DAFTAR LAMPIRAN
Kekuatan 1. Anggaran belanja mencukupi ; Rp
8.500/orang/hari untuk lauk, sayur dan buah, sehingga menu seimbang terpenuhi 2. Menu bervariasi 3. Ruangan dapur sesuai :
6 x 6,5 m ( untuk 1 orang + 2x2m) 4. Jumlah pengelola
makanan sesuai : 3 orang ( untuk 30 orang konsumen + 1-2 orang) 5. Jenis pangan sesuai
dengan menu seimbang
6. Penyimpanan bahan makanan sudah sesuai ( bahan kering & basah dipisah)
1. ---
2. Menu cukup bervariasi 3. Ruangan dapur sesuai : 5
x 5,5 m ( untuk 1 orang + 2x2m)
4. Jumlah pengelola makanan sesuai : 3 orang ( untuk 30 orang konsumen + 1-2 orang) 5. ---
6. Penyimpanan bahan, hanya bahan kering saja, karena pembelian bahan basah dilakukan tiap hari sehingga tidak sempat disimpan) 1. --- 2. --- 3. --- 4. Jumlah pengelola makanan sesuai : 3 orang ( untuk 30 orang konsumen + 1-2 orang) 5. ---
6. Penyimpanan bahan makanan sudah sesuai (bahan kering dan bahan basah dipisah)
Tabel 10 Lanjutan
Nama Panti
Aspek SWOT P.W. Salam Sejahtera P.W. Sukma Raharja P.W. Hanna Kekuatan
(S)
7. Persiapan pengolahan bahan makanan sudah sesuai (bahan
makanan dicuci dulu, baru dipotong-potong) 8. Pengolahan makanan sudah sesuai dengan keadaan lansia, yaitu lebih lunak
9. Penyajian makanan dilakukan oleh petugas dapur & suster
sehingga otomatis mereka harus mengetahui berapa banyak yang akan dihabiskan oleh para lansia
10. Pelaporan dilakukan tiap seminggu sekali oleh pengelola makanan kepada ketua panti
7. Persiapan pengolahan bahan makanan sudah sesuai (bahan makanan dicuci dulu, baru dipotong-potong) 8. Pengolahan makanan
sudah sesuai dengan keadaan lansia, yaitu lebih lunak
9. Penyajian makanan dilakukan oleh petugas makanan dan lansia yang masih sehat dating sendiri ke dapur untuk mengambil makanannya
10. Pelaporan dilakukan tiap seminggu sekali oleh pengelola makanan kepada ketua panti
7. Persiapan pengolahan bahan makanan sudah sesuai (bahan
makanan dicuci dulu, baru dipotong-potong) 8. Pengolahan makanan
sudah sesuai dengan keadaan lansia, yaitu lebih lunak
9. Penyajian makanan dilakukan oleh petugas makanan dan lansia yang masih sehat dating sendiri ke dapur untuk
mengambil makanannya 10. Pelaporan
dilakukan tiap seminggu sekali oleh pengelola makanan kepada ketua panti
S A P Kelemahan (W) 1. --- 2. --- 3. --- 4. Higiene perorangan (tidak memakai topi masak, hanya memakai sandal) 5.Higiene makanan
(mengambil makanan tidak memakai penjepit makanan)
1. Anggaran belanja kurang mencukupi ; (
5.000/orang/hari untuk lauk, sayur dan buah (3 hari untuk lauk hewani, 3 hari untuk lauk nabati) 2. ---
3. Menu kurang bervariasi 4.Higiene perorangan
(tidak memakai topi masak, hanya memakai sandal)
5.Higiene makanan (mengambil makanan tidak memakai penjepit makanan)
1. Anggaran belanja kurang mencukupi ; (5.000/orang/hari untuk lauk, sayur dan buah (3 hari untuk lauk hewani, 3 hari untuk lauk nabati)
2. Ruangan dapur sempit, sehingga kesulitan beraktifitas dalam pengelolaan makanan 3. Menu kurang bervariasi 4. Higiene perorangan (tidak memakai topi masak, hanya memakai sandal) 5.Higiene makanan
(mengambil makanan tidak memakai penjepit makanan)
Tabel 10 Lanjutan
Nama Panti
Aspek SWOT P.W. Salam Sejahtera P.W. Sukma Raharja P.W. Hanna
Peluang (O) 1. Kebijakan pemerintah 2. Rapat koordinasi pengelola makanan antar panti
3. Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan 4. Kemudahan memperoleh angkutan 5. –- 6.Hubungan antara pengelola makanan dengan lansia 1. Kebijakan pemerintah 2. Rapat koordinasi pengelola makanan antar panti
3. Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan 4. Kemudahan
memperoleh angkutan 5. Lokasi panti dekat
