Penduduk)
1) Manfaat Interaksi Wilayah Desa dan Kota Manfaat interaksi kota adalah sebagai berikut.
a) Pengetahuan dan kesadaran mempunyai keluarga kecil telah diresapi di desa-desa.
b) Meningkatnya hubungan sosial-ekonomi warga desa dengan warga kota. Perluasan jalur jalan desa-desa menyebabkan perdagangan dapat lebih cepat dengan menggunakan transportasi kendaraan bermotor.
c) Pengetahuan penduduk desa mengenai pertanian meningkat, misalnya cara-cara pemilihan bibit unggul, pemberantasan hama, dan menjaga kesuburan tanah. Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh kota dalam hal ilmu pengetahuan.
d) Semakin berkurangnya buta aksara di desa karena banyaknya sekolah di pedesaan. Hal ini sangat membantu usaha pemerintahan dalam pro- gram pembangunan desa.
e) Penghasilan penduduk desa dapat bertambah, karena produksi desa meningkat dengan adanya sistem teknologi tepat guna.
f) Interaksi kota menyebabkan perubahan pekerjaan atau mata pencarian sebagai akibat terbukanya desa dan berkembangnya transportasi. 2) Konsep yang Mendasari Interaksi Desa dan Kota
Konsep yang mendasari interaksi desa dan kota, meliputi gravitasi dan mobilitas penduduk.
a) Hukum gravitasi, pertama-tama dikemukakan oleh Sir Issac Newton (1687). Ia mengatakan bahwa dua buah benda atau materi memiliki gaya tarik-menarik yang kekuatannya berbanding lurus dengan hasil kali kedua massa tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak benda tersebut.
Kekuatan gaya gravitasi dirumuskan sebagai berikut: G = g. m1. m2
(d1.2)2
G = besarnya gaya gravitasi antara dua buah benda g = tetapan, gravitasi Newton, besarnya 6.167 x 108 cm3 m1 = massa benda 1 (dalam gram)
m2 = massa benda 2 (dalam gram) d1.2 = jarak benda (dalam cm) kuadrat
Model gaya gravitasi ini digunakan untuk mengukur kekuatan interaksi dalam ruang (spatial interaction) oleh W.J. Reilly(1929), terutama untuk studi interaksi wilayah-wilaya perdagangan. Besarnya kekuatan interaksi dua buah daerah (region) dapat diukur dengan melihat jumlah penduduk masing-masing wilayah dan jarak absolutnya satu sama lain. Untuk mengukur kekuatan interaksi spasial digunakan rumus:
IA.B = k PA PB
(dAB)2
IA.B = kekuatan interaksi antara region A dan region B k = nilai konstan empiris, biasanya angka 1
PA = jumlah penduduk region A PB = jumlah penduduk region B
dA.B = distance absolut(jarak absolut) yang menghubungkan region A dan B
Untuk memperjelas aplikasi model gravitasi dalam pengukuran potensi interaksi antara dua buah region atau lebih, maka J.W. Alexander dan L.J. Gibson (dikutip Mamat Ruhimat, 1994) memberi contoh: Jarak Kota A ke Kota B = 50 km. Jarak Kota B ke Kota C = 100 km. Jumlah penduduk Kota A adalah 20.000 orang, Kota B adalah 10.000 orang, dan Kota C adalah 30.000 orang.
Dengan menggunakan rumus W.J. Reilly, maka interaksi antara Kota A dan B adalah:
IA.B = k PA PB
(dAB)2 = 1
( .20 000 (10.000))
(50)2 = 80.000
Nilai interaksi antara Kota B dan C sebesar 30.000 maka perbandingan nilai indeks interaksi IAB dan IBC adalah 80.000 : 30.000 atau 8 : 3. Dengan demikian, kekuatan interaksiantara Kota B ke Kota C adalah 3
8 kali kekuatan interaksi antara Kota A dengan Kota B.
Perhatikan gambar berikut ini!
Gambar 3 .1 0 Nilai Int er aksi
Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa nilai indeks interaksi antara Kota A dan Kota B lebih besar bila dibandingkan dengan antara kota B dan C (8 berbanding 3).
b) Mobilitas penduduk (migrasi). Model gravitasi diterapkan juga dengan interaksi masalah perpindahan penduduk (mobilitas penduduk).
