Dalam hukum positif apabila seseorang melakukan percobaan penadahan maka penjatuhan hukumannya menggunakan Pasal 480 Jo 53 KUHP. Kata Jo merupakan singkatan dari kata “Juncto”. Menurut buku kamus hukum yang ditulis JCT Simorangkir, Rudy T Erwin dan JT Prasetyo Jo (Juncto) berarti “juncto, pertalian dengan, berhubungan dengan”.
Untuk pasal Penadahan sendiri di atur dalam Pasal 480 KUHP yang Dipidana dengan pidana penjara paling lama empat (4) tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus (900,-) rupiah:
1. Barangsiapa membeli, menyewa, menukar, menerima gadai, menerima hadiah, atau untuk menarik keuntungan, menjual, menyewakan, menukarkan, menggadaikan, mengangkut, menyimpan atau menyembunyikan suatu benda, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa diperoleh dari kejahatan.
84 Tri Andrisman, delik tertentu dalam KUHP, (Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2012), hlm. 196.
2. Barangsiapa menarik keuntungan sesuatu benda, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa diperoleh dari kejahatan.
Dan untuk percobaan atau poging sendiri ditentukan dalam Bab IV Pasal 53 KUHP yaitu85 :
1. Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri.
2. Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam hal percobaan dikurangi sepertiga.
3. Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
4. Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan selesai.
Dari rumusan Pasal 53 KUHP diatas menurut C.S.T. Kansil, Pasal 53 KUHP hanya menyatakan pada hal apa suatu percobaan untuk melakukan kejahatan diancam hukuman. Pasal 53 ayat (1) menjelaskan bahwa suatu percobaan (yang sia-sia) untuk melakukan suatu delik dapat dihukum apabila: “percobaan untuk melakukan kejahatan terancam hukuman bila maksud si pembuat sudah nyata dengan dimulainya perbuatan itu dan perbuatan itu tidak selesai hanyalah lantaran hal yang tidak bergantung kepada kemauannya sendiri”.86
Dalam Pasal 53 ayat (2) KUHP dikatakan bahwa dalam hal percobaan hukuman yang diberikan dikurangi sepertiga dari hukuman pokok ini berarti jika seseorang melakukan percobaan penadahan dan dijatuhi hukuman dikurangi sepertiga dari hukuman pokok.
Adapun salah satu contoh kasus percobaan penadahan terdapat dalam putusan Mahkamah Agung Nomor: 107/Pid.B/2016/PN.Pal:
85 Moeljatno, KUHP..., hlm, 24.
86 Chirtine. S.T. Kansil, Latihan Hukum Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm. 209.
Terdakwa bernama Andika umur 27 tahun bermula pada hari rabu tanggal 13 januari 2016 ketika terdakwa mendatangi saksi Fadlun alian Lun (terdakwa dalam perkara terpisah) di rumah sakit Antarpura Palu. Dimana saksi Fadlun sedang dirawat. Dalam pertemuan tersebut, terdakwa dan saksi Fadlun merencanakan penjualan sepeda motor hasil curian yang dilakukan saksi Fadlun, dengan janji terdakwa akan diberi uang oleh saksi Fadlun setelah berhasil menjual. Kemudian pada hari jumat tanggal 15 januari 2016 terdakwa kembali mendatangi saksi Fadlun, dan kali ini sudah ada calon pembeli sepeda motor. Selanjutnya saksi Fadlun menunjukkan sepeda motor hasil curian yang akan diantarkan oleh terdakwa, yakni 1 (satu) unit sepeda motor Yamaha Jupiter Z 110cc warna merah marun nomor angka MH330c0028j092113 dan nomor mesin 30C-092111. Sepeda motor tersebut terparkir di halaman parkir rumah sakit Antarpura Palu. Saksi Fadlun lalu memberikan kunci kontak sepeda motor kepada terdakwa. Yang mana kunci kontak tersebut sebenarnya bukan kunci kontak yang asli, karena kontak sepeda motor telah rusak. Lalu terdakwa mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter Z 110cc warna merah marun hendak ketempat calon pembeli sebagaimana yang ditunjukkan saksi Fadlun, di depan Rumah Sakit Antarpura terdakwa dicegat oleh petugas kepolisian yang selanjutnya petugas mengamankan terdakwa dan juga saksi Fadlun beserta barang bukti motor. Tindakan petugas kepolisian mengamankan terdakwa tersebut, dilakukan berdasarkan penyelididkan atas adanya laporan kehilangan pada pemilik sepeda motor. Dan terdakwa secara sah dan meyakinkan telah bersalah melakukan tindak pidana percobaan penadahan sebagaimana yang diatur dalam pasal 480 Jo 53 KUHP dengan dijatuhi hukuman selama 1 (satu) tahun dan 3 (tiga) bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara, dengan perintah agar terdakwa ditahan.