dengan pasar 6.Hubungan antara pengelola makanan dengan lansia 1. Kebijakan pemerintah 2. Rapat koordinasi pengelola makanan antar panti
3. Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan 4. Kemudahan memperoleh angkutan 5. --- 6.Hubungan antara pengelola makanan dengan lansia E T O P Ancaman (T)
1. Lokasi panti jauh dengan pasar 2.Sebagian latar belakang pendidikan pengelola makanan cukup rendah 1. – 2.Sebagian latar belakang pendidikan pengelola makanan cukup rendah
1. Lokasi panti jauh dengan pasar 2.Sebagian latar
belakang pendidikan pengelola makanan cukup rendah Keterangan: --- = tidak teridentifikasi ke dalam aspek (kekuatan/kelemahan/
peluang/ancaman).
Setelah dilakukan pengisian data dengan menggunakan SAP dan ETOP, untuk selanjutnya digunakan alat bantu analisis dalam penelitian ini yaitu analisis/ matriks SWOT.
Matriks/analisis SWOT dapat menggambarkan secara jelas baga imana peluang dan ancaman eksternal panti dan lansia dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.
Setelah diketahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi oleh panti, maka dapat ditentukan strategi yang sesuai dengan pemanfaatan kekuatan yang dimiliki, agar dapat mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada, serta sekaligus memperkecil atau bahkan mengatasi kelemahan yang dimiliki dalam menghindar dari ancaman yang ada (Rangkuti, 1999).
Pendekatan yang digunakan dalam analisis SWOT adalah secara kualitatif (Kerns diacu dalam Simanjuntak, 2003) untuk mengevaluasi komponen SWOT. Penilaian yang ditawarkan divisualisasikan dalam suatu matriks yang menampilkan delapan kotak (Tabel 11).
Strategi yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan panti kepada lansia yang tinggal di Panti Werdha Salam Sejahtera adalah diadakannya
a Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan untuk higiene makanan. Pada waktu menyajikan makanan, pengelola makanan tidak menggunakan penjepit untuk mengambil makanan sehingga makanan tersebut kurang higienis/kurang bersih.
b Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan untuk higiene perorangan. Pada waktu pengolahan makanan, pengelola makanan tidak memakai topi masak dan sepatu dapur. Menurut Moehyi (1992) untuk penerapan higiene perorangan, petugas pengelola makanan sebagai salahsatu sumber pengotoran kuman perlu dilengkapi dengan pakaian kerja khusus seperti sarung tangan, alat penjepit makanan, sepatu dapur dan alat penutup kepala serta badan.
Strategi yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan panti kepada lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Sukma Raharja adalah diadakannya a Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan untuk higiene makanan. Pada
waktu menyajikan makanan, pengelola makanan tidak menggunakan penjepit untuk mengambil makanan sehingga makanan tersebut kurang higienis/kurang bersih.
b Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan untuk higiene perorangan. Pada waktu pengolahan makanan, pengelola makanan tidak memakai topi masak dan sepatu dapur. Menurut Moehyi (1992) untuk penerapan higiene perorangan, petugas pengelola makanan sebagai salahsatu sumber pengotoran kuman perlu dilengkapi dengan pakaian kerja khusus seperti sarung tangan, alat penjepit makanan, sepatu dapur dan alat penutup kepala serta badan.
c Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan untuk mengatur anggaran belanja yang terbatas sehingga menjadi menu yang seimbang (seimbang untuk makanan yang mengandung zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur).
d Diadakan rapat koordinasi pengelola makanan antar panti khususnya tentang menu yang lebih bervariasi.
e Dengan dekatnya lokasi panti dengan pasar dapat mengatur pembelian bahan makanan menjadi lebih bervariasi.
