BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Univariat
Pada penelitian ini dilakukan analisis univariat untuk melihat gambaran distribusi frekuensi pada variabel-variabel yang diteliti. Adapun hasil analisis univariat pada penelitian ini akan dijelaskan pada sub-bab berikut ini.
4.1.1. Karakteristik Umum Subjek Penelitian
Tabel 4.1. Karakteristik Umum Subjek Penelitian
Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Interval Rerata
(tahun) Usia <60 tahun 61-69 tahun 70-79 tahun ≥80 tahun 33 16 7 1 57.9 28.1 12.3 1.8 21-86 55.05 Jenis kelamin Perempuan Laki-laki 23 34 40.4 59.6 Kontrol Tekanan Darah
Terkontrol Tidak terkontrol 21 36 36.8 63.2 Derajat Retinopati Hipertensif
Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV 21 16 15 5 36.8 28.1 26.3 8.8 Kebiasaan Merokok Merokok Tidak Merokok 15 42 26.3 73.7
Pada penelitian ini usia pasien retinopati hipertensif berkisar antara 21 tahun sampai 86 tahun, dengan rerata usia 55,05 tahun. Hasil ini sesuai dengan
penelitian Besharati et al yang menunjukan pasien retinopati hipertensif memiliki rentang usia antara 25 sampai 85 tahun.5 Hasil rerata usia pada penelitian ini sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dikutip oleh Wong, yaitu tanda-tanda perubahan mikrovaskular pada retinopati hipertensif umumnya tampak pada usia 40 tahun atau lebih.21 Hal ini berhubungan dengan persentase orang dewasa yang menderita hipertensi meningkat pada usia diatas 40 tahun.32
Pasien paling banyak pada kelompok usia <60 tahun yaitu sebesar 57,9% dan jumlahnya menurun sejalan dengan bertambahnya usia, serta paling sedikit
pada kelompok usia ≥80 tahun dengan persentase 1,8%. Hasil ini berbeda dengan penelitian Liew et al dan Wang et al yang menunjukan pasien dengan tanda
mikrovaskular retina paling banyak pada usia ≥80 tahun, dan jumlahnya
meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.33,34 Perbedaan hasil penelitian ini dan penelitian sebelumnya disebabkan oleh perbedaan gambaran prevalensi hipertensi di Indonesia dengan di negara lain. Kejadian hipertensi di Indonesia meningkat antara usia 35 sampai 55 tahun dan mengalami penurunan pada usia lebih dari 64 tahun.35 Penurunan jumlah pasien yang berusia lanjut berkaitan dengan angka harapan hidup di Indonesia, yaitu sekitar 67,8 tahun.36
Pasien retinopati hipertensif pada penelitian ini lebih banyak laki-laki daripada perempuan, yaitu 59,6% pasien laki-laki dan 40,4% pasien perempuan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Chao et al yang menunjukan retinopati hipertensif lebih banyak terjadi pada laki-laki dan terdapat hubungan antara jenis kelamin laki-laki dengan retinopati hipertensif.37 Namun, hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh TY Wong et al yang menunjukan retinopati hipertensif lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, yaitu sebanyak 60%.11 Banyaknya retinopati hipertensif pada pasien laki-laki berhubungan dengan tingginya rata-rata tekanan darah laki-laki dibandingkan perempuan akibat perempuan dapat mentoleransi peningkatan tekanan darah lebih baik.14
Gambaran kontrol tekanan darah pada pasien menunjukan pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol lebih banyak daripada yang terkontrol, yaitu 73,7% tidak terkontrol dan 26,3% terkontrol. Hasil ini sesuai dengan penelitian Wang et al yang menunjukan pasien yang mengalami tanda
mikrovaskular retina lebih banyak memiliki tekanan darah tidak terkontrol daripada yang terkontrol.34 Hipertensi tidak terkontrol memilki resiko tinggi mengalami tanda-tanda abnormalitas mikrovaskular retina.23
