• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.4. Analisis Vegetasi

Hasil analisa terhadap vegetasi di 2 stasiun hutan kota BUPERTA terdapat di bawah ini:

Tabel 6. Indeks Nilai Penting dan Keanekaraman Vegetasi Tingkat Pohon dan Pancang pada Stasiun 1

NO NAMA ILMIAH NAMA DAERAH Pohon Pancang INP Pi Log Pi (H’) INP Pi Log Pi (H’)

1 Acacia auricuilformis Akasia 15.4 0.065

2 Antidesma bunius Buni 11.29 0.0432 64. 3 0. 223

3 Bauhinia purpurea Bunga Kupu-kupu 28.06 0.0936 35. 77 0. 101

4 Cocos nucifera Kelapa 14 0.0536

5 Hevea brasiliensis Karet 14.72 0.0528

6 Lagerstroemia speciosa Bungur 31.46 0.099

7 Mimusops elengii Tajung 43.76 0.119 41. 48 0. 111

8 Pinus merkusili Pinus 24.67 0.088

9 Polyalthia longifolia Glodogan tiang 32.14 0.098 47. 93 0. 118

10 Swietenia indica Mahoni 11.97 0.0423

11 Syzigium polyantrum Salam 20.46 0.0708 47. 34 0. 120

12 Tectona grandis Jati 11.29 0.0432 35. 77 0. 103

13 Kerai payung 33.04 0.097

14 Pala Manis 10.16 0.0444 27. 42 0. 093 15 Lamtoro 8.81 0.0308

Total 311. 23 1. 041 300 0. 867

Tabel 7. Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Vegetasi Tingkat Pohon dan Pancang pada Stasiun 2

NO NAMA ILMIAH NAMA DAERAH Pohon Pancang INP Pi Log Pi (H’) INP Pi Log Pi (H’)

1 Acacia auricuiformes Acasia 38.1 0.106

2 Bauhinia purpurea Bunga kupu-kupu 48.8 0.124

3 Calophyllum inophylum Nyamplung 22.8 0.077

4 Hibiscus tiliaceus Waru 26.89 0.083

5 Lagerstroemia speciosa Bungur 23.52 0.077 55.17 0.131

6 Mimusops elengii Tanjung 19.06 0.071

7 Pometia pinnata Matoa 24.3 0.087

8 Sandoricum koetjapie Kecapi 45.91 0.121

9 Swietenia indica Mahoni 106.3 0.157 76.65 0.147

10 Syzigium polyantrum Salam 49.06 0.124

11 Pule 40.26 0.113

12 Sp 1 23.22 0.077 Total 300 0.728 300 0.767

4.2. Pembahasan

4.2.1 Kelimpahan dan Indeks Dominansi Burung

Dari hasil pengamatan di hutan kota BUPERTA Cibubur ditemukan sebanyak 30 jenis burung dengan kelimpahan yang berbeda di dua stasiun penelitian. Burung gereja (Passer montanus) merupakan jenis burung yang kelimpahannya paling tinggi dan ditemukan hampir di semua plot pengamatan. Kelimpahan ini dapat terlihat dari pengamatan yang dilakukan selama kurang lebih 4 bulan penelitian.

Pada stasiun 1 Jenis burung yang memiliki kelimpahan dan INP tertinggi secara berturut-turut adalah Burung gereja (Passer montanus) dengan Kr 52,01 dan INP 57,89%, Bondol peking (Lonchura punctulata) dengan Kr 7,60 dan INP 13,48%, Walet linchi (Collocalia linchi) dengan Kr 6.85 dan INP 12,73%, Layang-layang batu (Hirundo tahitica) dengan Kr 5,34 dan Nilai INP 11,22% dan Tekukur (Streptopelia chinensis) dengan Kr 5,04 dan Nilai INP 10,92%, sedangkan untuk jenis burung dengan kelimpahan dan INP rendah adalah Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus) dengan Kr 0,30 dan INP 3,24%, Wiwik lurik (Cacomantis sonneratiis) dengan Kr 0,70 dan INP 3,64%, Raja udang meninting (Alcedo meninting) dengan Kr 0,70 dan INP 3,64%. Kelimpahan jenis-jenis ini terlihat pada saat penelitian yang sering dijumpai, sedangkan seringnya jenis burung tersebut terlihat sepertinya sudah cukup terbiasa dengan kehidupan manusia. Menurut MacKinnon (1992) jenis-jenis burung tersebut adalah jenis burung yang terbiasa dengan aktifitas manusia.

