DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT KOMISI I DPR RI Tahun Sidang : 2015-2016 Masa Persidangan : V
Jenis Rapat : Uji Kelayakan dan Kepatutan Komisi I DPR RI Hari, Tanggal : Selasa, 18 Juli 2016
Pukul : 10.20 WIB – WIB
Sifat Rapat : Terbuka
Pimpinan Rapat : Dr. TB. Hasanuddin, SE., MM.
Sekretaris Rapat : Suprihartini, S.IP., Kabagset. Komisi I DPR RI Tempat : Ruang Rapat Komisi I DPR RI
Gedung Nusantara II Lt. 1,
Jl. Jenderal Gatot Soebroto, Jakarta 10270
Acara : Uji Kepatutan dan Kelayakan calon anggota KPI Pusat Periode 2016-2019
Anggota yang Hadir : PIMPINAN :
1. Dr. Abdul Kharis Almasyhari, SE., M.Si (F-PKS)
2. Dr. TB. Hasanuddin, SE., MM. (F-PDIP) 3. Meutya Viada Hafid (F-PG)
4. Asril Hamzah Tanjung, S.IP. (F-GERINDRA) 5. H.A. Hanafi Rais, S.IP, MPP. (F-PAN)
ANGGOTA : FRAKSI PDI-P
6. Ir. Rudianto Tjen
7. Drs. Effendi MS. Simbolon, MIPol 8. Tuti N. Roosdiono
9. Charles Honoris
10. Dr. Dr. EVITA NURSANTY, M.SC. 11. Bambang Wuryanto
12. Marinus Gea, SE., M.Si.
13. Irine Yusiana Roba Putri, S.Sos., M.Comm & Mediast.
FRAKSI PARTAI GOLKAR 14. Dr. Fayakhun Andriadi 15. Tantowi Yahya
16. Bobby Adhityo Rizaldi, SE., MBA., CFE. 17. Dave Akbarsyah Fikarno, ME.
18. Drs. Agun Gunandjar Sudarsa 19. Venny Devianti, S.Sos
20. H. Zainudin Amali, SE
21. H. Andi Rio Idris Padjalangi, SH., M.Kn FRAKSI PARTAI GERINDRA
22. H. Ahmad Muzani 23. Martin Mutabarat
24. Rachel Maryam Sayidina
25. Andika Pandu Puragabaya, S.Psi., M.Sc. 26. Elnino M. Husein Mohi, ST., M.Si.
FRAKSI PARTAI DEMOKRAT
27. Dr. Sjarifuddin Hasan, SE., MM., MBA. 28. Dr. Nurhayati Ali Assegaf, M.Si.
29. Mayjen TNI (Purn) Salim Mengga 30. H. Darizal Basir
31. Dr. Ir. Djoko Udjianto, MM. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL
32. Zulkifli Hasan, SE., MM. 33. Ir. Alimin Abdullah 34. Budi Youyastri
35. H. M. Syafruddin, ST., MM.
FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA 36. Drs. H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si. 37. Dra. Hj. Ida Fauziyah, M.Si.
38. Drs. H.M. Syaiful Bahri Anshori, M.P. 39. Arvin Hakim Thoha
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA 40. Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA 41. Dr. H. Jazuli Juwaini, Lc., MA 42. Dr. Sukamta
FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN 43. H. Moh. Arwani Thomafi
44. Dr. H.A. Dimyati Natakusumah, SH., MH., M.Si.
45. Hj. Kartika Yudhisti, B.Eng., M.Sc. 46. H. Syaifullah Tamliha, S.Pi., MS. FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT
47. Prof. Dr. Bachtiar Aly, MA. 48. Prananda Surya Paloh
49. Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra 50. Victor Bungtilu Laiskodat
FRAKSI PARTAI HANURA
51. M. Arief Suditomo, SH., MA. Anggota yang Izin :
Undangan :
Jalannya Rapat :
KETUA RAPAT (DR. TB. HASANUDDIN, SE., MM.) :
Wabil khusus, disini sudah ada 5 orang yang akan mengikuti uji kepatutan dan kelayakan komisaris KPI. Bukan komisaris ya? Komisioner KPI, mohon maaf keliru. Pada hari ini, saya kira ini adalah sesion pertama yang hadir dan saya kira sesuai dengan ketentuan maka acara ini, acara uji kelayakan akan dilakukan secara terbuka. Dengan mengucapkan
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Maka uji kelayakan ini kami buka.
(RAPAT DIBUKA 10.30 PUKUL WIB)
Ijinkan saya mengingatkan dulu tentang aturan-aturan yang ingin kita pakai. Berdasarkan pasal 10 ayat (2) Undang-Undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran yang selanjutnya disebut Undang-Undang penyiaran menyebutkan Anggota KPI pusat dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia dan KPI daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Daerah Provinsi atas usul masyarakat melalui uji kepatutan dan kelayakan secara terbuka. Dan kita akan laksanakan itu saya kira secara terbuka.
Kemudian sudah melewati acara-acara, saya kira dari sekian ratus nanti akan hadir 27 orang. Yang akan dilaksanakan pada hari ini adalah lima, lima, lima belas dan besok enam, enam dua belas. Seluruhnya 27. Besok sore kita akan masuk kepada keputusan.
Calon anggota KPI pusat adalah orang-orang yang memenuhi persyaratan sebagaimana ditentukan dalam pasal 10 Undang-Undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran. Yaitu ada 10 persyaratan. Saya ingin dulu memperjelas kepada Saudara-Saudara.
Yang pertama adalah sehat jasmani dan rohani, apakah Bapak-Bapak yang lima orang ini dalam kondisi sakit? Saya kira semua sakit ya? oke.
Kemudian syarat berikutnya adalah tidak terkait langsung atau tidak langsung dengan kepemilikan media massa. Apakah diantara Saudara-Saudara ini yang memiliki keterkaitan ya nanti disampaikan.
Kemudian bukan anggota legislatif dan yudikatif, bukan ya?
Kemudian bukan pejabat Pemerintah, saya kira saya tidak melihat tadi yang masuk bawa ajudan atau pakai mobil camry, jadi bukan pejabat Pemerintah.
Bapak dan Ibu yang kami hormati,
Hari ini telah hadir. Yaitu yang pertama Pak Ade Bujenrini, Kemudian Pak Ardiyanto Korga, kemudian Pak Agung Supriyo, keempat Pak Agus Sudibyo dan terakhir yang kelima adalah Pak Arief Adi Kuswardono.
Pelaksanaan uji kepatutan saya ulangi lagi, yang pertama Bapak bapak nanti masing-masing calon agar menyampaikan visi dan misi paling lama 7 menit. Kami begitu akan mulai dan pada menit keenam kami akan mengingatkan dan menit ke-7 kami akan stop. Seperti dan dimanapun paparan itu. Dan nanti bisa disampaikan misi itu tambahan pada saat tanya jawab.
Berikutnya untuk sesi pertama nanti akan ada dilakukan pendalaman atau tanya jawab. Masing-masing fraksi dapat mengajukan pertanyaan selama 3 menit. Apakah satu orang, dua orang atau masing-masing satu menit sehingga menjadi 3 orang. Silkan saja.
Kemudian dijawab oleh masing-masing setelah semua bertanya tiga menit, tiga menit, tiga menit, 10 fraksi. Kemudian nanti Bapak bapak akan mejawab masing-masing 10 menit. 10 menit itu untuk menjawab 10 fraksi. Sehingga harus dengan tangkas. Kalau masih kurang nanti akan pendalaman berikutnya. Sama seperti pertanyaan tiga menit, tiga menit, dijawab 10 menit lagi. Sehingga mohon setidaknya kalau belum hapal namanya fraksinya saja. Sehingga pertanyaan tadi ada pertanyaan dari fraksi a, fraksi b dan dari fraksi a dan fraksi b akan diguide dari sini. Saya kira cukup jelas.
Bapak dan Ibu yang kami hormati,
Saya kira ini barangkali kita putar saja dari kanan dulu. Bapak mohon kelihatannya Pak Ade sudah siap dari tadi pagi ya? Jadi kita dari kanan dulu Pak Arief kami persilakan. Iya tadi saya sudah minta ini dibawa disini saja, seperti biasanya saja.
Saya tadi pagi sudah minta kebagian belakang diatur dari sebelah kanan dan terkonsentrasi dari sini, jadi mohon sabar. Cuman kok tidak dilaksanakan. Bisa dimulai Pak? sebentar ini yang lain. Coba supaya tidak mengganggu, Pak Ade sudah? Pak Agung sudah siap? Yang disini? Iya oke, mohon sabar dulu Pak Arief. Sudah kesitu, lalu Pak Agus, oh tidak pakai. Baik, timer siapa? sudah siap? Baik kita mulai. Kami persilakan.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (ARIEF ADI KUSWARDONO) : Terima kasih
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang terhormat Bapak Pimpinan Komisi I,
Bapak dan Ibu Anggota Komisi I yang saya hormati,
Perkenankan saya ingin menyampaikan visi dan misi secara singkat sehingga ini menggambarkan apa yang ingin saya kerjakan jika saya terpilih sebagai komisioner KPI 2016-2019.
Visi dan misi saya beri judul mewujudkan penyiaran yang mendidik dan berkeadilan. Mengapa mendidik? Karena mendidik menurut saya adalah nilai yang paling dasar nilai kebajikan yang paling mendasar yang harus diwujudkan oleh industri penyiaran.
