• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGGOTA KOMISI I DPR RI: Pimpinan, 1 menit

KETUA RAPAT:

Sebentar, Pak TB tadi minta waktu.

F-PDI PERJUANGAN (TUBAGUS HASANUDDIN S.E., MM.): Baik, terima kasih waktu yang disediakan.

Yang saya hormati Bapak Menteri Luar Negeri,

Saya mencoba menyerap barangkali beberapa kejadian-kejadian terakhir ini dari publik atau dari masyarakat. Ketika sebelum kedatangan dari Presiden Amerika, kemudian selama ada di Bali dan kemudian kembali, khususnya misalnya saya mendapatkan juga beberapa semacam code and code, keluhan dari 2, 3 orang Perwira TNI yang dicopot jabatannya sebelum kehadiran Obama. Saya tidak akan menyebut nama dan sebagainya, dan itu merupakan sebuah persyaratan kalau mau Obama hadir di Indonesia. Saya tidak tahu, tetapi saya tidak tahu kebenaran berita itu, tetapi bahwa orang-orangnya, yunior kami yang dicopot seperti itu, ada, itu yang pertama.

Kemudian yang kedua misalnya, minta fasilitas masuk sekian pucuk senjata begitu, karena saya pernah mengalami, pada saat George W. Bush, saya yang diminta untuk mendampingi selama ada di Bali, terus mengikuti dia, pada saat itu juga minta sekian pucuk senjata, tetapi untuk masuk tetapi tidak diizinkan, sesuai dengan perjanjian sejak dulu antar negara. Kalau Kepala Negara masuk menjadi tanggung jawab Pemerintah setempat dan diperbolehkan tidak lebih dari 3 pucuk, tetapi kemarin kami dapat informasi, sekian pucuk itu meminta untuk dimasukkan dengan senjata perlengkapan dan sebagainya. Tidak lebih atau tidak kurang dari 110, 120 senjata, artinya ini berbicara masalah kedaulatan dan kebiasaan. Itu yang kedua.

Yang ketiga, ketika ada sebuah sikap Obama menyampaikan bahwa akan ada pasukan, penambahan pasukan di Darwin sebanyak 2.500 orang, dan lain sebagainya. Kemudian saya, mohon maaf ini, kalau memang benar, tetapi informasi ini kami rangkum dari teman-teman yang bisa validlah informasi ini. A1, kalau di militer itu. Ketika Bapak Menlu memberikan reaksi, kemudian reaksi itu dianggap terlalu keras, lalu ada teguran dari Bapak Presiden, apa Presiden Amerika atau Presiden Indonesia, saya tidak tahu, lalu Bapak Menlu akhirnya menurunkan tensi untuk memberikan katakanlah statement-nya. Nah, kemudian dan itu kelihatannya kan seolah-olah kita ini benar-benar masalah kedaulatan politik, ternyata kita memang belum berpihak di kita, artinya masih ada hegemoni kekuatan Amerika. Ini barangkali mohon penjelasan. Agar saya bisa tidur, karena saya pikir, biar bisa tidur nyenyak. Menteri saya, satu kampung sama saya, kok dimarahin Obama. Saya pikir apa alasannya?

Begitu, ini terima kasih Pak Menlu, terima kasih. KETUA RAPAT:

39 F-GERINDRA (H. AHMAD MUZANI):

Di tempat ini Pak Menlu, Duta Besar Iran menyebutkan bahwa Pemerintah Iran pernah menyampaikan surat kepada Pemerintah Indonesia untuk meminta agar Pemerintah Indonesia menjadi penengah atas konflik nuklir di Iran. Banyak negara yang diminta oleh Pemerintah Iran untuk menjadi wasitlah kira-kira begitu terhadap problem nuklir Iran dan yang menyampaikan respon positif adalah Brazil dan Turki. Indonesia ditunggu perannya dalam kasus ini, tetapi sampai dengan hari ini kata Duta Besar tidak ada respon, padahal perannya itu sangat ditunggu. Saya ingin klarifikasi, apa benar? Kalau benar, apa yang membuat ketidaktertarikkan kita terhadap upaya menciptakan perdamaian dunia yang abadi di kawasan Iran dan sekitarnya?

