• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT RAPAT KERJA KOMISI II DPR RI DALAM RANGKA PEMBICARAAN TINGKAT-I

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

APARATRUR SIPIL NEGARA RABU, 12 OKTOBER 2011 Tahun Sidang : 2011 – 2012

Masa Persidangan : I

Jenis Rapat : Rapat Kerja (RAKER)

Rapat Ke : --

Sifat Rapat : Terbuka

Dengan : Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri (diwakili), dan Menteri Hukum & HAM (diwakili)

Hari / Tanggal : Rabu, 12 Oktober 2011 Pukul : 09.00 WIB – Selesai

Tempat Rapat : Ruang Rapat Komisi II DPR-RI (KK. III/Gd Nusantara)

Ketua Rapat : Dr. Drs. H. Taufiq Effendi, MBA/Wakil Ketua Komisi II DPR RI Sekretaris Rapat : Arini Wijayanti, SH.,MH/Kabag.Set Komisi II DPR RI

Acara : Pembahasan DIM RUU tentang Aparatur Sipil Negara Anggota : 30 dari 48 orang Anggota Komisi II DPR RI

18 orang Ijin Nama Anggota :

Pimpinan Komisi II DPR RI :

1. Dr. H. Chairuman Harahap, SH.,MH 2. Dr. Drs. H. Taufiq Effendi, MBA 3. Ganjar Pranowo

Fraksi Partai Demokrat : Fraksi Persatuan Pembangunan : 4. H. Abdul Wahab Dalimunthe, SH

5. Drs. Ramadhan Pohan, MIS 6. Khatibul Umam Wiranu, M.Hum 7. Ignatius Moelyono

8. Gede Pasek Suardika, SH.,MH 9. Dra. Gray Koesmoertiyah, M.Pd 10. Ir. Nanang Samodra, KA, M.Sc 11. Rusminiati, SH

25. Drs. H. Nu’man Abdul Hakim 26. Dr. AW. Thalib, M.Si

27. Drs. H. Akhmad Muqowam

(2)

Fraksi Partai Golkar : Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa : 12. Hj. Nurokhmah Ahmad Hidayat Mus

13. Dr. Hj. Mariani Akib Baramuli, MM 14. Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM 15. Drs. Murad U Nasir, M.Si

28. Dra. Hj. Ida Fauziyah

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan : Fraksi Partai Gerindra: 16. Budiman Sudjatmiko, MSc, M.Phill

17. Zainun Ahmadi

18. H. Rahadi Zakaria, S.IP.,MH 19. Dra. Eddy Mihati, M.Si

29. Hj. Mestariany Habie, SH

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera: Fraksi Partai Hanura: 20. TB. Soenmandjaja.SD

21. Drs. Almuzzamil Yusuf 22. Aus Hidayat Nur

30. Drs. Akbar Faizal, M.Si

Fraksi Partai Amanat Nasional: 23. Drs. H. Rusli Ridwan, M.Si 24. Drs. H. Fauzan Syai’e

Anggota yang berhalangan hadir (Izin) : 1. Drs. Abdul Hakam Naja, M.Si

2. Drs. H. Djufri

3. Drs. Abdul Gafar Patappe 4. Paula Sinjal, SH

5. Nurul Arifin, S.IP, M.Si 6. Drs. Taufiq Hidayat, M.Si

7. Drs. Agun Gunanjar Sudarsa, BcIP, M.Si 8. Agustina Basik-Basik. S.Sos.,MM.,M.Pd 9. Arif Wibowo

10. Soewarno

11. Dr. Yasonna H Laoly, SH, MH 12. Alexander Litaay

13. Agus Purnomo, S.IP 14. Hermanto, SE.,MM

15. H. Chairul Naim, M.Anik, SH.,MH 16. Abdul Malik Haraman, M.Si 17. Drs. H. Harun Al Rasyid, M.Si 18. Miryam Haryani, SE, M.Si JALANNYA RAPAT:

KETUA RAPAT (Dr. Drs. H. TAUFIQ EFFENDI, MBA/F-PD): Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang terhormat saudara Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi beserta seluruh jajarannya dan yang mewakilinya.

Yang terhormat saudara Menteri Dalam Negeri beserta seluruh jajaran dan yang mewakili.

Yang terhormat saudara Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya yang mewakili. Yang terhormat saudara Pimpinan dan Anggota Komisi II DPR RI.

Terlebih dahulu mari kita panjatkan puji syukur kekhadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas perkenannya jualah kita dapat menghadiri Rapat Kerja Komisi II DPR RI dengan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi , Menteri Dalam Negeri dan Menteri Hukum dan HAM, dalam rangka melaksanakan tugas konstitusional di bidang legislasi untuk pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara pada hari ini dalam keadaan sehat walafiat.

Sesuai dengan laporan sekretariat, Rapat Kerja Komisi II DPR RI hari ini daftar hadir yang telah ditandatangani oleh 16, ijin 9 dari 48 Anggota Komisi II DPR RI dan dari 6 fraksi dari 9 fraksi yang ada di Komisi II DPR RI, karena itu kourum telah terpenuhi dan telah sesuai dengan

(3)

ketentuan Pasal 245 ayat (1) Peraturan Tata Tertib DPR RI, maka perkenankan kami membuka Rapat Kerja ini dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

(RAPAT DIBUKA PUKUL 10.00 WIB)

Selanjutnya kami menyampaikan terima kasih kepada saudara Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Hukum dan HAM, atas kesediaannya memenuhi undangan dalam Rapat Kerja hari ini. Demikian juga kepada Pimpinan dan Anggota Komisi II DPR RI kami mengucapkan terima kasih.

Kami informasikan pada Rapat Kerja 22 September 2011 yang lalu, dimana Komisi II DPR RI telah menyampaikan penjelasan keterangan dan pemerintah telah menyampaikan pandangan dan pendapat terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara. Kemudian kami menawarkan sekaligus meminta persetujuan mengenai acara rapat untuk hari ini yaitu.

