• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPUASAN DALAM MENONTON ACARA TELEVISI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEPUASAN DALAM MENONTON ACARA TELEVISI"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

Jalanan di RCTI di Kalangan Remaja Kota Medan) SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu

Komunikasi

Disusun Oleh : RAHMAD CAHYADY

120904108

Program Studi Public Relation

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(2)

i

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Rahmad Cahyady

NIM : 120904108

Judul Skripsi : Kepuasan Dalam Menonton Acara Televisi (Studi deskriptif Kuantitatif Kepuasan Dalam Menonton Acara Anak Jalanan di RCTI di Kalangan Remaja Kota Medan).

Medan, Agustus 2016

Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Dra. Emilia Ramadhani, S.Sos.MA Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A NIP. 197310212006042001 NIP. 19620828 198701 2 001

Dekan FISIP USU

Dr. Muryanto Amin, M.Si NIP. 197409302005011002

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang di kutip maupun yang dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Rahmad Cahyady NIM : 120904108 Tanda Tangan :

Tanggal : Juli 2016

(4)

iii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi ini diajukan oleh :

Nama : Rahmad Cahyady

Nim : 120904108

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi : Kepuasan Dalam Menonton Acara Televisi (Studi deskriptif Kuantitatif Kepuasan Dalam Menonton Acara Anak Jalanan di RCTI di Kalangan Remaja Kota Medan).

Majelis Penguji

Ketua Penguji :

Penguji Utama :

Penguji :

Ditetapkan di : Medan

Tanggal :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(5)

Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Rahmad Cahyady NIM : 120904108 Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis karya : Skripsi

Demi pengembangan Ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non Exclusive Royalty – Free Rights) atas karya ilmiah saya yang berjudul Kepuasan Dalam Menonton Acara Televisi (Studi deskriptif Kuantitatif Kepuasan Dalam Menonton Acara Anak Jalanan di RCTI di Kalangan Remaja Kota Medan). Dengan Hak Bebas Royalti Non Eksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/format- kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik HakCipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Dibuat di : Medan Pada tanggal :

Yang menyatakan:

(Rahmad Cahyady)

(6)

v

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ABSTRAK

Judul penelitian ini adalah Kepuasan Dalam Menonton Acara Televisi (Studi Deskriptif Kuantitatif dalam menonton Acara Anak Jalanan di RCTI di Kalangan Remaja Kota Medan).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan remaja dalam menonton acara Anak Jalanan di RCTI, remaja kota medan yang diwakili oleh siswa SMAN 1 MEDAN sebagai perwakilan dari remaja yang ada di Kota Medan. Teori pendukung yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Komunikasi, Komunikasi Massa, Uses & Gratification, Tingkat Kepuasan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang bertujuan menghitung tingkat kepuasan menonton acara televisi. Waktu penelitian terhitung mulai bulan Maret sampai dengan Juni 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMAN 1 MEDAN mewakili remaja kota medan dan juga di khususkan siswa yang menikuti ekstrakulikuler OP (Olahraga dan Prestasi) yang berjumlah sebanyak 50 orang. Penentuan sampel dilakukan dengan analisi tabel tunggal dan mencakup keseluruhan sampel sebanyak 50 orang siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler OP (Olahraga dan Prestasi). Teknik penarikan sampel dengan penelitian lapangan (pembagian kuesioner) dan penelitian kepuastakaan. Dalam menganalisis data penelitian analisis tabel tunggal. Dari hasil penelitian ini diperoleh tingkat kepuasan dalam menonton televisi khususnya Acara Anak Jalanan sangatlah rendah. Ini terbukti dari 52% responden merasa tidak puas dengan apa yang ditayangkan oleh acara tersebut karna kurangnya manfaat dan adegan kekerasan pada sinetron tersebut juga kurang menjadi contoh yang baik dalam penyelesaian masalah.

Kata Kunci : Kepuasan, Menonton, Acara Televisi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(7)

study in watching A nak Jalanan show in RCTI among teenagers in Medan). This research aims to know the teenager's satisfaction level in watching Anak Jalanan in RCTI which represented by the students of SMAN 1 Medan. The supporting theory that used in this research are Communication, Mass Communication, Uses&Gratification, and Satisfaction Level. This resarch used quantitative descriptive method that aimsto count the level of satisfaction in watching tv show. The time of the research starts from March up to June 2016.

The population of this research are the students of SMAN 1 Medan as the representative of Medan's teenagers and also devoted to students that take OP extracurricular totaling 50 students. The samples were done by single table analysist thar covered all of the samples which is 50 students that take the OP extracurricular. The sampling technique is by field research (distribution of questionnaires) and literature research. In analyzing the study data analysis of a single table. From the results, this study showed levels of satisfaction in watching tv show Anak Jalanan in particularly is very low. As evident from the 52% of respondents were not satisfied with what is shown by the event because the lack of benefit and violent scenes on the soap opera is also not being a good example in problem solving.

Keyword : Satisfaction, Watch, Tv Show

(8)

vii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA KATA PENGANTAR

Puji dan syukur tiada terkira penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunianya yang telah diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Kepuasan Dalam Menonton Acara Televisi (Studi deskriptif Kuantitatif Kepuasan Dalam Menonton Acara Anak Jalanan di RCTI di Kalangan Remaja Kota Medan) ” .

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana di Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini, peneliti menyadari banyak dukungan serta bantuan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak, khususnya kepada kedua orang tua terkasih, Rousady Mourny dan Fauziah Husein atas segala kasih sayang, doa serta dukungan yang terus mengalir tanpa henti sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Tidak lupa pula untuk kakak peneliti dan suami, Sabrina Prihatini dan Rendi simatupang atas dukungan doa dan semangatnya. Serta dukungan dari teman-teman tercinta yang telah memberikan masukan, semangat dan dukungan tanpa henti.

Selama masa kuliah sampai penyelesaian skripsi ini, penulis juga banyak mendapat dukungan, bimbingan, maupun bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(9)

3. Seketaris Departemen Ilmu Komunikasi Dra. Dayana, Msi

4. Dosen Pembimbing Skripsi penulis Dra. Emilia Ramadhani, S.Sos. MA, yang telah membimbing saya, yang bersedia menyediakan waktu, tenaga, pikiran, bersedia mengajari dan memberikan semangat dari proses awal penyusunan proposal sampai skripsi ini terselesaikan.

5. Bapak dan Ibu dosen Ilmu Komunikasi yang telah memberikan bekal pengetahuan selama masa perkuliahan berlangsung.

6. Seluruh staf administrasi Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Kak Maya dan Pak Tangkas. Terima kasih banyak atas bantuan dan informasi yang telah diberikan kepada penulis dalam hal administrasi.

7. Kepada keponakan saya tercinta Ranendra Argya Rendi Simatupang yang memotivasi saya agar menjadi paman yang baik.

8. Kepada oma saya tercinta HJ. Karnelly Lubis yang selalu mendukung saya, memberi motivasi untuk menjadi orang sukses dan doa yang selalu diberikan dari saya kecil hingga sekarang. Dan terimakasih untuk kata yang selalu saya ingat “ abang boleh jadi anak nakal tapi jangan jadi anak bodoh ”

9. Kepada Fildza Suryana yang selalu memberikan semangat, doa, dan menjadi motivasi penulis agar segera menyelesaikan penelitian.

10. Kepada uwak, om, bunda, dan semua sepupu-sepupu saya yang selalu menyayangi, memberikan doa, perhatian, dukungan semangat kepada penulis.

11. Buat sahabat-sabahat terbaik saya Reno Girsang, Elmolincont, Raja Damanik, Riovaldo Todoan, Fahrur rozi, Yare Saragih, Kif Vania, Widya Hapsari, Fanny Beatric, dan teman-teman rockin82 lainnya, terimakasih atas dukungan dan semangat yang selalu kalian berikan.

