BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1.3 Analisis Vertikal PT Martina Berto Tbk
4.1.3.1.1 Periode 2010
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan neraca pada LAMPIRAN 8, pada
periode 2010 total aset yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 333.125 juta. Pos piutang usaha pihak berelasi sebagai salah satu pos yang
membentuk total aset atau pos yang memberikan kontribusi tertinggi yaitu sebesar 49,27% atau Rp 164.139 juta. Hal ini berarti angka indeks piutang usaha pihak berelasi pada tahun 2010 adalah 49,27% dari total aset pada tahun 2010 atau
dengan kata lain setiap Rp1.00 aset diinvestasikan dalam bentuk piutang usaha pihak berelasi sebesar Rp 0.4927
Adapun pada pos jumlah liabilitas dan ekuitas adalah sebesar Rp 333.125 juta sebagai parameter ukur. Pos utang usaha pihak ketiga memberikan
konstribusi terbesar yaitu sebesar 14,67% atau Rp 48.857 juta dari total liabilitas yang artinya setiap Rp1.00 aset dibiayai dari utang usaha pihak ketiga sebesar Rp 0.1467. Pada sisi ekuitas, pos modal saham merupakan pos dengan persentase terbesar yang membentuk ekuitas, yaitu sebesar 21,46% dari total liabilitas dan ekuitas dengan nominal Rp 71.500 juta. Sedangkan yang terkecil ialah pos komponen ekuitas lainnya yaitu sebesar 0,00%
Pos yang juga penting untuk diperhatikan yaitu pos jumlah aset lancar dan jumlah liabilitas jangka pendek. Dimana jumlah aset lancar yaitu Rp 263.871 juta lebih besar dibandingkan jumlah liabilitas jangka pendek yaitu Rp 166.067 juta. Ini mengindikasikan perusahaan mampu membayar kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancarnya.
4.1.3.1.2 Periode 2011
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan neraca pada LAMPIRAN 8,
pada periode 2011 total aset yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 541.669 juta. Pos piutang usaha pihak berelasi sebagai salah satu pos yang
membentuk total aset atau pos yang memberikan kontribusi tertinggi yaitu sebesar 34,71% atau Rp 188.011 juta. Hal ini berarti angka indeks piutang usaha pihak berelasi pada tahun 2011 adalah 34,71% dari total aset pada tahun 2011 atau dengan kata lain setiap Rp1.00 aset diinvestasikan dalam bentuk piutang usaha pihak berelasi sebesar Rp 0.3471.
Adapun pada pos jumlah liabilitas dan ekuitas adalah sebesar Rp 541.669 juta sebagai parameter ukur. Pos utang usaha pihak ketiga memberikan
konstribusi terbesar yaitu sebesar 7,81% atau Rp 42.320 juta dari total liabilitas yang artinya setiap Rp1.00 aset dibiayai dari utang usaha pihak ketiga sebesar Rp 0.0781. Pada sisi ekuitas, pos agio saham merupakan pos dengan persentase terbesar yang membentuk ekuitas, yaitu sebesar 39,60% dari total liabilitas dan ekuitas dengan nominal Rp 214.500 juta. Sedangkan yang terkecil ialah pos komponen ekuitas lainnya yaitu sebesar 0,00%
Pos yang juga penting untuk diperhatikan yaitu pos jumlah aset lancar dan jumlah liabilitas jangka pendek. Dimana jumlah aset lancar yaitu Rp 459.787 juta lebih besar dibandingkan jumlah liabilitas jangka pendek yaitu Rp 112.662 juta. Ini mengindikasikan perusahaan mampu membayar kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancarnya.
4.1.3.1.3 Periode 2012
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan neraca pada LAMPIRAN 8,
pada periode 2012 total aset yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 609.489 juta. Pos piutang usaha pihak berelasi sebagai salah satu pos yang
membentuk total aset atau pos yang memberikan kontribusi tertinggi yaitu sebesar 44,80% atau Rp 273.051 juta. Hal ini berarti angka indeks piutang usaha pihak berelasi pada tahun 2012 adalah 44,80% dari total aset pada tahun 2012 atau dengan kata lain setiap Rp1.00 aset diinvestasikan dalam bentuk piutang usaha pihak berelasi sebesar Rp 0.4480.
