BAB IV ANALISIS TERHADAP PERCERAIAN PEGAWAI NEGER
C. Analisis Terhadap Implementasi PP No 10 Tahun 1983 jo PP
Dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang- undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, sebenarnya tidak ada
pembedaan perceraian antara seorang PNS dengan orang yang bukan PNS. Hanya saja dalam proses perceraian PNS terdapat syarat khusus yang mengikat seorang PNS jika ia ingin bercerai. Syarat khusus itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 jo Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Percerian bagi PNS dan diperjelas lagi penerapannya dalam Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 5 tahun 1995 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983.
Dalam penjelasan PP No. 45 tahun 1990 dinyatakan bahwa adanya Peraturan Pemerintah ini merupakan alat untuk menjamin keadilan bagi kedua belah pihak baik suami maupun istri. Sanksi terhadap pelanggaran Peraturan Pemerintah ini yang semula berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS sebagaimana yang diatur dalam PP No. 45 tahun 1990 dirubah menjadi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan PP No. 30 tahun 1980 untuk memberikan rasa keadilan.
Surat izin tersebut merupakan aturan disiplin Pegawai Negeri dan bukan merupakan hukum acara yang artinya jika seorang PNS yang ingin bercerai tanpa adanya Peraturan Pemerintah itu perkaranya tetap jalan dan dan tidak akan mempengaruhi putusan. Untuk sebab itu prakteknya jika seorang PNS dalam perkara itu menjadi pihak yang aktif atau sebagai penggugat atau pemohon harus menyertakan surat izin dari atasan. Dan PNS yang menjadi pihak yang pasif atau sebagai tergugat atau termohon ia harus menyertakan surat keterangan dari atasan. Dengan adanya peraturan itu PNS yang menjadi pihak aktif maupun pasif dalam perceraian mempunyai akibat
70
hukum yang sama jika ia tidak bisa menyertakan surat izin dari ataasan atau surat keterangan dicerai dari atasan yaitu mendapatkan sanksi administratif dari atasannya dan pembagian gaji bagi mantan istri (Wawancara dengan Abd. Basyir, M.Ag., tanggal 31 Mei 2012).
Walaupun surat izin bercerai dari atasan dan surat keterangan ingin dicerai dari atasan bukan merupakan bagian dari hukum acara di Pengadilan Agama tetapi surat izin tersebut merupakan syarat khusus yang ditetapkan di pengadilan. Jadi seorang PNS yang akan bercerai namun belum menyertakan surat izin tersebut proses persidangannya tetap akan berlanjut. PNS diberikan toleransi oleh Majlis Hakim untuk mendapatkan surat izin dari atasannya selama 3 bulan. Jika dalam waktu 3 bulan PNS itu tidak mendapatkannya maka Majelis Hakim akan memberikan perpanjangan waktu selama 3 bulan lagi. Jika PNS tersebut belum mendapatkan surat izin dari atasan selama 6 bulan maka Majelis Hakim dalam perkara tersebut diwajibkan untuk memberikan peringatan kepada PNS tentang sanksi yang akan ia dapat jika ia tetap bercerai.
Dari 994 kasus perceraian di Pengadilan Agama Salatiga selama tahun 2010 peneliti menemukan 18 kasus perceraian yang Pengugat atau Tergugatnya berprofesi sebagai PNS. 11 kasus diantaranya diputus bercerai, 1 kasus masih dalam proses kasasi, 1 kasus gugur, 2 kasus dicabut, 1 kasus masih dalam proses persidangan dan 2 kasus tidak mempunyai kekuatan hukum. Dari 11 kasus yang telah diputus bercerai, peneliti menemukan 7 kasus perceraian yang sudah ada izin dari atasan, sedangkan untuk 4 kasus
lainnya peneliti tidak menemukan surat izin bercerai dari atasannya. Dari 4 kasus itu ada 2 kasus yang tergugatnya seorang PNS, 1 kasus yang penggugatya sebagai PNS dan 1 kasus yang pengugat dan tergugatnya sebagai PNS.
Dari 4 kasus perceraian diatas tidak ditemukan adanya surat izin bercerai dari atasan bagi Penggugat PNS ataupun surat keterangan dicerai bagi PNS yang menjadi Tergugat. Tapi dari 4 kasus itu semuanya telah di putus bercerai dan semua PNS yang menjadi tergugat tidak pernah datang ke persidangan (verstek). Sedangkan dari 4 kasus itu ada 1 kasus yang Pengugatnya adalah seorang PNS. Selama proses persidangan ia belum mendapatkan surat izin dari atasan. Kasus itu sekarang telah diputus bercerai oleh Majelis Hakim karena penggugat dalam perkara tersebut telah bersedia membuat surat keterangan bercerai yang dibuat oleh Penggugat PNS itu sendiri dengan persetujuan Ketua Majelis Hakim.