12. Kepada teman seperjuangan Gentong Komunikasi 2012 dan juga teman-teman Anak Lobby yang selalu memberikan dukungan kepada peneliti.

13. Kepada adik-adik stambuk 2014 Sastra, Ari, Gita, Tika, Nurul, Dinasty, TM, Jovi, Putra, Raja.

14. Kepada 50 responden siswa SMAN 1 MEDAN dalam ekskul OP (Olahraga dan

Prestasi) sudah menyediakan waktu dan kerjasama dalam mengisi kuesioner yang

sangat membantu penulis.

(10)

ix

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 15. Pihak-pihak yang membantu penulis dalam suka mau pun duka namun tidak bisa

penulis ucapkan satu persatu. Terima kasih

Penulis sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapakn kritik dan saran yang membangun demi kebaikan skripsi ini.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Medan, Agustus 2016

Rahmad Cahyady

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERSETUJUAN……… i

PERNYATAAN ORIGINALITAS……… ii

HALAMAN PENGESAHAN………. iii

PUBLIKASI ELEKTRONIK………. iv

ABSTRAK……….... v

ABSTRAK ……….. vi

KATA PENGANTAR……….... vii

DAFTAR ISI………... ix

DAFTAR TABEL ………. x

DAFTAR GAMBAR ……… xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Perumusan Masalah... 12

1.3 Pembatasan Masalah... 12

1.4 Tujuan Penelitian... 12

1.5 Manfaat Penelitian... 12

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(11)

2.1.1 Komunikasi... 13

2.1.1.2 Unsur Komunikasi... 15

2.1.1.3 Fungsi dan Tujuan Komunikasi... 17

2.1.2 Komunikasi Massa... 18

2.1.2.3 Sifat-Sifat Komunikasi Massa... 20

2.1.2.4 Fungsi Komunikasi Massa... 21

2.1.2.5 Komponen komunikasi Massa... 22

2.1.2.6 Efek Komunikasi Massa... 23

2.1.3 Televisi... 27

2.1.3.3 Sejarah Televisi... 28

2.1.3.4 Karakteristik Televisi... 29

2.1.3.5 Kelebihan & Kekurangan Televisi... 30

2.1.4 Uses & Gratification... 21

2.1.5 Teori Kepuasan... 37

2.2 Kerangka Konsep... 39

2.3 Variabel Penelitian... 40

2.4 Definisi Operasional... 41

2.5 Anggapan Dasar... 42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian... 43

3.2 Lokasi penelitian... 43

3.3 Populasi dan Sample... 43

3.3.1 Populasi... 43

3.3.2 Sample... 44

3.4 Teknik Pengumpulan Data... 44

3.5 Teknik Analisis Data... 45

BAB VI HASIL PEMBAHASAN

(12)

xi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.1 Proses Pengumpulan Data... 46

4.1.1 Tahapan Awal... 46

4.1.2 Tahapan Pengolahan Data... 47

4.2 Analisis Tabel Tunggal... 48

4.2.1 Karakteristik Responden... 48

4.2.2 Penggunaan Media... 50

4.2.3 Motif Menonton... 57

4.2.4 Efek... 61

4.3 Pembahasan... 65

BAB V PENUTUP 1.1 Kesimpulan... 72

1.2 Saran... 73

DAFTAR REFERENSI LAMPIRAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(13)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

Tabel 2.3 Variable Penelitian... 40

Tabel 4.1 Usia... 48

Tabel 4.2 Pendidikan... 49

Tabel 4.3 Menggunakan media televisi... 50

Tabel 4.4 Dalam satu hari menggunakan televisi... 51

Tabel 4.5 Menonton Acara Anak jalanan... 52

Tabel 4.6 Frekuensi penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI yang ditayangkan setiap hari... 53

Tabel 4.7 Jam penanyangan... 54

Tabel 4.8 Lama/durasi penayangan Acara Anak Jalanan di RCTI... 55

Tabel 4.9 Acara Anak Jalanan di RCTI... 56

Tabel 4.10 Dengan menonton Acara Anak Jalanan dapat melepaskan diri dari masalah... 57

Tabel 4.11 Menikmati Acara Anak Jalanan untuk mengisi waktu luang... 58

Tabel 4.12 Dengan menonton Acara Anak Jalanan menyalurkan emosi... 59

Tabel 4.13 Merasa senang dan terhibur oleh Acara Anak Jalanan... 60

Tabel 4.14 Pesan yang disampaikan... 61

Tabel 4.15 Setelah menonton Acara Anak Jalanan perhatian akan sesama bertambah... 62

Tabel 4.16 Cerita Anak Jalanan memenuhi kebutuhan serta kepuaasan diri.... 63

Tabel 4.17 Merasa puas dengan kisah Acara Anak Jalanan... 64

(14)

xiii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

Gambar 2.1 Model Uses and Gratification... 35.

Gambar 2.2 Uses and Gratification... 36

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(15)

LAMPIRAN 1. Kuesioner

2. Surat izin penelitian

3. Tabel SPSS

(16)

1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Kebutuhan akan informasi sepertinya sudah menjadi salah satu kebutuhan dari setiap individu. Dapat kita lihat minat untuk menikmati dan mendapatkan informasi ataupun berita yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Pada zaman sekarang ini banyak sekali kita temukan media massa baik itu cetak maupun elektronik yang menawarkan hal-hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan suatu pemberitaan.

Saat ini media pemberitaan di tanah air semakin hari semakin maju dan terus berkembang, dahulu media pemberitaan hanyalah lewat media cetak dan media radio. Perkembangan teknologi informasi media saat ini memberikan andil yang cukup besar dalam perkembangan dan kemajuan teknologi media massa.

Bukan hanya media cetak seperti surat kabar ataupun majalah, akan tetapi juga radio dan televisi sebagai media elektronik. Kita dapat mendengar dan melihat semua informasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Munculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa. Globalisasi informasi dan komunikasi setiap media massa jelas melahirkan efek sosial tentang bermuatan perubahan nilai-nilai sosial dan budaya manusia. (Kuswandi, 1996:21-22)

Televisi sebagai media komunikasi massa mempunyai banyak kelebihan dalam penyampaian pesan-pesannya dibandingkan dengan media komunikasi massa lainnya, karena televisi menyampaikan pesannya melalui gambar dan suara secara bersamaan, sangat cepat dan dapat menjangkau ruang yang sangat luas.

Televisi kini semakin mendominasi komunikasi massa dikarenakan sifatnya yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat.

Informasi adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat saat ini. Dari semua media media komunikasi yang ada, televisi merupakan media yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Hampir setiap orang memiliki

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(17)

televisi dirumahnya. Tayangan di televisi menyuguhkan berbagai hiburan, informasi, berita dan iklan.

Media televisi sudah demikian besar daya tariknya bagi masyarakat, baik sebagai pihak penyelenggara siaran maupun sebagai penikmat siaran-siaran yang disajikan. Begitu besarnya daya tarik media ini karena televisi mampu menyajikan informasi suara dan gambar dengan program tayangan yang disajikan semakin menarik dan bervariatif. Perkembangan media massa ini tidak lepas dari sejarah media pendahulu lainnya. Demikian besar minat masyarakat pada media ini juga berpengaruh besar dampaknya baik sosial, budaya, politik, ekonomi dan sektor lain di kehidupan masyarakat.