Adapun pada pos jumlah liabilitas dan ekuitas adalah sebesar Rp 609.489 juta sebagai parameter ukur. Pos utang usaha pihak ketiga memberikan
konstribusi terbesar yaitu sebesar 9,86% atau Rp 60.085 juta dari total liabilitas yang artinya setiap Rp1.00 aset dibiayai dari utang usaha pihak ketiga sebesar Rp 0.0986. Pada sisi ekuitas, pos agio saham merupakan pos dengan persentase terbesar yang membentuk ekuitas, yaitu sebesar 35,19% dari total liabilitas dan ekuitas dengan nominal Rp 214.500 juta. Sedangkan yang terkecil ialah pos komponen ekuitas lainnya yaitu sebesar 0,01% atau Rp 80 juta.
Pos yang juga penting untuk diperhatikan yaitu pos jumlah aset lancar dan jumlah liabilitas jangka pendek. Dimana jumlah aset lancar yaitu Rp 510.200 juta lebih besar dibandingkan jumlah liabilitas jangka pendek yaitu Rp 137.508 juta. Ini mengindikasikan perusahaan mampu membayar kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancarnya.
4.1.3.1.4 Periode 2013
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan neraca pada LAMPIRAN 8,
pada periode 2013 total aset yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 611.764 juta. Pos piutang usaha pihak berelasi sebagai salah satu pos yang
membentuk total aset atau pos yang memberikan kontribusi tertinggi yaitu sebesar 43,40% atau Rp 265.516 juta. Hal ini berarti angka indeks piutang usaha pihak berelasi pada tahun 2013 adalah 43,40% dari total aset pada tahun 2013 atau dengan kata lain setiap Rp1.00 aset diinvestasikan dalam bentuk piutang usaha pihak berelasi sebesar Rp 0.4340.
Adapun pada pos jumlah liabilitas dan ekuitas adalah sebesar Rp 611.764 juta sebagai parameter ukur. Pos utang usaha pihak ketiga memberikan
konstribusi terbesar yaitu sebesar 7,03% atau Rp 43.016 juta dari total liabilitas yang artinya setiap Rp1.00 aset dibiayai dari utang usaha pihak ketiga sebesar
Rp 0.0703. Pada sisi ekuitas, pos agio saham merupakan pos dengan persentase terbesar yang membentuk ekuitas, yaitu sebesar 35,06% dari total liabilitas dan ekuitas dengan nominal Rp 214.500 juta. Sedangkan yang terkecil ialah pos komponen ekuitas lainnya yaitu sebesar 0,01% atau Rp 80 juta.
Pos yang juga penting untuk diperhatikan yaitu pos jumlah aset lancar dan jumlah liabilitas jangka pendek. Dimana jumlah aset lancar yaitu Rp 453.757 juta lebih besar dibandingkan jumlah liabilitas jangka pendek yaitu Rp 113.682 juta. Ini mengindikasikan perusahaan mampu membayar kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancarnya.
4.1.3.1.5 Periode 2014
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan neraca pada LAMPIRAN 8,
pada periode 2014 total aset yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 619.379 juta. Pos piutang usaha pihak berelasi sebagai salah satu pos yang
membentuk total aset atau pos yang memberikan kontribusi tertinggi yaitu sebesar 46,94% atau Rp 290.737 juta. Hal ini berarti angka indeks piutang usaha pihak berelasi pada tahun 2014 adalah 46.94% dari total aset pada tahun 2014 atau dengan kata lain setiap Rp1.00 aset diinvestasikan dalam bentuk piutang usaha pihak berelasi sebesar Rp 0.4694.
Adapun pada pos jumlah liabilitas dan ekuitas adalah sebesar Rp 619.379 juta sebagai parameter ukur. Pos utang usaha pihak ketiga memberikan
konstribusi terbesar yaitu sebesar 8,33% atau Rp 51.590 juta dari total liabilitas yang artinya setiap Rp1.00 aset dibiayai dari utang usaha pihak ketiga sebesar Rp 0.0833. Pada sisi ekuitas, pos agio saham merupakan pos dengan persentase terbesar yang membentuk ekuitas, yaitu sebesar 34,63% dari total liabilitas dan
ekuitas dengan nominal Rp 214.500 juta Sedangkan yang terkecil ialah pos komponen ekuitas lainnya yaitu sebesar 0,01% atau Rp 80 juta.