Kemudian mengapa perkeadilan. Karena penyiaran menurut saya adalah tidak hanya sekedar membagi bagi frekuensi atau membagi hak yang harus diberikan kepada pemohon dan sebagainya. Tetapi harus mampu mewujudkan kesejahtaraan. Jadi keadilan yang berkesejahtaraan atau sosial ... head begitu, kalau istilah Bung Karno begitu. Itu yang saya harapkan.
Berikutnya tentang highlight kondisi penyiaran yang sekarang sedang terjadi. Jadi memang televisid dan radio masih mendominasi Bapak dan Ibu, kemudian tetapi trend penontonnya terus menurut karena memang persaingannya makin meningkat dan adanya edaran media baru. Kelemahan ini terjadi adalah adanya stagnasi program atau apa ditelevisi. Kemudian dominasi televisi nasional dan kemudian ancaman kedepan dari pasar bebas.
Berikutnya hubungan relasi antara KPI dan KPID. Jadi KPI dan KPID tu poksi sama hanya mungkin wilayah pengawasannya yang berbeda Pak. nah ini yang mengakibatkan sering terjadi overlap. Kemudian salah satu yang menjadi soal adalah adanya mutu sumber daya manusia dan program penyiaran yang ada belum bisa diatasi semuanya oleh komisi penyiaran Indonesia dan Komisi penyiaran Indonesia daerah.
Perbaikan yang saya tawarkan adalah adanya commont content policy yang nanti akan saya jelaskan lebih jauh. Kemudian adanya kerjasama program yang intensif antara KPI dan KPID. Banyak sekali program yang dapat dikerjakan Bapak dan Ibu.
Kemudian untuk mengoptimalisasi tugas pokok fungsi KPI. Saya menginginkan dan berharap adanya the right man on the right place. Karena kita semua tahu atau kita semua punya keyakinan bahwa semua yang terpilih menjadi Anggota komisoner KPI mereka semua pasti punya capabilitas. Kemudian kordinasi dan kesamaan visi. Karena kita semua datang dari tempat yang berbeda-beda, latar belakang yang berbeda maka harus punya visi yang sama dalam melangkah.
Kemudian yang berikutnya adalah penyempurna mekanisme pengawasan yang nanti akan kita lakukan diantara kita untuk melaksanakan tugas dan kewenangan KPI.
Kemudian secara eksternal kita akan publikasikan common conten policy ini supaya ada satu visi, satu kebijakan. Kemudian stay up state regulasi termasuk dalam hal ini menurut saya draft P3 SPS. Menurut saya draft P3 SPS ini sangat penting terus menerus di up date. Saya tahu sekarang ada draft P3 SPS tapi sekarang ditahan 3P dan belum diberlakukan karena berbagai macam pertimbangan.
Kemudian prioritas program KPI, menurut saya Bapak dan Ibu. Saya sadar sepenuhnya KPI itu masa kerjanya tidak panjang. Hanya seribu hari. Maksud saya tiga tahun atau 1094 hari. Sementara kita akan berhadapan selama 3 tahun dengan sejumlah agenda besar nasional. Kemudian sementara kita juga masih terkait dengan problem sekretariat dan juga anggaran.
Itu membuat kita kemudian harus fokus dalam menjalankan atau memilih program dan anggaran yang akan kita kerjakan. Salah satu yang menurut saya adalah peningkatan pengawasan penyiaran sebagai program reguler yang akan kita kerjakan, kemudian peningkatan stasiun lokal, kreatifitas dan mutu program.
Kreatifitas dan mutu program menurut saya sangat memprihatinkan karena selama ini konten TV lokal itu sangat rendah. Selama 14 tahun tidak dapat kita tingkatkan sesuai dengan amanat Undang-Undang sampai 10%. Kemudian sudah ada proses yang terjadi di KPI sebelumnya dan selama ini harus segera diselesaikan yaitu tentang perpanjangan ijin penyiaran.
Berikutnya untuk program nasional. KPI baru mengadakan ... Lombok dan mengamanatkan support penuh terhadap Undang-Undang penyiaran yang juga rancangan Undang-Undang RTRI. Kemudian yang harus kita amankan adalah yang tidak kalah penting adalah Pilkada 2017 yang kampanyenya sudah mulai bulan Oktober nanti Pak. Jadi sekarang bulan Juli tinggal beberapa bulan lagi akan kita persiapkan dan akan mulai pemilihannya 11 Pebruari 2017.
Kemudian Pilkada serentak 2017 dan yang puncaknya adalah pemilihan Presiden dan wakil 2019. Digital penyiaran juga harus kita persiapkan. Nah kemudian terkait terhadap pandangan atau sikap terhadap isi siaran. Tentang program hiburan atau siaran hiburan. Menurut saya televisi terutama radio mengikut harus tetap menjadi lokomotif dunia hiburan. Jadi kita tahu kalau televisi dan radio menjadi ujung terdepan dunia hiburan, tetapi dia harus mampu mengikuti kesusilaan, kesopanan dan sebagainya.
Nah terkait dengan berbagai macam kritik dan kelemahan yang ada sekarang ini. Kita ingin agar KPI dapat memperluas untuk pengawasan siaran hiburan termasuk pada host atau talent nya. Kemudian dialog, treatment dan narasi juga akan kita cakupi. Jadi jangan sampai ada anggapan bahwa program ini sudah kita larang tetapi kok masih muncul program baru dengan isi yang sama. Itu karena menurut saya pengawasan itu hanya baju nya saja tetapi dalamnya tidak kita kontrol.
Kemudian LGBT Pak, lesbian, gay, biseksual dan trangander. Ini posisinya memang belum diatur secara jelas dalam Undang-Undang penyiaran dan PPP SPS. Tetapi kita berkepentingan untuk memprotek masyarakat dari pengaruh buruk LGBT. Yang pertama menurut penuh atau prinsip no layar untuk program-program tertentu. Jadi untuk program hiburan, kemudian variety show dan lain sebagainya, tidak ada sama sekali peluang untuk LGBT ada disitu. Prinsip HAM menurut saya tidak berlaku disini. Karena perasamaan hak yang dituntut oleh LGBT menurut saya dalam kontek HAM adalah perogratif right bukan non derogatif right. Jadi hak yang harus mutlak kita bela. Derogratif right itu dapat diabaikan dengan alasan dan.
KETUA RAPAT :
Kurang 1 menit Pak.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (ARIEF ADI KUSWARDONO) : Iya Pak.
Kemudian ada pembetasan untuk kesenian dan siaran jurnalistik Pak, untuk LGBT itu. Kemudian untuk siaran politik kita tahu prinsip-prinsipnya. Tapi ada perbaikan yang ingin saya tawarkan adalah fairness dokrin atau asset konfirmasi, atau balance statment nanti yang akan terjadi yang kemudian equal teknikal standar. Jadi kelamahan selama ini, kita hanya mengatur slot dan sebagainya. Tapi treatment teknisnya tidak kita atur sehingga menimbulkan kecurigaan.
Kemudian sanksi terhadap stasiun televisi yang melanggar. Kemudian kekerasan dan pornografi. Commont content policy yang penting Pak dan perluasan
ukuran nomra kekerasan. Kemudian siaran mistik dan supranatural juga menurut saya kita tetap menghormati PPP SPS tetapi ada hal-hal yang apa, terutama mengajarkan orang untuk percaya hal diluar nalar. Itu yang paling kita hindari.
Kemudian penyalahgunaan wewenang menurut saya memang banyak tudingan bahwa KPI menyalangunakan wewenang. Kita ingin agar itu tidak terjadi. Kita lakukan dengan ukuran kinerja terhadap komisoner baru termasuk saya kalau misalkan terpilih. Kemudian juga open management dan kemudian evaluasi secara terbuka secara rutin. Termasuk membuka cek dan balance, peluang cek and balance secara internal dengan membuka komisi etik maupun dengan membuka control dari masyarakat.
Disersi penyiaran menurut saya tidak bisa kita hindari, cuman masalahnya adalah.
KETUA RAPAT :
Interupsi Pak Arief waktunya habis.
Baik, kami mohon persiapan dari Pak Agus Sudibyo. Baik sudah siap. Kami persilakan.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (AGUS SUDIBYO) : Bismillahirrahmanirrahim
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Pertama-tama masih dalam bulan syawal, ijinkan saya mengucapkan minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir batin kepada Bapak dan Ibu Pimpinan dan Anggota Komisi I DPR RI dan para staf.
Selanjutnya mohon ijin untuk menyampaikan ringkasan dari visi misi yang sudah kami serahkan kepada Komisi I DPR RI. Saya ringkas dalam empat lima hal, mudah-mudahan waktunya cukup. Yang pertama kedepan sungguh urgent buat KPI untuk merumuskan peta baru dunia penyiaran diera digital sekarang ini. Maksud saya landscape bisnis media hari ini baik global maupun nasional sudah berubah banyak dengan hadirnya raksasa global seperti google, yahoo, facebook, twiter dan lain-lain. Sekedar gambaran pada tahun 2015 misalnya teknologi meraih 8,4 triliun pendapatan iklan. Iklan digitalnya itu kira-kira 12 triliun dan 17% nya itu diambil oleh korporasi global ini, dan informasi yang saya tahu, semuanya belum terkenai pajak.
