• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT KERJA KOMISI I DPR RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT KERJA KOMISI I DPR RI"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

1 DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA RISALAH

RAPAT KERJA KOMISI I DPR RI Tahun Sidang : 2011-2012

Masa Persidangan : II

Jenis Rapat : Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Menteri Luar Negeri RI Sifat Rapat : Terbuka

Hari/Tanggal : Kamis, 15 Desember 2011 Waktu : 14.00 WIB

Tempat : Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Gedung Nusantara II Lt. 1 DPR RI Ketua Rapat : Drs. Agus Gumiwang Kartasasmita, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sekretaris Rapat : Suprihartini, S.IP., Kabagset. Komisi I DPR RI

Acara : 1. Hasil Pelaksanaan KTT ASEAN ke-19 dan East Asia Summit

2. Kebijakan Politik Luar Negeri RI terkait dengan Dinamika Perkembangan di Kawasan MENA

3. Perkembangan Penempatan Kepala Perwakilan/Duta Besar LBBP RI untuk Negara-Negara Sahabat

4. Isu Papua dalam Forum-Forum Internasional Hadir : - orang dari 47 orang Anggota Komisi I DPR RI

- Menteri Luar Negeri RI, Dr. R.M. Marty M. Natalegawa, beserta jajaran

Jalannya Rapat :

KETUA RAPAT (Drs. AGUS GUMIWANG KARTASASMITA/F-PG): Selamat sore,

Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang kami hormati, kami banggakan Pimpinan Komisi I DPR RI, Anggota Komisi I DPR RI,

Juga yang kami hormati, kami banggakan Menteri Luar Negeri, beserta jajarannya. Pertama-tama, tentunya kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Luar Negeri dan jajarannya, juga tentunya kepada Rekan-rekan Anggota Komisi I yang telah hadir dalam Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Menteri Luar Negeri. Adapun Bapak Ibu sekalian, agenda atau isu yang telah ditetapkan, yang akan dibahas dalam Raker ini adalah yang pertama berkaitan dengan KTT ASEAN ke 19 dan East Asia Summit. Kita ingin mendengar laporan dari pihak Pemerintah atau cerita dari, hasil cerita dari KTT ASEAN dan East Asia Summit, juga kemudian kebijakan politik luar negeri. Ini agenda yang kedua, terkait dengan dinamika perkembangan di kawasan MENA (Middle East and North Africa). Yang ketiga, perkembangan penempatan Kepala Perwakilan/Dubes LBB RI untuk Negara-Negara Sahabat, dan lain-lain sebagainya, termasuk nanti di dalamnya kalau perlu untuk membahas hal yang berkaitan dengan masalah Papua. Nanti kami melihat Pak Menteri, ada beberapa pejabat baru yang duduk di deretan paling depan, yang memang barangkali ini pertama kali mengikuti Raker kita dengan Komisi I, walaupun kami kenal semua Pak Menteri, tetapi ada baiknya nanti Pak Menteri memperkenalkan kepada kami. Sebelum kami lanjutkan, izinkanlah saya untuk membuka rapat ini dan rapat ini saya buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

(2)

2 KETUK PALU 1 X

Mengenai waktu, kita upayakan kalau bisa selesai jam 4 ya? Setuju tidak? Karena Pak Menteri, kita ada rapat lagi, RKA/KL TVRI yang juga belum kita selesaikan oleh Komisi I. Jadi kita selesaikan jam 4 ya?

KETUK PALU 1 X Baik, Bapak Ibu sekalian,

Yang terhormat Anggota Komisi I,

Pak Menteri Luar Negeri beserta jajarannya.

Kami persilahkan sekarang untuk Bapak Menteri Luar Negeri untuk memberikan paparan berkaitan dengan agenda Raker kita hari ini, tetapi sebenarnya tolong diperkenalkan pejabat yang baru dilantik, silahkan Pak.

MENTERI LUAR NEGERI RI (Dr. R.M. MARTY M. NATALEGAWA):

Bapak Ketua dan Pimpinan Komisi I beserta Anggota yang kami hormati dan Rekan-rekan kami dari Kementerian Luar Negeri dan hadirin yang berbahagia.

Assalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.

Terima kasih Bapak Pimpinan, bahwasanya pada siang, sore hari ini Kementerian Luar Negeri berkesempatan untuk kembali mengadakan Rapat Kerja dengan Komisi I mengenai agenda sebagaimana tadi Bapak Pimpinan Komisi I telah sampaikan kepada kita semua. Namun sebagaimana tadi juga disarankan, kami ingin memulai paparan singkat kami dengan merujuk kepada rekan kami di Kementerian Luar Negeri yang mungkin belum secara resmi di hadapan Komisi I diperkenalkan, meskipun kami yakin bahwasanya rekan-rekan di Komisi I, Pimpinan Komisi I juga sudah mengenal beliau. Yang kami ingin perkenalkan secara resmi adalah Bapak Duta Besar, A.M Fachir, beliau duduk sebelah kiri kami, Pak Fachir sebagai Duta Besar RI di Kairo di masa lalu, sekarang beliau menjabat sebagai Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik. Tentu para Anggota Komisi I yang terhormat mengingat sepanjang tahun ini ada beberapa hal yang sangat menyangkut masalah Mesir, terutama yang berkaitan dengan masalah evakuasi Warga Negara kita dan pada saat itu Bapak Duta Besar, Bapak Fachir sedang masih bertugas sebagai Dubes kita di Kairo. Selain itu kami lihat yang lainnya, kami kira sudah diperkenalkan, Pak Suprapto, Staf Ahli Bidang Ekonomi, juga sebenarnya sudah cukup lama menjadi jabatan termaksud, kalau yang lain kami kira sudah familiar faces, Ibu Lingga sudah sebagai Direktur Jenderal HPI sudah cukup lama bertugas, yang lain-lain justru Bapak Pimpinan dalam waktu dekat dengan persetujuan dan dukungan dari Pimpinan Komisi I dan Anggota Insya Allah akan memulai tugas baru di Perwakilan, seandainya semua berjalan sesuai dengan rencana.

Bapak Pimpinan, kami tadi sudah mencatat batas waktu atau time frame yang ditetapkan oleh Pimpinan Komisi I. Oleh karena itu, kami tidak akan mungkin terlalu panjang dalam memaparkan. Secara garis besar, hal-hal yang sesuai dengan agenda Raker pada siang dan sore hari ini, bahan tertulis dengan segala kelebihan dan kekurangannya sudah diedarkan untuk memfasilitasi pembahasan pada siang hari ini. Namun dengan perkenan Pimpinan dan Anggota Komisi I yang terhormat, kami ingin menyampaikan juga dalam bentuk power point sebagaimana tampil di layar di hadapan atau di samping ruangan ini.

Selanjutnya, mengenai agenda yang pertama Bapak Pimpinan dan Anggota Komisi I yang terhormat, masalah Keketuaan Indonesia di ASEAN pada Tahun 2011, kami ingin mencatat atau menyampaikan, mengulang kembali bahwa sejak awal tahun kepemimpinan Indonesia atau Keketuaan Indonesia di ASEAN, ada tiga prioritas utama yang telah ditetapkan yang menjadi semacam rujukan atau referensi dalam memastikan adanya kemajuan dalam Keketuaan Indonesia. Yang pertama, yang paling sifatnya ASEAN Centric, yaitu memastikan bahwa pada tahun Keketuaan kita akan ditandai oleh kemajuan yang signifikan dalam pencapaian komunitas ASEAN. Jadi yang benar-benar sifatnya focus terhadap ASEAN-nya itu sendiri. Yang kedua, yang lebih luas dari ASEAN, yaitu memastikan kawasan di Asia Pasific secara lebih luas yang

(3)

3 juga tetap aman, tetap damai, stabil, sehingga memungkinkan upaya-upaya pencapaian pembangunan sebagaimana telah kita lakukan, negara-negara ASEAN lakukan selama beberapa dekade terakhir ini dan yang ketiga, sesuai dengan tema Keketuaan Indonesia menggulirkan pembahasan mengenai perlunya visi ASEAN Pasca 2015. Yang ketiga ini Bapak Pimpinan, mungkin ketahui ini adalah upaya kita untuk memastikan pengaruh Keketuaan Indonesia lebih dari semata pada Tahun 2011, namun justru juga menetapkan atau memetakan perananan ASEAN atau perkembangan ASEAN selama 10 tahun mendatang dan tidak selama hanya waktu Tahun 2011 ini.

Selanjutnya, berdasarkan kriteria atau pendekatan seperti itu Bapak Pimpinan dan Anggota Komisi I yang terhormat, prioritas pertama tadi kami laporkan mengenai kemajuan yang signifikan dalam membentuk Komunitas ASEAN sebenarnya bentuk kemajuannya sangat beragam dan mustahil kami sampaikan satu persatu, namun kalau ditanya ada beberapa indikator atau contoh kasus, misalnya perkembangan mengenai kawasan bebas senjata nuklir Asia Tenggara, suatu perjanjian (treaty) yang sudah disepakati sudah hampir lebih dari 10 tahun dan hampir 10 tahun pula tidak ada kemajuan selama ini bahkan di antara Negara ASEAN-pun tidak ada posisi bersama, namun di bawah Keketuaan Indonesia semenjak bulan Juli yang lalu, sudah ada penuntasan perundingan antara Asia Tenggara, ASEAN, dan Negara-Negara Nuklir, sehingga kita sekarang diawal proses aksesi oleh Negara-Negara Nuklir terhadap kawasan bebas senjata nuklir di Asia Tenggara. Hal ini tentu semakin melengkapi kemajuan di bidang perlucutan senjata sebagaimana telah dicapai berkat dukungan Komisi I, yaitu mengenai masalah Traktat Pelarangan Uji Coba Senjata Nuklir (CTBT) yang baru diratifikasi minggu lalu. Kedua, mengenai penguatan kapasitas ASEAN dalam manajemen konflik, kami kira ini juga satu ciri yang cukup menonjol tahun ini, kasus Thailand, Kamboja meskipun masalah intinya belum terselesaikan, namun sudah tampak jelas bahwasanya ASEAN kini dianggap memiliki kompetensi dan memiliki wajar bagi ASEAN untuk melibatkan diri secara tepat dalam pengananan konflik-konflik diantara sesama Negara ASEAN. Masalah Myanmar tentu sangat dipahami betapa selama satu tahun terakhir ini perkembangan di Myanmar kami kira jauh lebih dari sepanjang 10 tahun terakhir ini mungkin bisa dikatakan dan itu adalah berkat dari upaya bersama Negara-Negara ASEAN menciptakan semacam irreversible momentum agar ada lockingien, perkembangan-perkembangan yang positif benar-benar dikunci dan kami sendiri mengadakan pertemuan dengan Daw Aung San Suu Kyi beberapa minggu yang lalu dan minggu depanpun akan kembali ke Myanmar untuk semakin mengunci proses demokratisasi di Myanmar agar tidak kembali ke posisi semula, bahwasanya negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan lain-lain sekarang juga akan melakukan hal yang serupa terhadap Myanmar, kami kira menujukkan betapa Negara-Negara ASEAN, termasuk Indonesia telah menjadi negara yang mempengaruhi situasi dan bukan semata mengikuti keputusan dari Negara-Negara Barat untuk re-engaged dengan Myanmar. Yang lainnya, kami singkat saja Bapak Pimpinan, masalah jejaring pusat pemeliharaan perdamaian, inisiatif Indonesia, visa bersama ASEAN, demikian pula masalah ASEAN Declaration on Human Rights. Selanjutnya, di pilar ekonomi ada tiga, antara lain yang kita kedepankan, pembangunan ekonomi yang merata atau accutable economic development di ASEAN ya, selama ini kurang memperoleh perhatian, seperti halnya masalah-masalah lain kita kedepankan yang sifatnya bukan hanya antar negara, melainkan juga antar kawasan sub-kawasan di ASEAN dan lain-lain, sebagaimana terindikasi termasuk mengenai konektivitas ASEAN.

