• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anggapan Dasar

Dalam dokumen KEPUASAN DALAM MENONTON ACARA TELEVISI (Halaman 57-101)

BAB I PENDAHULUAN

2.5 Anggapan Dasar

Menurut Prof. Dr. Winanto surakhmad M.Sc.Ed. anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik.

Setiap penyelidik dapat merumuskan postulat yang berbeda. (Arikunto, 65:2006).

Jadi anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal yang digunakan untuk tempat berpijak bagi peneliti di dalam melaksanakan penelitiannya.

Anggapan dasar dari penelitian ini didugaremaja di Kota Medan, khususnya siswa SMAN 1 Medan cukup puas dalam menonton acara anak jalanan di RCTI.

43 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian

Metode atau dalam bahasa Inggris method berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang berarti rangkaian yang sistematis dan yang merujuk kepada tata cara yang sudah dibina berdasarkan rencana yang pasti, mapan dan logis pula (Effendy, 2003: 56).

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya.

3.2 Lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kalangan remaja Kota Medan, khususnya siswa SMAN 1 MEDAN sebagai perwakilan remaja yang ada di kota medan.

3.3 Populasi dan Sample 3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam penelitian. (Nawawi, 1995: 141)

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMAN 1 MEDAN mewakili remaja kota medan dan juga di khususkan siswa yang mengikuti ekstrakulikuler OP (Olahraga dan Prestasi) yang berjumlah sebanyak 50 orang.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

3.3.2 Sampel

Sampel secara sederhana diartikan sebagai bagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian. Dengan kata lain, sampel adalah sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi (Nawawi, 1995:144).

Berdasarkan data populasi yang ada, maka peneliti menggunakan teknik Purposive Sampling. Teknik ini berdasarkan pengembilan sample yang disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Adapun ketentuan sample yang dimaksudkan :

a. Sampel adalah remaja kota medan yang diwakili oleh siswa SMAN 1 MEDAN.

b. Sampel adalah remaja kelas 11 SMAN 1 MEDAN yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Olahraga dan Prestasi (OP) sebanyak 50 orang.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Agar diperoleh data yang objektif, maka penulis menggunakan teknik unuk memperoleh data tersebut melalui cara:

a. Penelitian Lapangan (Field Research)

Penelitian lapangan ini merupakan data primer yang diperoleh dengan cara terjun langsung ke lapangan terhadap objek yang telah dipilih yaitu dengan cara mengedarkan kuesioner (questioner). Kuesioner, yaitu suatu daftar yang berisikan suatu rangkaian pertanyaan mengenai suatu hal atau suatu bidang.

Kuesioner di maksudkan sebagai daftar pertanyaan untuk memperoleh jawaban-jawaban dari para responden (Kriyantono, 2009 : 93). Kuesioner ini merupakan sebaran pertanyaan kepada responden dan bersifat tertutup.

b. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Penelitian kepustakaan ini merupakan data sekunder yakni data yang didapat melalui kepustakaan, dengan mempelajari buku-buku, majalah-majalah, bahan perkuliahan yang kiranya punya relevansi langsung dengan masalah skripsi penulis.

45

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

3.5 Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian akan dianalisa dalam beberapa tahap analisa yaitu:

Analisa Tabel Tunggal

Merupakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa data yang terdiri dari 2 kolom yaitu sejumlah frekuensi dan kolom persentase untuk setiap kategori (Singarimbun, 1995 : 266).

Pada tabel tunggal berisi tentang karakteristik responden, variabel Acara Anak Jalanan, serta persepsi remaja Kota Medan yang diwakili siswa SMAN 1 MEDAN. Analisis tabel tunggal ini bertujuan untuk melihat distribusi jawaban responden dari setiap variabel yang diteliti, juga memudahkan peneliti untuk menganalisi data serta melakukan pembahasan dan membuat kesimpulan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.1 Proses Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti akan melalui beberapantahap proses pengumpulan data, yaitu :

4.1.1 Tahapan Awal

Peneliti melakukan pra penelitian ke lokasi penelitian yaitu di SMAN 1 MEDAN. Setelah itu peneliti mengajukan judul yang akhirnya disetujui oleh departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU pada tanggal 25 Februari 2016.

