Hasil dan Pembahasan
4.2.1 Analisis Berdasarkan Psikologi Sastra Tokoh Putri Anggrek Dalam Novel
4.2.1.3 Analisis Tokoh Putri Anggrek Berdasarkan Superego
hidangan, dan acara makan ini berlangsung hingga tiga hari.
Meskipun demikian, aku mengalami saat-saat yang tak tertahankan. Aku bisa mendengar suara nyanyian, tawa dan teriakan orang-orang yang mabuk melalui dinding, tetapi aku tak diperbolehkan bergabung dalam pesta. Aku diminta duduk diam dalam ruangan yang berhiaskan pita merah dan emas. Labu kering yang dilukisi wajah anak-anak digantungkan segala penjuru ruangan, dan aku disuruh memandangi wajah-wajah itu guna meningkatkan kesuburan.” (Empress Orchid, 2004:83)
4.2.1.3 Analisis Tokoh Putri Anggrek Berdasarkan Superego
…”Kurasakan tatapan tajam menyerbuku dari setiap arah saat kuangkat cangkir itu ke bibir. Paham benar apa yang mereka rasakan, aku meneguk sedikit, lalu mengedarkan cangkir itu berkeliling. Cangkir itu beredar dari tangan ke tangan sampai tak setetes pun tersisa. Setelah itu, gadis-gadis tadi tampak sedikit lebih santai. Sicantik berwajah bulat telur dengan mata eksotis tadi melambai kepadaku dari bangkunya. Saat aku mendekat, dia bergeser sedikit.“Aku Nuharoo,” dia tersenyum. “Yehonala,” aku duduk disampingnya. Begitulah aku dan Nuharoo saling memperkenalkan diri.” ” (Empress Orchid, 2004:49-51)
Analisis :
Putri Anggrek dari awalnya adalah orang yang berani mengambil kesempatan. Disaat semua calon istri kekaisaran didera lapar dan haus menunggu kedatangan Kaisar Hsien Feng menemui mereka. Putri Yehonala malah dengan memberanikan diri berbisik pada An-te-hai Kasim yang bertugas sebagai ketua grup mereka meminta secangkir air untuk diminum. Dan setelah secangkir teh berada ditangannya saat itu juga Putri Yehonala membagikan secangkir teh tersebut kepada teman-temannya tanpa bersikap egois. Hal ini dapat dikatakan bahwa Sang Putri memliki sikap yang ramah dan tidak egois , sama-sama berbagi dengan lingkungannya. Dan tidak menghabiskan secangkir air tersebut untuk dirinya sendiri. Karena sikapnya inilah
yang mempertemukan dirinya dengan Nuharoo Ratu kekaisaran terpilih saat itu. Hingga persahabatan itu berlangsung lama.
Jika dikaitkan dengan psikologi sastra Sigmund Freud, disini Superego berperan
penting, dimana Putri terlihat kehausan namun ia masih bersedia membagi secangkir air yang dimlikinya dengan beberapa orang yang kehausan lainnya, Ego dikalahkan oleh Superego, dimana Putri juga tahu dan mengerti bahwa Ia juga sama dengan mereka merasa sama-sama membutuhkan setetes air untuk menyiram tenggorokan yang kering.
Kutipan:
“Bertahun-tahun kemudian orang akan mengatakan bahwa aku cemburu pada Nuharoo, tetapi pada saat itu aku benar-benar tak merasakannya. Aku sedang disibukkan dengan nasib baikku sendiri. Aku tak dapat melupakan lalat-lalat yang melapisi peti mati Ayah dan bagaimana ibu menjual jepit rambutnya. Aku juga tak bias melupakan bahwa aku pernah bertunangan dengan sepupu Ping. Aku merasa tak bisa mengucapkan cukup syukur dan terima kasih kepada Surga atas apa yang terjadi terhadap diriku”.(Empress Orchid, 2004:83)
Selama bertahun kemudian diketahui dari cuplikan diatas bahwa Putri Yehonala berada ditengah-tengah lingkungan yang menganggapnya memiliki rasa cemburu pada Putri Nuharoo yang mana berperan sebagai Ratu pada masa itu. Dan banyak orang menganggap bahwa kelebihan yang dimiliki Putri Nuharoo penyebab timbulnya rasa cemburu tersebut. Dicuplikan ini Putri menjelaskan bahwa asumsi tersebut salah, yang ada pada saat itu adalah Sang Putri terlalu bercermin pada kesedihan masa lalunya. Dan yang sebenarnya yang dirasakan Putri adalah berupa rasa syukur karena perubahan nasib yang dengan cepat menimpanya dan dapat menyelamatkan keadaan keluarganya dari keterpurukan.
…”Kami sudah berada dijalan ketika kakak Fann mengatakan bahwa kami akan kewisma Lotus.