Jika di Pengadilan Agama Ambarawa seorang PNS yang ingin bercerai namun ia belum mendapatkan surat izin dari atasan selama 6 bulan maka Majelis Hakim akan menerangkan kepada PNS tersebut tentang sanksi yang akan ia dapat jika ia akan tetap melanjutkan percerain. Jika PNS tersebut memilih melanjutkan perkara maka hal tersebut akan dicatat di dalam Berita Acara Persidangan dan PNS tersebut tidak diwajibkan untuk membuat surat pernyataan karena Berita Acara Persidangan merupakan surat otentik sedangkan pernyataan yang dibuat oleh PNS merupakan surat dibawah tangan (Wawancara dengan Abd. Basyir, M.Ag., tanggal 31 Mei 2012).
72
Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulakan bahwa di Pengadilan Agama Salatiga dan Pengadilan Agama Ambarawa jika seorang PNS yang ingin bercerai namun ia belum mendapatkan surat izin dari atasan dalam waktu 6 bulan maka ia tetap bisa bercerai. Kasus tersebut bisa di putus demikian jika PNS bersedia menanggung segala resiko yang akan ia dapat sesuai dengan PP nomor 45 tahun 1990 yang dibuktikan dengan surat pernyataan maupun pernyataan secara lisan yang ditulis di dalam Berita Acara Persidangan.
Dengan adanya fenomena tersebut penulis berpendapat bahwa hal itu merupakan suatu celah yang bisa digunakan oleh seorang PNS untuk menghindari peraturan disiplin pegawai negeri sipil seperti yang termuat dalam PP nomor 45 tahun 1990 tentang Izin Perceraian bagi PNS. Surat izin dari atasan bagi PNS yang akan bercerai seperti yang diatur dalam PP nomor 45 tahun 1990 tentang Izin Perceraian bagi PNS penerapannya di Pengadilan Agama Salatiga maupun di Pengadilan Agama Ambarawa penerapannya tidak berlaku secara maksimal terhadap PNS dan tujuan dari diperbaharuinya PP nomor 10 tahun1983 dengan PP nomor 45 tahun 1990 seperti yang termuat dalam ketentuan umum yang menyatakan bahwa adanya PP nomor 45 tahun 1990 bertujuan agar PNS yang akan bercerai dapat menghindar dengan sengaja maupun tidak sengaja belum bisa tercapai.
Sedangkan proses perceraian PNS di Pengadilan Negeri Salatiga prosesnya tidak sama seperti di Pengadilan Agama Salatiga maupun Pengadilan Agama Ambarawa. Jika di pengadilan Negeri Salatiga penulis
tidak menemukan sebuah perceraian PNS yang tidak menyertakan surat izin dari atasan. Seorang PNS yang akan mengajukan gugatan perceraian maka sejak pendaftaran gugatan ia diwajibkan menyertakan surat izin bercerai dari atasan. Jika PNS itu belum mempunyai izin maka ia akan diminta untuk menyertakan surat izin itu sebelum perkara itu disidangkan. PNS yang menjadi Tergugat atau Termohon ia tidak wajib menyertakan surat keterangan di cerai dari atasan pada saat gugatan itu didaftarkan karena Hakim Pengadilan Negeri berpendapat bahwa dalam masalah perdata mengenal asas siapa yang mengajukan ialah yang harus membuktikan.
Hakim Pengadilan Negeri berpendapat bahwa mereka tidak mau memutus perceraian PNS yang tidak disertai dengan surat izin dari atasan karena Para Hakim tidak mau dibanding oleh salah satu pihak yang berperkara. Jika perceraian seorang PNS diputus bercerai oleh Majelis Hakim tanpa mendapatkan surat izin dari atasan maka putusan itu bisa diajukan banding ke Pengadilan Tinggi untuk menilai keabsahan bukti. (Wawancara dengan Adhi Satrija Nugraha S.H., tanggal 5 juni 2012).
Selain itu penulis berpendapat bahwa walaupun surat izin dari atasan itu bukanlah merupakan bagian dari hukum acara, surat itu merupakan Peraturan Pemerintah yang merupakan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh presiden untuk menjalankan undang-undang agar dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Hal tersebut sebagaimana yang termuat dalam pasal 1 Undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Penulis berpendapat bahwa yang berkuasa menegakkan
74
Peraturan Pemerintah itu secara maksimal adalah seorang hakim di dalam persidangan karena profesi hakim adalah salah satu bentuk dari profesi hukum yang sering digambarkan sebagai pemberi keadilan. Selain itu Peraturan Pemerintah merupakan alat untuk pertimbangan hukum, alat untuk memutus perkara dan untuk kepastian hukum.
