• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Tokoh dan Penokohan Novel Cintaku di Kampus Biru .1Tokoh Protagonis .1Tokoh Protagonis

NOVEL CINTAKU DI KAMPUS BIRU KARYA ASHADI SIREGAR

2.3 Analisis Struktur Novel Cintaku di Kampus Biru

2.3.2 Analisis Tokoh dan Penokohan Novel Cintaku di Kampus Biru .1Tokoh Protagonis .1Tokoh Protagonis

Tokoh protagonis merupakan tokoh yang menggerakkan cerita dari awal hingga akhir cerita. Tokoh protagonis pada novel ini yaitu Anton dan Erika. Dua tokoh tersebut sama-sama mengalami permasalahan atau konflik. Berikut ini penjelasan mengenai tokoh-tokoh tersebut.

55

Anton, tokoh dalam CKB yang berprofesi sebagai seorang mahasiswa merupakan tokoh protagonis yang muncul dari awal hingga akhir cerita. Tokoh Anton juga mengendalikan berjalannya alur cerita. Anton sebagai tokoh yang mengalami konflik digambarkan sebagai seorang aktivis berambut gondrong yang cerdas, kritis, dan tampan. Anton adalah seorang mahasiswa jurusan Antropologi, gambaran seorang mahasiswa yang berotak encer tapi playboy. Bermacam intrik di kalangan mahasiswa dimunculkan, termasuk perebutan posisi ketua dewan mahasiswa untuk tingkat universitas. Keaktivan Anton dalam organisai-oraganisasi kampus membuatnya dikenal bukan hanya dikalangan mahasiswa tapi juga para dosen. Anton memiliki pacar bernama Marini, gadis yang telah dipacari selama enam bulan tetapi selalu membebani Anton dengan sikapnya yang terkesan memaksa untuk segera dinikahi dan selalu mengejar-ngejar Anton.

Anton adalah pemuda yang simpel, hubungan percintaannya dengan Marini dianggap sebagai hubungan yang serius namun Anton ingin menjalani dengan apa adanya. Sikap cuek Anton memang sedikit mengganggi Marini, namun itu disebabkan karena kesibukan Anton dalam organisasi kampus. Selain itu Anton juga menjadi mahasiswa yang dipercaya dan dekat dengan dosen.

(33)

Lantas akan diapakan dia? Andainya dia percaya pada dirinya, tak perlu mendesakku terus-menerus. Toh aku mencintainya. Aku belum ada niat meninggalkannya. Rongrongannya betul-betul membuat aku takut menghadapinya. Apakah dia akan begitu setelah menjadi seorang istri? Mungkin malah lebih ekstrem. Ah, ah, ah, dia membuatku takut kawin. Jika kawin cuma membuat lelaki terkurung di rumah, nerakalah itu! Aku tak mau memikirkan itu. Tak mau, tak mau, tak mau! (CKB: 17)

56 (34)

"Ya, Tuhan," pikir lelaki itu. "Bagaimana aku bisa menahan rongrongan semacam ini? Belum lagi kawin, dia sudah berusaha menguasai aku. Ya, Tuhan, bagaimana bisa perempuan yang dulu kelihatan lembut ini sekarang jadi begini? Kalau dia jadi istriku, dia akan tidak peduli pada kesulitan-kesulitan yang kuhadapi. Dia cuma peduli pada kesulitan-kesulitannya." (CKB: 34)

(35)

"Sudah kubilang, hari ini tiada cinta. Kepalaku pusing memikirkan ujian, uang kuliah yang belum dibayar, pemilihan Dewan Mahasiswa, resolusi untuk dosen brengsek…." (CKB: 8)

Anton adalah mahasiswa yang memiliki karakter dan prinsip yang kuat. Apabila Anton merasa bahwa ia benar maka ia tidak akan mengalah ataupun mundur dalam argumentasi. Sikap tersebut yang menjadikan Anton disegani oleh teman-teman mahasiswa dan menjadi mahasiswa yang dekat dengan dosen.