Pos yang juga penting untuk diperhatikan yaitu pos jumlah aset lancar dan jumlah liabilitas jangka pendek. Dimana jumlah aset lancar yaitu Rp 441.619 juta lebih besar dibandingkan jumlah liabilitas jangka pendek yaitu Rp 111.680 juta. Ini mengindikasikan perusahaan mampu membayar kewajiban keuangan jangka pendek dengan menggunakan aset lancarnya.
4.1.3.2 Analisis Laporan Laba Rugi 4.1.3.2.1 Periode 2010
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan laba rugi pada LAMPIRAN 9, pada periode 2010 penjualan neto yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 566.186 juta. Beban usaha terbesar yang paling mempengaruhi penjualan neto adalah pada pos beban penjualan dan pemasaran, yaitu sebesar 36.56% atau Rp 188.406 juta yang artinya angka indeks beban penjualan dan pemasaran pada tahun 2010 adalah sebesar 36,56% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.3656 akan terserap dalam pos beban penjualan dan pemasaran.
Sedangkan beban usaha terkecil yang mempengaruhi penjualan bersih adalah pada pos beban operasi lain-lain yaitu sebesar 0,06% atau Rp 313 juta yang artinya angka indeks beban operasi lain-lain pada tahun 2010 adalah sebesar 0,06% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.0006 akan terserap dalam pos beban operasi lain-lain.
Pos yang juga penting untuk diperhatikan adalah pos laba neto tahun berjalan. Dapat dilihat pada LAMPIRAN 9, bahwa persentase besarnya angka
indeks laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 36.766 juta dari tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Laba neto menunjukkan besarnya sisa penjualan perusahaan setelah dikurangi dengan semua biaya-biaya untuk mendapatkan
penghasilan tersebut. Peningkatan pada laba bersih tahun berjalan ini mengindikasikan kinerja keuangan yang baik pada perusahaan.
4.1.3.2.2 Periode 2011
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan laba rugi pada LAMPIRAN 9, pada periode 2011 penjualan neto yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 648.375 juta. Beban usaha terbesar yang paling mempengaruhi penjualan neto adalah pada pos beban penjualan dan pemasaran, yaitu sebesar 36,56% atau Rp 237.071 juta yang artinya angka indeks beban penjualan dan pemasaran pada tahun 2011 adalah sebesar 36,56% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.3656 akan terserap dalam pos beban penjualan dan pemasaran.
Sedangkan beban usaha terkecil yang mempengaruhi penjualan bersih adalah pada pos beban operasi lain-lain yaitu sebesar 0,27% atau Rp 1.782 juta yang artinya angka indeks beban operasi lain-lain pada tahun 2011 adalah sebesar 0,27% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.0027 akan terserap dalam pos beban operasi lain-lain.
Pos yang juga penting untuk diperhatikan adalah pos laba neto tahun berjalan. Dapat dilihat pada LAMPIRAN 9, bahwa persentase besarnya angka indeks laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 42.661 juta dari tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Laba neto menunjukkan besarnya sisa penjualan perusahaan setelah dikurangi dengan semua biaya-biaya untuk mendapatkan
penghasilan tersebut. Peningkatan pada laba bersih tahun berjalan ini mengindikasikan kinerja keuangan yang baik pada perusahaan.
4.1.3.2.3 Periode 2012
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan laba rugi pada LAMPIRAN 9, pada periode 2011 penjualan neto yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 717.788 juta. Beban usaha terbesar yang paling mempengaruhi penjualan neto adalah pada pos beban penjualan dan pemasaran, yaitu sebesar 35,17% atau Rp 252.453 juta yang artinya angka indeks beban penjualan dan pemasaran pada tahun 2011 adalah sebesar 35,17% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.3517 akan terserap dalam pos beban penjualan dan pemasaran.
