• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anestesia Spinal

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 30-43)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Anestesia Spinal

Anestesia spinal (intratekal, intradural, subdural, subaraknoid) ialah pemberian obat anestesik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anestesia spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Teknik ini sederhana, cukup efektif dan mudah dikerjakan.16

Indikasi anestesia spinal yaitu pada bedah ekstremitas bawah, bedah panggul, tindakan sekitar rektum-perineum, bedah obstetri ginekologi, bedah

urologi, bedah abdomen bawah. Kontraindikasi absolut yaitu pasien menolak, infeksi pada tempat suntikan, hipovolemia berat, koagulopati, tekanan intrakranial meninggi. Kontraindikasi relatif yaitu infeksi sistemis (sepsis, bakteremi), infeksi sekitar tempat suntikan, kelainan neurologis, kelainan psikis, bedah lama, hipovolemia ringan, nyeri punggung kronis. Komplikasi tindakan anestesia spinal yaitu hipotensi berat, bradikardi, hipoventilasi, trauma pembuluh darah, trauma saraf, mual-muntah, blok spinal tinggi atau spinal total.16

Pemilihan obat spinal secara seksama, dosis, dan posisi pasien diperlukan sebelum memulai anestesia spinal. Pemilihan obat spinal yang optimal dipengaruhi oleh kecepatan onset, reliabilitas, derajat blokade motorik, durasi anestesi, profil efek samping, dan analgesia pascaoperasi. Bupivakain adalah anestetik lokal yang paling banyak digunakan untuk blokade spinal pada operasi SC di amerika serikat. Telah dilakukan uji klinis ekstensif mengenai penggunaaan bupivakain untuk anestesia spinal dan keuntungannya meliputi keamanan, prediktabilitas, dan efektivitas biaya. Bupivakain intratekal (7,5-15 mg) memiliki onset cepatdan durasi blokade 90-120 menit. Efek samping berkaitan dengan dosis dan penggunaan adjuvan.17

Tabel 1. Anestetik Lokal untuk Anestesia Spinal pada SC 17

Obat Dosis Durasi

Lidokain 50 – 90 mg 45 – 75 menit Mepivakain 60 mg 60 menit Bupivakain 7,5 – 15 mg 60 – 120 menit Ropivakain 15 – 25 mg 60 – 120 menit Levobupivakain 7,5 – 15 mg 60 – 120 menit Tetrakain 7 – 10 mg 120 – 180 menit

Mual dan muntah merupakan efek samping yang umum terjadi selama operasi SC dengan anestesia spinal. Mual dan muntah berkaitan dengan hipotensi, nyeri viseral, dan pemberian medikasi seperti oksitosin. Hipotensi biasanya terjadi dalam 20 menit pertama setelah induksi anestesia spinal. Nyeri viseral terjadi

ketika dilakukan manipulasi pada uterus saat proses persalinan atau penutupan fascia.17

2.3 Elektroakupunktur

Elektroakupunktur (EA) didefinisikan secara luas sebagai suatu istilah komprehensif untuk semua prosedur berlandaskan pada pengukuran atau terapi yang berasal dari akupunktur cina namun menggunakan alat elektronik modern. Namun, istilah elektroakupunktur dapat dimengerti dalam cara yang berbeda tergantung pelatihan dan kecenderungan mereka. Beberapa menganggap EA secara terbatas, sebagai stimulasi elektrik pada titik akupunktur secara eksklusif melalui jarum.18 Kepustakaan lain menyebutkan bahwa EA melibatkan aliran listrik ke jaringan tubuh melalui jarum akupunktur, untuk keperluan terapi atau analgesia.19

Terdapat beberapa alasan mengapa seseorang menggunakan EA, karena EA memberikan beberapa keuntungan antara lain: EA lebih efektif dibandingkan dengan akupunktur manual pada beberapa situasi, dan sering memberikan potensiasi efek yang diperoleh dari metode manual; EA lebih menghemat waktu dan lebih sedikit tergantung pada praktisi akupunktur dibandingkan dengan akupunktur manual; pada beberapa kasus dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan bertahan lebih lama; EA memiliki efek spesifik terhadap nyeri, relaksasi, sirkulasi dan otot yang berbeda dari akupunktur manual; EA lebih terkontrol, terstandarisasi dan dapat diukur secara objektif dibanding dengan akupunktur manual.18