Strategi yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan panti kepada lansia yang tinggal di Panti Werdha Hanna adalah diadakannya:
a Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan untuk higiene makanan. Pada waktu menyajikan makanan, pengelola makanan tidak menggunakan penjepit untuk mengambil makanan sehingga makanan tersebut kurang higienis/kurang bersih.
b Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan untuk higiene perorangan. Pada waktu pengolahan makanan, pengelola makanan tidak memakai topi masak dan sepatu dapur. Menurut Moehyi (1992) untuk penerapan higiene perorangan, petugas pengelola makanan sebagai salahsatu sumber pengotoran kuman perlu dilengkapi dengan pakaian kerja khusus seperti sarung tangan, alat penjepit makanan, sepatu dapur dan alat penutup kepala serta badan.
c Kegiatan pelatihan bagi pengelola makanan tentang penyusunan menu yang lebih bervariasi sesuai dengan dana yang tersedia.
d Pengaturan dalam pengolahan makanan sehubungan ruang dapur yang sempit dengan diadakan pelatihan bagi pengelola makanan.
Daya Terima Makanan di Panti Werdha Salam Sejahtera Bogor
Daya terima lansia terhadap makanan di Panti Werdha Salam Sejahtera, Sukma Raharja dan Hanna Bogor dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Daya Terima Makanan Lansia di Panti Werdha Salam Sejahtera, Sukma Raharja dan Hanna Bogor
PW.Salam Sejahtera PW.Sukma Raharja PW.Hanna Variabel
Modus Modus Modus
Rasa 3 3 4 Aroma 3 3 4 Citarasa Tekstur 3 3 5 Warna 3 3 4 Bentuk 3 3 3 Penampilan Ukuran 3 2 4 Total 18 17 24
Penilaian Citarasa Makanan
Secara umum citarasa makanan sampel yang meliputi rasa, aroma dan tekstur adalah dengan modus 3 (sedang). Hal ini menunjukkan bahwa citarasa makanan untuk lansia di Panti Werdha Salam Sejahtera memiliki penilaian biasa dari lansia. Upaya pengelolaan makanan yang telah dilakukan pengelola Panti Werdha Salam Sejahtera terutama dalam kaitannya dengan aspek citarasa telah menghasilkan penilaian biasa pada makanan yang disajikan. Selengkapnya nilai citarasa yang diberikan lansia di Panti Werdha Salam Sejahtera dapat dilihat pada Lampiran 7.
Citarasa.
Kesukaan lansia di Panti Werdha Salam Sejahtera terhadap masing- masing sampel makanan dari 3 menu makan yang meliputi rasa, aroma, dan tekstur memiliki modus 3 (sedang).
Rasa makanan merupakan faktor sangat penting yang mempengaruhi citarasa makanan yang dihidangkan. Kesukaan lansia terhadap rasa makanan yang disajikan secara umum memiliki modus 3 (sedang). Alasan yang diberikan lansia adalah rasa makanan sudah cukup. Hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (1993) bahwa kesalahan dalam urutan bumbu pada saat mencampur serta dosis yang tidak tepat akan mempengaruhi rasa makanan.
Disamping itu upaya untuk menjaga konsistensi rasa turut mempengaruhi hasil penilaian yang diberikan.
