METODE PENELITIAN
E. Analisis Data
1. Analisis Tes Kemampuan Koneksi Matematis Siswa
Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang berasal dari tes kemampuan koneksi matematis siswa.Semua analisis data kuantitatif menggunakan bantuan Program SPSSversi 20. Untuk menganalisis data apakah terdapat peningkatan kemampuan
36
Putri Diana Novita, 2015
PENERAPAN MODEL OSBORN UNTUK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
koneksi matematis siswa untuk masing-masing kelas penelitian dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Analisis Data Pretes i. Uji Normalitas
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 : Kemampuan koneksi matematis awal siswa pada model Osborn dan model konvensional masing-masing berasal dari populasi berdistribusi normal.
H1 : Kemampuan koneksi matematis awal siswa pada model Osborn dan model konvensionalmasing-masing berasal dari populasi berdistribusi tidak normal.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
Jika hasil pengujian menunjukkan kemampuan koneksi matematis awal siswa pada modelOsborn dan model konvensional berasal dari populasi berdistribusi normal, maka analisis datanya dilanjutkan dengan pengujian homogenitas varians. Jika hasil pengujian menunjukkan kemampuan koneksi matematis awal siswa pada model Osbornatau model konvensional atau kedua model tersebut berasal dari populasi berdistribusi tidak normal, maka analisis datanya dilanjutkan pengujian kesamaan dua rata-rata secara nonparametrik dengan uji Mann-Whitney.
ii. Uji Homogenitas Varians
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 : Kemampuan koneksi matematis awal siswa pada model Osborn dan model konvensional mempunyai varians yang sama.
H1 : Kemampuan koneksi matematis awal siswa pada model Osborn dan model konvensional mempunyai varians yang berbeda.
37
Putri Diana Novita, 2015
PENERAPAN MODEL OSBORN UNTUK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
iii. Uji Kesamaan Dua Mean
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 : Tidak terdapat perbedaan kemampuan koneksi matematis awal siswa antara yang memperoleh pembelajaran dengan model Osborn dan model konvensional.
H1:Terdapat perbedaan kemampuan koneksi matematis awal siswa antara yang memperoleh pembelajaran dengan model Osborn dengan siswa yang memperoleh pembelajaran denganmodel konvensional.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
b. Analisis Data Postes i. Uji Normalitas
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 : Kemampuan koneksi matematis akhir siswa pada model Osborndan model konvensionalmasing-masing berasal dari populasi berdistribusi normal.
H1 : Kemampuan koneksi matematis akhir siswa pada model Osborn dan model konvensional masing-masing berasal dari populasi berdistribusi tidak normal.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
Jika hasil pengujian menunjukkan kemampuan koneksi matematis akhir siswa pada modelOsborndan model konvensional berasal dari populasi berdistribusi normal, maka analisis datanya
38
Putri Diana Novita, 2015
PENERAPAN MODEL OSBORN UNTUK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dilanjutkan dengan pengujian homogenitas varians. Jika hasil pengujian menunjukkan kemampuan koneksi matematis akhir siswa pada model Osbornatau model konvensional atau kedua model tersebut berasal dari populasi berdistribusi tidak normal, maka analisis datanya dilanjutkan pengujian kesamaan dua rata-rata secara nonparametrik dengan uji Mann-Whitney.
ii. Uji Homogenitas Varians
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 : Kemampuan koneksi matematis akhir siswa pada model Osborndan model konvensional mempunyai varians yang sama.
H1 : Kemampuan koneksi matematis akhir siswa pada model Osborndan model konvensional mempunyai varians yang berbeda.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
iii. Uji Perbedaan Dua Mean
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 :Kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model Osborn tidak lebih baik daripadasiswa yang memperoleh pembelajaran dengan model konvensional.
H1:Kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model Osborn lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran denganmodel konvensional.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
39
Putri Diana Novita, 2015
PENERAPAN MODEL OSBORN UNTUK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu c. Analisis Data Nilai Gain
Analisis nilai gain merupakan analisis peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah mendapat perlakuan. Data yang digunakan dalam analisis peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa adalah nilai gain yang diperoleh dari rumus (Hake, 1999: 1):
� = � − � Dengan: � : Nilai Gain � : Nilai Postes � : Nilai Pretes i. Normalitas
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 : Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensionalmasing-masing berasal dari populasi berdistribusi normal.
H1 : Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensionalmasing-masing berasal dari populasi berdistribusi tidak normal.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
Jika hasil pengujian menunjukkan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensional berasal dari populasi berdistribusi normal, maka analisis datanya dilanjutkan dengan pengujian homogenitas varians. Jika hasil pengujian menunjukkan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn atau model konvensional atau kedua model tersebut berasal dari populasi berdistribusi tidak
40
Putri Diana Novita, 2015
PENERAPAN MODEL OSBORN UNTUK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
normal, maka analisis datanya dilanjutkan pengujian kesamaan dua rata-rata secara nonparametrik dengan uji Mann-Whitney.
ii. Uji Homogenitas Varians
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 : Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensional mempunyai varians yang sama.
H1 : Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensional mempunyai varians yang berbeda.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
iii. Uji Perbedaan Dua Mean
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 :Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model Osborn tidak lebih baik daripadasiswa yang memperoleh pembelajaran dengan model konvensional.
H1:Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model Osborn lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran denganmodel konvensional.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
d. Analisis Data Indeks Gain (gain dinormalisasi)
Analisis indeks gain merupakan analisis kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah mendapat perlakuan. Data yang digunakan dalam analisis
41
Putri Diana Novita, 2015
PENERAPAN MODEL OSBORN UNTUK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kualitaspeningkatan kemampuan koneksi matematis siswa adalah indeks gain yang diperoleh dari rumus (Hake, 1999: 1):
= �
� � =
� − � 100− �
Dengan:
: Indeks Gain (gain yang dinormalisasi)
� : Nilai Gain
� � : Nilai Gain maksimum yang mungkin terjadi
� : Nilai Postes
� : Nilai Pretes
i. Normalitas
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 : Kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensionalmasing-masing berasal dari populasi berdistribusi normal.
H1 : Kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensionalmasing-masing berasal dari populasi berdistribusi tidak normal.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
Jika hasil pengujian menunjukkan kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensional berasal dari populasi berdistribusi normal, maka analisis datanya dilanjutkan dengan pengujian homogenitas varians. Jika hasil pengujian menunjukkan kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn atau model konvensional atau kedua model tersebut berasal dari populasi berdistribusi tidak normal, maka analisis datanya dilanjutkan
42
Putri Diana Novita, 2015
PENERAPAN MODEL OSBORN UNTUK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
pengujian kesamaan dua rata-rata secara nonparametrik dengan uji Mann-Whitney.
ii. Uji Homogenitas Varians
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 :Kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensional mempunyai varians yang sama.
H1 :Kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada model Osborn dan model konvensional mempunyai varians yang berbeda.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.
iii. Uji Perbedaan Dua Mean
Perumusan hipotesisnya adalah:
H0 :Kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model Osborn tidak lebih baik daripadasiswa yang memperoleh pembelajaran dengan model konvensional.
H1:Kualitas peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model Osborn lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model konvensional.
Kriteria Pengujian:
Jika nilai signifikansi (Sig.) ≥ α, maka H0 diterima.
Jika nilai signifikansi (Sig.) < α, maka H0 ditolak.