Contoh kasus diatas merupakan salah satu contoh percobaan kejahatan yaitu berupa percobaan penadahan. Yang mana pelaku ingin menjual sepeda motor hasil dari pencurian yang dilakukan oleh temannya ke pada si pembeli
sepeda motor tersebut tetapi terhalang karena pelaku sudah dicegat duluan oleh kepolisian.
Adapun unsur-unsur kejahatan menurut Moeljatno, yakni sebagai berikut:87
1. Voornemen atau niat. Menurut Moeljatno niat diartikan sebagai berikut: a. Niat jangan disamakakan dengan kesengajaan tetapi niat secara
potentisil bisa berubah menjadi kesengajaan apabila sudah ditunaikan menjadi perbuatan yang dituju. Dalam hal semua perbuatan yang diperlukan untuk kejahtan telah dilakukan, tetapi akibat yang dilarang tidak timbul (percobaan selesai) disitu niat 100% menjadi kesengajaan, sama kalau menghadapi delik selesai.
b. Tetapi kalau belum semua ditunaikan menjadi kejahatan, maka niat masih ada dan merupakan sifat batin yang memberi arah kepada perbuatan.
c. Oleh karena niat tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan kesengajaan, maka isinya niat jangan diambilkan isinya kesengajaan apabila kejahtan timbul. Untuk ini diperlukan pembuktian tersendiri bahwa isi yang tertentu tadi juga sudah ada sejak niat belum ditunaikan jadi perbuatan.
2. Bagin van uitvoering atau permulaan pelaksanaan.
Pada permulaan pelaksanaan dari delik yang dituju, juga harus memenuhi tiga syarat, yaitu:
a. Secara objektif apa yang telah dilakukan terdakwa harus mendekatkan kepada delik yang dituju.
b. Secara subjektif, dipandang dari sudut niat, harus tidak ada keraguan lagi, bahwa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu, ditunjukan atau diarahkan pada delik yang tertentu tadi.
87 Moeljatno, Hukum Pidana Delik-Delik Percobaan, Delik-Delik Pernyetaan..., hlm. 16.
c. Bahwa apa yang telah dilakukan terdakwa merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum.
3. Tidak selesainya pelaksanaan harus bukan karena kehendaknya sendiri. Percobaan dalam hukum positif memiliki beberapa bentuk. Menurut pendapat Jonkers yang dikutip Farid Amzah, bahwa percobaan itu terbagi kedalam tiga bentuk, antara lain sebagai berikut:88
a. Voltoide poging (delit manque) atau percobaan selesai, melakukan tindak pidana yang pelaksanaanya sudah sangat relatif jauh, sama seperti tindak pidana selesai namun dikarenakan suatu hal tindak pidana itu tidak terjadi/terwujud.
b. Geschorte poging atau percobaan terhenti atau terhalang, percobaan yang perbuatan pelaksanaanya terhenti pada saat mendekati selesainya tindak pidana tersebut karena adanya penghalang dari luar atau karena faktor ketidakmungkinan tindak pidana itu selesai.
c. Gequalificeerde poging atau percobaan berkualifikasi, percobaan yang perbuatan pelaksanaanya merupakan tindak pidana selesai yang lain daripada dituju. Contoh: pelaku hendak membunuh korban dengan cara menikam pakai pisau, karena mendapatkan perlawanan dari korban, maka korban hanya menderita luka ringan di lengannya. Niat membunuh dari pelaku tidak selesai, tapi muncul akibat lain yang tidak dikehendaki pelaku yaitu luka pada korban.
Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan, bahwa yang dimaksud dengan percobaan kejahatan menurut hukum positif yang tercantum dalam KUHP yaitu suatu perbuatan yang disertai dengan niat untuk melakukan suatu kejahatan terhadap orang lain dan telah diwujudkan dengan suatu perbuatan namun dikarnakan ada penghalang yang datangnya dari luar diri pelaku
88Hamzah A dan Abidin Farid A.Z., Bentuk-Bentuk Khusus Perwujudan Delik
(Percobaan, Penyertaan, dan Gabungan Delik) dan Hukum Panitensier, (Jakarta: Raja Grafindo
sehingga perbuatan tersebut belum atau tidak dapat tercapai niat yang dituju. Percobaa kejahatan mesti harus ditanggulangi karena meskipun hanya percobaan, tetapi telah merugikan korban baik secara materil maupun secara fisik. Oleh karena itu KUHP mengancam pelakunya dengan hukuman agar masyarakat tidak menggap sepele dan menjadi takut untuk melakukan tindakan percobaan kejahatan tersebut.