Saya kira dengan terintegrasinya media televisi dan media digital hari ini dan masa depan dunia penyiaran diprediksi adalah dunia penyiaran yang terintegrasi dengan dunia digital dan semakin banyak orang akan nonton televisi dengan smart phone ini, maka landscape dunia penyiaran dengan dunia umum itu akan berubah total. Nah saya kira ini secara lebih luas, ini tekait dengan kedaulatan fiskal, terkait dengan kedaulatan informasi dan saya kira KPI perlu memberikan kontribusi dengan membuat maping baru. Secara sosial, bisnis, politik dan regulasi yang dibutuhkan itu seperti apa. Khususnya antara media penyiaran dan media digital.
Nah saya kira ini persoalan yang penting dan diperkirakan unit otpi media memperkirakan tahun 2018 secara global, iklan digital itu sudah melampaui revenuew dari media televesi maupun media konvensional yang lain. Saya kira di Eropa saya kira sedang keras sekali upaya untuk mepersoalkan google dan lain-lain, saya kira kita perlu juga mengantisipasi itu dan KPI juga saya kira perlu mengambil peran disana.
Yang kedua, yang menurut saya penting adalah apa yang saya sebut sebagai bagaimana meng Indonesia kan layar televisi kita. Maksud saya begini Bapak dan Ibu sekalian, kalau kita menonton televisi hari ini. Itu sangat terasa dimensi Jakarta sentris, Jawa sentris, ataupun urban sentris. Misalnya kalau kita bicara soal misalnya berita politik itu tahun depan itu akan ada puluhan Pilkada di Indonesia. Tapi di televisi kita hari ini hanya satu Pilkada yang mendapatkan satu porsi yang luar biasa. Yaitu Pilkada DKI. Padahal Pilkada ini isu nasional dan akan banyak terjadi Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke dan setiap provinsi itu punya dinamika sendiri. Itu juga penting untuk diperhatikan. Benar kalau Jakarta adalah pusat ekonomi, pusat politik, sehingga perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar.
Tapi saya kira di Undang-Undang penyiaran dikatakan bahwa amanat lembaga penyiaran adalah mewujudkan tatatan informasi yang adil, berimbang dan merata. Dan itu adalah hak setiap negara dari Sabang sampai Merauke. Sehingga seharusnya di layar televisi kita menemukan perimbangan itu. Dari sisi budaya juga seperti itu. Budaya Jawa juga masih sangat dominan, budaya Jawa atau sunda dibandingkan dengan yang luar Jawa. Media televisi juga lebih banyak menunjukkan sensibilitas masyarakat urban. Padahal kebanyakan penonton televisi adalah masyarakat pedesaan.
Saya kira ini persoalan yang saya sebut bagaimana meng Indonesia kan layar televisi kita dan menurut saya televisi juga harus banyak belajar dari Saudara yaitu media radio dalam hal bagaimana meningkatkan porsi tentang lokalitas. Nah ini saya kira kebijakan, keputusan dan tindakan KPI perlu ada dimensi disini.
Yang berikutnya yang menurut saya juga urgent adalah bagaimana mewujudkan dualitas status media penyiaran sebagai isu sosial dan isu isu bisnis. Kalau kita membaca Undang-Undang penyiaran, Undang-Undang pers jelas sekali sebenarnya media penyiaran itu pertama-tama adalah institusi sosial, mengemban kepentingan publik, tapi juga bisa berperan sebagai institusi bisnis. Dalam perakteknya ini seperti air dan minyak, Bapak dan Ibu sekalian. Sulit sekali mewujudkan misi, misi sosial mencerdaskan kehidupan bangsa, misalnya dengan misi bisnis untuk mencari keuntungan ekonomi. Dalam prakteknya memang susah tapi apa boleh buat karena ini adalah amanat Undang-Undang yang harus kita laksanakan bersama.
Misalnya dalam prakteknya seperti juga saya dengarkan menjadi keprihatinan para Anggota dewan yang terhormat, misalnya media penyiaran televisi sampai hari ini masih cenderung condong kepada status,
KETUA RAPAT :
Satu menit lagi Pak Agus, satu menit lagi Pak. CALON ANGGOTA KPI PUSAT (AGUS SUDIBYO) :
Iya, iya Pak.
Sebagai institusi bisnis ya. Mengejar keuntungan ekonomi, iklan dan lain-lain. Sementara sebagai institusi pendidikan pencerdasan itu kurang banyak memadai. Saya kira kebijakan keputusan KPI harus mengandaikan kualitas institusi sosial dan institusi bisnis ini. Yang berikutnya menurut saya, literasi media harus menjadi gerakan nasional. Saya ingin kita mencotoh seperti Jepang, ataupun Korea, ataupun
Australia dimana literasi media itu dimasukkan dalam kulikurim pendidikan nasional yang diajarkan kepada anak-anak kita yang masih SD ataupun SMP.
Nah saya kira ini perlu prioritas karena saya kira kita asemua sadar betapa besarnya karena pengaruh baik positif maupun negatif dari media penyiaran atau media lain. Nah sekarang literasi media masih diajarkan di seminar-seminar atau diskusi tapi belum menjadi bagian integral dari bagian pendidikan nasional kita. Menurut saya itu urgen sekali.
Yang terakhir Bapak Pimpinan, saya membayangkan KPI harus bisa menjadi jembatan komunikasi antara unsur masyarakat sipil dengan industri. Nah saya lihat jembatan komunikasi ini sampai sekarang belum ada. Sehingga kritik-kritik dari masyarakat sipil yang menurut saya itu sebagian bagus untuk industri itu belum memadai. Jadi ada gap, ada apriori diantara kedua belah pihak sehingga komunikasi itu dialog itu belum terjadi. Menurut saya dialog antara industri penyiaran dengan masyarakat sipil itu sangat urgent untuk perbaikan dunia televisi kita.
Terima kasih
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :
Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh Kami persilakan Pak Agung, persiapan.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (AGUNG SUPRIYO) : Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh Taqabbalallahu minna wa minkum, Minal Aidin wal Faizin
Saya membuat KPI lebih tengrinas, tengrinas itu maksudnya lebih lincah dan kemudian menciptakan penyiaran yang bermartabat. Kita lihat evaluasi KPI. Evaluasi KPI kita lihat pada tiga hal, integrasi sosial, budaya dan teritorial. Dalam integrasi sosial ada nilai plus buat KPI yaitu yaitu pengawasan terhadap LGBT dan umpamanya memfliter gerakan radikal.
Yang kedua integrasi budaya. Nah ini yang saya kira KPI minus, kenapa? Karena memang ada Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang mensyaratkan konten lokal harus ada di TV lokal dan berjaringan. Dan sampai sekarang saya kira hal itu belum terselenggarakan.
Yang ketiga integrasi teritorial. Ini belum terselenggaranya penyiaran di daerah perbatasan. Jadi saya kira minus dan minusnya lagi masih banyak tayangan yang tidak berkualitas.
Catatan dalam dunia hiburan saat ini, pertama rating tinggi dan tidak berkualitas, dominannya film-film seri dari negara-negara luar seperti Korea, Turky dan India, sebagian besar tayangan yang diproduksi oleh dalam negeri tidak berkualitas diantaranya tidak mendidik untuk masa-masa remaja. Keempat, sebagian besar tayangan untuk anak berasal dari luar dan tayangan-tayangan itu melanggar PPP dan SPS dan sangat sedikit tayangan anak yang diproduksi dalam neger. Yang terakhir tayangan televisi sangat didominasi oleh kepentingan media.
Yang keempat, yang pertama saya ingin audit rating. Kenapa? Karena memang rating ini didominasi oleh satu lembaga swasta, sangat monopolistik, dan
metedologinya saya pertanyakan. Karena dia survey hanya 10 provinsi, yang diambil adalah Ibu kotanya. Kalau kita bicara Jawa Barat, itu hanya bicara Bandung, Kita tidak bicara Sukabumi, Tasikmalaya dan seterusnya. Dengan jumlah responden 2 ribu orang. Oleh karena itu saya ingin ada audit rating dan kemudian menyelenggarakan rating oleh lembaga yang kredibel.
Yang kedua ini menggunakan twiter. Tadi mas Agus mengatakan perlu adanya perlibatan partisipasi publik. Nah saya ingin agar sebelum sebuah tayangan diproduksi harus melibatkan partisipasi publik melalui twiter. Jadi KPI mewajibkan setiap lembaga penyiaran sebelum membuat produksi harus melibatkan partisipasi publik lewat twiter. Anda bayangkan misalkan acara talk show, ada seorang yang menginginkan ada seorang yang nara sumber dalam program tertentu dan ini kemudian diakomodasi oleh lembaga penyiaran. Artinya memang rating dengan twiter ini bisa saling melengkapi.
Yang kedua, implementasi Undang-Undang. Saya ingin agar KPI yang saat sekarang ini, kalau dulu ini belum konsisten melakukan penetapan konten lokal dan kalau sekarang melakukan penerapan konten lokal.
Yang ketiga, sertifikasi terhadap sumber daya manusia. Jadi setiap pekerja yang bekerja dalam lembaga penyiaran atau industri penyiaran itu harus mendapatkan sertfikat agar penyiaran berkualitas.
Nah yang terakhir adalah sanksi denda. Ini adalah revisi regulasi. Saya berharap agar tidak hanya sanksi administratif yang diterapkan oleh KPI tetapi juga sanksi denda. Sehingga tidak ada tayangan yang dilanggar PPP atau SPS.