75 A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dan analisis data yang terkumpul tentang implementasi Peraturan Pemerintah nomor 10 tahun 1983 yang telah diganti dengan Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1990 tentang Perceraian Pegawai Negeri Sipil di Pengadilan Agama Salatiga tahun 2010, maka dapat disimpukan sebagai berikut:
1. Pada tahun 2010 perkara perceraian yang masuk ke Pegadilan Agama Salatiga berjumlah 994 perkara. Sedangkan jumlah perkara perceraian yang telah diputus cerai oleh Majelis Hakim sebanyak 892 perkara. Motif perceraian di tahun itu adalah: 63 kasus perceraian disebabkan karena krisis moral, 204 perkara karena tidak adanya tanggung jawab dari suami, 6 perkara karena salah satu pihak di hukum, 2 perkara karena cacat biologis, 1 perkara karena poligami tidak sehat, 44 perkara karena faktor cemburu, 204 perkara karena ekonomi, 10 perkara karena kawin di bawah umur, 322 perkara karena tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga, 36 perkara kareana adanya gangguan dari pihak ketiga.
2. Dari empat kasus perceraian PNS yang diteliti, 2 kasus diputus cerai oleh Majelis Hakim karena suami terbukti melanggar salah satu sighot tahlik talak yang diucapkan saat perkawinan sesuai dengan pasal 116 huruf g KHI. Sedangkan 2 kasus lagi diputus cerai oleh Majelis Hakim karena
76
antara suami istri tersebut terus menerus terjadi perselisihan yang tidak akan mungkin dirukunkan kembali sesuai dengan pasal 116 huruf f KHI. 3. Seorang PNS yang akan melakukan perceraian di Pengadilan Agama
Salatiga tidak harus menyertakan surat izin tertulis dari atasan sesuai dengan PP nomor 10 tahun 1983. Dalam prakteknya PP itu bisa diganti dengan surat pernyataan yang dibuat oleh PNS. Adanya surat pernyataan tersebut tidak diatur dalam PP nomor 10 tahun 1983 jo PP nomor 45 tahun 1990. Munculnya surat pernyataan tersebut karena adanya pemahaman yang berbeda dari Majelis Hakim tentang PP tersebut. Di Pengadilan Agama Salatiga PP itu bukan merupakan bagian dari hukum acara. PP itu hanya merupakan aturan disiplin Pegawai Negeri Sipil. Artinya seorang PNS yang akan bercerai tanpa melampirkan surat izin dari atasan sesuai dengan pasal 3 ayat 1 PP nomor 45 tahun 1990 perkaranya akan tetap diproses. Majelis Hakim dalam persidangan akan memberikan kesempatan kepada PNS untuk menyertakan surat izin tersebut dalam waktu 3 bulan sejak pembacaan gugatan. Jika dalam waktu 3 bulan tidak bisa menyertakan surat izin itu maka Majelis Hakim akan memberikan perpanjangan waktu selama 3 bulan lagi. Jika masa perpanjangan telah habis dan PNS tidak bisa menyertakan surat izin itu dan ia tetap bersikeras untuk bercerai maka Majelis Hakim di Pengadilan Agama Salatiga memerintahkan PNS penggugat untuk membuat surat pernyataan dari penggugat PNS yang isinya tentang kesediaan menanggung segala resiko akibat dari perceraian. Hal ini berbeda dengan
apa yang dipahami oleh Para Hakim di Pengadilan Negeri Salatiga. PP nomor 10 tahun 1983 jo PP nomor 45 tahun 1990 tentang izin perceraian bagi PNS merupakan bagian dari hukum acara pembuktian. Artinya seorang PNS yang akan bercerai di Pengadilan Negeri Salatiga harus menyertakan surat izin tertulis dari atasan. Jika surat izin itu tidak ada maka perkara tersebut tidak bisa diproses.
B. Saran
Mengacu pada kesimpulan di atas, penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi Akademik
Melalui LBH STAIN Salatiga, khususnya progdi ahwal al syakhsiyah diharapkan bisa lebih aktif untuk membantu para pihak yang berperkara di Pengadilan Agama khususnya dalam perkara perceraian PNS.
