Iya terima kasih Pak.
Saya yakin TVRI mampu menjadi lebih baik, hanya tinggal apa namanya effort dari kita. Berikutnya dari Pak Syaifull apakah orang Tegal mudah berubah. Kalau dari politik Pak, karena tayangan orang Tegal terbukti sulit berubah. Jadi pilihannya hanya itu itu saja Pak. Jadi saya tahu persis karena yang menang hanya itu itu saja Pak. Meskipun partainya datang dan pergi. Kira-kira begitu Pak. Tapi memang yang generasi baru, apa namanya lebih punya pilihan baru.
Saya pikir, eh sebentar dari Ibu Ida Fauziah dan Pak Agun Gunanjar. Menurut saya,saya setuju dengan Pak Agun Pak. Jadi stasiun televisi harus konsen terhadap puralitas, menghargai hak apa namanya warga masyarakat yang berbeda beda dan mengembangkan toleransi bersama Pak. Saya setuju. Jadi bisa atau tidak memang tergantung kualitas.
KETUA RAPAT :
Waktu habis Pak.
CALON ANGGOTA KPI PUSAT (ARIEF KUSWARDONO) :
Kemudian untuk Ibu Ida Fauziah. Saya setuju Ibu karena anak dan wanita adalah kelompok yang harus kita. Jadi proteksinya harus dari dalam dari awal, dari awal ketika program itu dirancang. Jadi kemampuan seorang pemangku program untuk melindungi perempuan dan melindungi anak-anak itu harus ada dulu baru kita KPI dari luar mengawasinya Ibu.
Mungkin itu dulu. KETUA RAPAT :
Ya terima kasih.
Memang Bapak tidak sabaran dan tidak mau mendengar suara dari sini juga. Bapak dan Ibu yang kami hormati,
Sesi yang kedua, kita akan teruskan tanya jawab. Tapi barangkali kalau kami lihat beberapa fraksi tadi belum dijawab. Kita putar sekarang mulai dari fraksi Hanura, kemudian ke Nasdem, Nasdem mungkin kita tambah satu menit ya, karena disini hadir dua orang, bisa dua menit dua menit lah.
Nah kami mulai dari fraksi Hanura. Kami persilakan Pak Arief Suditomo. Nah yang pertama fraksi Hanura dulu ya Bapak-bapak nanti menjawabnya secara urutan. Kami persilakan.
F-HANURA (MOHAMAD ARIEF SUDITOMO, SH., MA.) : Terima kasih Pimpinan.
Melihat 10 menit ternyata tidak bisa di-manage dengan baik oleh lima-lima nya. Ada pertanyaan-pertanyaan saya tentang revitalisasi LPP, peran dari Bapak dan Ibu sekalian untuk menyikapi bagaimana iklim pangsa radio yang sekarang compang camping. Lalu bagaimana menyikapi pesan politik yang sekarang marak dimasa non Pemilu dan itu tidak bisa dijawab dengan baik oleh Bapak-bapak yang ada didepan kami . Maka saya akan mengulangi lagi apa yang akan menjadi komitmen Bapak-bapak tentang LPP, bagaimana revitalisasinya, bagaimana komitmen Bapak-bapak tentang nasib industri radio dan peradioan di Indonesia saat ini. lalu juga bagaimana menghadapi pesan politik yang marak pada saat Pemilu dan bagaimana terobosan ditengah-tengah Bapak-bapak sekalian.
Saya ingin mendapatkan jawaban mengenai hal itu dan mudah-mudahan waktu yang tersisa pada Bapak dan Ibu sekalian dapat dimanfaatkan dengan baik.
Saya persilakan. KETUA RAPAT :
Cukup, kami lanjutkan ke fraksi Nasdem. Kami persilakan prof atau mungkin Pak Supiadin.
F-NASDEM (Prof. Dr. BACHTIAR ALY, MA) : Terima kasih Pak Ketua.
