• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT KERJA KOMISI I DPR RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT KERJA KOMISI I DPR RI"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

1

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH

RAPAT KERJA KOMISI I DPR RI

Tahun Sidang : 2011-2012 Masa Persidangan : IV

Jenis Rapat : Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Menteri Komunikasi dan Informatika RI

Hari, Tanggal : Selasa, 10 Juli 2012 Pukul : 10.00 WIB

Sifat Rapat : Terbuka

Pimpinan Rapat : Drs. Ramadhan Pohan, MIS., Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sekretaris Rapat : Dwiana Haridata, Kasubagset. Komisi I DPR RI

Tempat : Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Gedung Nusantara II Lt. 1, Jl. Jenderal Gatot Soebroto, Jakarta 10270

Acara : Pembahasan terkait Regulasi bidang Digitalisasi Penyiaran Anggota yang Hadir : 1. Pimpinan Komisi I DPR RI

1) Drs. Mahfudz Siddiq, M.Si./F-PKS 2) Drs. Ramadhan Pohan, MIS./F-PD 3) Drs. Agus Gumiwang Kartasasmita/F-PG 4) Tubagus Hasanuddin/F-PDI Perjuangan

2. Anggota Komisi I DPR RI

F-PD

5) Dr. Nurhayati Ali Assegaf, M.Si. 6) Drs. Guntur Sasono, M.Si.

7) Dr. Hj. R. Adjeng Ratna Suminar, S.H., M.H. 8) Fardan Fauzan, BA., M.Sc.

9) Mayjen TNI (Purn) Yahya Sacawiria, S.IP., MM. 10) Max Sopacua, S.E., M.Sc.

11) Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Com., M.Sc. 12) KRMT Roy Suryo Notodiprojo

13) Hj. Nany Sulistyani Herawati

F-PG

14) Meutya Viada Hafid

15) Ir. Fayakhun Andriadi, M.Kom.

16) Ahmed Zaki Iskandar Zulkarnaen, B.Bus. 17) Drs. H. A. Muchamad Ruslan F-PDI PERJUANGAN 18) H. Tri Tamtomo, S.H. 19) Theodorus J. Koekerits 20) Puan Maharani F-PKS

21) Dr. Muhammad Hidayat Nurwahid, M.A. 22) Drs. M. Idris Luthfi, M.Sc.

(2)

2

F-PAN

24) Ir. Muhammad Najib, M.Sc. 25) Sayed Mustafa Usab, S.E., M.Si. 26) Ir. Chandra Tirta Wijaya

F-PPP 27) Dr. Maiyasyak Johan, S.H., M.H. F-PKB - F-GERINDRA 28) H. Ahmad Muzani F-PARTAI HANURA

29) Dr. Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, M.Si. Anggota yang Izin : 1. H. Hayono Isman, S.IP./F-PD

2. Mirwan Amir/F-PD

3. Dra. Lucy Kurniasari/F-PD 4. Ir. Neil Iskandar Daulay/F-PG 5. Tantowi Yahya/F-PG

6. Drs. Enggartiasto Lukita/F-PG 7. Yorrys Raweyai/F-PG

8. Tjahjo Kumolo/F-PDI Perjuangan 9. Heri Akhmadi/F-PDI Perjuangan 10. Sidarto Danusubroto/F-PDI Perjuangan 11. Helmy Fauzy/F-PDI Perjuangan

12. Evita Nursanty/F-PDI Perjuangan 13. Luthfi Hasan Ishaaq, M.A./F-PKS 14. H. A. Daeng Sere, S.Sos./F-PPP 15. Lily Chodidjah Wahid/F-PKB

16. Dr. H. A. Effendy Choirie, M.H./F-PKB 17. Rachel Maryam Sayidina/F-Gerindra

Pemerintah : Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Ir. Tifatul Sembiring, beserta jajaran.

Jalannya Rapat:

KETUA RAPAT (Drs. RAMADHAN POHAN, MIS./F-PD):

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera buat kita semua.

Kami ucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Saudara Menteri Komunikasi dan Informatika dalam Rapat Kerja kita pada hari ini di Komisi I DPR RI.

Sebelum ini kita lanjutkan, saya ingin meminta persetujuan dari Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak dari Komisi I, apakah rapat kita pada pagi ini dinyatakan terbuka atau tertutup? Bagaimana? Terbuka saja ya?

Ya, baik.

Sidang ini kita nyatakan terbuka untuk umum.

(RAPAT : DIBUKA)

Seperti yang sudah tercantum juga dalam undangan rapat, agenda kita pada pagi hari ini Pak Menteri, adalah Raker pembahasan terkait regulasi di bidang digitalisasi penyiaran. Dalam Rapat Kerja dengan Menkominfo tanggal 28 Mei 2012, tercapai kesepakatan, salah satunya adalah “Komisi I DPR RI mendukung kebijakan Kemenkominfo untuk melaksanakan

program digitalisasi penyiaran, sesuai road map yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan hal tersebut, Komisi I DPR RI meminta Kemenkominfo untuk melakukan komunikasi secara intensif dengan Komisi I DPR RI, sehingga proses migrasi dari analog

(3)

3

ke digital berjalan dengan baik, dengan mengutamakan kepentingan publik, serta menjamin prinsip diversity of content and diversity of ownership.” Dalam kaitan ini, Komisi I

DPR RI berpendapat bahwa terdapat beberapa prinsip di dalam Peraturan Menteri tersebut yang bertentangan, yang memerlukan klarifikasi terkait dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Yang pertama, dalam Undang-undang Penyiaran, hanya mengenal 4 terminologi lembaga penyiaran. Yang pertama, Lembaga Penyiaran Swasta, Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga Penyiaran Berlangganan, dan Lembaga Penyiaran Komunitas. Pada Permen 22 Tahun 2011 tersebut memuat kategori baru, yaitu Lembaga Penyiaran Penyelenggara Penyiaran Multipleksing (LPPPM), dalam hal ini tidak ada satupun pasal ataupun ayat dalam undang-undang tersebut mengatur soal digitalisasi. Pengaturan soal digitalisasi baru akan diatur dalam Undang-undang Penyiaran baru yang sedang dalam proses perumusan di DPR RI. Varian baru lembaga penyiaran berimplikasi pada proses pemberian ijin lembaga penyiaran dimaksud yang hanya memerlukan penetapan dari Kemkominfo saja, tidak bersama dengan Komisi Penyiaran Indonesia, seperti lembaga penyiaran lainnya. Dalam Undang-Undang Penyiaran, disebutkan bahwa KPI sebagai lembaga negara independen mengatur hal-hal terkait penyiaran. Namun faktanya, dalam penyusunan Peraturan Menteri No. 22 Tahun 2011 tidak melibatkan KPI. Nah oleh karena itu, kami melihat Kemkominfo sudah semestinya untuk tidak terlalu memaksakan implementasi pengaturan Menteri tentang Digitalisasi Penyiaran sebelum revisi Undang-Undang Penyiaran selesai dilakukan.

Dalam kesempatan ini kami sampaikan, bahwa Komisi I DPR RI menargetkan untuk dapat menyelesaikan proses perumusan RUU tentang Revisi Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran pada Masa Persidangan I Tahun Sidang 2012-2013, yaitu pada bulan Agustus, September 2012 menjadi RUU Usul Inisiatif DPR RI untuk selanjutnya dapat dibahas bersama dengan Pemerintah.

Selanjutnya kami akan mempersilakan Bapak Menteri Kominfo untuk memberikan paparannya terkait isu yang kami angkat tadi. Tapi sebelumnya, saya ingin bertanya kepada Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Rekan Komisi I DPR RI, apakah sepakat, sekarang ini jam 11.00 WIB, masalah ini kita selesaikan saja sampai jam 12.00 WIB. Karena begini, pada jam 13.00 WIB nanti diagendakan ada RDP kita dengan Sekjen Kemkominfo untuk membahas Laporan Realisasi Kemkominfo Tahun Anggaran 2011. Realisasi anggaran Kemkominfo Tahun Anggaran 2011 dan pendalaman RKP-K/L Kemkominfo T.A. 2013.

Jadi sepakatkah Bapak-Bapak/Ibu-Ibu sekalian, apabila Rapat Kerja kita dengan Menteri membahas soal digitalisasi ini kita selesaikan jam 12.00 WIB?

Setuju? Baik.

F-PD (KRMT. ROY SURYO NOTODIPROJO):

Interupsi. Pimpinan,

Sepakat, asal sudah nanti jam 12.00 WIB tercapai kesepakatan. Kalau tidak, ya harus kita selesaikan, jangan sampai keputusan ini tertunda dan akhirnya membuat sebuah kesimpulan yang kesimpulan itu di luar kesepakatan kita, seperti tanggal 28 Juni yang lalu. Itu penting sekali.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Roy, untuk mengingatkan, sebenarnya.

Sebentar Pak Max, sebentar. Sebenarnya yang kita maksudkan bahwa selesai jam 12.00 WIB itu, kita tidak mengejar target, setoran, jam 12.00 WIB selesai, tidak selesai, tidak begitu juga. Kita harus selesai dengan target kita, bahwa untuk pembahasan soal digitalisasi ini.

Silakan Pak Max.

F-PD (MAX SOPACUA, S.E., M.Sc.):

Terima kasih Pak Ketua.

Saya kira rapat ini memang penting, dan rapat ini harus menghasilkan sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini didapat dari opini yang berkembang dari setiap Fraksi, kalaupun ada

(4)

4 semua Fraksi di sini. Dan kalau itu nantinya akan menghasilkan sebuah kesimpulan, sudah tentu persoalan rapat anggaran dengan Kominfo, ya saya pikir mungkin bisa diundur dan lain-lain itu ya? Karena ini juga penting. Seperti yang Pak Roy katakan tadi, kita juga tidak ingin bahwa persoalan mengenai masalah digitalisasi ini mengambang. Akhirnya kita tidak punya sebuah ketetapan, tetapi berkembang di media, berbagai hal yang sebenarnya bukan sebuah kompromi antara Komisi I dengan Kominfo. Jadi boleh ditetapkan jam 12.00 WIB, tetapi jangan lupa, kesimpulan itu harus mengakomodir semua kepentingan yang ada, saya kira begitu.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih Pak Max.

