• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV.1 Analisis Wacana Novel Indiana Chronicle Blues

SATU Empat hari yang lalu

RUANGAN ini sangat tidak nyaman. Sirkulasi udaranya pun rasanya tidak berjalan lancar. Ada sedikit bau yang tidak bisa dideteksi dari mana asalnya.

Indiana menguap. Ini mungkin sudah keseratus kalinya…entahlah, dia tidak menghitung dengan benar. Tapi pasti setidaknya sudah yang keseratus kalinya. Pasti. Dia yakin sekarang. Seratus. Benar- benar sudah seratus. Seperti otomatis, tangannya perlahan naik dan menutup mulutnya yang terbuka sangat lebar.

Sehabis menguap, dia ingin sekali menggeliat. Tapi lirikan maut Mr. Andy menahan gerakannya.

Indiana jadi tidak berani bergerak seinci pun. Hanya matanya yang berputar memandang seluruh ruangan. Lumayan, bisa olahraga bola mata.

Pandangannya menangkap ruangan jelek berwarna krem muda dengan udara dingin dari AC yang berbau apak. Dia mendongak. Langit- langitnya berwarna putih keruh karena perlu dicat ulang. Payah. Ruang pertemuan yang menyebalkan.

Atasannya sedang berdiri di depan, dengan gayanya yang telihat pintar dan sangat berbau bisnis. Di samping Pak Indra ada slide projektor yang memancarkan tulisan- tulisan kecil yang tidak terlalu terbaca dari sudut ruangan.

Apa sih yang dikatakannya barusan? Oya, values. Kesalahan pengambilan keputusan dapat diperkecil. Apa artinya? Hmm…

”…organizationally shared values typically embrace ‘concern of people’, a major predictor of long term profit- ability… shared values nurture common behavior…”

Ya ampun. Terkutuklah segala yang bisa dikutuk.

Mr. Andy tampak mengangguk- angguk sambil tersenyum puas mendengar kata- kata panjang yang mengerikan itu. Indiana melirik Karen yang juga sedang mengangguk- angguk. Indiana segera mengangguk- angguk seperti perkutut. Untuk mendramatisasi, dahinya ikut berkerut- kerut. Diketuk- ketukkannya pulpen di atas meja. Bukan karena apa, tapi rasa- rasanya dia pernah menonton film Hollywood yang menampilkan adegan para pengacara penting sedang berpikir keras di ruang sidang sambil mengetuk- ngetukkan pulpennya di atas meja.

Gadis itu berusaha keras mempertahankan mimik muka dan postur tubuh yang profesional. Dia membayangkan para eksekutif muda di majalah- majalah tren gaya. Bagaimana gaya duduk mereka? Kepala ditelengkan sedikit, seperti sedang mendengarkan dengan penuh perasaan. Bola mata berguling di sudut. Tangan terlipat rapi dan kaki

Indiana hanya mampu bertahan dua menit. Selebihnya, dia merasakan kram di kaki, tangan, bahu, dan seluruh saraf wajahnya.

Indiana melirik ke samping. Ruangan ini dikelilingi kaca bening yang sekarang tertutup tirai tinggi. Saat menoleh, dia bisa melihat pantulan siluet tubuhnya di kaca tersebut.

Dia cukup terpesona. Wow. Di sana dia melihat bayangannya memakai jaket berlengan panjang berwarna biru laut dipadukan dengan rok yang bernada sama. Tampak syal dari sutra tipis berwarna biru muda melingkar di lehernya yang jenjang sempurna. Rambut pendeknya berwarna hitam rapi tertata. Kakinya dibalut stoking berwarna gelap dan sepatu tertutupnya berwarna hitam merek DKNY. Sepatu milik Sara sepupunya. Tentu saja pinjaman. Secara keseluruhan, dia terlihat sangat manis, dewasa dan profesional.

Di sini dia datang bersama Karen, Pak Indra dan Mr. andy mewakili perusahannya, Vital Strategic Management Consultant. Perusahaannya bergerak di bidang… bagaimana menjelaskannya dalam bahasa Indonesia? Management Consultant isinya penuh dengan berbagai memo, teori manajemen dan penjelasan panjang lebar dalam bahasa Inggris.