Setelah departemen menetapkan dosen pembimbing, proses penyusunan skripsi selanjutnya peneliti menulis dan menyelesaikan proposal penelitian dan melaksanakan seminar proposal pada tanggal 15 Maret 2016

1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Merupakan sebuah peneltian yang digunakan dengan mengumpulkan data-data, literatur serta bacaan yang relevan dan mendukung penelitian ini. Dapat juga yang didapat dari buku-buku, jurnal, majalah, surat kabar, dan internet yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

2. Penelitian Lapangan (Field Research)

Dimulai dari tanggal 12 Mei 2016 sampai selesai, setelah mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing, peneliti menyebarkan kuesioner kepada siswa SMAN 1 MEDAN yang mengikuti kegiatan ekskul OP (Olahraga dan Prestasi) sebanyak 50 orang. Melalui kuesioner yang disebar inilah peneliti memperoleh data-data yang mendukung penelitian ini karena kuesioner berisikan pertanyaan seputar kepuasan dalam menonton acara televisi (Studi Deskritif Kuantitatif dalam Menonton Acara Anak Jalanan di RCTI di Kalangan Remaja Kota Medan).

47

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.1.2 Tahapan Pengolahan Data

Setelah kuesioner yang berjumlah 50 buah telah terisi semua, tahap berikutnya yang dilakukan peneliti adalah pengolahan data. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan peneliti dalam pengolahan data adalah sebagai berikut:

1. Penomoran Kuesioner

Penomoran kuesioner yaitu memberikan nomor urut kuesioner sebagai pengenal, yakni mulai dari 01-50.

2. Editing

Editing yaitu proses pengeditan jawaban responden untuk memperjelas setiap jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesilapan pengisian dalam kotak kode yang disediakan.

3. Coding

Coding yaitu proses pemindahan jawaban-jawaban responden ke kotak kode yang telah disediakan di kuesioner dalam bentuk angka (score).

4. Inventarisasi Variabel

Inventarisasi variabel yaitu data mentah yang diperoleh dan dimasukkan ke dalam lembar Fotron Cobol (FC.) sehingga memuat seluruh data dalam satu kesatuan.

5. Menyediakan Kerangka Tabel

Banyaknya kerangka tabel minimal sejumlah pertanyaan dalam bentuk kuesioner, maksimal sesuai dengan kebutuhan analisis kerangka tabel ini dilengkapi dengan nomor tabel, judul tabel, kolom vertikal dan horizontal, kategori dan indikator, frekuensi, persen dan jumlah. Fungsi kerangka tabel ini untuk mewadahi sebaran data dalam penelitian.

6. Tabulasi Data

Tabulasi data yaitu memindahkan variabel responden dari lembar Fotron Cobol (FC.) ke dalam kerangka tabel. Adapun tabel yang disajikan berbentuk tabel tunggal. Penyebaran data dalam tabel secara rinci melalui kategori, frekuensi, persentase, dan selanjutnya dianalisis.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.2 Analisis Tabel Tunggal

Analisis tabel tunggal merupakan suatu analisis yang dilakukan dengan cara membagi konsep ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah dalam menganalisis data yang terdiri dari kolom, yaitu sejumlah frekuensi dan persentase untuk setiap kategori.

4.2.1 Karakteristik Responden Tabel 4.1

Usia

No Usia Frekuensi Persen

1 15 tahun – 16 tahun 28 56

2 17 tahun – 18 tahun 22 44

Total 50 100

Pertanyaan:1, Sumber: FC 1

Tabel 4.1 menunjukan bahwa dari 50 responden diketahui, yang mendomisani adalah responden usia 15 tahun – 16 tahun dengan total 28 responden (56%) dan menyusul responden usia 17 tahun – 18 tahun dengan total 22 responden (44%).

Jadi, hal ini menunjukan bahwa (56%) responden yang berusia 15 tahun – 16 tahun sebagai perwakilan remaja Kota Medan yang mengikuti kegiatan ekskul OP di SMAN 1 Medan.

49

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.2 Pendidikan

No Pendidikan Frekuensi Persen

1 SD - -

2 SMP - -

3 SMA 50 100

Total 50 100

Pertanyaan:2, Sumber: FC 2

Tabel 4.2 menunjukan bahwa dari 50 responden bahwa, secara keseluruhan adalah siswa SMA dengan total 50 responden (100%) berpendidikan SMA.

Jadi, hal ini menjadi bukti jika memang pendidikan yang sekarang mereka tempuh adalah pendidikan SMA atau pun setara dan mereka jugalah yang akan menjadi perwakilan remaja Kota Medan dalam penelitian ini.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.2.2 Penggunaan Media

Tabel 4.3

Menggunakan media televisi

No Penggunaan Televisi Frekuensi Persen

1 Tidak Pernah - -

2 Jarang 25 50

3 Sering 23 46

4 Sangat Sering 2 4

Total 50 100

Pertanyaan:3, Sumber: FC 3

Tabel 4.3 menunjukan intensitas responden dalam menggunakan televisi.