Tapi intinya sementara, kita sepakati dulu bahwa rapat kita ini berakhir jam 12.00 WIB ya? Nanti masalah soal kesimpulannya itu kita tentukan nanti didalam perjalanan rapat kita. Setuju ya? Terima kasih.

Baik, Pak Menteri, kami persilakan untuk menyampaikan paparannya. Sebenarnya saya ingin sekali pakai pantun, begitu, cuma keterbatasan saya, saya ingin sekali pakai pantun, tapi tidak bisa Pak Menteri. Awalnya dapat, tetapi sampirannya dapat, isinya tidak dapat. Jadi repot juga kita. Kami persilakan, Pak Menteri.

F-PDI PERJUANGAN (TUBAGUS HASANUDDIN):

Pakai “daripada datangnya lintah”.

KETUA RAPAT:

“dari sawah turun ke hati”.

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI (Ir. H. TIFATUL SEMBIRING):

Baik, terima kasih.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang kami hormati Pimpinan Komisi I DPR RI dan seluruh Anggota Komisi I DPR RI, Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati; dan

Seluruh jajaran Kementerian Komunikasi dan Informatika yang saya cintai dan saya banggakan.

Jadi ini pagi kita masih serius ya Pak Agus, dari tadi ya? Boleh cerita sedikit tidak, ini singkat saja. Habis ditanya soal pantun ya. Kemarin itu ada peresmian Trans Studio di Bandung oleh Presiden RI. Singkat ceritanya saya diminta baca doa, begitu ya. Kan biasanya baca doa ini jatahnya Menteri Agama. Ketika disebutkan, jadi pertama, Wakil Gubernur, serius, kedua, Pak Chairul, serius, ketiga, Presiden, masih serius juga. Baca doa oleh Menkominfo. Ggrrr kata orang kan? Setelah salam itu saya katakan begini, “biasanya memakai baju piyama, sekarang malah pakai kimono, biasanya doa oleh Menteri Agama, sekarang malah oleh Menkominfo”. Jadi mudah-mudahan tidak mengganggu kekhusyukan. Mas Roy juga sudah saya pantunin kemarin di Jogya, “Kalau melihat mainnya Fabregaz, enak ditonton lawan Ronaldo, kalau nanti tahun 2014, silakan pilih yang namanya Roy Suryo”, begitu kan? Itu bayar lho Mas.

KETUA RAPAT:

Tapi untuk yang lainnya juga dong, kalau begitu. Pacitan boleh juga.

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI:

Oke, sekedar pembuka ini ya. Baik, terima kasih Pak Ramadhan Pohan, Bapak Pimpinan Komisi I DPR RI.

Jadi ini kalau tidak salah hitung ini kita yang ke-5 ya, RDP yang ke-5 bicara tentang TV digital ini. Ya, kita berharap ini bisa kita selesaikan dengan baik dan pada hakekatnya kita melakukan program-program di pemerintahan adalah untuk kemajuan bangsa dan negara kita ini.

Mengenai beberapa hal yang disampaikan oleh Bapak Pimpinan Komisi I tadi, tentang dasar hukum dan juga beberapa hal yang terkait dengan TV digital ini. Jadi saya ingin sedikit

(5)

5 mengulang penjelasan saya tentang kemajuan teknologi, Pak Ramadhan Pohan ya. Jadi kemajuan teknologi ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita hambat, dia akan berjalan terus sesuai dengan kemajuan teknologi itu sendiri. Jadi kalau dulu kita ada TV tabung lalu pindah ke TV transistor, kemudian TV IC, kemudian TV Chip, sekarang sudah LCD, dan seterusnya. Dari sisi internasional, saya juga pernah menyampaikan, yaitu satu kesepakatan di ITO yang mengatakan bahwa tanggal 17 Juni 2015 nanti maka itu adalah masa switch off dari sistem TV analog ke digital, dan kesepakatan ini tentu akan membuat suatu perubahan besar dalam teknologi penyiaran televisi. Karena negara-negara lain, terutama produsen alat-alat televisi ini pasti akan berorientasi ke sana, dan ternyata sekarang datanya 85% negara sudah migrasi dari analog ke digital. Nah, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga menetapkan, dalam kampanye Presiden dan Wakil Presiden waktu itu menjadi calon, sebelum Pemilu Pilpres tahun 2009, maka dalam RPJMN itu dicantumkan bahwa 2014 nanti 35% wilayah Indonesia sudah terimplementasi sistem digital pada penyiaran televisi.

Kemudian saya juga menggarisbawahi apa yang sudah kita sepakati dalam RDP dengan Komisi I DPR RI pada tanggal 28 Mei 2012 yang lalu. Bahwa Komisi I DPR RI mendukung kebijakan Kementerian Komunikasi dan Informatika yang melaksanakan program digitalisasi penyiaran sesuai dengan road map yang telah ditetapkan. Sehubungan dengan hal tersebut, Komisi I DPR RI meminta Kemenkominfo untuk melakukan komunikasi secara intensif dengan Komisi I DPR RI, sehingga proses migrasi dari analog ke digital berjalan dengan baik. Yaitu dengan mengutamakan kepentingan publik serta menjamin prinsip diversity of content dan diversity of ownership. Berdasarkan kesepakatan ini, maka saya menginstruksikan kepada Dirjen PPI (Penyelenggara Pos&Informatika) Kementerian Komunikasi dan Informatika segera menjalankan apa proses dan prosedur sesuai dengan road map yang sudah kita gariskan. Dan tentunya mengkomunikasikannya dengan Komisi I DPR RI tahap demi tahap tersebut.

Nah, tadi ada ditanyakan tentang mengenai dasar hukum bahwa dalam Undang-undang No. 32 itu memang Undang-Undang No. 32 ini Bapak Pimpinan Komisi I DPR RI, namanya Undang-Undang ya, memang tidak detail menyebutkan perkembangan-perkembangan teknologi. Dimana juga dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi tidak menyebutkan di situ adanya WiMax misalnya, karena waktu itu WiMax belum ditemukan. Tidak menyebutkan juga misalnya tentang LTI, 4G, dan seterusnya. Tapi kewajiban kita sebagai Pemerintah adalah mengikutinya dengan peraturan-peraturan, karena itu akan diimplementasikan. Jadi dari IMPS, GSM, 2G, 2,5G, 4G, WiMax, LTI, sebentar lagi 4G, 5G, kita harus mengikutinya. Jangan sampai teknologi ini diperjualbelikan di hadapan mata kita tanpa kita lakukan suatu regulasi. Nah, tentunya regulasi itu harus kita siapkan.

Namun sebetulnya secara muatan umum di Undang-Undang No. 32 itu sangat jelas sekali termuat, apalagi kalau kita membaca turunan dari Undang-Undang No. 32 ini, yaitu Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2005. Saya mohon ijin untuk membacakan sedikit, bahwa apakah implementasi TV digital melanggar Undang-Undang No. 32? Ini bisa dijawab dengan implementasi TV digital tidak melanggar Undang-Undang No. 32 Tahun 2002. Bahkan mempercepat terlaksananya realisasi dari tujuan Undang-Undang Penyiaran tersebut, terutama amanat Undang-Undang No. 32 Tahun 2002. Dalam Pasal 3 Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 dinyatakan, “Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkokoh integrasi

nasional, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia”. Pasal 5 ayat g, “Mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran”, ini

yang kita maksud tadi dengan kesepakatan tanggal 28 Mei itu dengan diversity of ownership. Juga ini terdapat pada Pasal 18. Ayat h-nya, “Mendorong peningkatan kemampuan

perekonomian rakyat, mewujudkan pemerataan, dan memperkuat daya saing bangsa dalam era globalisasi”. Mungkin secara umum sudah dijelaskan dalam konsep masterplan

percepatan dan perluasan ekonomi Indonesia. Itu salah satu point yang digarisbawahi oleh Presiden adalah tentang konektivitas, tentang informasi, tentang inovasi. Dan ini juga salah satu cara untuk mencapai hal tersebut.

Kemudian Pasal 33, 36, tentang isi siaran. Ini juga menyangkut diversity of content, juga dalam PP 50 2005 Pasal 17. Nah, dalam Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 pada ayat (4) atau butir 4 dinyatakan “Mengantisipasi perkembangan teknologi, komunikasi, dan

(6)

6 penyiaran seperti teknologi digital. Jadi sudah disebutkan dalam Undang-Undang No. 32 itu, walaupun dalam bentuk penjelasan, sudah mengantisipasi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, khususnya di bidang penyiaran, seperti teknologi digital, compressi. Compressi ini penyederhanaan lebar kanal maupun kode-kode di telekomunikasi nanti, komputerisasi, televisi kabel, satelit, internet, dan bentuk-bentuk khusus lain dalam penyelenggaraan siaran. Ini luar biasa ini, tahun 2002 sudah berbicara sejauh ini. Artinya antisipasi itu ada.

Nah, juga undang-undang dan regulasi yang menjadi dasar hukum implementasi TV digital adalah Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 Pasal 3, 5 g, h, dan penjelasannya dan Penjelasannya PP No. 50 Tahun 2005, Peraturan Menteri 22 Tahun 2011, Peraturan Menteri 23 Tahun 2011, Peraturan Menteri 25 Tahun 2012, serta RPJM 2014. Nah dalam Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2005 Bapak Pimpinan yang saya hormati, dimuat tentang penyelenggaraan penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta. Pasal 2, “Lembaga Penyiaran

Swasta diselenggarakan melalui sistem terestrial dan/atau melalui sistem satelit dengan klasifikasi sebagai berikut:

a. Penyelenggaraan penyiaran melalui sistem terestrial meliputi:

1. penyiaran radio AM/MW secara analog atau digital; sudah disebutkan di situ, AM/MW

secara analog atau digital.

2. penyiaran radio FM secara analog atau digital; jadi untuk radio FM pun sudah dimuat

analog atau digital.

3. penyiaran televisi secara analog atau digital; 4. penyiaran multipleksing.”