Selanjutnya, di bidang sosial budaya, kami kira ini cukup banyak dan beragam hal-hal yang kita lakukan dari masalah HIV, AIDS, masalah kemanusiaan, bencana alam, masalah penyandang disabilitas, hak-hak wanita dan pemberdayaan wanita, pekerja migrant. Hak-hak pekerja migrant ini masih work in progress, kalau kami betul-betul, sebenarnya harapkan, kita sangat mengharapkan masalah ini sudah bisa tuntas di bawah Keketuaan Indonesia, namun kenyataannya belum 100% tuntas, namun kini sudah ada road map, sehingga sudah ada peta jalan ke arah adanya konvensi bersama ASEAN mengenai pekerja migrant dan selanjutnya. Prioritas yang kedua Bapak Pimpinan, kawasan yang kondusif bagi pembangunan, kami kira kemajuan yang dicapai di bidang laut di masalah Laut Cina Selatan ini suatu perkembangan yang cukup penting selama satu tahun terakhir, sekali lagi masih work in progress, masih berlangsung, berlanjut, namun dibandingkan dengan tahun lalu, misalnya saat ini kita sudah

(4)

4 memiliki guide lines mengenai Laut Cina Selatan. Saat ini kita sudah memasuki proses code of conduct mengenai Laut Cina Selatan. Jadi jelas sudah ada kanalisasi permasalahan Laut Cina Selatan yang lebih baik dibandingkan masa lalu. Semenanjung Korea juga penanganannya meskipun tidak 100% oleh ASEAN, minimum paling tidak ASEAN Regional Forum telah memungkinkan dicairkannya kembali hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang sempat sangat tajam perbedaannya. Butir tiga mengenai TEC, butir empat mengenai Timor Leste menjadi Anggota ASEAN, prosesnya sudah semakin bergulir, meskipun belum secara formal diterima tahun ini, tetapi secara politik sudah disambut secara positif oleh Negara ASEAN, kita sekarang harus duduk bersama untuk mencari, menetapkan modalitasnya.

Mengenai kawasan yang damai, kita lakukan juga melalui East Asia Summit, Bapak Pimpinan, kami ingin melaporkan bahwasanya kita seiring atau selaras dengan masuknya Amerika Serikat dan Rusia ke dalam East Asia Summit pada saat yang bersama kita juga mengesahkan yang dinamakan Bali Principles, yang antara lain mengukuhkan penyelesaian konflik antara Negara Asia Timur melalui cara-cara damai. Kami kira itu satu perkembangan yang sangat penting yang perlu digarisbawahi, karena bisa menciptakan, melanggengkan perdamaian di kawasan kita. Selanjutnya ini adalah Bali Principles, tadi kami sudah sebut, dengan diterimanya Rusia, maka ASEAN dan Amerika Serikat dalam IES, maka ASEAN memiliki peluang untuk dapat menetapkan prinsip-prinsip dasar yang mengatur hubungan dan interaksi negara kunci di Asia Timur dan intinya prinsip-prinsip yang dinamakan Bali Principles ini yang utamanya adalah ada 12 prinsip, termasuk di sini masalah penyelesaian sengketa secara damai. Intinya sebenarnya ini semacam TEC (Treaty Of Amity and Cooperation), namun kali ini berlaku untuk seluruh Negara Asia Timur, tidak semata buat Negara-Negara Asia Tenggara. Selanjutnya ini ditampilkan dalam bentuk skema. Jadi ASEAN dan dialog partners-nya selama ini sudah ada hubungan yang ditandai oleh TEC, mereka menghormati TEC terhadap ASEAN, namun dengan adanya Bali Principles, maka semangat seperti TEC sekarang mengatur bukan saja hubungan antara ASEAN, melainkan diantara sesama Negara-Negara Asia Timur Non ASEAN, misalnya Rusia, India, India, Australi, Australia, New Zealand, dan lain-lain. Jadi ini prinsip yang sangat penting, yang masih untuk digarap dan dikedepankan, karena ini bagian dari upaya kita untuk menghindari adanya semangat pecahnya kembali semangat perang dingin di Kawasan Asia Timur.

Selanjutnya, selain itu ada kesepakatan mengenai ketahanan pangan, ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve, ini adalah sesuatu yang sangat penting juga. Prioritas ketiga, sebagaimana diketahui, sesuai dengan tema komunitas ASEAN dalam komunitas global bangsa-bangsa yang dinamakan Bali Concord III, intinya meningkatkan kerja sama ASEAN di 10 tahun mendatang, yang semakin meningkatkan koordinasi dan kohesi ASEAN di forum-forum global dan ini tercerminkan Bapak Pimpinan dan Anggota, dalam grafik ini betapa setiap kali Indonesia menjadi Ketua, ada pijakan-pijakan yang baru yang mengantarkan ASEAN ke tingkat kerja sama yang lebih tinggi. Tahun 1976 ASEAN Concord yang pertama, 2003 ASEAN Concord kedua mengenai ASEAN Community dan Bali Concord III mengenai ASEAN Community in Global Community of Nations yang kesemuanya dilandasi oleh (suara tidak jelas) ASEAN. Nah, inilah yang sangat kita utamakan, ASEAN yang beriorientasi pada masyarakat, masih sangat work in progress, masih berlangsung, berlanjut, karena jelas rasa kekitaan di ASEAN tidak bisa diciptakan sekejap, melainkan merupakan suatu proses yang harus secara terus menerus dikembangkan.

Tahun 2012 Insya Allah kita ingin memastikan ketiga prioritas yang telah ditetapkan oleh Indonesia dan bahkan oleh ASEAN, seperti tadi kami laporkan, dapat dikukuhkan dan dilanjutkan oleh ASEAN. Namun ada beberapa masalah khusus yang mungkin memerlukan perhatian oleh Indonesia, khususnya masalah code of conduct Laut Cina Selatan ini sesuatu yang sudah bergulir dan kita harus pertahankan momentumnya dan target Indonesia adalah agar code of conduct ini bisa dihasilkan tahun depan. Kamboja dan Thailand masih tetap menjadi tanggungjawab Indonesia, karena baik Thailand maupun Kamboja telah meminta agar Indonesia meskipun tidak lagi menjadi Ketua ASEAN untuk tetap melanjutkan peranannya sebagai fasilitator. Myanmar tadi kami sudah sampaikan upaya untuk mengunci proses reformasi agar terus berlanjut (suara tidak jelas) dan yang penting di sini kerja sama maritim (maritime corporation). Gagasan Indonesia agar masalah kelautan tidak menjadi faktor yang membedakan

(5)

5 atau menimbulkan pertentangan di kawasan, melainkan menjadi sumber kerja sama di kawasan dan lain-lain.

Mengenai Timur Tengah dan Afrika Utara Bapak Pimpinan, kalau dengan singkat kami dapat laporkan atau informasikan selanjutnya. Tentu kalau kita berbicara tentang masalah Timur Tengah dan Afrika Utara selama ini memang lebih yang butir pertama, yaitu masalah isu Palestina dan proses perdamaian Timur Tengah, namun khusus tahun ini, definisi masalah Timur Tengah dan Afrika Utara semakin meluas, tidak lagi semata masalah Palestina dan proses perdamaian Timur Tengah yang tidak kunjung ada kemajuan, melainkan juga yang menyangkut masalah proses perubahan politik dan demokratisasi di sejumlah negara di kawasan dari Tunisia, Mesir, Libia, Yaman, Syria, dan bahkan beberapa negara lainnya. Jadi selama Tahun 2011 ini, dua masalah ini kita kelola secara bersamaan.

Selanjutnya, khusus mengenai masalah Palestina dan proses perdamaian di Timur Tengah, tentu Pimpinan Komisi I dan Anggota Komisi I terhormat sangat memahami sebagai Parlemen, sebagaimana DPR kita juga secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina, namun kali ini khusus tahun ini wujud yang paling nyata dari dukungan tersebut adalah agar memperoleh pengakuan masyarakat internasional terhadap Negara Palestina Merdeka, baik secara bilateral maupun dalam forum-forum multilateral, seperti PBB, GNB, dan OKI. Itulah wujud paling nyata dari upaya dukungan Indonesia terhadap Palestina sepanjang Tahun 2011.