Elektroakupunktur diklasifikasikan menjadi 2 frekuensi yaitu frekuensi rendah jika frekuensi < 10 Hz dan frekuensi tinggi jika frekuensi sekitar 50-200 Hz.18 Elektroakupunktur frekuensi rendah mengeluarkan neurotransmiter β-endorfin dan enkefalin yang berinteraksi dengan reseptor opioid µ dan  di otak dan medula spinalis sedangkan EA frekuensi tinggi mengeluarkan dinorfin yang berinteraksi dengan reseptor opioid κ.18, 20 Ketika frekuensi 2 Hz, 100 Hz atau 15 Hz diberikan secara bergantian selama masing-masing 3 detik, ketiga tipe reseptor opioid terlibat.21

Frekuensi EA sering dikombinasi agar terdapat banyak variasi neurotransmitter yang dikeluarkan dan mengurangi kemungkinan akomodasi dari ujung-ujung saraf. Contohnya untuk terapi, EA frekuensi rendah sering diselingi dengan periode frekuensi tinggi, secara bergantian dalam interval tertentu. Istilah untuk kombinasi ini adalah dense dispersed.19

Elektroakupunktur tidak dapat diterapkan pada semua kasus. Menurut WHO stimulasi EA dikontraindikasikan pada pasien yang hamil, pasien yang menggunakan pacemaker, kurangnya sensibilitas kulit dan lesi kulit yang luas.22 Mayor DF membagi kontraindikasi EA menjadi 2 yaitu kontraindikasi absolut dan relatif. Kontraindikasi absolut EA meliputi: kehamilan trimester pertama (walaupun beberapa otoritas menyatakan bahwa terapi dengan hati-hati diperbolehkan untuk kasus hiperemesis apabila pengobatan lainnya potensial berbahaya untuk fetus); stimulasi melalui atau dekat uterus dilarang pada kehamilan sebelum proses melahirkan; elektrostimulasi sebaiknya tidak dilakukan pada pasien syok atau koma, demam akut (temperatur > 38ºC), septikemia; stimulasi sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak dibawah usia 12 tahun; stimulasi tidak dilakukan melewati sinus karotikus karena respon hipotensi, dekat dengan laring pada kasus restriksi saluran pernapasan terutama menggunakan frekuensi tinggi; stimulasi dikontraindikasikan pada pasien yang menggunakan

synchronous cardiac pacemaker; stimulasi kuat (terutama pada frekuensi tinggi)

dihindari pada pasien dengan tekanan darah tinggi. Kontraindikasi relatif EA meliputi: epilepsi (stimulasi kuat dan menetap sebaiknya tidak digunakan khususnya bila melalui korteks motorik menggunakan frekuensi tinggi); kanker aktif; nyeri atau pembengkakan yang belum terdiagnosis; tulang belakang yang tidak stabil; kehamilan mulai bulan keempat (kecuali pada presentasi bokong, saat partus atau induksi partus), stimulasi kuat di tungkai dihindari; pasien dengan konstitusi tubuh lemah, hipotensi; jika pasien hipertensi, mengalami

cerebrovascular accident (misalnya menangioma atau aneurisma) atau besar

kemungkinan terjadi transient ischemic attack maka dimonitor ketat saat distimulasi di regio kepala atau di servikal atas; jika terdapat defek kongenital pada tulang maka hindari peletakan elektroda didekat defek tersebut; pada pasien dengan riwayat kelainan jantung, hindari arus melewati kedua lengan, EA

dihindari pada kasus aritmia atau serangan jantung (yang terjadi < 3 bulan); elektrostimulasi dikontraindikasikan pada kelainan vena akut; jika pasien memiliki implan metal (misalnya implan metal sendi pangkal paha) maka elektroda harus diatur agar arus listrik tidak melewati implan tersebut; penjaruman tidak dilakukan pada tungkai yang mengalami limfedema moderat maupun berat.18

