BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
A. Data Penelitian
2. Analisis Tingkat Pertumbuhan Pendapatan dan Belanja Operasional…
% 100 . 3 % 100 . 2 % 100 . 1 X TPD B DB X TPD BHP DDP X TPD PAD DDF = = = Keterangan :
DDF : Derajat Desentralisasi Fiskal,
PAD : Pendapatan Asli Daerah,
TPD : Total Penerimaan Daerah,
DDP : Derajat Desentralisasi Perpajakan Daerah,
BHP : Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak,
DB : Derajat Bantuan dan Sumbangan,
B : Sumbangan dan Bantuan Pemerintah Pusat,
2. Analisis tingkat pertumbuhan
Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan realisasi penerimaan dan belanja daerah dapat digunakan formula (Widodo, 1990 : 36 ) :
∆ X = ) t ( ) t ( t X X X 1 1 − − − X 100 % ……….…( 2-2 )
di mana :
∆ X = Rasio pertumbuhan realisasi penerimaan atau belanja daerah Xt = Jumlah penerimaan atau belanja daerah
X(t-i) = Jumlah penerimaan atau belanja daerah tahun sebelumnya.
3. Analisis Efisiensi
Efisiensi dapat diukur dengan rasio antara output/keluaran dan input/masukan sekunder, sedangkan analisis yang dilakukan terhadap pengelolaan keuangan daerah dengan belanja daerah menggunakan ukuran tingkat efisiensi yaitu perbandingan antara realisasi pengeluaran anggaran rutin dengan pendapatan/penerimaan daerah dikalikan dengan seratus dalam bentuk persentase.
Belanja daerah
Efisiensi = x 100 % ………..( 2-3 )
Penerimaan
Dengan mengetahui hasil perbandingan antara realisasi belanja daerah dan realisasi penerimaan dengan menggunakan ukuran efisiensi tersebut dapat dilakukan terhadap sistem pengelolaan keuangan pemerintah daerah, dengan kriteria penilaian berdasarkan pada Kepmendagri No.690.900.327 tahun 1994 tentang Pedoman Penilaian dan Kinerja Keuangan yang disusun dalam tabel berikut ini :
Tabel.3.1
PERSENTASE KINERJA KEUANGAN KRITERIA 100% keatas 90 % - 100 % 80 % - 90 % 60 % - 80 % dibawah dari 60 % Tidak efisien Kurang efisien Cukup efisien Efisien Sangat efisien
Sumber : Kepmendagri No.690.900.327 tahun 1994.
4. Analisis Efektivitas
Efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu organisasi. Apabila suatu organisasi mencapai tujuan maka organisasi tersebut telah berjalan dengan efektif. Analisis efektivitas pengelolaan keuangan pemerintah daerah dapat dirumuskan dengan menggunakan rasio perbandingan antara realisasi penerimaan dengan target yang ditetapkan dikalikan dengan seratus dalam bentuk persentase
Realisasi penerimaan
Efektivitas = x 100 %……….( 2 – 4)
Nilai efektivitas diperoleh dari perbandingan sebagai mana tersebut diatas diukur berdasarkan pada Kepmendagri No.690.900.327 tahun 1994 tentang Pedoman Penilaian dan Kinerja Keuangan yang disusun dalam tabel berikut ini :
Tabel.3.2
Kriteria Kinerja Keuangan
PRESENTASE KINERJA KEUANGAN KRITERIA
100% keatas 90 % - 100 % 80 % - 90 % 60 % - 80 % dibawah dari 60 % Sangat Efektif Efektif Cukup Efektif Kurang Efektif Tidak Efektif
Sumber : Kepmendagri No.690.900.327 tahun 1994.
E. Metode Analisis Data
Metode yang digunakan adalah metode Deskriptif. Metode analisa ini memaparkan masalah sedemikian rupa tentang peristiwa dan tingkah laku dari objek yang sedang diteliti, mengumpulkan data, menysun, menganalisa, dan kemudian menginterpretasikannya secara objektif.
F. Jadwal Penelitian Tabel 3.3 Jadwal Penelitian BAB IV Tahapan Penelitian 2011
Jan Feb Maret April Mei Juni Juli
Minggu ke 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Pengajuan Judul Penyelesaian Proposal Seminar Proposal Pengumpulan Data Pengolahan Data Bimbingan & Penyelesaian Sidang Komprehensif
ANALISIS DATA
A. Data Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan dua pendekatan yaitu penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Penelitian kepustakaan dilakukan dengan membaca berbagai buku literatur dan referensi lainnya, termasuk hasil-hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang diteliti, sehingga diperoleh landasan teori yang dapat mendukung analisis yang dilakukan nantinya. Penelitian lapangan dimaksudkan untuk menghimpun data dan informasi tersebut diperoleh dari Biro Keuangan, Instansi dan Unit Kerja terkait lainnya yang ada di Provinsi Sumatera Utara.