Sedangkan beban usaha terkecil yang mempengaruhi penjualan bersih adalah pada pos beban operasi lain-lain yaitu sebesar 0,35% atau Rp 2.480 juta yang artinya angka indeks beban operasi lain-lain pada tahun 2012 adalah sebesar 0,35% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.0035 akan terserap dalam pos beban operasi lain-lain.
Pos yang juga penting untuk diperhatikan adalah pos laba neto tahun berjalan. Dapat dilihat pada LAMPIRAN 9, bahwa persentase besarnya angka indeks laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 45.524 juta dari tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Laba neto menunjukkan besarnya sisa penjualan perusahaan setelah dikurangi dengan semua biaya-biaya untuk mendapatkan
penghasilan tersebut. Peningkatan pada laba bersih tahun berjalan ini mengindikasikan kinerja keuangan yang baik pada perusahaan.
4.1.3.2.4 Periode 2013
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan laba rugi pada LAMPIRAN 9, pada periode 2013 penjualan neto yang menjadi parameter ukur adalah sebesar Rp 641.284 juta. Beban usaha terbesar yang paling mempengaruhi penjualan neto adalah pada pos beban penjualan dan pemasaran, yaitu sebesar 35,49% atau Rp 227.579 juta yang artinya angka indeks beban penjualan dan pemasaran pada tahun 2013 adalah sebesar 35,49% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar 0.3549 0akan terserap dalam pos beban penjualan dan pemasaran.
Sedangkan beban usaha terkecil yang mempengaruhi penjualan bersih adalah pada pos beban operasi lain-lain yaitu sebesar 1,16% % atau Rp 7.412 juta yang artinya angka indeks beban operasi lain-lain pada tahun 2013 adalah sebesar 1,16% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.0116 akan terserap dalam pos beban operasi lain-lain.
Pos yang juga penting untuk diperhatikan adalah pos laba neto tahun berjalan. Dapat dilihat pada LAMPIRAN 9, bahwa persentase besarnya angka indeks laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 16.163 juta dari tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Laba neto menunjukkan besarnya sisa penjualan perusahaan setelah dikurangi dengan semua biaya-biaya untuk mendapatkan
penghasilan tersebut. Peningkatan pada laba bersih tahun berjalan ini mengindikasikan kinerja keuangan yang baik pada perusahaan.
4.1.3.1.5 Periode 2014
Berdasarkan tabel analisis vertikal laporan laba rugi pada LAMPIRAN 9, pada periode 2014 penjualan neto yang menjadi parameter ukur adalah sebesar
Rp 671.398 juta. Beban usaha terbesar yang paling mempengaruhi penjualan neto adalah pada pos beban penjualan dan pemasaran, yaitu sebesar 38,43% atau Rp 258.020 juta yang artinya angka indeks beban penjualan dan pemasaran pada tahun 2014 adalah sebesar 38,43% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.3843 akan terserap dalam pos beban penjualan dan pemasaran.
Sedangkan beban usaha terkecil yang mempengaruhi penjualan bersih adalah pada pos beban operasi lain-lain yaitu sebesar 0,32% atau Rp 2.140 juta yang artinya angka indeks beban operasi lain-lain pada tahun 2014 adalah sebesar
0,32% dari penjualan bersih atau setiap Rp 1.00 penjualan bersih maka sebesar Rp 0.0032 akan terserap dalam pos beban operasi lain-lain.
Pos yang juga penting untuk diperhatikan adalah pos laba neto tahun berjalan. Dapat dilihat pada LAMPIRAN 9, bahwa persentase besarnya angka indeks laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 2.927 juta dari tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Laba neto menunjukkan besarnya sisa penjualan perusahaan setelah dikurangi dengan semua biaya-biaya untuk mendapatkan
penghasilan tersebut. Peningkatan pada laba bersih tahun berjalan ini mengindikasikan kinerja keuangan yang baik pada perusahaan.