Selanjutnya, contoh kasus kita mendorong di forum-forum bilateral secara konsisten agar negara yang belum mengakui Palestina untuk melakukan hal tersebut dan bahkan di forum Gerakan Non Blok tentu Pimpinan dan Anggota Komisi I ingat kembali ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTM Gerakan Non Blok di Bali bulan Mei yang lalu, kita mengeluarkan Deklarasi mengenai Palestina, Deklarasi mengenai Tahanan Politik Palestina dan bahkan GNB menyetujui usulan Indonesia mengenai Road Map Dukungan Keanggotaan Palestina di PBB.

Selanjutnya, dan di Forum PBB sendiri, kita secara aktif mendukung aplikasi keanggotaan Palestina di PBB, Pimpinan Komisi I dan Anggota ada yang juga menghadiri Pertemuan Komite Palestina Gerakan Non Blok di bulan September yang lalu di New York, dimana Indonesia bersama dengan Negara GNB lainnya mendorong keanggotaan Palestina di GNB. Khusus mengenai di Forum Unesco, Indonesia menjadi co-sponsor keanggotaan Palestina di Unesco yang syukur alhamdulillah telah disetujui dan bahkan kemarin secara resmi Palestina menjadi Anggota di Unesco.

Selanjutnya, selain itu masalah bantuan-bantuan lain yang selama ini dilakukan terus kita berikan di sini termasuk dalam kerangka Asian African Strategic Partnership, kami mendapat informasi sudah 16 program yang dilakukan selama tahun ini melibatkan kurang lebih 104 peserta Palestina, kemudian juga dibangunnya Indonesia Cardiac Centre di Rumah Sakit Al Syifa di Gaza. Selanjutnya, di samping itu, masalah Timur Tengah lainnya atau yang baru tahun ini adalah masalah political change dan demokratisasi yang bergulir dengan sangat cepat dan sangat mendasar di beberapa negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Kami bisa hampir yakin sampaikan bahwasanya perkembangan ini mungkin tidak banyak yang antisipasi pada awal Tahun 2011 ini, namun ketika perubahan terjadi dengan sangat cepat dan sangat mendasar dan kita semua harus segera menyikapinya dengan bijak.

Selanjutnya, dua masalah utama yang dikelola sepanjang tahun mengenai masalah itu Bapak Pimpinan dan Anggota, yang pertama sangat minimalis dan sangat Indonesia sentrik, yaitu memastikan masalah perlindungan warga negara kita dari negara-negara yang dilanda konflik tersebut dan yang kedua adalah tentu masalah politik, sikap politik kita terhadap perubahan politik di Timur Tengah.

Mengenai yang unsur pertama, perlindungan warga negara, kami kira ini sudah diketahui oleh Komisi I dan Anggota, langkah-langkah yang telah kita lakukan, baik yang sifatnya evakuasi atau relokasi, bantuan logistik, dan lain-lain, tadi kami laporkan Bapak Duta Besar Fachir ketika masih bertugas di Mesir, salah satu tugas utama beliau menjelang berakhirnya tugas beliau adalah mengelola masalah evakuasi warga negara kita.

Selanjutnya, sebagai rekapitulasi saja Bapak Pimpinan, dari Tunisia kita sempat mengevakuasi, yang terdata mungkin lebih dari ini 33 Warga Negara kita dari Mesir 2432, dari Libya 998, dari Yaman 273 Warga Negara kita. Khusus mengenai masalah sikap politik, selanjutnya kami kira sangat sederhana, namun sangat prinsipil, kita tidak ingin melihat warga

(6)

6 negara sipil menjadi korban penggunaan kekerasan oleh siapapun juga, baik oleh kelompok, oleh pemerintah atau authority, maupun oleh kelompok pemberontak atau yang menghendaki adanya perubahan dan kita kedua mengedepankan perlunya penyelesaian melalui proses politik, dialog, dan cara-cara damai dan perlunya transisi demokrasi yang damai, inklusif, dan menyertakan seluruh elemen bangsa dan mengutamakan suara dan kepentingan rakyat. Inilah posisi tiga dasar posisi kita selama menekuni masalah-masalah di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Selanjutnya Tunisia, kami kira ini hanya rekapitulasi sikap kita, langkah-langkah yang telah dilakukan, pertemuan Menlu RI dengan Menlu Tunisia untuk menyampaikan posisi Indonesia dan tidak kalah penting butir ketiga Bapak Pimpinan banyak negara di Timur Tengah yang telah mengalami perubahan, termasuk Tunisia dan Mesir sebenarnya telah meminta dan memperoleh dukungan dan bantuan teknis dari Indonesia mengenai masalah transisi ke arah demokrasi, namun sesuai dengan permintaan negara-negara termaksud untuk bantuan tersebut dilakukan dengan secara logi, tidak terlalu banyak publisitas, karena mereka ingin benar-benar tepat sasaran dan juga menghormati bahwa ini adalah proses yang benar-benar home grown dan tidak dipaksakan oleh pihak manapun juga.

Selanjutnya juga masalah Mesir, kami rekapitulasi di sana ada Surat Bapak Presiden kepada Presiden Mubarak pada tanggal 4 Februari beberapa hari menjelang mundur dirinya Presiden Mubarak yang intinya menyarankan agar beliau mengambil langkah yang bijak demi kepentingan rakyat Mesir. Selanjutnya, kemudian ada delegasi kami sendiri bertemu dengan Menteri Luar Negeri Mesir dan yang terakhir tadi khusus dalam kerangka Bali Democracy Forum yang baru saja kemarin beberapa hari yang lalu melakukan pertemuaannya di Bali, kita juga telah memberikan bantuan terhadap Mesir dalam proses demokratisasinya. Selanjutnya, Libya proses yang jauh lebih sulit dibandingkan Tunis dan Mesir, karena melibatkan penggunaan senjata, konflik bersenjata, dan Indonesia telah menyikapi perkembangan-perkembangan itu, seperti posisi prinsip yang tadi kami laporkan.

Selanjutnya, termasuk di Dewan HAM PBB, posisi Indonesia yang mendukung dibekukannya keanggotaan Libya di Dewan HAM. Selanjutnya ini adalah posisi-posisi Indonesia yang sekali lagi mengedepankan penggunaan dialog dan proses politik dan mengesampingkan penggunaan kekerasan atau kekuatan. Selanjutnya, surat dari Presiden kepada Sekjen pembicaraan per telepon dari kami kepada Sekjen PBB dan lain-lain dan bahkan ketika kita melihat gejala masyarakat Internasional cenderung menggunakan kekerasan dalam penanganan masalah Libya, Indonesia beserta sejumlah negara, termasuk Nikaragua menggalang Negara-Negara Anggota PBB untuk melakukan, meluncurkan surat bersama kepada Presiden DK agar meminta penyelesaian masalah Libya dilakukan secara damai.

Selanjutnya, dan sekarang proses transisi sedang dilakukan dan Indonesia telah menjalin hubungan dengan otoritas di Libya dan telah mengaktifkan kembali KBRI kita di Tripoli. Selanjutnya, Yaman ini masih bergulir dan memperoleh perhatian kita yang sangat serius, karena masalah perlindungan warga terlepas bahwasanya kita telah mengamankan lebih dari 200 Warga Negara kita yang sudah dievakuasi. Selanjutnya, masih ada beberapa Warga Negara kita yang memilih untuk tetap berada di Negara Yaman yang jumlahnya warga kita kurang lebih 3200. Selanjutnya, saat ini perhatian kita terfokus, terutama kepada para santri asal Indonesia yang berada di Perguruan Darul Hadis di desa Damage di Provinsi Saadah Yaman, kurang lebih 100 sampai 150 orang santri dan sekarang perguruan ini sedang terjadi perbentrokan bersenjata dengan dua kelompok yang saling bertikai. Selanjutnya, dan hingga saat ini sudah ada 4 santri kita asal Indonesia yang menjadi korban dan meninggal dunia akibat bentrokan senjata tersebut. Pihak KBRI sudah berulang kali berkomunikasi dengan Pimpinan Perguruan termaksud, maupun dengan Warga Negara kita, namun hingga saat ini belum dapat meyakinkan Saudara-saudara kita untuk meninggalkan perguruan tersebut dan mereka umumnya memilih untuk tetap mempertahankan posisinya demikian. Sesuai arahan Bapak Presiden, kita sekarang sedang dalam tahap mengirim Tim Terpadu untuk sifatnya lintas Kementerian yang sifatnya untuk mencoba sekali lagi meyakinkan Saudara-saudara kita agar segera meninggalkan perguruan tersebut dan mengamankan dirinya ke KBRI.

Selanjutnya, Suriah terus berkembang situasinya, posisi kita jelas seperti posisi prinsip dan kitapun telah bergabung dalam Resolusi Dewan HAM PBB yang mengsensor atau

(7)

7 mengecam apa yang sedang terjadi di Suriah dan selanjutnya kami pada saat ini Duta Besar RI di Suriah kembali ditarik ke Indonesia, ke Jakarta untuk konsultasi sebagai wujud dari protes kita terhadap perkembangan di Suriah. Namun tentu masalah ini harus dikelola dengan kepentingan kita agar Duta Besar bisa memastikan langkah-langkah kontingensi plan seandainya Warga Negara kita harus dievakuasi.