1. Pengantar Ketua Rapat yang sedang kami sampaikan sekarang ini.

2. Keterangan pemerintah dan penyerahan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) atas Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara kepada Komisi II DPR RI. 3. Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM).

4. Penutup.

Apakah dapat disetujui?

(RAPAT : SETUJU)

Saudara Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Saudara Menteri Hukum dan HAM, dan

Pimpinan Anggota Komisi II DPR RI yang terhormat,

Untuk mempersingkat waktu, marilah kita masuki acara berikut yaitu penyampaian keterangan pemerintah yang diwakili oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi terhadap Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Rancangan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara kami persilakan.

PEMERINTAH (MENPAN & REFORMASI BIROKRASI): Terima kasih.

Pimpinan Komisi II DPR RI, serta seluruh Anggota Komisi II DPR RI yang kami hormati dan kami banggakan.

Menteri Hukum dan HAM.

Menteri Dalam Negeri atau yang mewakili, serta seluruh jajarannya. Hadirin yang berbahagia.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita sekalian.

Selamat pagi.

Pertama-tama, sekali lagi perkenankan kami mengajak Bapak Ibu hadirin sekalian untuk kita panjatkan puji syukur kekhadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunianya yang telah dilimpahkan kepada kita sekalian, terutama nikmat iman dan kesehatan, sehingga pada hari ini kita dapat mengikuti Rapat Kerja di tempat terhormat ini. Kami juga tak lupa mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas undangan Anggota Dewan untuk kita melaksanakan salah satu tugas kita, tugas negara yang mulia Rapat Kerja mengenai penyerahan

(4)

Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) dari pemerintah, pengesahan jadwal dan mekanisme pembahasan DIM Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, ijinkan kami mewakili Presiden menyampaikan pendapat pada Rapat Kerja hari ini, sebagai tindak lanjut Rapat Kerja pemerintah dengan DPR RI pada tanggal 22 September 2011. Pada Rapat Kerja hari ini sebelum membahas Daftar Inventarisasi Masalah, perkenankanlah kami menyampaikan isu-isu strategis di bidang kepegawaian yang sering muncul pada akhir-akhir ini, dan juga telah disampaikan Anggota Dewan pada Rapat Kerja dimaksud. Isu-isu tersebut antara lain sebagai berikut.

Manajemen kepegawaian yang diterapkan belum mencerminkan prinsip keadilan, keterbukaan, kesejahteraan serta integritas dan kompetensi, baik pada tahap pengadaan, seleksi, promosi dan mutasi, penilaian kinerja, pola pikir, pengendalian jumlah, dan distribusi pegawai hingga penetapan pensiun. Bahkan dalam beberapa hal manajemen kepegawaian syarat dengan praktek KKN.

Isu kedua, secara politik aparatur negara masih mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan politik yang bersifat sesaat atau jangka pendek.

Dan yang ketiga, penegakkan disiplin dan kode etik yang masih rendah.

Selain isu strategis di atas, hal lain yang perlu mendapat perhatian dan penyempurnaan lebih lanjut adalah, pertama, Pegawai Negeri Sipil merupakan unsur perekat dan pemersatu bangsa dan NKRI. Dalam pembinaan karir dan mutasi Pegawai Negeri Sipil secara nasional masih sulit diwujudkan mengingat pejabat pembina kepegawaian daerah mempunyai kewenangan yang sangat besar. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam melakukan mutasi Pegawai Negeri Sipil antar instansi, khususnya tenaga-tenaga sebagai kaderisasi. Ketiga, belanja pegawai Pegawai Negeri Sipil daerah masih dibebankan pada APBNP.

Isu kedua, penyebutan istilah Pegawai Negeri Sipil pusat dan Pegawai Negeri Sipil daerah, penyebutan istilah Pegawai Negeri Sipil pusat dan Pegawai Negeri Sipil daerah mempunyai konotasi adanya pemisahan antara Pegawai Negeri Sipil pusat dan Pegawai Negeri Sipil daerah, sehingga berakibat pada perbedaan implementasi standar kompetensi kepegawaian secara nasional. Secara fsikologis penggunaan istilah Pegawai Negeri Sipil pusat dan Pegawai Negeri Sipil daerah menimbulkan kesan atau perasaan adanya perbedaan perlakuan diantara Pegawai Negeri Sipil pusat dan daerah oleh negara maupun masyarakat.

Ketiga, peraturan perundang-undangan saat ini pengaturan Pegawai Negeri Sipil terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang dapat menimbulkan ketidaksinkronan dan menyulitkan pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara nasional.

Empat, sentralisasi dan desentralisasi sistem kepegawaian saat ini muncul pandangan tentang isu sistem pengelolaan Pegawai Negeri Sipil yang sebaiknya harus dilakukan. Di satu sisi berpandangan bahwa pengelolaan Pegawai Negeri Sipil berdasarkan sistem sentralisasi paling baik dilakukan, karena Pegawai Negeri Sipil dapat menjadi perekat NKRI. Dengan sistem itu tidak ada lagi pengkotak-kotakan Pegawai Negeri Sipil antar instansi. Selain hal tersebut, berdasarkan sistem sentralisasi terdapat satu standar nasional dalam pengelolaan Pegawai Negeri Sipil, sehingga memudahkan bagi pembinaan Pegawai Negeri Sipil. Tetapi di sisi lain sentralisasi pengelolaan Pegawai Negeri Sipil berarti menarik komitmen desentralisasi yang telah kita bangun bersama saat ini, karena sistem desentralisasi dapat mempercepat administrasi Pegawai Negeri Sipil dan efisiensi, tetapi sistem desentralisasi ini juga memiliki kelemahan. Terjadi birokrasi yang bersifat lokal dan ke daerah. Ini perlu kita bahas lagi.

