BAB II URAIAN TEORITIS
II.5 Analisis Wacana Teun A. Van Dijk
Menurut Van Dijk penelitian atas wacana tidak cukup jika didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang diamati. Perlu dilihat bagaimana suatu teks diproduksi sehingga kita memperoleh suatu pengetahuan kenapa teks bisa seperti itu. Oleh karena itu, penelitian mengenai wacana tidak bisa mengeksklusi seakan-akan teks adalah bidang yang kosong. Sebaliknya dia adalah bagian kecil dari struktur masyarakat.
Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi berita yang melibatkan kognisi individu dai wartawan. Sedangkan konteks sosial mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah (Eriyanto, 2001:222-224)
Teks bukan sesuatu yang datang begitu saja, tetapi teks dibentuk dalam suatu praktek diskursus. Van Dijk tidak hanya membongkar teks semata, tetapi ia melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi atau pikiran dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh terhadap
teks tersebut. Wacana oleh Van Dijk dibentuk oleh tiga dimensi : teks, kognisi sosial, dan konteks sosial.
Analisis wacana menekankan bahwa wacana adalah juga bentuk interaksi. Menurut Van Dijk, sebuah wacana berfungsi sebagai suatu pernyataan (assertion), pertanyaan
(question), tuduhan (accusation), atau ancaman (threat). Wacana juga dapat digunakan untuk
mendiskriminasi atau mempersuasi orang lain untuk melakukan diskriminasi.
Model analisis van dijk digambarkan sebagai berikut :
a. teks
Teks terdiri dari beberapa struktur dan tingkatan yang saling mendukung. Pertama, struktur makro. Ini merupakan makna global atau umum dari suatu teks yang diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun kedalam suatu berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, preposisi, anak kalimat, frase dan gambar.
Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat dan preposisi yang dipakai. Pernyataan tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat atau retorika tertentu. Kita tidak hanya mengerti apa isi dari suatu teks berita, tetapi juga
Konteks
Kognisi Sosial Teks
elemen yang memebentuk teks berita, kata, kalimat, paragraf dan preposisi. Kalau digambarkan maka struktur teks adalah sebagai berikut :
Tabel II.1 Struktur Teks Struktur Makro
Makna global dari suatu teks yang diamati dari topik atau tema yang diangkat dari suatu teks
Superstruktur
Kerangka dari suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup dan kesimpulan
Struktur Mikro
Makna lokal dari suatu teks yang diamati dari pilihan kata, kalimat dan gaya yang dipakai oleh suatu teks
Pemakaian kata, kalimat, proposisi tertentu oleh media dipahami Van Dijk sebagai bagian dari strategi wartawan. Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi, tetapi dipandang sebagai politik berkomunikasi, suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi dan menyingkirkan lawan atau penantang.
b. Kognisi Sosial
Dalam kerangka analisis Teun A. Van Dijk, perlu ada penelitian mengenai kognisi sosial : kesadaran mental wartawan yang membentuk teks tersebut. Peristiwa dimengerti dan dipahami didasarkan pada skema. Skema dikonseptualisasikan sebagai struktur mental dimana tercakup didalamnya bagaimana kita memandang manusia,
mental untuk menyeleksi dan memproses informasi yang datang dari lingkungan. Skema bekerja secara aktif untuk mengkonstruksi realitas. Membantu kita untuk memandu apakah yang harus kita pahami, maknai dan ingat tentang sesuatu (Eriyanto,2001:261).
Ada beberapa macam skema/model yang dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Tabel II.2 Macam-macam skema atau model
Skema Person ( Person Shemas ). Skema ini adalah bagaimana seseorang menggambarkan dan memandang orang lain.
Skema Diri ( Person Schemas ). Skema ini berhubungan dengan bagaimana diri sendiri dipandang, dipahami, dan digambarkan oleh seseorang.
Skema peran ( Role Schemas ). Skema ini berhubungan dengan bagaimana seseorang memandang dan menggambarkan peranan dan posisi yang ditempati seseorang dalam masyarakat.
Skema Peristiwa ( Events Schemas ). Skema ini barangkali yang paling banyak dipakai, karena hampir setiap hari kita selalu melihat dan mendengar peristiwa yang lalu lalang. Dan setiap peristiwa selalu kita tafsirkan dan maknai dalam skema tertentu. Umumnya skema peristiwa inilah yang paling banyak dipakai wartawan.