Lanjut, literasi media. Ada dua hal yang pertama contoh, kita bisa mencontoh program KB. Pertama ini saya melihat bahwa KPI melakukan literasi media yang sifatnya kelompok menengah atau kelas menengah. Padahal banyak penonton yang ada di luar itu. nah kalau kita melihat program KB Pemerintah itu struktural dan masif, dari tingkat negara, provinsi sampai tingkat RT. Ada penyuluh yang memberitakan bahaya media sehingga masyarakat menjadi melek media. Tanpa adanya program melek media lalu kemudian saya kira masyarakat hanya menjadi konsumen dari lembaga penyiaran.
Yang ketiga kurikulum mitrasi yang tadi sudah disampaikan oleh mas Agus, saya sepakat. Lanjut, penyiaran di daerah perbatasan. Nah in yang saya agak ironi. Karena banyak daerah-daerah perbatasan yang menerima isi siaran dari negara lain. Yang pertama mempermudah ijin, dan sama dengan RRI. Yang ketiga berkordinasi dengan KPID, kenapa dengan KPID? Karena dua lembaga ini adalah lembaga penyiaran publik yang mendapatkan dana dari APBN. Ya kalau saya telepon beberapa dari KPI daerah, ya Kaltim misalnya disana ada infrastruktur penyiaran tetapi tidak terurus.
Lanjut, sumber dana alternatif ya. Yang pertama saya mengusulkan peningkatan BHPF. Bapak-Bapak Ibu sekalian, pemasukan kita setiap tahun dari lembaga penyiaran kotornya itu 100 triliun rupiah. Anda bayangkan 100 triliun sementara BHPF nya hanya 40 miliar. Sangat jauh dengan telekomunikasi kalau kita bandingkan. Nah saya ingin agar BHPF nya ditingkatkan, nanti kerjasama dengan Kominfo dan menteri keuangan. Lalu sebagian dananya dibuat untuk literasi media.
Kemudian retribusi iklan 3%, ini saya mengadopsi KPI di Turki. KETUA RAPAT :
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (AGUNG SUPRIYO) :
3% untuk kegiatan, untuk dibagi KPI dan nanti kalau lebih KPI dapat berkontribusi buat APBN. Retribusi iklan 3%.
Lanjut, nah ini literasi digital media, jadi kalau kita melihat proyek Pemerintah sekarang tentang digital media, akan banyak keuntungan. Yang pertama tentunya untuk daerah perbatasan. Kalau konsisten dengan digital media maka daerah perbatasan akan mampu menerima siaran dengan jernih. Mereka sudah melakukan tender dan sebagian diberikan dikode untuk menerima siaran digital. Nah saya ingin cek apakah diterima di daerah perbatasan. Ini memang berkah dari digital media. Kemudian ada dikeberagaman isi atau konten, kalau misalnya digital media. Karena waktu atau oprator digital media itu ada 12 frekuensi. Nah itu dibagi per region. Sehingga masing-masing punya produksi tersendiri. Kemudian untuk itu dibutuhkan revisi regulasi.
Jadi revisi regulasi ada dua hal, yang pertama membuat sanksi denda secara langsung bukan hanya saja administratif. Yang kedua revisi regulasi terkait dengan digitalisasi media.
KETUA RAPAT :
Waktunya habis Bapak.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (AGUNG SUPRIYO) : Terima kasih
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :
Sekarang Afrianto, kami persilakan.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (AFRIANTO KORGA) : Bismillahirrahmanirrahim
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh Selamat siang dan salam sejahtera buat kita semua,
Yang saya hormati Bapak-bapak Pimpinan Komisi I dengan Anggota Komisi I DPR RI dan hadirin semua yang berbahagia,
Ijinkan saya menyampaikan beberapa paparan dari visi misi, pandangan serta komitmen dari apa yang diharapkan terhadap calon Komisi KPI pusat dari Komisi I. Bapak-Bapak dan Ibu yang saya hormati,
Dalam visi misi ini, dalam aspek pandangan dan komitmen, saya menampilkan visi yakni terwujudnya KPI sebagai lembaga yang kuat dan melekat di
hati masyarakat. Nah ini persoalannya adalah karena KPI selama ini belum tersentuh oleh masyarakat, tidak dikenal dan tidak mendapat respon dan dukungan dari masyarakat. Makanya kedepan KPI ini harus menjadi lembaga yang kuat terlebih dahulu, lembaga yang dihargai dan melekat di hati masyarakat.
Dari hal tersebut ada visi yang akan saya tampilkan dalam visi ini. Yang pertama melakukan penguatan internal dalam kelembagaan secara terintegrasi. Persoalan yang terjadi selama ini komisioner yang ada baik itu komisioner KPI, KPU dan seterusnya adalah persoalan penguatan dari sisi kelembagaan, dari sisi komisioner itu sendiri. Dan yang kedua adalah antar komisioner dari sekretariat. Kalau sesama komisioner itu gontok gontokan antara komisioner dan sekretariat itu tidak ada sejalan, maka bagaimana bergerak dan bekerja kalau itu menjadi persoalan di lapangan.
Berikutnya juga meningkatkan infrastruktur dan SDM untuk menunjang profesionalitas dan tuntutan perkembangan jaman. Ini penting. Bagaimana akan bergerak KPI kalau tempatnya saja tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Bagaimana akan bergerak kalau SDM dan sumber daya sarana dan prasarana tidak mendukung. Padahal apa yang akan dipantau, apa yang akan diawasi, apa yang akan di line itu sangat banyak dan sangat komplit persoalannya nanti kalau masuk era digitalisasi.
Dan yang terpenting adalah untuk menguatkan lembaga ini harus ada harmonisasi Pemerintah termasuk pemangku kepentingan lainnya. Baik itu dengan Pemerintah, baik itu dengan DPR RI, baik itu dengan dunia penyiaran, industri penyiaran baik dengan lembaga masyarakat melalui perwakilan organisasi kemasyarakatan. Dan yang terpenting dari semua itu adalah menjaga integritas dan independensi secara terbuka. Ada yang terlihat seakan-akan punya integritas dan independensi tapi sesungguhnya tidak. Ada yang tidak terlihat punya integritas independensi tapi sebenarnya KPI atau komisioner ini punya. Ini yang sebenarnya kita satukan. Terlihat dia punya integritas tapi benar dia punya integritas. Terlihat seakan independen tapi benar sesungguhnya dia punya independen atau sebaliknya. Ini yang akan kita kejar kedepan.
Dalam rangka menguatkan lembaga ini juga perlunya meningkatkan kerjasama dengan masyarakat. Dan juga penguat informasi kepada publik tentang KPI itu sendiri. agar masyarakat punya pengetahuan yang luas, punya pengetahuan yang jelas terhadap KPI dan kalau ada apa-apa tidak perlu KPI repot-repot minta masukan masyarakat tapi yang pasti adalah masyarakat akan dengan sukarela mengawasi program penyiaran yang ada.
Pandangan saya terhadap dunia penyiaran. Yang pertama perlu program penguatan integrasi nasional. Persoalan negara dan bangsa ini salah satunya adalah ada upaya pihak-pihak untuk melakukan agar NKRI ini pecah atau NKRI ini tidak seperti yang kita bayangkan sampai dengan akhirnya. Indonesia tetap bertahan, ini yang harus kita perkuat melalui penyiaran ini. Kalau itu sudah kita lemahkan dan kalau itu tidak kita perhatikan, maka lalu penyiaran akan ada pendangkalan-pendangkalan budaya, persoalan agama yang selama ini bersama-sama dalam sila ketuhanan yang maha esa, dan ada persoalan isu-isu sara yang akan ditonjolkan yang akan merusak tatanan negara republik Indonesia yang kita cinati ini. Identitas budaya dan bangsa serta agama.
Saya rasa yang selama ini adalah banyak anak muda, generasi muda yang remaja, yang lebih paham budaya-budaya Korea dibandingkan budaya di daerah sendiri. Ini watak, mereka lebih paham dengan budaya India, budaya-budaya asing, Eropa dan sebagainya, mengapa? Karena perimbangan dari hal
tersebut yang masih kurang dibeberapa lembaga penyiaran yang ada. Ini yang harus kita tingkatkan bersama-sama. Perlindungan kepada remaja juga masih kurang, termasuk dari isi siarnya, jam tayang dan sebagainya.
Tanggungjawab moral siaran yang harusnya dituntut disini. Disamping KPI sebagai lembaga yang mengawasi, disamping Pemerintah, disamping masyarakat, tapi dunia penyiaran itu sendiri itu pun harus punya kesadaran, punya integritas moral juga untuk memberikan siaran-siaran yang lebih baik. Kalau sudah seperti itu maka KPI, maka masyarakat juga tidak akan repot-repot mengurusinya dan perlunya kesadaran dari lembaga penyiaran yang ada.
Terkait tupoksi dan KPI dan KPID. Kalau kita mengacu kepada Undang-Undang 32 tahun 2002 itu sudah cukup. Kalau itu saja sudah dijalankan oleh KPI dan KPID, sebenarnya sudah luar biasa penyiaran secara lebih baik untuk masyarakat yang berbangsa, yang sehat dan berkualitas. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengoptimalkan dari pada pelaksanaan tupoksi tersebut. Menurut saya yang pertama melakukan program kerja yang efektif dan realistis. Program yang bagus tapi tidak realistis tidak mungkin. Bagus program nya tapi ... tidak ada tidak mungkin. Bagus program nya tapi SDM tidak mendukung itu tidak mungkin. Ini yang perlu, bagus efektif dan juga realistis.
