• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAMBILAN KARGO DAN POS DI KUALANAMU (STUDI PUTUSAN KPPU NO.03/KPPU-I/2017)

C. Analisis Terhadap Pertimbangan Majelis Komisi dan Putusan

Sebelum memutuskan, Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal yang meberatkan dan meringankan dalam perkara a quo, sebagai berikut: Tidak ada hal-hal yang memberatkan bagi PT Angkasa Pura II (Persero), dan hal-hal yang meringankan bagi PT Angkasa Pura II (Persero), yaitu PT Angkasa Pura II (Persero) telah bersikap kooperatif dengan selalu hadir dan berlaku sopan selama proses persidangan, maka Majelis konisi memberikan peringan denda sebesar 10% (sepuluh persen). Menurut pedoman Pasal 47 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Tindakan Administrasi, denda merupakan usaha untuk mengambil keuntungan yang didapatkan oleh pelaku usaha yang dihasilkan dari tindakan anti persaingan. Selain itu denda juhga ditujukan untuk menjerakan pelaku usaha agar tidak melakukan tindakan serupa atau ditiru oleh calon pelanggar lainnya. Sesuai dengan Pasal 47, Majelis Komisi menentukan besaran denda dengan menempuh dua langkah, yaitu pertama, penentuan besaran nilai dasar dan kedua, penyesuaian besaran nilai dasar dengan menambahkan dan/atau mengurangi besaran nilai dasar.

Majelis Komisi menetapkan besaran nilai dasar yang diperoleh dari tahun berjalannya pengenaan tarif ganda ketika diberlakukannya Daerah Keamanan Terbatas (DKT) sejak tahun 2014 untuk tarif penerimaan kargo dan ketika diberlakukannya Regulated Agent untuk tarif pengiriman kargo sejak tahun 2015, kemudian dari besaran nilai dasar tersebut dikurangi 10% peringan denda. Berdasarkan fakta-fakta, penilaian, analisis dan kesimpulan diatas, serta

dengan mengingat pasal 43 ayat (3) Undang-undang No. 5/1999, Majelis Komisi:

MEMUTUSKAN

a. Menyatakan PT. Angkasa Pura II (Persero) terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 17 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.

b. Menghukum PT Angkasa Pura II (Persero) membayar denda sebesar Rp.

6.538.612.000,00 (Enam Milyar Lima Ratus Tiga Puluh Delapan Juta Enam Ratus Dua Belas Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran Pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).

c. Memerintahkan PT Angkasa Pura II (Persero) untuk melakukan penurunan penetapan tarif pengiriman (outgoing) kargo dan pos dengan memperhitungan kegiatan yang hilang setelah diambil alih oleh regulated agent (RA) dan mengembalikan proses pengambilan (incoming) kargo dan pos di Bandar Udara Kualanamo tanpa melalui Mitra Usaha PT Angkasa Pura II (Persero) di Lini II.

d. Memerintahkan PT Angkasa Pura II (Persero) melakukan pembayaran denda untuk melaporkan dan menyerahkan salinan bukti pembayaran denda tersebut ke KPPU.

Berdasarkan uraian diatas, Penulis berpendapat bahwa Pertimbangan dan Putusan Majelis Komisi sudah tepat. Dapat dilihat berdasarkan fakta-fakta, penilian, analisis dan kesimpulan diatas, serta dengan mengingat Pasal 43 ayat (3) UU No.

5/1999. PT Angkasa Pura II (Persero) secarah sah terbukti dan meyakinkan melanggar Pasal 17 ayat (1) dan (2) UU No. 5/1999 dan merupakan pelaku usaha tunggal yang mendapatkan hak ekslusif untuk melakukan jasa penyedian/fasilitas terminal untuk pelayanan angkutan kargo dan pos di bandarudara kualanamu serta satu-satunya penyedia jasa fasilitas pergudangan lini 2 di Bandar Udara kualanamu dengan demikian unsur barang dan/atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya, pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan/atau jasa yang sama.

Dengan demikian PT Angkasa Pura menghasilkan keuntungan 50% serta menjadi perusahaan tunggal yang mengakibatkan perusahaan lain takut bersaing.

Dan juga berdasarkan Putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Komisi berdasarkan pedoman Pasal 47 UU No. 5/1999 tentang Tindakan Administrasi, PT Angkasa Pura II (Persero) dihukum membayar denda sebesar Rp.6.538.612.000,00 (Enam Milyar Lima Ratus Tiga Puluh Delapan Juta Enam Ratus Dua Belas Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, dan juga memerintahkan PT Angkasa Pura II (Persero) untuk melakukan penurunan penetapan tarif pengiriman kargo dan pos dengan mempertimbangkan kegiatan yang hilang setelah diambil alih oleh regulated agent (RA) dan mengembalikan proses pengambilan kargo dan pos di Bandar Udara Kualanamu tanpa melalui Mitra Usaha PT Angkasa Pura II (Persero) di Lini II.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dan analisis yang telah diuraikan, maka penulis berkesimpulan :

1. Dengan adanya UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat diharapkan akan terciptanya kegiatan perekonomian yang berasaskan pada demokrasi ekonomi, dan diharapkan juga akan terjadi keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum yang bertujuan untukkepentingan umum dan melindungi konsumen. Disamping itu juga untuk menumbuhkan iklim usaha yang kondusif melalui persaingan usaha yang sehat dan menjamin kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi setiap orang agar dapat mencgah praktik-praktik monopoli melalui diundangnya undang-undang tersebut.