Business and Marketing Planning. Organization Development Consulting Service. Business Strategy Development. In- Depth Organization Analysis. Leadership Assessment…. Ya

ampun. Kedengarannya seram sekali.

Tapi itu belum seberapa. Jabatan Indiana terdengar lebih seram daripada semua itu: dia adalah head hunter! Betul, H-E-A-D H-U-N-T-E-R. pencari harta karun, begitulah istilah keren manajemennya.

Head hunter adalah pekerjaan yang sangat bonafide dan perkasa. Ini menurut Indiana.

Karena di mana pun Indiana berada, ketika dia berkata ”Saya head hunter, saudara- saudara sekalian”. Tiba- tiba dia seperti pesulap di tengah- tengah pesta ulang tahun anak- anak. Semua ingin berebut berkenalan, bermanja- manja agar Indiana memberikan perhatian. Atau bahkan sekedar memberikan kartu namanya.

Hanya saja, belakangan ini Pak Indra senang memasukkan Indiana ke dalam Divisi Riset sebagai Konsultan Manajemen.

Hmmm, yang ini kedengarannya jauh lebih keren. Konsultan Manajemen.

Management Consultant, bahasa Inggrisnya.

Demikianlah yang terjadi pada hari ini. Tim kecil Pak Indra yang terdiri atas Indiana, Karen dan Mr. Andy sedang mengadakan briefing dengan klien terbesar mereka, Neraca Publishing. Dari pihak Neraca Publishing diwakili Bapak Santosa, Bapak Sucipto, Bapak Adrianus, Ibu Elisabet dan Ibu Rachel.

Indiana sudah mau pingsan. Ruang kantor sudah remang- remang ketika dia turun melalui lift. Jam menunjukkan angka sepuluh dan dua. Jam sepuluh lewat sepuluh!. Malam, bukan pagi.

Gila. Dua belas jam duduk bersama- sama di ruang pertemuan pengap itu. ”Pulang, Indiana?”

Tidak, Pak, dia mau keliling dunia.

Kalimat itu ditelannya bulat- bulat. Indiana berpura- pura mengangguk. Dalam hati dia memaki- maki. Seharusnya dia makan malam dengan Francis di café baru di daerah Kemang. Tapi lihatlah sekarang. Boro- boro makan malam, Indiana sudah tidak ingat kapan dia terakhir mandi.

”Rokok?” Pak Indra menawarkan pada Mr. Andy.

Indiana melirik tangan Pak Indra yang sedang menarik sebatang rokok dari kotaknya. Dia sebenarnya tidak merokok. Yah, hanya saat- saat tertentu Indiana merokok. Saat- saat istimewa yang dia lakukan dengan Francis. Tapi yang jelas bukan pada saat ini.

Tapi entah dari mana asalnya, tiba- tiba ada keinginan kuat yang tak tertahankan. Diulurkannya tangannya ke arah Pak Indra.

”Maaf, Pak. Saya butuh rokok, ” katanya singkat.

Karen menatapnya dengan pandangan heran ketika Indiana menyulut rokok tersebut di bibirnya.

Ting!

Pintu lift terbuka. Dia menyeret kakinya di lantai marmer. Dia tidak memedulikan irama tuk- tuk- tuk sempurna yang harus diciptakan dari hak sepatunya.

Ini adalah peraturan perusahaan yang tidak tertulis. Sebagai associate wanita, Indiana (dan Karen, tentu saja) mempunyai kewajiban memakai sepatu hak tertutup dan berjalan dengan langkah- langkah berirama anggun. Langkah yang dilakukan dengan sempurna akan mengalunkan irama tuk- tuk- tuk.

Indiana merogoh tas kerjanya. Selama beberapa saat dia tidak berhasil menemukan apa yang dicarinya. Dia merogoh lagi. Merogoh lagi… dan merogoh. Muka Indiana memerah.

”Kunci mobilku. Di mana ya?” Indiana mulai membuka- buka risleting tasnya.

Kemarin sepupunya Sara membeli tas kantor indah merek Gucci. Menimbulkan decak kagum, ooohhh…aaaahhhh…. Empat juta harganya. Tapi benar- benar cantik. Tentu saja terlihat gaya. Lagi pula banyak kantong untuk menyimpan pernik- pernik kecil seperti lipstik, bedak, ponsel, sisir, kunci apartemen, kunci mobil…

Yah, bagaimanapun dia tetap harus mempunyai tas baru dengan banyak kantong kecil. Mungkin ada Gucci palsu yang bisa dibelinya di Mangga Dua? Besok dia akan mengajak Sara untuk mencari tas baru di sana!