Lima, perencanaan dan formasi Pegawai Negeri Sipil. Adanya kecenderungan menambah jumlah Pegawai Negeri Sipil sebanyak mungkin yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil organisasi dan tidak berdasarkan analisis kebutuhan. Di samping itu, mekanisme birokrasi dalam proses pengusulan formsai Pegawai Negeri Sipil juga dirasakan belum terkoordinasi dengan baik,

(5)

terutama di daerah dalam peran Gubernur selaku pemerintah pusat di daerah belum dilaksanakan secara optimal.

Enam, pengadaan Pegawai Negeri Sipil. Dalam seleksi CPNS masih terjadi pelanggaran terhadap prinsip pengadaan yang obyektif, adil, tidak diskriminatif, transparan dan bebas KKN dengan alasan untuk mengakomodir putera daerah. Di samping itu penerapan sistem rekrutmen dan seleksi CPNS masih terdapat berbagai kelemahan, sehingga membuka peluang terjadinya praktek KKN.

Tujuh, pengangkatan dalam jabatan. Telah terjadi kecenderungan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan tidak objektif, karena didasarkan faktor kepentingan bukan faktor kemampuan atau kompetensi.

Delapan, belanja Pegawai Negeri Sipil. Belanja pegawai yang bersifat block grant menyulitkan dalam melakukan perpindahan Pegawai Negeri Sipil. Hal ini menjadi hambatan dalam pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara terintegrasi dalam skala nasional atau univight system.

Sembilan, pengawasan dan sanksi. Belum ada pengaturan tentang sanksi bagi pejabat pembina kepegawaian melakukan pelanggaran dalam pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan permasalahan atau isu strategis sebagaimana yang telah diuraikan di atas, pemerintah berpendapat bahwa:

Pertama, paradigma manajemen kepegawaian yang diatur dalam Undang-Undang No.43 tahun 1999 sebagai perubahan pertama dari Undang-Undang No.8 tahun 1974, pada prinsipnya sudah mengarah kepada prinsip-prinsip keadilan, keterbukaan, kesejahteraan, integritas, dan kompetensi. Namun, dalam pelaksanaannya dan dalam pengaturan yang bersifat teknis masih terdapat duplikasi dengan pengaturan dalam Undang-Undang No.32 tahun 2004, khususnya kepegawaian daerah. Oleh karena itu, kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri untuk melakukan harmonisasi dan sinkronisasi pengaturan tentang manajemen Pegawai Negeri Sipil daerah di dalam Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang No.32 tahun 2004. Sedangkan untuk pengaturan yang bersifat teknis, kami telah mempersiapkan beberapa peraturan kepegawaian untuk memperkuat undang-undang tersebut antara lain:

1. Peraturan Pemerintah tentang Formasi yang sudah dilengkapi dengan Permenpan dan Reformasi Birokrasi No.26 tahun 2011 tentang Penghitungan Jumlah Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil yang tepat dan Permenpan dan Reformasi Birokrasi No.33 tahun 2011 tentang Analisis Jabatan serta Peraturan tentang Penataan dan Rate Distribusi Pegawai Negeri Sipil bagi unit-unit organisasi maupun instansi yang kelebihan maupun kekurangan Pegawai Negeri Sipil yang jika diredistribusi itu dilakukan, ternyata masih terdapat kelebihan Pegawai Negeri Sipil, maka akan ditawarkan untuk pensiun suka rela.

2. Peraturan Pemerintah tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil, yang setiap tahun Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi selalu berusaha menetapkan kebijakan tentang perbaikan sistem pengadaan Pegawai Negeri Sipil, antara lain mengatur bahwa perguruan tinggi negeri melakukan pembuatan soal dan pengelolaan hasil ujian CPNS dengan menggunakan komputer untuk menjaga objektivitas, kualitas, keadilan, transparansi, dan akuntabel, serta tanpa dipungut biaya apapun dan saat ini sedang dipersiapkan juga sistem penerimaan dan seleksi CPNS berbasis kompetensi dengan menggunakan komputer sebagaimana Komisi II DPR RI sudah mengetahui yaitu Computer Assested Test (CAT).

Catatan, sedang dilakukan pembahasan dengan Mendiknas, u.p. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi untuk menginventarisasi perguruan tinggi negeri yang capabel dan memenuhi kriteria untuk membuat soal ujian berbasis kompetensi dasar dan mengelola hasil ujian tersebut secara transparan. Sedang dilakukan uji coba dalam seleksi CPNS dengan menggunakan CAT.

(6)

3. Peraturan Pemerintah tentang Penyempurnaan Sistem Penilaian Prestasi Kerja, yang selama ini masih menggunakan DP3 yang lebih mengutamakan ketaatan dan perilaku. Ke depan sedang disusun peraturan selain menilai perilaku dan ketaatan, mengatur juga bahwa setiap tahunnya Pegawai Negeri Sipil harus menyusun dan memiliki rencana kerja dan target kerja yang harus dicapai, yang penilaiannya diukur berdasarkan aspek kualitas, kuantitas, waktu dan anggaran yang digunakan.

4. Peraturan Pemerintah tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural yang mengatur tentang pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil dalam seluruh jabatan struktural yaitu eselon I sampai dengan V, berdasarkan prinsip profesionalisme dengan memperhatika kompetensi, objektivitas, kualitas, keadilan, transparansi dan akuntabel.

5. Peraturan Presiden tentang Penilaian Pengangkatan Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil dalam dan dari Jabatan Struktural.

6. Peraturan Presiden tentang Pola Karir Pegawai Negeri Sipil yang mengatur tentang alur jenjang karir yang harus dilalui sejak CPNS sampai pensiun.

