BAHAN DAN METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Analisis Usaha
Berdasarkan data diatas maka dapat diketahui rekapitulasi hasil penelitian yang terdiri dari total biaya produksi, total hasil produksi, analisis laba-rugi, R/C ratio, BEP Harga Produksi, BEP volume produksi dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Analisis usaha.
Total Biaya Total Penerimaan Laba/Rugi IOFC R/C BEP Harga BEP Volume No Perlakuan
Produksi
(Rp/ekor) (Rp/ekor) (Rp/ekor) (Rp/ekor) Produksi (Rp/ekor) Produksi (Kg/ekor)
1 P0 24.302,05 29.817,88 5.515,83 12.902,25 1,23 12.822,48 1,62 2 P1 24.558,05 31.411,78 6.853,73 14.240,15 1,28 12.267,74 1,64 3 P2 24.200,25 30.452,83 6.252,58 13.639,00 1,26 12.462,28 1,61 4 P3 23.948,32 30.816,79 6.868,47 14.254,89 1,29 12.274,10 1,60 5 P4 23.992,92 31.439,08 7.446,16 14.832,58 1,31 11.953,67 1,60 6 P5 24.044,24 30.051,58 6.007,34 13.393,76 1,25 12.581,76 1,60 7 P6 24.705,47 32.749,93 8.044,46 15.430,88 1,33 11.795,74 1,65 8 P7 24.902,46 33.087,88 8.185,42 15.571,84 1,33 11.759,09 1,66 9 P8 24.812,73 33.770,68 8.957,95 16.344,37 1,36 11.471,02 1,65 10 P9 24.547,63 31.593,28 7.045,65 14.432,07 1,29 12.146,82 1,64 11 P10 24.424,69 30.545,98 6.121,29 13.507,71 1,25 12.538,67 1,63
3.1. Analisis Laba – Rugi
Analisis usaha atau laba – rugi dilakukan untuk mengetahui apakah usaha tersebut untung atau rugi dengan cara menghitung selisih antara total hasil produksi dengan total biaya produksi.
Sehingga total hasil produksi yaitu total penjualan ternak ditambah penjualan kotoran ternak memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada total biaya produksi yaitu biaya bibit, biaya ransum, biaya obat – obatan, biaya/upah tenaga kerja, biaya perlengkapan kandang, biaya sewa kandang, dan biaya fumigasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Murtidjo (1995) yaitu keuntungan adalah tujuan setiap usaha. Keuntungan dapat dicapai jika jumlah pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut lebih besar dari pada jumlah pengeluarannya. Bila keuntungan dari suatu usaha semakin meningkat, maka secara ekonomis usaha tersebut layak dipertahankan atau ditingkatkan. Untuk memperoleh angka yang pasti mengenai keuntungan atau kerugian, yang harus dilakukan adalah pencatatan biaya. Tujuan pencatatan biaya juga agar peternak atau pengusaha dapat mengadakan evaluasi terhadap bidang usaha, sesuai dengan pernyataan Soekartawi (1995).
Diketahui bahwa total biaya produksi lebih kecil dibandingkan dengan total hasil produksi. Hal ini membuktikan bahwa analisis usaha broiler selama penelitian yaitu 35 hari untung.
3.2. Income Over Feed Cost (IOFC)
Income Over Feed Cost (IOFC) adalah selisih dari total pendapatan usaha peternakan dengan dikurangi biaya pakan. Income Over Feed Cost (IOFC) ini merupakan barometer untuk melihat seberapa besar biaya pakan yang merupakan biaya terbesar dalam usaha pemeliharaan ternak.
Berdasarkan Tabel 8 diperoleh rataan IOFC terbesar terdapat pada perlakuan P8 sebesar Rp 16.344,37 dan rataan IOFC terkecil terdapat pada perlakuan P0 sebesar Rp 12.902,25.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Prawirokusumo (1990) yang menyatakan bahwa Income Over Feed Cost (IOFC) adalah selisih total pendapatan penjualan broiler dengan biaya pakan yang digunakan selama usaha pemeliharaan ternak.
3.3.Return of CostRatio (R/C)
R/C Ratio yang diperoleh menunjukkan bahwa usaha ternak broiler mandiri maupun mitra cukup efisien karena tiap peternak menunjukkan rata-rata R/C ratio besar dari 1. Analisa R/C ratio adalah perbandingan antara penerimaan dan biaya, untuk mengetahui tingkat efisiensi suatu usaha. R/C ratio lebih tinggi pada P8 sebesar 1,36 dibandingkan dengan P0 yaitu sebesar 1,23. Berdasarkan nilai R/C ratio tersebut, tingkat keuntungan usaha ternak lebih tinggi pada P8 Hal ini sesuai dengan pernyataan Kadarsan (1995), bahwa R/C rasio adalah rasio penerimaan atas biaya yang menunjukkan besarnya penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam produksi usaha ternak. Analisis ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relatif kegiatan usaha ternak, artinya dari angka rasio tersebut dapat diketahui, apakah suatu usaha ternak menguntungkan atau tidak. Usaha ternak dikatakan menguntungkan bila nilai R/C rasio lebih besar dari satu. Sebaliknya, usaha ternak dikatakan tidak menguntungkan bila nilai R/C rasio lebih kecil dari satu. Semakin besar nilai R/C, maka semakin baik usaha ternak tersebut.