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebanyak 25 responden (50%) menyatakan jarang mengunakan televisi. Sebanyak 23 responden (46%) menyatakan sering menggunakan televisi. Sebanyak 2 responden (4%) menyatakan sangat sering mengunakan televisi.

Jadi, hal ini menunjukan bahwa mayoritas responden menggunakan televisi jarang sebesar 50%, hal itu dikarenakan para responden yang mayoritas remaja dengan pendidikan SMA jarang menonton televisi dikarenakan mereka harus melakukan kegiatan pelajaran di pagi hingga siang hari. Sore hari mereka terkadang mengisi waktu mereka dengan kegiatan private pelajaran. Malam hari baru lah mereka menonton televisi untuk mengisi waktu luang mereka. Makadari itulah para responden jarang menonton televisi.

51

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.4

Dalam satu hari menggunakan televisi

No Menggunakan Televisi Frekuensi Persen

1 Kurang dari 1 jam 4 8

2 1-3 jam 36 72

3 3-5 jam 8 16

4 Lebih dari 5 jam 2 4

Total 50 100

Pertanyaan:4, Sumber: FC 4

Dari tabel 4.4 di atas dapat dilihat dari 50 responden terdapat 4 responden (8%) menggunakan televisi kurang dari 1 jam dalam sehari. 36 (72%) responden menyatakan 1-3 jam menggunakan televisi dalam sehari. 8 responden (16%) menyatakan 3-5 jam menggunakan televisi dalam sehari. 2 responden (4%) menyatakan lebih dari 5 jam menggunakan televisi dalam sehari.

Jadi, mayoritas responden menyatakan bahwa mereka 1-3 jam menggunakan televisi dalam sehari, dengan persentase (72%). Dari angka tersebut menunjukan bahwa remaja tidak terlalu lama dalam menonton televisi dikarenakan waktu mereka yang telah digunakan di sekolah maupun ditempat les yang membuat mereka kelelahan. 1-3 jam tersebut tidaklah digunakan secara penuh menggunakan televisi karna mereka lebih mementingkan waktu istirahat yang cukup.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.5

Menonton Acara Anak jalanan

No Menonton acara anak jalanan Frekuensi Persen

1 Tidak pernah - -

2 Pernah 45 90

3 Sering 5 10

4 Sangat sering - -

Total 50 100

Pertanyaan:5, Sumber: FC 5

Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukan bahwa 45 responden (90%) pernah menonton Acara Anak Jalanan di RCTI. 5 responden (10%) sering menonton Acara Anak jalanan di RCTI.

Jadi, hal ini menunjukan mayoritas 45 responden (90%) remaja pernah menonton Acara Anak Jalanan di RCTI. Mereka pernah menyaksikan Acara Anak Jalanan di RCTI hanya sekedar mengetahui bahwa acara ini lah yang sedang digandrungi remaja. Jika di lihat lebih lanjut sebenarnya 5 responden (10%) ini cukup berpengaruh dalam peran remaja lain untuk lebih tau apasih Acara Anak Jalanan yang tayang di RCTI tersebut.

53

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.6

Frekuensi penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan setiap hari

No

Penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan setiap hari

Frekuensi Persen

1 Tidak setuju 12 24

2 Kurang setuju 21 42

3 Setuju 17 34

4 Sangat setuju - -

Total 50 100

Pertanyaan:6, Sumber: FC 6

Berdasarkan tabel 4.6 diatas 12 reponden (24%) tidak setuju dengan frekuensi penanyangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan setiap hari. 21 responden (42%) kurang setuju dengan penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan setiap hari. 17 responden (34%) setuju penayangan Acara Anak Jalanan di rcti yang ditayangkan setiap hari.

Jadi, mayoritas 21 responden (42%) kurang setuju dengan frekuensi penayangan Acara Anak Jalanan yang ditayangkan setiap hari di RCTI karena, menurut mereka jika ditayangkan setiap hari akan menimbulkan kejenuhan bagi para penikmat film tersebut, dan kurang nya informasi yang perlu diketahui remaja jika tayangan Acara Anak Jalanan ditayangkan setiap hari di RCTI.

