Huruf adalah sebuah simbol tertulis ataupun lisan, yang digunakan untuk merepresentasikan suara dan mewakili huruf dalam alfabet. Tiap huruf alfabet mempunyai karakteristik yang berbeda-beda yang harus dipelihara agar simbol huruf dapat dengan mudah dikenali secara visual (hlm. 44).
Dalam teori metaltype milik Holloway, anatomi cetakan huruf dapat dibagi menjadi badan, bahu, counter, wajah, kumis, bagian inti, dan
40 lainnya. Sedangkan dalam anatomi dari karakter atau susunan huruf, terdapat ascender, descender, terminal, tinggi, dan jarak antar huruf (hlm. 45-46).
Gambar 2.30. Teori Metaltype (Landa, 2014)
Gambar 2.31. Anatomi Huruf (Landa, 2014)
41 2.2.5.2. Jenis Huruf
Berdasarkan gaya dan sejarahnya, typeface dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori (hlm. 47).
Gambar 2.32. Klasifikasi Huruf (Landa, 2014)
Berikut merupakan klasifikasi typeface: 1. Old Style/Humanist
Huruf dengan gaya Roman ini muncul pada akhir abad ke-15. Old Style ditulis dengan pena yang memiliki ujung yang lebar dan memiliki
42 serif (ekor kait) yang miring. Contoh typeface dari gaya Old Style ini adalah Garamond, Times New Roman, dan Caslon (hlm. 47).
Gambar 2.33 Contoh Old Style (Landa, 2014)
2. Transitional
Jenis huruf transitional ini merupakan transisi dari Old Style ke Modern. Transitional termasuk typeface yang memiliki serif dan dikenalkan pada abad ke-18. Contoh transitional adalah Baskerville dan Century (hlm. 47).
Gambar 2.34. Contoh Transitional (Landa, 2014)
3. Modern
Jenis huruf modern masih termasuk typeface yang memiliki serif di dalamnya. Typeface ini memiliki bentuk-bentuk yang geometris, namun tetap menampilkan tebal tipis pada goresan hurufnya. Contoh huruf modern adalah Bodoni, Didot, dan Walbaum (hlm. 47).
Gambar 2.35. Contoh Modern (Landa, 2014)
43 4. Slab Serif
Typeface yang berkembang pada awal abad ke-19 ini memiliki serif yang tebal. Slab serif memiliki sub-kategori seperti Egyptian dan Clarendon. Contoh huruf slab serif adalah Bookman, Memphis, dan American Typewriter (hlm. 47).
Gambar 2.36. Contoh Slab Serif (Landa, 2014)
5. Sans Serif
Sans serif merupakan typeface yang tidak memiliki serif. Sans serif mulai dikenal pada awal abad ke-19. Contoh huruf sans serif adalah Helvetica dan Futura (hlm. 47).
Gambar 2.37. Contoh Sans Serif (Landa, 2014)
6. Blackletter
Typeface yang memiliki karakteristik berupa goresan tebal dengan sedikit lekukan ini biasa disebut juga dengan typeface gothic. Contoh typeface yang muncul pada abad ke-13 sampai abad ke-15 ini adalah Fraktur dan Schwabacher (hlm. 47).
44 7. Script
Typeface ini biasanya ditulis dengan tulisan bersambung dan miring yang menggunakan kuas ataupun pena runcing. Script memiliki karakteristik yang paling mirip dengan tulisan tangan. Contohnya seperti Shelley Allegro Script dan Snell Roundhand Script (hlm. 47).
Gambar 2.38. Contoh Script (Landa, 2014)
8. Display
Display digunakan dalam penulisan judul dan biasanya dirancang dengan ukuran yang besar agar lebih mudah dibaca. Typeface ini seringkali dielaborasi dan didekorasi untuk lebih menyesuaikan penggunaannya (hlm. 47).
2.2.6. Fotografi
Burhanuddin (2014) menjelaskan bahwa fotografi berasal dari bahasa Yunani yang merupakan gabungan dari kata photos yang berarti sinar dan graphos yang berarti gambar (hlm. 1).
Fotografi sendiri berarti melukis dengan cahaya dimana kita menggambarkan dunia dengan adanya cahaya atau exposure ke dalam bentuk media fotografi (Belt, 2012, hlm. 24).
45 2.2.6.1. Exposure
Exposure merupakan jumlah intensitas cahaya yang tertangkap oleh media fotografi. Cahaya tersebut akan memengaruhi hasil foto di dalamnya (hlm. 24). Empat faktor yang memengaruhi keseimbangan exposure berupa: 1. Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya pada lokasi merupakan elemen yang akan memengaruhi exposure pertama kalinya. Dalam fotografi sendiri, cahaya dibedakan menjadi dua yaitu ambient light dan artificial light. Ambient light merupakan sumber cahaya alami seperti cahaya matahari di pagi hari dan pantulan sinar bulan pada malam hari sedangkan artificial light merupakan cahaya yang dihasilkan oleh alat pemancar cahaya buatan seperti lampu ataupun flash (hlm. 24-25).
