• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : Penutup, pada bab terakhir ini dibuat Kesimpulan mengena

URAIAN TEORITIS

II.3 Analisis Wacana Kritis; Pendekatan Teun A Van Dijk

Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut saat ini. Kata wacana ini sendiri memiliki makna yang luas, ini dikarenakan oleh perbedaan lingkup dan disiplin ilmu yang memakai istilah wacana tersebut. Namun dari banyaknya pengertian tersebut terdapat sebuah kesamaan dimana wacana merupakan bentuk dari pemakaian bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang wacana, ada baiknya kita melihat batasan atau pengertian wacana dari berbagai sumber. Istilah wacana sekarang ini dipakai sebagai terjemahan dari perkataan bahasa Inggris discourse. Dalam salah satu kamus bahasa Inggris terkemuka, mengenai wacana atau discourse ini kita dapat membaca keterangan sebagai berikut:

Kata discourse berasa dari bahasa Latin discursus yang berarti lari kian kemari (yang diturunkan dari ‘dis’-dari, dalam arah yang berbeda’, dan currere ‘lari’).

1. Komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi ide-ide atau gagasan- gagasan; konversasi atau percakapan.

2. Komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subjek studi atau pokok telaah.

3. Risalat tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khotbah (Webster dikutip oleh Sobur, 2004 : 10)

Sebuah tulisan adalah sebuah wacana. Tetapi, apa yang dinamakan wacana itu tidak perlu hanya sesuatu yang tertulis seperti diterangkan dalam kamus

Websters; sebuah pidato pun adalah wacana juga. Jadi, kita mengenal wacana lisan dan wacana tertulis. Ini sejalan dengan pendapat Henry Guntur Tarigan bahwa “Istilah wacana dipergunakan untuk mencakup bukan hanya percakapan atau obrolan, tetapi juga pembicaraan di muka umum, tulisan, serta upaya-upaya formal seperti laporan ilmiah dan sandiwara atau lakon”. (Sobur, 2004 : 10)

Dalam pengertian yang lebih sederhana, wacana berarti cara objek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas. Wacana selalu mengandaikan pembicara/penulis, apa yang dibicarakan, dan pendengar/pembaca. Bahasa merupakan mediasi dalam proses ini.

Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi yang besar dari berbagai definisi, titik singgungnya adalah analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa/pemakaian bahasa (Eriyanto, 2001 : 3-4).

Seperti yang banyak dilakukan dalam penelitian mengenai organisasi pemberitaan selama dan sesudah tahun 1960-an, analisis wacana menekankan pada “how the ideological significance of news is part and parcel of the methods used to process news” (bagaimana signifikansi ideologis berita merupakan bagian dan menjadi paket metode yang digunakan untuk memproses media).

Lantas, apakah yang disebut analisis wacana itu? Jika kita coba rumuskan, analisis wacana adalah studi tentang struktur pesan dalam komunikasi. Lebih tepatnya lagi, analisis wacana adalah telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Kita menggunakan bahasa dalam kesinambungan atau untaian wacana. Tanpa konteks, tanpa hubungan-hubungan wacana yang bersifat antarkalimat, dan

suprakalimat maka kita sukar berkomunikasi dengan tepat satu sama lain. Analisis wacana lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan terbatas pada penggunaan kalimat atau bagian kalimat, fungsi ucapan, tetapi juga mencakup struktur pesan yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana. Dalam upaya menganalisis unit bahasa yang lebih besar dari kalimat tersebut, analisis wacana tidak terlepas dari pemakaian kaidah berbagai cabang ilmu bahasa, seperti halnya semantik, sintaksis, morfologi, dan fonologi. (Sobur, 2004 : 48)

Terdapat tiga pandangan mengenai bahasa dalam analisis wacana, Positivisme-empiris, Konstruktivisme, dan Pandangan Kritis. Pandangan kritis sendiri tercipta sebagai hasil koreksi dari pandangan konstruktivisme yang kurang sensitif pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Dalam Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/ CDA), wacana disini tidak dipahami sebagai studi bahasa. Bahasa disini dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan tetapi juga menghubungkan dengan konteks. Artinya, bahasa dipakai untuk tujuan dan praktek tertentu termasuk di dalamnya praktek kekuasaan dalam melihat ketimpangan yang terjadi.

