• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Univariat

Analisa Univariat menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik pasien yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan dan sumber penularan, variabel kadar kortisol dan skor tingkat stres baik sebelum maupun sesudah intervensi dan juga variabel pada kelompok kontrol.

5.1.1. Karakteristik Responden

Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi sebanyak 8 responden dan kelompok kontrol sebanyak 8 responden juga. Karakteristik responden dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel V.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Sumber Transmisi dan Tingkat Pendidikan

Karakteristik Responden Kelompok Intervensi (n=8) Kelompok Kontrol (n=8) Jenis Kelamin o Laki-laki 8 (100%) 8 (100%) Usia o 25-35 o 36-45 o 46-55 4 (50%) 3 (37,5%) 1 (12,5%) 2 (25%) 3 (37,5%) 3 (37,5%) Sumber Penularan o Seks bebas 8 (100%) 8 (100%) Pendidikan o SD o SMP 4 (50%) 1 (12,5%) 1 (12,5%) 2 (25%)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

o SMA 3 (37,5%) 5 (62,5%)

Berdasarkan tabel di atas jenis kelamin dari 16 responden pada kelompok intervensi dan kontrol adalah 100% laki-laki. Usia responden antara 25-35 tahun dari kelompok intervensi sebanyak 50% sedangkan dari kelompok kontrol sebanyak 25%, usia 36-45 tahun dari kelompok intervensi sebanyak 37,5% demikian juga pada kelompok kontrol sebanyak 37,5% , sedangkan usia 46-55 tahun dari kelompok intervensi sebanyak 12,5% dan dari kelompok kontrol sebanyak 37,5%. Adapun Sumber penularan HIV dari keseluruhan responden 100 % dari hubungan seks. Tingkat pendidikan dari 16 responden yang sampai tingkat SD pada kelompok intervensi sebanyak 50% dan kelompok kontrol sebanyak 12,5%, tingkat SMP pada kelompok intervensi sebanyak 12,5% dan kelompok kontrol sebanyak 25%, sedangkan tingkat SMApada kelompok intervensi sebanyak 37,5% dan kelompok kontrol sebanyak 62,5%.

5.1.2 Hasil Pengukuran Kadar Kortisol

Pengukuran Kadar kortisol dilakukan dengan pengambilan darah pasien pada saat sebelum shalat tahajud dan enam mingggu sesudah dilakukan shalat tahajud. Hasil data yang dperoleh ditampilkan dalam tabel V.2.

Tabel V.2 Hasil Pengukuran Kadar Hormon Kortisol pada Kelompok Intervensi Nama Kadar Hormon Kortisol (µg/dL)

Sebelum Shalat Sesudah Shalat

1 13,42 8,42

2 18,33 11,91

3 15,59 13,23

4 9,51 10,64

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 6 26,79 16,34 7 15,41 11,50 8 9,92 16,17 Mean : 14,68 SD : 6,01 Mean : 12,17 SD : 2,93

Keterangan : Rerata kadar kortisol pada kelompok intervensi pada saat sebelum perlakuan dan setelah perlakuan berada pada range normal (nilai kadar kortisol pagi hari: 4,30 – 22,40 µg/dL, Laboratorium Klinik prodia)

Dari tabel V.2 menunjukkan bahwa rerata kadar kortisol sebelum melakukan shalat tahajud adalah 14,68 µg/dL dengan standar deviasi 6,01. Setelah dilakukan shalat tahajud rata-ratanya 12,17 µg/dL dengan standar deviasi 2,93. Secara umum hal ini menunjukkan penurunan tetapi ada tiga responden yang mengalami peningkatan yaitu dari 8,33 µg/dL menjadi 9,19 µg/dL, dari 9,92 µg/dL menjadi 16,17 µg/dL dan dari 9,92µg/dL menjadi 16,17 µg/dL .

Tabel V.3 Hasil Pengukuran Kadar Hormon Kortisol pada Kelompok Kontrol Nama Kadar Hormon Kortisol (µg/dL)

Hari Pertama Sesudah 6 minggu

1 19,54 18,10 2 13,20 10.39 3 18,43 8,96 4 7,82 7,86 5 12,59 16,50 6 20,74 15,74 7 21,34 11,20 8 9,15 8,66 Mean : 15,35 SD : 5,33 Mean : 12,17 SD : 3,99

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Keterangan : Rerata kadar kortisol pada kelompok kontrol pada saat hari pertama dan setelah 6 minggu berada pada range normal (nilai kadar kortisol pagi hari: 4,30 – 22,40 µg/dL, Laboratorium Klinik prodia)

Dari tabel V.3 menunjukkan bahwa rerata kadar kortisol kelompok kontrol pada hari pertama adalah 15,35 µg/dL dengan standar deviasi 5,33. Setelah enam minggu rata-ratanya 12,17 µg/dL dengan standar deviasi 3,99. Secara umum hal ini menunjukkan penurunan tetapi ada dua responden yang mengalami peningkatan yaitu dari 7,82 µg/dL menjadi 7,86 µg/dL dan dari 12,59 µg/dL menjadi 16,50 µg/dL.

5.1.3. Hasil Pengukuran Skor Tingkat Stres

Pengukuran tingkat stres menggunakan instrumen DASS (Depresion Anxiety Stres Scale). Instrumen DASS ini berupa kuesioner yang menunjukkan tingkat stres seseorang. Penggunaan DASS dilakukan kepada 16 orang responden, yaitu kelompok intervensi 8 orang dan kelompok kontrol 8 orang. Pengisian kuesioner DASS dilakukan pada saat sebelum intervensi dilakukan kembali saat sesudah intervensi 6 minggu kemudian. Hasil skor DASS ditampilkan dalam tabel berikut.