Selanjutnya yang ketiga Bapak Pimpinan, ini mungkin sangat singkat mengenai agenda ketiga adalah perkembangan penempatan Kepala Perwakilan RI untuk Negara-Negara Sahabat, kami bisa melaporkan dan informasikan setelah adanya pertimbangan dari Komisi I dan selanjutnya oleh DPR bagi Rekan-rekan kita yang sudah melalui proses-proses tersebut sekarang sedang dalam tahap permintaan agreement dari Negara-Negara Akreditasi tersebut. Kami mencatat di hadapan kami ada kurang lebih sudah ada 20 rekan-rekan yang sudah memiliki agreement dan ada lagi sejumlah yang belum memiliki agreement atau memang agreement-nya itu belum diajukan permintaannya atau masih dikelola permintaan pengajuannya untuk bisa memungkinkan sesuai saran dari Komisi I agar rekan-rekan kita itu benar-benar memperdalam persiapan-persiapan yang diperlukan sebagaimana diharapkan oleh Komisi I dalam pertimbangannya dan kami bisa garis bawahi kembali pertimbangan dari Komisi I yang sifatnya langsung merujuk kepada Calon-Calon Kepala Perwakilan ini menjadi rujukan, referensi, dalam penilaian kinerja para Calon Duta Besar ini di masa mendatang, sehingga seandainya ada satu pembenaran, dalam arti kata apa yang dikhawatirkan itu tidak diatasi itu menjadi masukan bagi Pimpinan Kementerian Luar Negeri, Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya. Buat yang kedepannya Bapak Pimpinan, karena tentunya pada waktunya masalah ini akan dibahas dalam forum yang sesuai, yaitu tertutup, kami bisa informasikan secara garis besar kurang lebih kalau kita berbicara tentang perwakilan yang akan kosong hingga bulan Juni atau Juli 2012 ada kurang lebih mungkin 20 perwakilan yang harus dimulai proses pengganti Kepala Perwakilannya. Dari 20 itu Bapak Pimpinan, kami tentu masih harus memperoleh instruksi dari Bapak Presiden dan juga seandainya ada kesempatan konsultasi informal dengan Pimpinan dan Anggota Komisi I, dari 20 itu kami menduga mungkin sebagian akan ada kemungkinan diperpanjang, karena memang kebetulan pada Tahun 2011 ini ada kemungkinan kunjungan tingkat kepala negara, baik mereka datang ke Indonesia atau Indonesia ke negara tersebut atau ada peringatan hubungan bilateral selama 60 tahun dan lain-lain yang sangat memerlukan keberadaan dari Kepala Perwakilan di negara termaksud. Namun yang kami ingin garisbawahi sekali lagi Bapak Pimpinan dan Anggota Komisi I yang terhormat, pertimbangan DPR, pertimbangan Komisi I adalah masukan dan pertimbangan yang sangat penting dan sangat kita perhatikan dan sesuai dengan amanat konstitusi menjadi pertimbangan dan menjadi masukan yang penting oleh Pemerintah dalam menetapkan langkah-langkah lebih lanjut.

Selanjutnya dan yang terakhir Bapak Pimpinan, isu Papua dalam forum-forum internasional, kami singkat saja ini, kami ingin menegaskan sekali lagi bahwasanya masalah keutuhan NKRI, masalah di Papua ini sudah menjadi sesuatu keniscayaan dan seluruh Negara PBB mengakui keutuhan NKRI, termasuk Papua di dalamnya, dibagiannya dan ini adalah suatu fakta dan terdapat dukungan yang luas terhadap kebijakan Pemerintah RI yang mengedepankan pendekatan kesejahteraan dalam bingkai Otonomi Khusus Papua. Selanjutnya, sebagai contoh kasus di forum multilateral di PBB misalnya, di Sidang Majelis Umum PBB berbeda dalam beberapa tahun terakhir ini, tidak ada satupun negara yang merujuk terhadap masalah Papua dalam statement-statement mereka dan masalah Papua tentu tidak masuk dalam agenda PBB, apakah Sidang Majelis Umum, Dewan Keamanan, Komite Dekolonisasi, Komite III, Komite IV, dan lain-lainnya. Sementara di forum regional kita terus menekuni dan secara pro aktif memajukan kepentingan kita secara pro aktif dan secara agresif bahkan di Pasific Island Forum, di PIF tidak ada lagi semenjak Tahun 2008 rujukan mengenai Papua dalam joint communicate-nya dan bahkan Indonesia sekarang sudah menjadi observer dalam myelination spearhead group dengan dukungan negara seperti Fiji dan juga Vanuatu dan ini kami kira perkembangan yang sangat penting karena di masa lalu kita melihat MSJ sebagai kelompok yang sangat anti Indonesia. Sebagai catatan pinggir, jadi ini masalah yang sangat terus kita kedepankan.

Selanjutnya, bilateral di Uni Eropa tentu masih ada upaya-upaya mengenai masalah Papua, kita tidak lengah dan juga di Inggris ada International Parliamentary dan Forwards Papua dan lain-lain. Jadi meskipun posisi prinsipnya adalah demikian, kita juga tidak mengecilkan dan

(8)

8 tidak menganggap remeh adanya upaya-upaya di tingkat bilateral maupun multilateral untuk menghidupkan kembali masalah Papua. Selanjutnya ini di Australia, Amerika, Vanuatu, selanjutnya ini perkembangan repatriasi warga kita dari Papua dan perkembangan capacity building bantuan kita terhadap negara-negara yang dulunya anti Indonesia mungkin. Selanjutnya demikianlah Bapak Pimpinan, intinya kalau mengenai masalah Papua sepanjang masalah di dalam negerinya sendiri dalam arti kata masalah stabilitas dan masalah Hak Asasi Manusia di Papua benar-benar dapat dikelola, kami kira resiko munculnya masalah ini di Forum Internasional semakin kecil. Oleh karena itulah perlu ada kerja sama dan koordinasi yang baik antara berbagai pihak yang terkait agar masalah ini tidak kembali mencuat di Forum Internasional.

Demikian Bapak Pimpinan, terima kasih atas waktu yang telah diberikan kepada kami dalam memaparkan secara singkat, Insya Allah agenda-agenda yang dimintakan oleh Komisi I.

Terima kasih Bapak Pimpinan. KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak Menteri Luar Negeri.

Ada dua apresiasi yang kami sampaikan, yang pertama Bapak Menteri Luar Negeri telah memberikan paparan kepada kami terhadap 4 isu besar dalam waktu 30 menit. Jadi penggunaan waktu yang sangat efisien dan efektif, terima kasih banyak. Sebelum kami mempersilahkan yang terhormat Anggota untuk melakukan pendalaman, izinkan saya juga untuk memperkenalkan yang terhormat Anggota Komisi I yang baru yang berasal dari Fraksi PKS, yaitu Bapak Mahfud Abdurrahman, selamat datang Pak di Komisi I.

Baik, dari catatan kami apresiasi yang kedua kami sampaikan kepada Bapak Menteri Luar Negeri pada Pemerintah terhadap segala upaya yang telah dilakukan, Pemerintah atau Republik Indonesia sebagai Ketua ASEAN, salah satunya yang perlu kita apresiasi, yaitu mewujudkan kawasan ASEAN yang bebas senjata nuklir, saya kira itu sebuah achievement yang sangat baik dan pada intinya segala apa yang kita lakukan, baik itu Pemerintah dan DPR dalam konteks ASEAN ini adalah semata-mata untuk kemaslahatan masyarakat ASEAN yang tentu di dalamnya juga ada berkaitan dengan masyarakat Indonesia atau rakyat Indonesia dan di Timur Tengah, saya kira juga sudah harus menjadi satu catatan bagi kita bahwa Timur Tengah itu semakin lama kita melihat ini menjadi suatu kawasan yang semakin strategis, jauh lebih strategis dari sebelumnya, semakin penting dalam hal-hal yang berkaitan dengan geo politik, selain memang di dalamnya juga ada masalah-masalah yang berkaitan dengan TKI. Ada penempatan Dubes, tadi sudah kami terima penyampaiannya juga Papua setuju bahwa masalah-masalah Papua itu sangat tergantung dengan apa yang ada di dalam negeri. Ini juga sama dengan masalah TKI ya Pak Menteri ya, dibereskan dalam negerinya, luar negerinya juga beres. Baik, yang terhormat Anggota Komisi I, kalau tadi Pak Menteri bisa menggunakan waktu secara efisien dan efektif, saya kira kita juga bisa, sehingga rapat kita yang kita jadwalkan bisa selesai jam 4 bisa kita selesaikan benar-benar jam 4, misalnya contohnya jangan melakukan pengulangan-pengulangan dalam pertanyaan-pertanyaan, pertanyaan yang sudah dilakukan oleh seseorang Anggota Komisi tidak perlu lagi diulang, sehingga kita bisa sekali lagi melakukan rapat kita secara efektif dan efisien secara waktu. Baik, catatan kami ada 6 yang akan mengajukan pertanyaan untuk pendalaman, yaitu yang pertama Bapak Tantowi Yahya, kemudian Ibu Susaningtyas, kemudian Bapak Fardan Fauzan, keempat Bapak Enggartiasto, kelima Bapak Tri Tamtomo, dan terakhir Pak Muhammad Najib.

F-PKB (DR. H. A. EFFENDY CHOIRIE, M.Ag.): Ketua, daftar.

KETUA RAPAT:

Oke, Pak Effendy Choirie, ada lagi? Oke, Pak Hidayat, Pak Al Muzzammil, Pak Syahfan, Pak Helmy sudah datang, saya tidak lihat, oh ada. Baik, saya ulangi, Pak Tantowi, Ibu Susaningtyas, Bapak Fardan Fauzan, Pak Enggar, Pak Tri, Pak Najib, Pak Effendi Choirie, Pak Syahfan, Pak Hidayat, Pak Muzzammil, dan Pak Helmy.

(9)

9 Silahkan Pak Tantowi, bersiap-siap mba Nuning.

F-PG (TANTOWI YAHYA): Terima kasih Pimpinan.

Yang terhormat Ketua, Wakil Ketua, para Anggota Komisi I, Yang saya hormati Bapak Menteri Luar Negeri beserta jajarannya. Assalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Pertama-tama, sebagaimana Pimpinan tadi, izinkanlah kami untuk mengapresiasi beberapa pencapaian hebat yang sudah didapat oleh Kementerian Luar Negeri selama Tahun 2011 ini, dari mulai suksesnya kita sebagai Ketua ASEAN dengan beberapa pencapaian yang tadi sudah dijabarkan oleh Pak Menteri, kemudian terselenggaranya dengan baik KTT ASEAN dan juga lupa adalah Ratifikasi CTBT. Ini adalah prestasi-prestasi yang tercatat dengan tinta emas selamat Tahun 2011 ini. Dalam kesempatan ini Pak Menteri, saya tidak bertanya, mungkin lebih sebagai semacam masukan, terlebih ini saya anggap sebagai Raker ini adalah sebagai refleksi akhir tahun, kemudian kita menghadapi 2012 dan menjadi istimewa lagi ada beberapa Dubes yang sudah mendapatkan agreement dan segera akan bertugas di Negara-negara Akreditasi.