(36)

"Jangankan seorang dosen, pemerintah pun akan saya gugat kalau tak berjalan pada keadilan dan kebenaran." (CKB: 29)

(37)

"Tentu saja tidak. Tapi, kau harus mengerti posisiku, Anton. Selama ini kau banyak membantu di fakultas kita. Sekarang pun kuharap begitu. Aku ingin kau tidak menambah keruwetan persoalan ini.” (CKB: 38)

(38)

"Saya tahu Saudara aktivis mahasiswa. Saya tahu banyak dosen segan kepada Saudara. Tapi, jangan kira saya pun akan takut. Akan saya buktikan bahwa obyektivitas ilmu bisa ditegakkan di fakultas ini!" ujar Bu Yusnita. (CKB: 29)

57

Tokoh protagonis yang digambarkan pada novel CKB selain Anton adalah Erika. Erika adalah seorang tokoh yang mendukung dan membantu menyelesaikan permasalahan Anton. Erikalah yang juga mampu memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan Anton. Sementara itu, tokoh Erika juga mengalami konflik. Seorang gadis sederhana, pendiam, dan bersifat apa adanya, dan menjadi pelabuhan cinta terakhir Anton.

Erika dikenal sebagai gadis yang pemalu, sangat bertentangan dengan Marini. Erika juga tidak cerewet, daya tarik yang muncul dari Erika muncul dari segala sikap pasif dan tak banyak bicara.

(39)

Erika melirik lelaki yang berjalan di sampingnya. Rambut lelaki itu melambai-lambai. Tubuhnya yang jangkung berjalan gontai. Seperti tak acuh. (CKB: 23)

(40)

"Mukanya mirip Dustin Hoffman. Kau ingat film The Graduate dan John and Mary, Ika ?" Erika mengangguk. Dia ikut memperhatikan lebih teliti wajah lelaki itu. "Ya, mirip," katanya. "Kau naksir?" "Ai, aku bisa dikutuk dia yang sedang di Jerman," kata Erika diiringi tawa. (CKB: 21)

(41)

"Mestinya begitu. Cuma, untuk si Gondrong itu, aku tak mengerti. Aku takut dipelototinya. Kau tahu, aku menantangnya tadi karena aku berusaha mengalahkan ketajaman matanya. Betul-betul aku gugup. Terus terang, Retno, Usman sendiri tak bisa membuatku gugup. Tapi, pelototan lelaki itu membuat aku merasa bersalah." (CKB: 21)

(42)

"Kau mikirin si Gondrong itu pasti!" Tuduhan Retno membuat Erika gelagapan. (CKB: 24)

58 2.3.2.2Tokoh Antagonis

Tokoh antagonis adalah tokoh yang menjadi pemicu timbulnya permasalahan. Pada novel CKB tokoh yang dimunculkan sebagai tokoh antagonis adalah Marini dan Bu Yusnita. Kedua tokoh tersebut telah memunculkan permasalahan pada tokoh protagonis. Berikut penjelasan dari kedua tokoh antagonis pada novel CKB.

Marini merupakan kekasih Anton, memiliki sifat yang penuh cinta tetapi cerewet dan selalu posesif terhadap Anton. Hubungan yang dijalani dengan Anton menurutnya bukanlah hal yang biasa. Marini tidak ingin dianggap sebagai mainan oleh Anton. Marini khawatir jika Anton belum melamar atau memiliki ikatan dengan Anton, ia hanya akan dipermainkan dan akhirnya ditinggalkan oleh Anton. Marini seorang perempuan yang emosional, terutama jika menyangkut hubungannya dengan Anton karena ia sangat mencintai Anton dan takut jika Anton berpaling pada gadis lain mengingat Anton adalah cowok playboy.

Marini bersifat keras kepala, ia selalu berpikiran negatif terhadap Anton. Bila ia merasa diabaikan maka ia akan menuntut untuk diperhatikan.

(43)

"Barangkali dia sekarang sedang mengejar-ngejar bom seks," katanya dalam hati. "Makanya mulai dingin. Kalau dia memang mencintaiku, tentunya dia akan senang bercumbu di semak-semak. Toh dia yang mengajak pertama kali ke semak itu. Dia yang menamakan tempat itu 'Semak Cinta'. Love grass. Semak Cinta. Hmmm, memang cintanya bersemak barangkali." (CKB: 10)

(44)

"Aku telah tahu gejalanya. Telah kelihatan gejalanya. Dia semakin tak acuh. Membuat gara-gara agar aku marah. Tapi, akan kulihat. Sampai berapa lama dia mati membuat

59

intimidasi begitu. Aku akan bersabar. Pokoknya aku akan menjaga diriku sebagai perempuan setia, bukan yang gampang memutus cinta.” (CKB: 10)

Sikap gengsi juga menjadi salah satu kebiasaan buruk Marini. Ia selalu memikirkan bagaimana orang lain memandang hubungannya dengan Anton. Kehidupannya selalu berisikan ketakutan apabila di tinggalkan oleh Anton.