Hukum persaingan juga mengenali konsep dalam terjadinya suatu proses persaingan, hambatan yang terjadi ada yang mutlak bersifat menghambat persaingan dan ada yang mempunyai pertimbangan dan alasan ekonomi.

Perlu dikemukakan juga bahwa memang banyak jenis larangan terhadap perjanjian dan kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, yang ditentukan dalam UU No.

5/1999. Undang-undang ini tampaknya menyerahkan penentuan pendekatan per se illegal dan rule of reason kapada KPPU. Hal ini jelas termuat dalam Pasal 35 ayat (a), (b), (c) yang menentukan Tugas Komisi mengenai penilaian terhadap perjanjian, kegiatan usaha dan penyalahgunaan posisi dominan yang mana dapat berakibat praktek monopoli.

2. Berdasarkan ketentuan Pasal 17 UU No. 5/1999 pada hakekatnya terbukti adanya pelanggaran sesuai dengan kalimat di ayat (2) yang menyebutkan pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan atau jasa. Kata diduga dan dianggap juga mengimplikasikan bahwa meskipun perusahaan terbukti memiliki posisi monopoli, perusahaan tersebut belum dapat dipersalahkan telah melakukan pelanggaran Pasal 17. KPPU dalam pembuktian adanya dugaan pelanggaran Pasal 17 UU No. 5/1999, menggunakan pendekatan Rule of Reason. Penggunaan pendekatan teori tersebut dilakukan dengan melihat apakah Praktik Monopoli oleh PT Angkasa Pura II (Pura) terdapat faktor-faktor yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan suatu tindakan tersebutRule of Reason atau tidak. Yang mana pembuktian tersebut harus melalui pembuktian struktur, perilaku dan dampak terhadap persaingan. Pendekatan Rule of Reason mengharuskan diterapkannya pembuktian, mengevaluasi mengenai akibat perjanjian, kegiatan, atau analisis tertentu guna menentukan kegiatan praktik monopoli tersebut menghambat atau mendukung persaingan. Karena, dalam banyak kasus

bukan tidak mungkin perbuatan yang di lakukan oleh pelaku usaha itu secara ekonomi dapat dibenarkan.

3. Pertimbangan dan Putusan Majelis Komisi dalam Putusan No. 03/KPPU-i/2017 sudah tepat. PT Angkasa Pura II (Persero) secarah sah terbukti dan meyakinkan melanggar Pasal 17 ayat (1) dan (2) dengan unsur-unsur yang telah terpenuhi. PT Angkasa Pura II (Persero) merupakan Pelaku Usaha Tunggal yang mendapatkan hak ekslusif untuk melakukan jasa penyediaan fasilitas terminal untuk pelayanan angkutan kargo dan pos di Bandar Udara Kualanamu serta satu-satunya penyedian jasa fasilitas pergudangan lini 2 di Bandara Udara Kualanamu. Dengan demikian unsur barang dan/atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya terpenuhi, unsur pelaku lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan/atau jasa yang sama terpenuhi, dan unsur satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu terpenuhi. Dan juga berdasarkan Putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Komisi berdasarkan pedoman Pasal 47 UU No.

5/1999 tentang Tindakan Administrasi, PT Angkasa Pura II (Persero) dihukum membayar denda sebesar Rp.6.538.612.000,00 (Enam Milyar Lima Ratus Tiga Puluh Delapan Juta Enam Ratus Dua Belas Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha, dan juga memerintahkan PT Angkasa Pura II (Persero) untuk melakukan penurunan penetapan tarif pengiriman kargo dan

pos dengan mempertimbangkan kegiatan yang hilang setelah diambil alih oleh regulated agent (RA) dan mengembalikan proses pengambilan kargo dan pos di Bandar Udara Kualanamu tanpa melalui Mitra Usaha PT Angkasa Pura II (Persero) di Lini II.

B. Saran

1. Praktek monopoli sering terjadi karena adanya pemberian kewenangan oleh otoritas lembaga kepada pelaku usaha. Dengan kewenangan yang dimiliki maka pelaku usaha tersebut bertindak dengan cara apapun untuk mempertahankan monopolinya. Oleh karena itu, KPPU sebagai lembaga yang diberi kewenangan oleh Undang-undang N0. 5/1999 untuk melakukan pengawasan terhadap pelaku usaha agar kegiatan yang dilakukan tidak melanggar ketentuan Undang-undang N0.5/1999.

2. Diharapkan KPPU untuk lebih melakukan sosialisasi Undang-undang No. 5/1999 kepada seluruh hakim mengenai proses pemeriksaan dan pembuktian perkara di KPPU. Hal ini akan membuka dimensi baru bagi hakim dalam memutus perkara persaingan usaha dengan pembuktian menggunakan penerapan dan pendekan analisis ekonomi dalam perkara praktik monopoli. Hal ini untuk membantu hakim dalam menilai pelanggaran tidak hanya berdasarkan bunyi pasal-pasal tersebut, tetapi juga menggunakan analisis ekonomi.

3. Pemerintah dan DPR seharusnya melakukan revisi terhadap Undang-undang No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan

Usaha Tidak Sehat Khususnya pada Pasal 47 dalam hal pemberian denda seperti tidak ada batas atas dan batas bawah besaran denda yang dijatuhkan agar Majelis Komisi dapat menentukan besaran denda yang akan di berikan sesuai dengan perkembangan ekonomi pada masa ini dan masa yang akan datang. Serta Majelis Komisi lebih teliti dan cermat dalam menimbang dan memutus perkasa praktik monopoli, dan berlaku seadil-adilnya terhadap para pelaku usaha.