan pikiran merka tidak bersih dari kotoran, kata-katanya bebas dari kebohongan, kekejian, hasutan dan fitnah. Pikiran bening, bersinar dan memancarkan kebenaran karenamendapat petunjuk dari Tuhan, pendeknya tidak mereka mengutarkan apa yang dikandung hati dan hati mereka milik rahasia batin.65
Tidak ada salahnya jika penulis memaparkan manfaat dzikir yang
lain, diantaranya:
Pertama. Meningkatkan kedekatan dan kecintaan kepada Allah
SWT, sebagaimana firman Allah: dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (Ar-Rad:13/28).
65
Kedua. Dzikir yang dilakukan secara teratur akan menuntut
pelakunya senantiasanya mampu mengendalikan hati dan pikiran, dapat
menjernihkan pikiran dan kesadaran untuk memahami akan keberadaan
dirinya.
Ketiga. Memperoleh cahaya (nur) dari Allah yang dapat menerangi
jalan hidupnya serta diampunkan segala dosanya yang telah lalu
disebabkan kuatnya belenggu syetan karena tipisnya iman. Hal ini sesuai
dengan firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan
malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (Q.S. Al-Ahzab: 33/41-43).
Keempat. Zikrullah menghilangkan kemunafikan
Al-Imam Ibnu-Qayyim mengatakan bahwa banyak-banya
berdzikirlah dapat menghilangkan kemunafikan karena ciri-ciri orang
munafik adalah sangat sedikit dzkirnya kepada Allah SWT, sebagaimana
disebutkan dalam surah An-Nisaa’ ayat 142:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.
(Q.S. An-Nisaa’: 4/142).66
Kelima. Dapat menghapus dosa-dosa yang dilakukan oleh seorang
hamba, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Imran ayat 135:
]£Š H_
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui”. (Q.S. Al-Imran: 3/135).
Ternyata banyak sekali manfaat dzikir yang kita peroleh apabila
kita melakukannya bahkan orang Islam yang tidak pernah berdzikir dan
berdo’a kepada Allah maka kehidupannya dalam kesempitan, di hari
kiamat dibangkitkan dalam keadaan buta, mudah terjerumus ke jurang
kehancuran, berteman dengan syetan serta gampang tergoda oleh
keindahan dunia sehingga jiwanya tidak tenang dan gampang terkena stres
dan penyakit jiwa lainnya.
66
49 A. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani
1. Riwayat Hidup dan Pendidikan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani lahir di kota Jilan pada tahun
470H/1077M dan wafat di kota Baghdad pada tahun 561H/1166M. Syaikh
Abdul Qadir al-Jailani sebagai ulama yang ahli fiqh dan ushul fiqh dalam
Mazhab Hanbali beliau seorang sufi besar di zamannya, dan pendiri
Tarekat Qadiriah. Ia juga disebut dengan nama Abdul Qadir Al-Jili. Di
Baghdad ia dikenal dengan panggilan al-Jami. Nama lengkapnya adalah
Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih Zangi Dost al-Jili.
Ada pula yang mengatakan bahwa nama lengkapnya adalah Muhyiddin
Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih Zangi Dost Musa bin Abi
Abdillah bin Yahya az-Zahid Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdillah
bin Musa al-Jun bin Abdul Muhsin bin Hasan al-Musanna bin Muhammad
al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA. Menurut garis keturunan ini, ia
termasuk cucu Nabi Muhammad SAW.67
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani lahir dan dididik dalam lingkungan
keluarga sufi. Ia tumbuh di bawah tempaan ibunda yang bernama Fatimah
binti Abdullah as-Sauma’i dan kakeknya Syekh Abdullah as-Sauma’i, yang
67
kedua-duanya wali. Sejak kecil, Abdul Qadir al-Jailani telah tampak
berbeda dari anak lainnya. Ia tidak suka bermain-main bersama
anak-anak lainnya. Sejak usia dini ia terus mematangkan kekuatan batin yang
dimilikinya. Ia mulai belajar mengaji sejak berusia sepuluh tahun. Dalam
usia 18 tahun ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu (488H/1095M).
Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizamiyah yang pada waktu itu
dipimpn oleh seorang sufi besar, Ahmad al-Ghazali, Abdul Qadir al-Jailani
mengikuti pelajaran fikih Mazhab Hanbali dari Abu Sa’ad Mubarak
al-Mukharrimi (Pemimpin sekolah hukum Hanbali) sampai ia mendapat
ijazah dari gurunya terebut. Mulai tahun 521 H/1127 M Abdul Qadir
al-Jailani mengajar dan berfatwa dalam Mazhab tersebut kepada masyarakat
luas sampai akhir hidupnya. Untuk itu, ia juga mendapat restu dari seorang
sufi besar, Yusuf al-Hamdani (440 H/1048 M-535 H/1140 M). Pada tahun
528 H untuk Abdul Qadir al-Jailani didirikan sebuah Madrasah dan ribat
di Baghdad yang dijadikan sebagai tempat tinggal bersama keluarganya
dan sekaligus tempat mengajar murid-muridnya yang juga tinggal
bersama.68
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang tokoh yang keras
berpegang teguh pada kebenaran dan prinsip perjuangannya. Dia tidak
segan-segan memberi nasihat kepada penguasa, bahkan kepada khalifah
sekalipun. Pada waktu Khalifah al-Muktafi (531-555 H/1136-1160 M) dari
Bani Seljuk mengangkat Ibnu Muzahim yang dikenal seorang yang lalim
68