Karakteristik Analisis Wacana Kritis menurut Teun A. Van Dijk, Fairclough dan Wodak adalah:

1. Tindakan

Wacana diasosiasikan sebagai bentuk interaksi. Pertama wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali.

2. Konteks

Analisis Wacana Kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu.

3. Historis

Salah satu aspek penting untuk mengerti teks adalah dengan menempatkan wacana itu dalam konteks historis tertentu dimana wacana itu diciptakan.

4. Kekuasaan

Setiap wacana yang muncul dalam bentuk teks, percakapan atau apapun, tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Kekuasaan berhubungan dengan kontrol kekuasaan.

5. Ideologi

Teori-teori klasik tentang ideologi diantaranya mengatakan bahwa ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan mereproduksi dan melegitimasi dominasi mereka.

Analisis wacana kritis berisi metode-metode yang menekankan multi level analisis. Mempertahankan analisis pada jenjang mikro (teks) dengan analisis pada jenjang meso dan makro.

Sebetulnya, banyak model analisis wacana yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh para ahli. Eriyanto (2001) dalam buku Analisis Wacana-nya, misalnya, menyajikan model-model analisis wacana yang dikembangkan oleh Roger Fowler dkk. (1979), Theo van Leeuwen (1986), Sara Mills (1992), Norman Fairclough (1998), dan Teun A. van Dijk (1998). Dari sekian banyak model

analisis wacana itu, model van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Ini dikarenakan van Dijk mengelaborasi elemen-elemen wacana sehingga bisa aplikasikan secara praktis. (Sobur, 2004 : 73)

Model yang dipakai van Dijk ini kerap disebut sebagai “kognisi sosial”. Istilah ini sebenarnya diadopsi dari pendekatan lapangan psikologi sosial, terutama untuk menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks. Nama pendekatan semacam ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik pendekatan yang diperkenalkan oleh van Dijk. Menurut van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati (Eriyanto, 2001 : 221).

Menurut Van Dijk, penelitian mengenai wacana tidak bisa mengeksklusi seakan-akan teks adalah bidang yang kosong, sebaliknya ia adalah bagian kecil dari struktur besar masyarakat. Pendekatan yang dikenal sebagai kognisi sosial ini membantu memetakan bagaimana produksi teks yang melibatkan proses yang kompleks tersebut dapat dipelajari dan dijelaskan.

Teks bukan sesuatu yang datang dari langit, bukan juga suatu ruang hampa yang mandiri. Akan tetapi teks dibentuk dalam suatu praktek diskursus. Van Dijk tidak hanya membongkar teks semata, tapi ia melihat bagaimana struktur sosial, dominasi dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi/pikiran dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh terhadap teks tersebut. Wacana oleh Van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi/bangunan : teks, kognisi sosial dan konteks sosial.

Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah struktur dari teks. Van Dijk memanfaatkan dan mengambil analisis linguistik –tentang kosakata, kalimat,

proposisi, dan paragraf– untuk menjelaskan dan memaknai suatu teks. Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur/tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat, dan proposisi yang dipakai. Pernyataan/tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat, atau retorika tertentu. Prinsip ini membantu peneliti untuk mengamati bagaimana suatu teks terbangun lewat elemen-elemen yang lebih kecil. Skema ini juga memberikan peta untuk mempelajari suatu teks. Kita tidak cuma mengerti apa isi dari suatu teks berita, tetapi juga elemen yang membentuk teks berita, kata, kalimat, paragraf dan proposisi. Kita tidak hanya mengetahui apa yang diliput media, tetapi juga bagaimana media mengungkapkan peristiwa ke dalam pilihan bahasa tertentu dan bagaimana itu diungkapkan lewat retorika tertentu. Kalau digambarkan maka struktur teks adalah sebagai berikut:

Bagan Struktur Teks Menurut van Dijk

(Sumber : Eriyanto 2001: 227)

Pemakaian kata, kalimat, proposisi, retorika tertentu oleh media dipahami van Dijk sebagai bagian dari strategi penulis. Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi,

Stuktur Makro

Makna global dari suatu teks yang diamati dari topik atau tema yang diangkat dari suatu teks.