Kemampuan televisi dalam menarik perhatian massa menunjukan bahwa media tersebut telah menguasai jarak secara geografis dan sosiologis. Daya tarik media televisi sedemikian besar, sehingga pola-pola kehidupan rutinitas manusia sebelum muncul di televisi berubah total sama sekali. Media televisi menjadi panutan baru bagi kehidupan manusia. (Kuswandi, 1996:22-23)

Sebagai media audiovisual, televisi mempunyai daya tarik tersendiri dengan gambar bergeraknya. Karena itu, khalayak cenderung menggunakan sarana televisi sebagai sarana hiburan, informasi, maupun pengetahuan, sehingga membuat informasi yang disampaikan lebih menarik dan menyenangkan pemirsanya dibandingkan dengan media lainnya.

Menjelang tahun 1960-an, hampir seluruh negara (termasuk Indonesia) merintis untuk memiliki jaringan televisi. Sifat dan karakteristik televisi yang unik sebagai media massa menjadi salah satu alasan pemerintah Indonesia untuk membangun jaringan siaran televisi. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 215/1963, dibentuk yayasan TVRI yang berlaku sejak tanggal 20 Oktober 1963. Dengan kondisi yang terbatas, lahirlah televisi siaran Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1962 dengan jangkauan siaran yang masih sangat terbatas.

Perkembangan pertelevisian di Indonesia sangat pesat pada era reformasi.

Dibukanya UU Penyiaran No.32 tahun 2002 memberi jaminan kepada pihak

swasta untuk memiliki perusahaan penyiaran. Jumlah stasiun meningkat pesat

pasca Undang-undang ini disahkan oleh DPR. Selain TVRI, ada sepuluh (10)

stasiun televisi swasta yang mengudara di Indonesia : RCTI, SCTV, Indosiar,

(18)

3

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MNC TV, Global TV, ANTV, Trans TV, Trans 7, Metro TV dan TV One. Untuk stasiun televisi lokal dari setiap daerah. Misalnya untuk daerah medan ada staiun televisi DELI TV. Semua media tersebut berfungsi memberikan berita ataupun informasi kepada masyarakat sebagai khalayak yang membutuhkan informasi.

RCTI merupakan televisi swasta pertama di Indonesia. Tujuan RCTI adalah sebagai alternatif atas tontonan menarik yang sebelumnya dikuasai oleh TVRI. Di awal siaran lewat izin saluran membasis di jakarta dan sekitarnya dengan dekoder, kemudian mengudara pada tanggal 1 Januari 1987 di jakarta, kemudian siaran percobaan mulai pada tanggal 1 Januari 1988 dan diresmikan pada tanggal 24 Agustus 1989 yang bertepatan dengan ulang tahun TVRI ke-27.

Pada awalnya siaran RCTI hanya menayangkan acara-acara luar negeri karena modalnya lebih murah dibandingkan memproduksi tayangan sendiri.

Namun karena pelanggan dekoder RCTI terus menerus bertambah khususnya wilayah Jabodetabek, maka pemerintah akhirnya mengizinkan RCTI untuk bersiaran secara bebas mulai 24 Agustus 1990. Saat itu pula di Surabaya persembahan PT. Bimantara Citra, Tbk. juga mendirikan televisi yang bertujuan menayangkan acara-acara RCTI di Surabaya.

Sejak saat itu RCTI mulai mengudara dan siaran yang diberikan kepada penonton cukup banyak mulai dari segi hiburan musik, komedi, maupun sinetron yang menarik bagi penotonnya. Dunia musik hiburan dan sinetron yang ditayangkan RCTI cukup menarik perhatian penontonnya khususnya dikalangan remaja dan khalayaknya.

Persaingan di dunia persiaran khususnya Televisi swasta sangatlah ketat, selain menyajikan acara hiburan yang mampu menarik minat menonton akan tetapi menyajikan informasi aktual dan sinetron yang menghibur sekaligus membuat penotonnya penasaran. Di antara sekian banyaknya acara-acara yang ditayangkan televisi swasta, salah satunya yang akhir-akhir ini merebut perhatian penonton adalan program acara Anak Jalanan yang menjadi salah satu tontonan paling menarik perhatian masyarakat khususnya kalangan remaja.

Program acara Anak Jalanan sinetron garapan sutradara Akbar Bhakti adalah sebuah sinetron yang ditayangkan di RCTI yang bertujuan untuk menemani waktu istirahat penontonnya, karna sinetron Anak Jalanan ditayangkan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(19)

mulai pukul 18.30 WIB sampai dengan jam 20.00 WIB dengan kisaran penayangan satu jam setengah untuk menemani penonton dan khalayak. Akhir - akhir ini program acara anak jalanan begitu menarik peminatnya, bukan hanya anak remaja akan tetapi orang tua khususnya ibu rumah tangga tertarik untuk menonton acara anak jalanan karna ketampanan seorang Boy yang diperankan oleh Stefan William.

Sinetron Anak Jalanan sendiri menceritakan tentang seorang anak muda bernama Boy (Stefan William) yang hobi mengendarai motor besar, hal itu dikarenakan pelampiasan atas sibuknya kedua orang tuanya dalam bekerja hingga kadang melupakan dirinya. Akan tetapi hobinya tersebut tidak membuatnya lupa akan kewajibannya sebagai muslim, sholat dan mengaji tidak pernah ia tinggalkan, hal itu pun dikarenakan selalu ada pak ustad yang selalu mengajarinya setiap hari di rumah. Ia pun memiliki pembantu yang bernama bik irah yang sudah mengasuhnya sejak kecil dan amat menyayangi dirinya. Bik irah sendiri sudah bekerja bersama orang tua Boy selama 18 tahun, ia amat menyayangi Boy karena melihat keadaan keluarga Boy yang sibuk mencari uang tetapi melupakan anak mereka satu satunya ini. Setiap hari bik irah selalu merawat dan memperlakukan Boy layaknya anaknya sendiri.

Ia bertemu sosok Reva (Natasha Wilona) gadis yang ditolongnya, karena sempat terlibat kejar-kejaran dengan geng motor lain. Awalnya Boy terkejut saat tahu pengendara motor yang ditolongnya adalah seorang gadis cantik. Boy pun kagum dengan kelihaian Reva mengendalikan motornya. Sayangnya Reva kesal sekali dengan Boy dan geng motornya, karena telah menyebabkannya terlibat perselisihan antar geng motor. Reva sendiri adalah anak pengusaha kaya, Bei (Adipura), yang memilih kebut-kebutan dengan motornya sebagai bentuk pemberontakan terhadap sikap ayahnya yang menikah lagi dengan gadis yang tidak beda jauh dari umurnya. Reva pun selalu merasa istri baru papanya adalah penyebab kematian ibunya.

Ibu Tiri Reva ini adalah Adriana (Cut Meriska) Adriana selalu berusaha

menjalankan berbagai macam cara untuk memenangkan hati Reva, sikap benci

Reva pada Adriana tidak tergoyahkan. Adriana sendiri juga mantan kekasih dari

Boy, dahulu Boy amat sangat mencintai Adriana akan tetapi Adriana lebih

(20)

5

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

memilih pengusaha kaya bernama Bei yang tak lain adalah ayah dari Reva.

Adriana tidak mencintai Bei sama sekali, ia hanya ingin mengeruk harta dari ayah Reva dan berencana kembali lagi kepada Boy.

Adriana mengetahui jika Boy dan Reva berada satu sekolah dan mereka berada dalam lingkup yang sama yaitu jalanan sebagai tempat pelampiasan mereka, Adriana tidak meyukai hal itu dan selalu menghalangi Reva dekat dengan Boy. Cara Adriana membuat mereka jauh adalah dengan menghasut ayah Reva agar tidak membiarkan Reva bergaul dengan Boy karna ia adalah anak berandalan yang hidup dijalanan dan akan merusak hidup Reva kedepannya.