Berikutnya adalah diperlukan penyelenggara yang berintegritas, tegas, visioner, optimis dan memiliki etos kerja yang kuat. Ini yang dibutuhkan oleh pemimpin bangsa-bangsa di negara ini. Termasuk negara kita ini. Sarana dan prasarana opersional yang representatif. Hal ini kita lihat perbandingan antara lembaga-lembaga negara yang ada, antara lembaga yang satu dengan lembaga yang lain. Kalau kita datang ke KPI yang tahu adalah kantor Bapepeten bukan KPI. Ini perlu kita jadikan prioritas kedepannya. Bagaimana agar lembaga KPI ini menjadi lembaga yang berwibawa, tentunya dengan sarana dan prasarana serta alat-alat pengusaan SDM sebagaimana mendukung hal-hal tersebut. Tapi itu tidak terwujud kalau tidak ada dukungan dari DPR RI, tidak ada dukungan dari Komisi I, tidak ada dukungan dari Pemerintah, tidak ada dukungan dari masyarakat, perlu ada dukungan dari segala pihak untuk itu.
Untuk itu semua agar supaya KPI ini menjadi dihargai, agar KPI ini KETUA RAPAT :
Kurang satu menit lagi.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (AFRIANTO KORGA) :
Nah ini yang perlu kita lihat bersama-sama. Menyangkut siaran politik sebagainya dan sebagainya. Kita melihat dari segi hiburan itu yang terpenting adalah siarannya. Menyangkut siaran kekerasan dan mistik kita lihat jam tayang anak dan lain sebagainya. Dan menyangkut pornografi, LGBT dan sebagainya, ini harus jelas-jelas bertentangan dengan norma-norma yang ada dan dilarang untuk ditayangkan.
Bagaimana caranya? Tentu ada aturan yang akan kita tegaskan dan ada pihak-pihak yang terkait khususnya lembaga penyiaran. Nah ini yang terpenting, wewenang itu datang dari diri sendiri, dan datang dari pihak luar. Kalau batinnya kuat kokoh, maka tidak akan bisa terganggu. Begitu diancam atau juga diiming, imingi. Ini yang terpenting. Yang terpenting juga integritas dari pada lembaga itu sendiri. Digitalistik penyiaran itu tidak bisa kita halang halangi. Tentu nya
dipersiapkan saja diri kita, KPI serta lembaga dan yang ada di KPI itu sendiri infrastrukturnya.
Dan yang terakhir. KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Waktunya sudah habis.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (AFRIANTO KORGA) : Itulah yang dapat kami sampaikan.
Terima kasih
Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :
Terima kasih
Kami lanjutkan kepada Pak Ade. Silakan.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (ADE BUJAERIMIN) : Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh Yang terhormat Anggota Komisi I DPR RI
Al-hamdu lillah pada kesempatan hari ini kami dijinkan untuk menyampaikan pandangan kami terhadap dunia penyiaran saat ini dan yang akan datang. Mewujudkan penyiaran yang bermartabat ini menjadi tujuan saya secara pribadi dan mudah-mudahan ini dapat terwujud kedepan.
Penyiaran saat ini, implementasi penyiaran di Indonesia tetap mengacu kepada Undang-Undang 32 tahun 2002 tentang penyiaran. Regulasi penyiaran perlu revisi dalam rangka menyambut perkembangan teknologi informasi, terutama dalam digitalisasi penyiaran.
Tupoksi KPI dan KPID saat ini terbagi dalam tiga bidang. Yaitu bidang PS2P, kalau lebih lajimnya kita mengenal bidang perijinan, pengawasan isi siaran, dan kelembagaan. Dalam rangka mewujudkan tujuan penyiaran sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang 32 tahun 2002, perlu menguatkan kewenangan KPI dalam rangka penegakan sanksi.
Optimalisasi KPI dan KPID membangun komitmen komisioner untuk fokus dan penuh waktu di KPI. Membangun integritas dan pengembangan kapasitas komisioner KPI untuk dapat mewujdukan KPI sebagai lembaga negara independen aktif dan bermartabat. Fokus dan program prioritas KPI kedepan, penguatan lembaga kelembagaan KPI baik internal maupun secara eksternal, memperkuat hubungan kelembagaan dengan Pemerintah dalam hal ini DPR RI, Presiden dan kementerian dan industri sebagai mitra KPI dalam kelembagaan.
Penegakan isi siaran bagi lembaga penyiaran, optimalisasi dalam tahapan perijinan dan lembaga penyiaran. Konten siaran dalam lembaga penyiaran. Isi siaran harus patuh pada Undang-Undang penyiaran dan PPP SPS dalam pedoman bagi
setiap lembaga penyiaran di Indonesia. Layar televisi harus bebas dari kampanye LGBT, mistis, kekerasan atau sadisme dan pornografi dan pronoaksi. Siaran politik baik bersifat iklan maupun jurnalistik harus patuh aturan yang berlaku. Penyalahgunaan kewenangan. Antisipasi terhadap penyalahgunaan wewenang dilakukan secara kolektif yakni penegakan sistem kolektif koligial yang ada di tubuh KPI itu sendiri. Sanksi tegas setiap penyalahgunaan wewenang baik secara kelembagaan maupun secara perorangan.
Digitalisasi penyiaran. Digitalisasi penyiaran harus disambut sebagai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Digitalisasi penyiaran harus dibarengi dengan revisi Undang-Undang penyiaran yang dapat memayungi dan mengatur implementasi penyiaran digital. Konsolidasi lintas sektor penyiaran dalam rangka kesiapan regulasi dan implementasinya.
Kerjasama antar kelembagaan. Kerjasama antar kelembagaan dengan Pemerintah dan lembaga penyiaran harus dioptimalkan. Kerjasama dengan Pemerintah dalam hal ini DPR RI, Presiden dan kementerian, niscaya dilakukan sebagai bentuk usaha KPI dalam salah satu lembaga di Indonesia. Kerjasama dengan lembaga penyiaran dilakukan dalam rangka mewujudkan penyiaran patuh aturan.
Literasi media. Literasi media sebagai salah satu program KPI sangat penting bagi masyarakat karena bagian dalam perangkat pencerdasan hal layak publik sebagai pendengar radio dan pemirsa televisi. Perlu modifikasi literasi media yang ada saat ini. Agar pesan-pesan literasi media dapat disampaikan secara masif dan intens dengan cara memanfaatkan media internet terutama sosial media, twiter, facebook dan lain-lain yang saat ini dilakukan dengan sistem diskusi dan yang diundang adalah stake holder itu OKP, ormas dan guru, masyarakat dan lain sebagainya.
Komitmen dengan Komisi I, saya berkomitmen dalam kesempatan kali ini bahwa kami dalam hal ini saya pribadi siap menjaga independensi lembaga KPI secara utuh. Kerja penuh waktu dan kualitas di KPI, dalam hal ini saya secara pribadi punya kegiatan yang amat lumayan banyak di provinsi Banten. Ketika terpilih menjadi KPI nanti, maka akan saya tinggalkan semua aktifitas dan prioritas di KPI menjadi fokus utama, demi pengabdian untuk bangsa dan negara.
Terima kasih Pimpinan. KETUA RAPAT :
Sudah? masih ada waktu lagi, masih 2 menit, masih ingin dipakai lagi? sudah cukup? oh cukup?
Bapak dan Ibu yang kami hormati,
Sudah lima calon itu komisioner KPI itu sudah memaparkan visi dan misi nya dan sekarang kita dalam giliran pendalaman. Sekali lagi masing-masing tiga menit per fraksi.
Pertama kami persilakan nanti kepada fraksi PDIP nanti mungkin juru bicaranya siapa, kemudian nanti rekan-rekan dapat menyiapkan ya catatannya, pertanyaannya. Jadi yang pertama saya mulai kepada fraksi PDI perjuangan.
Kami persilakan.
Baik, terima kasih Bapak Pimpinan. Bapak calon Anggota KPI yang saya hormati,
Pertama-tama saya ucapkan selamat dulu nih, bisa masuk ke 27 yang di fit and proper oleh DPR RI.
Bapak-Bapak sekalian,
Tadi presentasi sudah diberikan, ya tapi saya secara mendalam itu saya ingin mendapat, apa namanya lebih detail lagi dari Bapak-bapak sekalian. Dimana kita tahu bahwa kepengurusan KPI 2016, 2019 nanti itu mempunyai sangat penting, kenapa? Kita menghadapi yang namanya tahun politik. Baik itu Pilkada atau itu Pemilu kedepannya. Dan juga secara legislatif, legislasi kita menghadapi revisi Undang-Undang penyiaran, revisi Undang-Undang ITE dan kemudian juga adanya Undang-Undang RTRI yang akan dibentuk. Kita tahu bahwa kemarin ini tahun politik yang namanya ketika pilpres kita lihat bahwa KPI itu hanya dibilang, fungsinya itu hanya memantau. Seakan-akan KPI dan Pemerintah pada waktu itu apa yang terjadi pertempuran yang terjadi di media penyiaran ini, KPI dan Pemerintah itu tidak berdaya ya kan? boleh dikatakan tidak adanya kehadiran KPI dan Pemerintah.
Yang ingin saya tayanyak adalah bagaimana ketika Saudara-Saudara ini terpilih menghadapi ini kedapan ya kan, sebagaimana kita tahu, beberapa bos dari media penyiaran itu adalah juga bos dari pada partai politik.
