• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analytical Hierarcy Process (AHP)

Dalam dokumen BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN (Halaman 25-31)

Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan salah satu alat analisis manajemen strategik dengan pendekatan sistem. Menurut Ma’arif dan Tanjung (2003, p90), AHP merupakan suatu model yang luwes yang mampu memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat asumsi mereka masing-masing dan membuat memperoleh pemecahan yang diinginkan darinya.

Secara umum, keuntungan penggunaan metode AHP dapat diikhtisarkan sebagai berikut. (Marimin2004, p77)

1. Kesatuan: AHP memberikan satu model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk aneka ragam persoalan yang tidak terstruktur.

2. Kompleksitas: AHP memadukan ancangan deduktif dan ancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks.

3. Saling ketergantungan: AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam suatu sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier.

4. Penyusunan Hierarki: AHP mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat.

5. Pengukuran: AHP memberi suatu skala untuk mengukur objek dalam wujud suatu metode untuk menetapkan prioritas.

6. Konsistensi: AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas.

7. Sintesis: AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif.

8. Tawar-menawar: AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan-tujuan mereka.

9. Penilaian dan Konsensus: AHP tidak memaksakan suatu konsensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari berbagai penilaian yang berbeda-beda.

10. Pengulangan Proses: AHP memungkinkan orang untuk memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui pengulangan.

Dengan pendekatan AHP, pengukuran dapat dilakukan dengan membangun suatu skala pengukuran dalam bentuk indeks, skoring atau nilai numerik tertentu.

Karena itu, menurut Ma’arif dan Tanjung (2003, pp92-94), dalam menyelesaikan persoalan dengan menggunakan AHP, terdapat beberapa prinsip yang harus dipahami, antara lain adalah: decomposition, comparative judgement, syntetis of priority, dan logical consistency.

1. Decomposition

Setelah persoalan didefinisikan, tahapan yang perlu dilakukan adalah decomposition yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya.

Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan juga dilakukan pada unsur-unsurnya sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Karena alasan ini maka proses analisis ini dinamakan hirarki. Ada dua jenis hirarki yaitu lengkap dan tidak lengkap. Dalam hirarki lengkap, semua elemen pada suatu tingkat memiliki semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya. Jika tidak demikian maka dinamakan hirarki tidak lengkap.

2. Comparative Judgement

Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari penilaian AHP, karena ia akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen. Hasil dari penilaian ini akan tampak lebih enak bila disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan matriks perbandingan berpasangan (Pairwise Comparison Matrix). Pertanyaan yang biasanya diajukan dalam penyusunan skala kepentingan adalah:

a. Elemen mana yang lebih ( penting / disukai / mungkin / ... )? dan b. Berapa kali lebih ( penting / disukai / mungkin/ .... )?

Agar diperoleh skala yang bermanfaat ketika membandingkan dua elemen, seseorang yang memberikan jawaban perlu memahami pengertian menyeluruh tentang elemen-elemen yang dibandingkan dan relevansinya terhadap kriteria atau tujuan yang dipelajari. Dalam penyusunan skala kepentingan ini digunakan patokan sebagai berikut:

Tabel 2.1 Skala Dasar Tingkat

Kepentingan Definisi

1 • Kedua elemen sama pentingnya.

3 • Elemen yang satu “sedikit lebih penting” daripada elemen yang lain.

5 • Elemen yang satu “lebih penting” daripada elemen yang lain.

7 • Elemen yang satu “jelas lebih penting” daripada elemen yang lain.

9 • Elemen yang satu “mutlak lebih penting” daripada elemen yang lain.

2,4,6,8 • Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan.

Kebalikan (Reciprocal)

• Jika untuk aktifitas i mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktifitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i.

Sumber: Saaty (1999)

Dalam penilaian kepentingan relatif, dua elemen berlaku aksioma reciprocal artinya jika elemen i dinilai 3 kali lebih penting dibanding j, maka elemen j harus sama dengan 1/3 kalinya lebih penting dari elemen i. Di samping itu, perbandingan dua elemen yang sama akan menghasilkan angka 1, artinya sama penting. Dua elemen yang berlainan dapat saja dinilai sama penting.