Sama-sama menjadikan jalanan sebagai rumah kedua mereka, dengan menghabiskan waktu mengendarai motor motor, membuat Boy dan Reva dekat.

Motivasi mereka pun sama, sama-sama menjadikannya pelarian dari sikap frustasi mereka terhadap kondisi keluarga mereka masing-masing yang hanya sibuk akan urusannya

.

(http://www.terbaru8.com/2015/10/sinopsis-sinetron-anak-jalanan-rcti.html) Acara Anak Jalanan RCTI sampai saat ini masih merajai rating acara TV Indonesia. Pantauan dari tanggal 27 November 2015, Daily Rating ABC di 10 kota menyebutkan Anak Jalanan mendapatkan rating TVR 7,5 dengan Share 33%.

Pencapain yang luar biasa ini tentu tidak lepas dari para pemain Anak Jalanan terutama pemeran utama Steven William yang berakting sebagai Boy dan Natasha Wilona yang menjadi Reva. Sepasang kekasih yang pacaran di Anak Jalanan maupun didunia nyata seperti menjadi magnet bagi penonton. Bahkan disebut- sebut Stefan dan Natasha menjadi kunci utama rating sinetron Anak Jalanan tetap bertahan tinggi.

Masih ingat dulu ketika tahun 2014, ada pasangan Aliando Syarief dan Prilly Latuconsina yang bermain di sinetron Ganteng-Ganteng Serigala (GGS) dan membuat rating acara TV GGS menjadi nomor 1 dalam waktu yang sangat lama. Kala itu disebut-disebut juga bahwa Aliando dan Prilly adalah kunci utama rating GGS tetap tinggi. Terlepas dari benar atau tidaknya Stefan dan Natasha menjadi faktor kunci, namun jelas bahwa sejak mulai tayang pada 12 Oktober 2015 lalu, rating Acara Anak Jalanan RCTI tetap berada di puncak.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(21)

Sementara sekedar informasi, setelah Anak Jalanan RCTI, diurutan kedua rating acara TV ada sinetron Tukang Bubur Naik Haji RCTI dengan TVR 4,1 dan Share 18,1%. Konser dangdut D‟Academy Asia Indosiar diposisi ketiga dengan TVR 3,6 dan Share 19,5%, diikuti sinetron Perempuan di Pinggir Jalan RCTI dengan TVR 3,1 dan Share 16,1%.

Sinetron Anak Jalanan sendiri tak lepas dari kontroversi dalam penayangannya, ada beberapa hal dalam tayangan anak jalanan yang menurut KPI ( Komisi Penyiaran Indonesia ) memberikan teguran seperti KPI memberi teguran tertulis terhadap tayangan Anak Jalanan pada tanggal 11 Januari 2016, karena pada tayangan pada tanggal 31 Desember 2015 menayangkan adegan seorang laki-laki berkelahi melawan sekelompok geng motor, pengeroyokan sampai pingsan. Selain itu, pada tanggal yang sama terdapat adegan seorang pria mengucapkan kata “tolol” dan “bego”. KPI Pusat menilai adegan tersebut berpotensi ditiru oleh remaja yang menonton dan berdampak negatif di kalangan remaja. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas perlindungan remaja dan penggolongan program siaran. KPI Pusat memutuskan bahwa program tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 14 dan Pasal 21 Ayat (1) serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 Ayat (1) dan Pasal 37 Ayat (4) huruf a. RCTI diminta segera mengubah tema cerita dalam program tersebut, karena muatan perkelahian antar geng dan percintaan remaja dapat membawa pengaruh buruk bagi remaja yang menonton acara tersebut. Jika tidak dapat mengubah tema cerita tersebut, maka program siaran tersebut hanya dapat ditayangkan pada jam tayang dewasa, yakni pukul 22.00-03.00 waktu setempat.

Setelah pada 11 Januari 2016 KPI memberi teguran tertulis, pada tanggal

12 Februari 2016 KPI kembali memberikan teguran tertulis terhadap tayangan

Anak Jalanan. Tayangan pada tanggal 22 Januari 2016 menayangkan adegan 2

orang pria yang melakukan freestyle menggunakan motor. Selain itu, terdapat

adegan kejar-kejaran antara 3 orang pria yang menggunakan motor dengan

kecepatan tinggi di jalan raya. KPI Pusat menilai muatan demikian dapat

memberikan dampak negatif dan berpotensi ditiru oleh khalayak yang menonton

(22)

7

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

khususnya remaja. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas perlindlungan remaja dan penggolongan program siaran.

(https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Anak_Jalanan_%28sinetron%29&vea ction=edit&vesection=5)

Acara maupun sinetron Anak Jalanan tidak saja hanya sebagai tontonan, namun dapat juga sebagai suatu pelajaran dan informasi bagi khalayak yang menontonnya, karna banyak sikap dan sifat positif yang dapat kita ambil dari para pemeran yang ada di acara ini, sehingga dari hal tersebut penonton maupun khalayak memperoleh kepuasan di dalam menonton acara tersebut. Kepuasan yang diperoleh oleh penonton biasanya dari kisah yang terjadi, bagaimana mimic di dalam memerankan ceritanya serta pesan-pesan yang dapat diambil dari acara tersebut.

Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.

(http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/)

Remaja adalah masa yang ditandai dengan perubahan-perubahan cepat pada jasmani yang berbarengan dengan matangnya organ seks, yang selanjutnya diikuti oleh perkembangan psikis yang meliputi perubahan emosi dengan melepaskan diri dari ikatan orangtua ketika anak harus dapat berdiri sendiri.

Perkembangan kecerdasan dan kepribadian terwujud dalam cara hidup untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat. Usia mereka berkisar antara 13 sampai 21 tahun, dengan pembagian masa remaja tingkat awal yaitu antara 13 sampai 15 tahun, sedangkan usia remaja sebenarnya adalah antara 16 sampai 19 tahun dan remaja akhir 20 sampai 21 tahun. Sehingga usia remaja laki-laki berbeda dengan usia remaja perempuan.

Seseorang bisa dikatakan remaja jika ia sudah mengalami beberapa perubahan biologis pubertas. Yang mana perubahan ini merupakan tanda akhir masa anak-anak, yang berkibat pada peningkatan pertumbuhan terhadap berat dan tinggi badan, perubahan dalam proporsi dan bentuk tubuh, dan pencapaian kematangan seksual. Pubertas dimulai dengan peningkatan tajam pada hormon

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(23)

seks. kemudian perubahan fisik ini memberikan pengaruh terhadap emosi remaja tersebut hinga semakin sensitif daan suaasana hati yang cepat berubah.

Definisi remaja berdasarkan sosio psikologis. Entropy adalah keadaan di mana kesadaran manusia belum tersusun rapi. Meskipun seseorang telah memiliki banyak pengetahuan, perasaan dan lain-lain, namun hal tersebut belum saling terkait dengan baik. Negentropy adalah keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, sehingga pengethauan yang dimiliki seseorang saling terkait, yang akhirnya mengakibatkan orang yang bersangkutan merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan tujun yang jelas, sehingga bisa mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja yang tinggi. Konflik dalam diri remaja yang seringkali menimbulkan masalah pada remaja tergantung pada lingkungan masyarakatnya.