Aroma makanan timbul karena adanya senyawa yang mudah menguap. Kesukaan lansia terhadap aroma makanan yang disajikan memiliki modus 3 (sedang). Kesukaan yang diberikan disebabkan karena aroma yang ditimbulkan khas dari bumbu . Hasil ini dapat dipengaruhi oleh teknik pengolahan makanan dan komposisi bumbu yang digunakan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Moehyi (1992) bahwa cara pemasakan yang berbeda akan menimbulkan aroma yang berbeda.
Tekstur makanan dapat dinilai dengan menggunakan jari, gigi dan langit- langit (tekak). Kesukaan lansia terhadap tekstur secara umum memiliki modus 3 (sedang). Hasil penilaian yang diberikan dapat disebabkan karena alasan tekstur makanan sudah cukup . Hasil ini disebabkan oleh teknik pengolahan makanan yang digunakan sudah betul, tekstur makanan yang disajikan lunak dan dapat dikonsumsi oleh lansia. Seperti yang dikemukakan oleh Sukarni dan Kusno (1980) bahwa cara pemasakan bahan makanan dapat mempengaruhi kualitas tekstur makanan yang dihasilkan.
Penilaian Penampilan Makanan
Secara umum penampilan/rupa makanan sampel yang meliputi warna, bentuk dan ukuran dengan modus 3 (sedang). Hal ini menunjukkan bahwa penampilan makanan untuk lansia di Panti Werdha Salam Sejahtera memiliki penilaian biasa dari lansia. Upaya pengelolaan makanan yang telah dilakukan pengelola Panti Werdha Salam Sejahtera terutama dalam kaitannya dengan aspek penampilan telah menghasilkan penilaian cukup pada makanan yang disajikan. Selengkapnya nilai penampilan yang diberikan lansia di Panti Werdha Salam Sejahtera dapat dilihat pada Lampiran 8.
Penampilan/Rupa. Kesukaan lansia di Panti Werdha Salam Sejahtera terhadap masing-masing sampel makanan dari 3 menu makan yang meliputi warna, ukuran, bentuk memiliki modus 3 (sedang).
Warna makanan merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam penampilan makanan. Kesukaan lansia terhadap warna memi liki modus 3 (sedang). Kesukaan tersebut disebabkan karena secara umum lansia
memberikan penilaian warna tersebut telah cukup baik. Hasil ini dapat dimungkinkan karena adanya upaya yang dilakukan tenaga pengolah melalui teknik pengolahan dan penyajian untuk menghasilkan warna makanan yang baik dan sesuai. Hal ini diperkuat oleh pendapat Sukarni & Kusno (1980) bahwa untuk mendapatkan warna makanan yang sesuai dan menarik harus digunakan teknik memasak tertentu.
Bentuk makanan juga merupakan salah satu asp ek yang dapat mempengaruhi rupa makanan. Bentuk makanan yang serasi akan memberikan daya tarik tersendiri bagi setiap makanan yang disajikan. Kesukaan lansia terhadap bentuk makanan yang disajikan memiliki modus 3 (sedang). Kesukaan tersebut disebabkan karena bentuk makanan sudah cukup besarnya. Berkaitan dengan penerimaan bentuk makanan, penilaian yang diberikan lansia untuk bentuk makanan sudah sesuai dalam pemotongan bahan baku dan cukup besarnya. Seperti dikemukakan Moehyi (1992) untuk memperoleh bentuk serasi dan menarik, dapat dilakukan dengan teknik cara memotong.
Ukuran/porsi makanan sama halnya dengan bentuk makanan dapat mempengaruhi rupa/penampilan makanan. Kesukaan lansia terhadap ukuran makanan yang disajikan memiliki modus 3 (sedang). Kesukaan tersebut disebabkan karena ukuran makanan sudah cukup besarnya . Hal ini disebabkan karena faktor utama yang dipakai dalam penentuan ukuran/porsi makanan di Panti Werdha Salam Sejahtera adalah keseimbangan antara porsi makanan yang disajikan, dan keadaan lansia itu sendiri. Ada beberapa makanan yang disajikan terlalu banyak, lansia akan meminta terhadap pengelola makanan untuk menguranginya. Sehingga tidak ada makanan yang terbuang.
