• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.5 Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori .1Tinjauan Pustaka .1Tinjauan Pustaka

1.5.2.1 Analisis Struktural

1.5.2.1.2 Tokoh dan Penokohan

Berdasarkan kriteria cara pengakhirannya, alur terbagi dalam dua jenis berikut ini.

Alur tertutup

Alur yang memiliki penyelesaian yang jelas, penampilan kisahnya diakhiri dengan kepastian atau secara jelas.

Alur terbuka

Alur yang memiliki penyelesaian yang tidak jelas atau menggantung. Penampilan kisahnya diakhiri secara tidak pasti, tidak jelas, serba mungkin. Jadi akhir ceritanya diserahkan kepada imajinasi pembaca atau penonton.

(http://winawimala.wordpress.com/2011/03/24/jenis-alur-drama/).

1.5.2.1.2 Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Menurut Abrams (1981, lewat Nugiyantoro, 2005: 165), tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Menurut Luxemburg (lewat Nurgiyantoro, 2005: 180), tokoh dapat dikategorikan protagonis jika tokoh tersebut diberi lebih banyak kesempatan untuk mengemukakan visi, sikap, atau pandangan sehingga memungkinkan memperoleh simpati dan empati pembaca. Dengan kata lain,

13

tokoh protagonis dapat membuat pembaca mengidentifikasi diri dengannya dan melibatkan diri secara emosional terhadapnya. Tokoh antagonis adalah tokoh yang beroposisi atau bertentangan dengan tokoh protagonis sehingga memunculkan konflik.

Berdasarkan peran, tokoh dalam karya sastra dibedakan sebagai berikut: a. Tokoh Protagonis

Tokoh protagonis adalah tokoh yang berprakarsa dan berperan sebagai penggerak alur. Biasanya hanya ada satu atau dua tokoh protagonis yang dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat dalam lakuan. Tokoh protagonis adalah tokoh yang pertama yang menghadapi masalah dan terbelit kesulitan. Tokoh protagonis sangat berkaitan erat dengan tokoh cerita. Tidak ada “ia” maka tidak ada cerita. Pengarang “menaruh hati” dan pembaca “bersimpati” kepadanya. (Nurgiyantoro, 2005: 178-181).

b. Tokoh Antagonis

Tokoh antagonis berfungsi sebagai penghalang dan masalah bagi tokoh protagonis. Tokoh antagonis beroposisi dengan tokoh protagonis baik fisik maupun batin. Biasanya seorang tokoh antagonis dan beberapa orang tokoh yang ikut berperan sebagai penghalang/masalah bagi tokoh protagonis. Penyebab terjadinya konflik dalam cerita adalah tokoh antagonis, kekuatan antagonis, (tidak harus orang/tokoh, bisa juga suasana, bencana yang direspon oleh tokoh protagonis), atau keduanya. (Nurgiyantoro, 2005: 178-181).

14 c. Tokoh Tritagonis

Tokoh yang berpihak pada protagonis atau antagonis atau berfungsi menjadi penengah antara kedua tokoh tersebut (Nurgiyantoro, 2005: 178-181).

Penokohan adalah hal-hal yang berkaitan dengan tokoh, meliputi siapa tokoh cerita, pelukisan tokoh, dan karakterisasi (Nurgiyantoro, 2005: 164-165). Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, yaitu pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Penokohan dan karakterisasi sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan yang menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita.

1.5.2.1.3 Latar

Abrams (1981, lewat Nurgiyantoro, 2005: 216) menjelaskan latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Tahap awal karya fiksi pada umumnya berisi penyituasian, pengenalan terhadap berbagai hal yang akan diceritakan. Misalnya, pengenalan tokoh, alur, pelukisan keadaan alam, lingkungan, suasana tempat, mungkin juga hubungan waktu, dan lain-lain yang dapat menuntun pembaca secara emosional kepada situasi cerita (Nurgiyantoro, 2005: 217).

15

Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut:

a. Latar tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi (Nurgiyantoro, 2005: 227-234). b. Latar waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah (Nurgiyantoro, 2005: 227-234).

c. Latar sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual seperti dikemukakan sebelumnya. Di samping itu, latar sosial juga behubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau atas (Nurgiyantoro, 2005: 227-234).

16 1.5.2.1.4 Tema

Tema dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel. Gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita (Nurgiyantoro, 2005: 70).

Dalam sebuah cerita, tema dapat berjumlah lebih dari satu. Tema dapat dibagi menjadi dua, yakin tema mayor (tema utama) dan tema minor (tema tambahan). Tema minor sebagai makna-makna tambahan yang ada dalam sebuah cerita bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan tidak berkaitan dengan makna pokok. Dengan demikian tema mayor memiliki makna sebagai rangkuman dari tema-tema minor (Nurgiyantoro, 2005: 82-83).

Penentuan tema dapat dilakukan dengan memahami cerita secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudian mencari kejelasan ide-ide perwatakan, peristiwa-peristiwa dan konflik, dan latar. Tema disaring dari motif-motif yang ada dalam cerita. Empat kriteria dalam usaha menemukan tema sebuah novel ditemukan oleh Stanton (Nurgiyantoro, 2005: 87). Pertama, dengan mempertimbangkan tiap detil cerita yang menonjol. Kedua, tidak bertentangan dengan tiap detil cerita. Ketiga, tidak mendasarkan pada bukti-bukti yang tidak dinyatakan baik secara langsung maupun tak langsung dalam novel yang bersangkutan, tema tidak dapat ditafsirkan hanya berdasarkan perkiraan, imajinasi, atau informasi lain yang diragukan. Keempat, dengan mendasarkan diri pada bukti-bukti yang secara langsung ada dan atau yang disarankan.