Pak Menteri yang terhormat, saya melihat secara kasat mata, bahwa 3 fungi utama dari perwakilan kita pertama adalah perlindungan warga, kedua kekonsuleran dan ketiga dalah diplomasi. Ketika kita berbicara mengenai Negara Middle East dan North Africa, maka tugas pertama itu menjadi sangat dominan, sebagaimana kita ketahui bahwa sumber permasalahan itu lebih dari 80% berasal dari tanah air dan kita semua di sini semua berusaha agar supaya problem-problem itu dapat kita minimalisasi tidak mungkin sampai ke nol agar supaya perwakilan-perwakilan kita di luar negeri dapat kembali melakukan dua tugas yang tidak kalah pentingnya. Isu perlindungan warga ini, khususnya di Negara-negara Middle East dan North Africa mau tidak mau menyita hampir seluruh perhatian, tenaga, termasuk pembiayaan perwakilan kita. Dari Raker yang diadakan oleh Komisi I di Maroko beberapa waktu yang lalu dimana kami secara gamblang mendengarkan penjelasan dari 16 perwakilan kita yang ada di negara itu semakin mengkonfirmasi beratnya tugas mereka. Saya melihat ini adalah satu permasalahan yang sangat besar dan tidak boleh kita tutupi, artinya semakin kita tutup-tutupi semakin permasalahan ini tidak selesai dan semakin permasalahan ini endurance-nya semakin panjang. Kami sedikit menyesalkan ketika Pejambon sedikit geli ketika mulai dikritik oleh massa melalui demo yang membuat Bapak Menteri dan segenap jajaran sedikit risih dengan adanya demo ini dan menurut kami ini adalah sebuah kegelisahan yang biasa dan tidak perlu disalahkan, bahwa adanya beberapa Duta Besar yang mengungkapkan secara jujur kegelisahan mereka itu adalah menurut kami adalah dinamika biasa yang bisa dirasakan oleh setiap Duta Besar atau Perwakilan kita di negara-negara tersebut. Bagi kita Pak Menteri, di Komisi I melalui berbagai Pansus, Panja yang dibentuk, kami berusaha memberikan dukungan agar supaya 80% permasalahan yang berawal dari hulu, yang berawal dari sini, ini dapat segera kita minimalisasi. Namun demikian, tugas-tugas terkait dengan perlindungan warga itu tetap menjadi prioritas, tetapi tidak bisa seperti itu terus, harus ada penyelesaian, jika tidak, maka 2 fungsi lainnya, kekonsuleran dan diplomasi itu menjadi terabaikan, itu yang pertama Pak Menteri.

Kedua, saya melihat terus terang ini dalam hal diplomasi politik dan dalam konteks multilateral, saya rasa apa yang sudah dilakukan oleh beberapa Menteri Luar Negeri termasuk Pak Menteri sudah lebih dari cukup, terlebih Pak Menteri dengan latar belakang seorang multilateralis, apa yang kita lihat tadi sudah tergambar dari apa yang dipresentasikan Bapak. Menurut kami more than enough, ada satu yang kurang Pak Menteri, kami melihat diplomasi ekonomi menjadi sedikit terabaikan. Saya lihat bahwa terlalu politic heavy, semua penekanan, manuver-manuver yang dilakukan oleh Perwakilan kita, apakah itu blue printnya dari Pejambon, apakah itu kreasi dari Perwakilan kita, heavy-nya adalah di politik, sedangkan sekarang ini menurut kami sudah sangat tidak kontekstual. Beberapa periode yang lalu, ketika jaman Pak Muchtar Kusumaatmadja, menjadi make sense ketika perjuangan beliau adalah mendapatkan pengakuan dari dunia terkait dengan Indonesia sebagai Negara Kepulauan, which we got it. Kemudian jamannya Pak Ali Alatas, isu kita adalah Timor-Timur, very political, tetapi era

(10)

10 sekarang ini menurut saya sudah tidak ke politik, sekarang ini bagaimana setiap Kementerian, termasuk Kementerian Luar Negeri itu bermuara kepada job creation dan economy. Nah, maka di sini, APBN itu menjadi relevan, terus terang Bapak Menteri yang terhormat, salah satu dari sedikit Kementerian yang APBN-nya tidak relevan dengan kesejahteraan rakyat, tidak relevan dengan kemajuan ekonomi adalah Kementerian Luar Negeri. Masyarakat sering bertanya di Dapil saya, apa toh itu gunanya Kementerian Luar Negeri? Apa yang mereka bisa hasilkan secara ekonomi? Ini pertanyan orang bodoh, tetapi apabila kita telusuri menjadi sangat relevan, karena Kementerian-Kementerian lain ada relevansinya. Nah, tantangan ke depan Pak Menteri, bagaimana Pak Menteri memberdayakan Perwakilan-Perwakilan kita, baik yang sudah kita pilih melalui fit and proper test maupun yang pada periode sebelumnya bisa bermanfaat dalam dua konteks itu, job creation and economy. Ini adalah satu kekurangan besar Pak Menteri, terlebih ketika Kementerian Luar Negeri melepas hubungan dengan Kementerian Keuangan, dulu ada hubungan ekonomi luar negeri, dimana ekonomi menjadi sesuatu faktor yang sangat diperhatikan, tetapi setelah nomenklatur di Kementerian Luar Negeri dirubah berdasarkan wilayah, tidak lagi berdasarkan porsi-porsi seperti zaman dulu, hal ini menjadi terbengkalai. Saya melihat with exception dengan beberapa Kedutaan, seperti Kedutaan Besar di Singapura atau di Belgia, dimana ekonominya kuat, tetapi most of our representative itu they don’t play much dalam bidang ekonomi, terlalu politics, padahal most of our ambassadors are not politicians. Jadi ada anomali besar yang menurut kami ini harus segera dievaluasi Pak Menteri, bagaimana anda memberdayakan para Duta-Duta Besar ini untuk mulai jualan Indonesia. Beberapa waktu yang lalu Pak Menteri, saya mendengar Duta Besar Amerika di Korsel itu jualan mobil ke negara yang lagi kuat-kuatnya membangun industri otomotif, ini hebatnya mereka, tidak malu-malu mereka menjual otomotif mereka ke negara yang lagi booming auto mobilnya. Nah, hampir saya tidak melihat ada gebrakan luar biasa dalam perspektif ekonomi yang dilakukan oleh Duta Besar-Duta Besar kita. Saya melihat juga dalam sektor pariwisata Pak Menteri, kita tahu anggaran pariwisata sangat kecil kurang lebih 500 milyar per tahun, mempromosikan Indonesia ke seluruh dunia is very naive menurut saya, very impossible, untuk itulah uluran tangan dari beberapa Atase yang korelasinya ekonomi menjadi sangat signifikan. Ucapan saya ini Pak Menteri tidak men-down grade keberadaan Atase Ekonomi, tetapi kita tahu kekurangan mereka, kekurangan mereka adalah dalam hal bahasa, kekurangan mereka dalam hal agreement international. Di sini saya melihat ada satu peluang yang menurut saya sayang sekali tidak dimanfaatkan oleh Perwakilan-Perwakilan kita di luar negeri, mereka tidak memanfaatkan atau memang tidak ada push atau blueprint, katakanlah tadi Pejambon yang membuat mereka bisa menjadi economic ambassadors. Menurut saya, political ambassadors sudah cukup Pak Menteri, kita sudah cukup mendapatkan itu dan image kita sudah cukup baik.

Yang ketiga Pak Ketua, saya melihat Pak Ketua, Pak Menteri mungkin karena latar belakang Bapak sebagai seorang multilateralis, dalam konteks multilateral menurut saya bagus Pak, tetapi menurut saya dalam perspektif bilateral banyak hal-hal yang belum ada kemajuan berarti. Konflik perbatasan Indonesia dengan Malaysia sekarang saja redup, tetapi sebulan, dua bulan kita lihat saja ketika terjadi pelanggaran wilayah dan seterusnya hal ini akan marak lagi, yang membuat kita Raker-nya menjadi tidak enak akhirnya. Nah, ini saya lihat Pak Menteri, tolong ini diperhatikan berbagai masalah bilateral dengan negara-negara tetangga itu yang kelihatan sekarang ini seperti tidak ada masalah, tetapi mempunyai potensi buat meledak sooner or later. Nah, ini mohon menjadi perhatian juga ke depan, di samping Pak Menteri memperhatikan hubungan dengan negara-negara luar begitu, tetapi konteks dengan tetangga menurut kami ini adalah suatu hal yang harus diprioritaskan pada Tahun 2012.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Baik, apa yang disampaikan oleh Pak Tantowi itu sangat penting ya, berkaitan dengan beliau ingin mengajak kita untuk merefleksikan hasil-hasil kerja dari Kemlu Tahun 2011, cuma mungkin itu Pak Tantowi kita bisa agendakan secara khusus pada rapat pertama kita Januari dalam kita merefleksikan kinerja bukan hanya Kemenlu, tetapi seluruh mitra kita yang ada di Komisi I, kemudian tantangan ke depan seperti apa selama Tahun 2012. Jadi ini hal-hal lain yang

(11)

11 disampaikan oleh Pak Tantowi, tetapi kita saya harapkan kita fokus dulu ke empat isu yang tadi kita sudah sepakati ya.

Silahkan mba Nuning, bersiap-siap Pak Enggar.

F-PARTAI HANURA (DR. SUSANINGTYAS NEFO HANDAYANI KERTOPATI, M.Si.):

Terima kasih Ketua.

Assalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat siang.

Pimpinan dan Rekan-rekan Anggota Komisi I yang saya hormati, Pak Menteri dan beserta jajarannya yang saya hormati.