Daya Terima Makanan Lansia di Panti Werdha Sukma Raharja Bogor Penilaian Citarasa Makanan
Secara umum citarasa makanan meliputi rasa, aroma dan tekstur memiliki modus 3 (sedang). Hal ini menunjukkan bahwa citarasa makanan untuk lansia di PSTW Sukma Raharja memiliki penilaian biasa dari lansia. Upaya pengelolaan makanan yang telah dilakukan pengelola PSTW Sukma Raharja terutama dalam kaitannya dengan aspek citarasa telah menghasilkan penilaian biasa. Selengkapnya nilai citarasa yang diberikan lansia di PSTW Sukma Raharja dapat dilihat pada Lampiran 9.
Citarasa. Kesukaan lansia di PSTW Sukma Raharja terhadap masing- masing faktor makanan dari 3 menu makan yang meliputi rasa, aroma, dan tekstur memiliki modus 3 (sedang).
Rasa makanan merupakan faktor sangat penting yang mempengaruhi citarasa makanan yang dihidangkan. Kesukaan lansia terhadap rasa makanan yang disajikan memiliki modus 3 (sedang). Alasan yang diberikan lansia adalah rasa makanan sudah cukup. Hasil ini disebabkan karena pemenuhan prosedur pembuatan yang telah ditetapkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (1993) bahwa kesalahan dalam urutan bumbu pada saat mencampur serta dosis yang tidak tepat akan mempengaruhi rasa makanan. Disamping itu upaya untuk menjaga konsistensi rasa turut mempengaruhi hasil penilaian yang diberikan.
Aroma makanan timbul karena adanya senyawa yang mudah menguap. Kesukaan lansia terhadap aroma makanan yang disajikan memiliki modus 3 (sedang). Kesukaan yang diberikan disebabkan karena aroma yang ditimbulkan khas dari bumbu. Hasil ini dapat dipengaruhi oleh teknik pengolahan makanan dan komposisi bumbu yang digunakan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Moehyi (1992) bahwa cara pemasakan yang berbeda akan menimbulkan aroma yang berbeda.
Tekstur makanan dapat dinilai dengan menggunakan jari, gigi dan langit- langit (tekak). Kesukaan lansia terhadap tekstur memiliki modus 3 (sedang). Hasil penilaian yang diberikan dapat disebabkan karena alasan tekstur makanan sudah cukup. Hasil ini disebabkan oleh teknik pengolahan makanan yang digunakan sudah betul, tekstur makanan yang disajikan lunak dan dapat dikonsumsi oleh lansia. Seperti yang dikemukakan oleh Sukarni dan Kusno (1980) bahwa cara pemasakan bahan makanan dapat mempengaruhi kualitas tekstur makanan yang dihasilkan.
Penilaian Penampilan Makanan
Secara umum penampilan/rupa makanan meliputi warna, bentuk dan ukuran memiliki modus 3 (sedang). Hal ini menunjukkan bahwa penampilan makanan untuk lansia di PSTW Sukma Raharja memiliki penilaian biasa dari lansia. Upaya pengelolaan makanan yang telah dilakukan pengelola PSTW Sukma Raharja terutama dalam kaitannya dengan aspek penampilan telah
menghasilkan penilaian biasa pada makanan yang disajikan. Selengkapnya nilai penampilan yang diberikan lansia di PSTW Sukma Raharja dapat dilihat pada Lampiran 10.
Penampilan/Rupa. Kesukaan lansia di PSTW Sukma Raharja terhadap masing-masing faktor makanan dari 3 menu makan yang meliputi warna, ukuran, dan bentuk memiliki modus 3 (sedang).