4.1.3.3 Analisis Laporan Arus Kas 4.1.3.3.1 Periode 2010
Berdasarkan LAMPIRAN 10, total kas masuk yang dibentuk dari tiga jenis aktivitas perusahaan adalah sebesar Rp 609,943 juta. Kas masuk dari aktivitas operasi dengan nominal sebesar 91.96 % atau Rp 560,874 juta. Penerimaan dari pelanggan merupakan kas masuk terbesar dalam aktivitas operasi dengan
persentase 91.86% atau Rp 560,272 juta dari total kas masuk. Kemudian dari aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan dengan total kas masuk masing-masing sebesar 0.60% (Rp 3,672 juta) dan 7.44% (Rp 45,397 juta).
Total arus kas keluar yaitu sebesar Rp 609,701 juta yang juga termasuk dari kas keluar aktiivtas operasi, aktivitas investasi dan aktivtas pendanaan. Kas keluar terbesar berasal dari aktivitas operasi yaitu sebesar 90.45% (Rp 551,502 juta) sedangkan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan masing-masing sebesar 2.73% dan 6.81% (Rp 41,534 juta).
Berdasarkan uraian kas masuk dan kas keluar, diketahui bahwa total arus
kas keluar sebesar 609,701 juta lebih kecil dari arus kas masuk sebesar Rp 609,943 juta. Sehingga menyebabkan terjadinya surplus pada kas dan setara
kas sebesar Rp 241 juta sebelum dikalkulasikan dengan kas dan setara kas awal tahun. Besaran kas dan setara kas akhir tahun adalah sebesar Rp 12,759 juta setelah terjadi penambahan kas dan setara kas awal tahun sebesar Rp 12,518 juta.
4.1.3.3.2 Periode 2011
Berdasarkan LAMPIRAN 10, total kas masuk yang dibentuk dari tiga jenis aktivitas perusahaan adalah sebesar Rp 1,054,522 juta. Kas masuk dari aktivitas operasi dengan nominal sebesar 66.10 % atau Rp 697,076 juta. Penerimaan dari pelanggan merupakan kas masuk terbesar dalam aktivitas operasi dengan persentase 65.04% atau Rp 685,823 juta dari total kas masuk. Kemudian dari aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan dengan total kas masuk masing-masing sebesar 0.35% (Rp 3,724 juta) dan 33.54% (Rp 353,722 juta)
Total arus kas keluar yaitu sebesar Rp 877,859 juta yang juga termasuk dari kas keluar aktiivtas operasi, aktivitas investasi dan aktivtas pendanaan. Kas keluar
terbesar berasal dari aktivitas operasi yaitu sebesar 77.06% (Rp 676,456 juta) sedangkan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan masing-masing sebesar 2.98% (Rp 26,194 juta) dan 19.96% (Rp175,209 juta.
Berdasarkan uraian kas masuk dan kas keluar, diketahui bahwa total arus
kas keluar sebesar Rp 877,859 juta lebih kecil dari arus kas masuk sebesar Rp 1,054,522 juta. Sehingga menyebabkan terjadinya surplus pada kas dan setara
kas sebesar Rp 176,660 juta sebelum dikalkulasikan dengan kas dan setara kas
awal tahun. Besaran kas dan setara kas akhir tahun adalah sebesar Rp 189,419 juta setelah terjadi penambahan kas dan setara kas awal tahun sebesar
Rp 12,759 juta.
4.1.3.3.3 Periode 2012
Berdasarkan LAMPIRAN 10, total kas masuk yang dibentuk dari tiga jenis aktivitas perusahaan adalah sebesar Rp 727,781 juta. Kas masuk dari aktivitas operasi dengan nominal sebesar 87.54% atau Rp 637,104 juta. Penerimaan dari pelanggan merupakan kas masuk terbesar dalam aktivitas operasi dengan persentase 86.39% atau Rp 628,752 juta dari total kas masuk. Kemudian dari aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan dengan total kas masuk masing-masing sebesar 0.09% (Rp 671 juta) dan 12.37% (Rp 90,006 juta)
Total arus kas keluar yaitu sebesar Rp 797,692 juta yang juga termasuk dari kas keluar aktiivtas operasi, aktivitas investasi dan aktivtas pendanaan. Kas keluar terbesar berasal dari aktivitas operasi yaitu sebesar 81.61% (Rp 651,027 juta) sedangkan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan masing-masing sebesar 6.51% (Rp 51,922 juta) dan 11.88% (Rp 94,743 juta.
