TINJAUAN PUSTAKA 2.1Kulit
2.12 Analisis Ukuran Partikel
kedua peristiwa tersebut, emulsi masih dapat diperbaiki melalui pengocokan (Lund, 1994).
Koalesen dan demulsifikasi terjadi bukan semata-mata karena energi bebas permukaan tetapi juga disebabkan oleh ketidaksempurnaan pelepasan globul. Koalesen adalah peristiwa terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar, sedangkan demulsifikasi terjadi akibat proses lanjutan dari koalesen. Untuk kedua peristiwa ini, emulsi tidak dapat diperbaiki melalui pengocokan (Lund, 1994).
Ketidakstabilan emulsi yang lain adalah terjadinya inversi fase. Inversi fase terjadi bila emulsi yang semula merupakan emulsi minyak dalam air (m/a) berubah menjadi emulsi air dalam minyak (a/m). Inversi fase dapat terjadi karena jumlah fase terdispersi ditingkatkan hingga mencapai atau melebihi batas maksimum yaitu 74% dari volume total, perubahan suhu, atau penambahan bahan yang dapat mengganggu kestabilan emulsi. Inversi fase juga dapat terjadi karena penggunaan peralatan yang kotor atau prosedur pencampuran yang salah (Lund, 1994).
2.12 Analisis Ukuran Partikel
Mikromimetik adalah ilmu dan teknologi tentang partikel kecil, salah satunya adalah partikel. Dalam bidang kefarmasian terdapat beberapa informasi yang perlu diperoleh dari partikel, yaitu bentuk dan luas permukaan partikel serta ukuran partikel dan distribusi partikel. Data tentang ukuran partikel diperoleh dalam diameter partikel dan distribusi diameter partikel, sedangkan bentuk partikel member gambaran tentang luas permukaan spesifik partikel dan teksturnya (Martin et al, 1993).
23
Metode mikroskopik merupakan metode sederhana yang hanya menggunakan satu alat yaitu mikroskop yang bukan merupakan alat yang rumit dan memerlukan penanganan khusus. Kerugian dari metode mikroskopik adalah bahwa garis tengah yang diperoleh hanya dua dimensi dari partikel tersebut yaitu diameter, selain itu jumlah partikel yang harus dihitung sekitar 200-500 partikel agar mendapatkan suatu perkiraan yang baik dari distribusi, sehingga metode ini membutuhkan waktu dan ketelitian (Martin et al, 1993).
Setiap kumpulan partikel biasanya berupa polidispersi. Oleh sebab itu, perlu untuk mengetahui tidak hanya ukuran partikel tertentu, tetapi juga jumlah partikel berukuran sama yang terdapat dalam sampel. Jadi, kita membutuhkan suatu perkiraan kisaran ukuran yang ada dan banyaknya atau berat fraksi setiap ukuran partikel atau disebut juga dengan distribusi partikel (Sinko, 2006).
Berdasarkan distribusi partikel ini kita dapat menghitung ukuran partikel rerata untuk sampel tersebut. Distribusi ukuran partikel dilihat dengan cara memplotkan jumlah partikel yang terletak dalam suatu kisaran ukuran tertentu terhadap kisaran ukuran atau ukran partikel rata-rata, maka akan diperoleh kurva distribusi frekuensi. Dari kurva distribusi frekuensi dapat dilihat juga ukuran partikel berapa yang sering muncul (Sinko, 2006).
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pesatnya pertumbuhan produk yang mengandung tabir surya menunjukkan bahwa orang sadar akan bahaya photoaging dan kanker kulit, terjadi sebagai akibat dari sengatan matahari yang berlebihan. Setiap tahun, sekitar satu juta orang didiagnosis dengan kanker kulit dan sekitar 10.000 meninggal karena melanoma ganas (Dutra et al, 2004). Kanker kulit terjadi pada daerah tubuh yang paling sering terkena sinar matahari, seperti wajah, leher, kepala, dan punggung tangan (Dutra et al, 2004).