7. Peraturan tentang Kesejahteraan atau Remunerasi, yang setiap tahunnya menjadi perhatian pemerintah dan DPR RI, yaitu menetapkan parameter tentang kebutuhan hidup layak dan diukur berdasarkan bobot jabatan sesuai dengan Permenpan dan Reformasi Birokrasi No.34 tahun 2011 tentang Evaluasi jabatan.

Disamping peraturan yang sedang disiapkan tersebut sebagai penyempurnaan peraturan sebelumnya, telah ditetapkan juga Peraturan Pemerintah tentang Larangan Pegawai Negeri Sipil untuk menjadi Anggota Partai Politik dan Peraturan tentang Kode Etik serta Peraturan tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil dan berbagai peraturan lain yang semuanya sudah merujuk kepada Undang-Undang 43 tahun 1999.

Untuk mengatasi permasalahan bahwa secara politik aparatur negara masih mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan politik yang bersifat sesaat dan jangka pendek, sebenarnya telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No.37 tahun 2004 tentang Larangan Pegawai Negeri Sipil menjadi Anggota dan atau Pengurus Partai Politik sebagai amanat dari Pasal 3 Undang-Undang 43 tahun 1999 yang dimaksudkan untuk menjaga netralitas Pegawai Negeri Sipil dari pengaruh politik praktis. Sedangkan untuk melindungi Pegawai Negeri Sipil agar bebas dari intervensi politik, di tingkat kami mengusulkan bahwa:

Pertama, pejabat pembina kepegawaian sebaiknya diberi delegasi wewenang oleh presiden kepada pejabat karir tertinggi Pegawai Negeri Sipil yang secara fungsional bertanggungjawab di bidang kepegawaian, seperti Sekda untuk daerah, Sekjen untuk kementerian tentu perlu pengaturan dalam revisi Rancangan Undang-Undang. Sekaligus mengubah kewenangan pejabat pembina kepegawaian daerah dari yang diserahkan menjadi diistilahkan didelegasikan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 25 Undang-Undang 43 tahun 1999.

Kedua, penetapan kriteria dan standar kompetensi dari setiap jabatan yang dibutuhkan oleh masing-masing instansi atau organisasi.

Ketiga, proses penilaian dalam rangka pengangkatan pejabat struktural pada instansi pusat maupun pejabat struktural pada instansi daerah, dilakukan oleh suatu tim penilaian pemerintah lintas instansi dan dapat dibantu oleh panitia independen untuk mewujudkan check and

balance sesuai dengan jiwa konstitusi republik Indonesia. Dalam hal ini perlu pengaturan dalam

PP.

Empat, calon pejabat yang akan diangkat menduduki jabatan struktural eselon I,II dan III diisi dari lintas instansi yang memenuhi syarat kompetensi dengan menggunakan data yang ada di BKN juga perlu pengaturan dalam PP.

Kelima, pengawasan dilakukan oleh Presiden dan dapat didelegasikan pada menteri dalam penjatuhan sanksi administrasi pada pejabat pembina kepegawaian yang melakukan

(7)

pelanggaran terhadap Peraturan Perundang-undangan di bidang kepegawaian. Perlu revisi undang-undang.

Untuk meningkatkan penegakkan disiplin dan penegakkan kode etik, telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No.53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil dan Peraturan Pemerintah No.42 tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil, sehingga menurut hemat kami permasalahan rendahnya disiplin dan kode etik adalah disebabkan oleh kurangnya komitmen dan implementasi yang lemah. Oleh karena itu, ke depan, sosialisasi dan pengawasan secara berkala perlu ditingkatkan.

Dari berbagai isu strategis tersebut di atas, dan setelah kami mempelajari pokok-pokok pikiran yang ada dalam draft Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara atas inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat, maka pemerintah berpendapat siap membahas dan mendukung Rancangan Undang-Undang tersebut untuk kita bahas bersama dengan melakukan penyempurnaan guna lebih memperkuat manajemen kepegawaian yang profesional dan yang mampu menjadi perekat NKRI.

Selanjutnya hal-hal lain yang belum kami sampaikan pada kesempatan ini, kami telah tuangkan secara rinci dalam Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara ini untuk kita bahas lebih lanjut.

Atas perhatian Pimpinan dan para Anggota DPR RI yang terhormat kami ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi usaha kita bersama.

Terima kasih.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Terima kasih kepada Bapak Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang telah menyampaikan keterangannya,

Selanjutnya dalam DIM pemerintah terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara yang telah disampaikan kepada Komisi II DPR RI yang berjumlah 259 DIM, dengan rincian sebagai berikut:

Sebanyak dua DIM, DIM 34 dan 259 dinyatakan tetap, dan sebanyak 257 DIM merupakan perubahan substansi, penambahan substansi, perubahan redaksi, penyempurnaan redaksi dan dihapus. Sebagaimana kompi lampiran matrik usulan dari DIM pemerintah yang sudah dibagikan kepada Komisi II DPR RI dan pemerintah.

Berdasarkan usulan DIM pemerintah tersebut, kami menawarkan sekaligus minta persetujuan:

Pertama, terhadap usulan DIM pemerintah sebanyak 2 DIM yang telah dinyatakan tetap apakah dapat langsung disetujui ditetapkan? Setuju?

(RAPAT : SETUJU) F-PD (IGNATIUS MULYONO):

Pimpinan, terima kasih pimpinan. Saya mau menanggapi sebenarnya. Terima kasih.

(8)

Bapak Pimpinan yang kami hormati, dan Bapak Ibu sekalian Anggota Komisi II DPR RI.

Yang terkait pada masalah pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara, Bapak Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Bapak Menteri Dalam Negeri dan Bapak Menteri Hukum dan HAM yang atau mewakili dan rombongan serta hadirin yang kami hormati.