Gambaran derajat retinopati hipertensif pada penelitian ini yaitu 36,8% pasien menderita retinopati hipertensif derajat I, 28,1% menderita retinopati hipertensif derajat II, 26,3% menderita retinopati hipertensif derajat III, dan 8,8% menderita retinopati hipertensif derajat IV. Hasil ini sejalan dengan penelitian Besharati et al yang menunjukan pasien retinopati hipertensif paling banyak berada derajat I yaitu sebesar 42,4%, kemudian retinopati hipertensif derajat II 35,3%, retinopati hipertensif derajat III 20% dan retinopati hipertensif derajat IV sebesar 2,3%.5
Selain itu, gambaran kebiasaan merokok sebagai faktor resiko terjadinya retinopati hipertensif37 menunjukan 26,3% pasien retinopati hipertensif memiliki kebiasaan merokok dan 73,7% pasien tidak memiliki kebiasaan merokok. Hasil ini sejalan dengan penelitian Susie Setyowati, yang menunjukan pasien retinopati hipertensif dengan kebiasaan merokok (15,6%) lebih sedikit daripada pasien yang tidak merokok (84,4%).7
4.1.2. Gambaran Kelompok Usia dengan Derajat Retinopati Hipertensif
Tabel 4.2. Gambaran Kelompok Usia Berdasarkan Derajat Retinopati Hipertensif
Kelompok usia (tahun)
Retinopati Hipertensif
Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV
n % n % n % n %
<60 11 52.4 8 50.0 9 60.0 5 100
61-69 5 23.8 6 37.5 5 33.3 0 0
70-79 4 19.0 2 12.5 1 6.7 0 0
≥80 1 4.8 0 0 0 0 0 0
Peneliti menentukan kelompok usia berdasarkan penelitian Liew et al dan Wang et al.33,34 Tabel di atas menunjukan pasien retinopati hipertensif derajat I dan II paling banyak berada pada kelompok usia <60 tahun (52,4% pada derajat I
dan 50% pada derajat II), serta jumlah pasien menurun sejalan dengan bertambahnya usia. Hasil ini berbeda dengan penelitian Liew et al dan Wang et al yang menunjukan penyempitan arteriolar retina dan persilangan arteri-vena ringan (tanda mikrovaskular retina pada derajat I dan II) semakin banyak terjadi sejalan dengan bertambahnya usia.33,34 Hasil tersebut didukung oleh penelitian Leung et al yang menunjukan diameter pembuluh darah retina mangalami penurunan seiring bertambahnya usia.38 Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya dapat dihubungkan dengan angka harapan hidup di Indonesia yaitu 67,8 tahun, sehingga jumlah pasien pada usia lanjut menjadi semakin kecil.
Pada pasien retinopati hipertensif derajat III paling banyak pada kelompok usia <60 tahun (60%) dan paling sedikit pada usia 70-79 tahun (3.3%), sedangkan pasien retinopati hipertensif derajat IV hanya terdapat pada kelompok usia <60 tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian Henderson et al yang menunjukan pasien dengan retinopati hipertensi derajat III atau IV memilki interval usia 21-62 tahun atau lebih muda dibandingkan dengan pasien tanpa retinopati hipertensif derajat III atau IV. Banyaknya pasien retinopati IV yang berusia muda dikaitkan dengan tingginya mortalitas pada derajat tersebut.39
Grafik 4.1. Gambaran Derajat Retinopati Hipertensif Berdasarkan Kelompok Usia
Grafik 4.1 memperlihatkan pada kelompok usia <60 tahun masih terdapat derajat retinopati hipertensif derajat I sampai IV, sedangkan pada kelompok usia
Kelompok usia jumlah
selanjutnya tidak terdapat retinopati hipertensif derajat IV. Pada kelompok usia 70-79 tahun, semakin tinggi derajat retinopati hipertensif maka semakin sedikit
jumlah pasien, dan pada kelompok usia ≥80 tahun hanya terdapat pasien retinopati
hipertensif derajat I.
