HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.2.4. Stratifikasi Vertikal Wilayah Pencarian Pakan
Wilayah pencarian makan merupakan wilayah yang tersusun atas gugusan habitat dimana nantinya akan sangat bermanfaat bagi satwa sebagai tempat untuk mencari atau mendapatakan makanan bagi burung, beberapa tumbuhan yang terdapat dalam gugus itu dimanfaatkan oleh burung sebagai pakan atau perlindungan. Gugus- sumberdaya (pakan), ketika terjadi pada skala kecil bahkan lebih kecil dari 200 meter2, dapat berpengaruh langsung terhadap taktik perilaku secara individu (Hunter dkk, 1992 dalam Arumasari, 1989).
Menurut Arumasari (1989) pembagian wilayah pencarian pakan secara vertikal oleh berbagai jenis burung yang terdapat di Kampus UI Depok sebagai berikut:
1. Lapisan tanah: Pada lapisan ini digunakan oleh jenis burung Tekukur (Streptopelia chinensis) dan Burung gereja (Passer montanus).
2. Lapisan semak: Pada lapisan ini digunakan oleh jenis burung Bondol peking (Lonchura punctulata), Bondol jawa (Lonchura leucogastroides).
3. Lapisan subkanopi: Pada lapisan ini digunakan oleh jenis burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster), jenis cinenen (Orthotomus sutorius).
4. Lapisan kanopi: Pada lapisan ini digunakan oleh jenis burung madu sriganti (Nectarina jugularis), sepah kecil (Pericrocotus cinamomeus) dan lain-lain. 5. Lapisan udara: Pada lapisan ini digunakan antara lain oleh Jenis walet
4.2.5. Profil Habitat Burung
Beberapa tipe habitat di dalam hutan kota BUPERTA Cibubur dimanfaatkan oleh burung dalam kegiatan sehari-harinya, penggunaan beberapa tipe habitat seperti lokasi mencari makan, lokasi bermain atau bercengkrama satu dengan yang lainnya dan lokasi istirahat atau tidur baik yang dilakukan pada siang hari maupun menjelang malam hari, namun tidak selamanya burung tersebut menggunakan hanya satu tipe habitat tetapi ada beberapa burung yang menggunakan beberapa tipe habitat dalam kegiatan sehari-harinya. Penggunaan beberapa tipe habitat oleh burung di hutan kota BUPERTA Cibubur dapat digambarkan dengan bentuk profil habitat di bawah ini:
4.2.5.1. Profil Habitat Tidur
Pada profil gambar 7 stasiun 1 menunjukan penggunaan strata vegetasi oleh beberapa burung untuk beraktifitas sebagian besar penggunaan strata vegetasi ini digunakan dalam aktifitas tidur atau istirahat, kisaran penggunaan vegetasi untuk istirahat berkisar antara 6 m sampai 15 m, beberapa burung yang teramati pada profil habitatini yaitu Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Tekukur (Streptopelia chinensis), burung gereja (Passer montanus) dan Cinenen pisang (Orthotous sutorius).
Pada profil gambar 10 stasiun 2 menunjukan penggunaan strata vegetasi oleh beberapa burung untuk beraktifitas sebagian besar penggunaan strata vegetasi ini digunakan dalam kegiatan tidur atau istirahat dimana penggunaan vegetasinya berkisar antara 7 m sampai 20 m seperti yang dilakukan oleh burung
tekukur (Sterptopelia chinensis), cucak kutilang (Pycnnootus aurigaster) dan Sepah kecil (Pericrocotus cinamomous).
4.2.5.2. Profil Habitat Makan
Pada profil gambar 6 stasiun 1 menunjukan penggunaan strata vegetasi oleh beberapa burung untuk beraktifitas sebagian besar penggunaan strata vegetasi ini digunakan dalam aktifitas makan, kisaran penggunaan vegatasi untuk mencari makan berkisar antara 5 m sampai 31 m, beberapa burung yang tampak pada profil habitat ini yaitu Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cabai jawa (Dicaeum trochileum), Burung gereja (Passer montanus) dan Cipoh kacat (Aegithina tiphida).