Wartawan menggunakan model/skema dalam memahami peristiwa yang diliputnya. Model itu memasukkan opini, sikap, perspektif dan informasi lainnya. Menurut Van Dijk, ada beberapa strategi yang dilakukan. Pertama, seleksi yaitu
menunjukkan bagaimana sumber, peristiwa, informasi diseleksi oleh wartawan untuk ditampilkan kedalam berita. Kedua, reproduksi yaitu yang berhubungan dengan apakah infomasi yang ditampilkan dikopi, digandakan atau tidak dipakai sama sekali oleh wartawan. Ketiga, penyimpulan yaitu strategi besar dalam memproduksi berita yang berhubungan dengan mental wartawan adalah penyimpulan atau peringkasan informasi (Eriyanto, 2001:269)
c. Analisis Sosial
Wacana adalah bagian dari wacana yang berkembang dalam masyarakat, sehingga untuk meneliti teks perlu dilakukan analisis intertekstual dengan meneliti bagaimana wacana tentang suatu hal diproduksi dan dikonstruksi dalam suatu masyarakat. Titik penting dari analisis ini adalah untuk menunjukkan bagaimana makna yang dihayati bersama, kekuasaan sosial diproduksi lewat praktik diskursus dan legitimasi. Menurut Van Dijk, dalam analisis mengenai masyarakat ini, menyangkut dua hal penting, yaitu : kekuasaan dan akses.
Praktik kekuasaan berhubungan dengan kepemilikan yang dimiliki oleh suatu kelompok. Satu kelompok untuk mengontrol kelompok lain. Biasanya didasarkan atas pemilikan sumber-sumber yang bernilai. Sedangkan akses menunjukkan bagaimana kelompok yang berkuasa memiliki akses yang lebih besar terhadap media dan kesempatan yang lebih besar untuk mempengaruhi khalayak.
Van Dijk menganalisis pada tiga tahap, yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Penelitian ini hanya membahas pada tahap teks. Analisis teks Van Dijk dibagi pada tiga level, yaitu:
4. Struktur makro, merupakan makna global/umum dari suatu teks yang dapat diamati dngan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita.
5. Superstruktur, merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun kedalam berita secara utuh.
6. Struktur Mikro merupakan wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar.
Menurut Van Dijk, meskipun terdiri atas berbagai elemen, semua elemen tersebut mempunyai satu kesatuan, saling berhubungan, dan saling mendukung satu sama lainnya. Makna global dari suatu teks (tema) didukung oleh kerangka teks dan pada akhirnya pilihan kata dan kalimat yang dipakai. Berikut akan diuraikan elemen wacana Van Dijk tersebut.
6. Tematik
Menunjukkan gambaran umum dari suatu teks. Bisa juga disebut sebagai gagasan inti, ringkasan, atau yang utama dari suatu teks.
7. Skematik
Skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir. Bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga terbentuk suatu kesatuan arti.
8. Latar
Bagian berita yang dapat mempengaruhi semantik (arti) yang ingin ditampilkan, menentukan kearah mana pandangan khalayak hendak dibawa.
9. Detil
Berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang untuk melakukan penonjolan dan penciptaan citra tertentu.
10. Maksud
Menunjukkan bagaimana kebenaran tertentu ditonjolkan secara eksplisit dan secara implisit mengaburkan kebenaran yang lain.
Pertalian atau jalinan antar kata dan kalimat dalam teks. Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. 12. Koherensi Kondisional
Ditandai dengan pemakaian tanda kalimat dengan jelas. Ada tidaknya anak kalimat tidak mempengaruhi arti.
13. Koherensi Pembeda
Berhubungan dengan bagaimana dua peristiwa atau fakta hendak dibedakan. Dua buah peristiwa dapat dibuat saling bertentangan dan berseberangan.
14. Pengingkaran
Bagaimana wartawan menyembunyikan apa yang akan diekspresikan secara implisit.
15. Bentuk kalimat
Merupakan segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, prisnsip kausalitas. Tidak hanya persoalan teknis di ketatabahasaan tapi menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat itu.
16. Kata ganti
Elemen ini untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat untuk menunjukan dimana posisi seseorang dalam wacana.
17. Leksikon
Menandakan bagaimana pemilihan kata dilakukan atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Pilihan kata yang dipakai menunjukan sikap dan idiologi tertentu. 18. Praanggapan
Pernyatraan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya.
19. Grafis
Merupakan bagian untuk memeriksa bagian yang ditekankan atau ditonjolkan. 20. Metafora
Penyampaian pesan melalui kiasan atau ungkapan. Metafora sebagai ornamen dari suatu berita yang sapat menjadi penunjuk utama untuk mengerti makan suatu teks.