Mereka ingin jika tayangan Acara Anak Jalanan di RCTI ditayangkan beberapa kali dalam seminggu agar tayangan tersebut dapat menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.7 Jam penanyangan

No Jam penayangan Frekuensi Persen

1 Tidak setuju 13 26

2 Kurang setuju 15 30

3 Setuju 22 44

4 Sangat setuju - -

Total 50 100

Pertanyaan:7, Sumber: FC 7

Hasil tabel 4.7 diatas menyatakan 13 responden (26%) tidak setuju mengenai jam penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan pukul 18.30 WIB – 20.00 WIB. 15 responden (30%) menyatakan kurang setuju mengenai jam penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan pukul 18.30 WIB – 20.00 WIB. 22 responden (44%) menyatakan setuju mengenai jam penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan pukul 18.30 WIB – 20.00 WIB.

Jadi, hal ini menunjukan bahwa mayoritas 22 responden (44%) mengenai jam penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan pukul 18.30 WIB – 20.00 WIB. Hal tersebut didasari dengan waktu istirahat mereka yang bertepatan dengan waktu penayangan Acara Anak Jalanan yang ditayangkan di RCTI dan, waktu selesai tayangan Acara Anak Jalanan pun tidak terlalu larut bagi mereka yang akan melakukan aktivitas sekolah di pagi hari yaitu pukul 07.15 WIB.

55

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.8

Lama/durasi penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI No Lama/durasi penayangan

selama satu setengah jam Frekuensi Persen

1 Tidak setuju 12 24

2 Kurang setuju 16 32

3 Setuju 22 44

4 Sangat setuju - -

Total 50 100

Pertanyaan:8, Sumber: FC 8

Tabel 4.8 menunjukan bahwa 12 responden (24%) tidak setuju dengan lama/durasi penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI selama satu setengah jam.

16 responden (32%) kurang setuju dengan lama/durasi penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI selama satu setengah jam. 22 responden (44%) setuju dengan lama/durasi penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI selama satu setengah jam.

Mayoritas 22 responden (44%) menyatakan setuju dengan lama/durasi penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI selama satu setengah jam. Pernyataan ini berkesinambungan dengan peryataan sebelumnya bahwa penayangan Acara Anak Jalanan pada pukul 18.00 WIB – 20.00 WIB. Hal ini didasari dengan jam istirahat mereka yang cukup sesuai waktu tersebut, dan lama/durasi penayangan selama satu setengah jam dirasa cukup bagi mereka. Karena, jika terlalu lama mereka akan mulai merasakan jenuh dan tidak menikmati tayangan tersebut.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.9

Acara Anak Jalanan di RCTI

No Jam penayangan Frekuensi Persen

1 Tidak menarik 20 40

2 Kurang menarik 18 36

3 Menarik 12 24

4 Sangat menarik - -

Total 50 100

Pertanyaan:9, Sumber: FC 9

Dari tabel 4.9 menunjukan 20 reponden (40%) menyatakan kisah Acara Anak Jalanan di RCTI tidak menarik. 18 responden (36%) menyatakan kisah Acara Anak Jalanan di RCTI kurang menarik. 12 responden (24%) menyatakan kisah Acara Anak Jalanan di RCTI menarik.

Jadi, mayoritas 20 responden (40%) mengatakan kisah Acara Anak Jalanan di RCTI tidak menarik. Hal tersebut dikarenakan kisah anak jalanan terlalu dibuat-buat dan terlalu di dramatisir. Bagi para remaja hal ini tidak baik untuk pencerminan mereka di kehidupan nyata, mereka hanya ingin tontonan lebih menarik dan kreatif yang dihasilkan oleh anak bangsa itu sendiri.

57

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.2.3 Motif Menonton

Tabel 4.10

Dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat melepaskan diri dari masalah

No Dapat melepaskan diri dari masalah

Frekuensi Persen

1 Tidak setuju 21 42

2 Kurang setuju 23 46

3 Setuju 6 12

4 Sangat setuju - -

Total 50 100

Pertanyaan:10, Sumber: FC 10

Tabel 4.10 menunjukan sebanyak 21 responden (42%) menyatakan tidak setuju dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat melepaskan diri dari masalah.

Sebanyak 23 responden (42%) menyatakan kurang setuju dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat melepaskan diri dari masalah. Sebanyak 6 responden (12%) menyatakan setuju dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat melepaskan diri dari masalah.