Kemudian untuk Bapak Pak Agus Sudibyo dan juga Pak Arief. Tadi saya dua saya baca CV nya itu ada back ground dengan industri penyiaran. Pak Agus Sudibyo ini kan infort di ATVSI ya Pak ya. Kemudian Pak Arief ini dibikin disini produser di trans7. Kita tahu banyak suara-suara sumbang di masyarakat bahwa banyak sekali calon titipan dari pada industri penyiaran yang masuk untuk di fit and proper di KPI. Saya hanya ingin tanya saja bagaimana, anda berdua bisa meyakinkan kita bahwa anda berdua ini bukan titipan dari industri penyiaran.
Kemudian kepada Pak Ade Bujaerimin dan Afrianto Korga ini sama-sama Anggota KPI. Seharusnya dibuat Peraturan juga KPID ini, masih menjabat sekarang ini, dari wakil naik Ketua tapi kemudian berhenti mau jadi KPI. Kaya DPR RI kalau menyalonkan tapi berhenti dulu dari KPID. Tanggungjawab anda sebagai KPID anda tinggalkan ditengah jalan untuk menjadi Anggota KPI. Peraturan kedepan yang mencalonkan anggota KPI, KPID ini berhenti dulu meninggalkan kursi dulu dari KPID. Saya konsen KPID ini terkait dengan siaran lokal. Kita tahu masalah dan di daerah Saudara sendiri Banten dan Sumbar itu juga menjadi masalah. Bagaimana ini pandangan ini pandangan anda kedepan mengenai TV jaringan ini, untuk hal tersebut.
Satu hal lagi yang belum ada pertanyaan Pak Agung Supriyo. Pak saya baca CV Bapak, saya cari-cari CV Bapak ini. Bapak lulusan S1, S2 kemudian ngajar disini, kemudian dosen tapi tidak jelas. Apa ngajar nya apa, dosennya dimana itu tidak ada. Bagi saya, transparansi itu sangat penting walaupun itu sangat kecil. Itu membuktikan bagaimana kedepan itu.
Saya rasa demikian terima kasih. KETUA RAPAT :
Ibu Evita mewakili fraksi PDI perjuangan. Kami persilakan dari Golkar tiga menit, barangkali juru bicaranya siapa Golkar. Baik. Kami persilakan.
F-PG (DRS. AGUN GUNANDJAR SUDARSA) : Terima kasih Pak Pimpinan.
Para calon anggota KPI yang saya hormati, Pak Ade, Pak Apriyanto, Pak Agung, Pak Agus dan Pak Arief.
Pertanyaannya sama dengan kelima calon ini. Saya ingin memulai dengan latar belakang lebih dahulu. Bagaimana visi anda melihat kehidupan kemasyarakatan kita hari ini. Tentang paradigma sosial Indonesia kita hari ini kedepan paska kita memilih reformasi sebagai solusi, demokrasi sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan bangsa menuju masyarakat yang lebih berkeadilan lebih sejahtera. Sebetulnya menurut hemat saya dan bagaimana pandangan Saudara, ketika kontek penyiaran kita hari ini melihat beberapa isu-isu yang terjadi tengah masyarakat, yang masih bergerak di masyarakat, persoalan rasis.
Saya melihat sebetulnya, kalau bicara tentang paradigma sosial kedepan. Dengan kita memilih demorasi, rasis itu sudah selesai. Kita tidak boleh lagi berbicara soal suku, kita tidak boleh lagi berbicara soal agama, kita tidak boleh lagi bicara soal ras dan lain-lainnya. Kita sudah harga mati dengan ideologi nasional kita, dengan konstitusional kita dengan negara kesatuan kita dengan bhineka tunggal ika kita. Saya ingin melihat pandangan Saudara kedepan. Melihat begitu masifnya hari ini rasis. Seolah-olah kita menjadi bangsa yang bodoh, yang tidak konsiten menerimakan demokrasi sebagai solusi ditahun 1998.
Apakah anda sependapat dengan saya bahwa konsistensi dan soliditas bangsa itu adalah harus menjadi solusi dalam menata bangsa dan negara kedepan. Contoh maaf sedikit saja, misal LGBT. Buat saya soal LGBT itu persoalan yang bersangkutan dia atau bukan, bukan, itu hak, fitrah yang sudah terlahir seperti itu. Lalu bukan dengan cara melarang. Itu contoh, saya punya pandangan lain soal itu. Demokrasi ini solusi. Saya minta pandangan anda, kedepan KPI melihat, penyikapan-penyikapan persoalan seperti itu, bagaimana sebagai anggota KPI bisa melakukan fungsi pengawasan dalam rangka menjaga pundi-pundi kebangsaan kita.
Terima kasih Ketua. KETUA RAPAT :
Terima kasih kami lanjutkan pertanyaan berikutnya dari Gerindra kemudian mohon persiapan dari fraksi Demokrat.
Kami persilakan.
F-GERINDRA (ELNINO M. HUSEIN MOHI, ST., M.Si.) : Terima kasih Pimpinan.
Yang terhormat Bapak-bapak dan Ibu-Ibu Anggota Komisi I dan wabil khusus para senior calon anggota KPI.
Pertanyaan dari kami sederhana untuk berlima tapi nanti ada pertanyaan untuk masing-masing orang. Untuk berlima ini yang pertama adalah dalam satu kalimat kami mohon anda untuk menyebutkan kekurangan diri masing-masing, dalam satu kalimat saja.
Yang kedua, mohon menyebutkan lima nama selain diri anda yang pantas untuk menjadi anggota KPI pusat. Anda tidak jawab yang dua pertanyaan ini, kami tidak pilih pasti.
Yang ketiga, ini pertanyaan opsional. Yang ketiga adalah apakah di Undang-Undang penyiaran yang sekarang ini ada yang harus diubah. Kalau ada yang harus diubah apa?
Pertanyaan berikut yang selaras dengan itu adalah apakah Bapak-bapak ini atau senior sudah pernah mendengar atau membahas tentang pembahasan di Komisi I mengenai rancangan Undang-Undang penyiaran. Sudah pernah atau belum, kalau sudah pernah apa poin yang ingin anda sampaikan mengenai hal itu, kalau sudah pernah kalau belum pernah ya tidak apa-apa.
Kemudian khusus untuk Pak Ade, KPID Banten Pak Ade, lalu KPID Sumatera Barat Pak Korga. Ini kan KPI daerah ya? prestasi KPI daerah di tempat anda masing-masing apa selama ini? Dan yang kurang nya, kami ada informasi kurang-kurang nya, yang lebih-lebihnya yang belum kami dengar ini.
Untuk Pak Agung Supriyo. KETUA RAPAT :
Satu menit lagi.
F-GERINDRA (ELNINO M. HUSEIN MOHI, ST., M.Si.) :
Oh iya, Pak Agung Supriyo. Anda adalah pengisi acara di TVRI. Berarti ada interaktif dengan TV publik itu. Apa yang anda pikirkan mengenai TVRI kedepan. Pak Agus Sudibyo, kami membaca di Kompas, 22 Januari, 2 tahun yang lalu. Ada tulisan mas Agus mengenai. Kira-kira begini menurut pemahaman kami. Mas Agus mengatakan bahwa konglomerasi media itu bukanlah persoalan. Bahwa keberpihakan itu juga merupakan bagian dari independensi. Padahal independensi itu merupakan keberpihakan ke publik bukan ke pemilik. Nah untuk Pak Arief, ya pertanyaannya masih sama, produser di trans7. Apa kira-kira titipan trans7 ke Bapak.
Masa tidak ada titipnya, kalau Bapak katakan tidak ke kami maka kami tidak akan percaya. Titipan dari trans7 kepada Bapak apa kalau anda jadi Anggota KPI.
Terima kasih.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :
Terima kasih, dalam sekali pertanyaannya.
Kami persilakan dari Demokrat barangkali siapa dan mohon persiapan dari fraksi PAN. Mas Djoko.
Terima kasih Pimpinan.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Saya tidak akan mengulangi apa yang sudah ditanyakan oleh kawan-kawan. Saya hanya ingin menggaris bawahi yang ditanyakan saja. Terutama Pak Arief, Ade dan Pak Agus Sudibyo yang merupakan pegawai dari trans TV dan yang semacam itu ya?
Saya mau menanyakan bagaimana mengubah main set anda dari bekerja disitu kemudian mengawasi disitu. Saya tertarik dengan Pak Arief mengenai komitmen yang tertulis. Mudah-mudahan komitmen ini sebagai dasar anda untuk menduduki menjadi anggota KPI. Pak Agus Sudibyo ya? kalau saya membaca kurikulum Bapak ini, saya tertarik yang sangat luar biasa mengenai pengalaman kerja, pengalaman advokasi Saudara, sampai dengan dapat pengharagaan dan sebagai penulis yang cukup produktif.
Tetapi saya ingin kepingin memperdalami yang Bapak sampaikan tadi. Bagaimana anda ingin membuat jembatan antara masyarakat sipil dan industri penyiaran. Kira-kira apa yang dalam impian Bapak itu untuk menjadikan antara jembatan masyarakat sipil dengan industri penyiaran. Khusus untuk mas Agung Supriyo. Saya tidak melihat anda itu terbuka, anda lulusan dari UI. Disebutkan dari fakultas apa juga tidak jelas. Tapi saya memberikan satu apresiasi yang cukup. Ada seorang pendidik dan dosen yang akan nantinya menjadi salah satu pengawas tugasnya dan itu tentunya tidak gampang Bapak, tapi sekali lagi saya berharap apa yang ditulis disini betul-betul Bapak dapat lakukan.