2. Bagi Pengadilan Agama Salatiga
a. Seharusnya penegakan Peraturan Pemerintah nomor 10 tahun 1983 yang telah diganti dengan Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1990 di Pengadilan Agama lebih ditingkatkan lagi.
b. Seharusnya seorang PNS yang akan bercerai di Pengadilan Agama wajib menyertakan surat izin dari atasan dan jika tidak ada surat itu, maka Majlis Hakim tidak seharusnya memutus cerai.
78
c. Seharusnya ada satu pemahaman tentang keberlakuan PP nomor 10 tahun 1983 yang telah diganti dengan PP nomor 45 tahun 1990 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi PNS di Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri.
3. Bagi PNS
Seorang PNS seharusnya memberikan contoh yang baik khususnya dalam masalah administasi hukum karena seorang PNS merupakan abdi masyarakat dan abdi negara yang menjadi contoh bagi masyarakat.
4. Bagi masyarakat
Dengan adanya skripsi ini penulis mengharapkan agar masyarakat dapat mengetahui prosedur perceraian PNS baik di Pengadilan Negeri maupun di Pengadilan Agama. Sehingga bagi para pihak yang bisa dirugikan dengan adanya perceraian ini bisa melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama ataupun ke Pengadilan Tinggi Negeri dengan alasan untuk menilai keabsahan bukti.
DAFTAR PUSTAKA
Abi Syuja‟, Ahmad Bin Khusain Al-Syahiir. Tanpa tahun. Fathul Qorib Al-Mujib. Sarah oleh Muhammad Bin Qosim al Ghozi. 2005. Singapur: Al Kharomain.
Ali, Zainuddin. 2006. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika. _____ 2009. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.
Basyir, Ahmad Ahzar. 2000. Hukum Perkawinan Islam. Yogjakarta: UII Press. Dirjenbinbaga Agama Islam. 1985. Ilmu Fiqh Jilid II. Jakarta: Depag.
Depag RI. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV PENERBIT Diponegoro.
Gaffar, Afan. 2000. Politik Indonesia Transisi menuju Demokrasi.Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR (Anggota IKAPI).
Ghazaly, Abd Rahman. 2003. Fiqh Munakahat.Jakarta: Kencana.
Hasbi Ash-siddieqy, Muhammad. 1978. Hukum-hukum Fiqh Islam yang Berkembang Dalam Kalangan Ahlus Sunnah. Jakarta: Kencana.
IMPRES No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.
Kusumaatmadja, Mochtar. 1986. Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Moleong, Lexy. 1999. Metodologi Penelitian. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Nuruddin, Amiur dan Azhari Akmal Tarigan. 2006. Hukum Perdata Islam di Indonesia (Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari, UU No. 1/1974 Sampai KHI). Jakarta: Kencana.
PP No. 45 Tahun 1990, tentang perubahan atas PP No. 10 tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil.
PP No. 9 tahun 1975, tentang pelaksanaan undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
Poerwadarminta. 1997. Pusat Bahasa (Indonesia). 1997. Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Mahfud MD. 2011. Politik Hukum di Indonesia.Jakarta: Rajawali Press.
Mughniyah, Muhammmad Jawad. 1994. Fiqh Lima Mazhab Buku ke Dua.
Jakarta: Basrie Press.
Nasution, Khoiruddin. 2002. Status Wanita di Asia Tenggara: Studi Terhadap Perundang-undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia. Jakarta: INIS.
Nazir. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Galia Indonesia.
Ramulyo, Muh Idris. 1996. Hukum Perkawinan Suatu Analisis dari Undang- undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
80
Rasyid, H. Chatibi, Syaifuddin. 2009. Hukum Acara Perdata dalam teori dan Praktik pada Peradilan Agama.Yogyakarta: UII Press.
Romy, Suemitro. 1990. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurementri, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sabiq, Sayyid. 1992. Fiqhus Sunnah Juz 2. Beirut: Dar Al-Fikr. Saragih, Bintan Regen. 2006. Pilitik Hukum. Bandung: CV Utomo. Sudarsono. 2005. Hukum Perkawianan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta. Soekanto, Soerjono. 1984. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press. _______ 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press.
_______ 2001. Pengantar Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat.
Jakarta: Balai Pustaka.
UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. UU No. 50 tahun 2009 tentang Peradilan Agama.
Sundah, Michael, 2012. Perceraian di Indonesia Tertinggi di Asia, (Online), http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/16/perceraian-di-indonesia-tertinggi-
seasia/, diakses 21 April 2012.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pegawai_negeri
(http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Pegawai_Negeri_Sipil#Peg awai_Negeri_di_Indonesia)