Tadi disinggung oleh Bapak Pimpinan Rapat, bahwa DIM yang disampaikan oleh pemerintah itu 2 tetap, 102 penyempurnaan dan 155 dihapus. Ini memberikan suatu indikasi bahwa apa yang sudah diajukan sebagai rancangan undang-undang ini pada posisi yang sangat antagonis, jadi sangat bertentangan dengan apa yang menjadi pokok-pokok kebijakan yang disampaikan oleh pemerintah. Jadi ini belum ketemu, kutubnya masih kutub utara dan kutub selatan. Ini kalau di dalam rumusan di berkaitan di Badan Legislasi ini memang terlalu jauh Pak. Kalau jujur saja kalau dengan kondisi yang begini, untuk diselesaikan sampai kita nanti pergantian Anggota Dewan belum selesai, karena yang tetap hanya dua DIM. Hanya DIM No.34 dan DIM No.259, yang dua-duanya yang 259 yang berkait dengan masalah penandatanganan Presiden, itu kan berarti tidak akan siapapun yang mengubah, kecuali kalau ganti Presiden kan begitu.

Menurut saya Pak, saya menyarankan kita tidak boleh mundur, kita tetap maju, melalui kita endapkan dulu. Kita minta waktu bertemu dari pihak pemerintah dan dari kita untuk kita dalami secara baik, karena ini butuh titik temu Pak, karena sangat betul-betul sangat berbeda, dan ya tadi ustad kami yang termasuk juga tokoh pemikir kita, itu menyampaikan dalam sejarah kita belum pernah ketemu, memang betul kita belum pernah ketemu ada DIM hanya 2 tetap dan sekian ratus perubahan dan penghapusan. Ini satu hal yang susah sekali untuk kita titik temu. Oleh sebab itu, sekali lagi kami menyarankan pada kesempatan ini, mohon kita adakan loby dulu, antara pemerintah sama kita untuk mencarikan titik temu dulu ini. Karena kalau tidak, itu susah sekali untuk diolah menjadi suatu pembahasan-pembahasan lanjutan.

Terima kasih.

F-PKS (H. TB. SOENMANDJAJA, SD): Terima kasih Pimpinan.

Ketua dan Pimpinan beserta Anggota yang terhormat.

Terutama yang kami hormati rombongan pemerintah Pak Menteri beserta jajaran. Tadi memang kami ada sempat ngobrol-ngobrol sebelum acara dimulai, bahwa setelah kami membaca Rancangan Undang-Undang dan DIM dari pemerintah, ini memang tampaknya tidak akan lancar dalam pembahasan, mengingat dari 259 DIM itu hanya 2 DIM saja yang sudah dinyatakan tetap dalam rancangan ini. Saya tidak ingin mengulangi apa yang disampaikan oleh yang terhormat Bapak Mulyono tadi, tapi memang tampaknya kita perlu menyediakan sekedar waktu Pak Ketua, untuk lebih dahulu ada pembicaraan ya di luar forum pembahasan atau Rapat Kerja ini, karena trend dari usulan DPR RI adalah pembentukkan undang-undang, sementara semangat yang kami coba tangkap dari DIM pemerintah yakni perubahan kedua atas Undang-Undang No.8 tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang-Undang-Undang No.43 tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Nah oleh karena itu, kami kira supaya tidak kata orang sunda itu tidak bergerak gitu ya, karena hanya 2 itu, mohon kiranya dipertimbangkan usul tadi.

Terima kasih atas kesempatan.

(9)

F-PPP (Drs. H. AKHMAD MUQOWAM): Terima kasih.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Pak Menteri dan hadiri sekalian.

Memang begitu dihapus, langsung kita berdiri Pak Menteri, kaget juga. Artinya bahwa apa yang menjadi pemikiran di DPR RI ini adalah nothing saya kira begitu. Nah saya kira selintas membaca 10 lembar utama ini paling tidak Pak Menteri, ini memang kalau menggunakan kalimat, ini kalimat hiperbolik usulan ini dihapus ini Pak. Itu hiperbolik sekali... ini sepertinya DPR RI ini membuat rancangan undang-undang layak untuk khalayaknya gitu loh. Sudah tidak butuh habisin biaya gitu loh Pak.

Nah jadi karena itu Pak, misalnya saya baca DIM 5, oke itu dihapus, contoh saja ini Pak. DIM 10 dihapus, tapi ada usulan baru ya. DIM 11 dihapus ada usulan baru. Kemudian DIM 13 dihapus ada usulan baru. DIM 16 dihapus ada usulan baru. DIM 17 dihapus ada usulan baru. Kemudian DIM 19 dihapus ada usulan baru. Jadi redaksi kata dihapus saya kira perlu diganti dulu itu Pak. Dihapus itu artinya tidak ada sama sekali di situ Pak Menteri.

Jadi nah ini memang Pak, coba lihat DIM 23 dan DIM 24, ini darimana tahu-tahu muncul agar setiap orang mengetahui, memerintahkan, mengundang undang-undang ini dengan penempatan dalam lembaran negara Indonesia. Coba DIM 23 itu? ini bukan diakhir biasanya kaya begini ini Pak? DIM 23 Pak. Kemudian DIM 24, kok ada Presiden segala di situ Pak, coba DIM 24. Jadi kalau Pak Mulyono tadi menyampaikan besarannya, ini saya baca detilnya ini kaya begitu, tahu-tahu di situ adalah instansi pusat adalah bla-bla, dihapus, diganti, disahkan di Jakarta...

Sebetulnya bagaimana ini? Jadi baru saya baca saja loh-loh kok lucu begini. Kemudian dihapus oke deh, tapi kemudian lihat DIM 31, perubahan redaksi kanannya kosong. DIM 32 perubahan redaksi kosong. DIM 33 perubahan redaksi kosong. Apa yang diubah gitu loh? Perubahannya mana? Perubahan redaksi dan substansi mana di kanan itu usulan perubahan itu?