Tadi apa yang disampaikan oleh Pak Tantowi Yahya bahwa ada satu pertanyaan di desa di tempat beliau di konstituennya, bahwa apa sih yang sebenarnya dilakukan oleh Departemen Luar Negeri ini sebenarnya terjadi dimana-mana terlebih mengenai ASEAN yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana ASEAN itu tidak hanya dirasakan sebagaimana Menara Gading saja, tetapi ASEAN juga dapat dirasakan secara implementatif di tengah masyarakat, kegunaannya dan apa saja yang dapat dirasakan oleh masyarakat, sehingga terjawablah apa yang disampaikan oleh tadi Pak Tantowi, sehingga hal itu tentunya dapat dijawab mungkin oleh Pak Menteri bagaimana Bapak membangun ASEAN Community Building selama ini, sehingga dapat membesarkan Indonesia sendiri di tengah ASEAN. Dan tentunya ingin juga saya tanyakan posisi ASEAN dalam hal melihat bagaimana perkembangan posisi ASEAN diantara dua raksasa besar, yaitu China dan Amerika. Tentunya kita tentu tidak bisa membiarkan Indonesia hanya menjadi alat bagi keduanya, dimana saya ingin mengetahui apa sikap dari Kemenlu sendiri dalam melihat perkembangan hal ini. Yang ketiga, yang ingin saya tanyakan ini mungkin sudah terlupakan, karena sudah lama terjadi, yaitu pengerahan pasukan dalam misi khusus, ini mungkin sudah dianggap berlalu, tetapi ini masih menyisakan hal-hal yang harus dibicarakan, yaitu mengenai overlapping-nya peraturan maupun hukum-hukum yang ada, baik secara nasional maupun internasional, secara internasional di sini tercatat ada UNCLOS dan dari DK sendiri dan berbagai undang-undang yang mungkin sangat overlapping, mungkin harus ditenggarai bahwa selama ini maritime Indonesia sangat berwibawa, bahkan Bung Karno dulu mengatakan bahwa kita adalah bangsa bahari, mungkin teman-teman PDIP tentu mencatat ya, Om Darto, hal itu sebagai suatu kebanggaan kita semua.

F-PG (TANTOWI YAHYA): Sudah lahir waktu itu ya?

F-PARTAI HANURA (DR. SUSANINGTYAS NEFO HANDAYANI KERTOPATI, M.Si.):

Saya tetap Sukarnois, walaupun dimana saja saya berada, tentu kita tahu bahwa fungsi Angkatan Laut secara universal, yaitu ada fungsi militer, diplomasi, dan constabulary. Fungsi diplomasi ini tentu harus dimanfaatkan sedemikian rupa dan tentunya tidak akan kita biarkan bahwa apabila ada kasus seperti Somalia kemarin kita tergopoh-gopoh, kita bingung dengan peraturan yang ada, tidak tahu harus pergi kemana, itu tentunya saya rasa mungkin hukum laut yurisdiksi nasional kita juga harus segera dibenahi dengan encouragement dari Kemenlu sendiri.

Terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Wa ‘alaikum salam, terima kasih.

Silahkan Pak Enggar, bersiap-siap Pak Tri. F-PG (Drs. ENGGARTIASTO LUKITA): Terima kasih Pak Ketua.

(12)

12 Ibu Bapak dan Saudara sekalian yang kami hormati.

Pak, yang pertama sederhana saja yang mengenai setelah ratifikasi CTBT, apa yang kita bisa atau benefit apa yang segera kita bisa lakukan, antara lain adalah berapa banyak yang Tenaga Ahli yang kita bisa titipkan di sana dan juga tindak lanjut yang lain dan sebenarnya hal ini sudah ada di benak dan sudah ada dalam rencana dari Duta Besar kita di sana, hanya tinggal bagaimana di Republik ini di Jakarta untuk menindaklanjuti itu. Jadi itu yang ukuran-ukuran itulah yang konkrit, yang kita ingin dapatkan nanti di tahun depan.

Yang kedua, mengenai semangat ASEAN, saya hanya ingin mengingatkan saja untuk kita belajar dari apa yang terjadi di Euro, di Eropa, karena Indonesia ini adalah menjadi market yang terbesar dari sisi ekonomi, sehingga jangan dimanfaatkan dari sisi ekonomi oleh kawan-kawan yang lain, oleh negara-negara yang lain, dan semangat itu nampaknya harus ditularkan tidak hanya kita saja, karena di seluruh Perwakilan yang pasang bendera ASEAN hanya kita, tetapi negara ASEAN tidak pasang bendera ASEAN, jadi negara yang lain. Jadi yang taat atas perintah Pak Menteri adalah Kepala-Kepala Perwakilan kita saja Pak Menteri, tetapi yang lain tidak. Nah, saya menarik dari apa yang tadi Pak Tantowi sampaikan ada dari belakang sini, dari penasihat spiritual dari Fraksi Partai Golkar ini Pak, pertanyaannya, bagaimana mau melakukan lobi kalau sudah anggarannya terbatas? Nah, di sebelah kanan saya, di Badan Anggaran rupanya tidak memperjuangkan untuk anggaran Kementerian Luar Negeri, bagaimana dia untuk mengajak bicara di Starbuck saja tidak bisa seandainya seperti itu, ini Badan Anggaran tidak bertanggungjawab dia langsung ke belakang, kenapa? Karena anggarannya begitu kecil atas jumlah Perwakilan yang begitu besar. Apakah kita tidak mencoba atau sebenarnya bukan apakah kita, kita ingin meminta Pak Menteri di Tahun 2012 menyampaikan evaluasi apakah memang harus sebanyak itu 137 yang notabene banyak juga yang tidak terisi, termasuk Konsulat Jenderal yang sudah lebih dari 1,5 tahun cukup banyak juga Pak tidak diisi-isi. Nah, memang kalau tidak ada lagi dan tidak ada perlunya kita tutup saja. Saya sesuai dengan pengarahan dari penasehat spiritual dari Pak Jefri ini adalah Singapur hanya 30, kita 137, apakah harus seperti itu, apakah tidak bisa dirangkap dan toh kita juga kosong dan kalau kosong itu artinya negara buang uang. Kita membiayai semuanya, tetapi tidak diisi. Jadi kita mengharapkan melakukan Kementerian Luar Negeri melakukan evaluasi, apakah harus sebesar itu dan kapan KJRI kita lengkap terisi, Konsulat Jenderal, karena itu tidak usah pakai fit and proper test dan tidak usah pakai nunggu surat, termasuk yang nanti di Geneve ini surat ke kita belum muncul-muncul entah ada dimana dan nanti akan ada kekosongan lagi. Itu nampaknya memang kalau kita dengan anggaran yang sebesar itu dengan tuntutan dari Pak Tantowi yang sebanyak itu barangkali kita ada saatnya harus ada keberanian untuk melakukan evaluasi, yang tidak ada gunanya sudahlah dirangkap saja. Contoh, kalau saya ingin tambahkan dari yang disampaikan Pak Tantowi adalah Duta Besar Korea Selatan secara khusus meminta bertemu dengan Komisi I, karena dengan spesifik, dia memperjuangkan, karena ada nada-nada yang masih meragukan atas kerja sama industri militer di dalam rangka kepentingan industri militer yang ada di Korea. Kami iri hal ini belum tentu dilakukan, ada perintah dari pusat untuk meminta kepada Duta Besar kita untuk melakukan lobi seperti itu, tetapi sekali lagi itu bisa dilakukan dengan beberapa catatan tadi. Yang terakhir ada satu hal kecil Pak, seberapa jauh perhatian dari Kementerian Luar Negeri atas kantor pertama Kementerian Luar Negeri, kantor pertama bukan di Pejambon ya Pak ya, kantor pertama itu dan tolong diperhatikan begitu banyak peninggalan buku yang berserakan itu sayang sekali kalau itu diambil, dijilid lagi di kediamannya di Menteri Luar Negeri Pertama Republik Indonesia dan jangan di telantarkan, jadikanlah itu, lestarikan Pak Menteri, luangkanlah waktu kunjungi ke sana, kemudian dilakukan seperti itu, itu satu hal yang luar biasa dan rumah itu begitu indah yang rasanya harus diberikan perhatian secara khusus.

Terima kasih Ketua.

F-PG (JEFFRIE GEOVANIE): Ketua, izin Ketua.

Menyangkut nama saya disebutkan Ketua, saya izin 2 menit saja. Selamat Siang Pak Menteri dan rombongan.

Karena menyangkut nama, jadi saya harus jelaskan lebih lengkap, begini Pak Menteri, kita selalu kemudian berulang kali dalam berbagai forum di tempat ini mempermasalahkan soal

(13)

13 betapa tidak siapnya embassy kita, misalnya di Malaysia menghadapi masalah-masalah yang terjadi di sana terhadap warga negara kita. Kita juga saling bermarah-marahan di tempat ini ketika misalnya ada warga negara kita di Arab Saudi bermasalah misalnya, itu semua akibat apa? Akibat dari harapan-harapan dari Pak Tantowi tadi tidak terpenuhi, harapan-harapan dimana embassy kita menjadi ujung tombak buat membela hak-hak warga negara kita itu kemudian menjadi tidak maksimal. Nah, kemudian mengapa ini saya sampaikan, karena ini berkaitan dengan betapa tidak rasionalnya Kementerian kita ini, kita punya embassy di dunia, kalau tidak salah ratusan jumlahnya, yang satu tahu Singapura itu hanya 30 saja begitu, negara yang keuangannya cukup bagus, negara yang secara ekonomi sehat sekali, hanya punya 30 perwakilan di seluruh dunia. Nah, kenapa Singapura seperti itu? Karena menurut saya dia rasional, dia tahu kebutuhannya. Nah, ketika Pak Menteri dilantik menjadi Menteri, saya rasa saya harus jujur katakan, saya adalah orang yang paling sangat berharap Kementerian Luar Negeri menjadi waras dan menjadi bagus, karena apa? Karena Pak Menteri masih muda dan saya yakin sekali akan berpikir out of the box, tidak seperti birokrat yang selama ini saya tidak bilang birokrat tidak pandai, tetapi biasanya seorang birokat terlatih atau terbiasa untuk bekerja sesuai aturan main dan terpagari oleh kotak-kotak yang ada di sekitarnya. Nah karena itu, kasus untuk Pak Menteri, saya anggap birokratnya agak spesiallah. Saya berharap akan terjadi sesuatu yang lebih dibandingkan sekarang. Karena itu saya mengusulkan kepada Pak Menteri, mulailah untuk mengevaluasi kegunaan dari kedutaan kita di dunia itu. Kalau saya jujur ngomong, saya akan bantu juga risetnya nanti, feeling saya mengatakan, intuisi saya mengatakan, bahwa nyaris tidak ada gunanya, kalaupun berguna paling banyak 30, 40 negara yang ada gunanya kita berhubungan dengan mereka. Nah, dari 30, 40 negara itupun nanti kalau kita evaluasi lagi terjadi ketidakmaksimalan dalam menangani kerja sama itu, kenapa? Karena kita kemudian juga kejam kepada para diplomat-diplomat kita yang muda-muda itu, kita membebankan mereka tanggungjawab yang besar, tetapi yang danai sangat terbatas, dana terbatas ya, karena kita harus berbagi kepada ratusan negara tadi. Jadi bayangkan, kalau kita misalnya berani untuk menutup dan meninggalkan, menyisakan hanya 30, 40 negara, budget kita yang 6 trilyun itu terasa besar pasti jadinya nanti. Diplomat-diplomat kita di 40 negara pasti akan bisa maksimal sekali melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menyangkut diplomasi dalam bentuk apapun, dalam bentuk pembelaan warga negara dalam bentuk ekonomi, dalam bentuk apapun yang lain. Jadi dalam forum ini, barangkali desain politik luar negeri kita yang paling bagus itu adalah efisien, efektif, dan rasional.

