HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, keterbatasan-keterbatasan tersebut yaitu:
1. Penelitian ini menggunakan sampel dengan mengacu pada penelitian sebelumnya tentang modulasi respon imun dengan pendekatan psikoneuroimunologi. Adapun penelitian yang sesuai dengan tema dan desain seperti penelitian ini belum terdapat di Indonesia sehingga menyulitkan peneliti dalam menentukan jumlah sampel penelitian.
2. Penelitian ini belum dapat menyeragamkan dalam hal pengkondisian responden yang meliputi pola nutrisi atau diet yang seragam serta pola aktivitas yang seragam.
3. Peneliti menggunakan kuesioner DASS 42 dalam mengukur tingkat stres dari responden yang merupakan skala subyektif, sehingga terkadang muncul subyektifitas peneliti dalam mewawancarai responden.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 5.4. Pembahasan
Penelitian ini dirancang untuk mengetahui perubahan kadar kortisol dan skor tingkat stres pada pasien HIV & AIDS sebelum dan sesudah shalat tahajud. Penelitian ini dilakukan berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa dengan shalat tahajud yang dijalankan dengan benar, rutin dan ikhlas dapat meningkatkan sistem imun (Soleh, 2009). Penelitian ini dilakukan selama 6 minggu yang didasarkan pada teori adaptasi Fox dan Bower (1993). Berdasarkan teori tersebut, adaptasi dari durasi latihan yang baik adalah dengan frekuensi latihan sebanyak 2-5 kali/minggu dan akan terjadi puncaknya pada minggu ke 6 sampai ke 8. Selain itu Geowald menyatakan bahwa 6 minggu merupakan waktu dimana seseorang sudah mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan dan perlakuan yang dianggap asing (Geowald, 1988).
Hasil skor DASS menunjukkan jumlah responden yang normal pada waktu sebelum intervensi sebanyak 4 orang atau 50% namun setelah menjalankan shalat tahajud terdapat 7 pasien yang normal atau 87,5%, sedangkan jumlah responden dengan tingkat stres sedang adalah 2 orang atau 25% dan setelah menjalankan shalat tahajud menurun menjadi 0% (tidak ada). Demikian juga jumlah responden dengan tingkat stres ringan sebanyak 2 orang dan dan setelah menjalankan shalat tahajud menurun menjadi 1 orang 12,5%.
Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan SPSS 16 pada variabel skor tingkat stres didapatkan rerata sebelum shalat tahajud adalah 40,75 dan rerata sesudah shalat tahajud adalah 17,12. Adapun nilai p = 0,001 karena nilai p < 0,05 dapat disimpulkan ada hubungan bermakna antara shalat shalat tahajud. dengan perubahan skor tingkat stres pada pasien HIV & AIDS.
Hasil pengukuran kadar kortisol pada kelompok intervensi secara umum menunjukkan adanya penurunan. Tetapi ada tiga responden yang mengalami peningkatan yaitu responden nomor 4, 5, dan 8. Pada responden nomor 4 mengalami peningkatan dari yaitu dari 9,51 µg/dL menjadi 10,64 µg/dL, pada responden nomor 5 dari 8,33 µg/dL menjadi 9,19 µg/dL, sedangkan pada
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta responden nomor 8 mengalami peningkatan dari dari 9,92 µg/dL menjadi 16,17 µg/dL.
Setelah pengolahan data dengan menggunakan SPSS 16 pada variabel kadar kortisol didapatkan rerata sebelum melakukan shalat tahajud adalah 14,68 µg/dl dan sesudah shalat tahajud adalah 12,17 µg/dl dengan nilai p = 0,213 ( p > 0,05 ). Dari hasil statsitik ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara shalat shalat tahajud dengan perubahan kadar kortisol pada pasien HIV & AIDS.
Berdasarkan data yang didapat, walaupun rerata kadar kortisol mengalami penurunan setelah intervensi, tapi secara statistik tidak terdapat hubungan signifikan antara shalat tahajud dengan penurunan kadar kortisol. Hasil tersebut berbeda dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan Ironson (2002) dan Antoni et al (2000).
Dari hasil ketiga responden pada kelompok intervensi, walaupun mengalami kenaikan kadar kortisol tetapi dari hasil skor DASS malah menunjukkan penurunan. Pada responden nomor 4 dan 5 mengalami penurunan dari kategori normal (skor 11) menjadi skor 5 dan dari kategori stres sedang ( skor 79 ) menjadi kategori stres ringan (skor 50). Hal ini menandakan bahwa dengan shalat tahajud setidaknya dapat meningkatkan kesehatan mental dengan ditandai menurunnya skor DASS tetapi tidak mengubah proses hormonal.