Jadi memang kalau kita akan menyiarkan, memindahkan satu sistem dari analog ke digital, Bapak Pimpinan, tidak mungkin kita tidak menggunakan multipleksing. Multipleksing itu adalah beberapa kanal itu kita satukan di satu frekuensi, itu arti multipleksing. Jadi biasanya satu siaran, satu frekuensi. Nah, sekarang dengan perkembangan teknologi digital, satu kanal itu bisa dibagi 12 channel televisi. Ini kan sangat efisien, Bapak Ketua. Jadi untuk menjadikan 12 ini memasukkan di satu kanal, ya harus pakai namanya teknologi multipleksing. Kalau kita tidak menggunakan multipleksing, mencampur 12 itu di dalam satu kanal, bagaimana caranya? Sama saja sistem analog yang lama. Jadi di sini sudah disebutkan. Nah, ini kita turunkan di dalam Peraturan Menteri No. 22 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Televisi Digital Terestrial, penerimaan tetap tidak berbayar, Peraturan Menkominfo No. 23 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Spektrum Alokasi Frekuensi, Radio untuk TV digital, dan seterusnya.

Kemudian bagaimana ya sekiranya ya, ini ditunda ya? Implementasi TV digital ini. Mohon maaf, kalau secara pribadi ya, secara pribadi, karena saya tidak ada bisnis, tidak ada kaitan dengan hal ini sih, silakan saja ya mau ditunda. Ini kan negara, kita yang mengelola, kita yang mengatur. Mau diapain, kita sepakati, silakan. Tapi saya ingin mengemukakan beberapa hal, kenapa, sebetulnya tidak juga terburu-buru, karena ini sudah dimulai sejak tahun 2005 prosesnya. Jadi kalau kita lihat sekarang, sudah 7 tahun proses itu berlangsung. Kita siapkan peraturannya dan seterusnya, sudah 7 tahun Bapak Pimpinan. Dan untuk TVRI, di 4 kota sudah dilakukan uji coba siaran sejak tahun 2010 dan itupun diresmikan oleh Presiden. Nah, penundaan implementasi TV digital akan menimbulkan potensi kerugian besar, puluhan, bahkan ratusan triliun rupiah yang ditimbulkan karena:

1. Negara terlambat mendapat keuntungan puluhan triliun rupiah dari digital deviden. Jadi ini juga mohon maaf, saya mohon ijin, untuk menjelaskan apa yang terjadi mengapa kita segera melelang kanal 3G. Jadi memang agak berbeda Bapak Pimpinan dengan Kementerian lain. Walaupun Kemenkominfo itu meraih PNBP ke-2 terbesar di antara Kementerian yang lain, yang nomor 1 ESDM. Tapi ESDM itu dia ada barangnya, ada minyak, ada gas, ada batubara. Kalau Kemenkominfo, yang kita sewakan adalah udara. Jadi kalau dia tidak kita sewakan, dia kosong saja, begitu, makanya ini kita sewakan. Supaya tidak idle, tidak menganggur, begitu. Satu, negara terlambat mendapatkan keuntungan puluhan triliun rupiah dari digital deviden. Digital deviden adalah sisa frekuensi, karena kita mengimplementasikan digital. Keuntungan ini padahal bisa digunakan untuk program kerakyatan, akibatnya rakyat pun juga mengalami kerugian.

2. Proses pembangunan broadband menjadi terlambat. Frekuensi digital deviden tidak bisa segera digunakan. Akibatnya, percepatan pertumbuhan ekonomi dan dari kontribusi

(7)

7 broadband tidak bisa segera tercapai. Pertumbuhan ekonomi terlambat ini mengakibatkan lapangan kerja sedikit dan rakyat menganggur, berpotensi makin banyak. Broadband ekonomi dalam risetnya World Bank tahun 2009 mengatakan, “10% penetrasi broadband kita itu

akan meningkatkan PDB sebesar 1,38%” jadi hal-hal ini, Presiden dalam Indonesia Summit

bulan Oktober 2009 juga mengatakan satu point yang penting yang kami catat, yaitu Indonesia connected, Indonesia tersambung, Tahun 2009, dan ini kita targetkan di akhir tahun 2012 ini, Indonesia itu sudah tersambung dari Sabang sampai Merauke melalui jaringan broadband. Jaringan broadband termasuk juga satu hal yang kita kejar, sekarang ujung kabelnya sudah di Manado, Insya Allah sedang menuju perjalanan ke Ternate. Dari Ternate ke Sorong atau Manokwari. Kalau itu tersambung, berarti Indonesia sudah tersambung di seluruh provinsi dengan fiber optic dan jaringan itu. Nah, dana-dana ini yang kita pakai, di USO dan sebagainya, untuk mengembangkan hal ini.

3. Indonesia tidak bisa mencapai target pembangunan ICT dalam RPJM 2014, dimana 35-40% digitalisasi mestinya sudah terimplementasi.

4. Indonesia menjadi tertinggal di negara-negara ASEAN dan Asia dalam implementasi digital. Akibatnya, industri kreatif rakyat juga terlambat maju, karena medannya tidak ada, sehingga industri kreatif dari luar yang lagi-lagi diuntungkan dan bisa menyerbu masuk ke Indonesia. Jadi kita ingin daerah-daerah kita, itu juga berkembang jaringan broadband-nya, sehingga orang tidak harus datang ke kota Jakarta untuk mencari pekerjaan Bapak Pimpinan.

5. Potensi kerugian tidak tercapainya efisiensi penghematan daya listrik sebesar 80%, karena harus menyediakan daya listrik untuk sekitar 718 stasiun transmisi analog yang terus beroperasi. Bapak Pimpinan, bahwa teknologi digital ini sangat green technology. Karena dia menggunakan daya listrik yang sangat irit. Jadi kalau biasanya teknologi analog itu, TV analog itu menggunakan 200-300 watt, mereka cukup hanya 40 atau 25 watt untuk satu peralatan televisi. Tapi kalau untuk stasiun televisi, ini tentu jauh lebih hemat. Karena peralatan digital biasanya menggunakan catu daya atau suplay listrik yang sangat kecil.

6. Indonesia dianggap sebagai negara yang tidak tanggap dengan green ICT, karena menggunakan teknologi usang, boros energi, dan tidak efisien di bidang penyiaran. Bapak Presiden sudah mencanangkan pilar ke-4 daripada pembangunan ini, yaitu pro poor, pro growth, pro job, dan yang keempat yang terbaru adalah pro environment atau pro green. 7. Peluang ikut serta dalam penyelenggaraan bagi komunitas penyiaran Indonesia lagi-lagi

tertunda dan tidak bisa segera ada, karena pemenuhan frekuensi analog sudah penuh. Kalau kita membiarkan sistem analog yang sedang berjalan Pak Pimpinan sekarang ini, ini sistem monopoli. Yang lain tidak punya kesempatan untuk berkompetisi. Contohnya untuk zone 4 saja, sekarang beroperasi 24. Zone 4 adalah Jakarta dan Provinsi Banten, beroperasi 24, televisi yang kita sebut dengan nasional dan lokal. Dan kalau kita buka dengan channel digital, maka ini akan menjadi 72 channel televisi, berarti ada peluang 42 channel baru untuk digunakan oleh pihak-pihak lain yang berminat.

8. Kerugian besar lain adalah terlambatnya implementasi lebih riil dari Undang-undang Penyiaran, yaitu diversity of ownership dan diversity of content yang berpotensi mematikan komunitas penyiaran yang akan tumbuh. Oleh sebab itu, sekali lagi, sesuai juga dengan kesepakatan kita pada RDP 28 Mei 2011 yang lalu, kami tentunya memohon dukungan dan support yang penuh dari Komisi I DPR RI sebagai partner kami bekerja di Parlemen ini. Tentunya dengan segala kerendahan hati, untuk mensukseskan pembangunan bangsa dan negara kita.

Pak Haji berpeci putih, cukup segini dan terima kasih. Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih Pak Menteri sudah menyampaikan penjelasannya.

Saya kira dari, nah di dalam daftar penanya Anggota Komisi I dalam Rapat Kerja kita dengan Menkominfo pada pagi hari ini, sudah tercatat di sini ada 10 nama. Yang bertanya ada 6 ya, 1,2,3,4,5,6, ada 6 dari 12 yang hadir. Dan di sini tercatat Bapak Max Sopacua yang pertama ini, sebelah kanan.

(8)

8

F-PD (MAX SOPACUA, S.E., M.Sc.):

Saya jangan yang pertama Pak. Saya datang terakhir, nanti orang banyak protes ke saya nantinya, begitu. Yang pertama orang lain saja.

KETUA RAPAT:

Baik, dari sayap kanan, siapa yang bisa memulainya? Pak Zaki? Silakan Pak Zaki, sudah tahulah, tidak usah dari F-PG, atau dari, sama sajalah, dari Komisi I.

F-PG (AHMED ZAKI ISKANDAR ZULKARNAEN, B.Bus.):

Terima kasih Pimpinan. Pak Menteri,

Kami sejak awal memang, beberapa kali pertemuan terakhir, kita selalu mempertanyakan masalah kebijakan untuk tender digitalisasi ini. Yang terakhir mungkin kesimpulan rapat kita dimana kita meminta Kominfo untuk melakukan komunikasi secara intensif dengan Komisi I dan para stakeholder-nya juga.