Anggota yang terhormat, para kandidat yang sedang diuji,
Saya ingin bertanya secara umum saja. Mengapa anda semua itu begitu ingin menjadi anggota KPI. Kenapa? Apakah ada satu panggilan suci atau apa? dan bagaimana anda semua yang ada disini yakin bahwa anda semua akan dipilih. Itu hal yang penting yang ingin saya tahu dan yang ketiga bagaimana caranya untuk bisa mengatur isi siaran itu sehingga masyarakat Indonesia tidak terpicu untuk menjadi agresif. Berita-berita kekerasan di media itu, itu langsung atau tidak langsung memicu anak-anak muda kita meniru dan kemudian membuat kejahatan dengan cara mengatur itu.
Ini kan sudah menjadi sesuatu hal yang sangat serius sekarang, sehingga media itu tidak memberikan suatu pendidikan dalam pengertian tidak harus pendidikan dalam akademis. Tetapi tidak memberikan ketenangan batin, tidak memberikan kalau istilah Presiden itu tidak memberikan harapan. Nah bagaimana menurut anda itu kita kemasi itu isi siaran.
Terima kasih KETUA RAPAT :
Pak Supiadin.
F-NASDEM (MAYJEN TNI (PURN) SUPIADIN ARIES SAPUTRA) : Terima kasih Pimpinan.
Yang pertama kepada Pak Agung Supriyo, ada ya? saya hanya bertanya judulnya ini menggelitik. Menciptakan KPI yang lebih tenggrinas. Setahu saya kalau tenggrinas itu fisik ini. Nah ini bagaimana organisasi yang tenggrinas itu. Itu yang pertama.
Yang kedua secara menyeluruh, saya ingin tanya. Kita tahu TVRI itu kan dari pembiyaannya kan lemah tidak boleh pasang iklan sehingga seperti ini. Kira-kira pemikirannya itu bagaimana ini? Supaya TVRI itu bisa lebih bagus kedepan tanpa harus pasang iklan tapi dia bisa lebih bagus. Mungkin anda pernah mencari study banding ke negara-negara lain, misalnya ke Eropa. Ada di Eropa tidak perlu saya sebutkan. Ada di Eropa yang media itu media televisinya tidak pernah pasang iklan tetapi luar biasa. Darimana sumbernya tidak perlu saya sebutkan. Silakan coba.
Yang terakhir melihat KPI yang sekarang, apa yang anda lihat, dimana titik-titik lemahnya. Kemudian ada hal apa yang positif yang sudah dicapai dari KPI dilihat dari tugas pokok dan komisinya.
Terima kasih KETUA RAPAT :
Terima kasih dari Pak Supiadin. Kami persilakan ke fraksi PPP.
F-PPP (H. SYAIFULLAH TAMLIHA, S.PI., MS.) : Terima kasih Pimpinan
Saya hanya menyarankan saja bahwa kalau sudah terpilih, sebaiknya mengatur waktu itu baik sekali. Dari lima orang yang tampil disini hanya dua yang bisa menjawab dalam waktu yang sudah ditentukan atas pertanyaan semua fraksi. Tiga orang yang sebelah sana sama sekali tidak memberikan secara tuntas jawaban sehingga menurut saya tidak bisa mengatur waktu yang baik. Jika Saudara terpilih saya harap Saudara bisa mengatur waktu yang lebih baik.
Terima kasih Pimpinan. KETUA RAPAT :
F-PKS (DRS. MAHFUZ SIDDIK, M.Si) : Terima kasih
Saya ada dua pertanyaan yang saya minta dijawab langsung dari lima anggota ini yang setuju dengan pertanyaan saya angkat tangan. Yang pertama siapa diantara anda yang berniat dan memang sangat ingin untuk nanti kalau nanti terpilih memilih dibidang isi siaran. Satu orang? Oke tiga orang? Ini mohon dicatat. Karena menurut saya koor utama dari KPI itu adalah bidang siaran.
Yang kedua, siapa diantara anda yang kalau nanti terpilih bersedia bekerja penuh waktu. Lima lima nya tolong dicatat ini, terima kasih.