”Karen! Ketemu! Di kantong bajuku!” Indiana mengayun- ayunkan kunci mobilnya dengan gembira di depan wajah Karen.

Wajah Karen merengut.

Indiana berjalan mendekati mobilnya. Bip, bip. Itu bunyi alarm mobil Karen. Indiana tidak perlu menekan tombol apa- apa. Pintu mobilnya dapat terbuka apabila dia memasukkan kunci di lubang kunci pintunya. Dengan kata lain, mobilnya tidak dilengkapi sistem keamanan apa pun.

Indiana menstarter mobilnya. Mobil Civic keluaran tahun 1993. Diberi nama Wang oleh Sara. Katanya dalam bahasa Cina, artinya harapan.

Wang lebih banyak dihabiskan di bengkel daripada disetir oleh Indiana. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini yang mampu dia beli. Daripada harus kehujanan menunggu bus atau berdesak- desakan di dalam metromini dan diteror penyanyi gila yang baru keluar dari penjara. Atau memboroskan gajinya tiap hari untuk membayar biaya taksi. No way. Memiliki Wang lebih baik daripada tidak sama sekali di kota metropolitan seperti ini.

Ketika Indiana baru saja menginjak pedal gas, ponselnya bernyanyi. Dia buru- buru memasang kabel penyambung ponsel di telinganya.

”Halo?” ”Indi?” Suara Sara.

Indiana memasukkan perseneling satu dan menekan gas perlahan. Mesin Wang berhenti mendadak. Indiana memutar kunci kembali. Mesin Wang mati lagi. Shit.

”Apa katamu?”

”Shit, Ra, mesin Wang mati lagi”. ”Kau di mana sekarang?”

”Lalu? Bagaimana dengan Wang?”

”Tinggalkan saja Wang di sana. Besok baru ke bengkel.” ”GILA! BAGAIMANA DENGAN TIKET PARKIRKU?” Indiana menjerit histeris.

***

Sara bersama Nigel berhenti di samping Indiana. Gadis itu membuka pintu mobil dan merengut masuk ke dalamnya. Setelah panik di dalam Wang butut, rasanya kini dia berada di surga. Hawa nyaman dingin dari AC. Kulit jok asli yang lembut, musik ringan…

”Sudah makan, Ndi?”

Tiba- tiba Indiana baru sadar bahwa sejak tadi perutnya berbunyi minta diisi. Nasi bungkus yang tadi disiapkan oleh Neraca Publishing benar- benar tidak menggugah selera. Lagi pula, sedari tadi lambungnya penuh disiram kopi. Benar- benar tidak baik untuk kesehatan.

”Yuk, ke Dave’s!”

Dave’s adalah private pub. Hanya member khusus atau tamu yang didampingi

member yang dipersilahkan masuk. Tentu saja harganya selangit. Biaya member tahunan saja

dalam dolar Amerika. Indiana menggeleng.

”Lho? Kenapa tidak, Non? You looove Dave’s!” Mata Sara langsung terlihat sedih.

Capek! Indiana capek! Bagaimana menjelaskannya kepada Sara?

”Aku hanya…,” Indiana menahan nafas, ”hanya… ummm…hanya sangat gembira kau mengajakku ke Dave’s!” katanya sambil membuang nafas dalam- dalam.

”Benar nih?” Tiba- tiba mata Sara bersinar kembali. Sebenarnya sih…

”To Dave’s we shall go!” Sara menepukkan tangannya ke atas setir. Perlahan, Nigel

Tabel IV.1.1 Analisis Wacana Novel Indiana Chronicle Blues BAB I Hal Yang Diamati Elemen Keterangan

Tematik Topik Indiana menghadiri meeting dengan bos serta rekan kerjanya dan Indiana menganggap hari itu adalah hari terburuknya karena dia mengalami kesialan yang bertubi-tubi dalam sehari penuh

Skematik Story Dimulai saat Indiana mnghadiri meeting yang dianggapnya sangat membosankan dan membuatnya mengantuk. Kesialannya dalam hari itu dimulai ketika bosnya menanyakan pendapatnya mengenai tema rapat dan tentu saja Indiana menjadi kelimpungan, dilanutkan dengan batalnya rencana makan malam dengan pacarnya karena rapat yang baru selesai larut malam, kehilangan kunci mobil, mobil yang tiba-tiba mogok, harus membayar tiket parkir hingga jutaan rupiah hingga menghabiskan malam di sebuah club ternama.

