Metode Analisis Data Biaya Usaha
A. Hasil Penelitian
8. Analisis Usaha
a. Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usaha Jenang Ketan Tingkat Rumah Tangga
Penelitian ini menggunakan konsep keuntungan, maka biaya yang dihitung adalah penjumlahan dari biaya variabel dan biaya tetap. Yang termasuk dalam biaya variabel adalah bahan baku, bahan bakar, pengemasan, dan transportasi. Sedangkan untuk biaya tetap adalah tenaga kerja, penyusutan alat, dan bunga modal investasi.
Tabel 12. Rata-rata biaya variabel pada usaha jenang ketan tingkat rumah tangga selama satu bulan.
No Biaya Variabel Rata-rata per bulan (Rp) 1.
2. 3 4.
Biaya bahan baku Biaya bahan bakar Biaya pengemasan Biaya transportasi 3.934.440,00 236.850,00 1.295.044,00 91.600,00 Total 5.557.934,00
Sumber: Data Primer
Dari Tabel 12 diatas dapat diketahui bahwa untuk rata-rata biaya variabel pada usaha jenang ketan tingkat rumah tangga selama satu bulan adalah sebesar Rp 5.557.934,00. Biaya terbesar yang dikeluarkan oleh produsen dalam proses produksi jenang ketan adalah biaya untuk bahan baku sebesar Rp 3.934.440,00. Biaya bahan baku meliputi pembelian beras ketan, gula kelapa, kelapa, dan vanilli. Pada
xlviii
salah satu responden melakukan inovasi produk dengan menambahkan aneka rasa dengan menambahkan wijen dan kacang hijau.
Biaya bahan bakar yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan tingkat rumah tangga tidak terlalu besar, yaitu sebesar Rp 236.850,00.. Hal ini dikarenakan para produsen jenang ketan hanya membutuhkan sedikit kayu yang bakar yang diperoleh dengan membeli dan sebagian diperoleh dari kayu bakar milik sendiri. Sedangkan untuk menyalakan api ada sebagian yang menggunakan minyak tanah atau dengan menggunakan ampas kering dari parutan kelapa yang telah dikeringkan, sehingga produsen tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli minyak tanah. Biaya pengemasan yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan selama satu bulan produksi rata-rata sebesar Rp 1.295.044,00.
Biaya terendah yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan selam satu bulan adalah biaya transportasi yaitu sebesar Rp 91.600,00. Hal ini dikarenakan peralatan yang digunakan masih relatif sederhana dan tidak terlalu membutuhkan alat dengan jumlah banyak.
Biaya tenaga kerja yang dihitung dalam penelitian ini adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga. Besarnya upah yang digunakan dalam produksi disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Pekerjaan yang berat seperti mengaduk adonan jenang biasanya dilakukan oleh tenaga kerja laki-laki dengan upah sebesar Rp 20.000,00 per hari dan untuk pekerjaan yang lebih ringan seperti pada tahap pengemasan dilakukan oleh tenaga kerja perempuan dengan upah sebesar Rp 12.500,00 per hari. Volume penggunaan bahan baku, bahan bakar,dan pengemasan dapat dilihat pada lampiran.
Pada Tabel 13 dapat diketahui bahwa biaya tenaga kerja merupakan biaya tertinggi dari jenis biaya tetap yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan. Adapun keterangan tabel sebagai berikut: Tabel 13. Rata-rata biaya tetap pada usaha jenang ketan tingkat rumah
xlix
No Biaya Tetap Rata-rata per bulan (Rp) 1.