Gambaran grafik di atas dapat dikaitkan dengan gambaran harapan hidup pasien yang semakin menurun sejalan dengan bertambahnya derajat retinopati hipertensif. Semakin tinggi derajat retinopati hipertensif maka menunjukan semakin parah hipertensi yang diderita pasien.21Berdasarkan penelitian Keith et al yang dikutip oleh Tien Yin Wong pada retinopati hipertensif derajat I, pasien yang dapat bertahan hidup selama 3 tahun sebanyak 70% sedangkan pada retinopati hipertensif derajat IV hanya 6%, dengan jumlah pasien yang meninggal dunia selama periode 8 tahun meningkat sejalan dengan peningkatan derajat retinopati hipertensif .10,20
4.1.3. Gambaran Jenis Kelamin dengan Derajat Retinopati Hipertensif
Tabel 4.3. Gambaran Jenis Kelamin Berdasarkan Derajat Retinopati Hipertensif
Jenis Kelamin
Retinopati Hipertensif
Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV
N % n % n % n %
Perempuan 5 23.8 7 43.8 8 53.3 3 60.0
Laki-laki 16 76.2 9 56.2 7 46.7 2 40.0
Tabel 4.3 menunjukan retinopati hipertensif derajat I dan II lebih banyak dialami pasien laki-laki yaitu sebanyak 76,2% pada derajat I dan 56,2% pada derajat II. Retinopati hipertensif derajat III dan IV lebih banyak dialami pasien perempuan, yaitu sebanyak 53,3% pada derajat III dan 60% pada derajat IV.
Hasil ini berbeda dengan penelitian Liew et al yang menunjukan penyempitan arteriolar fokal dan persilangan arteri-vena yang termasuk dalam tanda mikrovaskular pada derajat II, lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki.32 Penelitian Henderson et al juga menunjukan retinopati hipertensif derajat III atau IV lebih banyak dialami pasien laki-laki daripada perempuan.39
Perbedaan gambaran jenis kelamin pada retinopati hipertensif derajat I dan II antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya disebabkan banyaknya jumlah pasien laki-laki pada sampel penelitian ini. Banyaknya pasien retinopati hipertensif derajat III dan IV pada perempuan dapat dihubungkan dengan hipertensi tidak terkontrol yang lebih banyak ditemukan pada perempuan.21
Grafik 4.2. Gambaran Derajat Retinopati Hipertensif Berdasarkan Jenis Kelamin Grafik 4.2 menunjukkan pada pasien perempuan paling banyak menderita retinopati hipertensif derajat III yaitu sebanyak 8 orang, sedangkan pasien laki-laki paling banyak menderita retinopati hipertensif derajat I yaitu sebanyak 16 orang. Hasil ini menunjukan pasien perempuan memiliki progresivitas retinopati hipertensif lebih tinggi daripada laki-laki, sehingga pada pasien perempuan pengontrolan tekanan darah pada derajat retinopati hipertensif lanjut dapat lebih ditingkatkan.