Untuk indeks dominansi burung pada stasiun 1 yang tergolong dengan dominansi tinggi yaitu burung yang memiliki nilai persentase dominansi di atas 5% hal ini terjadi pada jenis Burung gereja (Passer montanus) yang memiliki indeks dominansi sebesar 28,1%, Tekukur (Sreptopelia chinensis) yang memiliki indeks dominansi sebesar 5,2%, Walet linchi (Collocalia linchi) yang memiliki indeks dominansi sebesar 6,1%. Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cabai jawa (Dicaeum trochileum), dan Madu sriganti (Nectarinia jugularis) merupakan jenis-jenis burung dengan tingkat dominansi sedang yaitu dengan tingkat dominansi 2% – 5%, sedangkan untuk jenis burung dengan tingkat dominansi rendah yaitu jenis burung yang memiliki tingkat dominansi sebesar kurang dari 2% yaitu burung Raja udang meninting (Alcedo meninting) dengan nilai indeks dominansi sebesar 1,7%, Cipoh kacat (Aegithina tiphida) dengan nilai indeks dominansi sebesar 1,5%. Masih terdapatnya dominansi beberapa jenis burung di hutan kota BUPERTA tersebut mungkin saja masih ada faktor ekologis yang masih mendukung misalya danau, rumput dan alang-alang.

Pada stasiun 2 jenis burung yang memiliki kelimpahan yang tinggi secara berturut-turut adalah Burung gereja (Passer montanus) dengan Kr 46,65 dan INP 51,52%, Walet linchi (Collocalia linchi) dengan Kr 8,11 dengan INP 12,98 % dan Tekukur (Streptopelia chinensis) dengan Kr 5,68 dan INP 10,54%. sedangkan jenis burung yang memiliki kelimahan rendah yaitu Kipasan belang (Rhipidura javanica) dengan Kr 0,20 dan INP 2,63%, Perkutut (Geopelia striata) dengan Kr

0,20 dan INP 2,63% dan Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus) dengan Kr 0,40 dan INP 2,83%

Untuk indeks dominansi burung pada stasiun 2 yang tergolong dengan dominansi tinggi yaitu burung yang memiliki nilai persentase dominansi di atas 5% hal ini terjadi pada jenis Burung gereja (Passer montanus) yang memiliki indeks dominansi sebesar 25,8%, Bondol peking (Lonchura punctulata) yang memiliki indeks dominansi sebesar 6.5%, Walet linchi (Collocalia linchi) yang memiliki indeks dominansi sebesar 6,5%. Sepah kecil (Pericrocotus cinamomeus), Cekakak sungai (Todirhamphus chloris) dan Bentet kelabu (Lanius

schah) merupakan jenis-jenis burung dengan tingkat dominansi sedang yaitu

dengan tingkat dominansi 2% – 5%, sedangkan untuk jenis burung dengan tingkat dominansi rendah yaitu jenis burung yang memiliki tingkat dominansi sebesar kurang dari 2% yaitu Perkutut (Geopelia striata) dengan indeks dominansi sebesar 1,3%, Gelatik batu kelabu (Parus major) dan Srigunting hitam (Dicrurus macrocercus) dengan indeks dominansi sebesar 1,4%. Masih terdapatnya

dominansi beberapa jenis burung di hutan kota BUPERTA tersebut mungkin saja masih ada faktor pendukung yang masih ada misalya danau, rumput dan alang-alang.

Sedikitnya jenis burung yang tersebut dipengaruhi oleh faktor habitat yang kurang mendukung. Menurut MacArthur dan MacArthur (1972) faktor habitat merupakan faktor utama seberapa besar jumlah jenis burung berada di dalam suatu komunitas. Selain habitat perburuan dapat juga mempengaruhi produktivitas jenis burung hutan kota BUPERTA Cibubur perburuan biasanya dilakukan secara konvensional dengan menggunaan ketapel dan senapan angin, biasanya perburuan dilakukan terhadap jenis burung dengan kriteria tertentu misalnya suara, karena

pada saat di lapangan terkadang ada sekelompok remaja yang membawa senapan angin, ketapel dan juga sering memanjat pohon dengan maksud mengambil sarang burung. Burung yang memiliki suara indah akan memberikan nilai tersendiri kepada pemiliknya, karena dalam kehidupan burung kicauan yang dinyanyikan memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengumumkan penguasaan sebuah wilayah hidup atau teritori dan upaya untuk memikat betina untuk pasangan berkembang biak (Armstrong 1963, Catchple 1979) dalam Adhikerana dkk (1993). Menurut MacKinnon (1998) jenis burung raja udang sering terlihat di perairan seperti danau, sungai dan payau. Keberadaan burung raja udang meninting dipastikan masih adanya sumber makanan di danau, namun untuk menemukan jenis burung ini kita harus mengetahui pola hidupnya dalam mencari makan, begitu juga untuk jenis-jenis burung lainnya