Jika terdapat n elemen, maka akan diperoleh matriks Pairwise Comparison berukuran nxn. Banyaknya penilaian yang diperlukan dalam menyusun matriks ini adalah n(n-1)/2 karena matriksnya reciprocal dan elemen-elemen diagonal sama dengan 1.

3. Syntetis of Priority

Dari setiap matriks Pairwise Comparison kemudian dicari eigen vector-nya untuk mendapatkan local priority. Karena matriks Pairwise Comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan sintesis di antara local prority. Prosedur melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hirarki. Pengurutan elemen-elemen menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesis dinamakan priority setting.

4. Logical Consistency

Konsistensi memiliki dua makna. Pertama adalah bahwa objek-objek yang serupa dapat dikelompokkan serupa dengan keseragaman dan relevansi.

Contohnya, anggur dan kelereng dikelompokkan dalam himpunan yang seragam jika “bulat” merupakan kriterianya, tetapi tidak dapat jika “rasa” kriterianya. Arti kedua adalah menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkan pada kriteria tertentu. Contohnya, jika manis merupakan kriteria dan madu dinilai 5x lebih manis dibanding gula, dan gula 2x lebih manis dibanding sirop, maka seharusnya madu dinilai 10x lebih manis dari sirop. Jika madu dinilai 4x manisnya dibanding sirop, maka penilaian tidak konsisten dan proses harus diulang jika ingin mendapatkan penilaian yang lebih tepat.

AHP merupakan salah satu tools dalam pemecahan masalah yang bersifat strategis. Adapun langkah-langkah penggunaan AHP adalah sebagai berikut.

1. Identifikasi sistem

Mengidentifikasikan kriteria dan subkriteria apa saja yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Penyusunan hirarki

Hirarki adalah alat yang paling mudah untuk memahami masalah yang kompleks dimana masalah tersebut diuraikan ke dalam elemen-elemen yang bersangkutan, menyusun elemen-elemen tersebut secara hirarkis dan akhirnya melakukan penilaian atas elemen-elemen tersebut sekaligus menentukan keputusan mana yang akan diambil. Proses penyusunan elemen-elemen secara hirarkis meliputi pengelompokan elemen-elemen dalam komponen yang sifatnya homogen dan menyusun komponen-komponen tersebut dalam level hirarki yang tepat. Hirarki juga merupakan abstraksi struktur suatu sistem yang mempelajari fungsi interaksi antara komponen dan juga dampak-dampaknya pada sistern.

Abstraksi ini mempunyai bentuk saling berkaitan, tersusun dan suatu puncak atau sasaran utama (ultimate goal) turun ke sub-sub tujuan tersebut, lain ke pelaku (aktor) yang memberi dorongan, turun ketujuan-tujuan pelaku, kemudian kebijakan-kebijakan, strategi-strategi tersebut. Dengan demikian hirarki adalah sistem yang tingkatan-tingkatan (level) keputusannya berstratifikasi dengan beberapa elemen keputusan pada setiap tingkatan keputusan.

3. Penentuan prioritas

Ada beberapa cara untuk mencari vektor prioritas dari matriks pairwise comparison. Penekanan pada konsistensi menyebabkan digunakannya rumus eigen value. Berikut ini adalah rumus yang digunakan (untuk para pengambil keputusan telah disediakan software AHP di mana kita tidak perlu lagi menghitung dengan rumus-rumus): CR (Rasio Konsistensi) = (CI/RI)

Tabel 2.2 RI (Random Konsistensi Indeks)

n RI n RI n RI

1 0.00 6 1.24 11 1.51

2 0.00 7 1.32 12 1.48

3 0.58 8 1.41 13 1.56

4 0.90 9 1.45 14 1.57

5 1.12 10 1.49 15 1.49

Sumber: Ma’arif dan Tanjung (2003, p97)

Dalam dokumen BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN (Halaman 25-31)

Dokumen terkait