Semantik Latar Ruangan ini sangat tidak nyaman. Sirkulasi udaranya pun rasanya tidak berjalan lancar. Ada sedikit bau yang tidak bias dideteksi dari mana asalnya.

Pandangannya menangkap ruangan jelek yang berwarna krem muda dengan udara dingin dari AC yang berbau apak. Dia mendongak. Langit- langitnya berwarna putih keruh karena perlu dicat ulang. Ruang pertemuan yang menyebalkan.

Detil Gadis itu berusaha keras mempertahankan mimik muka dan postur tubuh yang professional. Dia membayangkan para eksekutif muda di majalah- majalah tren gaya. Bagaimana gaya duduk mereka? Kepala ditelengkan

sedikit, seperti sedang mendengarkan dengan penuh perasaan. Bola mata berguling di sudut. Tangan terlipat rapid an kaki disilangkan dengan seksi.

Indiana hanya mampu bertahan dua menit. Selebihnya, dia merasakan kram di kaki, tangan, bahu dan seluruh saraf wajahnya.

Maksud Dia cukup terpesona. Wow. Di sana dia melihat

bayangannya memakai jaket berlengan panjang berwarna biru laut dipadukan dengan rok yang bernada sama. Tampak syal dari sutra tipis berwarna biru muda melingkar di lehernya yang jenjang sempurna. Rambut pendeknya berwarna hitam rapi tertata. Kakinya dibalut stoking berwarna gelap da sepatu tertutupnya berwarna hitam merek DKNY. Sepatu milik Sara sepupunya. Tentu saja pinjaman.

Sintaksis Koherensi Pembeda

Dalam hati dia memaki- maki. Seharusnya dia makan malam dengan Francis di café baru di daerah Kemang. Tapi lihatlah sekarang. Boro- boro makan malam, Indiana tidak ingat kapan dia terakhir mandi.

Retoris Metafora Indiana menstarter mobilnya. Mobil Civic keluaran tahun 1993. Diberi nama Wang oleh Sara. Katanya dalam bahasa Cina, artinya harapan.

Secara tematik, wacana ini mengedepankan tema utama yaitu gambaran dari kehidupan sehari- hari dari tokoh Indiana yang sedang menghadiri meeting dengan bos dan rekan kerjanya yang lain. Hari itu adalah hari yang sangat buruk menurut Indiana karena Dalam waktu sehari itu, dia terus- menerus mengalami kesialan- kesialan yang bertubi- tubi.

Story dalam wacana ini diawali oleh cerita Indiana yang sedang menghadiri rapat penting dengan klien perusahaannya yang dianggapnya sangat membosankan. Kesialan Indiana hari itu dimulai ketika pada saat rapat, Indiana yang sudah merasa sangat bosan dan mengantuk, malah dimintai pendapatya tentang pembahasan rapat oleh bosnya. Karena rapat tersebut berlangsung hingga larut malam, maka Indiana pun harus membatalkan janji malan malPammya dengan pacarnya Francis. Dan setelah rapat berakhir pun indiana harus mengalami beberapa peristiwa yang tidak mengenakkan lagi seperti kehilangan kunci mobil, mobil kesayangannya yang mogok sehingga harus ditinggalkan di parkiran gedung dengan harus membayar biaya tiket parkir yang mahal sampai akhirnya dia pulang dan menghabiskan malam di sebuah club terkenal.

Detil yang digunakan dalam mendukung cerita ini adalah gerak- gerik Indiana dalam menghadiri rapat dengan kliennya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat berikut:

Gadis itu berusaha keras mempertahankan mimik muka dan postur tubuh yang

professional. Dia membayangkan para eksekutif muda di majalah- majalah tren gaya. Bagaimana gaya duduk mereka? Kepala ditelengkan sedikit, seperti sedang mendengarkan dengan penuh perasaan. Bola mata berguling di sudut. Tangan terlipat rapid an kaki disilangkan dengan seksi.