Pengelompokan dan pengumpulan data didasarkan atas jenis dan asal data, yang terdiri dari data sekunder yang berasal dari pendapatan daerah, belanja daerah, pendapatan asli daerah, bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak, dana sumbangan/bantuan bersumber pada APBD yang berasal dari data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang berasal dari Biro Keuangan Provinsi Sumatera Utara. Penelitian Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder runtut waktu (time series) meliputi data target dan realisasi pendapatan, belanja operasional dan target yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dalam penelitian ini dilakukan pada instansi yang berwenang yaitu Biro Keuangan Provinsi Sumatera Utara.
1. Objek penelitian
Pendapatan daerah yang berasal dari daerah sendiri seperti Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, retribusi daerah, bagian laba BUMD, pendapatan dinas-dinas
(BHBP) serta pendapatan yang bersumber dari pemerintah pusat seperti dana transfer pemerintah pusat dan bantuan pembangunan serta pinjaman daerah.
Berdasarkan paradigma baru yaitu Undang-undang nomor 22 dan 25 tahun 1999 disebutkan bahwa sumber-sumber pendapatan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi terdiri dari :
1. Pendapatan Asli Daerah yang terdiri hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan asli daerah yang sah;
2. Pendapatan Transfer yaitu terdiri atas transfer pemerintah pusat-dana perimbangan yaitu bagian daerah dari pendapatan pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dan pendapatan dari sumber daya alam, dana alokasi umum, dana alokasi khusus;dan transfer pemerintah-lainnya
3. Lain-Lain Pendapatan yang Sah.
Belanja Operasional adalah belanja yang manfaatnya hanya untuk satu tahun anggaran dan tidak menambah asset atau kekayaan bagi daerah, yaitu,: belanja administrasi umum terdiri dari : belanja pegawai, belanja barang, belanja perjalanan dinas, belanja pemeliharaan dan belanja operasi serta pemeliharaan sarana dan prasarana umum.
2. Data yang Diamati
a. Perkembangan pendapatan daerah
Struktur dan sumber pendapatan pendapatan daerah Provinsi Sumatera Utara dalam periode penelitian ini masih mengacu pada peraturan yang lama yaitu UU No 5 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Komposisi pendapatan daerah di Provinsi Sumatera Utara terdiri dari :
(a) pendapatan asli daerah, retribusi daerah, laba badan usaha milik daerah, pendapatan dinas-dinas dan pendapatan lain-lain,
(b) pendapatan transfer yang terdiri dari dana perimbangan dan transfer pemerintah pusat lainnya (c) lain-lain pendapatan yang sah,
Untuk mengetahui perkembangan pendapatan daerah Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat dalam tabel 4.1. dibawah ini.
Tabel 4.1
Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara 2005 – 2009
(dalam ribuan rupiah)
2005 2006 2007 2008 2009
Pendapatan Asli Daerah
Pajak Daerah 1301137842 1366445083 1542508890 2002004664 1834682281
Retribusi Daerah 18852328 11714728 13611812 29409174 29456736
Laba BUMD 8523503 90291200 74138551 89673273 90518048
Lain-lain Pandapatan Daerah 33304361 34157225 63587053 60224541 61416259
Total Pendapatan Asli Daerah 1361818034 1502608236 1693846306 2181311652 2016073324
Pendaptan Transfer
Transfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan
Bagi Hasil Pajak/bukan pajak 204646297 243124712 293724298 311139303 360207676
DAU 313745000 539718000 657357000 727910822 761054820
DAK 0 0 0 0 46303000
Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya 0 0 18000000 285398 2535789
Total Pendapatan Transfer 518391297 782842712 969081298 1039335523 1170101285
Total Pendapatan daerah 1906372005 2299465426 2685787992 3225853374 3212558704
Sumber : Laporan Realisasi APDB Sumatera Utara, Tahun 2005-2009(data diolah)
Melihat struktur pendapatan daerah Provinsi Sumatera Utara, yang paling besar berasal dari Pendapatan Asli Daerah, di mana pada tahun 2005 sebesar Rp 1,3 trilyun meningkat menjadi Rp 2,01 trilyun pada tahun 2009, kemudian diikuti Sumbangan dan Bantuan yang mengalami perubahan dari tahun 2005 yang awalnya tidak ada sampai dengan 2006 mengalami perubahan di tahun 2007 yaitu sebesar 18 triliun dan menurun di tahun 2009 yaitu sebesar 263 miliar , sementara Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak pada tahun 2005 melampaui pendapatan yang berasal dari sumbangan dan bantuan yaitu sebesar Rp 581 milyar tetapi pada tahun 2006 mengalami penurunan yaitu sebesar 412 miliar. Perkembangan Pendapatan Asli Daerah selama tahun pengamatan mengalami penurunan pada tahun 2007, hal ini disebabkan masih dianutnya Undang-undang Nomor 18 tahun 1997 di mana seluruh pungutan pajak dan retribusi yang bertentangan dengan undang-undang tersebut tidak dipungut lagi. Sebagai konsekuensinya adalah beberapa ayat pendapatan dari pajak daerah dan retribusi daerah yang potensial dan menjadi andalan dalam pendapatan PAD menjadi hilang.
b. Perkembangan pajak daerah.