Dalam perjalanan waktu, kita mendapatkan surat masukan dari para stakeholder yang tentunya berkepentingan mengenai tender digitalisasi ini. Ada dari KPI yang baru saja melaksanakan Rakernas pada 5-7 Juli kemarin, Rapimnas, mohon maaf. Kemudian kami juga menerima surat dari ATVSI dan ATVLI. Dimana point-nya mereka adalah meminta Kominfo semua untuk menunda proses tender digitalisasi ini dengan permasalahan yang hampir sama antara KPI, ATVSI, dan ATVLI. Nah, inilah yang menggerakkan kami untuk juga meminta kepada Kominfo, agar bisa, paling tidak, pertanyaan-pertanyaan dari stakeholder ini dijawab dengan baik dan bijak Pak. Perihal Undang-Undang Penyiaran, kami dari Komisi I memang sedang mempercepat proses penyelesaian Undang-Undang Penyiaran ini. Kita sudah masuk ke draft final mengenai Undang-Undang Penyiaran. Terlepas dari Bapak masih mempertanyakan penyelesaian ini dan ketidakyakinan Bapak akan selesai di akhir tahun 2012 ini, kami bersepakat di Komisi I akan menyelesaikan ini sesegera mungkin sebelum 2012 berakhir. Nah, yang kami inginkan, jangan sampai nanti proses tender ini harus mengulang kembali ketika manakala Undang-Undang Penyiaran yang baru sudah kami sahkan. Karena di Undang-Undang Penyiaran yang baru ini, kami akan juga berbicara mengenai digitalisasi dengan sangat detail dan jelas, terutama nanti menyangkut masalah konversi dari analog ke digitalnya, juga proses-proses digitalisasi yang memang kita niscaya memang harus pindah ke digital. Tapi dari tadi pemaparan Bapak mengenai peluang-peluang kehilangan dan segala macam, saya pikir ini bukan bahan yang krusial, yang memaksa Kominfo harus melaksanakan itu. Yang paling krusial adalah bagaimana Kominfo dengan stakeholder ini bisa duduk bersama, menentukan kapan moment tepat tender digital ini dilaksanakan, dan juga disesuaikan dan disinkronisasikan dengan undang-undang baru Pak. Itu saja point-nya. Kalau masalah yang lain-lain, saya pikir itu teknis belakalah, peluang, dan segala macam. Kita tidak terdesak oleh agreement manapun. Kita kan juga punya integrity sendiri, Negara kita, disesuaikan dengan kemampuan kita. Jadi untuk perjanjian internasional, berapa lama sih, berapa bulan yang harus kita inikan. Kan juga ini tidak bertahun-tahun, begitu.

Jadi dari saya itu saja Pak Menteri. Jadi point-nya adalah, stakeholder kita ini semua memberikan surat permohonan untuk penundaan dan masukan ya. Nah, itu yang jadi concern di sini.

Kemudian satu lagi adalah bagaimana undang-undang baru ini nanti tidak menjadi hambatan untuk tender yang Bapak lakukan sekarang. Karena apabila kita keluarkan undang yang baru, tiba-tiba tender yang Bapak lakukan sekarang tidak sesuai dengan undang-undang yang baru ini, otomatis itu akan harus diulang lagi, dan Bapak kerja dua kali.

Jadi sekali lagi Pak, kami dari Komisi I akan menyelesaikan Undang-Undang Penyiaran ini dengan sesegera mungkin, sebelum 2012 ini berakhir. Itu saja.

Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT:

(9)

9 Selanjutnya, biar seimbang, dari kiri dulu, Ibu Nuning. Kalau tidak ada, kita ke kanan, ya kembali, Bu Nuning, kami persilakan. Setelah itu kita ke kiri lagi, baru ke Bu Meutya.

Terima kasih.

F-HANURA (Dr. SUSANINGTYAS NEFO HANDAYANI KERTOPATI, M.Si.):

Terima kasih Ketua. Pak Menteri,

Saya pakai baju kuning, Bapak pakai dasi, kita bertemu di Bandung, Bapak baca doa, saya baca menu masakan, tetap digitalisasi membingungkan, maaf, ini tidak nyambung.

Pak Menteri,

Saya sering berpikir begini, apa yang dijelaskan oleh Pak Zaki, saya rasa ini tidak perlu lagi kita berpanjang-panjang lebar, sudah lengkap, menu seperti di Bandung kemarin Pak. Jadi Pak Zaki sudah menyatakan, tapi ada yang saya bingung Pak, setiap Bapak datang, kita bingung, setiap Bapak pulang, kita bingung. Karena Bapak memang selalu memberikan jawaban-jawaban yang memang sedikit membingungkan.

Pak,

Saya ingin tahu, apa yang tadi disampaikan oleh Pak Zaki itu. Apakah ketika Bapak memutuskan bahwa digitalisasi itu dipercepat, diperlambat, atau sesuai Renstra atau tidak, itu rencana jangka pendek menengah atau jangka panjang, apakah Bapak juga mengadakan riset untuk itu? Saya ingin tahu, riset itu dilaksanakan oleh siapa dan bagaimana, variabelnya apa, metodenya apa? Karena itu semua penting Pak, saya rasa untuk menentukan ini hasil daripada benchmarking kita kemarin. Saya kebetulan ke Inggris, teman-teman ada yang ke Amerika. Itu kita melihat bahwa keterlibatan masyarakat itu sangat dibutuhkan untuk menentukan satu keputusan yang keluar dari Kementerian. Saya hanya ingin tanya itu, karena tadi sudah diborong oleh Pak Zaki.

Terima kasih.

Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa ‘alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh.

Dari kiri, masih belum ada? Ya, kembali ke kanan, Ibu Meutya, nanti pantunnya dijawab oleh Pak Menteri ya Bu Nuning.

F-PG (MEUTYA VIADA HAFID):

Terima kasih Pimpinan.

Mengulang sedikit dari apa yang disampaikan oleh Pak Zaki dan Ibu Nuning bahwa sebetulnya kita tidak perlu lagi mengulang-ulang apa yang sebetulnya juga sudah kita sampaikan atau ingatkan sebagai mitra kepada Pak Menteri di rapat-rapat sebelumnya. Tapi kalau pengulangan ini bisa menjadikan ini efektif, maka saya juga akan ikut mengulang bahwa sekali lagi tadi Pak Menteri memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa kemajuan teknologi itu tidak bisa dinafikkan dan sebagainya. Kalau ada teman-teman media di sini yang mencatat, maka tolong juga catat bahwa dari awal pembahasan ini, kita tidak pernah mengatakan bahwa kita tidak pernah mendukung kemajuan teknologi ini. Jadi kalau ada rapat yang berlarut-larut mengenai hal ini, bukan sebagai bentuk Komisi I DPR RI mencoba untuk memperlama adanya proses digitalisasi di tanah air ini. Tapi semata-mata kita ingin yang terbaik agar semua stakeholder bisa siap menghadapi teknologi yang bukan teknologi kecil-kecilan, begitu, tetapi sesuatu yang sangat besar yang harus disiapkan dan harus mempunyai payung hukum yang jelas dan betul-betul memayungi dan membuat nyaman bagi semua stakeholder.

Yang kedua, hanya menambahkan sedikiti perspektif, karena tadi juga point kedua setelah Pak Menteri bicara mengenai kemajuan teknologi adalah Pak Menteri mengingatkan mengenai kesepakatan ITU. Dan ini selalu diulang dalam setiap rapat, seolah menjadi pembenaran bahkan menjadi landasan hukum bagi negara ini kemudian untuk “terburu-buru” untuk segera melakukan proses tender. “Terburu-buru” dalam artian kalau kita bicara terburu-buru kan subjektif ya Pak ya, maksud saya terterburu-buru-terburu-buru dalam artian tidak bisa lagi menunda proses tender sebelum undang-undang yang juga kita sudah janjikan, upayakan selesai tahun

(10)

10 ini. Sedikit kita mengaca kepada ITU yang selalu disampaikan oleh Pak Menteri. ITU ini kesepakatannya terjadi di Geneva, ketika itu, dan sesungguhnya tidak mengikat Indonesia. Rapat di Geneva atau Geneva Agreement waktu itu mengatur tentang transisi dan rencana frekuensi untuk digital bagi negara di region I yang tidak termasuk Indonesia. Eropa, Afrika, Timur Tengah, ditambah Iran. Jadi supaya kita dapat perspektif bersama, kalau ini yang selalu dijadikan sebagai landasan pembenaran, sebetulnya kita tidak punya kewajiban yang mengikat dalam hal itu. Karena yang betul-betul disebutkan di dalam agreement itu adalah Eropa, Afrika, Timur Tengah, ditambah Iran. Hanya saja, sebagai itikad baik Indonesia untuk juga terlibat di dalam semangat digitalisasi dan juga sebagai negara yang juga duduk bersama dalam kehidupan globalisasi, maka Indonesia punya itikad baik untuk ikut tenggat akhirnya, bukan 2015, tapi 2018. Jadi itikad baik itu tentu kita dukung dan mendapat dukungan dari DPR RI, tapi kemudian saya heran, mengapa kita punya waktu sebetulnya sampai 2018. Tapi kenapa memaksakan untuk memasukan sampai 2015. Untuk region-region lain sebetulnya ada waktu sampai 2018 dan Indonesia masuk di region III sesungguhnya, dalam proses digitalisasi dunia ini.

Mungkin itu saja sedikit perspektif, karena ini selalu diulang tentang ITU. Dan sekali lagi saya mengingatkan bahwa negara ini tidak hanya Pemerintah, negara ini tidak hanya Kementerian. Kalau memang negara ini bertekad untuk juga ikut dalam semangat digitalisasi penyiaran global, maka negara ini juga termasuk rakyat Pak. Dan kebetulan kami saat ini mewakili rakyat. Pemerintah tidak bisa jalan sendirian, komunikasi yang baik harus dilakukan, termasuk juga kesepakatan-kesepakatan dan suara-suara rakyat yang kami wakili agar betul-betul didengar, sehingga tidak perlu kami mengulang sampai 4-5 kali rapat.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bu Meutya.

Kembali ke kiri, belum ada? Ya, kapalnya berat ke kanan ini. Ya, kami persilakan Pak Roy.

F-PD (KRMT. ROY SURYO NOTODIPROJO):

Baik, terima kasih Pimpinan.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak dari Komisi I yang terhormat,

Pak Menteri Komunikasi dan Informatika, Pak Tifatul Sembiring dengan jajaran dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang saya hormati.

Sebenarnya sudah jelas apa yang sudah disampaikan oleh beberapa kawan tadi, tapi saya ingin mengingatkan atau saya ingin menandaskan, sebenarnya apa yang paling krusial yang disampaikan, sampai saya harus menyatakan bahwa proses digitalisasi ini, saya sebut dalam salah satu majalah berita mingguan yang copy-nya ada juga disebarkan hari ini, yaitu Tempo, yaitu cacat dalam peraturan, cacat dalam teknologi, dan cacat dalam prosedur.