Indiana hanya mampu bertahan dua menit. Selebihnya, dia merasakan kram di kaki, tangan, bahu dan seluruh saraf wajahnya.

Pada paragraf ini dapat kita lihat, seorang wanita apalagi yang hidup pada zaman sekarang, cenderung sangat berkilblat kepada budaya luar dan banyak meniru ataupun menerapkan gaya- gaya yang ada di berbagai majalah yang sedang tren pada saat ini, dan

Gaya hidup Indiana juga terlihat dengan jelas dan gamblang pada maksud yang ada dalam wacana ini, seperti dalam kalimat berikut:

Dia cukup terpesona. Wow. Di sana dia melihat bayangannya memakai jaket berlengan panjang berwarna biru laut dipadukan dengan rok yang bernada sama. Tampak syal dari sutra tipis berwarna biru muda melingkar di lehernya yang jenjang sempurna. Rambut pendeknya berwarna hitam rapi tertata. Kakinya dibalut stoking berwarna gelap da sepatu tertutupnya berwarna hitam merek DKNY. Sepatu milik Sara sepupunya. Tentu saja pinjaman.

Zaman sekarang, para wanita khususnya yang hidup di kota besar, sangatlah memperhatikan penampilan mereka. Karakter seorang wanita dapat diukur dari apapun yang dikenakannya. Dan segala cara akan dilakukan agar mendapat perhatian dan pengakuan dari orang lain bahwa dia adalah representasi dari wanita metropolis. Tetapi bila yang tidak mempunyai cukup uang untuk mencukupi kebutuhannya akan barang- barang yang membuatnya menjadi wanita metroplitan, maka wanita- wanita akan menghalalkan segara cara demi tampil mewah. Seperti yang diperlihatkan Indiana, walaupun gajinya tidak cukup membeli sepatu bermerek DKNY yang notabene harganya selangit, maka dia memanfaatkan sauadara sepupunya Sara yang kaya, dengan cara meminjam sepatu milik saudaranya agar terlihat gaya dan intelek.

Latar dari wacana menunjukkan kalau seorang wanita yang hidup di zaman metropolitan,sangatlah tidak suka dengan sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman. Hanya karena ruangan itu tidak indah, maka Indiana langsung merasa tidak nyaman berada disana dan itu semua sangat mempengaruhi Moodnya dalam menghadiri rapat penting dengan kliennya.

Dalam hati dia memaki- maki. Seharusnya dia makan malam dengan Francis di café baru di daerah Kemang. Tapi lihatlah sekarang. Boro- boro makan malam, Indiana tidak ingat kapan dia terakhir mandi.

Koherensi pembeda sendiri berarti sesuatu yang berhubungan bagaimana dua peristiwa atau fakta hendak dibedakan. Dua buah fakta yang dibuat saling bertentangan. Seperti kalimat diatas menunjukkan koherensi pembeda yang coba ditunjukkan oleh pengarang dengan mengangkat persoalan dimana seharusnya Indiana pergi makan malam dengan pacarnya di café yang mewah, yang sudah menjadi kebiasaan wanita- wanita metropolis untuk makan malam di café yang nyaman dan suasananya yang tentram. Hal ini dilakukan karena mereka ingin menghibur diri mereka dan menyenangkan diri karena setelah seharian beraktivitas dan berkubang dengan berbagai macam pekerjaan kantor yang melelahkan. Tapi yang terjadi di sini adalah Indiana yang tidak bisa merilekskan badan dan pikirannya karena rapat berlangsung sampai larut malam. Maka dibuatlah koherensi pembeda yang ingin menunjukkan betapa sebalnya Indiana karena dia tidak bisa pergi makan malam dengan pacarnya, sampai- sampai dia membedakannya dengan kapan dia terakhir kali dia mandi.

Dalam wacana ini juga terdapat unsur metafora, yaitu pemberian nama mobil Indiana yang di beri nama Wang oleh sepupunya yang mempunyai darah Tionghoa, dalam bahasa Cina, wang berarti pengharapan. Di sini terlihat dengan jelas, pengarang yang memiliki etnis keturunan Tionghoa memberi warna Tionghoa pada penulisan novelnya walaupun secara tidak gambang. Pembahasannya sendiri, walaupun Indiana dan sepupunya sudah hidup di zaman metropolitan, tetapi mereka masih saja menggunakan perumpamaan dalam menjalani kehidupan sehari- hari mereka.