(45)

"Kalaupun putus, biarlah teman-teman tahu bahwa yang berkhianat dia, bukan aku. Aku akan menjaga nama baikku. Orang akan bersimpati pada nasibku. Korban ke sekian playboy itu." (CKB: 10-11)

(46)

"Introspeksi. Ya, introspeksi. Aku telah mengintrospeksi diriku. Apa salahku? Aku berusaha menyenangkan hatinya. Dulu dia setengah mati berusaha menciumku. Sekarang, tak perlu setengah mati. Inisiatif datang dariku. Toh aku bukan pemalu lagi sekarang. Aku telah berinisiatif sebab wanita pun harus menunjukkan dirinya sejajar dengan lelaki. Apa salahnya aku agresif? Ya, aku harus agresif. Sebab, usiaku memaksa aku harus secepatnya mengikat dia. Enam bulan berhubungan, enam bulan pacaran. Aku harus berhasil mengikat dia. Dia tak boleh lepas. Tapi, Bajingan itu nampak-nampaknya berusaha melepaskan diri." Marini memanggil becak. (CKB: 11)

Tokoh Antagonis lain yang ditonjolkan pada novel CKB yaitu Bu Yusnita, dosen pemarah, tertutup, ditakuti oleh banyak mahasiswa, berparas cantik, dan pantas untuk dicintai. Anton berpikir bahwa Bu Yusnita sengaja mempersulit kelulusannya pada mata kuliah yang dibawakannya. Sifat sinis dan terkesan sebagai dosen killer membuat para mahasiswa takut bila menghadapinya. Sesungguhnya ada sisi lain yang dirasakan Anton terhadap Bu Yusnita. Meski

60

tertutup, dan pemarah, Anton sering memperhatikan kecantikan yang terpendam pada diri Bu Yusnita, tanpa disadari Anton mengaguminya.

(47)

"Itu menurut pendapat Saudara. Tapi, siapa yang memberikan penilaian? Saya atau Saudara?" "Saya tahu Saudara aktivis mahasiswa. Saya tahu banyak dosen segan kepada Saudara. Tapi, jangan kira saya pun akan takut. Akan saya buktikan bahwa obyektivitas ilmu bisa ditegakkan di fakultas ini!" ujar Bu Yusnita. (CKB:29) (48)

"Tidak akan ada pembicaraan tentang ujian Saudara! Selama saya memegang vak itu, hak untuk menguji ada pada saya. Dan, saya berhak menetapkan siapa yang akan saya uji dan siapa yang tidak!" (CKB: 30)

(49)

Dagu dosen wanita ini bagus juga. Runcing dan halus. Bagaimana seandainya dielus? Siapa lelaki yang pernah mengelusnya? Dan, bibirnya agak pucat. Ah, sayang. Kepucatan ini pasti lantaran tak ada yang mengulumnya. Padahal bentuk bibir itu cukup mengandung magnit. Lekukannya menunjukkan pasti pemiliknya manja kalau mengeluh dalam kecupan. Ah, ah, ah, lehernya yang jenjang. Leher perempuan kurus. Tetapi, pastilah dia menggial kalau leher itu dicium. Apalagi kalau digosok dengan dagu yang masih ada sisa jenggot dari cukuran. Ya, lehernya ini, bukan main! Dari bentuk leher ini bisa diketahui bahwa pemiliknya seorang melankolis. Introvert. Karena itu akan lunak sekali setelah terkena selahnya. Perempuan ini sekategori dengan Marini. Dingin sebelum dekat, tetapi menggebu-gebu kalau sudah kena. Coba, kalau perempuan ini dikucel-kucel, dia pasti cuma tergila- gila dan mengeluh, "Aduh, Anton….. " (CKB: 27-28)

Sikap Bu Yusnita yang cenderung sinis terhadap Anton ternyata memiliki sisi yang berbeda, Bu Yusnita sebetulnya menaruh perasaan suka terhadap Anton. Perasaan itulah yang selama ini menjadikan Bu Yusnita terlihat sensitif di depan Anton. Anton pun mengetahui perasaan yang

61

terpendam pada diri Bu Yusnita, mereka menjadi dekat satu sama lain tetapi Bu Yusnita mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan hal yang menurut Bu Yusnita tidak semestinya di lakukan bersama Anton.

(50)

“Sudahlah, Anton, kau sudah tahu seluruhnya. Kau sudah tahu aku mencintaimu, tapi tak mungkin kuteruskan. Kita harus berhenti, dan aku harus mulai berpikir: dunia hari ini adalah hari ini.” (CKB: 99)

Berdasarkan hal tersebut, tokoh Marini dan Bu Yusnita dihadirkan sebagai penghalang terwujudnya keinginan-keinginan atau cita-cita Anton. Marini dan Bu Yusnita muncul untuk menimbulkan adanya konflik permasalahan dalam cerita melalui tokoh Anton. Sehingga, tokoh Marini dan Bu Yusnita disebut sebagai tokoh antagonis.