Yang kedua, menyambung apa yang disampaikan oleh Pak TB, memang ada perbedaan komentar antara yang disampaikan oleh Pak Menlu pada awalnya tentang penempatan 2.500 marinir Amerika di Darwin. Di awal pernyataan Pak Menlu menyatakan bahwa penempatan itu akan menghangatkan situasi di kawasan ini. Kemudian pernyataan itu kemudian kembali disanggah oleh Bapak, kira-kira diralat, bahwa itu sebagai bagian dari persiapan pelatihan bla-bla-bla dan seterusnya. Saya mengangap tadinya itu biasa-biasa saja, tetapi ketika kemudian ada perubahan pernyataan dari seorang Menteri Luar Negeri RI kita, menurut saya ini luar biasa. Pemberitaan di koran nasional bahkan disebutkan Presiden merasa lega dengan penjelasan Presiden Obama, maksud saya Presiden SBY atas penempatan itu dan seterusnya. Padahal menurut hemat saya, apa yang disampaikan oleh Pak Menlu pada pernyataan awal itu jelas benar. Penampatan 2.500 pasukan marinir Amerika di Darwin itu jelas mengancam kedaulatan Indonesia, karena Darwin adalah posisi yang letaknya langsung berhadapan dengan kita dan kawasan Asia Tenggara lainnya.

Kalau itu dimaksudkan untuk mempersiapkan penanggulangan bencana alam, itu jelas mengada-ada, jelas mengada-ada, dan itu hanya alasan yang diada-adakan. Karena itu menurut hemat saya, ada baiknya juga perlu dijelaskan ke forum yang terhormat ini, apa yang terjadi sebenarnya, sehingga tentu Darwin bukan wilayah kedaulatan kita dan kita tidak berhak mencampuri itu, tetapi sehingga kita tidak bisa berstrategi kalau-kalau dan kalau-kalau.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Baik, sudah 5 menit bergeser dari yang kita sepakati. Saya kira Pak Jeffrie masih belum selesai. Setengah menit ya?

F-PG (JEFFRIE GEOVANIE): Masih Ketua. Ya, terima kasih.

Saya sampai sekarang belum merasa bahwa Saudara Menteri menjawab pertanyaan saya, karena itu kemudian saya mengusulkan kepada Komisi I. Pertama, agar meminta laporan lengkap dari Kementerian Luar Negeri yang isinya adalah berapa banyak Kedutaan Besar kita di luar negeri? Dan kemudian, laporan 1 tahun terakhir mengenai aktivitas masing-masing di Kedutaan Besar kita di luar negeri tadi. Dan kemudian, pada masa persidangan berikutnya, pertemuan pertama kita dengan Kementerian Luar Negeri membicarakan mengenai masalah itu. Jadi yang pertama, laporan lengkap dulu mengenai masing-masing Duta Besar dan aktivitas masing-masing kedutabesaran itu. Itu kalau bisa sudah kita dapatkan sebelum akhir Desember ini.

Kemudian yang kedua, pada pertemuan yang pertama dengan Kementerian Luar Negeri pada masa persidangan berikutnya diagendakan untuk membahas itu, karena ini masalah uang besar yang tidak efisien digunakan. Ada Rp. 6 trilyun uang rakyat Indonesia digunakan untuk Perwakilan Luar Negeri kita. Saya merasa belum ada efisiensi atas itu, karena saya menganggap dan tetap percaya, kita hanya butuh 30, 40 Perwakilan di luar negeri. Itu yang pertama

Yang kedua, justru dengan data tadi yang ditampilkan tadi oleh Pak Marty di slide tadi, saya juga melihat bahwa kelihatan beda tata itu bahwa kalau kita mau cermati beda tata itu lebih dalam, makanya itu juga kita perlu minta nanti. Hubungan bilateral yang terbangun itu apakah hubungan bilateral dengan negara-negara yang bermanfaat buat kita atau hubungan bilateral dengan negara-negara yang tidak ada manfaatnya buat kita. Itu juga harus kita minta datanya

40 lebih lengkap, karena begini Ketua, begini Pimpinan dan teman-teman yang lain, kalau kita berhubungan bilateral dengan banyak negara, tetapi negaranya sama-sama susahnya sama kita, susah kali susah itu, susah kuadrat Ketua., tidak ada manfaatnya buat kita. Jadi saya pengin tahu presentase antara hubungan bilateral kita dengan negara-negara besar apa tidak itu? Karena kalau saya lihat sepintas tadi, sedikit negara besarnya, lebih banyak negara-negara yang susahnya. Jadi 2 hal ini saya rasa penting kita cermati untuk melihat Kementerian Luar Negeri kita ke depan.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Jeffrie Geovanie.