2. 3
Biaya tenaga kerja Biaya penyusutan alat Bunga modal investasi
611.000,00 53.000,00
61.437,71
Total 725,437.71
Sumber: Data Primer
Sedangkan biaya bunga modal investasi berada pada urutan kedua, yaitu sebesar Rp 61.437,71. Untuk menghitung bunga modal investasi menggunakan rumus :
B = x i t R N 2 ) 1 N ( ) R M ( Keterangan: B = Bunga modal (Rp) M = Nilai investasi awal (Rp) R = Nilai investasi akhir (Rp) N = Masa ekonomis (bulan) i = Suku bunga
t = Jumlah bulan dalam setahun
Nilai suku bunga diperoleh dari data Bank Indonesia yaitu sebesar 7,25 % pada bulan Mei 2009, sebab penelitian ini dilakukan pada bulan tersebut.
Biaya penyusutan alat menempati urutan ketiga pada jenis biaya tetap yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan, yaitu sebesar Rp 53.000,00. Peralatan yang masih relatif sederhana akan mempengaruhi besarnya nilai penyusutan yang harus ditanggung oleh produsen.
Penerimaan yang diperoleh oleh para produsen jenang ketan merupakan penerimaan yang berasal dari penjualan jenang ketan yang diproduksi. Besarnya produksi dan penerimaan yang diterima oleh produsen jenang ketan dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Tabel 14. Produksi rata-rata, harga jual, sisa penjualan dan penerimaan rata-rata pada usaha jenang ketan tingkat rumah tangga selama satu bulan.
l
No Uraian Rata-rata per bulan
1. 2. 3. 4.
Produksi (Bungkus) Harga jual rata-rata (Rp)
Sisa rata-rata penjualan (Bungkus) Penerimaan rata-rata (Rp)
2662 4.800,00 227 11.345.000,00 Sumber: Data Primer
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa dalam satu bulan produsen jenang ketan tingkat rumah tangga dapat memproduksi jenang ketan sebanyak 2.662 bungkus mikha. Pada satu bungkus mikha mempunyai berat 450 gram dengan isi jenang bungkus plastik sebanyak 14 sampai 17 bungkus. Dengan harga jual rata-rata per bungkus jenang ketan sebesar Rp 4.800,00. Sehingga dapat dihitung penerimaan rata-rata dari produsen jenang ketan tingkat rumah tangga adalah Rp 11.345.000,00. Dalam satu bulan produsen jenang ketan melakukan produksi sebanyak 7 sampai 26 kali proses produksi. Hal ini disesuaikan dengan tingkat permintaan dari pasar terhadap kebutuhan jenang ketan mengingat wilayah penjualan yang berbeda-beda antara produsen satu dengan produsen yang lain. Volume penggunaan tenaga kerja dapat dilihat pada lampiran.
Keuntungan yang diterima oleh produsen jenang ketan merupakan selisih antara total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan. Besarnya keuntungan rata-rata yang diterima oleh produsen jenang ketan dapat dilihat pada Tabel berikut ini :
Tabel 15. Keuntungan rata-rata produsen jenang ketan tingkat rumah tangga selama satu bulan.
No Uraian Rata-rata per bulan (Rp)
1. 2. 3. Biaya Total Penerimaan Keuntungan 6.283.371,71 11.345.000,00 5.061.628,29 Sumber: Data Primer
Keuntungan rata-rata produsen jenang ketan tingkat rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 15 dengan perhitungan sebagai berikut penerimaan rata-rata per bulan sebesar Rp 11.345.000,00 dan total
li
biaya untuk proses produksi sebesar Rp 6.283.371,71per bulan, sehingga dapat diketahui keuntungan yang diterima produsen jenang ketan sebesar Rp 5.061.628,29 per bulan. Dapat dilihat dari besarnya keuntungan yang diterima oleh produsen jenang ketan dapat dikatakan besar, sehingga usaha ini dapat dijadikan sebagai usaha pokok untuk menunjang kehidupan pemilik usaha.
b. Risiko Usaha Jenang Ketan Tingkat Rumah Tangga
Untuk mengetahui besarnya risiko usaha yang harus ditanggung oleh setiap produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 16. Simpangan baku, koefisien variasi dan batas bawah keuntungan usaha jenang ketan tingkat rumah tangga selama satu bulan.