Gambar 2.39. Contoh Fotografi dengan Ambient Light (kohkipreset.com)
46 Gambar 2.40. Contoh Fotografi dengan Artificial Light
(lookslikefilm.com) 2. ISO
ISO merupakan sebuah medium yang digunakan untuk mengukur sensitifitas cahaya yang masuk dalam foto yang akan dihasilkan. ISO sendiri dapat diatur melalui kamera yang digunakan dan disesuaikan dengan kondisi cahaya di lokasi pemotretan (hlm. 25).
Gambar 2.41. Contoh perbandingan ISO 100 dan ISO 3200 (Belt, 2012)
47 3. Aperture
Aperture atau diafragma yang dapat disebut sebagai f-stop merupakan ukuran masuknya cahaya ke dalam kamera yang diatur melalui celah dalam lensa kamera. Aperture memengaruhi hasil foto menjadi lebih gelap jika angka aperture besar dan akan menjadi lebih terang jika angka aperture kecil (hlm. 28).
Gambar 2.42. Aperture (Belt, 2012) 4. Shutter Speed
Shutter speed mengatur kecepatan jendela yang tedapat pada kamera dimana kecepatan tersebut akan mengatur durasi cahaya mengenai sensor dalam kamera (hlm. 30).
Gambar 2.43. Shutter Speed (Belt, 2012)
48 2.2.6.2. Komposisi Fotografi
Ang (2012) mengatakan bahwa komposisi dalam fotografi merupakan susunan subjek pada foto yang dapat dikomunikasikan secara efektif kepada audience-nya. Cara yang paling efektif dalam menata komposisi pada foto adalah dengan melihat suasana pada lokasi lalu mengatur posisi kamera sehingga menghasilkan komposisi yang sesuai. Selain itu, komposisi juga mengatur aperture dan depth of field, fokus pada titik fokus, dan bagaimana memposisikan cahaya dalam foto tersebut (hlm. 16). Beberapa jenis komposisi menurut Ang dijabarkan menjadi:
1. Symmetry Composition
Symmetry composition dikatakan sebagai komposisi yang efektif dalam mengatur foto yang rumit dan membuat sebuah foto terlihat stabil. Strategi lainnya yang ditawarkan adalah kesederhanaan dari sebuah foto (hlm. 16).
Gambar 2.44. Contoh Symmetry Composition (Ang, 2012)
49 2. Radial Composition
Radial composition merupakan pengaturan komposisi dimana key elements terlihat menyebar dimulai dari tengah (hlm. 16).
Gambar 2.45. Contoh Radial Composition (Ang, 2012)
3. Diagonal Composition
Diagonal composition merupakan komposisi yang menuntun pandangan mata audience pada subjek melalui garis diagonal yang ada dalam foto (hlm. 17).
Gambar 2.46. Contoh Diagonal Composition (Ang, 2012)
50 4. Overlapping Composition
Overlapping composition merupakan komposisi dimana subjek dalam foto saling bertumpukkan yang menghasilkan ruang dan kontras dalam foto sehingga audience tertarik untuk melihat keseluruhan foto tersebut (hlm. 17).
Gambar 2.47. Contoh Diagonal Composition (Ang, 2012)
5. Rule of Third Composition
Pada komposisi ini terdapat garis yang membagi foto menjadi 3 bagian yang terdiri dari 1/3 bagian (hlm. 18).
Gambar 2.48. Contoh Rule of Third Composition (bidunart.com)
51 6. Framing Composition
Framing composition merupakan komposisi fotografi dimana terdapat subjek di dalam bingkai foto yang dibentuk. Komposisi ini menarik perhatian audience-nya pada subjek di dalam bingkai serta memiliki konteks yang luas di dalamnya (hlm. 20).
Gambar 2.49. Contoh Framming Composition (Ang, 2012)
2.2.6.3. Lensa
Lensa membantu fotografer dalam menciptakan visualisasi foto melalui sudut pandang yang berbeda dengan menggunakan aperture dan focal length yang ada pada lensa (Belt, 2012, hlm. 179). Terdapat 3 kategori yang membedakan lensa, yaitu:
1. Lensa dengan Focal Length Normal
Lensa dengan focal length yang normal dapat menghasilkan foto yang tidak berbeda jauh dengan pandangan mata manusia karena ukuran antara foreground dan background di dalamnya tidak banyak berubah (hlm. 180).
52 2. Lensa Wide-Angle
Lensa wide-angle menghasilkan foto dengan sudut pandang yang lebih luas dari lensa normal karena foreground terlihat lebih besar. Pada lensa ini, angka focal-length berada di bawah 35mm (hlm. 181).
3. Lensa Telephoto
Lensa telephoto merupakan lensa dengan sudut pandang yang sempit namun subjek akan telihat lebih besar dan menghasilkan jarak antara foreground dan background (hlm. 183).