DUA

KALAU ada satu hal yang paling dibenci oleh Indiana, itu adalah bangun pagi. Maka dia sangat menanti- nantikan hari Sabtu dan Minggu dengan penuh semangat.

Hari Sabtu ini dia terbangun jam sebelas siang. Itu pun karena ponselnya berdering- dering mengganggu gendang telinga. Setelah buta dan terhuyung- huyung seperti orang cacat, Indiana meraba- raba meja kecil di samping ranjangnya.

”Halo…?”

”Masih tidur, sayang?”

Mata Indana terbuka lebar. Lalu tertutup lagi. Francis. ”Francis…”

”Tidak baik seorang gadis masih di ranjang pada pukul sebelas, sayang”

Sori, dia bukan gadis lagi, katanya dalam hati dengan sebal. Matanya tidak bisa diajak berkompromi. Otaknya berputar- putar ke sana kemari, seperti diaduk- aduk. Oh God. Kenapa seperti ini? Dia berusaha keras mengingat- ingat apa yang terjadi kemarin malam.

”Aku mau keluar. Cepatlah berpakaian. Kejemput kau satu jam lagi. Daah, sayang. ” Klik. Telepon dimatikan. Khas Francis. Indiana melempar ponselnya ke atas ranjang. Tersaruk- saruk dia berdiri. Ketika pintu kamar terbuka, hidungnya langsung mencium wangi kopi dari dapur.

Di sana, Sara sedang membolak- balik telur orak- ariknya. ”Siang, Ndi,” serunya di antara desis api gas.

”Kepalaku migrain,” keluh Indiana lesu sambil menarik kursi di dapur. Rasa- rasanya dia juga ingin muntah.

”Mau Panadol?” ”Kopi dulu.”

Indiana berusaha mengingat- ingat apa yang terjadi kemarin malam. Otaknya berdenyut- denyut seperti baru ditabrak UFO.

”Kemarin aku minum apa sih, Ra? Masa white champagne bisa membuatku mabuk seperti ini?”

Sara tertawa. ”White champagne, Ndi? Kemarin kau minum vodka, tonik, gin…” ”Yang benar saja!”

Indiana masuk ke kamar mandi. Dia perlu mandi untuk menyegarkan diri.

Disiapkannya bak mandinya dengan hati- hati. Pertama, diaturnya suhu air. Harus hangat, tidak boleh terlalu dingin atau terlalu panas. Kemarin dia membeli Apple and Berry

Bubble Bath dari The Body Shop, dan dituangkannya banyak- banyak ke dalam air.

Diam- diam matanya menangkap botol di ujung rak. Oya, sabun susunya Sara! Asyik. Ini bakal menyenangkan sekali.

Ketika bak sudah penuh dan busa berlimpah- limpah keluar, Indiana membuka bajunya lalu menenggelamkan dirinya dalam- dalam. Nyaman. Dia merasakan kulitnya menjadi selembut bayi dan sewangi buah.

Tapi masih ada yang kurang. Apa ya? Oh, musik.

Indiana berdiri dan menekan tombol radio kecil di dalam kamar mandi. Suara penyiar pria menyapa. Lagu- lagu santai akan diudarakan. Asyik. Ini akan sangat sempurna.

Baru lima menit Indiana menikmati, pintu kamar mandi nya digedor dari luar. Buk! Buk! Buk!

Sara sedang berdiri di luar, nyengir kuda.

”Aku mau pergi sekarang. Jangan lupa matikan AC kalau kau hendak pergi. Indiana melambai- lambaikan tangannya dengan sebal.

”Sana pergi jauh- jauh dan jangan ganggu aku lagi!” ”Kau mau pergi?”

”Tidak bisa jawab sekarang. Tergantung Francis.” ”Huh. Semua tergantung Yang Mulia Francis.” ”kau tahu seperti apa dia.”

”Ya. Aku tahu seperti apa dia. Babi bandot. Kataku kau tidak cocok…”

Indiana membanting pintu kamar mandi. Sara hendak pergi. Baiklah. GOOD! Indiana

Dokumen terkait