Dari tabel 4.1 diatas dapat dilihat perkembangan pajak daerah dimana pada tahun awal penelitian sebesar Rp 1,30 triliun namun mengalami peningkatan pada 3 tahun berikutnya yaitu pada tahun 2006 sebesar 1,36, 2007 sebesar 1,54 triliun dan 2008 sebesar 2,01 triliun akan tetapi pada akgir tahun penelitian menurun 1,8 triliun. Untuk pajak daerah merupakan penyumbang terbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah.
c. Perkembangan retribusi daerah.
Apabila dilihat dari tahun awal penelitian yaitu tahun 2005, pendapatan retribusi sebesar Rp 18 milyar dan mengalami penurunan secara drastis pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp 11 milyar, dan pada akhir tahun penelitian meningkat lagi menjadi sebesar Rp 29,4 milyar.
d. Perkembangan belanja daerah
Dari sisi belanja daerah terdiri dari belanja operasional dan belanja modal, di mana belanja operasional tersebut digunakan untuk pembiayaan aparat pemerintah daerah dan tidak menambah asset atau kekayaan daerah terdiri dari : (a) sisa kurang perhitungan anggaran tahun lalu,
(b) urusan umum pemerintahan (c) pekerjaan umum,
(d) lalu lintas darat/sungai, (e) kesehatan umum
(f) pendidikan dan kebudayaan,
(g) sosial, perumahan dan tenaga kerja,
(h) pertanian, perumahan, perkebunan peternakan, perikanan, koperasi dan pertanahan, (i) perindustrian dan pertambangan,
(j) angsuran pinjaman/utang dan bunga, (k) pensiunan dan bantuan,
(l) ganjaran subsidi dan sumbangan, (m) belanja yang tidak termasuk bagian lain dan
(n) belanja tidak tersangka.
Untuk mengetahui perbandingan realisasi belanja operasional terhadap realisasi belanja daerah Provinsi Sumatera Utara, dimana dalam tabel tersebut dapat dilihat proporsi alokasi belanja operasional dibandingkan belanja pembangunan seperti terlihat di tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2
Perbandingan Realisasi Belanja Operasional Terhadap Total Belanja Provinsi Sumatera Utara dari tahun anggaran 2005 – 2009
(dalam ribuan rupiah)
TAHUN TOTAL BELANJA BELANJA OPERASIONAL PERSENTASE
1 2 2:: 1 ( %) 2005 1338476660 1030880056 77 2006 1651845779 1123446346 68 2007 2026383013 1340249248 66 2008 2284013871 1704273207 74,6 2009 2788510535 2084173484 74,7
Sumber : Nota Perhitungan APBD Sumatera Utara, Tahun 2005-2009 (data diolah)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa belanja operasional menerima alokasi yang lebih besar dibandingkan dengan belanja pembangunan, dimana terendah pada tahun anggaran 2007 yaitu sebesar 66 persen dan tertinggi pada tahun anggaran 2005 yaitu sebesar 77 persen, pada tahun ini dipengaruhi oleh adanya proyek-proyek pembangunan yang ditunda karena krisis moneter. Kemudian proporsinya kembali menurun pada 2 tahun berikutnya dan kembali meningkat pada 2 tahun akhir penelitian yaitu sebesar 74,6 persen dan 74,7 persen, dimana rata-rata selama tahun penelitian 72,06 persen.
B. Analisis Data
1. Analisis Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah dari Sisi Pendapatan
Untuk mengetahui tingkat kemampuan finansial Pemda Provinsi Sumatera Utara dalam membiayai kebutuhan anggaran belanja daerahnya serta perbandingannya dengan peranan sumbangan dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, dapat dianalisis dengan membandingkan rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Total Pendapatan Daerah (TPD). Sebagai perbandingannya diukur pula rasio Sumbangan dan Bantuan (B) pemerintah pusat terhadap Total Pendapatan Daerah serta rasio Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (BHP) terhadap Total Pendapatan Daerah.