Stimulasi yang lebih kuat pada hampir semua frekuensi akan mengaktivasi sistem saraf simpatis, menaikkan tekanan darah dan denyut jantung. Stimulasi yang kurang kuat dapat meningkatkan aktivitas parasimpatis, meningkatkan relaksasi dan meningkatkan temperatur secara umum. Stimulasi EA yang nyeri merangsang serabut saraf A dan serabut saraf C nosiseptif, sedangkan pada stimulasi EA yang tidak nyeri akan merangsang serabut saraf Aβ dan serabut saraf C mekanoreseptor.18

Toleransi dapat terjadi jika EA digunakan terlalu sering sehingga pengobatan menjadi kurang efektif. Toleransi terjadi pada satu frekuensi tidak menyebabkan toleransi pada frekuensi yang lain. Angka kejadian toleransi juga berbeda pada spesies yang berlainan. Secara umum, toleransi lebih mudah terjadi pada stimulasi EA frekuensi tinggi intensitas rendah bila dibandingkan dengan EA frekuensi rendah intensitas tinggi atau TENS. Toleransi dapat terjadi melalui mekanisme perifer atau sentral. Secara sentral, enkefalin dapat berkurang. Neurokimia yang dikeluarkan oleh aktivasi opioid yang berkepanjangan juga mengambil peran pada toleransi. Neurokimia tersebut mencakup noradrenalin dan kolesistokinin.18

2.4 Akupresur

Akupresur adalah terapi medis komplementer dimana tekanan fisik diterapkan secara manual untuk titik-titik tertentu pada tubuh dengan atau tanpa berbagai perangkat dalam rangka untuk menyeimbangkan fungsi internal tubuh.23 Ada pula yang menyebutkan bahwa akupresur melibatkan stimulasi titik akupunktur tertentu melalui penekanan jari atau menggunakan tungkai, lengan atau sendi. Hal ini didasarkan pada model teoritis yang sama seperti akupunktur tetapi sifatnya tidak invasif.24 Akupresur telah digunakan dalam berbagai uji

klinis, dan telah terbukti bebas dari beberapa efek samping dari terapi alternatif lain seperti TENS, manipulasi tulang belakang.23

Beberapa peneliti mencoba untuk menginterpretasikan mekanisme akupresur dalam terminologi kedokteran barat kontemporer. Sebagai contoh, Wu dkk menjelaskan bahwa stimulasi titik akupunktur dapat melepaskan neurotransmiter dan neurohormon. Demikian pula, Takeshige, Sato dan Han menunjukkan bahwa efek stimulasi titik akupunktur disebabkan oleh aktivasi sistem opioid endogen. Penelitian ini menemukan bahwa stimulasi akupuntur yang dilakukan pada bagian tubuh tertentu (acupoints) dapat memfasilitasi pelepasan neuropeptida tertentu (misalnya, endorfin) dalam sistem saraf pusat, mengakibatkan efek fisiologis seperti berkurangnya rasa sakit dan refleks muntah. Selain itu, Dale dan Dold menyatakan bahwa stimulasi titik akupunktur dalam meridian membangkitkan sinyal dan konduksi elektromagnetik.25

Salah satu penjelasan mengenai efek akupresur pada pencegahan PONV adalah melalui serat saraf α dan β yang membentuk sinapsis di kornu dorsalis. Saraf ini diaktifkan melalui kulit reseptor sensorik yang menyebabkan stimulasi frekuensi rendah dan pelepasan endorfin yang lebih tinggi di hipotalamus. Akupresur meningkatkan kadar β-endorfin dalam cairan cerebrospinal. Teori lain adalah bahwa akupresur mengaktifkan serat serotoninergik dan norepinefrinergik, sehingga mengubah kadar serotonin dan memberikan efek positif pada PONV. Terdapat pula kemungkinan bahwa reseptor dopaminergik sentral memiliki peran dalam mekanisme antiemetik akupresur, yang mirip dengan mekanisme efek antiemetik metoklopramid yakni efek dopamin antagonis sentral. Metoklopramid memblok reseptor dopamin D2 di chemoreseptor trigger zone di medula (area postrema), sehingga menghasilkan efek anti-mual yang kuat. Dengan demikian, terlepas dari mekanisme kerja dan teori, akupresur telah menunjukkan efek antiemetik dalam banyak penelitian sebagai entitas independen atau dalam kombinasi dengan antiemetik lainnya.6, 14, 26