Yang pertama Pak Tif, dengan berat saya harus mengatakan bahwa kalau Kementerian Kominfo meragukan proses selesainya Undang-Undang Penyiaran yang baru sebagai pengganti Undang-Undang Penyiaran No. 32, sebenarnya itu seperti menampik muka sendiri. Karena sebenarnya kamipun menyelesaikan ini dengan Kementerian Kominfo, dan kita draft terakhir pada tanggal 2 Juli itu sudah jelas. Dan ini yang saya katakan, proses untuk merubah dari analog digital itu, seperti tadi kata Mba Meutya, itu tidak boleh diatur sendiri oleh Kementerian. Harus melibatkan semua stakeholder, harus melibatkan semua pemikir. Dan proses menjadi digital itu pilihannya sangat banyak, kalau kita bicara soal teknis. Dari analog ke digital itu ada DVB, ada DVB2, bahkan ada selanjutnya lagi. Bahkan Kementerian Kominfopun sudah menyelenggarakan seminar beberapa waktu yang lalu di Hotel Borobudur pun sudah jelas juga di situ, bahwa banyak sekali pilihannya, dan kita belum memilih sebenarnya. Kalaupun harus memilih, harus mengevaluasi juga. Dulu kita punya KTDI (Konsorsium Televisi Digital Indonesia) yang diikuti oleh beberapa TV swasta, itupun tidak ada evaluasinya. Dan sekarang sudah tidak siaran sama sekali. Jadi artiinya, proses untuk merubah ke digital ini, itu ada banyak pilihan. Tidak hanya DVB2 yang tadi disebutkan oleh Pak Menteri, tapi masih ada yang lain. Dan ini kita jangan terburu-buru. Sekali kita terburu salah, nanti akibatnya runyam di belakang. Undang-Undang

(11)

11 Penyiaran ini harus ditunggu, sekali lagi, teman-teman sekalian, saya mengajak teman-teman untuk bersikap sama. Kita harus mendesak Kementerian Kominfo untuk menunggu sampai undang-undang ini selesai. Tidak ada pilihan lain. Karena dalam Undang-Undang Penyiaran ini sudah jelas di situ ada aturan tentang MUX, clear, dalam penjelasannya di nomor 28 ada. Jadi itu sudah diatur tentang multipleksing Pak Menteri. Aturan tentang multipleksing itu aturan yang sangat krusial, tidak bisa hanya dengan Peraturan Menteri tiba-tiba ada multipleksing. Apalagi dalam dokumen tender, bukan Pak Menteri yang mengatur di sini juga. Ini ada Panitia Seleksi lagi. Barang apa lagi ini? Pansel ini, Panitia Seleksi ini. Dan dalam dokumen tender ini, mohon maaf Pak Menteri, saya pun sudah pernah menyampaikan ke Pak Menteri, ada banyak cacatnya di sini. Banyak sekali kalimat yang misalnya menjadi persoalan dan nanti akan digugat. Misalnya soal kalimat, “Selain itu Tim Seleksi berwenang untuk mencairkan jaminan penawaran dari peserta yang digugurkan”. Dicairkannya dimana? Ke rekening Pak Menteri, pasti tidak kan? Tapi tidak ada aturan ini. Jadi ini akan menimbulkan suudzon yang sangat besar, dan kamipun sudah dipertanyakan. Itu yang pertama. Jadi artinya proses analog ke digital itu tidak semudah membalik tangan.

Yang kedua Pak Menteri dan teman-teman dari Kementerian Kominfo, saya pernah juga agak panjang, Pak Menteri, kita di Yogya, saya bicara dengan Pak Hendri, dengan Pak Gatot juga soal ini, adalah ketika dalam aturan dokumen tender ini, ini akan berakibat Indonesia akan totally..

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI:

Maaf Mas, maaf Mas, dari tadi disebut tender, tidak ada tender Mas ya.

F-PD (KRMT. ROY SURYO NOTODIPROJO):

Oh ya, dokumen seleksi ya? Dokumen seleksi. Itu adalah ketika di sini disebutkan diatur tentang ada 4 daerah dan 1 Riau. Yang saya pertanyakan, ini melanggar diversity of ownership and diversity of content. Karena apa? Ini juga menghambat proses yang terjadi dalam persatuan NKRI Pak Menteri. Karena di sini tidak ada aturan setelah selesai di Jakarta, mereka harus punya di Indonesia Timur, akibatnya kan gemuk. Setelah selesai mereka mengikuti seleksi, tidak ada kata “tender” ya, mengikuti seleksi di Jawa dan di Riau, mereka tidak punya kewajiban lagi untuk ikut di Indonesia Timur. Akibatnya nanti ketika Bapak membuka proses seleksi di Indonesia Timur, sudah tidak ada lagi yang ikut. Karena ini sudah banyak sekali yang menyatakan bahwa yang gemuk inilah yang kemudian diikuti. Itu yang kedua. Jadi artinya adalah proses seleksi ini justru menghilangkan keberagaman, menghilangkan proses merah-putih yang ada, karena orang akan mengejar di Jakarta.

Yang ketiga atau yang terakhir Pak Menteri dan jajaran Kominfo, saya mengulang apa yang tadi sudah disampaikan Pak Zaki, mengulang apa yang disampaikan Ibu Nuning, dan juga Mbak Meutya, bahwa sayapun ikut dalam Rapim Komisi Penyiaran Indonesia di Semarang. Dua hari sebelum acara di Jogya, saya ke Semarang, sebelum balik ke Jakarta dan ke Jogya. Ketika di Semarang, semua pihak di sana, ATVSI, ATVLI, dan juga KPI, dan semua KPID di seluruh Indonesia itu menyatakan menunda proses digitalisasi yang dilakukan oleh Kementerian Kominfo. Artinya Pak Menteri, ini ada satu proses yang kami berat kalau dari DPR sebagai wakil rakyat, yaitu untuk menjalankan sebuah proses Pemerintah dimana rakyatnya, pelaksananya, stakeholder-nya menolak. Kalau dipertanyakan atau kalau dikatakan, toh TV-TV ikut juga. Iya, memang TV-TV harus ikut. Mereka harus dua kaki. Karena kalau mereka gak ikut, mereka akan digugurkan. Otomatis nanti ada aturan, ada klausul dalam dokumen seleksi ini, kalau tidak ikut, maka akan dipilih sendiri atau akan ditentukan sendiri pemenangnya. Ini juga pantas dipertanyakan. Dan akhirnya KPI pun menyatakan, tidak pernah diajak. Ini Pak Menteri saya bacakan saja, karena KPI tidak hadir di sini. Pada Pendahuluan, pada Alinea 2, saya mendapatkan catatan, barusan juga BBM dari Ketua KPI, mohon Mas dibacakan kembali, bahwa meskipun di aturan dokumen seleksi ini ada telah dilakukan serangkaian pembahasan secara intensif dengan melibatkan unsur Kementerian Komunikasi dan Informatika, dengan pemangku kepentingan terkait antara Komisi Penyiaran Indonesia, Pemerintah Daerah, Lembaga Penyiaran Publik, TVRI, Asosiasi TV Swasta Indonesia, TV lokal, TV Jaringan, Pak Menteri, saya ulangi kalimat dari Ketua KPI, “KPI menyatakan tidak pernah diajak berkonsultasi”. Jadi dalam

(12)

12 dokumen ini, tidak ada. Mereka pernah diajak rapat sekali. Pernah diajak rapat, tapi tidak pernah menyepakati dan tidak menyetujui konsultasi itu. Dan teman-teman sekalian, saya selaku Anggota Dewan di sini keberatan, karena DPR tidak disebut di sini. Jadi DPR tidak dianggap Pak Menteri di sini. Bapak tidak menganggap kami-kami ini selaku wakil rakyat, dalam dokumen seleksi ini. Tertulis ini Pak Menteri.

KETUA RAPAT:

Bisa dipersingkat lagi Pak Roy?

F-PD (KRMT. ROY SURYO NOTODIPROJO):

Ya.

KETUA RAPAT:

Point-pointnya sudah?

F-PD (KRMT. ROY SURYO NOTODIPROJO):

Sudah. Jadi artinya, 3 point itu, itu yang paling berat. Jadi selaku Fraksi pendukung Pemerintah, Pak Menteri, dalam hal proses seleksi ini, mohon maaf, kalau kami harus sepakat dengan kawan-kawan di Komisi I, proses seleksi ini harus ditunda sampai selesainya Undang-Undang Penyiaran yang baru.

Sekian, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Roy.

Bagaimana? Masih sayap kiri belum juga? Pak Muzammil? Pak Najib? Kami persilakan Pak Max Sopacua.

F-PD (MAX SOPACUA, S.E., M.Sc.):

Terima kasih Pak Ketua.

Mohon maaf yang di sebelah sana, saya pikir tidak ada orang Pak itu tadi. Hehehehehe.. Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Pimpinan Rapat,

Yang saya hormati Pak Menteri dan staffnya,

Setelah semua dapat giliran, sekarang saya giliran bicara Pak, itu saja saya, begitu. Pak Menteri dan teman-teman sekalian.