3.4. Break Event Point (BEP)
Break Event Point (BEP) yaitu kondisi dimana suatu usaha dinyatakan tidak untung dan tidak rugi dan disebut titik impas. Break Event Point (BEP) dapat dibagi menjadi dua yaitu :
3.4.1. Break Event Point (BEP) Harga Produksi
Dimana dapat diperoleh dari hasil pembagian total biaya produksi dengan berat hidup broiler (Rp/ekor). Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa BEP harga produksi akan tercapai bila harga bobot badan hidup P0 sebesar Rp 12,822,48/ekor, P1 sebesar Rp 12.267,74/ekor, P2 sebesar Rp 12.462,28/ekor, P3 sebesar Rp 12.274,10/ekor, P4 sebesar Rp 11.953,67/ekor, P5 sebesar Rp 12.581,76/ekor, P6 sebesar Rp 11.795,74/ekor, P7 sebesar Rp 11.759,09/ekor, P8 sebesar Rp 11.471,02/ekor, P9 sebesar Rp 12.146,82/ekor dan P10 sebesar Rp 12.538,67/ekor. Agar biaya yang telah dikeluarkan dapat kembali.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sigit (1991) bahwa break event point (BEP) adalah kondisi dimana suatu usaha dinyatakan tidak untung dan tidak rugi dan disebut titik impas. Hal ini memperlihatkan bahwa BEP harga produksi dalam level aman karena dibawah harga jual broiler sebesar Rp 15.000,00/kg.
Perlu diketahui untuk melihat batasan – batasan produksi minimal agar tidak mengalami kerugian sebagaimana menurut Kasmir dan Jakfar (2005), break event point (BEP) adalah titik pulang pokok, dimana total revenue = total cost. Dilihat dari jangka waktu pelaksaan sebuah usaha, terjadinya BEP tergantung pada lamanya arus penerimaan sebuah usaha dapat menutupi segala biaya operasional dan pemeliharaan beserta biaya modal lainnya.
Dimana dapat diperoleh dari pembagian total biaya produksi dengan harga broiler (kg/ekor). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat bahwa titik modal akan tercapai jika berat broiler yang dihasilkan pada P0 sebesar 1,62 kg/ekor, P1 sebesar 1,64 kg/ekor, P2 sebesar 1,61 kg/ekor, P3 sebesar 1,60 kg/ekor, P4 sebesar 1,60 kg/ekor, P5 sebesar 1,60 kg/ekor, P6 sebesar 1,65 kg/ekor, P7 sebesar 1,66 kg/ekor, P8 sebesar 1,65 kg/ekor, P9 sebesar 1,64 kg/ekor, dan P10 sebesar 1,63 kg/ekor. Hasil ini didukung oleh pernyataan Rahardi (1993) bahwa kondisi ini, usaha yang dilakukan tidak menghasilkan keuntungan tetapi juga tidak mengalami kerugian. Jadi dalam keadaan tersebut pendapatan yang diperoleh sama dengan modal usaha yang dikeluarkan.
Berdasarkan Tabel 8 yaitu analisis usaha rekapitulasi hasil penelitian dapat dilihat perbedaan hasil dari tiap perlakuan dan perlakuan yang menunjukkan hasil terbaik yaitu P8 yaitu Ransum BR I berbentuk Fine Crumble diberikan pada umur 0 – 21 hari dan Ransum BR II berbentuk Pelet diberikan pada umur 22 – 35 hari. Dimana hasilnya dapat dilihat mulai dari total biaya produksi, biaya tertinggi terdapat pada P7 sebesar Rp 24.902,46/ekor dan biaya terendah terdapat pada P3 sebesar Rp 23.948,32/ekor. Untuk total hasil produksi dapat dilihat bahwa hasil tertinggi yang di peroleh yaitu padan P8 sebesar Rp 33.770,68/ekor dan hasil produksi terendah terdapat pada P0 sebesar Rp 29.817,88/ekor, sehingga laba yang diperoleh pada perlakuan P8 lebih tinggi yaitu sebesar Rp 8.957,95/ekor dan terendah pada perlakuan P0 sebesar Rp 5.515,83/ekor. IOFC pada penelitian diperoleh biaya tertinggi pada P8 sebesar Rp 16.344,37/ekor dan biaya terendah yaitu pada P0 sebesar Rp 12.902,25/ekor. Pada R/C ratio, nilai tertinggi diperoleh pada P8 sebesar 1,36/ekor dan nilai terendah diperoleh pada P0 sebesar 1,23/ekor,
pada BEP harga produksi diperoleh biaya terendah pada P8 sebesar Rp 11.471,02/ekor dan biaya tertinggi diperoleh pada P0 sebesar Rp 12.822,48/ekor, sedangkan pada BEP volume produksi nilai tertinggi diperoleh pada P7 sebesar 1,66/ekor dan nilai terendah terdapat pada P4 sebesar 1,60/ekor. Nilai pada BEP volume produksi dipengaruhi oleh Ransum BR I berbentuk Fine Crumble diberikan pada umur 0 – 21 hari dan Ransum BR II berbentuk Coarse Crumble diberikan pada umur 22 – 35 hari, sehingga jumlah konsumsi ransum pada P7
lebih tinggi dibandingkan P4, akan tetapi konversinya rendah. Hal ini yang menyebabkan BEP volume produksi pada P7 lebih tinggi dan Volume produksi P4