Beberapa penulis telah menunjukkan bahwa rangsangan akupresur melalui PC 6 menyebabkan peningkatan kelistrikan di inti motorik saraf vagus di batang otak dan kemudian menginduksi prolonged slow waves peristaltik lambung yang diperlihatkan oleh electrogastrography. Prolonged slow waves, bersama-sama

dengan penurunan spike waves dapat mengurangi antiperistalsis, yang merupakan penyebab mual dan muntah.27 Mekanisme akupresur mempengaruhi tubuh juga dapat melalui modulasi sistem saraf otonom, dan memunculkan ''respon relaksasi''. Sebuah penelitian terkontrol dengan plasebo, tersamar tunggal menemukan bahwa akupresur aktif memberikan efek relaksasi lebih cepat dan lebih besar daripada plasebo.28

Akupresur memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan akupunktur tradisional, yaitu sifatnya non invasif, tidak menyakitkan dan ditoleransi dengan baik oleh anak-anak. Juga masalah jarum steril dan pendarahan dieliminasi.29 Akupresur sangat menarik karena dengan instruksi yang tepat, akupresur dapat dipelajari oleh seorang pemula, memungkinkan untuk dilakukan sendiri.30 Stimulasi akupresur multi-point mampu merangsang dengan kuat struktur otak spesifik dan resinkronisasi fungsi otak serta normalisasi kadar neurotransmiter. Walaupun mekanisme bagaimana kombinasi multi-acupoint ini mengaktifkan atau mengakses struktur dan fungsi subkortikal dan kortikal spesifik belum diketahui, bukti ilmiah baru-baru ini mengenai aktivasi yang sangat spesifik dari struktur kortikal dan subkortikal dengan stimulasi acupoint spesifik yang dibahas di atas memberikan setidaknya mekanisme yang memungkinkan pada akupresur.29

2.5 Mekanisme Kerja dan Efek Akupunktur

Mekanisme kerja elektroakupunktur pada kasus PONV melalui TRPV1 (Receptor Potential Vanilloid Type-1) yang diduga memegang peranan penting dalam memediasi transduksi sinyal EA ke susunan saraf pusat. Beberapa studi menunjukkan bahwa saraf aferen primer somatik maupun viseral, keduanya mengekspresikan TRPV1, dan molekul ini diekspresikan oleh terminal di spinal dan perifer. TRPV1 diekspresikan terutama pada proyeksi serabut saraf A dan C menuju medula spinalis dan modulasi respon susunan saraf pusat. Aktivasi TRPV1 menyebabkan depolarisasi membran, yang selanjutnya menyebabkan aktivasi saluran natrium dan kalsium. Depolarisasi membran saraf perifer menyebabkan perambatan stimulus ke susunan saraf pusat, sehingga dalam hal ini elektroakupunktur dapat menimbulkan efek pada modulasi respon susunan saraf pusat.31

Beberapa mekanisme kerja telah diusulkan untuk efek stimulasi PC 6 pada PONV, tetapi mekanisme yang persis dimana akupunktur mencegah PONV belum ditetapkan. Salah satu mekanisme yang diajukan adalah bahwa PC 6 bekerja melalui neurotransmiter. Banyak penelitian eksperimental telah menunjukkan bahwa akupunktur mempengaruhi sistem opioid endogen serta transmisi serotonin melalui aktivasi serat serotonergik dan noradrenergik. Neurotransmiter mengubah pengalaman tidak nyaman (misalnya nyeri, mual dan muntah) atau melepaskan bahan kimia lain yang mempengaruhi sistem pengaturan tubuh, termasuk sistem kekebalan tubuh. Mekanisme melalui persarafan diajukan berdasarkan kemampuan anestesi lokal untuk memblokir aksi antiemetik akupresur PC 6.8, 13, 32 Stimulasi PC 6 meningkatkan pelepasan β-endorfin dari hipotalamus ke dalam cairan cerebrospinal. β-endorfin dianggap memiliki efek antiemetik yang dimediasi oleh reseptor µ. Aktivasi sistem serotonergik dan norepinefrinergik mengubah transmisi serotonin, menginduksi serotonin untuk mempromosikan transformasi transportasi juga bisa memberikan kontribusi pada efek antiemetik stimulasi PC6. 3, 5, 14, 15