Definisi remaja menurut WHO tahun 1974, WHO memberikan definisi yang lebih konseptual mengenai remaja. Dalam definisi ini mencakup tiga kriteria yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi. Menurut WHO, remaja merupakan suatu masa di mana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda seksual sekundernya sampai ia mencapaii kematangan seksual, individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak-nak menjadi dewasa.WHO menetapkan batasan usia konkritnya adalah berkisar antara 10-20 tahun. Kemudian WHO membagi kurun usia tersebut dalam dua bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun, dan remaja akhir 15-20 tahun.(http://www.definisi- pengertian.com/2015/05/definisi-dan-pengertian-remaja.html)

Remaja sendiri adalah salah satu pengguna televisi yang cukup aktif dan

belum terlalu pandai dalam menyaring tontonan yang mereka dapat dari televisi,

itu dikarenakan usia yang masih labil. Dalam tayangan yang ada di televisi sendiri

ada beberapa informasi yang diberikan bahwa halnya tontonan ini baik disaksikan

oleh siapa saja. Sebagai contoh ada beberapa singkatan yang mereka gunakan

seperti D (dewasa), R (remaja), A (anak), BO (bimbingan orang tua). Akan tetapi

peringatan yang televisi berikan tersebut belum digunakan secara baik oleh

penggunanya, sebagai contoh banyak remaja di usia 18 tahun kebawah sudah

menonton film berlabel dewasa, hal itu dikarenakan minimnya pengawasan

(24)

9

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dariorang tua itu sendiri. Masyarakat indonesia harusnya lebih peka dan membimbing tontonan yang ada di masyarakat ini agar adanya perbaikan moral.

Siswa SMA sendiri adalah para pengguna televisi yang masih labil. Bisa saja dari tayangan yang sudah mereka saksikan mereka terapkan di kehidupan nyata. Sebagai contoh dalam sinetron Anak Jalanan terdapat adegan kebut- kebutan di jalanan raya dengan motor besar, padahal sebagaimana kita tahu jika anak sekolah belum dapat menggunakan kendaraan bermotor sebelum memiliki surat izin mengemudi. Dalam adegan selanjutnya siswa-siswi di sinetron Anak Jalanan hanya menunjukan adegan mereka pacaran dan hanya sedikit dalam adegannya mereka sedang belajar, sebagaimana kita tahu adalah belum waktunya bagi mereka untuk mengetahui soal cinta di usia mereka yang masih sangat labil.

Dalam hal ini penulis mulai mengambil sample para remaja, dan mereka diwakili oleh siswa SMAN 1 MEDAN.

Penulis memilih SMAN 1 MEDAN sebagai sample karena seperti diketahui SMAN 1 MEDAN sendiri adalah salah satu sekolah favorit yang ada di kota Medan, tak hanya itu saja penulis melihat sudah terjadi perilaku yang sangat mirip dalam kehidupan di sinetron yang penulis teliti. Siswa SMAN 1 MEDAN sendiri memang banyak menggunakan kendaraan bermotor dan itu membuat penulis tertarik apakah mereka sendiri terikut zaman akan sinetron yang sedang penulis teliti sendiri.

Pendirian SMA Negeri 1 Medan dirintis pada tanggal 18 Agustus - 1 September tahun 1950, pada mulanya berlokasi di Jalan Teuku Umar No. 1, Medan. Sebelum menempati lokasi Jalan Teuku Cik Dik Tiro No. 1 Medan, Smansa pernah berubah menjadi SMA darurat yang berlokasi di Jalan Seram Biru pada masa agresi Belanda yang kerap melakukan aksi polisionil.

Dahulu, SMA Negeri 1 Medan sempat disebut sebagai SMA Teladan Medan. Pada tahun 1954, Kepala Urusan Pendidikan SMA Depdikbud menugaskan beberapa SMA negeri terpilih untuk mengadakan kurikulum baru.

Sekolah-sekolah ini kemudian disebut sebagai SMA Teladan di masing-masing kota tersebut. Didasari oleh SK Mendikbud nomor 12807/a/c pada tanggal 16 Desember 1957, beberapa SMA Teladan berdiri di Jakarta, Medan, Surabaya, Bukit Tinggi, dan Yogyakarta

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(25)

SMA Teladan sendiri terdiri menjadi tiga bagian. Tak lama kemudian, proyek SMA Teladan diterapkan di seluruh Indonesia. Sejak saat itu, nama SMA Teladan Medan berubah menjadi SMA Negeri 1 Medan. Di era reformasi, sekolah ini sempat berubah menjadi SMU Negeri 1 Medan seiring perubahan nama Sekolah Menengah Atas menjadi Sekolah Menengah Umum di seluruh Indonesia.

Hingga kini, sekolah ini kembali disebut sebagai SMA Negeri 1 Medan.

Sejak berdiri, SMA Negeri 1 Medan menerapkan pembauran inklusif.

Murid dan guru, serta kepala sekolah, berasal dari berbagai etnis: Aceh, Batak, Bugis, Jawa, India, Melayu, Nias, Sunda, Tionghoa, dan lain-lain. Dalam pergaulan sehari-hari di sekolah, Bahasa Indonesia merupakan bahasa utama.

Siswa atau guru dari etnis yang sama tetap menggunakan Bahasa Indonesia dalam pergaulan. Selain keberagaman etnis, sekolah ini juga terkenal dengan keberagaman agama: mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu. SMA Negeri 1 Medan dikenal karena memberikan kebebasan menghidupkan toleransi kegiatan siswa dengan agama berbeda: mulai dari aktivitas perkumpulan siswa bernuansa islami hingga paduan suara siswa nasrani, masing-masing memiliki prestasi. (http://www.smansamedan.sch.id/)

Seleksi penerimaan siswa SMA Negeri 1 Medan bersifat eksklusif berdasarkan tolak ukur nilai akademik. Didorong animo para pendaftar yang pada umumnya memiliki nilai akademik tinggi, Smansa Medan dituntut untuk menyeleksi hanya yang terbaik dari yang terbaik. Dengan komposisi siswa pilihan terbaik, Smansa Medan dikenal dengan tradisi menghasilkan lulusan yang diterima di berbagai kampus terbaik di Indonesia (UI, ITB, ITS, UGM, IPB, UNPAD, USU, UNDIP, dll) dan berbagai perguruan tinggi terbaik luar negeri (Jepang, Singapura, Australia, Malaysia, dan lain-lain).

Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia, masa pendidikan sekolah di SMAN 1 Medan ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII. Sejak tahun 2013, sekolah ini memakai Kurikulum 2013 untuk kelas X dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk kelas XI dan XII.

Sejak tahun 2000-an, Smansa Medan dikenal keberhasilannya dalam penyelarasan

disiplin pendidikan yang ketat serta kelonggaran memacu kreativitas di bidang

kesenian.(https://id.wikipedia.org/wiki/SMA_Negeri_1_Medan)

(26)

11

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Sebagai pelengkap pembelajaran di dalam kelas, Smansa Medan juga dikenal memiliki sejarah panjang dalam memelihara iklim positif untuk membebaskan siswa-siswinya terlibat penuh dalam kegiatan Ekskul (Ekstra Kulikuler). Sangat banyak Ekskul yang dapat di ikuti di SMAN 1 Medan dan salah satunya adalah Olahraga Prestasi (OP).

Ekskul OP dikenal sering mengikuti kompetisi dan mempersembahkan gelar juara untuk SMAN 1 Medan khususnya di bidang olahraga seperti futsal, sepak bola, dan basket. Tak hanya dalam tingkat Kota maupun Provinsi gelar pun sering dihasilkan dalam kompetisi tingkat Nasional, sebagai contoh perwakilan SMAN 1 Medan pernah menjuarai turnamen KIT FUTSALISMO tahun 2011 sebagai juara 1 di Kota Medan dan juara 3 di tingkat Nasional yang diadakan di jakarta.

Para siswa yang mengikuti kegiatan Ekskul OP menggunakan kendaraan bermotor untuk pulang dan pergi ke sekolah. Hal ini membuat penulis tertarik untuk menjadikan mereka sample dalam penelitian ini dan rata-rata dari mereka mengetahui tentang sinetron Anak Jalanan yang ditayangkan di RCTI.