Warna makanan merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam penampilan makanan. Kesukaan lansia terhadap warna memiliki modus 3 (sedang). Kesukaan tersebut disebabkan karena secara umum lansia memberikan penilaian biasa pada warna makanan. Hasil ini dapat dimungkinkan karena adanya upaya yang dilakukan tenaga pengolah melalui teknik pengolahan dan penyajian untuk menghasilkan warna makanan yang baik dan sesuai. Hal ini diperkuat oleh pendapat Sukarni & Kusno (1980) bahwa untuk mendapatkan warna makanan yang sesuai dan menarik harus digunakan teknik memasak tertentu.
Bentuk makanan juga merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi rupa makanan. Bentuk makanan yang serasi akan memberikan daya tarik tersendiri bagi setiap makanan yang disajikan. Kesukaan lansia terhadap bentuk makanan yang disajikan memiliki modus 3 (sedang). Kesukaan tersebut disebabkan karena bentuk makanan sudah cukup besarnya. Berkaitan dengan penerimaan bentuk makanan, penilaian yang diberikan lansia untuk bentuk makanan sudah sesuai dalam pemotongan bahan baku dan cukup besarnya. Seperti dikemukakan Moehyi (1992) untuk memperoleh bentuk serasi dan menarik, dapat dilakukan dengan teknik cara memotong.
Ukuran/porsi makanan sama halnya dengan bentuk makanan dapat mempengaruhi rupa/penampilan makanan. Kesukaan lansia terhadap ukuran makanan yang disajikan memiliki modus 2 (kurang suka). Kesukaan tersebut disebabkan karena ukuran makanan/ porsi terlalu besar. Hal ini disebabkan karena faktor utama yang diperhatikan oleh pengelola panti adalah antara porsi makanan yang disajikan dengan keadaan lansia itu sendiri. Makanan yang disajikan oleh pengelola makanan terlalu besar untuk ukuran lansia.
Daya Terima Makanan Lansia di Panti Werdha Hanna Bogor Penilaian Citarasa Makanan
Secara umum citarasa makanan sampel yang meliputi rasa, aroma dan tekstur memiliki modus 4 (agak suka). Hal ini menunjukkan bahwa citarasa makanan untuk lansia di Panti Werdha Hanna memiliki penilaian agak suka dari lansia. Upaya pengelolaan makanan yang telah dilakukan pengelola Panti Werdha Hanna terutama dalam kaitannya dengan aspek citarasa telah menghasilkan penilaian agak suka untuk citarasa makanan yang disajikan. Selengkapnya nilai citarasa yang diberikan lansia di Panti Werdha Hanna dapat dilihat pada Lampiran 11.
Citarasa. Kesukaan lansia di Panti Werdha Hanna terhadap masing-masing sampel makanan dari 3 menu makan yang meliputi rasa, aroma, dan tekstur memiliki modus 4 (agak suka).
Rasa makanan merupakan faktor sangat penting yang mempengaruhi citarasa makanan yang dihidangkan. Kesukaan lansia terhadap rasa makanan yang disajikan memiliki modus 4 (agak suka). Alasan yang diberikan lansia adalah rasa makanan agak baik. Hasil ini disebabkan karena pemenuhan prosedur pembuatan yang telah ditetapkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (1993) bahwa kesalahan dalam urutan bumbu pada saat mencampur serta dosis yang tidak tepat akan mempengaruhi rasa makanan. Disamping itu upaya untuk menjaga konsistensi rasa turut mempengaruhi hasil penilaian yang diberikan.
Aroma makanan timbul karena adanya senyawa yang mudah menguap. Kesukaan lansia terhadap aroma makanan yang disajikan memiliki modus 4 (agak suka). Kesukaan yang diberikan disebabkan karena aroma yang ditimbulkan khas dari bumbu. Hasil ini dapat dipengaruhi oleh teknik pengolahan makanan dan komposisi bumbu yang digunakan.. Hal ini diperkuat oleh pendapat Moehyi (1992) bahwa cara pemasakan yang berbeda akan menimbulkan aroma yang berbeda.