Yang ketiga, Pak Agung saya lihat papper anda luar biasa komperhensip dan kelihatannya banyak isu-isu itu yang tersambung dengan diskusi yang sangat panjang di Komisi I. Jadi kelihatannya menurut saya anda well inform dengan ini. Tetapi banyak ide-ide yang anda sampaikan termasuk di program kerja KPI itu beyond regulation, melampaui kewenangan KPI yang ada dalam regulasi dalam Undang-Undang. Nah bagaimana anda menjelaskan hal ini, apakah anda akan menambah kewenangan KPI atau bagaimana? ya nanti anda bisa lihat di usulan program kerja itu.
Termasuk Pak Sudibyo juga saya lihat yang ada ide-ide nya yang melampaui kewenangan KPI. Nah apakah anda ingin mengubah Undang-Undang nya dulu baru bekerja di KPI lalu kemudian atau ide nya seperti apa. Misalnya anda akan mendesign kebijakan TV internet. Ini kan bukan tupoksi atau kewenangan dari KPI. Anda akan meretifilasi LPP TVRI dan RRI. Ini kan bukan tupoksi nya dari KPI. Nah ini tolong dijelaskan.
Yang ketiga Pak Afrianto ya? saya salut, anda mengatakan KPI harus dipimpin oleh orang yang kuat. Saya dapat masukan dari Komisi I termasuk dari Sumatera Barat bahwa anda dinilai kurang kuat. Nah bagaimana anda dapat menjelaskan ini.
Yang kemudian yang berikut Pak Arief belum sempat menjelaskan soal redaksiana. Saya ada copy program nya karena saya sebetulnya ingin mengecek betul. Karena bagi saya kalau anda di KPI, anda adalah orang pertama yang berkomitmen dengan PPP SPS. Nah kalau anda memproduksi satu siaran di televisi, yang itu diindikasi atau dinilai melanggar PPP SPS. Nah bagaimana anda dapat menegakkan PPP SPS.
Untuk Pak Ade, sementara saya belum punya pertanyaan karena saya agak ngeri dengan kang TB ini dengan Banten nya ini.
Terima kasih KETUA RAPAT :
Terima kasih
Kami lanjutkan ke fraksi PKB.
F-PKB (HM. SYAIFUL BAHRI ANSHORI, MP) : Terima kasih
Saya Syaiful Bahri Anshori dari PKB. Pimpinan dan calon KPI yang saya hormati,
Ada dua hal yang ingin saya tanyakan. Yang pertama kita tahu bahwa semua komisoner itu punya dewan pengawas Pak. KPK ada. Apakah KPI ini perlu ada dewan pengawas, dewan kehormatan atau apa namanya. Nah kalau memang perlu kira-kira bentuk kelembagaannya bagaimana, apakah permanen atau ad hock atau bagaimana.
Yang kedua, tadi hampir semua mengatakan bahwa perlu adanya penguatan kelembagaan. Kalau kelembagaan otomatis perlu manajeman kuat, SDM belum memadai. Saya lihat bahwa di KPI ini kan dananya itu kecil. Bagaimana untuk memperkuat kelembagan ini menurut Bapak-bapak sekalian. Kalau dananya tidak cukup, apa kira-kira yang dilakukan untuk melakukan ini. Karena memperkuat kelembagaan menjadi sangat penting bagi KPI sebagai lembaga yang independen.
Terima kasih
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :
Cukup masih ada kurang tetapi kalau mau. Oh silakan. Ini sebentar. Ini dari fraksi barat kan?
...
Golkar Pak. KETUA RAPAT :
Nanti kita urut dulu.
Jadi selesai dari fraksi PKB kita ke PAN dulu ya, kami persilakan dari fraksi PAN.
Silakan Pak.