Demikian, terima kasih Ketua. KETUA RAPAT:

Baik, berikutnya kami persilahkan Pak Tri Tamtomo, bersiap-siap Pak Muhammad Najib.

F-PDI PERJUANGAN (H. TRI TAMTOMO, S.H.): Terima kasih Pimpinan.

Rekan-rekan Anggota Komisi I, Pak Menteri,

Ibu-ibu dan Hadirin sekalian yang kami hormati. Assalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Menyimak muatan dan isian yang Bapak sampaikan dari hasil Bali Principles, kemudian Keketuaan Indonesia di ASEAN, ini kalau kita lihat dari tayangan yang Bapak sampaikan cukup menggembirakan, namun bila dihadapkan pada kecenderungan perkembangan dinamika politik, dihadapkan pada lingkungan strategik yang terjadi, baik di Asia dan seterusnya, ini ada kecenderungan bahwa di kawasan-kawasan tersebut sedang secara terselubung terjadi perlombaan pengadaan industri pertahanan dalam rangka penguatan diri untuk melindungi dirinya. Nah, kalau kita melihat dengan kondisi ini, ini pekerjaan berat tambahan yang harus dan akan dihadapi oleh Kemlu dengan KBRI sebagai ujung tombak di depan dengan Atase-Atase yang ada, baik Atase Pertahanan sampai dengan Atase Teknis. Nah, ini akan berhasil atau gagal, ini tergantung dari pelaksanaan, dari Undang-undang RI No. 37 Tahun 1999 tentang Hublu itu sendiri. Kemudian bila kita hadapkan kepada Kepres RI No. 108

(14)

14 Tahun 2003 tentang Organisasi Perwakilan RI di Luar Negeri. Nah, tentu ini semua kalau kita perhadapkan kepada amanah Undang-undang Dasar Republik Indonesia plus pokok-pokok keinginan yang dijabarkan, yang disampaikan oleh Presiden, bahwa bekerja harus dalam satu kesisteman dan bersifat terintegrasi, kalau ini dilakukan, maka optimalisasi akan mampu dilakukan dalam rangka pencapaian tugas pokok. Nah, dari 3 hal tadi, kalau kita lihat bahwa Kemlu ke depan akan menghadapi tugas yang amat cukup berat terlebih pada saat ini mitra Komisi I, baik itu Kemhan, baik itu BIN, baik itu BUMNIP, sampai dengan Lemsaneg ini melakukan kegiatan yang berkaitan dengan mitra kita di luar negeri, dalam hal ini ujung tombak dari Kemlu. Dari perjalanan yang ada, menurut kami ini ada kelemahan-kelemahan yang terjadi di dalam pelaksanaan penyelenggaraan kegiatan kalau dikaitkan dengan Pasal 19, yaitu mengenai Tata Kerja. Kalau kita bicara Tata Kerja, unsur terdepan dari Kemlu dalam hal ini KBRI, ada Atase Teknis, ada Atase Pertahanan, dan seterusnya, padahal di situ disampaikan bahwa wajib melakukan K3I dan ini semua harus diketahui dan dipahami oleh masing-masing Pak Duta Besar. Dari apa yang kami sampaikan tadi bahwa ke depan ini tidak bisa dianggap remeh, karena BIN saat ini baru punya pos 18 dan akan segera ditambah lagi. Kemudian adanya penggalangan tokoh di luar negeri, kemudian adanya deradikalisasi, dan lain sebagainya, kemudian dari Kemhan sendiri dia ingin melakukan pembelian Alutsista, kemudian dia sendiri akan melakukan kerja sama di bidang kemiliteran, kemudian BUMNIP sendiri akan melakukan TOT sampai dengan pelatihan, kemudian Lemsaneg berkait dengan masalah pengamanan alat dan lain sebagainya dan kami lihat di sini Pak kalau dihadapkan pada Pasal 19 tadi belum adanya integrasi antara unit-unit tadi sebagai Atase Teknis yang dia nempel kepada Bapak, tetapi di dalam penyelenggaran di lapangan nampak berjalan sendiri-sendiri dan KBRI Pak Dubes seolah-olah sekedar sebagai stempel. Ini suatu hal yang tidak boleh terulang dan terjadi. Kemudian bila dihadapkan pada Pasal 18 tentang Keuangan dan Perlengkapan ini nyamber, nyangkut dengan apa yang disampaikan Pak Tantowi maupun Pak Enggar. Nah, ini satu kondisi yang luar biasa. Nah, sehubungan dengan itu Pak, kita hadapkan pada kasus yang terakhir terjadi. Tadi masalah TKI dan lain sebagainya sudah disampaikan oleh teman-teman. Bagaimana Bapak melihat ini Pak, bahwa Kemhan, TNI jauh sebelum ini sudah melakukan pendekatan kepada Parlemen dari Jerman untuk mengadakan pembelian material khusus bagi Satuan Khusus Tentara Nasional Indonesia, tetapi dengan melihat perkembangan dengan alasan negara terkorup, kemudian yang kedua Indonesia merupakan sebagai bagian negara yang cukup melakukan pelanggaran HAM yang cukup banyak, sehingga ini pending, padahal jauh sebelumnya sudah ada pernyataan no problem Pak. Pertanyaannya Pak yang pertama, ini sebagai saran, mohon dapatnya kepada Bapak Menteri setiap Program Kerja yang dilakukan oleh mitra yang kami sebutkan tadi Pak, yang ujung tombaknya menempel di Bapak tadi dalam setiap dia akan melakukan kegiatan untuk berinteraksi dengan negara-negara dimanapun dia berada harus atas sepengetahuan Pak Dubes. Dia harus kulonuwon dan dia harus menyampaikan apa yang akan dilakukan. Jadi bukan dia selonong boy hasil tidak jelas balik Pak, sehingga begitu ditanyakan babaliyud Pak, ini kita tidak menginginkan ini terjadi. Yang kedua, mohon dapatnya Pasal 18 baik A maupun B tentang Keuangan dan Perlengkapan ini yang kita melihat agak sedikit menyedihkan masalah di lapangan bagi Atase Pertahanan maupun Atase Teknis, bahwa di Pasal 18 ini Pak, baik A maupun B, apakah bisa difasilitasi oleh Pak Menlu untuk duduk bersama dengan Kementerian yang terkait supaya anggaran tadi Pak, supaya bisa ditarik satu pintu, penggunaannya juga terkontrol, sehingga tidak terjadi bias di lapangan, tepat sasaran, tepat guna, tepat hasil, tepat jumlah apa yang diinginkan, ini Pak yang kedua sebagai saran. Kemudian yang ketiga, mohon kepada Pak Menteri dengan jajarannya Pak, kalau ada satu kebijakan yang dikeluarkan oleh mitra, kemudian menurut pengamatan dari pihak KBRI, bahwa itu bisa dilaksanakan alhamdulilah, tidak bisa dilaksanakan harus ada kemampuan dan keberanian nyali tadi Pak untuk menyatakan tidak seperti kita ambil contoh Pak bagaimana Kemhan telah membuat satu tulisan yang dituangkan di dalam MoU dengan Turki tentang Inhan dan lain sebagainya. Sampai hari ini ujung-ujungnya tidak jelas Pak, kabur, apakah ini tidak membuat malu kita Pak, belum dengan Kementerian-Kementerian di Negara tersebut yang lain-lain Pak dan tambahan Pak, mohon jawaban ini saran cukup Pak dari kami. Pertanyaannya satu Pak, bagaimana tindak lanjut, walaupun tadi Ketua menyampaikan nanti forum yang berikutnya, tetapi kami rasa ini penting, karena ini sudah diutarakan pada waktu Raker yang lalu, yaitu

(15)

15 mengenai masalah Camar Wulan maupun Tanjung Datuk, sudah 33 tahun ini tidak ada hasilnya, dari Tahun 1978, kita melihat pekerjaan di lapangan tidak menghasilkan dan dugaan di lapangan terjadi pencaplokan, ini respon dari pendekatan Bapak kepada negara yang bersangkutan seperti apa Pak? Mohon penjelasan dari yang satu ini, yang tiga sebagai saran.

Demikian, habis, selesai. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Tri Tamtomo.

Silahkan Pak Muhammad Najib, bersiap-siap Pak Effendy Choirie. F-PAN (Ir. MUHAMMAD NAJIB, M.Sc.):

Terima kasih.

Pimpinan dan Rekan-rekan Anggota Komisi I yang saya banggakan, Pak Menteri dan segenap Jajaran yang saya hormati.

Pertama-tama, saya ingin memberikan apresiasi atas sukses Bali Democracy Forum (BDF), melengkapi sukses kita mengadakan beberapa summit di Bali sebelumnya. Nah, hanya saja barangkali saya berharap ke depan, di tengah-tengah kehadiran, khususnya para Kepala Negara, di dalam BDF itu, dilakukan pertemuan-pertemuan bilateral yang muaranya kepada ekonomi yang tadi banyak disinggung oleh Pak Tantowi Yahya. Lebih dari itu, barangkali harus ada upaya penggalangan secara spesifik terhadap negara-negara tertentu yang kita berharap apakah itu peningkatan trading-nya atau investasinya, ini harus ada upaya khusus dilakukan untuk bukan saja menghadirkan Kepala Negara yang bersangkutan di dalam BDF, tetapi juga bagaimana langkah-langkah awal menciptakan suasana kondusif, ketertarikan, penjelasan-penjelasan opportunity yang ada Indonesia dan seterusnya, sehingga kemudian kita tidak hanya sukses sebagai EO, tetapi lebih dari itu, ada capaian-capaian politik sekaligus ekonomi yang konkrit, itu catatan saya terhadap BDF.

