• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil Pembahasan

4.2.3. Anggaran Pembangunan Kepemudaan

Dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai kebijakan yang ditetapkan Disporabudpar Kota Pematangsiantar pada tahun anggaran 2014 memperoleh alokasi dana APBD Kota Pematangsiantar dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 4.7. Alokasi Dana APBD Kota Pematangsiantar untuk Disporabudpar 2014

No. Uraian

Belanja tidak langsung Belanja langsung Alokasi (Rp) Realisasi (Rp) Alokasi (Rp) Realisasi (Rp)

1 Belanja Pegawai 2.309.376.800 2.285.518.795 - -

2 Belanja Barang dan

Jasa - - 1.005.757.500 983.558.821

3 Belanja Modal - - 25.400.000 19.900.000

4 Belanja Pegawai - - 176.000.000 165.645.000

Jumlah 2.309.376.800 2.285.518.795 1.207.157.500 1.169.103.821 Sumber: Disporabudpar Kota Pematangsiantar

Dari tabel di atas dalam tahun anggaran 2014 telah dialokasikan dan APBD sebesar Rp 1.169.103.821,- realisasi anggaran untuk biaya program kegiatan. Junlah ini tidak termasuk didalamnya program pelayanan administrasi perkantoran, peningkatan sarana dan prasarana aparatur, disiplin aparatur, kapasitas sumber daya aparatur dan program peningkatan pengembangan sistem pelaporan kinerja dan keuangan, walaupun alokasi dana ke semua program ini yaitu: belanja tidak langsung sebesar Rp 2.309.376.800,- telah terealisasi sebesar 2.285.518.795,- atau 98,96 % dan belanja langsung sebesar Rp 1.207.157.500,- telah terealisasi sebesar Rp 1.169.103.821,- atau 96,84 %.

Bagaimana besarnya porsi anggaran Disporabudpar dari total Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Pematangsiantar, contohnya dapat kita lihat dari tahun 2014. Menurut laporan keterangan pertanggungjawaban Walikota Pematangsiantar tahun anggaran 2014, APBD Kota Pematangsiantar sebesar Rp 886.658.524.116,58 sedangkan anggaran untuk Disporabudapar pada tahun yang sama yaitu sebesar jumlah dari alokasi belanja langsung dan tidak langsung yaitu Rp 3.516.534.300,- atau sebesar 0,4%.

Dalam setiap perumusan dan pelaksanaan setiap kebijakan dalam kerangka formal suatu pemerintahan memerlukan perhitungan anggaran.

Anggaran dimaksudkan untuk menjalankan segala rencana yang telah dirumuskan

pemerintah sebelumnya. Tanpa anggaran yang sesuai terkadang sebuah program atau kebijakan bisa tidak berjalan secara maksimal. Maka untuk itu, aspek penganggaran dalam setiap implementasi kebijakan atau program memegang peranan penting dalam tercapainya suatu tujuan dari kebijakan itu sendiri.

Hasil wawancara dengan pemuda Bapak Parlaungan Purba S.Pd., Ketua KNPI Kota Pematangsiantar mengatakan bahwa:

“Ya, jauh kalilah. Contoh: KNPI ada dibantu pemerintah, katakan 200 juta. Itu bukan untuk pemuda bang, tapi untuk KNPI karena masing-masing OKP juga mengusulkan proposalnya ke pemerintah untuk meminta bantuan. Nah, pernah kita beri solusi kepada pemerintah. Gini aja pak, difokuskan aja anggaran pemuda itu di KNPI. Untuk mempermudah semuanya. Termasuk juga mempermudah kerja pemerintah dan juga soal penyalurannya lebih jelas. Kayak KONI, kan anggaran Pengcab-Pengcab itu kan di KONI anggarannya. Itu juga yang kita minta. Dan ini juga lebih gampang mengontrolnya. Misalnya, ketika organisasi A tidak aktif, kita boleh bilang, tahun ini kalian tidak bisa lagi dibantu, karena ga ada kegiatan kalian. Sehingga kita bisa menegor OKP itu ketika dia ga aktif. Tapi, kalau kita ga pernah ngasih, apa bisa kita tegor? Apa urusanmu, katanya. Kalau benar estafet kepemimpinan di tangan pemuda, kenapa kita mesti hitung-hitungan?