Tabel V.4 Hasil Pengukuran DASS pada Kelompok Intervensi

No. Skor DASS

Sebelum Sesudah 1 29 10 2 25 4 3 15 5 4 11 5 5 79 50 6 64 22 7 59 20 8 44 21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Mean : 40,75

SD : 24,73

Mean : 17,12 SD : 15,33

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa rerata skor DASS pada kelompok intervensi sebelum melakukan shalat tahajud adalah 40,75 dengan standar deviasi 24,73. Setelah dilakukan shalat tahajud reratanya 17,12 dengan standar deviasi 15,33. Secara keseluruhan hal ini menunjukkan penurunan pada masing-masing responden. Sebelum dilakukan intervensi jumlah responden yang menunjukkan normal sebanyak 4 orang atau 50% namun setelah menjalankan shalat tahajud terdapat 7 pasien yang normal atau 87,5%, Sedangkan jumlah responden dengan tingkat stres sedang adalah 2 orang atau 25% dan setelah menjalankan shalat tahajud menurun menjadi 0% (tidak ada). Demikian juga jumlah responden dengan tingkat stres ringan sebanyak 2 orang dan dan setelah menjalankan shalat tahajud menurun menjadi 1 orang 12,5%.

Tabel V.5 Hasil Pengukuran DASS pada Kelompok Kontrol

No. Skor DASS

Hari Pertama Sesudah 6 minggu

1 59 66 2 46 41 3 53 39 4 29 33 5 27 25 6 44 37 7 78 51 8 36 30 Mean : 46,5 SD : 16,87 Mean : 40,25 SD : 12,99 .

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Sementara pada kelompok kontrol, rerata skor DASS pada hari pertama adalah 46,5 dengan standar deviasi 16,87 dan setelah 6 minggu diukur kembali didapatkan rerata skor DASS 40,25 dengan standar deviasi 12,99. Pada hari pertama jumlah responden yang menunjukkan normal sebanyak 2 orang atau 25% dan setelah 6 minggu kemudian berkurang menjadi satu orang. Sedangkan jumlah responden yang mengalami stres ringan sebanyak 1 orang atau 12,5% ,setelah 6 minggu kemudian tetap sebanyak 1 orang. Demikian juga jumlah responden yang mengalami stres ringan sebanyak 5 orang 62,5%, setelah 6 minggu kemudian meningkat menjadi 7 orang atau 87,5%.

5.2 Analisa Bivariat

Analisa Bivariat mempunyai tujuan untuk menganalisa hubungan dua variabel. Dalam penelitian ini akan diuraikan seberapa kuat hubungan antara shalat tahajud dengan perubahan kadar kortisol dan skor tingkat stres pada kelompok intervensi. Selain itu juga menganalisa hubungan perubahan kadar kortisol dan skor tingkat stres baik pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

5.2.1 Uji Normalitas

Sebelum melakukan Uji dependen sampel t- test (paired t-test) untuk menganalisa hubungan antar variabel, maka data tersebut harus berdistribusi normal. Langkah yang dilakukan yaitu dengan melakukan uji normalitas

Shapiro-Wilk terhadap data variabel penelitian meliputi kadar kortisol dan skor tingkat stres. Didapatkan kadar kortisol dan skor tingkat stres kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak berbeda bermakna (p>0,05). Berarti kedua variabel berdistribusi normal dan sampel bersifat homogen (lihat lampiran)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 5.2.2 Hasil Uji Statistik

Untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara shalat tahajud dengan perubahan kadar kortisol dan skor tingkat stres pada pasien HIV & AIDS maka digunakan uji statitistik dependen sampel t- test (paired t-test).

Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel V.6:

Tabel V.6 Hasil Uji Dependen T-Test

Kelompok intervensi Kelompok kontrol Variabel Rerata sebelum Rerata sesudah P Rerata sebelum Rerata sesudah P Kadar kortisol 14,68 12,17 0,213 15,35 12,17 0,104 Skor tingkat Stres 40,75 17,12 0,001 46,5 40,25 0,140

Dari Tabel V.6 pada variabel kadar kortisol pada kelompok intervensi didapatkan nilai p= 0,213 karena nilai p< 0,05 dapat disimpulkan tidak ada hubungan bermakna antara shalat shalat tahajud dengan perubahan kadar kortisol pada pasien HIV & AIDS. Sedangkan pada variabel skor tingkat stres didapatkan nilai p = 0,010 karena nilai p< 0,05dapat disimpulkan ada hubungan bermakna antara shalat shalat tahajud dengan perubahan skor tingkat stres pada pasien HIV & AIDS.

Sementara untuk menjelaskan perbedaan antara masing-masing variabel penelitian (kadar kortisol dan skor tingkat stres) antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol secara statistik maka dilakukan uji independen t-test.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tabel V.7 Hasil Uji Independen T-Test

Variabel Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol P Rerata delta SD Rerata delta SD Kadar kortisol 2,51 5,18 3,18 4,91 0,794

Skor tingkat stres 23,63 12,69 6,25 10,63 0,010

Hasil Uji independen t-test pada variable kadar kortisol tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol ( p>0,05 ). Sedangkan pada variabel skor tingkat stres didapatkan hubungan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol ( p<0,05 ).

Dokumen terkait