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti tentang acara Anak Jalanan dengan kepuasan menonoton di kalangan remaja khususnya siswa SMAN 1 MEDAN yang mewakili remaja di Kota Medan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(27)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut : “ Bagaimana tingkat kepuasan remaja dalam menonton sinetron Anak Jalanan di RCTI. ”

1.3 Pembatasan Masalah

Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas, maka diperlukan adanya pembatasan masalah, yakni sebagai berikut :

1. Acara yang di teliti adalah sinetron Anak Jalanan yang ditayangkan di RCTI.

2. Objek penelitian di khususkan remaja yang diwakili siswa SMAN 1 MEDAN sebagai sample.

1.4 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui tingkat kepuasan remaja dalam menonton acara Anak Jalanan di RCTI, remaja kota medan yang diwakili oleh siswa SMAN 1 MEDAN sebagai perwakilan dari remaja yang ada di Kota Medan.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian dan sumber bacaan mengenai pengaruh media terhadap sikap remaja di Kota Medan.

2. Secara praktis dapat menjadi wawasan bagi peneliti untuk mengetahui sikap menonton khalayak terhadap acara televisi yang sifatnya memberikan informasi dan menambah pengetahuan khalayak.

3. Secara teoritis, penelitin ini merupakan penerapan ilmu yang diterima

penulis selama menjadi mahasiswa departemen ilmu komunikasi FISIP

USU.

(28)

13 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB II

URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan bagian dari penelitian yang memuat konsep- konsep teoritis yang menjadi landasan untuk memperoleh perspektif ilmiah dalam perumusan hipotesis atau jawaban atas pertanyaan penelitian yang sedang dilaksanakan. Uraian di dalam kerangka teori merupakan hasil berfikir rasional yang dituangkan secara tertulis meliputi aspek-aspek yang terdapat di dalam masalah atau sub masalah. (Nawawi, 2001:39-40)

Pada penelitian ini teori-teori yang dianggap relevan diantaranya adalah tentang komunikasi, komunikasi Massa, Televisi, Uses & Gratification, dan Teori Kepuasan.

2.1.1 Komunikasi

Komunikasi merupakan dasar interaksi antar manusia. Kesepakatan atau kesepemahaman dibangun melalui sesuatu yang berusaha bisa dipahami bersama hingga interaksi bisa berjalan dengan baik. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide dan gagasan. Secara sederhana kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan menyampaikan dan penerimaan pesan dari pihak satu ke pihak lain dengan tujuan mencapai kesamaan pandangan atas ide yang ditukarkan (Fajar, 2009: 30).

Menurut Harold D. Lasswell, cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan berikut; Who Says what In which Channel To Whom With What Effect? (Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan efek bagaimana?). (Wiryanto, 2004:6)

Lasswell menghendaki agar komunikasi dijadikan objek studi ilmiah, bahkan setiap unsure diteliti secara khusus. Studi mengenai komunikator dinamakan control analysis; penelitian mengenai pers, radio, televisi, film, dan media lainnya disebut media analysis; penyelidikan mengenai pesan dinamai content analysis;

audience analysis adalah studi khusus tentang komunikan; sedangkan effect

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(29)

analysis merupakan penelitian mengenai efek atau dampak yang ditimbulkan oleh komunikasi.

Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya.

Model Komunikasi Lasswell

Model komunikasi Lasswell merupakan ungkapan verbal berikut ini:

1. Who 2. Says What

3. In Which Channel 4. To Whom

5. With What Effect

Unsur sumber (who) mengundang pertanyaan mengenai pengendalian pesan.

Unsur pesan (says what) merupakan bahan untuk analisis isi. Saluran komunikasi (in which channel) menarik untuk mengkaji mengenai analisis media. Unsur penerima (to whom) banyak digunakan untuk studi analis khalayak. Unsur pengaruh (with what effect) berhubungan erat dengan kajian mengenai efek pesanpada khalayak. Oleh karena itu, model Lasswell ini banyak diterapkan dalam komunikasi massa.

Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder:

Proses komunikasi secara primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau

perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol)

sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikas iadalah

bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung

mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaaan komunikator kepada

komunikan.

(30)

15

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak.

Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film yang merupakan media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.

2.1.1.2 Unsur Komunikasi

Proses komunikasi terdiri dari berbagai macam unsur, cara pandang atau elemen yang mendukung proses tersebut dapat terjadi. Ada yang menilai bahwa terciptanya proses komunikasi cukup didukung oleh tiga unsur, sementara ada juga yang menambahkan umpan balik dan lingkungan selain kelima unsur yang telah disebutkan. Perkembanga terakhir adalah munculnya pandangan dari Joseph De Vito, K Sereno dan Erika Vora yang menilai faktor lingkungan merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung terjadinya proses komunikasi. Adapun unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut (Cangara, 2006:

22-26).

1) Sumber

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antar manusia sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga.

2) Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi yang isinya berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(31)

3) Media

Media adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang menghubungkan antara sumber dan penerima yang sifatnya terbuka, dimana setiap orang dapat melihat, membaca atau mendengarnya. Media dalam komunikasi masa dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni media cetak dan elektronik.

Media cetak seperti halnya surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, hand out dan sebagainya. Sedangkan media elektronik antara lain : radio, televisi dan sebagainya.

4) Penerima

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber.

Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai atau negara. Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi karena dialah yang menjadi sasaran dari komunikasi. Jika suatu pesan tidak diterima oleh penerima akan menimbulkan berbagai macam masalah yang seringkali menuntut perubahan, apakah pada sumber, pesan atau saluran.

5) Pengaruh

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang.

6) Tanggapan balik

Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu

bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya

umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meski

pesan belum sampai pada penerima.

(32)

17

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2.1.1.3 Fungsi dan Tujuan Komunikasi

Fungsi komunikasi menurut Harold D. Laswell (Effendy, 2005: 27) yaitu :

1) Manusia mengamati lingkungannya, baik lingkungan internal maupun eksternal untuk terhindar dari ancaman dan nilai masyarakat yang berpengaruh

2) Terdapat korelasi unsur – unsur masyarakat dalam menanggapi lingkungannya.

3) Penyebaran warisan sosial, dalam hal ini berperan sebagai pendidik dalam kehidupan rumah tangga maupun sekolah untuk meneruskan warisan sosial pada keturunan selanjutnya.

Lebih singkatnya, fungsi komunikasi itu (Effendy, 2005: 8) ialah : 1) Menginformasikan (to inform)

2) Mendidik (to educate) 3) Menghibur (to entertein) 4) Mempengaruhi (to influence)

Pentingnya komunikasi dalam kehidupan memiliki tujuan, sehingga dapat diketahui untuk apa komunikasi dilakukan. Secara umum, tujuan komunikasi (Effendy, 2005: 8).

1) Mengubah sikap (to change the atitude)

2) Mengubah opini/ pendapat/ pandangan (to change opinion) 3) Mengubah prilaku (to change the behaviuor)

4) Mengubah masyarakat (to change the society)

Komunikasi dapat membentuk sikap seseorang serta bagaimana sikap itu dapat berubah, sebab melalui proses komunikasi dapat mempengaruhi tindakan seseorang, misalnya seorang anak memiliki sikap tidak patuh dan suka melawan kepada orang tuannya, namun bisa saja anak tersebut menjadi patuh dan taat terhadap orang tuanya, karena hasil belajar dari pengalaman dalam faktor lingkungan yang menyebabkan si anak memiliki perubahan dalam sikapnya (Effendy, 2005: 25).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(33)

2.1.2 Komunikasi Massa

Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Antara lain media elektronik (televisi, radio), media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), buku dan film. Dengan demikian, media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan pada waktu yang serempak.