Jadi karena itu saya kira ada dua hal Pak Ketua yang disampaikan, pertama minta pada pemerintah agar mensistematisasi lagi dan juga menjawab secara benar apa yang menjadi usulan DPR RI ini Pak. Dihapus ya dihapus, tapi harus ada perubahan baru, tadi ada perubahan mana usulan pemerintah? Ini dari uji kolom saja seperti ini. Lalu yang kedua, uji kolom saja ini Pak.

Lalu yang kedua, saya kira sembari mempertanyakan itu saya kira usul Pak Mulyono itu simpatik sekali. Jadi kita perlu menemukan apakah bahasannya itu adalah perbab, jangan pasal per pasal Pak, itu anak kecil bilang capek deh gitu loh Pak, capek. Jadi karena itu perbab saya kira, kemudian bisa sekali pukul selesai, dan Pak Taufiq bisa segera menyelesaikan.

Terima kasih.

F-PDIP (H. RAHADI ZAKARIA, SIP, MH):

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Selamat pagi, dan

Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Pak Menteri beserta jajarannya.

Pimpinan Komisi II DPR RI dan para Anggota Komisi II DPR RI.

Ketika melihat komposisi DIM, kalau tadi banyak orang mengatakan kaget seperti ini, saya justru sebaliknya, justru pemerintah yang kaget dengan DIM ini. Jadi sama-sama kaget kita Pak

(10)

hari ini Pak. Pemerintah terkaget-kaget, melihat rancangan dari DPR RI, kemudian kita juga kaget melihat usulan dari pemerintah. Kalau Pak Mul mengatakan dua kutub yang belum bertemu, kalau saya mengatakan dua kekuatan ini yang sama-sama kaget.

Tentunya kalau saya melihat bahwa nomenklatur dari Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang sebenarnya ada reformasi, tapi ketika reformasi ini mau digulirkan di Undang-Undang Aparatur Sipil Negara ini sudah membuat kaget berbagai pihak. Apa sih Aparatur Sipil Negara, memang asing Pak Aparatur Sipil Negara ini Pak. Kenapa tidak Pegawai Negeri Sipil saja, nah itu sudah tertangkap sejak dari awal.

Kemudian yang paling penting Aparatur Sipil Negara, kemudian ada Komisi Aparatur Sipil Negara, ini yang membuat kaget berbagai pihak. Kok ada lagi seperti itu. Nah kemudian perlu ada satu jalan tengah yang perlu kita cari titik temunya. Usulan-usulan yang dihapus itu hampir 2/3 Pak, ini penghapusan, ini bongkar total. Tetapi namanya ini adalah usulan Pak. Usulan bisa kita bahas bersama, sebenarnya harus serta merta bahwa usulan itu membongkar total. Jadi memang ini adalah hanya sebatas usulan. Kemudian hanya termasuk judul Rancangan Undang-Undang-nya ini, ini memang sesuatu yang baru. Untuk di negara-negara lain Australia dan lain sebagaiUndang-Undang-nya negara maju memang ini sudah hal biasa, kalau kita membaca literatur-literatur biasa ada Komisi Aparatur Sipil Negara, tetapi di Indonesia kan hal baru ini Pak, menimbulkan persoalan.

Kemudian saya meraba pemerintah memiliki kecenderungan agar ini ditarik kembali menjadi Undang-Undang Pegawai Negeri Sipil kalau tidak salah seperti itu. Kemudian penetapan-penetapan ada di Jakarta. Kalau memang terjadi seperti itu, nampaknya ini akan memusatkan kembali Pegawai Negeri Sipil ini tidak perlu ada pendistribusian, ada Komisi Aparatur Sipil Negara dan sebagainya, karena ini yang muncul kalau ada KASN bagaimana BKD? Bagaimana BKN dan sebagainya? Ini kan satu persoalan tersendiri. Nah untuk itu saya kira Pak Taufiq Effendy ini juga sebenarnya Pak materi-materi ini juga munculnya ini juga dari kalangan akademisi yang sering digunakan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, ini bagaimana kok jadi seperti ini ada apa sebenarnya pertanyaan saya ada apa kok jadi semua jadi kaget semua. Di situ ada yang kita hire itu ada Priyono Cipto Haryanto yang doktor, kemudian Sofyan Effendy, Miftah Toha, dan lain sebagainya, ini kolega-kolega Bapak juga, dan kolega Pak Taufiq Effendy mantan Menteri. Nah ini mantan Menteri dengan Menteri ada apa sebenarnya ini? Tidak sinkron begituloh Pak. Nah ini, apakah tidak ketemu dulu dan lain sebagainya, nah ini yang kita perlu pecahkan, kita perlu duduk bersama lagi sebelum maju selangkah. Betul apa yang dikatakan oleh kawan-kawan terdahulu ini kok pembahasannya cukup lama kalau seperti ini. Kalau pembahasan cukup lama, kemudian yang tetap itu hanya 259, apa iya nanti kalau ini pembahasan lebih dari 3 tahun 4 tahun, apakah Presidennya juga masih SBY kan itu persoalan juga. Ini persoalan juga, jadi kok ditertawakan gitu loh, ini.

Ini bukan oposisi, tapi yang jelas Pak SBY tidak jadi Presiden lagi Pak kalau ini dibahas selesai 4 tahun yang akan datang. Nah ini juga perlu kecermatan saya kira. Betul kata Pak Muqowam tadi dihapus itu usulannya apa harus konkrit gitu, apakah dihapus tanpa ada usulan? Kemudian cuma kita kembali ke Undang-Undang Pegawai Negeri Sipil. Kalau memang kembali ke Undang-Undang Pegawai Negeri Sipil tidak ada perubahan ya tidak apa-apa, selesai. Tapi kalau memang kita mau melakukan terobosan sesuai dengan nomenklaturnya, reformasi birokrasi ya harus direformasi. Reformasi apakah reformasi itu ke depan, atau kembali ke reformasi semula? Inikan juga persoalan nomenklaturnya juga jadi persoalan juga.