Kepada Mas Aprianto Korga. Ini saya memberikan acungan jempol yang luar biasa dalam memberikan bahan paparan yang cukup jelas dan bagi saya bagus ya. Semangat anak muda yang cukup musti harus kita back up. Tetapi keterbatasan anda sebagai KPUD Sumatera Barat. Terus anda menjadi KPI, disana sebagai Ketua. Kenapa anda tidak memberikan contoh yang baik disana buruk. Anda menjadi apa namanya, satu hasil menjadi contoh nanti menjadi KPID diseluruh Indonesia, seperti saya.
KETUA RAPAT : Waktunya.
F-PD (DR., IR., DJOKO UDJIANTO, MM.) :
Waktunya tinggal beberapa detik? Oh habis ya. Wah ini sayang saya tidak memberikan komentar kepada Pak Ade. Ini tapi sedikit saja Pak Ketua, saya minta komitmen dari anda yang anda tulis itu yang tiga itu betul-betul anda pegang.
Terima kasih Pimpinan.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :
Baik, terima kasih
F-PAN (Ir. ALIMIN ABDULLAH) : Terima kasih
Pak Pimpinan, calon Anggota KPI.
Ada beberapa kali yang kami minta ketegasan. Anda maju sekarang dengan pemikiran yang matang tentunya. Yang pertama, bagaimana penilain anda terhadap tupoksi yang dikerjakan oleh KPI untuk masalah sehingga anda sekarang mau mendaftarkan menjadi komisioner yang baru. Apa yang akan anda perbaiki kalau menurut anda ingin memperbaiki. Apa yang harus diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya. Karena kalau tidak jelas hanya bilang ingin memperbaikinya maka akan sulit bagi kami untuk mempercayainya. Kan kami akan pegang itu komitmen. Jadi apa yang menurut anda sangat ingin diperbaiki pelaksaan tupoksi komisi penyiaran ini yang berlima ya dan bagaimana cara memperbaiki, apa itu. Apakah menyangkut aturan Undang-Undang nya, apakah menyangkut dananya, apakah menyangkut situasi karena tumpang tindih Undang-Undang, saya tidak mengerti. Tetapi anda harus jelaskan apa yang kurang, apa yang sepertinya tidak produksi, sebabnya apa, karena itu anda mempunyai pikiran mengajukan ide untuk memperbaikinya. Itu yang pertama.
Lalu yang berikutnya, yang kedua, saya melihat bahwa ada beberapa teman anda itu termasuk Pak Arief dan sebagainya. Masih juga terlibat langsung di media. Sekarang kami betul-betul ingin komitmen bahwa anda tidak menjadi orang titipan. Sulit ini untuk dihindari ya, karena anda punya hubungan emosional dan segala macam. Tapi kalau anda sudah menyatakan diri menjadi komisioner memang tidak ada pilihan lain anda harus netral. Ini yang saya ingin tahu juga bahwa anda yakin tidak bahwa anda dapat membebaskan diri anda dari hubungan-hubungan masa lalu seperti itu. Yang ingin saya tanyakan, yang saya tidak mau tanyakan apa titipan saya belum tahu atau anda apa benar anda titipan atau tidak, nanti kaitan anda pernah disitu.
KETUA RAPAT :
Kurang satu menit.
F-PAN (Ir. ALIMIN ABDULLAH) :
Ya, tentu akan menjadi pertimbangan kami menjadi komisioner sekarang. Karena kami ingin betul-betul independen. Pikir itu ya Pimpinan. Itu untuk berlima.
Terima kasih KETUA RAPAT :
Terima kasih, masih setengah menit lagi. Baik kalau tidak ada maka kami lanjutkan ke fraksi PKB.
Silakan Ibu.
F-PKB (DRA. HJ. IDA FAUZIYAH) :
Pimpinan dan Anggota Komisi I, calon komisioner yang saya hormati,
Masa depan penyiaran Indonesia ada ditangan anda semua. Yang pertama tentu selamat anda sudah masuk dari sekian ratus calon komioner. Mudah-mudahan anda terpilih setelah anda menyebutkan lima nama yang disebutkan oleh Pak Elnino, nanti Pak Elnino akan memilih anda.
Kesemua calon yang ada di depan kita adalah laki-laki. Saya yakin juga bahwa tidak semua laki-laki mempunyai prespektif gender. Tidak sedikit meskipun laki-laki tapi gender main streamingnya juga cukup bagus. Saya ingin mengetahui banyak tentang itu kenapa? Karena konsumen penyiaran kita kebanyakan adalah Ibu dan anak. Karena angkatan kerja kita didominasi oleh laki-laki. Sementara Ibu-ibunya lebih banyak yang secara profesional bekerja sebagai Ibu rumah tangga. Disela-sela keprofesionalannya dia mengkonsumsi siaran kita.
Yang saya ingin tahu dari Bapak-bapak semua, sejauh mana Bapak-bapak melihat siaran kita terhadap upaya perlindungan anak-anak kita dan bagaimana penyiaran kita berdampak terhadap membangun maind streaming itu sendiri.
Yang kedua, apa pandangan Saudara terhadap kinerja KPI dalam kontek dua tadi, gender main streaming dan perlindungan anak.
KETUA RAPAT :
Satu menit lagi Ibu.
F-PKB (DRA. HJ. IDA FAUZIYAH) :
Kita harus mengakui bahwa semua segala persoalan yang dialami oleh anak-anak kita dengan berbagai isu yang terakhir itu adalah diantaranya penyebabnya adalah konsumsi penyiaran kita. Apakah mereka komisioner kita tidak bekerja untuk membantu untuk melindungi anak-anak kita lewat tupoksi sebagai komisioner.
Jadi dua itu saja Pak Ketua. Terima kasih Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :
Terima kasih Ibu, kami lanjutkan ke fraksi PKS dan mohon persiapan dari fraksi PPP.
F-PKS (ADANG DOROJATUN) :
Terima kasih Pimpinan dan teman-teman sekalian. Kami hormati calon Anggota komisi penyiaran,
Kita tahu dalam kontek Undang-Undang nomor 32 tahun 2002 tentang selanjutnya terbentuknya KPI. Itu dilatarbelakangi semangat tentang diversity of ownership ya. Yaitu keberagaman kepemilikan dan divesity of content. Keberagaman isi. Tadi yang Bapak-bapak ceritakan itu sebetulnya muara akhirnya adalah karena ketidak jelasan kedua masalah tersebut dalam aplikasinya. Saya
ingin nanti diberikan gambaran, apa pandangan Bapak-bapak dalam kontek yang ada sekarang ini dan bagaimana apabila Bapak-bapak nanti terpilih terhadap ruh tersebut yang harus diaplikasikan secara real di masyarakat dalam hal ini dikonsep penyiaran.
Dan yang kedua, beberapa hal yang berhubungan dengan daerah perbatasan, hampir semua berbicara tentang kelemahan kita. Di dalam penyiaran di daerah perbatasan. Saya ingin mendapatkan gambaran dari Bapak-bapak sekalian. Bagaimana kondisi-kondisi yang real sekarang ini dan bagaimana aplikasi yang diharapkan pada saat nanti apabila Bapak terpilih secara konsiten untuk kita dapat merebut kondisi yang kita rasakan sekarang ini bahwa hampir dibeberapa perbatasan lebih banyak hal-hal yang berhubungan dengan berita dari luar Pak, negara lain.
Itu dari saya, mungkin ada teman lain yang masih. Terima kasih
KETUA RAPAT :
Baik terima kasih, masih ada waktu, satu menit lagi barangkali mau dipakai oleh.
F-PKS (DRS., MAHFUZ SIDIK, M.Si) :
Baik, terima kasih. Saya cicil saja nanti yang tidak kebagian disesi kedua. Untuk Pak Arief. Pak Arief saya salut bahwa secara terbuka anda menyampaikan bekerja di trans7. Tapi saya tidak melihat ada komitmen tertulis yang anda sampaikan bahwa kalau anda terpilih anda memang siap mundur dari lembaga penyiaran. Saya mau dengar itu.
Yang kedua, saya mengikuti bahwa anda produser redaksiana kalau tidak salah di trans7 ya? Saya pernah program tersebut dan ternyata salah satu episodenya kalau tidak salah juragan jengkol kalau tidak salah ya? yang anda sebutkan ini karya jurnalistik. Secara subjektif saya melihat ini banyak bertabrakan dengan prinsip jurnalistik dan kritik SPS. Nah bagaimana anda sebagai produser redaksiana di trans7 sekaligus anda ingin menyampaikan sisi tentang KPI, bicara tentang penegakan SPS bisa menjelaskan hal ini.
Itu Pak Ketua, yang lain nanti akan menyusul. KETUA RAPAT :
Baik, terima kasih
Kami lanjutkan barangkali ke PPP.
F-PPP (H. SYAIFULLAH TAMLIHA,S.PI., MS.) : Terima kasih Pimpinan.
Tadi Saudara Agus Sudibyo menyampaikan paparan tentang Pilkada. Saya ingin bertanya, jika ada sebuah lembaga penyiaran yang nyata-nyata dia menjadi tempat iklan seorang calon Presiden, wakil Presiden ataupun calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Apa tindakan jika Saudara menjadi dan dimana rujukan Undang-Undang yang akan Saudara lakukan sebagai anggota atau ketua KPI pusat ini.
Yang kedua Saudara menyebut dalam ini makalah yang Saudara sampaikan ada rekomendasi dari PB NU. Saya ingin bertanya, apa perbedaan antara jamiah dengan jamaah NU.