Pool mendefinisikan komunikasi massa sebagai komunikasi yang berlangsung dalam situasi yang interposed ketika antar sumber dan penerima tidak terjadi kontak secara langsung, pesan pesan komunikasi menagalir kepada penerima melalui saluran media massa seperti surat kabar, majalah, radio, film, atau televisi (Wiryanto, 2000:3).

Dari pengertian di atas, jelaslah bahwa komunikasi massa merupakan suatu proses komunikasi yang menggunakan media dimana dalam penelitian ini yang digunakan adalah televisi.

Komunikasi massa juga dapat di definisikan sebagai proses penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim pesan kepada audiens yang luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur, atau membujuk (Vivian, 2008:450).

Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (Ardianto, 2004:3), yakni : komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa.

Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. (Rakhmat, 1995:189)

Komunikasi massa dapat diartikan sebagai proses komunikasi yang

berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada

khalayak yang sifatnya misal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio,

televisi, dan film (Cangara, 2002:36).

(34)

19

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Berdasarkan pengertian tentang komunikasi massa yang sudah dikemukakan oleh para ahli komunikasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa modern (media cetak dan elektronik) dalam penyampaian informasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak (komunikan) heterogen dan anonim sehingga pesan yang sama dapat diterima serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan pada waktu yang serempak.

Komunikasi massa memiliki ciri-ciri tertentu dari beberapa pendapat, seperti:

1) Komunikator bersifat melembaga. Artinya, gabungan antar berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud di sini menyerupai sebuah sistem. Dengan demikian, komunikator dalam komunikasi massa setidak-tidaknya mempunyai ciri-ciri berupa kumpulan individu, dalam berkomunikasi individu-individu itu terbatasi perannya dengan sistem dalam media massa, pesan yang disebarkan atas nama media yang bersangkutan dan bukan atas nama pribadi unsur-unsur yang terlibat, apa yang dikemukakan oleh komunikator biasanya untuk mencapai keuntungan atau mendapatkan laba secara ekonomis.

2) Komunikan bersifat heterogen. Artinya, mempunyai heterogenitas komposisi atau susunan, berasal dari berbagai kelompok dalam masyarakat, tidak saling mengenal, tidak saling berinteraksi secara langsung, tidak mempunyai kepemimpinan atau organisasi formal.

3) Pesannya bersifat umum. Artinya, dapat ditujukan kepada semua kalangan, pesan-pesan tidak boleh bersifat khusus, tidak disengaja untuk golongan tertentu.

4) Komunikasinya berlangsung satu arah. Artinya, komunikasi yang hanya berjalan satu arah akan memberi konsekuensi umpan balik (feedback) yang sifatnya tertunda atau tidak langsung (delayed feedback).

5) Menimbulkan keserempakan. Artinya, ada keserempakan dalam proses penyebaran pesan-pesannya. Serempak berarti khalayak bisa menikmati media massa hampir bersamaan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(35)

6) Mengandalkan peralatan teknis. Artinya, media massa sebagai alat utama dalam penyampaian pesan kepada khalayaknya sangat memerlukan bantuan peralatan teknis. Agar proses pemancaran atau penyebaran pesan lebih cepat dan serentak kepada khalayak yang tersebar.

7) Dikontrol oleh gatekeeper. Gatekeeper berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami (Nurudin, 2003:63).

Ada juga pandangan dari (Sastropoetro, 1990:12) yaitu :

1) Komunikasi ditujukan kepada massa atau orang banyak sebagai komunikasi.

2) Komunikasi dilakukan secara serentak.

3) Komunikasi merupakan suatu original lembaga atau orang yang dilembagakan.

4) Pesannya bersifat umum.

5) Media yang digunakan dalah media massa artinya bisa menjangkau sekaligus orang banyak.

6) Umpan balik atau feed back tidak langsung.

2.1.2.1 Sifat-Sifat Komunikasi Massa

Ada beberapa sifat yang melekat dalam komunikasi massa dan sekaligus membedakannya dengan bentuk komunikasi yang lainnya. Sifat-Sifat yang dimaksud adalah (Fajar, 2009: 222-225).

1) Sifat Komunikator

Sesuai dengan hakikatnya, didalam sifat pengunaan media atau saluran secara professional dengan teknologi tinggi melalui usaha-usaha industri maka kepemilikan media massa bersifat lembaga, yayasan, organisasi usaha yang mempunyai struktur dan penjelmaan tugas, fungsi-fungsi serta misi tertentu.

Pesan-pesan yang terbit dari suatu media massa sesungguhnya bukan berasal dari

perorangan, tetapi dari rembukan bersama, olahan redaksi atau keputusan

kebijaksanaan organisasi yang menerbitkannya.

(36)

21

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2) Sifat Pesan

Pesan dalam komunikasi massa bersifat umum, universal tentang berbagai hal dari berbagai tempat di muka bumi. Sementara itu, isi media massa adalah tentang sebagai peristiwa apa saja patut diketahui oleh masyarakat umum.

3) Sifat Media Massa

Salah satu ciri yang paling khas dalam komunikasi massa adalah sifat media massa. Komunikasi massa dampaknya lebih bertumbu pada andalan teknologi, hal ini berfungsi mengatur hubungan antara komunikator dengan komunikan yang dilakukan secara serempak dan menjangkau berbagai titik-titik pemukiman manusia di muka bumi pada waktu yang sama.

4) Sifat Komunikan

Komunikan dalam suatu komunikasi massa adalah masyarakat umum yang sangat beragam, heterogen dalam segi demografis, geografis maupun psikologis.

5) Sifat Efek

Secara umum komunikasi massa mempunyai tiga efek. Berdasarkan teori hierarki efek yaitu:

a) Efek kognitif, pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam pengetahuan, pandangan dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya.

b) Efek afektif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu pada khalayak.

c) Efek konatif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

2.1.2.2 Fungsi Komunikasi Massa

Fungsi Komunikasi massa menurut Jay Black dan federick C.whitney (Nurudin, 2004: 62) antara lain :

1) To Inform (Menginformasikan)

Fungsi informasi merupakan fungsi paling penting yang terdapat dalam komunikasi massa. Komponen paling penting untuk mengetahui fungsi informasi ini adalah berita – berita yang disajikan. Fakta – fakta yang dicari wartawan di lapangan kemudian dalam tulisan juga tidak terkecuali sebagai informasi. Fakta yang dimaksud adalah kejadian yang benar benar terjadi di masyarakat.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(37)

2) To Entertain (Memberi Hiburan)

Fungsi hiburan bagi sebuah media elektronik menduduki fungsi paling tinggi dibandingkan dengan fungsi lainnya. Misalnya, media radio menjadi sebagai media hiburan masyarakat.

3) To persuade (Membujuk)

Banyak bentuk tulisan dalam media massa yang jika diperhatikan sekilas hanya berupa informasi, tetapi jika diperhatikan secara jeli ternyata terdapat fungsi persuasi seperti iklan pada radio, televisi dan surat kabar.

4) Transmission of culture (transmisi budaya)

Transmisi budaya adalah salah satu fungsi komunikasi massa yang paling luas, meskipun paling sedikit diperbincangkan.

2.1.2.3 Komponen komunikasi Massa 1) Komunikator Massa

Jantung komunikasi massa adalah orang-orang yang memproduksi pesan yang disampaikan lewat media massa. Orang-orang ini mencakup jurnalis, penulis naskah film, penulis lagu, penyiar televisi, discjockey radio, praktisi public relations, dan orang-orang periklanan seperti copywriter. Komunikator massa (mass communications) berbeda dengan komunikator lain karena mereka tidak dapat melihat audiennya. Komunikasi dengan audien yang tak dilihat langsung inilah yang membedakan komunikasi massa dari bentuk komunikasi lain.