Jumlah
4.1.4.Gambaran Kontrol Tekanan Darah dengan Derajat Retinopati Hipertensif
Tabel 4.4. Gambaran Kontrol Tekanan Darah Berdasarkan Derajat Retinopati Hipertensif
Kontrol Tekanan Darah
Retinopati Hipertensif
Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV
N % n % n % n %
Terkontrol 14 66.7 5 31.2 2 13.3 0 0
Tidak terkontrol 7 33.3 11 68.8 13 86.7 5 100.0
Tabel 4.4 menunjukkan retinopati hipertensif derajat I lebih banyak dialami pasien hipertensi terkontrol yaitu sebanyak 66,7%, sedangkan derajat II sampai derajat IV lebih banyak diderita pasien hipertensi tidak terkontrol yaitu sebanyak 68,8% pada derajat II, 86,7% pada derajat III, dan 100% pada derajat IV. Penelitian Wong et al menunjukan hasil yang sesuai yaitu tanda-tanda abnormalitas mikrovaskular retina lebih banyak pada hipertensi tidak terkontrol daripada yang terkontrol.11
Pada penelitian ini, banyaknya pasien hipertensi terkontrol pada derajat I sedangkan pada derajat lainnya lebih banyak hipertensi tidak terkontrol menunjukan bahwa semakin tinggi jumlah tekanan darah tidak terkontrol maka semakin tinggi derajat retinopati hipertensif. Hal ini dikarenakan hipertensi yang tidak terkontrol menyebabkan tanda-tanda mikrovaskular pada mata semakin memburuk.23
Grafik 4.3. Gambaran Derajat Retinopati Hipertensif Berdasarkan Kontrol Tekanan Darah
Grafik 4.3 menunjukan pasien hipertensi terkontrol paling banyak menderita retinopati hipertensif derajat I yaitu sebanyak 14 orang, dan tidak ada yang mengalami retinopati hipertensif derajat IV, sedangkan pasien hipertensi tidak terkontrol paling banyak menderita retinopati hipertensif derajat III yakni sebanyak 13 orang. Hasil ini menunjukan bahwa kontrol tekanan darah mungkin berperan terhadap pencegahan progresivitas retinopati hipertensif.
4.1.5. Gambaran Kebiasaan Merokok dengan Derajat Retinopati Hipertensif
Tabel 4.5. Gambaran Kebiasaan Merokok Berdasarkan Derajat Retinopati Hipertensif
Kebiasaan Merokok
Retinopati Hipertensif
Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV
N % n % n % n %
Merokok 7 33.3 3 18.8 4 26.7 1 20.0
Tidak merokok 14 66.7 13 81.2 11 73.3 4 80.0
Tabel 4.5 menunjukkan pada setiap derajat retinopati hipertensif, pasien dengan kebiasaan merokok lebih sedikit daripada yang tidak merokok. Pasien yang memiliki kebiasaan merokok pada derajat I yaitu sebanyak 33,3%, derajat II sebanyak 18,8%, derajat III sebanyak 26,7% dan derajat IV sebanyak 20%.
Jumlah
Hasil ini sejalan dengan penelitian Liew et al yang menunjukan jumlah pasien merokok yang mengalami tanda mikrovaskular retina lebih sedikit daripada yang tidak merokok, dan tidak terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan tanda-tanda mikrovaskular retina.33
Grafik 4.4. Gambaran Derajat Retinopati Hipertensif Berdasarkan Kebiasaan Merokok
Grafik 4.4 menunjukan perbedaan distribusi derajat retinopati hipertensif pada pasien dengan kebiasaan merokok dan pasien tidak merokok. Distribusi derajat retinopati pada pasien tidak merokok sesuai dengan distribusi sampel penelitian pada masing-masing derajat retinopati hipertensif, yaitu terjadi penurunan jumlah pasien sejalan dengan bertambahnya derajat retinopati hipertensif.
Gambaran derajat retinopati hipertensif pada pasien yang memiliki kebiasaan merokok menunjukan pasien paling banyak menderita retinopati hipertensif derajat I. Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya sampel penelitian yang menderita retinopati hipertensif derajat I, dan merupakan yang terbanyak di antara derajat lainnya. Namun, gambaran selanjutnya tidak sejalan seperti gambaran pasien yang tidak merokok, yakni derajat retinopati hipertensif kedua terbanyak pada pasien dengan kebiasaan merokok adalah derajat III. Hasil ini sejalan dengan penelitian Henderson et al yang menunjukan pasien retinopati
Jumlah
hipertensif derajat III atau IV dengan kebiasaan merokok memiliki persentase sebanyak 57% dan lebih banyak daripada pasien yang tidak mengalami retinopati hipertensif derajat III atau IV.39 Hal ini sesuai dengan penelitian Wong et al yang dikutip oleh Susie Setyowati yang menunjukan merokok dapat mempengaruhi antioksidan yang menyebabkan terjadi disfungsi endotel pada retinopati hipertensif.7