Ada dua macam komponen sinar ultraviolet yang mencapai bumi, yaitu UVA (320-400 nm) dan UVB (290-320 nm). UVB merupakan komponen yang mempunyai daya rusak tinggi pada kulit, sedangkan UVA lebih condong dapat merusak kulit dengan bantuan fotosinsitizer kimia baik alami maupun sintesis yang terdapat pada kulit (Wasitaatmadja, 1997).
Kulit manusia secara alami mempunyai sistem perlindungan terhadap sinar UV yaitu penebalan stratum corneum, pembentukan melanin, dan pengeluaran keringat. Namun pada kontak yang berlebihan, paparan sinar UV yang terlalu lama menjadikan sistem alamiah tersebut tidak berfungsi dengan baik sehingga menyebabkan efek yang merugikan bagi kulit. Oleh karena itu diperlukan senyawa tabir surya untuk melindungi kulit dari radiasi UV secara langsung (Cumpelik, 1972).
Tabir surya bekerja dengan dua mekanisme yaitu penghambat fisik (physical blocker) dan penyerap kimia (chemical absorber). Penghambat fisik
2
terdiri dari TiO2, ZnO, kaolin, CaCO3, MgO. Penyerap kimia meliputi PABA, PABA ester, benzofenon, salisilat, antranilat, yang dapat mengabsorbsi hampir 95% radiasi sinar UVB yang dapat menyebabkan sunburn (eritema) dan menghalangi UVA penyebab direct tanning, kerusakan sel elastin, actinitic skin
damage, dan timbulnya kanker kulit (Wasitaatmadja, 1997).
Penelitian ini menggunakan bahan tabir surya kimia, yaitu avobenzone sebagai penyerap UVA dan oktilmetoksisinamat sebagai penyerap UVB. Konsentrasi avobenzone yang umum adalah 3% dan konsentrasi oktilmetoksisinamat adalah 7,5% (Rieger, 2000). Pemilihan kedua bahan ini didasari oleh banyaknya kosmetik dipasaran yang mengandung kedua bahan tersebut dalam bentuk sediaan krim, losion, dan emulsi.
Untuk mengaplikasikan kombinasi avobenzone dan oktilmetoksisinamat pada kulit perlu dibuat suatu sediaan topikal untuk penggunaan lokal pada kulit. Ada berbagai macam bentuk sediaan topikal, antara lain lotion, cream, gel dan emulgel. Emulgel merupakan campuran emulsi dan gel. Atas dasar kelebihan dari emulsi yaitu terdapat fase minyak yang berfungsi sebagai emolien atau occlusive yang akan mencegah penguapan sehingga kandungan air di dalam kulit dapat dipertahankan juga dapat melarutkan avobenzone dan oktilmetoksisinamat karena kedua bahan ini tidak larut dalam air dan kelebihan gel yang dapat memberikan rasa dingin di kulit dengan adanya kandungan air yang cukup tinggi sehingga nyaman digunakan (Mitsui, 1997), sehingga pada penelitian ini digunakan sediaan emulgel.
Pada sediaan emulgel terdapat sistem gel dan sistem emulsi. Pada penelitian ini digunakan tween 20 yang berfungsi sebagai agen pengemulsi
3
(emulgator) dan dibuat dalam 7 variasi konsentrasi yaitu 0,1%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, dan 3% sebagai sistem emulsi. Pada sistem gel digunakan hidroksi propil metil selulosa yang berfungsi sebagai agen pembentuk gel.
Hidroksi propil metil selulosa merupakan agen pembentuk gel yang aman digunakan karena tidak toksik dan tidak mengiritasi (Rowe, 2009). Evaluasi sediaan tabir surya dilakukan dengan uji mutu fisik sediaan yang meliputi uji organoleptis, pH, viskositas, homogenitas, uji iritasi, uji mikroskopik, dan uji nilai SPF sediaan sebagai tabir surya.