Yang kedua, melengkapi apa yang disampaikan Mas Tantowi terkait dengan rekomendasi pertemuan regional Dubes-Dubes kita di Kawasan MENA ini, sebenarnya rekomendasi awal itu sangat tegas, sangat lugas, bahwa pengiriman pembantu rumah tangga perempuan ke kawasan Timur Tengah harus dihentikan, makin cepat makin baik. Nah, hanya saja, kemudian kita harus berkompromi dengan teman-teman Kemenlu yang tidak ingin rekomendasi itu mengusik Kementerian lain, apalagi mengundang respon politik yang tidak perlu. Akhirnya, komprominya, bahasanya, secara bertahap dikurangi diganti dengan pengiriman Tenaga Kerja Professional. Kita mendapatkan angka-angka yang sangat menarik, misalnya dari salah seorang Dubes di Timur Tengah, mengatakan kalau di kalkulasi secara obyektif, devisa yang disumbangkan oleh pembantu rumah tangga ini mungkin lebih kecil dari dana yang harus dikeluarkan negara, karena selama ini pengeluaran negara dari saku yang lain sama sekali tidak pernah disebut-sebut. Bagaimana negara mengeluarkan dana, menyelesaikan masalah-masalah TKW yang terlantar itu selama berbulan-bulan, bahkan ada yang lebih setahun harus tinggal di penampungan-penampungan kita di luar. Ini saya kira supaya ke depan ini tidak menjadi persoalan interest antar komisi atau interest antar Kementerian, saya kira layak untuk duduk bersama, kita buka data-data itu.

Yang kedua, juga ada hal yang sangat menarik dan kalau kita mengunjungi beberapa kawasan Timur Tengah, katakanlah Dubai, Qatar, itu opportunity, tenaga kerja professional itu luar biasa dan Dubes-Dubes kita menyampaikan permintaan luar biasa besar, tetapi PJTKI, Depnaker Trans, BNP2TKI asik masyuk mengirim tenaga kerja pembantu rumah tangga, opportunity yang besar, bermartabat, dan jauh lebih aman dari sisi perlindungan ini sama sekali tidak dilirik. Tidak ada sedikitpun tampak beranjak keinginan PJTKI itu untuk meningkatkan, mengirimkan tenaga-tenaga kerja professional. Nah yang terakhir ini, yang tidak ternilai Pak, masalah marwah, harga diri bangsa, martabat bangsa, kita tidak mungkin bicara masalah diplomasi secara maksimal apalagi bicara ekonomi secara maksimal kalau kita baru mau bertemu saja mereka sudah complain kita tenaga kerjanya, pembantu rumah tangganya males, kurang pinter, bagaimana mau bicara masalah investasi, peningkatan perdagangan. Nah, ini saya kira kita harus mengubah wajah kita, khususnya di kawasan Timur Tengah, perlu ada keberanian dan saya mungkin di masa transisi kebijakan ini akan ada masalah-masalah yang

(16)

16 kita hadapi, tetapi percayalah dalam jangka panjang ini kebijakan yang benar, kebijakan yang menjanjikan, baik secara ekonomi maupun secara politik.

Selanjutnya, masih terkait dengan Kawasan MENA, saya dua terakhir ini dua kali ketemu Dubes Libya, mereka senyumnya sudah lepas berbeda dengan sebelum-sebelumnya, selalu cemberut begitu dan saya tadi memperhatikan dengan seksama ketika Pak Menteri membacakan bagaimana hubungan diplomatik kita sudah kembali dengan Libya, ini formatnya sebenarnya bagaimana Pak, karena kami dengar juga sudah ada surat yang dilayangkan waktu kami bertemu regional di Maroko, rekomendasi kita lupakan saja proses sebelumnya, tetapi berikan surat semacam ucapan selamat kepada Perdana Menteri yang baru, beserta Kabinetnya. Nah sehingga kemudian, kita tidak terperangkap dengan pengakuan NTC dan lain sebagainya. Nah, kami ingin mendengar dari Pak Menteri secara langsung bagaimana format surat resmi yang dilayangkan oleh Kemenlu. Terkait dengan Yaman dan Syria, menurut hemat saya harus ada desk khusus yang memonitor masalah ini. Syria makin serius dan feeling politik saya mudah-mudahan keliru, kayaknya tidak akan jauh dengan Libya penyelesaian akhirnya, karena kalau kita lihat kekerasannya Azad ya dan Azad Senior dulu melakukan ini hanya saja dia beruntung, karena media komunikasi belum semudah sekarang, tetapi saya tidak tahu Bazar ini putra Azad ini bagaimana di, merespon ini, tetapi paling tidak sampai saat ini tidak ada tanda-tanda dia mau berkompromi, walaupun begitu banyak tekanan yang diberikan. Nah, karena itu penting sekali untuk menyiapkan kontingensi plan terkait dengan penyelamatan, evakuasi warga negara kita di situ. Hanya saja beruntung, karena Syria ini relatif mudah untuk bergerak, apakah itu ke Libanon maupun ke Yordan, yang saya kira ini perlu diantisipasi. Nah, yang lebih serius sebenarnya Yaman walaupun negosiasi-negosiasi dan kompromi politik sudah terjadi, tetapi saya mendapatkan data dari Dubes Yaman Pak, secara langsung perbandingan jumlah senjata dan manusia itu 1:7 di sana. Jadi itu bukan saja senjata ringan. Jadi satu orang ini rata-rata punya 7 senjata, bukan senjata ringan, termasuk peluncur dan tank, suku-suku di sana memiliki senjata peluncur dan tank. Nah, ini saya kira juga perlu dimonitor secara khusus apalagi kalau lihat jumlah mahasiswa kita terbesar kedua setelah Mesir dan tadi Pak Menteri kami berterima kasih, karena sudah melaporkan secara akurat berapa jumlah korban warga negara kita dan upaya-upaya untuk mengantisipasi, tetapi saya ingin memberikan masukan tambahan, sehingga kita bisa memperhatikan masalah ini lebih serius.

Terakhir masalah Papua Pak, saya kira kita tidak bisa melakukan business as usual terkait dengan diplomasi-diplomasi. Kami mangapresiasi upaya Kemenlu membuka begitu banyak Kedutaan di Negara-Negara Melanesia dengan tujuan membendung upaya-upaya disintegrasi Papua, tetapi sekarang ini saya kira itu saja tidak cukup Pak. Diplomasi-diplomasi multilateral khususnya yang terkait dengan beberapa poros Amerika, Inggris, Australia yang mereka melakukan diplomasi secara intensif dan isu yang menarik yang dikembangkan akhir-akhir ini adalah menggugat keberadaan Papua sebagai bagian dari NKRI dalam konteks historis. Nah, ini sampai saat ini dari apa yang saya dengar itu upaya-upaya antisipasi atau mengimbangi paling tidak di 3 negara yang kami sebutkan tadi belum nampak dari Kemenlu dan saya kira kita semua sudah tahu betapa seriusnya suasana di Papua akhir-akhir ini. Nah, terakhir saya kira hanya ingin menambahkan Pak terkait dengan pembicaraan kita sebelumnya, karena saya terus terang belum melihat ada peningkatan yang nyata terkait dengan proses penempatan Duta-Duta Besar kita di luar negeri, walaupun ada pemendekan waktu pembekalan, kemudian upaya mempercepat agreement, tetapi itu masih jauh dari memadai. Kami berharap ke depan sebelum Duta Besar kita itu meninggalkan negara itu, mestinya kita sudah menetapkan calon penggantinya, sehingga ada proses paralel dan idealnya tidak ada hari yang kosong, kalau perlu sedetikpun saat Dubes itu meninggalkan negara itu pada hari yang sama kita secara teknis sudah mengirimkan Dubes yang baru dan ini bukan saja menurut hemat saya menimbulkan misunderstanding, kesalahpahaman politik yang luar biasa diantara dua negara, tetapi juga kemudian menyangkut kemampuan kita mengelola negara, kredibilitas kita sebagai bangsa ini juga ikut terpengaruh dengan kemampuan kita, karena saya perhatikan beberapa negara itu sudah melakukan itu, bukan saja negara-negara maju, bahkan juga ada semacam pemagangan sebelum Dubes itu ditempatkan, tetapi dia sudah ditentukan di negara mana dan dia magang dulu, baru kembali kemudian secara resmi datang untuk itu. Nah, saya kira kita juga harus

Referensi

Dokumen terkait

Terima kasih ya Pak Gamari. Ada 5 pertanyaan, juga masukan Pak Kus dan ada juga antara pertanyaan itu yang mungkin imbang-imbang, apa manfaatnya, gunanya dari Pak

Terima kasih. Saudara Ketua dan Pimpinan Komisi I yang saya hormati. Wakil dari Pemerintah, Menkumhan serta seluruh jajaran dan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan

Tadi presentasi sudah diberikan, ya tapi saya secara mendalam itu saya ingin mendapat, apa namanya lebih detail lagi dari Bapak-bapak sekalian. Baik itu Pilkada atau itu

KETUA RAPAT (DR. Bapak dan Ibu yang kami hormati. Kalau demikian boleh saya tidak membacakan draft DIM nomor 4 dengan setelah ada diantara kita kesepakatan ya,

Dengan telah selesainya pembahasan terhadap Rancangan Undang-undang tentang perubahan atas Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang ITE dan setelah mendengarkan

Aptika, Aptika. Oleh karenanya Ibu Evita tadi waktu kita bahas APBNP 2016. Kan salah satunya adalah relokasi penguatan dari fungsi yang ini di Aptika Ibu. Ya karena ini kalau

Saya kira mungkin definisi pemahaman antara perlu ada penjelasan atau pendefinisian yang sama yang dimaksudkan dengan tindak pidana politik antara pihak China dengan pihak

dilakukan. Yang kita punya itu Namanya Puslitbang Diklat RRI Pak, yang ada di Radio Dalam itu kita punya database respon pendengar dan dia selalu online Pak, seperti ini. Jadi