2.3.2.3Tokoh Tritagonis

Dalam novel CKB terdapat dua tokoh tritagonis, yaitu Pak Gunawan sebagai seorang dekan dan Kusno sahabat Anton. Keduanya disebut sebagai tokoh tritagonis karena kehadirannya hanya di saat-saat tertentu ketika Anton sedang mengalami permasalahan. Baik tokoh Pak Gunawan maupun Kusno, sama-sama hadir untuk mendukung dan memihak Anton untuk membantu Anton menemukan solusi permasalahannya.

Berkaitan konflik antara Anton dan Bu Yusnita, Pak Gunawan, seorang dekan yang selalu menjadi panutan Anton, di saat Anton mendapatkan masalah baik secara akademik maupun pribadi, Pak Gunawan selalu membantu Anton.

62

Menasihati bila Anton melakukan keteledoran. Anton yang mendapat ancaman DO setelah memrotes dan menentang keputusan Bu Yusnita, dipanggil secara pribadi oleh Pak Gunawan. Beliau ingin mendengar peristiwa yang sesungguhnya dari Anton. Pak Gunawan mengusahakan mempertahankan Anton yang mendapat ancaman DO dari Bu Yusnita. Pak Gunawan sebagai penengah, tanpa memihak siapa pun dan dapat menetralkan situasi antara Anton dan Bu Yusnita yang saat itu memanas.

(51)

"Begini, Anton. Bu Yusnita tadi meminta dewan dosen bersidang untuk membicarakan soal kau. Katanya kau menghinanya. Aku ingin mendengar keteranganmu sendiri." (CKB: 36)

(52)

"Tentu saja tidak. Tapi, kau harus mengerti posisiku, Anton. Selama ini kau banyak membantu di fakultas kita. Sekarang pun kuharap begitu. Aku ingin kau tidak menambah keruwetan persoalan ini.” (CKB: 41)

(53)

"Jangan mendesak dosenmu. Sebab, bagaimana pun juga mereka punya rasa se-korps." "Aku tidak mentolerir tindakan-tindakan yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran ilmiah. Tapi, persoalannya tidak sesederhana menegakkan kebenaran itu. Kita menghadapi realita yang kompleks. Dan, yang terpenting, aku tidak menghendaki stabilitas di fakultas kita terganggu, selama aku menjadi dekan," kata dekan itu. (CKB: 42)

Beralih dari tokoh Pak Gunawan, dimunculkan tokoh Kusno yaitu tokoh tritagonis kedua. Kusno merupakan sahabat Anton yang selalu bersama Anton. Kusno yang ternyata menaruh perasaan suka terhadap Marini, pada saat

63

melakukan riset di Dieng Kusno mendapat mandat dari Anton untuk menjaga Marini ke mana pun Marini pergi. Hal itu dilakukan Anton karena Anton sedang medekati Bu Yusnita. Dari situlah awal mula perasaan suka Kusno terhadap Marini. Mengetahui hal tersebut Anton yang awalnya marah dan kecewa, akhirnya menyetujui hubungan Kusno dan Marini.

Sebagai seorang sahabat dan orang yang paling dipercaya oleh Anton, Kusno selalu mengikuti perkataan Anton. Dikala Anton sedang mengalami kesulitan Kusno selalu menjadi pendengar dan penghibur Anton. Sedikit pun tak ada perasaan Kusno yang menunjukkan sisi negatif.

(54)

"Tak bisa kuhindarkan," kata Kusno. "Kau menyuruhku mengawal Marini. Tapi, aku tidak bisa menetralkan perasaanku. Aku ingin tak ada perasaan istimewa, tetapi ternyata suasana alam gunung ini menyebabkan aku tak mampu membunuh perasaanku. Selama menjalankan tugas bersama-sama, simpatiku tumbuh. Kami seperti bukan lagi orang yang mengawal dang dikawal. Lebih dari itu, aku mencintainya." (CKB: 101-102)

(55)

"Bagus. Teruskanlah." Kusno terpana. Tetapi, dia merasakan tangan Anton yang menepuk-nepuk bahunya. Karena

bertatapan, Kusno pun menyentuh bahu Anton. (CKB: 102)

2.3.3 Ananlisis Latar Novel Cintaku di Kampus Biru