Untuk mengetahui perpindahan penduduk pendatang di suatu tempat, maka harus didapatkan koefisien serapdandianalogikandengan hukum ilmu alam tentang arus seberkas sinar.
Contoh:
A = daerah asal penduduk B = daerah penerima J = jarak antara
Jarak daerah A dan B adalah 50 km. Tiap bulan, penduduk yang pindah ke daerah B sebanyak 3 orang. Berarti, setiap tahun 12 x 3 orang = 36 orang yang masuk ke daerah B. Dalam waktu 5 tahun, penduduk yang masuk ke daerah B adalah 5 x 36 orang = 180 orang, maka Koefisien Serap (KS) = 180 50 = 3,6. A J B A B C Sumber :Penulis
Jadi, rumusnya adalah Koefisien Serap (KS) sama dengan migrasi (I) dalam n tahun dibagi dengan jarak (J).
KS = Im n
J .
c.
Aspek Interaksi W ilayah Desa dan Kota
Interaksi wilayah desa dan kota meliputi tiga aspek sebagai berikut. 1) Aspek Ekonomi
Aspek ekonomi merupakan aspek terjadinya interaksi kota dan desa. Misalnya, transportasi, konsumsi, produksi, harga, pasar, dan sebagainya. a) Dengan adanya jalan yang baik maka transportasi desa-kota berjalan
lancar, sehingga terjadilah interaksi.
b) Kota sebagai konsumen sayur-mayur, buah-buahan, beras dan sebagainya, sedangkan desa sebagai produsen barang-barang tersebut. Oleh karena itu, terjadi pengiriman barang dari desa ke kota sehingga terjadilah interaksi.
c) Adanya lalu lintas yang lancar antara desa dan kota, mempengaruhi harga kebutuhan di desa maupun di kota.
d) Pasar di desa sebagai tempat memasarkan barang-barang dari kota, sedangkan pasar di kota merupakan tempat memasarkan barang-barang hasil dari desa. Demikian juga pasar yang terletak antara desa dan kota. 2) Aspek Sosial
Aspek sosial merupakan aspek terjadinya interaksi kota-desa. Misalnya, jumlah penduduk, tenaga kerja, kepadatan penduduk, dan perindustrian. Yang termasuk aspek sosial, antara lain sebagai berikut.
a) Bila diketahui jumlah penduduk desa maupun kota, maka akan diketahui pula jumlah penduduk yang pindah ke kota (urbanisasi) atau sebaliknya. Mobilitas penduduk inilah yang menjadikan adanya interaksi.
b) Dapat diketahui tenaga kerja yang berdiam di kota, penglaju, ataupun tenaga kerja yang terdidik di kota kemudian membangun desanya. Ini pun akan mengakibatkan terjadinya interaksi.
c) Apabila di suatu tempat terjadi kepadatan, besar kemungkinan terjadi akibat adanya migrasi (perpindahan penduduk) dari tempat lain. Hal tersebut akan mengakibatkan adanya interaksi antara satu tempat dengan tempat lain.
d) Perindustrian dapat mengakibatkan interaksi. Misalnya, industri membutuhkan bahan mentah ataupun bahan baku dari daerah lain sehingga terjadi interaksi. Demikian juga dalam pemasaran hasil industri akan terjadi interaksi antara produsen dengan konsumennya.
3) Aspek Budaya
Aspek budaya dapat juga mengakibatkan adanya interaksi. Aspek budaya, antara lain meliputi berikut ini.
a) Mode pakaian cepat menyebar hingga ke desa dan menyebabkan pertunjukan interaksi penduduk.
b) Demikian juga dalam bidang seni, baik melalui pertunjukan maupun melalui media komunikasi, misalnya TV dan radio (sebagai sarana interaksi). Dengan adanya media komunikasi maka banyak orang desa dapat mendengarkan lagu-lagu pop, rock, dan keroncong yang tadinya hanya menikmati lagu-lagu daerahnya sendiri.
c. Dengan adanya interaksi kota, adat istiadat kota menyebar ke desa-desa. Misalnya, sifat budaya konsumtif masyarakat kota ditiru oleh orang- orang desa. Banyak orang membeli TV, dan radio dengan jalan menjual kerbau, sapi atau ternak lainnya.
d) Adanya kemajuan di bidang teknologi, misalnya teleks, telegram, dan telepon memudahkan interaksi sehingga dapat menambah pengetahuan di daerah lain.