Berdasarkan uraian kas masuk dan kas keluar, diketahui bahwa total arus kas keluar sebesar Rp 797,692 juta lebih besar dari arus kas masuk sebesar Rp 727,781 juta. Sehingga menyebabkan terjadinya defisit pada kas dan setara kas sebesar Rp 69,912 juta sebelum dikalkulasikan dengan kas dan setara kas awal tahun. Besaran kas dan setara kas akhir tahun adalah sebesar Rp 119,507 juta
setelah terjadi penambahan kas dan setara kas awal tahun sebesar Rp189,419 juta.
4.1.3.3.4 Periode 2013
Berdasarkan LAMPIRAN 10, total kas masuk yang dibentuk dari tiga jenis aktivitas perusahaan adalah sebesar Rp 767,809 juta. Kas masuk dari aktivitas operasi dengan nominal sebesar 86.10% atau Rp 661,080 juta. Penerimaan dari pelanggan merupakan kas masuk terbesar dalam aktivitas operasi dengan persentase 85.30% atau Rp 654,960 juta dari total kas masuk. Kemudian dari aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan dengan total kas masuk masing-masing sebesar 0.02% (Rp 163 juta) dan 13.88% (Rp 106,566 juta)
Total arus kas keluar yaitu sebesar Rp 839,727 juta yang juga termasuk dari kas keluar aktiivtas operasi, aktivitas investasi dan aktivtas pendanaan. Kas keluar terbesar berasal dari aktivitas operasi yaitu sebesar 79.07% (Rp 663,944 juta) sedangkan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan masing-masing sebesar 10.41% (Rp 87,448 juta) dan 10.52% (Rp 88,335 juta)
Berdasarkan uraian kas masuk dan kas keluar, diketahui bahwa total arus kas keluar sebesar Rp 839,727 juta lebih besar dari arus kas masuk sebesar Rp 767,809 juta. Sehingga menyebabkan terjadinya defisit pada kas dan setara kas sebesar Rp 71,918 juta sebelum dikalkulasikan dengan kas dan setara kas awal
tahun. Besaran kas dan setara kas akhir tahun adalah sebesar Rp 47,589 juta
setelah terjadi penambahan kas dan setara kas awal tahun sebesar Rp119,507 juta.
4.1.3.3.5 Periode 2014
Berdasarkan LAMPIRAN 10, total kas masuk yang dibentuk dari tiga jenis aktivitas perusahaan adalah sebesar Rp 902,738 juta. Kas masuk dari aktivitas operasi dengan nominal sebesar 72.21% atau Rp 651,889 juta .Penerimaan dari pelanggan merupakan kas masuk terbesar dalam aktivitas operasi dengan persentase 71.72% atau Rp 647,401 juta dari total kas masuk. Kemudian dari aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan dengan total kas masuk masing-masing sebesar 1.04% (Rp 9,366 juta) dan 26.75% (Rp 241,483 juta)
Total arus kas keluar yaitu sebesar Rp 909,070 juta yang juga termasuk dari kas keluar aktiivtas operasi, aktivitas investasi dan aktivtas pendanaan. Kas keluar terbesar berasal dari aktivitas operasi yaitu sebesar 71.45% (Rp 649.521 juta) sedangkan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan masing-masing sebesar 0.27% (Rp 2,474 juta dan 28.82% (Rp 262,023 juta).
Berdasarkan uraian kas masuk dan kas keluar, diketahui bahwa total arus kas keluar sebesar Rp 909,070 juta lebih besar dari arus kas masuk sebesar Rp 902,738 juta.. Sehingga menyebabkan terjadinya defisit pada kas dan setara kas sebesar Rp 6,333 juta sebelum dikalkulasikan dengan kas dan setara kas awal tahun. Besaran kas dan setara kas akhir tahun adalah sebesar Rp 41,256 juta setelah terjadi penambahan kas dan setara kas awal tahun sebesar Rp47,589 juta.
4.1.4 Analisis Vertikal PT Mustika Ratu Tbk