Jadi, mayoritas 23 responden (46%) menyatakan kurang setuju dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat melepaskan diri dari masalah. Kurang setuju nya para responden disebabkan mereka menonton Acara Anak Jalanan hanya sebagai pelepas penat mereka setelah seharian beraktivitas, bukan sebagai pelepasan diri dari masalah karna masalah yang mereka hadapi tidak bisa hanya mereka selesaikan dengan menonton Acara Anak Jalanan saja, mereka lebih suka menghadapi masalah tersebut dan menyelesaikannya dengan solusi baik yang mereka punya.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.11

Menikmati Acara Anak Jalanan untuk mengisi waktu luang No Menikmati Acara Anak Jalanan Frekuensi Persen

1 Tidak menikmati 21 42

2 Kurang menikmati 13 26

3 Menikmati 16 32

4 Sangat menikmati - -

Total 50 100

Pertanyaan:11, Sumber: FC 11

Tabel 4.11 menunjukan sebanyak 21 responden (42%) tidak menikmati Acara Anak jalanan untuk mengisi waktu luang. Sebanyak 13 responden (26%) kurang menimati Acara Anak jalanan untuk mengisi waktu luang. Sebanyak 16 responden (32%) menikmati Acara Anak jalanan untuk mengisi waktu luang.

Mayoritas 21 responden (42%) tidak menikmati Acara Anak jalanan untuk mengisi waktu luang. Hal ini sejalan dengan pertanyaan sebelumnya yang diberikan, bahwa para remaja hanya menonton Acara Anak jalanan untuk mengisi waktu luang akan tetapi tidak menikmatinya. Mereka menilai bahwa sinetron anak jalanan terlalu dibuat-buat dan seakan tidak cocok dengan apa yang akan mereka terapkan di kehidupan nyata. Tidak menikmati nya Acara Anak jalanan pun karena waktu mereka yang sedikit setelah satu harian beraktivitas dan itu lebih baik mereka isi dengan waktu beristirahat yang cukup dari pada menikmati Acara Anak Jalanan.

59

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.12

Dengan menonton Acara Anak Jalanan menyalurkan emosi No Acara Anak Jalanan

menyalurkan emosi

Frekuensi Persen

1 Tidak setuju 25 50

2 Kurang setuju 19 38

3 Setuju 16 12

4 Sangat setuju - -

Total 50 100

Pertanyaan:12, Sumber: FC 12

Dari tabel 4.12 sebanyak 25 responden (50%) tidak setuju jika dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat menyalurkan emosi. Sebanyak 19 responden (38%) kurang setuju dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat menyalurkan emosi. 16 responden (12%) setuju dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat menyalurkan emosi.

Mayoritas 25 responden (50%) tidak setuju dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat menyalurkan emosi. Emosi sendiri tidak hanya soal amarah, akan tetapi juga soal bahagia, sedih, resah, dan lain sebagainya. Itu sebabnya mereka tidak setuju jika dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat menyalurkan emosi mereka. Alasannya para remaja hanya memiliki sedikit waktu dalam menggunakan media khususnya televisi, bagaimana emosi mereka dapat tersalurkan jika hanya dengan menonton Acara Anak Jalanan. Mereka lebih memilih tontonan yang lebih baik untuk menyalurkan emosi mereka sambil menambah wawasan mereka dengan tontonan yang lebih bermanfaat.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.13

Merasa senang dan terhibur oleh Acara Anak Jalanan No Merasa senang dan terhibur Frekuensi Persen

1 Tidak setuju 24 48

2 Kurang setuju 12 24

3 Setuju 14 28

4 Sangat setuju - -

Total 50 100

Pertanyaan:13, Sumber: FC 13

Tabel 4.13 menunjukan 24 responden (48%) tidak setuju jika merasa senang dan terhibur oleh tayangan Acara Anak Jalanan di RCTI. 12 responden (24%) kurang setuju jika merasa senang dan terhibur oleh tayangan Acara Anak Jalanan di RCTI. 14 responden (28%) setuju jika merasa senang dan terhibur oleh tayangan Acara Anak Jalanan di RCTI.

Mayoritas dari 24 responden (48%) tidak setuju jika menonton Acara Anak Jalanan di RCTI mereka terhibur dan merasa senang. Menurut mereka tak ada unsur hiburan dalam tayangan Acara Anak Jalanan tersebut, hanya cerita fiktif yang kurang mendidik bagi para remaja dan kurang memilki manfaat. Mereka juga tidak setuju jika dikatakan senang jika menonton Acara Anak Jalanan karna mereka menonton tadi hanya mengisi waktu luang mereka yang tersisa sedikit setelah sehatian beraktivitas.