No Uraian Rata-rata per bulan
1. 2. 3. 4. Keuntungan (Rp) Simpangan baku (Rp) Koefisien Variasi
Batas bawah keuntungan (Rp)
5.061.628,29 1.611.549,86
0,32 1.838.528,56
Sumber: Data Primer
Tabel 16 menunjukkan bahwa keuntungan rata–rata yang diterima produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo dalam sebulan sebesar Rp 5.061.628,29. Dari perhitungan keuntungan tersebut, maka dapat diketahui besarnya simpangan baku usaha jenang ketan, yaitu sebesar Rp 1.611.549,86. Sedangkan koefisien variasi dapat dihitung dengan cara membandingan antara besarnya simpangan baku terhadap keuntungan rata–rata yang diperoleh. Koefisien variasi dari usaha jenang ketan sebesar 0,32 dan
batas bawah keuntungan usaha jenang ketan ini sebesar Rp 1.838.528,56 per bulan. Dari nilai koefisien variasi dan nilai batas
bawah keuntungan usaha yang ada, terlihat bahwa nilai koefisien variasi dibawah 0,5 dan nilai batas bawah keuntungan bernilai positif.
lii
Hal ini menujukkan bahwa risiko usaha jenang ketan di Kabupaten Ponorogo adalah rendah. Hal ini bertentangan dengan pendugaan awal bahwa usaha jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo memiliki risiko tinggi.
c. Efisiensi Usaha Jenang Ketan Tingkat Rumah Tangga
Efisiensi usaha jenang ketan tingkat rumah tangga merupakan perbandingan antara total penerimaan rata-rata yang diterima oleh produsen jenang ketan dengan rata-rata biaya total yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan dalam produksi. Adapun efisiensi usaha dari industri rumah tangga jenang ketan di Kabupaten Ponorogo dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Tabel 17. Efisiensi usaha jenang ketan tingkat rumah tangga selama satu bulan.
No. Uraian Rata-rata per bulan
1. 2. 3 Penerimaan (Rp) Biaya total (Rp) Efisiensi usaha 11.345.000,00 6.283.371,71 1,81 Sumber: Data Primer
Tabel 17 menunjukkan bahwa efisiensi usaha jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo selama satu bulan produksi adalah sebesar 1,81. Hal ini berarti usaha jenang ketan tingkat rumah tangga yang telah dijalankan sudah efisien yang ditunjukkan dengan nilai R/C rasio lebih dari satu. Hal ini sesuai dengan pendugaan yang dilakukan pada saat awal penelitian, yaitu usaha jenang ketan tingkat rumah tangga yang telah dijalankan di Kabupaten Ponorogo sudah efisien.
R/C rasio ini menunjukkan keuntungan yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksi. Nilai R/C rasio
liii
1,81 berarti bahwa setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan akan dalam suatu awal kegiatan usaha memberikan penerimaan sebesar 1,81 kali dari biaya yang telah dikeluarkan. Semakin besar R/C rasio maka akan semakin besar pula penerimaan yang akan diperoleh produsen.
B. Pembahasan
Biaya yang dikeluarkan dalam usaha jenang ketan di Kabupaten Ponorogo meliputi biaya variabel dan biaya tetap. Yang termasuk dalam biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku, bahan bakar, pengemasan, dan transportasi. Sedangkan untuk biaya tetap adalah biaya untuk membayar tenaga kerja dalam keluarga maupun luar keluarga, penyusutan alat, dan bunga modal investasi. Dalam penelitian ini biaya yang diperhitungkan adalah selama satu bulan. Terhitung mulai tanggal penelitian 26 Mei 2009 sampai dengan tanggal 24 Juni 2009.