Super Struktur

Kerangka dari suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan.

Struktur Mikro

Makna lokal dari suatu teks yang diamati dari pilihan kata, kalimat, dan gaya yang dipakai oleh suatu teks.

tetapi dipandang sebagai politik berkomunikasi—suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau penentang. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan. Kata-kata tertentu mungkin dipilih untuk mempertegas pilihan dan sikap, membentuk kesadaran politik, dan sebagainya. Berikut akan diuraikan satu per satu elemen wacana van Dijk tersebut.

STRUKTUR WACANA

HAL YANG DIAMATI ELEMEN

Struktur Makro Tematik

Tema atau topik yang dikedepankan dalam suatu berita

Topik

Super Struktur Skematik

Bagaimana bagian dan urutan teks diskemakan dalam teks secara utuh.

Skema

Struktur Mikro Semantik

Makna yang ingin ditekankan dalam teks. Misalnya dengan memberi detil pada satu sisi atau membuat eksplisit pada satu sisi dan mengurangi detil di sisi lain.

Latar, detil, maksud, praanggapan,

nominalisasi

Struktur Mikro Sintaksis

Bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih

Bentuk kalimat, koherensi, kata ganti.

Struktur Mikro Stilistik

Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks.

Leksikon

Struktur Mikro Retoris

Bagaimana dan dengan cara apa penekanan dilakukan.

II.4 Komik

Pengertian “komik” secara umum adalah cerita bergambar dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku, yang pada umumnya mudah dicerna dan lucu. Pengertian tersebut ada benarnya, namun pengertian ini menjadi kurang tepat terutama bagi komik-komik yang menampilkan cerita-cerita serius. (Sobur, 2003 : 137)

Berdasarkan jenisnya, komik dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu

comic-strips dan comic-books. Comic-strip atau strip merupakan komik

bersambung yang dimuat pada surat kabar maupun majalah. Sedangkan comic- books adalah kumpulan cerita bergambar yang terdiri dari satu atau lebih judul dan tema cerita, yang di Indonesia disebut komik atau buku komik. Pada perkembangan kini, komik mengalami beberapa modifikasi mulai dari format, muatan isi, teknis pembuatan, hingga strategi pemasarannya.

Jika kita mencoba menengok kembali ke belakang –sekadar menelusuri sejarah penelusuran komik– maka kita akan menemukan bahwa ternyata komik dapat dimanfaatkan oleh sementara golongan untuk tujuan-tujuan propaganda. Hal ini terjadi pada sekitar tahun 1519, dimana pengikut Marthin Luther menjabarkan 95 tesis yang “berlawanan” dengan Gereja di Roma kepada masyarakat awam dalam bentuk komik. Memang kalau dilihat isinya, komik zaman itu lebih bersifat propaganda. Akan tetapi, setidaknya, saat itu sudah disadari kekuatan media komik untuk menjabarkan kepada massa.

Sejak awal 1990-an, komik strip sudah menjadi ciri khusus surat-surat kabar Amerika, sementara di Indonesia, komik strip muncul tahun 1930. Kehadiran komik-komik di Indonesia pada tahun 1930an dapat ditemukan pada media