Dari hasil yang kita dengar dari tadi teman-teman, baik Pak Zaki kemudian yang terakhir Pak Roy yang menggebu-gebu tadi, dan setelah didahului dengan apa yang disampaikan oleh Pak Menteri, saya menyimpulkan bahwa ada 2 obsesi kita, yang kita bicarakan. Dua obsesi yang berbeda, tetapi satu destination. Saya ingin sampaikan bahwa obsesi kita ini yang pertama adalah Kominfo ingin menyelesaikan sebuah program Pemerintah lebih cepat. Dan yang obsesi yang kedua yang juga berbeda dari DPR adalah, DPR juga mengakomodir obsesi-obsesi lain dari stakeholder dan berpegang teguh kepada prinsip pengawasan serta legislasi yang tengah dilakukan. Saya sudah tentu semua orang tahu bahwa saya adalah Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Pak, dan saya adalah Anggota DPR pendukung kebijakan Pemerintah. Bagaimanapun juga, saya tidak bisa lari dari komitmen itu. Tetapi bagaimanapun, dengan tata cara yang kita lakukan, bahwa kita ada komitmen politik. Artinya di sini tidak semata-mata hitam di atas putih kita bicarakan, tetapi ada komitmen politik ya. Pak Menteri dengan Kominfo tidak semata-mata mengakomodir sebuah kepentingan yang hitam di atas putih, tetapi ada politik Pemerintah yang ada di sana. DPR dalam hal ini juga tidak mengakomodir sebuah kepentingan yang menyangkut masalah stakeholder saja, tetapi juga masuk juga wilayah politik di sana begitu ya Pak ya. Karena di sini ada 9 partai politik yang bermarkas di Komisi I ini Pak, begitu. Tetapi bagaimanapun juga Pak, saya ingin menyampaikan bahwa yang dibicarakan oleh semua teman-teman adalah sesuatu yang tidak bisa disalahkan. Yang disampaikan oleh Pak Menteri juga tidak bisa disalahkan karena itu adalah sebuah program Pemerintah, apapun yang menjadi obsesi di sana. Yang belum kita lakukan adalah menuju sebuah destinasi, sebuah destination, atau kita

(13)

13 belum sampai pada menciptakan sebuah track, sebuah rules untuk mencapai ke destinasi itu. Nah sekarang saya pikir, kalau kita berlarut-larut dengan cara seperti sekarang, kita jalan di tempat. Artinya, DPR tetap berpegang pada obsesinya dan Kominfo tetap berpegang pada obsesinya juga, sehingga kita tidak mencapai sebuah kesepakatan. Yang saya inginkan, kalau memang dalam kesimpulan awal pada rapat-rapat terdahulu, ada kompromi, ada kerja sama, ada pembicaraan satu meja atau pembicaraan yang terus-menerus antara Kominfo dengan DPR, saya pikir perbedaan yang disampaikan tadi, saya gak tahu Pak Roy bicara tadi itu betul atau salah juga saya belum baca Pak, gitu ya. Atau Pak Menteri bicara itu juga belum tentu saya baca semuanya Pak, sama juga gitu. Kita perlu duduk untuk saling mengatasi berbagai persoalan ini. Saya juga gak mau program Pemerintah itu berlarut-larut tidak terselesaikan. Makanya saya memberanikan diri tadi, saya menyampaikan di depan Bapak-Bapak, bahwa saya adalah Anggota Pendukung Kebijakan Pemerintah, dan saya kira semua orang di sini juga mau mendukung kebijakan Pemerintah. Cuma caranya lain-lain, begitu lho Pak.

Jadi yang saya inginkan sekarang, kalau memang berbagai masalah, berbagai hal yang juga kita dapat, diantaranya Pak Tantowi juga menulis di Media Indonesia, kemudian Pak Roy juga punya di Tempo, dan berbagai masalah ataupun opini yang berkembang yang masuk ke Komisi I, lewat stakeholder-stakeholder yang lain, saya pikir wajar-wajar saja Pak. Perbedaan itu tidak tabu Pak Menteri dan teman-teman sekalian. Tapi perbedaan itu bisa kita satukan dan dia bisa menjadi sebuah kekuatan yang dashyat. Selama kita tidak mau menyatukan perbedaan itu, kita tetap pada jalur yang memang berbeda dan jurang pemisah yang dalam.

Jadi saya cuma mau menghimbau saja, tidak ada hal-hal yang substantif yang saya sampaikan, karena saya bukan orang teknis seperti teman-teman yang lain. Tapi saya inginkan ada sebuah solusi antara kedua belah pihak ini. Karena ya berbeda, satu dari stakeholder, satu dari pemegang regulasi, begitu Pak. Memang kalau kita bicara semua milik, baik frekuensi maupun apapun, adalah milik rakyat, tetapi ya kita butuh pengelolanya, dalam hal ini adalah Pemerintah yang mengelolanya, dan diawasi oleh DPR. Nah, kalau dua-dua ini berjalan, saya kira teman-teman semuanya ini juga mau mengerti dan Kominfo juga mau mengerti, ya everybody happy, begitu Pak. Saya kira itu saja Pak, tidak ada hal-hal teknis yang saya sampaikan, hanya untuk mengambil jalan tengah saja.

Terima kasih.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Baik, mungkin sudah waktunya dari sayap kiri untuk menyampaikan. Bagaimana Pak Muzani, Bapak Sekjen?

Silakan Pak.

F-GERINDRA (H. AHMAD MUZANI):

Terima kasih Pak.

Sebagai sebuah kebijakan, saya menganggap kebijakan ini saya kira tentang digitalisasi, sudah disampaikan oleh kawan-kawan, namun ketika Pemerintah melakukan uji coba siaran digitalisasi, Pemerintah tidak pernah menyampaikan tentang hasil uji coba ini kepada publik, setidaknya kepada masyarakat. Yang diuji coba apa, terus hasilnya bagaimana, kendala-kendala teknisnya apa, maksimalisasi dari uji coba itu apa, termasuk dari uji coba itu nilai ekonominya bagaimana. Pemerintah menurut hemat kami, uji coba itu kayaknya hanya sebagai sebuah standar rencana besar tentang digitalisasi dan itu tidak mendapatkan evaluasi yang maksimal tentang proses uji coba itu. Sehingga kami sendiri tidak tahu banyak tentang digitalisasi yang sudah diuji coba oleh Pemerintah, dan hasilnya bagaimana, sehingga kemudian Pemerintah meneruskan kebijakan ini sebagai sebuah kebijakan. Sebagai sebuah kebijakan eksekutif, saya kira itu tidak ada masalah, tetapi mestinya itu uji coba itu harusnya dipublikasi menjadi sebuah kajian yang serius, sehingga itu bisa memberikan satu persiapan yang lebih matang.

Yang kedua, kami tidak melihat kebijakan ini melibatkan masyarakat secara luas. Karena kebijakan ini menurut pendapat kami akan berdampak kepada pengguna frekuensi, dalam hal ini masyarakat, yang jumlahnya puluhan bahkan bisa ratusan juta. Karena kalau kebijakan ini

(14)

14 diterapkan, bayangkan kan, akan ada sebuah alat yang harus dibeli oleh masyarakat, meskipun nilainya mungkin tidak terlalu rendah, mungkin 200 atau bahkan mungkin 100 atau 300 ribu, dan ini penjelasannya kepada masyarakat, rendah, atau nyaris tidak ada, kebijakan ini. Bagaimana berdampak, bagaimana, padahal ini mempunyai implikasi yang sangat besar kepada masyarakat. Ada kesan keterpisahan yang jauh antara kebijakan ini diambil dengan masyarakat yang akan menikmati. Padahal ini dampaknya nanti ke masyarakat. Dalam teknologi seperti sekarang ini, dengan 200 ribu misalnya, tanpa digitalisasi juga kita bisa mengakses seluruh siaran televisi hampir diseluruh dunia. Jadi pertanyaannya, jangan-jangan kita salah menangkap, sehingga kebijakan digitalisasi ada kesan terburu-buru. Pertanyaan berikutnya adalah, sebenarnya untuk siapa digitalisasi ini? Apakah untuk masyarakat atau rakyat Indonesia, bahasa kerennya begitu, atau untuk siapa?

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Muzani.

Baiklah, saya kira sudah hampir semua bertanya, tapi dari bidang hukum ya? Tapi sebelum dengan beliau bertanya, saya bikin pantun barusan Pak Menteri, cepat-cepat. Jadi begini bunyinya, “Fabregaz baru saja main di Indonesia, biarlah Andik Firmansyah yang menyempurnakan, setelah semua kolega bicara, biarlah ditutup tanya oleh Maiyasyak Johan.” Kami persilakan Bang Maiyasyak.

F-PPP (Dr. H. MAIYASYAK JOHAN, S.H., M.H.):

Saya cuma mau koreksi sedikit Pak Ketua, Pak Max itukan bilang 9 Fraksi, di sini kalau saya nggak keliru 11 Fraksi, itu saja mengingatkan Pak Max saja Pak Ketua. Fraksi ke 10 Nasdem ada di sini Pak Ketua, cuma kebetulan tidak datang.

Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara Ketua dan Rekan-rekan Anggota Komisi I yang saya hormati, Yang saya hormati Saudara Menteri dan seluruh jajarannya yang hadir.

Pada pagi ini sebenarnya keinginan saya waktu itu adalah bisa menangkap apa yang disampaikan Saudara Menteri dan kemudian mendukung. Namun keinginan itu terganggu, terhambat, karena saya terpaksa melihatnya dari segi sistem kenegaraan, bukan dari sistem yang lain, kita sedang bernegara dan kami di sini tidak berada pada posisi setuju dan tidak setuju, hanya melaksanakan fungsi yang diperintahkan undang-undang dan itu Undang-Undang Dasar Pasal 21A, salah satu fungsi kami itu adalah fungsi legislasi. Jadi kami menjalankan Undang-Undang Dasar ini, kita rapat inipun berdasarkan ini, kita sedang bernegara, jadi bukan apakah ini program Pemerintah atau tidak, kita bernegara ini melaksanakan tujuan negara.

Yang kita bicarakan ini sebenarnya, saya agak ragu ini, saya perlu klarifikasi, yang sedang kita bicarakan adalah masalah imigrasi, analog, program analog ke digital, karena ada kemajuan teknologi komunikasi, ada Geneva Plan Tahun 2006, ada peluang ekonomi atau masalah alokasi natural resources atau economic resources, yang mana sebenarnya yang jadi masalah kita ini jadi masalah kita ini. Menurut saya kita sedang berbicara masalah alokasi ya, natural resources yang disebut dengan spektrum atau frekuensi, kenapa kita bicarakan dan kita perlu membuat regulasinya, karena ada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi bukannya, jangan dibalik, karena teknologi ini baru, nggak, karena ini ada pertumbuhan, perkembangan ilmu pengetahuan, maka kita perlu melakukan regulasi.