Jadi itulah Pak, jadi supaya ini ada artinya ada pemahaman bersama, nampaknya belum ada pemahaman bersama ini, saya bingung juga ini. Sumbernya sama, ininya sama, tidak ada pemahaman bersama.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

(11)

F-PDIP (Dra. EDDY MIHATI, M.Si): Terima kasih Ketua.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.

Pimpinan, Anggota Panja yang saya hormati.

Bapak Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi beserta jajaran yang saya hormati.

Mempertegas saja apa yang telah disampaikan oleh beberapa rekan Panja terdahulu, ketika saya membaca ini usulan tim dari pemerintah ini yang ternyata tadi rekan-rekan juga sudah sampaikan bahwa 40% DIM ini diusulkan untuk perubahan substansi, redaksi, penyempurnaan kemudian 60% itu usulan dihapus. Ketika kemudian saya melihat sebenarnya perubahan judul yang diusulkan itu apa. Nah setelah ini menjadi jelas, maka sebenarnya saya menangkapnya ini Pak Ketua, ini adalah dua rancangan undang-undang. Jadi kalau tadi rekan-rekan mengatakan tidak belum gatuk gitu ya antara pemikiran dari DPR RI dalam hal ini Komisi II DPR RI mengusulkan rancangan undang-undang ini untuk dibahas yaitu Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara, ini sebenarnya berbeda dengan pemikiran dari pihak Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sendiri yang kelihatannya itu terpaksa untuk membahas Rancangan Undang-Undang usulan DPR RI ini, karena kalau kita melihat judul beserta substansi yang diusulkan di sini, ini adalah rancangan undang baru undang-undang yang lain gitu loh.

60% dihapus dan ternyata kemudian diisi dengan substansi yang sangat berbeda. Ini tidak bakal ada titik temu, saya yakin tidak bakal ada titik temu. Jadi ini perlu dibicarakan lebih lanjut, rancangan undang-undang usulan DPR RI dalam hal ini Komisi II DPR RI ini sebenarnya akan dibahas bersama atau tidak itu yang perlu kita bicarakan.

Terima kasih.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Ada lagi? Silakan.

F-PAN (Drs. H. RUSLI RIDWAN M.Si): Ya terima kasih Pimpinan.

Ini setela kita baca-baca begitu, pertama, saya ingin barangkali ini jalan terus tidak boleh berhenti, walaupun ini lihat kondisi DIM dari pemerintah ini jauh berbeda dengan yang diharapkan dengan kita.

Kemudian yang kedua, saya menyambut baik ini untuk bertemu antara pihak pemerintah dengan DPR RI.

Yang ketiga, sebetulnya dari angka-angka ini 102 perubahan, 155 usulan dihapus, tapi kalau kita optimis barangkali kalau kita melihat panduannya sama-sama sebetulnya antara pemerintah dengan DPR RI sama-sama ada pedomannya Undang-Undang No.8 tahun 1974 dan juga Undang-Undang No.43 tahun 1999, itu sebuah pedoman. Kalau rujukannya ke sini untuk sama-sama memperbaiki, saya pikir ini tidak terlalu harus khawatir dengan yang diajukan oleh pemerintah. Titik temunya saya optimis tidak serumit apa yang dibayangkan, karena sama-sama

(12)

berpegang kepada ingin memperbaiki baik Undang No.8 tahun 1974 maupun Undang-Undang No.43 tahun 1999.

Terima kasih. KETUA RAPAT: Silakan.

F-PPP (DR. AW THALIB, M.Si):

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

Pak Menteri, Pak Pimpinan, Bapak, Ibu rekan-rekan sekalian.

Saya melihat DIM dari pemerintah yang baru itu dimajukan tadi, tapi saya melihat bahwa benar apa yang dikatakan oleh teman-teman tadi Ibu Eddy mengatakan bahwa ini sepertinya dua rancangan undang-undang yang ingin dicoba untuk disatukan, tetapi ini ibarat air dan minyak yang memang susah. Nah oleh karena itu, saya punya jalan pikiran bahwa kita harus melihat ya struktur Undang-Undang tentang Kepegawaian secara keseluruhan yang ditarik dari Undang-Undang Pokok Kepegawaian, kemudian Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara ini yang dicoba untuk diinisiatifkan oleh DPR RI. Yang diinisiatifkan oleh DPR RI Aparatur Sipil Negara ini tidak meliputi keseluruhan kepegawaian, dia hanya salah satu, yang tadi disampaikan Pak Rahardi hanya Pegawai Negeri Sipil. Sementara kepolisian, TNI dan lain sebagainya itu tidak diatur di dalam Aparatur Sipil Negara ini. Ada keinginan pemerintah untuk mencoba memayungi seluruh aparatur negara yang nanti mungkin ini menjadi satu undang-undang yang menjadi induk daripada seluruh undang-undang yang ada. Sehingga di dalam pembahasan berikutnya tentang Aparatur Sipil Negara ini perlu ada satu kesamaan persepsi dulu antara kedua pemerintah maupun DPR RI dalam hal ini Komisi II DPR RI, untuk kita duduk rembug, mungkin apa yang sudah disiapkan dalam konsep oleh pemerintah terhadap Rancangan Undang-Undang yang sudah ada, yang saya katakan bukan lagi DIM, tetapi Rancangan Undang-Undang yang sudah disiapkan oleh pemerintah, ini bisa kita pahami, bisa kita kaji, dan kemudian juga pemerintah bisa sama-sama melakukan kajian terhadap Rancangan Undang-Undang yang disampaikan oleh Komisi II DPR RI yang sudah diterima. Sehingga tidak ada perbedaan di dalam pandangan kita terhadap kedua Rancangan Undang-Undang, meskipun tentunya Rancangan Undang-Undang yang sekarang dibahas ini adalah merupakan inisiatif DPR RI, tetapi mungkin hanya soal waktu. Sebetulnya mungkin sudah ada kesiapan pemerintah untuk menyampaikan lebih awal terhadap rancangan undang-undang inisiatif pemerintah, hanya karena kita sudah lebih dulu, maka pemerintah mencoba untuk memasukkan tadi semangat Rancangan Undang-Undang mereka pada DIM yang sudah ada, akibatnya terjadilah begitu banyak perbedaan-perbedaan yang ada dalam DIM yang tadi sudah banyak disampaikan.