Mekanisme PC 6 yang kedua yang diajukan adalah melalui pengaruh langsung pada otot polos usus. Elektrostimulasi PC 6 dapat mengurangi takiaritmia lambung yang diinduksi oleh motion sickness ( Hu et al, 1995; Stern et al, 2001) dan meningkatkan persentase gelombang lambat regular yang dilihat melalui electrogastrography. Elektroakupunktur di PC 6 mengalami menekan kontraksi peristaltik retrograd dan mengurangi episode muntah. Efek ini dihilangkan dengan nalokson, sehingga penulis menyimpulkan bahwa jalur opioid sentral terlibat.3,32

Mekanisme PC 6 ketiga yang diusulkan bahwa PC 6 bekerja melalui refleks somatoviseral. Elektrostimulasi di PC 6 menghambat frekuensi transient

lower oesophageal sphincter relaxations yang dipicu oleh distensi lambung.

Berbeda dengan studi sebelumnya, efek ini tidak dihambat oleh nalokson, dengan demikian diajukan adanya mekanisme non-opioid.3,13,32 Mekanisme keempat yang diajukan bahwa PC 6 bekerja melalui inhibisi input sensorik. Menurut teori ini, ketika input sensorik dari distensi lambung dihambat maka frekuensi transient

yang diajukan yaitu PC 6 merangsang refleks somatosimpatetik yang menginduksi relaksasi lambung. Pusat refleks berada di medula, dan neuron medula ventrolateral mungkin memainkan peran penting.32 Mekanisme keenam yang diusulkan keenam bahwa PC 6 dapat meningkatkan modulasi vagal.3, 8, 32

Mekanisme ketujuh yang diusulkan bahwa PC 6 dapat mempengaruhi

cerebella vestibular neuromatrix. Dalam beberapa penelitian Pencitraan

Resonansi Magnetik Fungsional (fMRI) digunakan untuk menyelidiki substrat saraf yang merespon stimulasi akupunktur di PC 6 Neiguan. Data menunjukkan bahwa otak berfungsi sebagai lokus penting aktivasi selama stimulasi akupunktur PC 6, dan efektifitas klinis PC 6 dapat dimediasi oleh cerebella vestibular

neuromatrix .13, 32, 33Ada juga kemungkinan peran reseptor dopaminergik sentral dalam mekanisme antiemetik akupresur, dan akupresur PC 6 secara tidak langsung dapat menimbulkan efek melalui reseptor dopaminergik sentral ini.14 Kombinasi dari mekanisme ini juga dapat menjelaskan efek yang diamati pada berkurangnya mual dan muntah.8

2.6 Efek Samping dan Kontraindikasi Akupunktur

Tinjauan terhadap efek yang tidak diharapkan dari akupunktur menegaskan bahwa akupunktur, di tangan praktisi yang berkualifikasi adalah aman.10 Akupunktur umumnya merupakan prosedur yang aman dengan sedikit kontraindikasi atau komplikasi. Namun, selalu terdapat resiko potensial walaupun kecil, yaitu transmisi infeksi dari satu pasien ke pasien lainnya (HIV atau hepatitis) atau memasukkan organisme patogen. Oleh karena itu untuk keamanan akupunktur memerlukan kewaspadaan dalam mempertahankan standar tinggi kebersihan, sterilitas dan teknik aseptik.22