Pertanyaannya dalam sistem ketatanegaraan kita ini wewenang siapa, wewenang siapa ini regulasi, apakah ini wewenang Menteri atau bukan, apakah karena Menteri dalam tanda petik selama ini pada praktek pemerintahan kita boleh membuat Peraturan Menteri, sehingga itu dianggap bisa dipergunakan, bagi yang memahami hukum saya ingin sampaikan kira-kira begini. DPR berdasarkan ketentuan Pasal 20A itu pemegang hak genuine, pemegang otoritas genuine dari legislasi itu di Republik ini berdasarkan sistem ketatanegaraan adalah DPR. Itu dia, lalu dalam perkembangannya itu sesuai dengan perkembangan hukum tata negara yang dikembangkan oleh Montesquieu terus sekarang kita anut. Eksekutif memperoleh apa namanya atribusi delegasi, delegasi atribusi, karena itu Pemerintah itu tidak boleh buat undang-undang, dia hanya boleh buat Peraturan Pemerintah pelaksana undang-undang.

(15)

15 Nah, saya minjam langsung ini, to the point pinjam pendapat, karena kalau Professor Atamimi mengingatkan kalau membuat Peraturan Menteri itu, tidak boleh dia menafsirkan, dia harus runut mengikuti peraturan apa yang ada di atasnya, kedudukan Peraturan Menteri untuk masalah ini, menurut hemat saya, menurut hemat saya tidak berada pada posisi DPR setuju, tidak setuju, DPR cuma mengingatkan kepada Menteri, ini sudah saatnya Saudara Menteri kita melaksanakan sistem pemerintahan dengan benar, Peraturan Menteri jika dilihat dari prespektif ilmu pengetahuan dari prespektif ketentuan-ketentuan yang ada, dua-duanya itu kurang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, sehingga secara demikian apa yang dikatakan oleh Saudara Zaki itu baru satu sisi, bahwa lahirnya undang-undang nanti bisa menyebabkan seleksi yang dikatakan hari ini, beauty contest kah namanya, tender kah namanya whatever, sama maksudnya, bisa dibatalkan.

Jika itu yang terjadi, maka kita membiasakan adanya ketidakpastian hukum dalam praktek pemerintahan. Berdasarkan itu Saudara Menteri dan seluruh jajarannya, saya ingin mengatakan dan menghimbau Saudara Menteri, mari kita mulai untuk membangun adanya kepastian hukum. Kenapa? Karena di situ akan dirugikan para peserta beauty contest, kalau sudah mereka dinyatakan menang kemudian batal, harus diulang kembali, itu mereka dirugikan. Di sisi lain, DPR, saya ingin mengatakan dalam hal ini, dengan sangat menyesal harus melaksanakan fungsinya melakukan pengawasan dan kita sedang bernegara, karena itu tidak patut kita berduduk dalam posisi face to face, kita harus bijak mengatasi masalah ini dan saya kira kalau Saudara Menteri menarik Peraturan Menteri itu tentang hal itu dan kemudian menunda karena Saudara Menteri di sana, kami di sini tujuan kita adalah memberikan yang terbaik buat negeri ini, itu dia tujuan kita, memberikan yang terbaik buat negeri ini.

Berdasarkan itu kami ingin mengatakan tidak ada pilihan Saudara Menteri, inilah saatnya kita melaksanakan dan menjalankan pemerintahan berdasarkan konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Atas dasar itu, saya pikir pilihannya adalah menunda, mungkin kita bisa diskusi lebih tajam tentang masalah ini, saya bersedia menyediakan waktu didampingi oleh Pimpinan untuk meletakkan gambar kami secara umum, saya kira itu Pimpinan.

Terima kasih.

Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa ’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Saya kira yang sudah disampaikan Rekan-rekan Anggota Komisi I sudah cukup komprehensif dan apa, melengkapi hal-hal yang memang perlu untuk ditanyakan, karena di Rapat-rapat Internal Pak Menteri, perlu kami sampaikan, hal-hal seperti ini juga muncul sudah begitu dan saya kira sudah cukup, atau Pak Zamil?

Oh iya, kita tutup dari Pak Zammil sebelah kiri, sebelumnya saya minta persetujuan dari Rekan-rekan Komisi I, agar kita tambah waktu rapat kita jadi 12.30 WIB, setuju ya? Setuju Pak, oh iya, terima kasih.

(RAPAT : SETUJU)

Silakan Pak Muzzammil.

F-PKS (Drs. AL MUZZAMMIL YUSUF):

Terima kasih.

Pimpinan dan para Anggota yang saya hormati; serta

Menteri Komunikasi dan Informatika beserta jajarannya yang saya hormati.

Pembicaraan kita tentang tema ini memang cukup panjang, kalau pengalaman saya dua periode di DPR, mungkin ini isu terpanjang yang pernah saya alami dari cara kita menyelesaikan sebuah persoalan.

Merujuk pada fungsi DPR, yaitu fungsi legislasi, budgeting, dan controlling, maka ketiga fungsi ini sedang berjalan dalam konteks kasus ini, kalau kita dekati dari konteks legislasi, ada satu hak DPR dalam konstitusi untuk menuntut bahasa yang sangat keras, yaitu hak angket, ketika Pemerintah dianggap melakukan tindakan yang menentang undang-undang, ketika

(16)

16 menentang undang-undang, tetapi ketika lebih soft dari itu, hak ini hak bertanya, interpelasi bertanya tentang pelaksanaan undang-undang, tetapi hak angket dan hak interpelasi itu tidak pernah bisa digunakan untuk mempertanyakan terhadap undang-undang yang akan terbit. DPR mempertanyakan tindakan Pemerintah terhadap undang-undang yang akan terbit, itu tidak akan pernah ada, yang ada adalah DPR mempertanyakan terhadap tindakan Pemerintah, undang-undang existing itu yang bisa dilakukan oleh DPR, baik dia angket maupun interpelasi.

Oleh karena itu, pertanyaan penting dijawab oleh Pak Menteri adalah dalam konteks undang-undang existing, Keputusan Menkominfo itu punya ruang tidak dalam Undang-Undang Penyiarannya yang lama? Itu pertanyaan yang bisa dilakukan DPR dalam konteks interpelasi. Kalau bisa dijawab, bahwa memang ada loop hole, ada ruang yang bisa memberikan interpretasi terhadap tindakan Menteri, saya rasa interpelasi, tetapi ketika jawaban tidak bisa memuaskan, karena dia menentang undang-undang yang ada, dia masuk ke angket setelah interpelasi dan ini setahu saya sudah pernah kita bicarakan pada rapat yang lalu. Itu perlu di clearkan lagi oleh Pak Menteri, jadi tidak pernah ada hak angket, hak interpelasi yang mempertanyakan tentang Undang-Undang yang akan disahkan, tidak ada, existing.

Sehingga saya ingin kita semua berperilaku sesuai dengan kewenangan kita masing-masing, saya ingin mempertanyakan itu, walaupun belum ada hak interpelasi, tetapi dalam konteks pribadi bertanya, adakah ruang, ketika tidak ada memang harus dihentikan, ketika ada memang selesai pertanyaan saya, saya tidak berlanjut lagi, itu ruang eksekutif, karena ketika ada ruang itu. Itu yang pertama.

Kalau kemudian misalnya, saya tidak puas, saya katakan, saya akan ke angket, tetapi bila saya puas, maka appeal saya pada hari ini adalah appeal politik, saya tidak bisa menginterpelasi dan angket, appeal politik bahwa satu dan lain hal mungkin Pemerintah tidak menunda, ini appeal politik, tidak bisa menghalangi, mungkin tidak ditunda, ketika kita minta ditunda tadi Pak Menteri mengatakan kerugian negara, menurut saya Pak Menteri ekspos saja, ketika DPR Komisi I minta ditunda, sesungguhnya kerugian negara berada di ekspos saja, karena appeal politik itu kalau itu dipenuhi silakan dijelaskan kepada publik, ini loh kekayaan negara, sesungguhnya DPR perlu berpihak kepada pendapatan negara, ketika dia sah, DPR harus berpihak ke situ, kalau tidak berpihak ke situ DPR berpihak kepada siapa? Ketika sekian logika, nah logika ini perlu diperkuat, sekian logika bahwa ini akan ada pendapatan negara, akan ada pertumbuhan negara dan lain-lain, akan ada aspek-aspek pertumbuhan ekonomi dalam berbagai aspek, itu saja diekspos, bahwa setelah appeal politik, apakah Menteri punya job setelah appeal politik, dipenuhi ya sudah, tetapi ini adalah sekian kerugian negara itu, karena appeal politik dari DPR, permintaan politik dari DPR, kalau itu yang ingin dipenuhi, tetapi kalau ingin tetap melawan ya ada wilayahnya, itu wilayah eksekutif, tinggal DPR melihat ruangnya dimana, apakah interpelasi atau hak angket atau apa. Semua punya rujukan yang jelas, ini pilihan-pilihan kita saya kira.

Saya yakin kita semua ingin melakukan peran kita masing-masing dengan cara sebaik-baiknya. Oleh karena itu saya percaya betul, dialog kita dialog cerdas, dialog kita tidak ada dialog kepentingan dan saya alhamdullilah, saya mempertaruhkan diri saya, selama saya menjadi DPR tidak ada dialog kepentingan saya, saya yakin itu kita masih ada di sini. Oleh karena itu, saya percaya Pak Menteri, sejauh Pak Menteri bisa menjawab atas amanah undang-undang yang ada, existing undang-undang tidak pernah amanah dari undang-undang yang akan datang. Existing undang-undang ada, ini kami lakukan, kalau tidak ada harus mundur, karena kami bisa masuk ke berikutnya, angket, kalau itu dilanggar, kami selesai, kami hanya appeal permintaan himbauan saja, kalau himbauan itu dipenuhi, karena himbauan tersebut, maka negara rugi sekian, sebutkan, sekian kerugian negara ekspos, saya kira itu pilihan-pilihan yang adil, sehingga kita tidak saling menyandera, kita dalam posisi kita masing-masing untuk menunjukan marwah kita, saya percaya itu Komisi I bisa melakukan itu dan Pak Menteri bisa melakukan itu.

Demikian, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Muzammil dan saya kira yang dari, disampaikan Pak Muzammil tadi untuk ingatan-ingatan kita, tetapi juga untuk lumayan jugalah Pak Menteri untuk ada sedikit sandaran untuk argumentasinya.