61

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.2.4 Efek

Tabel 4.14

Pesan yang disampaikan

No Bermanfaat bagi remaja Frekuensi Persen

1 Tidak setuju 22 44

2 Kurang setuju 22 44

3 Setuju 6 12

4 Sangat setuju - -

Total 50 100

Pertanyaan:14, Sumber: FC 14

Tabel 4.14 menunjukan 22 responden (44%) menyatakan tidak setuju dengan pesan yang disampaikan dari Acara Anak Jalanan bermanfaat bagi para remaja. menunjukan 22 responden (44%) menyatakan kurang setuju dengan pesan yang disampaikan dari Acara Anak Jalanan bermanfaat bagi para remaja. Dan 6 responden (12%) setuju dengan pesan yang disampaikan dari Acara Anak Jalanan bermanfaat bagi para remaja.

Dari tabel 4.14 ini memiliki reponden yang miliki jumlah pilihan yang sama yaitu 22 responden (44%) menjawab tidak setuju dan 22 responden (44%) menjawab kurang setuju. Mereka sebenarnya memiliki pemikiran yang hampir sama pula, para remaja tidak setuju jika dikatakan dari Acara Anak Jalanan memiliki pesan moral yang bermanfaat bagi mereka. Menurut mereka hanya sedikit pesan moral yang disampaikan oleh Acara Anak Jalanan di RCTI dan bagi mereka pesan yang disampaikan pun tidak cukup membuat mereka tertarik dan akhirnya mengatakan tidak setuju.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.15

Setelah menonton Acara Anak Jalanan perhatian akan sesama bertambah

No Perhatian akan sesama bertambah

Frekuensi Persen

1 Tidak bertambah 27 54

2 Kurang bertambah 14 28

3 Bertambah 9 18

4 Sangat bertambah - -

Total 50 100

Pertanyaan:15, Sumber: FC 15

Tabel 4.15 menunjukan 27 responden (54%) mengatakan tidak bertambah perhatian akan sesama setelah menonton Acara Anak Jalanan. 14 responden (28%) mengatakan kurang bertambah perhatian akan sesama setelah menonton Acara Anak Jalanan. 9 responden (18%) mengatakan bertambah perhatian akan sesama setelah menonton Acara Anak Jalanan.

Mayoritas 27 responden (54%) mengatakan tidak bertambah perhatian akan sesama setelah menonton Acara Anak Jalanan. Hal tersebut kembali lagi pada tayangan Acara Anak Jalanan yang kurang bermanfaat dan tidak mencerminkan kehidupan remaja yang baik dan benar. Dalam tayangan Acara Anak Jalanan diceritakan dua remaja yang saling menyukai karena hobi mereka bermain di jalanan, hal tersebut sangatlah tidak patut untuk dicontoh bagi para remaja yang masih labil dalam kehidupan yang terlalu fiktif seperti itu. Perhatian mereka akan sesama dapat tumbuh dengan sendirinya dengan dibantu oleh guru yang membimbing mereka di sekolah dan didikan moral dari kedua orang tua di rumah.

63

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Tabel 4.16

Cerita Anak Jalanan memenuhi kebutuhan serta kepuaasan diri No Memenuhi kepuasan dan

kebutuhan

Frekuensi Persen

1 Tidak memenuhi 28 56

2 Kurang memenuhi 14 28

3 Memenuhi 8 16

4 Sangat memenuhi - -

Total 50 100

Pertanyaan:16, Sumber: FC16

Dari tabel 4.16 menunjukan 28 responden (56%) mengatakan cerita Anak Jalanan tidak memenuhi kebutuhan serta kepuasan diri. 14 responden (28%) mengatakan cerita anak jalanan kurang memenuhi kebutuhan serta kepuasan diri.

8 responden mengatakan cerita Anak Jalanan memnuhi kebutuhan serta kepuasan diri.

Mayoritas menunjukan 28 responden (56%) mengatakan cerita Anak Jalanan tidak memenuhi kebutuhan serta kepuasan diri. Kebutuhan mereka tidak

Mayoritas menunjukan 28 responden (56%) mengatakan cerita Anak Jalanan tidak memenuhi kebutuhan serta kepuasan diri. Kebutuhan mereka tidak

Dalam dokumen KEPUASAN DALAM MENONTON ACARA TELEVISI (Halaman 57-101)

Dokumen terkait