Efek serius yang tidak diharapkan seperti pneumotoraks, tamponade jantung, perlukaan organ visera dan sistem saraf dapat dicegah melalui tindakan yang hati-hati dan pengetahuan anatomi. Efek yang tidak diharapkan yang sementara dan tidak serius meliputi nyeri pada penusukan, hematoma, perdarahan minor, masalah ortostatik, jarum tertinggal, dan iritasi kulit lokal. Walaupun PC 6 Neiguan dekat dengan nervus medianus, efek yang tidak diharapkan dari stimulasi titik PC 6 Neiguan sangat jarang. Hanya ada satu laporan mengenai neuropati

nervus medianus yang disebabkan oleh jarum akupunktur yang patah di dalam terowongan karpal dekat titik PC 6 Neiguan. Ketidaknyamanan plester / perban akupresur, iritasi kulit, nyeri sementara dan pergelangan tangan yang bengkak diuraikan dalam sebuah penelitian mengenai mual dan muntah (Lee and Done, 2004; Ezzo et al., 2005).10

Dari sudut pandang “aksi regulasi” akupunktur, adalah sulit untuk menetapkan kontraindikasi absolut untuk terapi akupunktur. Namun, untuk alasan keamanan, akupunktur dihindari pada kondisi kehamilan (kecuali untuk tujuan terapi tertentu), kedaruratan medis dan kondisi pembedahan, tumor ganas (namun dapat digunakan sebagai kombinasi dengan terapi lain, untuk meringankan nyeri dan gejala lain, untuk meringankan efek samping kemoterapi dan radioterapi dan meningkatkan kualitas hidup), kelainan perdarahan (pasien dengan kelainan perdarahan dan pembekuan darah atau pasien yang menggunakan terapi antikoagulan).22

2.7 Penelitian Akupunktur pada PONV

Terdapat beberapa penelitian mengenai penggunaan akupunktur untuk PONV. Penelitian-penelitian tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Lee A, Fan LT pada tahun 2011 melakukan systematic review mengenai stimulasi titik akupunktur PC 6 di pergelangan tangan untuk mencegah mual dan muntah pasca operasi. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk menentukan efikasi dan keamanan stimulasi PC 6 dalam mencegah PONV. Dilakukan pencarian hasil penelitian yang dimuat di CENTRAL (

The Cochrane Library, Edisi 3, 2008), MEDLINE (Januari 1966 sampai

September 2008), EMBASE (Januari 1988 sampai September 2008), ISI

Web of Science (Januari 1965 sampai September 2008), daftar publikasi

penelitian akupunktur di national library of medicine, dan daftar referensi dari artikel. Kriteria seleksi adalah semua penelitian random menggunakan teknik stimulasi PC 6 yang dibandingkan dengan sham atau terapi obat untuk pencegahan PONV. Intervensi yang digunakan dalam penelitian tersebut termasuk akupunktur, elektroakupuntur, TENS, stimulasi laser, plester capsicum, perangkat akustimulasi dan akupresur pada pasien yang

menjalani operasi. Hasil primer yang dinilai adalah risiko mual dan muntah. Hasil sekunder adalah kebutuhan untuk terapi antiemetik penyelamatan dan efek samping. Dua orang penilai independen menilai kualitas penelitian dan mengekstraksi data. Terdapat 40 percobaan yang melibatkan 4858 partisipan. Bila dibandingkan dengan sham maka stimulasi titik PC 6 secara signifikan mengurangi: mual ( RR 0,71, 95 % CI 0,61-0,83 ); muntah ( RR 0,7 , 95 % CI 0,59-0,83 ), dan kebutuhan untuk antiemetik penyelamatan ( RR 0,69 , 95 % CI 0,57-0,83 ).9