Dari kelimpahan dan juga indeks dominansi terhadap jenis burung yang terdapat di hutan kota BUPERTA Cibubur dapat digolongkan menjadi 3 kriteria yaitu kriteria burung dengan tingkat dominansi tinggi (Di>5%), kriteria burung dengan tingkat dominansi rendah (Di 2-5%) dan kriteria burung dengan tingkat dominansi rendah (Di<2%). Dari kriteria tersebut burung gereja (Passer montanus), Tekukur (Sterptopelia Chinensis) merupakan burung dengan

dominansi tinggi, suku dari Jenis ini masuk ke dalam Ploicedae selalu terlihat di setiap lokasi pengamatan dengan jumlah melimpah baik secara berkelompok maupun soliter. Burung gereja merupakan burung yang berasosiasi dekat dengan manusia, burung ini termasuk dalam kelompok bertengger yang juga dikenal sebagai burung penyiul.

Burung gereja biasanya mencari makan di tanah, lapangan maupun di halaman sekitar gedung sehingga sangat mudah sekali kita dapat menjumpai jenis burung ini, karena burung ini memiliki bentuk kaki sangat kecil dan lemah dan juga warna bulunya dengan warna coklat dan abu-abu agak suram dengan coreng lebar berpola rerumputan. Sifat lain yang dimiliki oleh burung gereja yaitu home insting yaitu hewan yang mempunyai insting untuk kembali ke tempat tinggalnya semula. Ciri dari hewan yang mempunyai home insting adalah sangat terikat dengan tempat tinggalnya selama tempat tinggal tersebut masih aman dan sesuai dengan kebutuhannya.

Jenis burung yang memiliki kelimpahan dan INP terendah merupakan jenis burung yang hanya terlihat sesekali pada saat pengamatan di lapangan, fakta yang membuktikan bahwa jenis burung dengan penampakan sekali pada saat penampakan memiliki kelimpahan yang hampir sama masing-masing tidak kurang dari 1% dan INP masing-masing 2,9% begitu juga dengan indeks dominansinya yang kurang dari 2% (tabel 3). Habitat merupakan hal utama yang dapat mempengaruhi kelimpahan burung di stasiun 1, menurut Karr (1968) dan Gavereski (1976) dalam Mendidit (2003) ukuran atau luas habitat merupakan suatu faktor penting dalam menilai keanekaragaman jenis burung.

4.2.2. Keanekaragaman Burung

Suatu komunitas yang stabil dan baik akan mempuyai kenekaragaman jenis burung yang tinggi, tinggi rendahnya keanekaragaman hanya bisa ditentukan jika dua atau lebih komunitas yang dibandingkan (Odum, 1971 dalam Mendidit

2003), menurut Sheldon (1969) dalam Mendidit (2003) indeks keanekaragaman Shannon–Wiener yang digunakan dalam fungsi perhitungan adalah fungsi dari dua komponen yaitu kekayaan atau jumlah jenis dan indeks keseragaman antar habitat.

Keanekaragaman burung di hutan kota BUPERTA Cibubur dapat dilihat pada tabel 4. Dari tabel tersebut stasiun 2 memiliki indeks keanekaragaman lebih besar dibandingkan dengan stasiun 1, yaitu pada stasiun 2 sebesar (H’= 1.173) sedangkan di stasiun 1 sebesar (H’= 1.159), perbedaan ini terlihat dari jumlah burung yang dijumpai selama penelitian dan juga dari hasil analisis data burung yang diperoleh dengan hasil yang tidak jauh berbeda hanya saja jenis burung di stasiun 2 lebih banyak bila dibandingkan dengan stasiun 1, maka nilai kekayaan jenisnya yaitu sebanyak 25 jenis. Perbedaan ini ada hubungannya dengan luas dan juga tipe habitat di dalam luasan habitat tersebut.

Bentuk habitat yang terdapat di hutan kota BUPERTA Cibubur merupakan bentuk ruang terbuka hijau, dimana vegetasi yang terdapat tidak jauh berbeda dengan ruang terbuka hijau lainnya yang ada di Jakarta keberadaan vegetasi ini sengaja ditanam atau telah tumbuh dengan sendirinya. Habitat pada stasiun 1 tersusun atas lapangan, wilayah perairan danau dan beberapa lokasi dengan tanaman yang digunakan sebagai penghijauan di sepanjang jalan dan beberapa lokasi konsentrasi dengan vegetasi yang telah ada selain itu terdapat lokasi yag dijadikan sebagai sebagai koleksi kawasan hutan kota BUPERTA Cibubur. Sedangkan stasiun 2 tersusun atas lapangan dengan tingkat kerapatan vegetasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan stasiun 1 mungkin saja hal ini terjadi

karena lokasi stasiun 2 banyak digunakan sebagai tempat untuk berkemah sehingga pengaturan dan pengawasan vegetasinyapun lebih intesif dibandingan dengan lokasi stasiun 1. Pada stasiun 2 terdapat kubangan air seperti rawa yang tersusun atas vegetasi rerumputan, disamping itu selain dari bentuk luasan terbukanya stasiun 2 lebih dekat dengan wilayah yang berbatasan dengan daerah sekitarnya yang mana di luar daerah tersebut masih terdapat sawah yang banyak mengundang burung bondol, ruang terbuka lainnya seperti tempat pemakaman, kebun pekarangan rumah yang masih banyak menyimpan tanaman produksi dan semak.