Pemuda inilah yang harus dibesarkan.”

Selanjutnya peneliti mencoba menanyakan kepada pihak pengurus KNPI, apa saja fasilitas yang diberikan Pemerintah Kota Pematangsiantar melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata kepada KNPI sebagai wadah organisasi berhimpun organisasi kepemudaan di Kota Pematangsiantar. Berikut jawaban dari Bapak Zainul Arifin Siregar, Sekretaris KNPI Kota Pematangsiantar:

“Belum ada. Kalau gedung ini (kantor KNPI) memang sudah lama.

Kalau fasilitas lain yang diberikan di 2015 ini, total belum. Soal anggaran, bukan dari Dispora, anggaran di Sekda (Sekretaris Daerah), yang direkom oleh Kesbanglinmas (Kesatuan Pembangunan Lintas Masyarakat). Tidak ada hubungannya dengan Dispora.”

Hal ini ditegaskan kembali, Bapak Parlaungan Purba S.Pd., Ketua KNPI Kota Pematangsiantar sambil menjelaskan prosedur penganggaran untuk KNPI. Berikut pernyataannya:

“Nah, gini kalau soal anggaran. Anggaran direkomendasikan oleh Kesbang setelah KNPI mengajukan permohonan. Lalu, direkomendasikan oleh Kesbang. Lalu anggaran itu ditampung di bagian kemasyarakatan, Kemas namanya (singkatan dari Kesejahteraan Masyarakat). Nah, anggaran KNPI itu dibagian Kemas, bukan di Dispora. Kemas ini mengatur organisasi, baik itu organisasi pemuda, KONI, berbagai macam organisasi dia.

Lebih jelasnya, pemerintah memberikan tanggapan bahwa mengenai anggaran untuk pembangunan kepemudaan tidak hanya melalui dari SKPD Disporabudpar semata. Melainkan, bisa melalui organisasi kepemudaan, misalnya KNPI secara terpisah. Berikut tanggapan pemerintah Bapak Drs. Binsar P.

Sumbayak, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Pematangsiantar. sebagai berikut:

“Jadi segala sesuatu keuangan, KNPI lah yang mempertanggungjawabkan diberikan kepada kita. Jadi, anggarannya kita yang menentukan di kantor ini untuk ‘Sumpah Pemuda’. Itu mengenai kepemudaan ya pak. Dari KNPI kita juga buka komunikasi.

Komunikasinya pertama, kalau mereka rapat kita diundang. Dan sebaliknya, kita juga membutuhkan data-data kepada KNPI. Data tersebut seperti yang dilakukan ibu ini, kepala seksi lembaga kepemudaan. Ibu ini selalu menagih masa habis berlaku kepengurusan.

Untuk apa? Kalau ada dana dari provinsi untuk bantuan kepada lembaga kepemudaan kita mengasih rekomendasi pak. Provinsi tidak memberikan dana kalau kepengurusannya sudah kadaluarsa. Makanya begini, tiap tahun KNPI coba mari daftar kepengurusan dari katakanlah dulu, satu organisasilah dulu. Entah pengurus masjid atau IPK (Ikatan Pemuda Karya) atau apa yang termasuk. Tapi kalau ormas dia langsung kepada Kesbanglinmas. Menurut catatan ada 54 oleh KNPI. Jadi, KNPI ini misalnya ada kucuran dana dari provinsi. Itu provinsi. Itu meminta rekomendasi dari kita. Hal-hal yang kita rekomendasikan termasuklah kepengurusan tadi dan waktu kami rapat di Medan, dibawakan dari Jakarta, ditegaskan kepada undang-undang tentang kepemudaan, pasal 1 bahwa pemuda itu usianya antara 16 sampai dengan 30 tahun. Jadi kalau ada diantara usia ini yang melanggar, ga dicairkan mereka. Itu

sudah saya tekankan pada KNPI kota ini. Bahkan mereka katakan itu aturan kami. Tidak mematok katanya. Ya, kalau begitu ga kontaklah dana yang dari sana. Itu konsekuensinya.”

Disporabudpar Kota Pematangsiantar, mengatakan bahwa dana untuk pembangunan kepemudaan melalui OKP, tidak melalui Disporabudpar. Lain halnya, apabila ada dana dari Pusat dan provinsi, Disporabudpar selalu dimintakan rekomendasinya untuk mengawal implementasi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan, yaitu yang dimaksud pemuda adalah manusia Indonesia yang berada pada rentang umur 16-30 tahun. Oleh karena itu, OKP yang berhak mendapat bantuan dana dari pemerintah harus memenuhi kriteria yang dimaksudkan oleh undang-undang tersebut. Lebih jelasnya, pemerintah Bapak Drs. Binsar P. Sumbayak, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Pematangsiantar menambahkan sebagai berikut:

“Itu anggaran KNPI lah membuat anggaran, yang mengajukan kepada Pemko. Tersendiri mereka tidak melalui kita. itu pun tidak ada yang diminta kepada kita mengenai umur itu. Hanya dari provinsi, dari pusatlah dulu katakan. Selama ini rekomendasi yang kita kasih, bahkan ada yang mengamuk kepengurusannya. Mengamuknya, ya dia bertahan harus dapat dana. Makanya dana itu ada yang balik. Bagaimana Dispora mengawal UU kepemudaan itu di OKP? sudah kita kawal. Lebih dikawal. Sosialisasi pun sudah. Kita undang dari Jakarta di Siantar Hotel. Bahkan, kalau ini sudah dikeluarkan 3 tahun sudah resmi. Paling tidak 5 tahun. Evaluasi 3 tahun. Oke 5 tahun. Ya uda jalan.”

Untuk itu perlu pengawasan dari pemerintah melalui SKPD Disporabudpar dalam melakukan pengawasan terhadap OKP sebagai wadah pembelajaran pemuda, khususnya di Kota pematangsiantar. OKP yang kepengurusannya sudah lewat dari usia 16-30 tahun, tentunya tidak dapat lagi mendapatkan fasilitas pendanaan dari pemerintah sebagai konsekuensi dari aturan yang berlaku. Seperti penjelasa tambahan dari pemerintah Bapak Drs. Binsar P.

Sumbayak, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Pematangsiantar sebagai berikut:

“Ah, begini. Kalau dari provinsi tadi kita sudah tegaskan tidak diberi.

Kan begitu. Seperti yang bapak maksudkan tadi karena ga melalui kita pintu jendelanya, kurang tahu dengan hal itu. Atau, kalau mereka membuat tembusannya kepada kita, baru kita tahu. Ini tidak ada.

Artinya, misalnya adapun dana diterima KNPI mereka mempertanggungjawabkannya kepada siapa dana yang diterima.

Contoh: cairlah itu, mereka berurusan kepada yang mencairkan itu. Ga ada sama kita. ga tau kita pelaksanaannya, Cuma sosialisasinya sudah kita buat. Untunglah kamu datang, kita buat program kedepanlah. Coba kita buat tugas kita bu, kita tambahi. Coba kita evaluasi dulu undang-undang ini seperti yang dimaksudkan tadi. Apakah memang sudah terlaksana. Untuk kedepanlah itu kita buat. Kita tambahi kerja kita dengan kehadiran anda kemari bisa lebih jelas tugas kita ini.

Masukanlah itu sama kami.”

Disporabudpar memiliki tugas pokok dan fungsi dalam menangani empat bidang yaitu pemuda, olahraga, budaya dan pariwisata. Setiap bidang memiliki fungsi yang cukup signifikan dalam pembangunan daerah. Namun karena penelitian ini hanya mengfokuskan pada tema kepemudaan, maka menjadi penting untuk meklarifikasi proporsi atau persentase anggaran masing-masing bidang dalam SKPD Disporabudpar untuk melihat prioritas kebijakan oleh SKPD. Hal ini dapat kita lihat dari wawancara dengan pemerintah Bapak Drs. Binsar P.

Sumbayak, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Pematangsiantar yaitu:

“Saya lihat imbangnya pak. Meratanya itu. Hanya meratapun masing-masing anggaran, ada yang besar, ada yang kecil. Iya tapi frekuensinya merata itu. Di sana 4, disana 4 gitu. Hanya mungkin anggarannya bisa berbeda. Ya lainlah, ‘Sumpah Pemuda’ contohnya, tak mungkin sampai ratusan juta contohnya, tapi disana mereka mengikuti Festival Danau Toba, waktu kesana itu wajib berpuluh juta. Conotohnya, peserta mau seratus orang, hotelnya, transportasinya, makannya untuk mengikuti Festival Danau Toba. Satu kegiatan maunya di sana besar. Disini satu kegiatan maunya kecil. Tapi, frekuensinya merata semua itu. Contohnya:

pemilihan puteri pariwisata mereka ada buat. Mau tidak mau, walaupun

itu tidak kegiatan kami, pasti menyenggol kepemudaan. Tak mungkin pemuda yang sembarangan lagi yang diambil. Berarti sudah yang terbaik dari pemuda diambil. Jadi, membantu kita itu. Jadi kena semua.”

Menurut pemerintah dalam pembangunan kepemudaan diharapkan peran serta stakeholder yang memiliki fungsi dan tanggung jawab dalam membina pemuda. Dari setiap elemen dalam implementasi kebijakan pemerintah kota melalui SKPD-nya hanya melihat permasalahan dalam sektor penganggaran.

Seperti yang disampaikan pemerintah Bapak Drs. Binsar P. Sumbayak, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Pematangsiantar dalam urainnya sebagai berikut:

“Kalau kita lihat kebijakan tentang kepemudaan ini pak, khususnya di Kota Pematangsiantar sebenarnya tanpa adapun kalau kita yakin sekolah itu bekerja. Ini sudah membantu sama kita. membantu kepemudaan. Dari sekolah, kita anggaplah dari SMA dan perguruan tinggi. Itu sudah membantu kita membuat suatu kebijakan pembinaan kepemudaan. Yang kedua, kebijakan kepemudaan yang kita harapkan dari Dispora tidak terlepas daripada visi misi dan program yang kita buat. Program yang kita buat tidak terlepas daripada dana. Jadi semenjak Kadis Pak Saragih, sebelum Ibu Siregar. Kita usulkan juga apa kebijakan-kebijakan untuk pemuda termasuk mengarah kepada menjauhi diri dari narkoba, kejahatan-kejahatan, supaya dibuat seminar-seminar, tapi bagaimanalah mungkin lebih dipergunakan dana untuk yang lain, sehingga ga jadi anggaran kita itu. Kira-kira begitu. Sebenarnya kita lihat situasi sekarang, perlu itu. Semua bekerja. Dari BNN (Badan Narkotika Nasional) pun bekerja, dari kepolisian pun berkerja, dari dinas pendidikan pun bekerja. Apalagi dari Dispora, harus bekerja maunya. Sosialisasi HIV AIDS maupun kenakalan remaja supaya bisa diproteksi karena umum dia. Semua bisa bekerja karena kalau kita yang diharapkan anggaran ga cukup. Kalau soal SDM (Sumber Daya Manusia), cukup. Yang lain cukup, cuma soal anggaran saja.”

Senada dengan hal tersebut, mengenai penganggaran dalam penyusunan program pemerintah, tentunya akan melibatkan peran serta anggota legislative.

Selain tugas legislative untuk membuat undang-undang atau peraturan daerah, DPRD juga bertugas untuk membuat anggaran dan melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah. Dalam topik pembangunan kepemudaan, anggota

dewan dengan Bapak Tongam Pangaribuan, SE., Anggota Komisi 1 DPRD Kota Pematangsiantar menyampaikan pendapatnya sebagai berikut:

“Kami dari komisi 1, saya sendiri dari Fraksi Nasdem, ya kita akan coba memperjuangkan. Tapi yang pertama, Kadispora punya program dan misi yang jelas tentang kepemudaan. Oke, mungkin tahun ini kami pengennya ide yang kita buat kecamatan begini… silahkan. Kami dari komisi 1 akan mencoba membantu supaya bagaimana fungsi sebagai pengawasan dan sebagai anggaran dan sebagai legislasi. Artinya, harus dibuat dulu program betul-betul matang yang melibatkan nanti dengan begini, sudah luas 8 kecamatan, 53 kelurahan. Coba dulu digalang semua ini. Ya mungkin standar pertama program dari Kadispora hanya sebatas kecamatan. Silahkan saja. Kita punya fasilitas. Kita punya GOR (Gedung Olah Raga). Kenapa tidak pergunakan GOR? Untuk ajang tempat kita ga masalah, saya yakin. Kita punya GOR, di GOR kita bisa buat Badminton, kita bisa buat Voli. Ah, kita bisa buat Tenis Meja di sana. Ada kita sarana. Tapi, saya bilang tadi coba Kadispora membuat program bagaimana supaya pemuda di Siantar terlibat dalam kepemudaan itu sendiri. Itu yang saya bilang untuk kepada Kadispora.”

Lebih jelasnya komitmen anggota dewan Bapak Tongam Pangaribuan, SE.,Anggota Komisi 1 DPRD Kota Pematangsiantar tersebut disampaikan lagi dalam pernyataannya sebagai berikut:

“Kami dari komisi 1, terutama dari Fraksi Nasdem akan coba siap membantu kepada pemerintah supaya nanti apapun program mereka, khususnya dari komisi 1, akan coba mengajukan kepada pemerintah supaya anggaran itu mohonlah ditambahi atau apapun program mereka dari Kadispora coba diperjuangkan. Kita akan perjuangkan. Ah, itu kalau dari saya komisi 1. Coba kita perjuangkan supaya mereka juga kegiatan tersebut terlaksana.”

Persoalan anggaran merupakan persoalan yang cukup klasik dalam setiap evaluasi program atau kegiatan. Minimnya belanja modal dalam setiap SKPD ataupun pemerintahan dibanding belanja pegawai yang demikian tinggi merupakan bentuk kprihatinan kita kepada pemerintah. Akibatnya, sasaran dalam setiap SKPD, khususnya di Disporabudpar sering terkesampingkan. Namun, hal

ini tentunya menuntut kreativitas dari pemerintah untuk menekan belanja pegawai dan mendongkrak belanja modal.

Minimnya alokasi belanja modal atau belanja program di Disporabudpar akhirnya hanya mampu melahirkan program peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap tahunnya. Program ini merupakan hal penting untuk setiap tahunnya diperingati. Namun, apabila pemerintah hanya mengandalkan program tersebut tentunya permasalahan pemuda di masyarakat tidak dapat terselesaikan dengan baik. Komunikasi dan kordinasi lintas sektor lembaga pemerintah tentunya hanya berfungsi sebagai penunjang dan bukan hal yang utama. Maka untuk itu, Pemerintah Kota Pematangsiantar melalui SKPD-nya Disporabudpar harus mendorong prioritas anggaran untuk pembangunan kepemudaan dalam rencana pengembangan program. Sehingga kedepan masalah dalam pembangunan kepemudaan tidak hanya dijawab melalui program yang dilihat oleh pihak pemuda sebagai program seremonial.

Pemerintah juga perlu meningkatkan pengawasan kepada OKP yang berdomisili di Kota Pematangsiantar agar pembangunan kepemudaan bisa tepat ssasaran. Kebijakan yang telah diaturkan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam pengalokasian dana atau anggaran kepada OKP harus merujuk pada undang-undang tentang kepemudaan. Artinya, OKP yang pengurusnya yang memiliki usia lebih dari rentang umur yang diaturkan oleh undang-undang yaitu 16 sampai dengan 30 tahun harus menerima konsekuensi tidak dapat menerima bantuan fasilitas dari pemerintah. Kebijakan ini tentunya dalam rangka penyadaran dan penegakan hukum agar sasaran dari pembangunan kepemudaan itu bisa tepat sasaran.

Ketegasan dari pemerintah ini tentunya akan memaksa OKP agar berbenah diri melakukan peremajaan dalam tubuh organisasinya. Kebijakan ini juga harus menjadi acuan bagi lembaga atau badan lain dari pemerintah yang memiliki kaitan dengan kepemudaan.