Belanda seperti De Java Bode dan D’orient dimana terdapat komik-komik seperti Flippie Flink and Flash Gordon. Put On, seorang peranakan Tionghoa adalah karakter komik Indonesia yang pertama, merupakan karya Kho Wan Gie yang terbit rutin di surat kabar Sin Po—surat kabar yang mengetengahkan “Komik- Timur” dengan menampilkan lelucon berupa strip yang berjiwa Timur. Put On menginspirasi banyak komik strip lainnya sejak tahun 30-an sampai 60-an seperti pada Majalah Star (1939-1942) yang kemudian bertukar menjadi Star Weekly. Sementara itu di Solo, Nasroen A.S. membuahkan karya komik stripnya yang berjudul Mentjcari Poetri Hidjaoe melalui mingguan Ratu Timur. Di awal tahun 1950-an, salah satu pionir komik bernama Abdulsalam menerbitkan komik strip heroiknya di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, salah satunya berjudul “Kisah Pendudukan Jogja”, bercerita tentang agresi militer Belanda ke atas kota Yogyakarta. Komik ini kemudian dibukukan oleh harian “Pikiran Rakyat” dari Bandung. Sebagian pengamat komik berpendapat bahwa inilah buku komik pertama oleh artis komik Indonesia.Sayangnya, sekitar tahun 1980-an, perkembangan komik mengalami mati suri. Baru sekitar tahun 1990-an sampai saat ini komik Indonesia mulai bangkit kembali, itupun yang berkembang justru kebanyakan meniru gaya “manga” (komik Jepang).

Sekitar akhir tahun 1940-an, banyak komik-komik dari Amerika yang disisipkan sebagai suplemen mingguan suratkabar. Diantaranya adalah komik seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom and Johnny Hazard. Kemudian penerbit seperti Gapura dan Keng po dari Jakarta, dan Perfects dari Malang, mengumpulkannya menjadi sebuah buku komik. Ditengah-tengah membanjirnya komik-komik asing, hadir Siaw Tik Kwei, salahs seorang komikus terdepan, yang

memiliki teknik dan ketrampilan tinggi dalam menggambar mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komik adapatasinya dari legenda pahlawan Tiongkok ‘Sie Djin Koei’. Komik ini berhasil melampaui popularitas Tarzan di kalangan pembaca lokal. Popularitas tokoh-tokoh komik asing mendorong upaya mentransformasikan beberapa karakter pahlawan super itu ke dalam selera lokal. R.A. Kosasih, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia, memulai karirnya dengan mengimitasi Wonder Woman menjadi pahlawan wanita bernama Sri Asih. Terdapat banyak lagi karakter pahlawan super yang diciptakan oleh komikus lainnya, diantaranya adalah Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih and Kapten Comet, yang mendapatkan inspirasi dari Superman dan petualangan Flash Gordon.

Adapatasi dari komik asing dalam komik Indonesia mendapatkan tentangan dan kritikan dari kalangan pendidik dan pengkritik budaya. Karena itu penerbit seperti Melodi dari Bandung dan Keng Po dari Jakarta mencari orientasi baru dengan melihat kembali kepada khazanah kebudayaan nasional. Sebagai hasil pencarian itu maka cerita-cerita yang diambil dari wayang Sunda dan Jawa menjadi tema-tema prioritas dalam penerbitan komik selanjutnya. R.A. Kosasih adalah salah seorang komikus yang terkenal keberhasilannya membawa epik Mahabharata dari wayang ke dalam media buku komik. Sementara itu dari Sumatera, terutamanya di kota Medan, terdapat pionir-pionir komikus berketerampilan tinggi seperti Taguan Hardjo, Djas, dan Zam Nuldyn, yang menyumbangkan estetika dan nilai filosofi ke dalam seni komik. Di bawah penerbitan Casso and Harris, artis-artis komik ini mengeksplorasi cerita rakyat Sumatera yang kemudian menjadi tema komik yang sangat digemari dari tahun

1960-an hingga 1970-an. Tema yang banyak muncul adalah pewayangan, superhero, dan humor-kritik. Sebagian besar komikus pada masa ini memanfaatkan majalah dan koran sebagai medianya, meskipun beberapa karya seperti Majapahit oleh R.A. Kosasih juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk buku.

Ditandai oleh dimulainya kebebasan informasi lewat internet dan kemerdekaan penerbitan, komikus mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi gayanya masing-masing dengan mengacu kepada banyak karya luar negeri yang lebih mudah diakses. Selain itu, beberapa judul komik yang sebelumnya mengalami kesulitan untuk menembus pasar dalam negeri, juga mendapat tempat dengan maraknya penerbit komik bajakan.