Berdasarkan data realisasi pendapatan pendapatan daerah Provinsi Sumatera Utara tahun 2005 – 2009 sebagaimana tertera dalam tabel 4.1 Maka dapat dihitung rasio masing-masing komponen diatas dan hasil perhitungan rasio dimaksud adalah sebagaimana tertera pada tabel 4.3 berikut ini.
Tabel 4.3
Struktur Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemprov Sumatera Utara 2005 – 2009
(dalam ribuan rupiah)
URAIAN TAHUN ANGGARAN
2005 2006 2007 2008 2009 PAD DDF 1361818034 71,4 % 1502608216 65,3 % 1693846304 63 % 2181311593 67,6 % 2016073324 62,7 % BHP/BP DDP 204646297 10,7 % 243124712 10,5 % 293724298 11 % 311139303 9,6 % 360207676 11,2 % B DB 0 0 % 0 0 % 18000000 0,67 % 285398 0,008 % 2535789 0,07% TPD 1906371999 2299465406 2685787991 3225853317 3212558700 Sumber : Lampiran 3 Keterangan :
PAD = Pendapatan Asli Daerah TPD = Total Pendapatan Daerah
DDP = Derajat Desentralisasi Perpajakan Daerah BHP = Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
DB = Derajat Bantuan dan Sumbangan
B = Sumbangan dan Bantuan Pemerintah Pusat
Dengan melihat tabel 4.3 dapat diketahui bahwa rasio PAD terhadap TPD Provinsi Sumatera Utara cukup yaitu berkisar antara 62 – 71 persen. Kalau melihat perkembangannya pada 5 tahun penelitian berfluktuatif dimana pada tahun pertama berada pada 71 persen kemudian menurun pada tahun tahun kedua dan ketiga yaitu pada 65,3 dan 63 persen dan pada tahun keempat meningkat menjadi 67,6 persen dan pada akhir tahun penelitian menurun menjadi 62,7 persen. Sedangkan untuk Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak dari tahun 2005 sampai tahun 2009 menurun dari 10,7 persen menjadi 10,5 persen, kemudian meningkat menjadi 11 persen, pada tahun 2009 menjadi 11,2 persen. Demikian pula pada Sumbangan di mana peningkatan terjadi pada tahun ketiga dari 0 persen menjadi 0,67 persen kemudian turun menjadi 0,07 persen pada akhir tahun penelitian, itu membuktikan bahwasanya provinsi Sumatera Utara tidak lah tergantung pada sumbangan dari pemerintah pusat
Apabila dilihat dari kontribusi PAD terhadap TPD rata-rata dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 yaitu sebesar 66 persen dimana sesuai dengan tolok ukur kemampuan daerah yang dilakukan oleh Tim Peneliti Fisipol UGM dengan Litbang Depdagri Provinsi Sumatera Utara tergolong baik untuk membiayai penyelenggaran pemerintahan dan kebutuhan pembangunan di daerah. Namun kondisi ini diharapkan Pemda Provinsi Sumatera Utara untuk
terus menggali potensi sumber-sumber PAD agar dapat meningkatkan hasil pendapatan daerah khususnya PAD.
2. Analisis tingkat pertumbuhan pendapatan dan belanja operasional
Dalam menganalisis pertumbuhan pendapatan daerah dan belanja operasional dengan menggunaakan formula sebagai berikut :
∆ X = ) t ( ) t ( t X X X 1 1 − − − X 100 % ………( 3 – 1) di mana :
∆ X = Rasio pertumbuhan realisasi pendapatan atau belanja operasional Xt = Jumlah pendapatan atau belanja operasional
X(t-i) = Jumlah pendapatan atau belanja operasional tahun sebelumnya
Dengan menggunakan formula diatas dihasilkan pertumbuhan pendapatan daerah dan belanja operasional dapat dilihat dalam tabel 3.4 sebagai berikut :
Tabel 4.4
Pertumbuhan Realisasi Pendapatan dan Belanja Operasional Provinsi Sumatera Utara
2005 – 2009
Tahun Anggaran Pertumbuhan
(%)
Pendapatan Belanja Operasional 2005
2008 2009 20,10 (0,41) 27,16 22,29 Sumber : Lampiran 4
Dari tabel 4.4 di atas dapat dianalisis tingkat pertumbuhan penerimaaan di mana pada tiga tahun awal penelitian mengalami peningkatan sebesar 20,62 dan 16,8 serta 20,10 kemudian mengalami penurunan yang sangat drastis pada akhir penelitian yaitu 0,41 persen. Tingkat pertumbuhan belanja operasional, di mana pada 3 tahun penelitian mengalami kenaikan sebesar 8,97 persen kemudian meningkat lagi sebesar 19,28 persen dan kemudian meningkat lagi sebesar 27,16 persen, dan pada akhir tahun penelitian turun kembali sebesar 22,29 persen.