2. Soltani AE dkk pada Tahun 2010 melakukan penelitian mengenai akupresur, ondansetron, metoklopramid pada penurunan PONV setelah operasi strabismus. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efikasi klinis akupresur dengan obat ondansetron dan metoklopramid pada penurunan keparahan PONV setelah operasi strabismus. Terdapat 200 pasien dengan ASA kelas I- II, usia 10 sampai 60 tahun, yang menjalani operasi strabismus diikutsertakan dalam penelitian prospektif, tersamar ganda, menggunakan plasebo sebagai kontrol. Kelompok I adalah kontrol, kelompok II mendapat metoklopramid 0,2 mg/kg, dan kelompok III mendapat ondansetron 0,15 mg/kg intravena segera sebelum induksi anestesi. Kelompok IV dipasang gelang akupresur pada titik PC 6. Gelang akupresur tidak ditempatkan tepat untuk responden kelompok I- III. Gelang akupresur dipasang 30 menit sebelum induksi anestesi dan dilepaskan enam jam setelah operasi selesai. PONV dievaluasi pada 0-2 jam dan 2-24 jam setelah operasi oleh pengamat yang tidak mengetahui perlakuan yang diberikan. Insiden PONV tidak berbeda bermakna antara kelompok akupresur, metoklopramid dan ondansetron selama 24 jam. Selain itu tingkat keparahan PONV tidak berbeda bermakna antara akupresur, metoklopramid dan ondansetron di ruang pemulihan. Kesimpulan penelitian ini bahwa akupresur pada titik P6 menyebabkan penurunan insiden dan keparahan PONV yang signifikan pada 24 jam setelah operasi strabismus demikian pula metoklopramid (0,2 mg/kg) dan ondansetron (0,15mg/kg) intravena untuk pasien berusia 10 tahun atau lebih tua.14

3. Larson dkk JD Tahun 2010 melakukan penelitian prospektif, acak, tersamar mengenai efek elektroakustimulasi pada mual, muntah dan nyeri pascaoperasi di ruang rawat pasien bedah plastik. Seratus dua puluh dua pasien yang menjalani prosedur bedah di pusat bedah rawat jalan diacak menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima perlakuan sham,

ReliefBand sebuah electroacustimulation band ditempatkan di titik PC 6

namun dimatikan. Perangkat tersebut ditutupi dengan pita buram, sehingga tidak diketahui apakah perangkat itu aktif atau nonaktif. Kelompok kedua menggunakan ReliefBand yang telah disetujui oleh US Food and Drug

Administration, merupakan perangkat elektrostimulasi yang dapat

digunakan kembali, dioperasikan dengan baterai, seharga $150. Elektroakustimulasi merupakan turunan dari terapi akupunktur yang menggunakan arus listrik kecil untuk merangsang titik-titik akupunktur pada tubuh manusia. Hasil yang dinilai adalah nyeri, mual-muntah dan kebutuhan obat penyelamatan serta waktu yang dibutuhkan untuk keluar perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok elektroakustimulasi memiliki skor mual lebih rendah yang signifikan pada 30 menit dan 120 menit pasca operasi (p < 0,05 ). Selain itu, analisis subkelompok menunjukkan temuan yang signifikan bahwa pasien bedah pada kelompok perlakuan memerlukan lebih sedikit obat penghilang rasa sakit dan waktu yang lebih pendek untuk keluar dari perawatan bila dibandingkan dengan kontrol.5

4. Liodden I dkk Tahun 2010 melakukan penelitian terandomisasi dengan kontrol mengenai akupunktur perioperatif dan akupresur pasca operasi dalam mencegah muntah pasca operasi setelah operasi tonsilektomi atau adenoidektomi anak-anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas akupunktur dan akupresur sebagai tambahan terhadap pengobatan standar untuk muntah pasca operasi pada anak-anak yang menjalani tonsilektomi dan/atau adenoidektomi. Seratus lima puluh empat anak ikut serta dalam penelitian ini. Pada kelompok perlakuan dilakukan akupunktur pada PC 6 bilateral, lalu dipasang gelang akupresur selama 24 jam serta diberikan pengobatan standar. Kelompok kontrol menerima

pengobatan standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dalam kelompok akustimulasi mengalami episode muntah yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok kontrol, 46,8 % banding 66,2 % (p = 0,015).4

5. Frey UH dkk Tahun 2009 melakukan penelitian mengenai efektivitas akustimulasi PC 6 dalam mengurangi mual dan muntah pascaoperasi pada pasien berisiko tinggi. Dua ratus perempuan yang menjalani histerektomi terlibat dalam penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif, tersamar (pengamat), acak, menggunakan kontrol. Kelompok yang menerima akustimulasi selama 24 jam ( n = 101 ), dibagi secara acak menjadi subkelompok yaitu kelompok pra-induksi (n = 48) dan pasca- induksi ( n=53). Kelompok stimulasi sham (n = 99), dibagi menjadi

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 30-43)

Dokumen terkait