Selain itu beberapa penerbit besar mulai aktif memberikan kesempatan kepada komikus muda untuk mengubah image komik Indonesia yang selama ini terkesan terlalu serius menjadi lebih segar dan muda. Ada dua aliran utama yang mendominasi komik modern Indonesia, yaitu Amerika (lebih dikenal dengan comics) dan Jepang (dengan stereotype manga).

Komikus yang menggunakan aliran Jepang sangat diuntungkan dengan berkembangnya komunitas di Internet. Beberapa situs seperti julliedillon.net, howtodrawmanga.com, dan mangauniversity memuat banyak informasi pembuatan manga. Hal ini juga membuat ciri utama komikus Indonesia dengan aliran gambar Jepang, yaitu kebanyakan nama pengarangnya disamarkan dengan nickname masing-masing di dunia maya. Kemungkinan hal inilah yang menyebabkan sulitnya mengetahui jumlah tepatnya komikus lokal. Beberapa pengarang komik yang aktif mengeluarkan karya dengan gaya ini antara lain,

Anthony Ann—dengan nama samaran lainnya Sentimental Amethyst atau Hisako Ikeda—Calista, Cynara, Anzu Hizawa, dan lain-lain. Pada awal 2008, Machiko Manga School, yaitu sebuah lembaga pendidikan yang mengajar cara membuat komik gaya manga, telah menerbitkan komik dengan format Manga Magazine— kumpulan komik dari berbagai pengarang yang dibuat dalam satu buku. Komik ini diberi nama Maqita, akronim dari manga ala kita.

Jika perkembangan komik di Indonesia berjalan dengan tersendat-sendat, perkembangan komik di Jepang justru sangat pesat. Buku komik di Jepang sangat populer dan diterbitkan untuk anak-anak maupun orang dewasa. Sejarah komik Jepang mulai pada akhir abad ke-19, ketika surat kabar dan majalah mulai memuat kartun mula-mula dengan satu gambar, dan kemudian dengan banyak gambar yang menggambarkan politik, adat istiadat, dan kehidupan sehari-hari dengan cara olok-olok dan humor. Pada tahun 1920-an dan 1930-an buku komik menjadi populer, khusus cerita petualangan dan kumpulan komik untuk anak- anak. Komik yang terbaik mencerminkan zaman ini adalah Norakuro oleh Togawa Suiho, yang menonjolkan seekor anjing tentara sebagai peran utama. Setelah Perang Dunia II, hampir semua surat kabar dan majalah mulai memuat kartun dengan empat gambar, disebut juga Yottsu Koma Manga (komik empat

kotak). Sekitar tahun 1960-an muncul banyak majalah komik yang memuat cerita

bersambung. Komik yang paling populer saat itu adalah Tetsuwan Atomu karya Tezuka Osamu, dan merupakan komik pertama yang diangkat ke televisi dalam format animasi.

Manga semakin popular hampir di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Karakteristik komik Jepang adalah penggambaran chara-nya (karakter tokoh komik) yang sederhana, mata besar, hidung dan bibir yang kecil. Namun, seiring perkembangannya, ada juga manga-ka (komikus) yang menggunakan penggambaran chara dengan style yang lebih realistis dan rumit. Tema yang diangkat dalam manga sangat beragam, mulai dari action, petualangan, romance, olahraga, drama sejarah, komedi, science fiction, misteri, horror dan masih banyak lagi. Dengan semakin berkembangnya penggemar manga di Jepang, muncul café- café yang menyediakan perpustakaan mini khusus manga, disebut Manga Kisa. Disini, penggemar manga tidak hanya bisa menikmati kopi atau makanan sambil membaca manga, mereka juga diperbolehkan bermalam jika mereka ketinggalan kereta api atau pesawat. Selain café, style manga juga berpengaruh ke gaya pakaian maupun aksesori. Mereka yang tertarik untuk menekuni manga ini juga bisa belajar membuat manga di universitas-universitas di Jepang. Kentalnya budaya Jepang yang disajikan dalam manga (komik Jepang), menjadikan manga sebagai salah satu alat penyebaran budaya Jepang di seluruh dunia.

BAB III