F-PAN (DAENG MUHAMMAD) : Terima kasih Pimpinan
Mungkin tidak banyak yang saya tanyakan kepada kandidat calon anggota KPI. Ada beberapa hal sebetulnya. Saya sebetulnya berpikir konkrit saja. Pertama adalah apa langkah konkrit Saudara ketika Saudara menjadi anggota KPI, berkaitan dengan bagaimana lembaga KPI itu mampu disegani oleh lembaga penyiaran dikita. Yang kedua, langkah konkrit apa juga yang anda bisa lakukan ketika lembaga penyiaran mampu menjaga dan bertanggungjawab terhadap segala tontonan yang diberikan lebih-lebih terhadap menjaga kebudayaan kita yang ada di Indonesia, terkait dengan pancasila, bhinke tunggal ika, NKRI dan Undang-Undang dasar 1945.
Kenapa seperti itu? karena kebanyakan pola penyiaran yang ada, penyiaran kita sekarang yang terjadi adalah mereka cenderung akhirnya melakukan proses pergeseran terhadap kebudayaan anak-anak generasi penerus kita. Ini menjadi tanggungjawab kita bersama, langkah konkrit apa yang anda bisa lakukan.
Yang ketiga, ada isu yang berkembang di lembaga penyiaran bahwa ada satu beberapa perusahaan yang menswastakan lembaga penyiaran itu memboking frekuensi-frekuensi. Sehingga yang didapatkan negara dari pendapatan penguasaan lembaga penyiaran ini tidak seberapa dibandingkan dengan para pemegang modal
atau kapitalisem yang menguasai lembaga penyiaran. Sehingga muncul persaingan yang tida sehat. Terus KPI kedepan bersikap apa terhadap lembaga penyiaran seperti itu.
Itu saja Pimpinan. Terima kasih. KETUA RAPAT :
Baik, terima kasih
Kami persilakan ke fraksi partai Demokrat. F-PD (MAYJEN TNI (PURN) SALIM MENGGA) :
Terima kasih Pak.
Untuk semuanya saja, kemarin pansel yang menguji anda itu adalah terdiri dari orang-orang hebat. Diantara yang diuji itu adalah integritas, kapasitas Saudara. Pertanyaan saya apakah KPI bisa menjadi lembaga yang kuat sebagaimana harapan kita semua. Kalau kemudian banyak diantara kita itu menjadi atau terindikasi anggota titipan. Bagaimana anda mengatasi ini nantinya anda menjadi anggota KPI yang katanya berintegritas, yang mempunyai kapasitas. Waktu itu Ketua di pansel juga saya tanyakan. Mengukur integritas ini tidak mudah. Karena itu harus dibuktikan oleh kinerja Saudara. Ada indikasi di kita selama ini setiap kali ada seleksi, itu banyak sekali. Apakah lewat partai, apakah lewat orang per orang, itu seperti menitip. Nah menurut Saudara apakah pola-pola seperti ini apakah bisa menjadikan KPI menjadi kuat.
Yang kedua, rata-rata dinaskah yang Saudara sampaikan itu menyangkut persoalan LGBT. LGBT itu kan sebenarnya menyangkut soal kejiwaan. Kita sepertinya tidak memberikan mereka ruang, padahal mereka kan juga butuh hidup, dia itu kan warga negara Indonesia. Saya tidak menemukan didalam pembatasan terhadap aktifitas LGBT itu menunjukkan ada jalan keluar bagi mereka. Dia juga sebagai warga negara terlepas dari perilaku yang kita anggap menyimpang dari norma agama. Tapi satu hal mereka adalah warga negara Indonesia. Saya tidak melihat satu naskah pun yang memberikan jalan keluar buat mereka.
Yang ketiga, ada satu naskah yang saya agak ingin saya konfirmasi, saya agak bingung melihat. Tertulis di dalam bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragam tentu memiliki karakter yang beragam. Namun sebagai bangsa maka secara kolektif, bangsa Indonesia memiliki karakter yang sama. Pertanyaan yang sama saya, apasih yang sebenarnya menyamakan karakter kita secara nasional. Kalau kita bicara karakter. Karakter itu kan per individu yang terimplementasi melalui perbuatan, ucapan dan tindakan.
KETUA RAPAT :