2) Pesan Massa

Item berita adalah pesan massa (mass message), seperti film, novel , lagu, rekaman, dan iklan billboard. “Pesan” (message) adalah bentuk paling nyata dari hubungan kita dengan media massa. Kita memperhatikan media massa karena ingin mendapatkan pesannya. Kita tidak mendengarkan radio, misalnya, untuk memahami teknologi radio. Kita mendengarkan radio untuk mendengarkan musik.

3) Media Massa

Media massa (mass media) adalah sarana yang membawa pesan. Media massa utama adalah buku, majalah, koran, televisi, radio, rekaman, film, dan web.

Kebanyakan ahli teori menganggap media sebagai wahana yang netral dalam

memuat pesan.

(38)

23

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4) Audien Massa

Jumlah dan diversitas audien massa (mass audience) menambah kompleksitas komunikasi massa. Komunikator massa tahu bahwa pesannya telah diterima melalui cara-cara tidak langsung. Komunikator massa tak pernah tau pasti berapa besarnya audien, apalagi efek dari pesannya.

2.1.2.4 Efek Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan sejeniskekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Akan tetapi untuk mengetahui secara tepat dan rinci mengenai kekuatan sosial yang dimiliki oleh komunikasi massa dan hasil yang dapat dicapainya dalam menggerakkan proses sosial tidakla mudah.

Oleh karena itu, efek atau hasil yang dapat dicapai oleh komunikasi yang mc dilaksanakan melalui berbagai media (lisan, tulisan, visual/ audio visual) perlu dikaji melalui metode tertentu yang bersifat analisis psikologi dan analisis sosial.

Yang di maksud dengan analisis psikologi adalah kekuatan sosial yang merupakan hasil kerja dan berkaitan dengan watak serta kodrat manusia. Sedangkan analisis sosial adalah peristiwa sosial yang terjadi akibat komunikasi massa dengan penggunaan media massa yang sangat unik seta kompleks.

Menurut Steven M. Chaffee (Betty-Soemirat, dalam Karlinah, dkk. 1999) efek media massa dapat dilihat dari tiga pendekatan. Pendekatan pertama adalah efek dari media massa yang berkaitan dengan pesan ataupun media itu sendiri.

Pendekatan kedua adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa yang berupa perubahan sikap, perasaan dan perilaku atau dengan istilah lain dikenal sebagai perubahan kognitif,afektif dan behavioral.

Pendekatan ketiga yaitu observasi terhadap khalayak (individu, kelompok, organisasi, masyarakat atau bangsa) yang dikenai efek komunikasi massa.

a. Efek Kehadiran Media Massa

Mc Luhan mengemukakan the medium is the message, media adalah pesan itu sendiri. Oleh karena itu, bentuk media saja sudah memengaruhi khalayak.

Menurut Steven M. Chaffe, ada lima jenis efek kehadiran media massa sebagai benda fisik, yaitu : efek ekonomis, efek sosial, efek pada penjadwalan kegiatan,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(39)

efek penyaluran/ penghilang perasaan tertentu, dan efek pada perasaan orang terhadap media. ( Ardianto dkk, 2004: 49-57).

1) Efek Ekonomi

Keberadaan televisi baik televisi pemerintah maupun televisi swasta dapat memberi lapangan pekerjaankepada sarjana ilmu komunikasi, para juru kamera, pengarah acara, juru rias,dan profesi lainnya.

2) Efek Sosial

Efek sosial berkaitan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial sebagai akibat dari kehadiran media massa. Sebagai contoh, misalnya kehadiran televisi dapat meningkatkan status sosial dari pemiliknya.

3) Penjadwalan Kegiatan sehari-hari

Sebagai contoh ialah sebelum pergi ke kantor, masyarakat kota pada umumnya membaca koran dahulu. Atau anak-anak Sekolah Dasar yang biasanya selalu mandi pagi pada hari minggu, mengubah jadwal mandi paginya menjadi menonto tayangan kartun di televisi.

4) Efek Hilangnya Perasaan Tidak Nyaman

Orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan psikologisnya dengan tujuan untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman, misalnya untuk menghilangkan perasaan kesepian, marah, kesal, kecewa dan sebagainya.

5) Efek Menumbuhkan Perasaan Tertentu

Terkadang, seseorang akan mempunyai perasaan positif atau negatif terhadap

media tertentu. Misalnya, seseorang akan mempunyai perasaan positif terhadap

harian Kompasdari pada Media Indonesia.Atau para ibu rumah tangga ada yang

senangmembaca majalah Kartini, tetapi ada juga yang lebih senang membaca

majalah Femina. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perasaan

senang atau percaya pada suatu media tertentu erat kaitannya dengan pengalaman

individu bersama media massa tersebut.

(40)

25

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

b. Efek Pesan

Penelitian tentang efek ini telah menjadi pusat perhatian berbagai pihak, baik para praktisi maupun para teoretisi. Mereka berusaha untuk mencari dan menemukan media (saluran) yang paling efektif untuk memengaruhi khalayak.

Dalam bagian ini akan dibahas mengenai efek pesan media massa yang meliputi efek kognitif, efek afektif, dan efek behavioral.

1. Efek Kognitif

Efek Kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya. Melalui media massa, kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita kunjungi secara langsung.

Menurut Mc Luhan, media massa adalah perpanjangan alat indra kita. Realitas yang ditampilkan oleh media adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Pengaruh media massa terasa lebih kuat lagi pada masyarakat modern karena mereka memperoleh banyak informasi tentang dunia dari media massa. Dalam efek kognitif terdapat didalamnya pula efek prososial kognitif.

Efek prososial kognitif adalah bagaimana media massa memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Bila televisi menyebabkan kita lebih mengerti tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif. Siaran pendidikan televisi merupakan gabungan antara unsur hiburan dan informasi. Bukan hanya ceramah yang membosankan, akan tetapi juga hiburan yang menyenangkan, sehingga dapat menanamkan pengetahuan, pengertian dan keterampilan.

2. Efek Afektif

Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Gambar

Gambar 2.2  Uses and Gratification
Tabel 2.3  Variabel Penelitian
Tabel  4.1  menunjukan  bahwa  dari  50  responden  diketahui,  yang  mendomisani  adalah  responden  usia  15  tahun  –  16  tahun  dengan  total  28  responden (56%) dan menyusul responden usia 17 tahun – 18 tahun dengan total  22 responden (44%)
Tabel 4.2  Pendidikan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris perubahan rasio keuangan dapat digunakan untuk memprediksi return saham pada perusahaan manufaktur

 Perhatian utamanya adalah hubungan antar berbagai agama dunia dengan perkembangan sistem ekonomi kapitalis yang hanya terjadi di Barat..  Weber tertarik pada sistem gagasan

Pembentukan sesar naik selalu berasosiasi dengan pembentukan lipatan, oleh karenanya pola lipatan dan sesar naik yang terbentuk relatif bersamaan dinamakan sebagai lipatan anjakan

Came-mall adalah salah satu aplikasi e-commerce template yang menggunakan bahasa Indonesia dan mengadopsi pembayaran transaksi berupa transfer antar bank.. Came-mall dibangun

Dalam satu tahun terakhir apakah saudara pernah mengetahui ada orang dari luar yang menggunakan sianida (potas/racun) untuk menangkap ikana.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik dengan menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 17

Dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat dan menarik bagi anak autis yaitu menerapkan media digital sebagai sarana atau media belajar anak akan meningkatkan

Untuk menentukan kandungan unsur secara spektrofotometri serapan atom, perlu dilakukan preparasi cuplikan sesuai dengan jenis sampel yang akan dianalisis. Metode ,n, dilakukan