(17)

17 Sebelumnya saya mau mengatakan bahwa biar agak cair sedikit ya bang ya, Agnes Monica juri Indonesian Idol, seni menyanyi merambah semua lapisan, semua rekan bertanya ke tol, kini giliran Pak Menteri memberikan jawaban.

Terima kasih.

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI:

Baik, terima kasih Pak Pimpinan.

Ini orang Sumut ini sebagian orang mengatakan musang harum pandan Pak, muka sangar hati romantis, pandai berdendang, muka Rambo, hati Rinto ini.

Baik, terima kasih.

Jadi, begini juga, dari tadi saya mengamati, kitakan sudah yang kelima Pak Pimpinan, pertama minta disempurnakan, setelah disempurnakan, kedua, minta ditunda, ketiga, ditunda yang keempat, keluarlah kesepakatan ini, kemarin tanggal 28 Mei 2012, Komisi I DPR mendukung kebijakan Menkominfo untuk melaksanakan program digitalisasi penyiaran sesuai dengan road map dan bla-bla dan seterusnya dan kami mulai melangkah waktu itu, tidak ada tender Pak Zaki, dari awal saya katakan ada seleksi, semua seleksi tentunya yang dipertanyakan Pak Muzammil tadi itu terus ya harus jelas dengan perundang-undangan kita, Undang-Undang No. 32 yang masih berlaku. Teman-teman juga dari kemarin tanya Ibu, Menteri, itu Undang-Undang No. 32 masih berlaku atau sudah dihapus, oh masih berlaku saya bilang, sebab kalau itu tidak berlaku dan coba katakan proses sama dengan proses-proses yang dilakukan terhadap seleksi apa, izin penyiaran yang sebelumnya, kalau ini tidak sah secara undang-undang, yang kemarin itu tidak sah semuanya, artinya ini memang bisa berdampak serius kita matikan semua televisi yang ada, kita matikan semua radio yang ada, begitu, karena sama-sama tidak sah begitu, karena kita mengikuti alur peraturan yang, tentang Professor Maiyasyak yang mengatakan tadi.

F-PPP (Dr. H. MAIYASYAK JOHAN, S.H., M.H.):

Pak Menteri,

Bukan jangan subyek, saya cuma mengingatkan, jadi begini saya tambah penjelasan, yang mendapat delegasi of legislation itu Pemerintah adalah Presiden, Menteri itu Pasal 17 pembantu Presiden, karena itu dalam sistem kita, demikian itu Peraturan Menteri itu kalau undang-undang dia tidak masuk tata urutan, dibenarkan, tetapi itu wilayahnya kalau itu dibaca ada teorinya yang namanya, teori Stufenbau, karena panjang sekali, makanya saya bilang kita bisa diskusi. Itu yang pertama.

Kedua, saya belum Professor, itu dia.

KETUA RAPAT:

Paling tidak itu doa yang baik itu, itu didoakan Pak Menteri itu. Silakan Pak Menteri, biar dituntaskan jawaban dari Pak Menteri.

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI:

Jadi itu yang saya ingin ungkapkan pertama, sudah ada kesepakatan tanggal 28 Mei, berarti kalau apakah kesepakatan ini kita apa, kita cabut lagi, kita ulangi lagi pembahasan sesuai dengan RDP yang berikutnya, sebentar Pak Zaki, saya mohon menjawab dulu ya, jadi saya minum lagi ini, karena tersedak begitu ya.

Tentang stakeholder yang dipertanyakan Pak Zaki tadi insyaallah alhamdullilah itu sudah dilaksanakan, jadi bohong itu Mas Roy kalau KPI tidak pernah kita ajak bicara, dalam masalah digital ini, tanda tangan kok mereka kehadirannya itu. Jadi KPI sudah duduk bersama dalam penyusunan dan persiapan impelentasi TV Digital sejak pembentukan Timnas Migrasi Sistem Penyiaran pada tahun 2006, memang bukan KPI yang sekarang Mas, KPI yang sebelumnya, dimana anggotanya terdiri dari KPI, Kementerian Perindustrian, BPPT, Menkominfo, dan yang lain-lain. Jadi tinggal mereka membuka risalah pertemuan sebelum-sebelumnya. Kominfo juga sudah duduk bersama stakeholder yang lain, apakah itu ATVRI, ATVJI pada tanggal 4 Mei 2012 dengan TVRI, LPS, dan Asosiasi Televisi, ATVSI, ATVLI, dan ATVJI tanggal 7 Maret 2012.

(18)

18 Dengan KPI pusat pada tanggal 28 Februari 2012, workshop dengan KPI dan KPID pada tanggal 28 Oktober 2012, workshop ya.

Ibu Nuning tadi menanyakan tentang riset, waduh ini panjang sekali risetnya, ada 18-19-29, ada 32 riset Bu dilakukan, kepanjangan kalau saya sebutkan ini, mulai dari presentasi, seminar, digital, dan seterusnya. Dan realitanya Mbak Meutia juga, memang ITO dia tidak, kita tidak harus patuh tidak, tetapi ITO saya katakan, ini bukan dasar utamanya itu bukan, dia menentukan trend, karena ITO itu bagian dari United Nation, kita mau keluar dari ITO juga boleh, bahkan keluar dari PBB juga boleh kita, tetapi dengan keputusan itu Mbak, sekarang ini Tahun 2012, 85% negara sudah migrasi begitu loh. Indonesia ini termasuk salah satu negara besar yang dipandang oleh ITO. Pemilihan Dewan Council ITO terakhir Indonesia terbesar 135 pemilihnya, mengalahkan Amerika Serikat, mengalahkan China, mengalahkan negara-negara lain. Jadi suara kita itu di dengar di ITO, kalau nggak wajib, yang wajib itu puasa, sholat, zakat, haji saja kalau mampu, begitu, ini pilihan-pilihan kita sekali lagi ya.

Oke, kemudian mengenai keikutsertaan, kalau dengan stakeholder yang lain dialog langsung dengan KPI, sosialisasi ke stakeholder, lembaga penyiaran, yang sudah dilakukan tanggal 19 Januari 2012 itu dengan B Channel TV, 16 Februari 2012 dengan Metro TV, ada Metro TV ini Mbak, 22 Februari 2012 dengan KPI, 23 Feburuari dengan SCTV, 24 Februari dengan MNC Group, 7 Maret 2012 dengan Breakfast Meeting dengan...

F-PD (KRMT. ROY SURYO NOTODIPROJO):

Interupsi Pak Menteri, itu bukan diskusi dengan, tetapi Bapak melakukan diskusi disiarkan di stasiun itukan?

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI:

Oh diskusi ini, tertutup ini tidak ada siaran, tertutup ini masyarakat, dan iklannya juga sudah dibuat ini Mas, cuma Mas Roy waktu itu gak datang ya, 2 Mei 2012 dengan Sifa Newsgroup, breakfast meeting ini menghadirkan seluruhnya, TVRI juga kita undang. 3 Mei 2012 dengan Transcorp, 4 Mei 2012 dengan Asosiasi TV Lokal berjaringan, ATVLI dan ATVJI. Sosialisasi kepada masyarakat melalui penayangan iklan layanan masyarakat di Media Televisi on line, cetak. Proses tender tidak ada, yang ada adalah proses seleksi, sebagaimana proses seleksi yang sudah dilakukan pada lembaga penyiaran sebelumnya dan tahun ini baru tahap seleksi penyelenggara Mux. Nah, apa yang disampaikan ATVLI terakhir juga mereka datang ke apa, ke kantor kami, mereka itu sebetulnya setelah kami jelaskan dan kami tanya, memang mereka tidak akan sanggup sebagai penyelenggara Mux, karena mereka itu jadi tidak akan mampu dalam artian dengan modal-modal sebesar itu ya membangun jaringan. Selama ini memang mereka masih lokal-lokal. Jadi kami memberikan masukkan waktu itu, bagaimana sekiranya dan sebaiknya, hendak yang berusaha ini masuk di lembaga penyiaran saja nanti, artinya dia ngisi channel, karena Mux ini tidak semua orang, tidak semua institusi, semua badan usaha harus membangunnya, nantikan ada penyelenggara multipleksing, ada penyelenggara siaran ya.

Sebentar, kalau diijinkan saya menjawab ya, kemudian Mas Roy tidak benar, bahwa DPR dianggap jangan begitu ya, kemarin ke Yogya Mas Roy saja diundang.

F-PD (KRMT. ROY SURYO NOTODIPROJO):

Pak Menteri,

Tolong pisahkan acara di Yogya dengan ini.

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI:

Ini saya sudah lima kali pertemuan loh, jangan seolah-olah...

KETUA RAPAT:

Pak Roy,

Biar Pak Menteri menuntaskan jawabannya dan tadi juga, saya nanti juga, kita bukan menginginkan ngejar setoran waktu juga, misalnya untuk menjawab pertanyaan soal cantolan

Referensi

Dokumen terkait

Pimpinan, terima kasih pimpinan. Saya mau menanggapi sebenarnya.. Bapak Pimpinan yang kami hormati, dan Bapak Ibu sekalian Anggota Komisi II DPR RI. Yang terkait pada

Wa'alaikum Salam. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semua. Pimpinan beserta Anggota Komisi IV DPR RI, Pak Sekjen beserta

Terima kasih pimpinan. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera buat kita semua. Pimpinan, saya merespon dari apa yang disampaikan oleh Pak Fahri

Terima kasih, Pimpinan. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang pertama, tentu kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya untuk Pak Menteri

Oh silakan boleh, saya izinkan Pak. Sebagai bukti Pak penyampaian proposal. Cukup? Baik terima kasih. Kalau proposal perpustakaan boleh diantar ke depan tapi

Pak Wakil Menteri dan seluruh Pejabat Eselon I Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi yang berbahagia. Pertama, kami mengucapkan terima kasih karena Pak Menteri melalui Pak

Karena intinya dari revisi ini kan Pasal 27 itu Pak, khususnya ayat (3). Sebenarnya ini menurut saya, saya pribadi ya Pak. Ini juga sebetulnya Pemerintah tidak boleh serta merta

dilakukan. Yang kita punya itu Namanya Puslitbang Diklat RRI Pak, yang ada di Radio Dalam itu kita punya database respon pendengar dan dia selalu online Pak, seperti ini. Jadi