“Kakak Fann!” Aku tahu rumah macam apa itu, dan sedikit merasa ragu.“Aku berharap kita punya pilihan lain, Anggrek,” kata Kakak Fann dengan nada meminta maaf. Aku berdiri di tengah jalan, tak bias mengambil keputusan. “apa yang kau pikirkan, Anggrek?”
“Cara memenangkan hati Yang Mulia,” kalimat itulah yang terlontar dari mulutku. “kalau begitu ayo, Anggrek. Kita akan memanfaatkan rumah itu hanya untuk apa yang mereka bisa ajarkan kepada kita—cara memuaskan lelaki.” (Empress Orchid, 2004:176-177)
Analisis:
Kutipan ini mejelaskan bahwa ada rasa ragu yang mendera Puteri Anggrek atau Putri Yehonala ketika Ia dan kakak Fann pergi kesebuah rumah bordil dikota demi mempelajari tekhnik merayu lelaki. Hal ini dianggapnya melanggar batas norma kesusilaan, apalagi untuk seorang Putri dari kalangan kerajaan seperti dirinya. Sang Putri jelas sekali merasa norma kesopanan membuatnya merasa ini tidak pantas untuk dilakukan. Saat itu Sang Putri sempat berfikir untuk mundur dari ide tersebut, namun niat untuk berusaha lebih dekat dengan Kaisar Hsien Feng membunuh rasa gundah Sang Putri.
Jika dikaitkan dengan psikologi sastra Sigmund Freud, Putri Yehonala jelas sekali dengan apa yang akan dilakukannya dirumah Bordir tesebut, namun ketika Ia tahu bahwa jalan terbaik yang harus dilakukan adalah pergi kerumah Lotus. Superego Putri Yehonala yaitu suara hatinya mengatakan hal ini tidak pantas dilakukan oleh seorang bangsawan seperti dirinya, namun ego nya mendukung keras Putri Yehonala untuk mencapai tujuannya melalui belajar dirumah lotus cara membuat seorang lelaki senang.
…“Semoga malam Anda menyenangkan, Yang Mulia,”kataku lalu melangkah ke pintu. Aku pasti menyesal melakukan ini bila saja aku sedikit lebih tua, tetapi aku masih muda dan darahku mengelak panas seperti air panas. Situasi ini membuatku sangat marah. Aku tahu bahwa aku akan dipancung karena prilakuku, jadi aku ingin mengakhiri semua ini dengan caraku.
“Berhenti!” Kaisar memanggil dari belakang. “Kau baru saja menghina Putra Surga.” Aku berbalik, dan melihat seulas seringai lebar di wajahnya. (Empress Orchid, 2004:202)
“Kalau Anda ingin menghukumku,” ujarku, berdiri tegak, “Aku hanya berharap bahwa Anda cukup baik hati untuk membuat hukukman itu berlangsung cepat.” .(Empress Orchid, 2004:202)
Faktor usia yang masih muda saat itu, sangat mempengaruhi emosi Putri. Emosi yang memuncak mengalahkan rasional berpikir Putri. Jelas sekali Putri menyadari perbuatannya ini tidak menghargai kehormatan seorang Kaisar, namun emosi sudah sangat mencapai puncaknya hingga membuat Putri memutuskan untuk keluar ruangan dan meninggalkan Kaisar sendiri didalam kamar.
Jika dikaitkan dengan teori Sigmund Freud, di kutipan ini jelas kali terlihat bahwa telah terjadi interaksi yang kuat antara suara hati dari super ego membuatnya terlihat emosi yang tidak stabil. Dia melawan suara hatinya untuk tidak berkata dengan nada yang tidak sopan pada seorang Kaisar yang sekarang adalah sang Suami yang selalu dirindukannya.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dari pembahasan mengenai tokoh utama dari Novel
Empress Orchid karya Anchee Min Dianalisis dari segi psikologi sastra Sigmund Freud, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Ditemukan Superego lebih dominan, dimana Putri Anggrek selalu mengandalkan suara hatinya untuk memutuskan mana yang terbaik untuk dilakukan. Hal ini tercermin ketika Ia merasakan keraguan sejenak ketika harus pergi kerumah Lotus, rumah Bordir ternama pada zaman tersebut.
2. Ego tokoh Putri Anggrek atau Yehonala lebih sering muncul ketika dibandingkan dengan Id. Setiap perilakunya timbul dari niatnya untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Setiap tujuan pasti memiliki pengahalang. Hal ini tercermin ketika Putri harus mematuhi peraturan kerajaan dan harus mengontrol kesenangannya pada awal-awal cerita.
3. Unsur Id tokoh Putri Anggrek adalah perilakunya tak lagi mementingkan apa yang harusnya dilakukan ketika Putri merasa harus mengikuti audiensi yang hanya diikuti para lelaki saja, dan juga ketika Putri terlibat cinta terlarang dengan Yung Lu yang juga pejabat tinggi Kerajaan.
5.2 Saran
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapoat memberikan sumbangan pemikiran