Pada profil gambar 9 stasiun 2 menunjukkan penggunaan strata vegetasi oleh beberapa burung untuk beraktifitas sebagian besar penggunaan strata vegetasi ini digunakan dalam aktifitas makan, kisaran penggunaan vegetasi utuk mencari makan berkisara antara 4 m sampai 18 m, beberapa burung yang teramati pada profil ini yaitu jenis burung madu (Nectarinia jugularis) dan Cinenen pisang (Orthotomus sutorius).
4.2.5.3. Profil Habitat Bermain
Pada gambar 5 stsiun 1 menunjukkan penggunaan strata vegetasi oleh beberapa jenis burung untuk beraktifitas sebagaian besar penggunaan strata vegetasi ini digunakan dalam aktifitas bermain. Kisaran penggunaan vegetasi untuk mencari makan berkisar antara 5 m sampai 31 m. Beberapa burung yang
tampak pada profil habitat ini yaitu Cucak kutiang (Pycnootus aurigaster), Cabai jawa (Dicaeum trochileum), Burung gereja (Passer montanus) dan Cipoh kacat (Aegithina tiphida).
Pada gambar 8 stasiun 2 menunjukan penggunaan strata vegetasi oleh beberapa burung untuk beraktifitas sebagian besar penggunaan strata vegetasi ini digunakan dalam aktifitas main atau bercengkrama, kisaran penggunaan vegetasi untuk bermain berkisar antara 4 m sampai 27 m, beberapa burung yang tampak saat penelitian pada profil ini yaitu burung gereja (Passer montanus), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan Cabai jawa (Dicaeum trochileum).
4.2.6. Vegetasi
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data vegetasi yang terdapat pada 2 stasiun hutan kota BUPERTA Cibubur, maka dapat dibagi dalam vegetasi tingkat pohon dan vegetasi tingkat pancang yang terdapat di bawah ini:
4.2.6.1. Tingkat Pohon
Pada stasiun 1 diperoleh 15 jenis vegetasi tingkat pohon yang terbagi dalam tingkat dominansi mulai dari tingkat dominansi sangat tinggi sampai terendah. Tingkat dominansi sangat tinggi yaitu Tanjung (Mimusops elengii) dengan INP 43,76%, 3 jenis dalam dominansi tingkat tinggi yaitu Glodogan tiang (Polyalthia longifolia) dengan INP 3,.14%, Kerai payung dengan INP 33,04% dan Karet (Hevea brasiliensis) dengan INP 31,46%, 2 jenis termasuk dalam tingkat dominansi sedang yaitu Bungur (Lagerstroemia speciosa) dengan INP 28,06%
dan Pinus (Pinus merkusili) dengan INP 24,67%, 1 jenis termasuk dalam tingkat dominansi rendah yaitu Bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea) dengan INP 20,46%, sedangkan 8 jenis lainnya termasuk dalam tingkat dominansi sangat rendah yaitu Buni (Antidesma bunius) dengan INP 11,29%, Kelapa (Cocos nuciferus) dengan INP 14%, Mahoni (Swietenia mahagoni) dengan INP 11,97%,
Pala manis dengan INP 10,16 %, Jati (Tectona grandis) dengan INP 11,29%, Salam (Syzigium polyantrum) dengan INP 8,81%, Akasia (Acasia auricuilformis) dengan INP 15,04% dan Lamtoro dengan INP 14,72%. Dari hasil penghitungan indeks keanekaragaman vegetasi tingkat pohon pada stasiun 1 yaitu 1.0407 hal ini menunjukan bahwa pada stasiun 1 keanekaragaman jenis tingkat pohon sedang, untuk INP dan tingkat keanekaragaman vegetasi pada stasiun 1 disajikan pada lampiran 7, nilai kelas tingkat dominansi dan peran vegetasi pada stasiun 1 disajikan pada lampiran 3 .