Tekstur makanan dapat dinilai dengan menggunakan jari, gigi dan langit- langit (tekak). Kesukaan lansia terhadap tekstur memiliki modus 5 (suka). Hasil penilaian yang diberikan dapat disebabkan karena alasan tekstur makanan sudah baik. Hasil ini disebabkan oleh teknik pengolahan makanan yang
digunakan sudah betul, tekstur makanan yang disajikan lunak dan dapat dikonsumsi oleh lansia. Seperti yang dikemukakan oleh Sukarni dan Kusno (1980) bahwa cara pemasakan bahan makanan dapat mempengaruhi kualitas tekstur makanan yang dihasilkan.
Penilaian Penampilan Makanan
Secara umum penampilan/rupa makanan sampel yang meliputi warna, bentuk dan ukuran memiliki modus 3 (sedang). Hal ini menunjukkan bahwa penampilan makanan untuk lansia di Panti Werdha Hanna memiliki penilaian biasa dari lansia. Upaya pengelolaan makanan yang telah dilakukan pengelola Panti Werdha Hanna terutama dalam kaitannya dengan aspek penampilan telah menghasilkan penilaian biasa untuk makanan yang disajikan. Selengkapnya nilai penampilan yang diberikan lansia di Panti Werdha Hanna dapat dilihat pada Lampiran 12.
Penampilan/Rupa. Kesukaan lansia di Panti Werdha Hanna terhadap masing- masing sampel makanan dari 3 menu makan yang meliputi warna, ukuran, dan bentuk memiliki modus 3 (sedang).
Warna makanan merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam penampilan makanan. Kesukaan lansia terhadap warna memiliki modus 4 (agak suka). Kesukaan tersebut disebabkan karena secara umum lansia memberikan penilaian warna tersebut telah cukup baik. Hasil ini dapat dimungkinkan karena adanya upaya yang dilakukan tenaga pengolah melalui teknik pengolahan dan penyajian untuk menghasilkan warna makanan yang baik dan sesuai. Hal ini diperkuat oleh pendapat Sukarni & Kusno (1980) bahwa untuk mendapatkan warna makanan yang sesuai dan menarik harus digunakan teknik memasak tertentu.
Bentuk makanan juga merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi rupa makanan. Bentuk makanan yang serasi akan memberikan daya tarik tersendiri bagi setiap makanan yang disajikan. Kesukaan lansia terhadap bentuk makanan yang disajikan memiliki modus 3 (sedang). Kesukaan tersebut disebabkan karena bentuk makanan sudah cukup besarnya. Berkaitan dengan penerimaan bentuk makanan, penilaian yang diberikan lansia untuk bentuk makanan sudah sesuai dalam pemotongan bahan baku dan cukup
besarnya. Seperti dikemukakan Moehyi (1992) untuk memperoleh bentuk serasi dan menarik, dapat dilakukan dengan teknik cara memotong.
Ukuran/porsi makanan sama halnya dengan bentuk makanan dapat mempengaruhi rupa/penampilan makanan. Kesukaan lansia terhadap ukuran makanan yang disajikan memiliki modus 4 (agak suka). Kesukaan tersebut disebabkan karena ukuran makanan/porsi cukup banyak/besar. Hal ini disebabkan karena pengelola makanan memperhatikan antara porsi makanan yang disajikan dengan keadaan lansia itu sendiri. Makanan yang disajikan oleh pengelola makanan cukup banyak/besar untuk ukuran lansia. Beberapa makanan yang disajikan terlalu banyak/ besar, lansia akan meminta terhadap pengelola makanan untuk menguranginya.
Kondisi Kesehatan Lansia
Persyaratan untuk masuk panti salahsatunya adalah kondisi jasmani dan rohaninya harus baik, sehingga kondisi kesehatan dari lansia Panti Werdha Salam Sejahtera pada umumnya tidak mempunyai penyakit (70 %). Menurut Hanlon & Picket (1984) deteksi awal dan manajemen kesehatan yang efektif dapat menurunkan konsekuensi hipertensi, penyakit ginjal dan gagal jantung.