Yang kedua Saudara Ade Bujaerimin, saya lihat Saudara sudah menyampaikan visi yang bagus tapi saya ingin bertanya. Apakah ada televisi lokal yang menjadi kepanjangan tangan TV nasional di daerah.
Selanjutnya Saudara Afrianto Korga, S1 nya jurusan apa. Kemudian sebagai guru ngaji. Apakah Saudara merasa bahwa tayangan di lembaga penyiaran ngaji itu sudah terakomodasi. Apakah lebih baik ngaji ataukah ceramah agama.
Selanjutnya Saudara. KETUA RAPAT :
Satu menit lagi.
F-PPP (H. SYAIFULLAH TAMLIHA,S.PI., MS.) :
Adi Kuswardono, Saudara orang tegal. Saya ingin bertanya. Apakah orang tegal itu mudah untuk merubah sikap, ketika tayangan televisi menjuruskan kepada suatu pilihan tertentu.
Yang terakhir kepada Saudara Agung Priyo. Jika televisi lokal didenda. Saya ingin bertanya berapa maksimal hukuman badan dan uang dendanya jika itu diatur melalui Peraturan daerah.
Terima kasih
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :
Terima kasih Pak Syaifullah Tamliha.
Selanjutnya yang saya hormati dari fraksi Nasdem itu tadi menyampaikan karena ada acara partai yang tidak bisa ditinggalkan maka seluruhnya tidak bisa hadir. Dan beliau-beliau minta dilewati dahulu, insha Allah nanti pada sesi yang kedua dapat hadir.
Sehingga kami lanjutkan ke fraksi Hanura.
F-HANURA (MOHAMAD ARIEF SUDITOMO, SH., MA.,) : Terima kasih Pimpinan
Kepada para calon kandidat yang saya hormati,
Sebagian tadi waktu saya melihat CV nya sudah ada yang sangat familiar dengan isu-isu di Komisi I dan sudah terpapar baik dengan kegiatan-kegiatan Pemilu baik sebagai anggota KPU maupun sebagai LSM terkait dengan pemilihan umum dan juga saya juga sekarang ingin menyatakan kepada Bapak-bapak sekalian bahwa Bapak-bapak sekalian apabila nanti terpilih adalah penentu dari wajah penyiaran Indonesia.
Pertanyaan dari saya, mudah-mudahan dapat dijawab dengan baik dan saya minta agar dapat dirumuskan dengan jelas mengenai sikap dan pada Bapak tentang pertanyaan-pertanyaan saya. Hanya ada empat, tiga saja.
Pertanyaan mengenai komitmen dari bangsa ini untuk memiliki keseimbangan baru dalam memiliki pola konsumsi media aksesnya di TV. Karena TV swasta dan TV publik saat ini memiliki ketimpangan yang sangat-sangat buruk. Dominasi TV swasta itu sangat kuat dalam market share maupun audience share. Yang ingin saya tanyakan kepada Bapak-bapak sekalian adalah apa yang akan Bapak-bapak lakukan untuk menyeimbangkan market share dengan audience share antara TV swasta dengan lembaga penyiaran publik dalam hal ini TVRI.
Lalu apa yang akan Bapak-bapak lakukan sebagai komisioner KPI, untuk melakukan revitalisasi terhadap lembaga penyiaran publik. Bagi saya sangat penting lembaga penyiaran publik yang besar. Karena ini merupakan wajah bangsa dan banyak sekali elemen-elemen bangsa ini ada dibalik misi dan keberadaan dari lembaga penyiaran publik. Dan saya ingin melihat komitmen dari Bapak-bapak sekalian terhadap apa yang dilakukan terhadap penyiaran publik yakni TVRI.
Yang kedua tentang radio. Kalau kita melihat ekspend radio atau ardek ... makin lama makin menciut dan industrinya juga makin lama kalau kita lihat makin terkucilkan Pak. Dan kalau kita lihat LPP pun, LPP radio itu berjuang. RRI karena sekarang kita bisa lihat itu berjuang untuk bisa tetap relevant. Yang menjadi pertanyaan saya adalah disaat kita mendapatkan situasi radio yang kurang baik wajahnya. Bahkan ada banyak sekali fenoma-fenoma radio yang kualitas siaran yang illegal. Lalu menganggu iklim usaha dari industri radio, bahkan siaran-siaran radio illegal tersebut bahkan di Jawa Barat tempat pemilihan saya itu, memberikan atau menimbulkan potensi konflik horisontal, apalagi saat Pilkada.
Yang ingin saya tanyakan kepada Bapak-bapak adalah apa yang dilakukan, apa yang akan Bapak-bapak lakukan untuk memperbaiki mengenai situasi ini dan bisa memberikan iklim berusaha buat radio yang lebih baik daripada hari ini.
Yang terakhir saya hanya menyampaikan saja tentang pesan politik di media. Kalau kita gunakan, tadi Bapak-bapak dari KPU ya? kalau kita gunakan elemen atau ketentuan normatif yang ada di KPU itu dimasa normal, di masa tidak pada pemilihan umum. Kadang-kadang kita merasa bahwa pesan politik itu terlalu marak dan itu bisa saja lolos kalau memang normatif nya tidak bisa mencakup itu semua. Yang ingin saya tanyakan apa yang Bapak akan sikapi tentang pesan-pesan politik yang berada di TV dan radio disaat situasi normal.
Lalu apa yang ada dibenak. KETUA RAPAT :
Waktu habis.
F-HANURA (MOHAMAD ARIEF SUDITOMO, SH., MA.,) : Iya, satu detik lagi.
Terobosan regulasi apa yang ada dibenak Bapak dan Ibu mengenai pesan-pesan politik disaat situasi normal seperti saat ini.
Terima kasih KETUA RAPAT :
Baik terima kasih,
Para calon komisioner KPI yang saya hormati dan saya banggakan,
Saya kira tadi sudah ada 9 penanya dari 10 fraksi. Nasdem tidak bisa hadir, kemudian saya urut pertama PDI Perjuangan adalah Ibu Evita, kedua dari Golkar Pak Agun, kemudian dari Gerindra Pak Elnino, kemudian dari Demokrat Pak Djoko, dari PAN Pak Alimin, dari PKB Ibu Ida, dari PKS Pak Adang, dari PPP Pak Syaifullah Tamliha, kemudian dari Hanura Pak Arief Suditomo.
Kami ingin nanti Bapak dan Ibu memberikan penjelasan masing-masing 10 menit. Kemudian pertanyaan itu atau mungkin penjelasan atau statment yang ingin disampaikan. Kemudian dengan menyebutkan barangkali masing-masing jawaban itu untuk siapa. Atau mungkin barangkali dengan dua penanya yang sama, silakan untuk fraksi ini dan fraksi ini.
Kami mulai dari sebelah kiri, mungkin dari Pak Ade. Kami beri waktu satu menit, ya untuk menyiapkan dulu lah, dari pada nanti yah, saya ulangi lagi penanya pertama dari fraksi PDI Perjuangan, kedua dari Golkar, ketiga dari Gerindra, keempat dari Demokrat, kelima dari PAN, keenam dari PKB, tujuh dari PKS, kemudian delapan dari PPP, kemudian kesembilan dari fraksi Hanura.
Kami mulai 10 menit dari sebelah kiri, kami persilakan Pak Ade. CALON ANGGOTA KPI PUSAT (ADE BUJAERIMIN) :
Terima kasih Bapak-bapak yang terhormat.
Dari PDIP dikatakan tadi tahun politik ini tahun politik dan dikatakan juga ada media yang berkecimpung dalam yang punya media tapi terlibat juga dalam dunia politik. Tidak ada aturan dalam Undang-Undang perseroan terbatas, dan juga Undang-Undang penyiaran dan juga di Peraturan Pemerintah yang menyatakan tentang kepemilikan media itu harus orang-orang tertentu. Maka tidak ada aturan, siapapun boleh, baik itu pengusaha ataupun politikus ataupun masyarakat itu punya kewenangan untuk memiliki media. Harus kita atur dalam kontennya, siarannya, dalam iklan atau juga penyampaian pesan-pesannya. Ini juga tadi di tanyakan oleh partai Hanura.
Maka ini perlu juga ada persamaan pandangan antara KPI, KPU dan juga dewan pers terkait pengaturan iklan politik yang pada saat posisi normal ataupun juga posisi tidak normal. Artinya, perlu ada Peraturan yang melibatkan KPU dan juga dewan pers tentang Peraturan tersebut. Karena saat ini di KPI itu hanya mengatur pada saat, itu di KPI dan juga di KPU hanya mengatur pada saat masa kampanye dan juga masa tenang. Maka perlu ada penguatan menurut saya.
Kemudian, siaran lokal dan TV jaringan kalau di Banten itu lokal itu sudah maksimal dan sudah bagus dan yang berjaringan juga penyampaian sepuluh konten lokalnya sudah jalan dengan baik dan semuanya itu melakukan 10% lokal.
Kemudian, terkait dengan pandangan kedepan masalah rasi. Tujuan dari Undang-Undang penyiaran itu sudah tertuang bahwa memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dalam rangka membangun masyarakat mandiri demokratis adil dan sejahtera. Sehingga pandangan-pandangan terkait LGBT ataupun juga pandangan-pandangan terkait rasi ini sudah tertuang dalam Undang-Undang. Maka integritasi nasional lah ini yang akan kita kedepankan. Kita tidak melihat minoritas tapi bagaimana caranya integrasi