Pada stasiun 2 diperoleh 7 jenis vegetasi tingkat pohon yang terbagi dalam tingkat dominansi mulai dari tingkat dominansi yang sangat tinggi sampai terendah. Tingkat dominansi sangat tinggi yaitu Mahoni (Swietenia mahagoni) dengan INP 106,26%, tiga jenis dalam dominansi tingkat rendah yaitu Kecapi (Sandoricum koetjapie) dengan INP 45,91%, Pule (Alstonia scholaris) dengan INP 40.26% dan Acasia (Acasia auricuilformis) dengan INP 38.1%, sedangkan tiga jenis termasuk dalam tingkat dominansi sangat rendah yaitu Waru (Hibiscus tiliaceus) dengan INP 26,89%, Bungur (Lagerstroemia speciosa) dengan INP
23,52% dan Tanjung (Mimusops elengii) dengan INP 19,06%, dari hasil penghitungan indeks keanekaragaman vegetasi tingkat pohon pada stasiun 2 yaitu
0.728 hal ini menunjukan bahwa pada stasiun 2 keanekaragaman jenis tingkat pohon rendah, untuk INP dan tingkat keanekaragaman vegetasi pada stasiun 1 disajikan pada lampiran 9, sedangkan nilai kelas tingkat dominansi dan peran vegetasi pada stasiun 2 disajikan pada lampiran 4.
4.2.6.2. Tingkat Pancang
Pada stasiun 1 diperoleh 7 jenis vegetasi tingkat pancang yang terbagi dalam beberapa tingkat dominansi mulai dari yang sangat tinggi sampai terendah, tingkat dominansi sangat tinggi yaitu Buni (Antidesma bunius) dengan INP 64,3%, dua jenis dalam dominansi tingkat sedang yaitu Glodogan tiang (Polyalthia longifolia) dengan INP 47,93% dan Salam (Syzigium polyantrum) dengan INP 47,34%, tiga jenis termasuk dalam tingkat dominansi rendah yaitu Bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea) dengan INP 35,77%, Jati (Tectona grandis) dengan INP 35,77%, Tanjung (Mimusops elengii) dengan INP 41,48%,
sedangkan satu jenis lainnya termasuk dalam tingkat dominansi sangat rendah yaitu Pala manis dengan INP 27,42%, dari hasil penghitungan indeks keanekaragaman vegetasi tingkat pancang pada stasiun 1 yaitu 0.8667 hal ini menunjukan bahwa pada stasiun 1 keanekaragaman jenis tingkat pancang rendah, untuk INP dan tingkat keanekaragaman vegetasi pada stasiun 1 disajikan pada lampiran 8, sedangkan nilai kelas tingkat dominansi dan peran vegetasi pada stasiun 1 disajikan pada lampiran 3.
Pada stasiun 2 diperoleh 7 jenis vegetasi tingkat pancang yang terbagi dalam beberapa tingkat dominansi mulai dari yang sangat tinggi sampai terendah,
tingkat dominansi sangat tinggi yaitu Mahoni (Swietenia mahagoni) dengan INP 76,65%, satu jenis dalam dominansi tingkat tinggi yaitu Bungur (Lagerstroemia speciosa) dengan INP 55,17%, dua jenis dalam dominansi tingkat sedang yaitu
Salam (Syzigium polyantrum) dengan INP 49,06% dan Bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea) dengan INP 48,8%, sedangkan tiga jenis termasuk dalam tingkat dominansi sangat rendah yaitu Nyamplung (Calophyllum inophylum) dengan INP 22,8%, Matoa (Pometia pinnata) dengan INP 24,30%, Sp 1 dengan INP 23,22%, dari hasil penghitungan indeks keanekaragaman vegetasi tingkat pancang pada stasiun 2 yaitu 0.767 hal ini menunjukan bahwa pada stasiun 2 keanekaragaman jenis tingkat pancang rendah, untuk INP dan tingkat keanekaragaman vegetasi pada stasiun 2 disajikan pada lampiran 10, sedangkan nilai kelas tingkat dominansi dan peran vegetasi disajikan pada lampiran 4.
BAB V