Selanjutnya pada responden yang mengalami penurunan kadar kortisol juga mengalami penurunan skor tingkat stres. Diketahui bahwa sebelum menjalankan shalat tahajud responden nomor 1, 2, dan 3 dengan skor DASS 29, 25 dan 15, setelah menjalankan shalat tahajud mengalami penurunan menjadi 10,4, dan 5. Pada responden nomor 6 mengalami penurunan dari kategori stres sedang (skor 64) menjadi kategori stres ringan (skor 20). Sedangkan pada responden nomor 7 dan 6 mengalami penurunan dari kategori stres ringan (skor 59) menjadi kategori normal (skor 22).
Setelah melihat hasil di atas akan dijelaskan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan hasil penelitian tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. Diantara
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta faktor-faktornya. Pertama yaitu kontinuitas dalam shalat tahajud. Dalam tinjauan psikoneuroimunologi dijelaskan bahwa dengan penerapan shalat tahajud yang dijalankan pasien HIV & AIDS secara rutin dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif. Jika shalat tahajud mendatangkan persepsi positif, maka amigdala akan mengirimkan informasi kepada locus Ceruleus yang mengaktifkan reaksi syaraf otonom. Lewat hipotalamus, mensekresi neurotransmitter, endorphin dan enkepalin, yang berfungsi sebagai penghilang rasa sakit dan pengendali sekresi CRF secara berlebihan. Akibatnya HPAA dalam mensekresi ACTH juga stabil terkendali. Penurunan ACTH akan menstimulasi penurunan produksi kortisol pada jalur kortek adrenal. Penurunan produksi kortisol dapat meningkatkan sistem imun lainya seperti limfosit T-CD4, CD8+ dan CD56+NK sehingga dapat menghambat poliferasi virus HIV (Sholeh 2008; Antoni, MH, 2003). Bila perlakuan shalat tahajud diberikan secara kontinu selama masa intervensi, kemungkinan penurunan kortisol akan lebih besar sehingga akan ada hubungan yang signifikan antara shalat tahajud dan perubahan kadar kortisol.
Faktor kedua yaitu hal pengkodisian yang sulit diseragamkan. Idealnya pasien yang menjalankan terapi harus diasramakan dalam satu tempat dengan pola diet atau nutrisi yang sama dan juga pola aktivitas yang seragam. Hal tersebut yang menjadikan penelitian ini belum berhasil. Di lapangan susah menemukan tempat rehabilitasi khusus HIV & AIDS. Kalaupun ada biasanya juga berbentuk LSM yang beranggotakan ODHA tetapi tidak menetap di sana. Mereka mempunyai pekerjaan yang tentunya berbeda satu sama lainya. Peneliti hanya bisa mengontrol dan mengkondisikan sampel pada waktu penelitian saja yaitu 3 hari dalam seminggu.
Faktor ketiga yaitu jumlah sampel yang sedikit. Dari data di atas dapat dilihat bahwa dari 8 responden yang mengikuti shalat tahajud hanya 3 orang yang mengalami kenaikan kortisol, sedangkan yang lainnya mengalami penurunan. Artinya secara umum aktivitas shalat tahajud bisa menurunkan kadar hormon kortisol, dan kalau jumlah sampel lebih besar lagi secara statistik bisa
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jadi akan ada hubungan erat antara aktivitas shalat tahajud dengan menurunnya kortisol. Seperti yang dilakukan Elyana (2008) dalam penelitiannya tentang modulasi respon kortisol dan IgG dengan menggunakan latihan pernapasan, sampel yang digunakan dalam setiap kelompok berjumah 15 orang, dengan terdapatnya penurunan kortisol yang signifikan pada kelompok yang diberi perlakuan. Dalam penelitian ini memang sulit mendapatkan responden penderita HIV & AIDS yang bersedia melakukan shalat tahajud. Itu berarti jumlah sampel mempengaruhi hasil analisa statistik. Jika sampelnya ditambah kemungkinan diuji stastistik akan menunjukkan hubungan yang bermakna.
Faktor keempat kondisi mental yang berbeda pada tiap individu. Selama ini terdapat asumsi bahwa orang yang terkena HIV akan mengalami depresi dan tekanan mental. Meskipun banyak studi yang menunjukkan dampak negatif HIV yang berhubungan dengan stres dan kesehatan mental (Lee, Kochman, & Sikkema, 2002; Vanable et al., 2006), ternyata tidak semua penderita HIV memiliki tingkat stres yang sama (Lori et al, 2008, h. 10). Hal ini terlihat pada kadar kortisol penderita HIV yang diteliti semua masih berada pada rentang normal. Bisa jadi penderita HIV yang menjadi sampel pada penelitian ini sudah memiliki sikap mental yang positif dan menerima keadaan dirinya. Seperti yang dikatakan oleh Lori et al (2008) kemungkinan dampak intervensi yang diberikan pada individu yang memiliki tekanan akan berbeda dari orang yang tidak pada kondisi tertekan. Sehingga penelitian perlu dilakukan pada orang dengan kondisi stres yang sama.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta