Maaf Saudara Ketua.
Tadi Saudara sudah mau memberi kesempatan kepada FKP, sehingga saya ....
KETUA RAPAT :
Belum tentu, saya belum sampai bicara, belum selesai kalimat saya, maksud saya justru yang jadi masalah itu, bukan substansi tentang tugas pengaturan, kemudian kebijakan moneter, itu sudah kita sepakat bahwa itu memang substansi yang sudah bisa dibahas, dan ini sekaligus mungkin mengingatkan kepada FKP tanpa melihat saran itu darimana keluarnya, tetapi menurut saya, ini jalan yang terbaik dan kesepakatan kita yang terdahulu, tentang pembahasan substansi itu.
Kami tidak kembali lagi ke FKP, sesungguhnya FABRI juga karena interupsi saya beri kesempatan, kita lanjutkan kepada Pemerintah dulu.
INTERUPSI ANGGOTA FKP (DRS. PASKAH SUZETTA) :
Kami interupsi dulu Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Silakan
ANGGOTA FKP (DRS. PASKAH SUZETTA) :
Karena ini menyangkut satu prinsip bagi kami, ingin membagi mana tugas pokok daripada Bl, mana tugas-tugas lainnya. Karena in menyangkut tugas-tugas pokok, dan ini menyangkut Pasal 5, tugas pokoknya ini kan masih mau dilobyingkan. Karena ada tambahan keinginan tugas pokok yang kemarin dibicarakan, yaitu yang "c" itu.
Sedangkan kami di sini perlu menyebutkan, dalam rangka melaksanakan tugas pokoknya. Jadi saya pikir ini dipending saja dulu, dilakukan lobying, ini karena menyangkut tugas-tugas pokok.
Teri ma kasih.
KETUA RAPAT :
Yang berbeda itu terminologi, di dalam konsep rumusan awal, di sini tugas, yang FKP itu menyarankan "tug as pokok", tentang pointersnya, tentang
menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, kemudian mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, itu substansi yang tidak dimasalahkan.
Caba tolong kita kembali pada kesepakatan terdahulu.
Yang berbeda itu kan terminologi kita, baik ini tugas pokok atau tugas, seperti yang disarankan oleh FKP.
Biar kesempatan berfikir dulu, kita kembalikan ke Pemerintah dulu.
ANGGOTA FKP (DRS. PASKAH SUZETTA) :
Tapi sebentar Pak Ketua, interupsi juga.
Kami tetap berpegang kepada keputusan rapat pada hari Selasa, bahwa DIM Nomor 19, mengenai Pasal 5 disepakati untuk dibahas dalam forum lobi.
Terima kasih, kami serahkan ke forum.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Betul Pasal 5 itu memang kita lobi dan kita pending, tetapi untuk kelanjutan pembahasan substansi, kita teruskan. ltu kesepakatan kita, jadi belum titik itu.
Jadi kami lanjutkan kepada Pemerintah.
PEMERINTAH (MENTERI KEUANGAN):
Menurut pengertian kami, tidak pernah ada perdebatan, yang mempertentangkan soal setuju atau tidak setuju mengenai Pasal 5 huruf a, dan huruf b. Jadi walaupun tidak secara ekspkisit dinyatakan setuju, Pasal huruf a dan huruf b, tetapi implisit tidak ada perbedaan pendapat. Yang muncul perdebatan adalah tambahannya, yaitu mengenai pengawasan.
Pada waktu pembahasan Pasal 5, istilah pokokpun belum sempat dibahas, jadi pengertian kami, pending adalah dalam konteks tambahannya. ltu supaya kita mungkin dapat fokus dalam rangka apa kita pending. Berkaitan dengan itu, maka semuanya kita sudah sepakat untuk membahas lebih lanjut, termasuk membahas Pas al 10 ayat ( 1), yang kemudian rumusannya disepakati.
Jadi kalau konkordan dengan itu, konsisten dengan itu, sebetulnya penambahan untuk melengkapi sesuai usul FABRI, sebetulnya konsisten tidak masalah. Secara substansi, materi Pasal 15 ayat ( 1), kami mendengarkan seluruh pembahasan, pada dasarnya tidak ada perbedaan yang substansial, diantara pendapat Fraksi-fraksi. Termasuk juga kami tidak ada perbedaaan pendapat, yang ada adalah redaksional.
Apabila dapat disetujui, perkenankan kami mengusulkan untuk ini disampaikan kepada Timus, dan nanti Tim Sinkronisasi. Dengan demikian bagaimana bentuk yang disimpulkan pada waktu perumusan Pasal 5, lalu rumusan pasal ini menyesuaikan. Karena secara substansi sebetulnya tidak perbedaan.
Demikian usulan dari kami Pak.
KETUA RAPAT :
Terima kasih kepada Pemerintah.
Menyarankan untuk diteruskan ke Timus karena secara substansi tidak ada perbedaan, tinggal seandainya di dalam hasil lobby ada perubahan tinggal menye-suaikan.
Kita lanjutkan kepada Fraksi ABRI.
ANGGOTA FABRI (SOEYANTO SK, MBA) :
Pada dasarnya saya ingin mengulangi bahwa diskusi ini adalah yang substan-si, sedangkan sistematika dan yang terkait dengan itu kemudian. Oleh karena itu saya sepakat dengan Pemerintah, bahwa memang secara substansi Pasal 15 ini pada dasarnya disetujui. Namun demikian nanti pada waktu pembahasan selanjutn-ya andaikata pada pembahasan sistematika itu menjadi tugas pokok selanjutn-ya tinggal masukkan saja tugas pokok. Jadi tidak terlalu sulit Pak. Nah dalam hal ini selaku Fraksi ABRI jalan keluarnya rumusan seperti itu mungkin, tetapi belum juga dijawab tadi tanggapannya terhadap konsistensi pada pasal 10 tadi, soal konsistensi belum terjawab, jadi saya masih ada ganjalan sedikit, karena kalau dari Fraksi lain. Se-hingga dengan demikian pada dasarnya apa yang kita rumuskan disini sesuai kesepakatan kita dengan catatan tadi hal-hal yang terkait dengan sistematika akan disinkronisasikan. Oke.
Demikian Bapak Ketua.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Teri ma kasih Fraksi ABRI.
Mungkin mohon maaf untuk tidak jadi ganjalan dalam bahasan selanjutnya, minta dijawab tentang konsistensi.
PEMERINTAH :
Mengenai konsistensi, kami dapat menerima karena itu juga tambah memper-jelas, jadi tidak ada masalah.
KETUA RAPAT :
Teri ma kasih.
Kita lanjutkan kepada Fraksi Karya Pembangunan.
ANGGOTA FKP (DRS. PASKAH SUZETTA) :
FKP menerima apa yang dirumuskan oleh Pemerintah.
Teri ma kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Selanjutnya kepada FPP.
Silakan.
ANGGOTA FPP (DRS. IRGAN CHAIRUL MAHFIZ) :
Terima kasih Pimpinan.
Karena komitmen kita dengan mencari yang terbaik dari yang terbaik dari apa yang telah kami sampaikan, maka kami sependapat untuk merumuskan klausul ini/
ayat ini dengan satu hal yang perlu kita perhatikan mengenai Pasal 5 huruf b ini, ini perlu disesuaikan dengan pembahasan sistematikanya nanti.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Terima kasih Fraksi FPP.
Selanjutnya Fraksi POI.
ANGGOTA FPDI (NICO DARYANTO) :
Yang mempunyai rencana sudah menerima usulan ABRI, jadi saya juga Tut Wuri Handayani saja.
Lalu masalah tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, tadi saya rasa sudah jelas sekali kalau Pasal 5 ada pokok ya tugasnya ada pokok. Jadi ini penye-suaian, maka dari itu saya setuju kalau diteruskan ke Timus saja.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Fraksi-fraksi maupun Pemerintah setuJu Timus, jadi tolong warnanya menjadi hijau.
Setuju ?
( RAPAT : SETUJU )
Kita lanjutkan kepada DIM Nomor 54, dengan catatan sekarang Pukul 16 kurang lima menit berarti sudah memasuki saat Shalat Ashar, kami mohon maaf tidak memberikan break secara khusus, kita secara bergiliran saja mengambil waktu koordinasi dengan rekan-rekan intern fraksinya masing-masing.
Dilanjutkan dengan DIM Nomor 54.
Silakan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia.
ANGGOTA FPDI (NICO DARYANTO) :
ltu termasuk kelatahan yang mengetik itu Pak. Jadi itu tidak dalam konsep saya jadi saya tarik itu. Dianggap tidak ada, bukan ditarik.
KETUA RAPAT :
Terima kasih dari Fraksi PDI.
DIM dicabut, kita kembali ke Fraksi ABRI, di sini merubah yang istilahnya standar ayat kepada.
Selanjutnya dari. Fraksi Karya Pembangunan dan Fraksi PP tetap, dan tentun-ya kembali ke rumusan Pemerintah.
Bunyinya, "Pe/aksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud ayat 1 ditetap-kan dengan Peraturan Bank Indonesia. "
Setuju.
Silakan.
ANGGOTA FPP (DRS. IRGAN CHAIRUL MAHFIZ) :
Terima kasih, sebenarnya untuk DIM 54 ini kami mefetakkannya di DIM 76 Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Maaf-maaf, ya silakan.
ANGGOTA FPP (DRS. IRGAN CHAIRUL MAHFIZ) :
Ya, karena konsisten, konsisten dengan Pasal 5 huruf b.
KETUA RAPAT :
DIM 76 hal 33
ANGGOTA FPP (DRS. IRGAN CHAIRUL MAHFIZ) :
Pad a ayat {2), sebelum sampai pada naskah Pemerintah pelaksnaaan kewe-nangan, menurut Fraksi Persatuan Pembangunan, dalam ayat (2) ini perlu kita tegaskan tentang wewenang menetapkan dan melaksanakan sistem pembayFlran sebagaimana yang perlu digambarkan secara tegas di dalam ayat (2) ini. Jadi tidak mandat kosong yang kita berikan terhadap kewenangan untuk menetapkan dan melaksanakan sistem pembayaran. Maka kami berharap point wewenang atau pokok-pokok pikiran tentang wewenang yang ada di dalam penjelasan ini dapat dipindahkan ke dalam Batang Tubuh.
Kami kira demikian.
Teri ma kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Kalau demikian mungkin masih ada yang harus ditanggapi.
Silakan dari Fraksi Karya Pembangunan terhadap usulan dari FPP.
ANGGOTA FKP (OKE FREDY SUPIT) :
FKP tetap gitu, tetapi untuk tanggapan pandangan dari FPP, ya :~ami rasa tetap seperti usuJ dari Pemerintah.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Selanjutnya disilakan kepada Fraksi ABRI.
ANGGOTA FABRI (SOEYANTO SK, MBA} :
Dari Fraksi ABRI, itu mempunyai formula kalau dalam Batang Tubuh, Pasal khususnya ayat lagi pada dasarnya harus singkat. Nah kemudian kejelasannya ada
dalam penjelasan. Oleh karena itu Fraksi ABRI berpendapat bahwa rumusan tetap sesuai RUU.
Demikian Bapak Ketua.
KETUA RAPAT :
Teri ma kasih Fraksi ABRI.
Silakan dari Pemerintah.
PEMERINTAH :
Penjelasan Pasal 15 ayat ( 1) sebetulnya ad al ah antisipasi.
· Jadi begini, memang dimaksudkan bahwa ketentuan-ketentuan tadi yang sifatnya adalah kewenangan operasional itu akan direncanakan untuk diatur dengan Peraturan Pemerintah atau maksud kami Peraturan Bank Indonesia. Namun mengan-tisipasi bahwa hampir selalu setiap peraturan yang dimuat dalam Undang-Undang yang menunjuk pengaturan lebih lanjut dalam suatu peraturan biasanya dari penyu-sun harus mempersiapkan kira-kira apanya yang mau diatur untuk sekedar rambu-rambu. Dengan antisipasi itu maka dibuatlah rumusan penjelasan ini untuk n:eng-gambarkan apa-apa yang nantinya akan merupakan bagian dari fungsi yang akan diatur di dalam Peraturan Pemerintah. Jadi maksudnya ini adalah rincian dari hal-hal yang akan diatur di dalam Peraturan Pemerintah. Jadi ini tinggal apakah Batang Tubuh atau di Penjelasan. Kami sendiri berpendapat bahwa, karena ini rencana semula adalah akan diatur dalam Peraturan Bank Indonesia, maka cukup di dalam Penjelasan, tetapi kami tentu saja mengikuti nanti kalaupun diputuskan kami menunggu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih kepada Pemerintah, kita kembalikan kepada yang memiliki DIM.
Silakan dari Fraksi Persatuan Pembangunan.
ANGGOTA FPP (DRS. IRGAN CHAIRUL MAHFIZ) :
Kami dapat memahami apa yang telah disampaikan Pemerintah. Secara substansi mungkin dapat kita sepakati bahwa perlu ketegasan tentang wewenang, menetapkan, dan melaksanakan sistem pembayaran. Kami berharap (karena ·ini norma ya), dan kita berharap juga perlu ketegasan kita tentang apa-apa yang harus menjadi kewenangan Bl, maka sewajarnya kami melihat bahwa kewenangan ini harus dicantumkan dalam Batang Tubuh. Begitu pun kami serahkan juga kepada
forum, kira-kira tempat yang tepat untuk ini, tetapi menurut anggapan kami ini lebih tepat di Batang Tubuh, sehingga lebih tegas dan lebih jelas ketimbang penjelasan karena penjelasan, ini terus terang saja Pak orang-orang jarang membolak-balik penjelasan, dia melihat ke Batang Tubuh.
Kami kira demikian.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih kepada Fraksi Persatuan Pembangunan.
Dalam pembahasan sebelumnya juga tadi di DIM-DIM sebelumnya kita berbi-cara juga tentang kewenangan-kewenangan ini. Mungkin itu juga pertimbangan untuk Fraksi-fraksi melihat apakah saran ini sebaiknya bagaimana.
Silakan dari Fraksi ABRI.
ANGGOTA FABRI (SOEYANTO SK, MBA } :
Dari Fraksi ABRI, kalau kita baca ayat (2), itu pelaksanaan kewenangan sebagai dimaksud dalam ayat ( 1) ditetapkan dengan peraturan Bank Indonesia. Jadi yang dijelaskan itu pokok-pokok yang akan diatur dalam peraturan Bank Indonesia.
Kalau ini mau dijadikan yang penting dalam Batang Tubuh, kita melihat sebelumnya juga, yang menyangkut pokok-pokok peraturan Bank Indonesia itu selalu dalam Penjelasan. Jadi dengan demikian saya selalu berfikir masalah konsistensi Pak, ini penting karena kalau tidak konsisten ini nanti akan kembali kemana-mana nanti semuanya masuk ke Batang Tubuh ya maksudnya juga cukup jelas, juga mungkin ada suatu penyanggahan. Kalau baca itu belum tentu mau baca Penjelasan, ya salah kalau tidak mau baca Penjelasan, karena Undang-Undang itu utuh Pak, utuh dari depan sampai belakang. Jadi bukan maksud kami menolak gagasan yang baik dari Fraksi Persatuan Pembangunan, tetapi saya akan mencoba masalah konsistensi ini perlu Pak. Nanti kalau tidak akan terjadi pembahasan yang akan selalu berulang-ulang dan tidak efektif.
Teri ma kasih Pak Ketua.
KETUA RAPAT :
Terima kasih kepada Fraksi ABRI.
Silakan Fraksi Karya Pembangunan.
ANGGOTA FKP (DRS. PASKAH SUZETTA) :
Terima kasih Ketua.
Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh FPP. Oleh FPP, bahwa ini kita tidak bisa memberikan blanko kosong ke Pemerintah, maka dari itu paling tidak di dalam penjelasan nanti perlu ada lebih lanjut dijelaskan bagaimana apa yang menjadi pokok-pokoi< peraturan Bank Indonesia tersebut, itu terdiri dari apa saja. lni perlu ada kejelasan. lni sebaiknya sudah disampaikan oleh Pemerintah pointer-pointernya begitu.
Teri ma kasih.
KETUA RAPAT :
Teri ma kasih kepada FKP dan itu sud ah ada daf am halaman 1 5 di penjelasan ayat {2}, "Pokok-pokok ketentuan yang akan ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia.", berarti tidak mandat kosong.
Dilanjutkan kepada Fraksi PDI.
Silakan.
ANGGOTA FPDI (NICO DARYANTO) :
Pendirian POI disini tidak ada perubahan, jadi ini yang paling baik, di luar ini tidak baik. Kalau kita tidak bisa betul-betul diyakinkan, kali ini kami belum yakin, jadi kami mempertahankan yang ini saja.
Terima kasih.
KETUA RAPAT ;
Terima kasih kepada Fraksi Partai Demokrasi Indonesia.
Sekarang kami kembalikan kepada Pemerintah.
PEMERINTAH :
Teri ma kasih Bapak Pimpinan.
Kami mencoba akomodatif terhadap semuanya. Seninya adalah bagaimana akomodasi seluruhnya. Jadi kami akan konsisten sehingga dengan demikian rumu-san Pasal 15 ini seyogyanya konsisten dengan rumurumu-san Pasal 10, itu pertama.
Kedua, seyogyanya memang ada aturan-aturan yang masuk, ini FPP, juga FKP, seyogyanya ada rumusan. Kebetulan rumusannya perincian sudah ada sehingga kami otomatis sudah akomodatif tinggal bagaimana mengakomodasi usulan FABRI dan FPP. Ternyata setelah kami coba teliti kembali di Pasal 10. Di dalam Pasal 10
ayat ( 1) memang ada garis besar dari wewenang yang diberikan, yaitu dengan huruf a dan b pad a ayat ( 1), "Bank Indonesia berwenang titik dua (:) ".
Jadi berbeda dengan di dalam Pasal 15, "berwenang menetapkan dan melaksana-kan sistem pembayaran ", tidak ada a dan b nya perincian lebih lanjut. Jadi kalau untuk konsisten dengan itu, dan sekaligus akomodatif dengan usul dari FPP, kami melihat bahwa dari penjelasan Pasal 15 ayat ( 1) ada yang bisa dipetik dan dima-sukkan di dalam Batang Tubuh, tidak seluruhnya, tetapi ada tiga butir utama bisa dimasukkan, yaitu yang meliputi :
Pertama, memberikan persetujuan atas penyelenggaraan atas jasa sistem pem-bayaran;
Kedua,
ketiga,
mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran menyampaikan laporan tentang kegiatannya; dan
menetapkan penggunaan alat pembayaran.
Tiga hal utama itu bisa dimuat di dalam Batang Tubuh, selebihnya masih dipertahankan di dalam Penjelasan, karena elaborasi lebih lanjut dari tiga yang utama ini.
lni k.alau konsep demikian bisa diterima, kami mengusulkan dirumuskan nanti dalam Timus dan Tim Sinkronisasi.
Terima kasih Pimpinan, untuk dibuatkan nanti sisipan mungkin disambung pad a ayat ( 1) atau· langsung di dalam pembuatan ayat (2). Dengan ·demikian ayat
Dari Pemerintah akomodatif, khususnya yang ditanggapi terakhir adalah merespon saran dari Fraksi Persatuan Pembangunan untuk menambahkan kewe-nangan dimasukkan ke dalam Batang Tubuh dan disepakati dan atau direncanakan rumusannya mencakup c, d, e dari penjelasan Pasal 15 ayat (1 ). Rumusannya nanti diserahkan ke Timus.
Bagaimana dari Fraksi Persatuan Pembangunan.
ANGGOTA FPP (DRS. ENDIN A.J. SOEFIHARA, MM) :
Terima kasih Pimpinan.
Apa yang disampaikan oleh Pemerintah, itu sangat memberikan ketenangan dan kesenangan bagi FPP ini. Oleh karena itu kalau boleh kami mengusulkan apa disampaikan oleh Pemerintah itu sebagai bahan nanti kita percakapkan bisa saja
dmasukkan langsung dari tiga yang pokok tadi. Kalau nanti dalam percakapan harus ada lain yang dimasukkan, saya kira boleh-boleh saja untuk kita jadikan acuan DIM ini apa yang disampaikan oleh Pemerintah. Kami menyambut baik usulan Pemerin-tah. Usulan ini didukung oleh keyakinan kami kenapa kami mengusulkan DIM ini.
Yang pertama, dilandasi oleh pertanyaan kewenangan apa itu yang harus dimiliki oleh Bank Indonesia, ternyata ketika bertanya kewenangan apa, kita temui di Penje-lasan Pasal 15, kita temui kewenangan, ternyata disitupun kewenangannya cuma pokok-pokoknya begitu. Rinciannya akan kita temui di Peraturan Bank Indonesia.
Kenapa tidak kita tarik saja kalau pokoknya masuk ke Batang Tubuh, rinciannya masuk di Penjelasan begitu. Dan nanti lebih rincinya kembali masuk di Peraturan Bank Indonesia.
Oleh karena itu kami setuju apa yang disampaikan usul Pemerintah, bahkan persetujuan itu ada baiknya kalau kita masukkan di layar monitor.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Teri ma kasih.
Tetapi kalau kita melihat disini, mohon maaf menanggapi.
Mungkin kalau konsisten dengan Pasal 10 BAB V itu masuk ke dalam ayat ( 1). Walaupun ayat 1 tadi sudah, eh tadi masih Timus ya Timus betul.
Selanjutnya menyangkut masalah berwewenang itu, "berwenang titik dua (:) Bank Indonesia menetapkan dan melaksanakan sistem pembayaran dengan menca-kup a, b, c. ".
Silakan coba rumusan dari Fraksi Persatuan Pembangunan.
ANGGOTA FPP (DRS. IRGAN CHAIRUL MAHFIZ) :
Maaf Pimpinan.
Mungkin apa yang telah disampaikan oleh Pemerintah mungkin bisa ditampil-kan di monitor sebagai acuan kita. Oleh karena itu sebelum ayat (2) yang lama ini kita masukkan ayat (2) yang baru dengan kewenangan menetapkan dan melaksa-nakan sistem pembayaran sebagai berikut, mungkin point-point yang disampaikan Pak Menteri tadi bisa kita cantumkan di monitor. Jadi mohon kepada tim monitor bisa dibantu untuk mencantumkan ayat (2) baru, ayat (2) lama kita jadikan ayat (3) baru di DIM Nomor 54.
KAETUA RAPAT :
Bisa juga 53 a begitu lah.
lya iya, kasih hijau itu.
ANGGOTA FPP (DRS. IRGAN CHAIRUL MAHFIZ) :
Mungkin karena pembicaraan kita di DIM Nomor 54 Pimpinan, paling tepat di DIM Nomor 54, karena di DIM Nomor 53 kita sepakat sudah di Timus.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Silakan, mungkin kalimat kewenangan sebagaimana dimaksud ayat ( 1) atau Pasal 15 ayat (1} atau kewenangan Bl disitu ya. "Kewenangan Bank Indonesia dimaksud pada Pasal 5 ayat ( 1) sebagai meliputi titik dua (:) "a".
Silakan.
ANGGOTA FABRI {SOEYANTO SK, MBA) :
Kalau saya tidak salah tangkap, Pemerintah itu bukan mencantumkannya pad a ayat (2), justru pad a ayat ( 1}, karena konsisten dengan Pasal 10. Ayat (2) itu sudah pelaksanaan kewenangannya, tetapi disini disebutkan berwenang menetap-kan ini, yang meliputi antara lain, kalau tidak salah bcgitu. ~,,fohon konfirmasi dulu dengan Pemerintah Pak, karena ini saya tadi, mungkin saya salah tangkap tetapi saya jelas tadi menangkap bahwa "melaksanakan sistem pembayaran yang me/iputi antara lain bla bla bla... bla dan seterusnya. ". Kai au yang ayat (2) ini kan masalah pelaksanaannya, mohon dikonfirmasikan dulu dengan Pemerintah Pak.
Teri ma kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Kita tuangkan saja dulu sepiro angele itu membuang duanya. Jadi dicantum-kan dulu seperti yang tercantum di pasal 15 itu, dicantumdicantum-kan dulu ya. "mewajibdicantum-kan penyelenggara jasa sistem pembayaran manyampaikan laporan tentang kegia-tannya, kewajiban penyampaian /aporan berlaku pada penyelenggara jasa sistem pembayaran yang tidak memerlukan persetujuan Bank Indonesia apabila data kegia-tannya diperlukan untuk melaksanakan tugas Bank Indonesia sebagaimana dimak-sud Pasal 5, menetapkan penggunaan a/at pembayaran. "
Dan formula ini bisa jug a dicantumkan ke ayat ( 1}, kalau ke ayat ( 1) nanti bunyinya "berwenang menetapkan dan melaksanakan sistem pembayaran meliputi. "
Mungkin itu juga bisa seperti itu. ltu yang dimaksud dari Fraksi ABRI. Jadi itu dija-dikan satu kalau mau konsisten ya, betul-betul konsisten sampai dengan ayat, disesuaikan saja, dari situ meliputi, terus kewenangannya dicoret, masuk ke atas hijau, titik dua (:), nah ini masuk, jadi dua dan seterusnya, antara lain tepat,
"meliputi antara lain. ". Tetapi di Pasal 10 tidak pakai antara lain.
Yang dua, Kewenangan Bank itu hapus, kembali lagi ke DIM Nomor 54, ya 2 (dua). Kalau demikian untuk DIM Nomor 54 ini, "pe/aksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1} ditetapkan dengan peraturan Bank Indonesia. "
Dengan demi~ian mungkin sudah bisa hitam
INTERUPSI ANGGOTA FKP (DRS. PASKAH SUZETTA) :
lnterupsi Sebentar Pak.
Tadi kami tanyakan, apakah antara lain ini, apakah hanya 3 ini atau mungkin ada yang lnin-lain gitu, kepada Pemerintah saya mohon konfirmasi.
Terima kasih.
PEMERINTAH :
Mohon waktu sebentar,
KETUA RAPAT :
Silakan
PEMERINTAH (MENTERI KEUANGAN) :
Berkenan Bapak Pimpinan, untuk meminta bantuan rekan kami.
PEMERINTAH :
Terima kasih Ketua,
Sebetulnya kalau kewenangan yang diperlukan itu tidak terbatas pada yang ke 3 itu. Jadi mungkin dalam perumusannya itu bisa dirumuskan seperti termasuk ini, tapi tidak terbatas kepada itu formatnya. Karena ada beberapa yang lain diluar dari yang 3 itu yang mungkin masih bisa ditambahkan, hanya mungkin untuk perumusannya sekarang barangkali kami memerlukan waktu juga untuk barangkali bisa dibawa, misalnya ke Timus begitu, Pak.
ANGGOTA FKP (DRS. PASKAH SUZETTA) :
Kalau penjelasan begitu, FKP berpendapat ini tidak ke Timuskan tapi kita tunggu, kita berikan waktu saja pada Pemeritnah besok untuk memberikan tambahan antara lain ini.
Teri ma kasih.
111
KETUA RAPAT :
Mohon mungkin mohon maaf ya, ini kita mengajak saja melihat dihalaman 15 tadi, itu sejumlah kewenangan yang ada (a,b,c,d,e,f,g). ltu sesunguhnya dari sana awal pemikirannya, karena yang dituangkan didepan tadi hanya 3 (tiga) yang dianggap esensial, berarti yang lain-lain itu paling tidak ya 4 {empat) berikutnya ini.
ANGGOTA FKP (DRS. PASKAH SUZETTA) :
Pak Ketua,
Saya interupsi duJu.
Saya interupsi duJu.