Biaya rata–rata yang dikeluarkan oleh setiap produsen jenang ketan dalam penelitian ini adalah sebesar Rp 6.283.371,71 selama satu bulan produksi. Biaya bahan baku memiliki kontribusi paling besar terhadap biaya total yang dikeluarkan produsen jenang ketan, yaitu rata-rata per bulan sebesar
Rp 3.934.440,00. Biaya tenaga kerja rata-rata per bulan sebesar Rp 611.000,00. Jumlah tenaga kerja berpengaruh pada upah yang harus
dikeluarkan oleh produsen. Dalam penelitian ini usaha yang diteliti adalah usaha rumah tangga sehingga jumlah tenaga kerja masih terbatas, yaitu sebanyak 1 sampai 4 orang pekerja.
Produsen jenang ketan tidak terlalu membutuhkan banyak pekerja dari luar. Tenaga kerja yang ada di usaha jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo meliputi tenaga kerja laki–laki dan tenaga kerja wanita. Biaya yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan untuk membayar tenaga kerja laki–laki maupun tenaga kerja wanita adalah beda. Hal ini dilakukan
liv
karena tingkatan kerja untuk tenaga kerja laki–laki lebih berat dan membutuhkan tenaga yang besar. Misalkan pada pekerjaan membuat jenang ketan terutama pada proses mengaduk jenang ketan saat sedang dimasak diatas tungku masak. Sedangkan tenaga kerja wanita hanya mengeluarkan tenaga lebih sedikit. Misalkan pada pekerjaan mengemas jenang ketan kedalam bungkus atau kemasan.
Biaya bahan bakar yang dikeluarkan produsen untuk proses produksi rata-rata sebesar Rp 236.850,00 per bulan. Hal ini dikarenakan bahan bakar yang digunakan dalam proses produksi adalah kayu bakar yang didapatkan dengan membeli dan sebagian ditambah dengan kayu bakar milik sendiri.
Biaya pengemasan yang harus dikeluarkan produsen tiap bulannya rata-rata sebesar Rp 1.296.744,00 karena untuk pengemasan membutuhkan kemasan yang menarik dan perlu menambahkan merk produk dalam kemasan. Sedangkan untuk biaya transportasi dan biaya penyusutan masing-masing rata-rata sebesar Rp 91.600,00 dan Rp 53.000,00 per bulan. Biaya transportasi yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan tidak terlalu tinggi. Produsen jenang ketan dalam memasarkan produk kebanyakan melalui tengkulak. Sedangkan untuk pemasaran yang dilakukan sendiri dengan cakupan daerah yang tidak terlalu jauh dan frekuensi pemasaran yang tidak sering dilakukan.
Penerimaan rata–rata usaha jenang ketan yang diperoleh setiap produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo adalah sebesar Rp 11.345.000,00 per bulan. Sedangkan penerimaan usaha jenang ketan untuk setiap produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo berkisar antara Rp 4.550.000,00 sampai Rp 22.440.000,00 untuk setiap bulannya. Perbedaan penerimaan ini disebabkan karena adanya perbedaan frekuensi produksi dalam sebulan dan jumlah jenang ketan yang diproduksi oleh setiap produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo. Bunga modal investasi yang harus ditanggung oleh produsen jenang ketan selama adalah sebesar Rp 61.437,71. Nilai ini merupakan hasil dari perhitungan dengan suku bunga sebesar 7,25% pada bulan Mei 2009, karena penelitian ini dilakukan pada bulan tersebut.
lv
Perbedaan jumlah jenang ketan yang diproduksi oleh setiap produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo dipengaruhi oleh perbedaan modal yang dimiliki oleh setiap produsen jenang ketan tersebut. Terutama modal untuk pembelian bahan–bahan yang diperlukan untuk pembuatan jenang ketan.
Jenang ketan yang tidak laku dijual karena adanya kerusakan pada produk akan ditarik dari pasar. Produk yang masih layak konsumsi dapat dikonsumsi sendiri dan sebagian diberikan kepada tetangga produsen. Sedangkan produk yang tidak layak konsumsi dimanfaatkan sebagai makanan ternak atau dibuang. Daya tahan jenang ketan yang tidak tahan lama yaitu hanya mampu bertahan selama satu minggu menyebabkan tingkat pengembalian produk tinggi.
Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, besarnya keuntungan yang diperoleh para produsen rata-rata sebesar Rp 5.061.628,29. Sedangkan keuntungan yang diperoleh setiap produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo berkisar antara Rp 1.425.198,78 sampai Rp 10.146.485,07 per bulan. Perbedaan keuntungan yang diterima oleh produsen jenang ketan tersebut dipengaruhi oleh perbedaan besarnya penerimaan yang diterima oleh setiap produsen. Ada produsen jenang ketan yang memperoleh keuntungan hanya sebesar Rp 1.425.198,78 per bulan atau dibawah rata-rata, akan tetapi usaha jenang ketan tersebut tetap dijalankan.
Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, diperoleh bahwa besarnya simpangan baku pada usaha jenang ketan di Kabupaten Ponorogo
adalah Rp 1.611.549,86. Besarnya nilai koefisien variasi atau CV adalah 0,32 dan nilai batas bawah keuntungan atau L adalah Rp 1.838.528,56. Hal ini
dapat diartikan bahwa usaha jenang ketan yang dijalankan di Kabupaten Ponorogo memiliki risiko usaha rendah. Dengan kata lain produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo ada kemungkinan mendapatkan tambahan keuntungan sebesar Rp 1.838.528,56 per bulan.
Nilai simpangan baku yang kecil mengakibatkan nilai koefisien variasi (CV) menjadi rendah, yaitu dibawah 0,5 dan nilai batas bawah keuntungan (L)
lvi
akan bernilai positif. Nilai koefisien variasi (CV) dibawah 0,5 dan nilai batas bawah keuntungan (L) bernilai positif berarti memiliki risiko usaha yang dijalankan adalah rendah.
Produksi jenang yang dilakukan secara terus-menerus oleh produsen jenang ketan tingkat rumah tangga dan dan tingkat pengembalian jenang yang relatif rendah akan mendorong usaha jenang ketan berisiko rendah. Selain itu juga adanya kepastian lokasi pasar dapat mengurangi biaya transportasi yang harus dikeluarkan oleh sebagian produsen jenang ketan tingkat rumah tangga dalam mendistribusikan produk.
Nilai efisiensi dari usaha jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo dalam penelitian ini adalah sebesar 1,81. Berdasarkan kriteria yang digunakan, maka usaha ini sudah efisien karena nilai efisiensi lebih dari 1. Hal ini sesuai dengan pendugaan yang dilakukan pada saat awal penelitian, yaitu usaha jenang ketan yang dijalankan di Kabupaten Ponorogo sudah efisien. Nilai efisiensi usaha 1,81 berarti bahwa setiap 1 rupiah biaya yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan akan mendapatkan penerimaan 1,81 kali biaya yang telah dikeluarkan tersebut.
Dari hasil analisis diketahui bahwa usaha jenang ketan tingkat rumah tangga yang dijalankan sudah efisien dan mempunyai tingkat risiko yang rendah. Hal ini tidak sesuai dengan kondisi usaha jenang ketan yang semakin sedikit jumlah produsennya di Kabupaten Ponorogo. Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi karena adanya satu produsen jenang ketan yang melakukan produksi dalam jumlah besar selama satu bulan. Yaitu dengan jadwal produksi selama enam hari dalam satu minggu. Hal ini mengakibatkan penerimaan yang diperoleh akan besar dan akan mempengaruhi rata-rata penerimaan yang diperoleh para produsen jenang ketan tingkat rumah tangga. Keinginan para produsen jenang ketan untuk beralih profesi ke pekerjaan lain menyebabkan jumlah produsen jenang ketan semakin berkurang, walaupun dari hasil analisis dapat diketahui bahwa usaha jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo terhindar dari kemungkinan mengalami kerugian dan usaha yang dijalankan telah efisien.
lvii