Tadi Pak Menteri sudah menawarkan terkait dengan kebijakan hubungan bilateral, multilateral, lalu pendekatan-pendekatan di dalam hubungan diplomatik kita, apakah fungsional teritorial seperti yang dilakukan sekarang. Kemudian orientasi dalam kepentingan dan capaian ekonomi ini tadi ditawarkan untuk kita ada sesi secara khusus. Nah, kalau kita ingin break down sampai kepada data capaian setiap KBRI kita, sehingga kita tahu bagaimana kinerja Dubes-Dubes kita, wah itu jauh lebih bagus lagi. Saya kira ini ide yang menarik. Dan kalau kita sepakati, ini menjadi agenda Raker awal tahun kita, karena tidak mungkin ya data lebih cepat lebih bagus. Prinsip Pak Geovanie begitu, tetapi kita akan agendakan di awal Januari. Dan memang ini ada yang menarik Pak Menteri, ini terjadi secara kebetulan saja. Tiba-tiba pandangan Pak Tantowi, pandangan Pak Jef, pandangan beberapa teman yang lain, ini seperti bertemu, walaupun ini tidak pernah ada kongkow-kongkow-nya. Dan ketika saya diminta oleh majalah Diplomasi menyiapakan 1 paper, saya membuat paper dengan judul yang senada “Perlunya Polugri RI lebih berorientasi pada dikonomi”.

Jadi, saya kira memang ini ada pikiran-pikiran yang menyambung. Di tengah-tengah apresiasi kita terhadap kinerja politik luar negeri kita, baik bilateral kawasan maupun multilateral. Nah, jadi pertanyaannya kira-kira sejauh mana kebijakan politik luar negeri kita sekarang ini sampai saat ini? Berimplikasi pada pencapaian ekonomi atau lebih jauh lagi? Apakah Polugri kita memang sudah di-design sedemikian rupa untuk capaian-capaian ekonomi yang lebih progresif, yang lebih maju. Saya kira Kemlu kalau mengambil posisi ini luar biasa. Dan Pak Syahfan tadi sudah siap untuk merespon ajuan dari Pak Sony yang tadi dibilang Pak Syahfan tawadu’ dalam urusan anggaran katanya.

F-PG (Drs. ENGGARTIASTO LUKITA):

Ketua, catatannya tadi adalah termasuk sampai dengan kajian dari Kementerian Luar Negeri mengenai postur dari seluruh Perwakilan, jumlah yang ada ini seberapa besar bisa dikurangi?

KETUA RAPAT:

Ya, saya kira itu penting juga kita berbagi informasi pengetahuan, data, karena ada prinsip-prinsip procal dan sejauhmana itu implikasinya dan implementasinya di lapangan, saya kira juga menjadi penting untuk kita share informasi itu.

Bapak-ibu sekalian,

Banyak hal yang tentu saja belum bisa kita tuntaskan, tetapi karena waktu yang juga membatasi kita dan jam 19.00 WIB kita ada RDP dengan LPP TVRI dan RRI. Saya ingin mengajak kita pada bagian yang paling akhir, yaitu kesimpulan dari Rapat Kerja kita. Saya usulkan ini saya bacakan dulu, ada 5 point.

F-PDI PERJUANGAN (TUBAGUS HASANUDDIN, S.E., MM.):

Ketua, kalau boleh mungkin 1, 2 kata saja beliau, apakah betul Menlu saya yang saya hormati itu ditegur oleh Sdr. Obama itu?

KETUA RAPAT:

41 MENTERI LUAR NEGERI RI:

Terima kasih Bapak Pimpinan. Satu, dua kata, tidak benar.

F-PKS (Drs. AL MUZZAMMIL YUSUF): Pak Ketua, 30 detik.

Saya kira sedikit Pak Ketua, kita itu dari waktu Dzuhur sampai rapat kita sampai Maghrib, kita bisa keluar-masuk sholat. Saya takut kita menanggung dosa bersama saja. Saya tidak tahu berapa diantara mereka yang terhambat untuk Sholat Ashar. Saya kira negara Pancasila ini menghormati Ketuhanan Yang Maha Esa. Demikian, saya ingin mengingatkan. Sehingga kalau dilanjutkan, saya sudah terlepas dari persoalan urusan tanggung jawab akhirat.

Terima kasih.

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Terima kasih, ini diingatkan.

Kita memang tidak break tadi, karena merasa sudah bisa keluar sholat duluan. Baik, kalau begitu saya ingin percepat saja. Bagaimana? Perlu kita break dulu? Ya, kita percepat, baik. Saya bacakan saja cepat. Ini catatan Pak Muzzammil perlu perhatian kita semua juga untuk tidak memperdebatkan ini lagi.

1. Dalam rangka untuk mendukung pembangunan perekonomian nasional, Komisi I DPR RI meminta kepada Kemlu untuk dapat meningkatkan intensifikasi diplomasi RI di bidang ekonomi, khususnya terkait dengan upaya untuk mendukung peningkatan neraca perdagangan internasional RI dan mengundang peningkatan investasi di Indonesia.

Oke ya?

Dokumen terkait