Dari hasil tersebut burung kota sangat menyukai daerah yang menyediakan sumber pakan dan juga bentuk habitat yang dapat mendukung kelangsungan hidupnya. Menurut Peterson (1980) dalam Mendidit (2003) penyebaran burung erat hubungannya dengan ketersediaan makanan, dengan kata lain burung memerlukan tempat khusus untuk hidupnya, penyebaran burung dipengaruhi oleh kesesuaian lingkungan hidup burung, meliputi adaptasi terhadap lingkungan, kompetisi dan seleksi alam, karena burung merupakan satwa liar pengguna ruang yang cukup baik, hal ini dapat dilihat dari penyebarannya.

Keanekaragaman burung di stasiun 1 mempunyai indeks keanekaragaman yang lebih rendah dari stasiun 2 hal ini di pengaruhi oleh nilai kekayaan jenis yang lebih rendah dengan 23 jenis. Bentuk lokasi stasiun 1 memiliki ruangan terbuka yang lebih rendah dibandingakan dengan stasiun 1 hanya saja vegetasi yanga ada lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun 2, selain itu lokasi stasiun 1 tersusun atas beberapa segmentasi habitat seperti danau, lapangan sepak bola,

namun karena banyaknya pengujung yang masuk ke daerah tersebut dengan memanfaatkan danau sebagai tempat untuk rekreasi, maka pengaruhnya membawa dampak terhadap kehidupan burung selain itu stasiun 1 sangat berdekatan dengan lingkungan yang cukup ramai seperti jalan raya, rumah makan dan mall. Menurut Orians (1969) Kenekaragaman burung juga dipengaruhi oleh banyaknya faktor lainnya seperti kelimpahan epifit, keimpahan buah-buahan, keterbukaan lantai dan juga komposisi pohon, sehingga baik secara nyata maupun tidak nyata indikasi tersebut dapat mempengaruhi keberadaan burung terkecuali burung yang telah beradaptasi degan lingkungan manusia.

Perbedaan keanekaragaman burung dari dua stasiun secara dipegaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. Ukuran luas habitat, semakin luas habitatnya, cenderung semakin tinggi keanekaragaman jenis burungnya. Luas stasiun 1 lebih sempit dibandingkan dengan stasiun 2 sehingga keanekaragaman burungnya dapat berbeda dari kedua stasiun tersebut.

2. Struktur dan keanekaragaman vegetasi, di daerah yang keanekaragaman tumbuhannya tinggi maka keanekaragaman jenis hewannya termasuk bururng tinggi pula, hal ini disebabkan karena setiap jenis hewan hidupnya bergantung pada sekelompok jenis tumbuhannya tertentu (Ewusie, 1990 dalam Partasasmita, 2003). Kenakearagaman vegetasi di stasiun 2 lebih rendah di bandingkan dengan stasiun 1 hal ini terjadi karena stasiun 2 banyak digunakan sebagai tempat kegiatan kepramukaan sedangkan stasiun 1 keanekaragaman

vegetasinya lebih tinggi namun karena faktor eksternal burung merasa terganggu keberadaannya sehigga jumlah burungnya lebih sedikit.

3. Keanekaan dan tingkat kualitas habitat secara umum di suatu lokasi (Gonzales, 1993 dalam Partasasmita, 2003) semakin majemuk habitatnya cenderung semakin tinggi keanekaragaman burungnya. Untuk daerah konservasi memang berbanding lurus semakin beranekaragam tanaman akan berdampak bagus terhadap kelestarian burung yang melimpah sedangkan hutan kota harus lebih konsisten penataanya supaya tidak terganggu burung yang ada di hutan kota tersebut salah satunya faktor kebisingan dan pemilihan tanaman untuk dijadikan sebagai habitat burung.

4. Pengendali ekosistem yang dominan. Keanekaragaman burung cenderung rendah dalam ekosistem yang terkendali secara fisik dan cenderung tinggi dalam ekosistem yang diatur secara biologi (Odum, 1994 dalam Partasasmita, 2003). Raja udang meninting sebagai indikator spesies perairan karena sering terlihat burung tersebut mengambil makanan di danau hutan kota BUPERTA Cibubur.

Dokumen terkait