Barangkali ini saya menyarankan bahwa kita perlu kembali untuk melakukan satu kompromi terhadap pembahasan berikutnya terhadap rancangan undang-undang ini. Demikian Pak Pimpinan.

Terima kasih. KETUA RAPAT: Silakan.

(13)

F-PKB (DRA. HJ. IDA FAUZIYAH): Terima kasih.

Saya juga masih dalam taraf membaca DIM yang disampaikan oleh pemerintah dan lampiran-lampiran yang tersedia, sekaligus jawaban pemerintah, keterangan pemerintah terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara ini. Saya mengusulkan mungkin tidak jauh beda dengan Bapak Ibu Anggota yang lain, saya mengusulkan untuk mengetahui pandangan pemerintah itu kita bikin cluster, clusternya mengikuti clusternya DPR RI, dan kemudian nanti pemerintah mengisinya Pak. Misalnya pemerintah dalam beberapa hal memberikan jawaban atas beberapa rancangan undang-undang itu melalui misalnya dikeluarkannya Peraturan Pemerintah, dikeluarkannya Peraturan Menteri, dan seterusnya. Nanti kemungkinan apakah itu bisa kita akomodasikan dalam draft Rancangan Undang-Undang yang kita coba cluster itu. Cluster itu saya kira memudahkan bagi kita untuk memahami setiap isu, isu berangkatnya dari isu yang dibuat oleh DPR RI, kemudian pemerintah meresponnya dalam bentuk keterangan pemerintah, ini sudah diatur kok di sini misalnya. Apa mungkin peraturan yang sudah dibuat oleh pemerintah itu kita coba tarik dalam undang-undang atau tidak misalnya. Jadi saya mengusulkan dibuat cluster-cluster dulu. Saya kira ini pekerjaannya teman-teman tenaga ahli, baik tenaga ahli Komisi II DPR RI maupun tenaga ahli dari pemerintah dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Itu saya kira mempermudah, baru kemudian kita bertemu kembali untuk membicarakan.

Saya termasuk kenapa tidak sih kita bisa bicara, kalau kita mencoba kepentingannya sama sesungguhnya, saya kira masih bisa dicarikan jalan temu yang baik.

Terima kasih Pak Ketua. KETUA RAPAT: Terima kasih. Ada lagi?

Baik saya kira dari pemerintah.

PEMERINTAH (MENPAN & REFORMASI BIROKRASI): Baik, terima kasih Pak.

Tanggapan-tanggapannya bikin kaget. Saya juga kaget. Hanya karena lazim permohonan dari Sekretaris Jenderal supaya cukup menyebut mana hapus, setuju, mana perubahan redaksi. Ternyata setelah disusun, tanya perlu argumentasi, tidak perlu argumentasi. Nah sebenarnya kalau pakai argumentasi, apa yang kami bacakan tadi. Saya ambil contoh seperti Ibu Ida saya kira bahas, jadi bukan hapus begitu kan, karena ada yang sudah di PP, karena ini kami kaitkan dengan reformasi birokrasi, ada beberapa PP yang kita masukkan dalam rangka penyempurnaan tentang kepegawaian negara gitu. Sehingga kami yang sudah ada di PP kok kenapa masukkan lagi, kira-kira begitu. Jadi tidak jangan dikaget kamus segitu masuk. Kalau memang dalam pembahasan ini tidak usah dimasukkan di PP, ini masuk, saya kira akan berkurang yang dihapus semua, dan jauh berkurang, itu prinsip pertama.

Prinsip kedua bahwa pemerintah pada awalnya saya kira masih jaman Pak Taufiq, kita ingin tahu ada Undang-Undang Aparatur Negara yang membawahi Polisi, TNI dan Pegawai Negeri Sipil, payungnya itu. Kami punya pola pikir masih ke situ, sehingga pola pikir kami draft revisi Undang-Undang No.43 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian masih berkisar di yang ada. Sedangkan kami melihat dari Aparatur Sipil Negara, dia lebih dari 50% merombak total Undang-Undang No.43 kira-kira gitu, sehingga akibatnya sesuai dengan Undang-Undang-Undang-Undang No.10 kalau tidak

(14)

salah pembentukkan, kalau sudah berubah lebih dari 50% maka judulnya pun akan bisa berubah menjadi Aparatur Sipil Negara, kami bisa mengerti semuanya itu.

Oleh karena itu tadi kami jelaskan ada PP ini ada PP itu dan sebagainya, sehingga bukan dihapus, penjelasannya ada di situ. Jadi saya kira tidak ada beda kita punya pendapat sebenarnya, tapi saya setuju kalau memang diperlukan awal dari pembahasan adalah tim kita kumpul, sambil memberikan argumentasi, nanti kita lihat. Pada dasarnya undang-undang ini harus selesai tidak perlu 3-4 tahun tidak perlu. Kalau belum selesai argumentasi saya kira 3 bulan selesai, tidak perlu sibuk-sibuk, karena saya butuh sekali sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini saya butuh sekali, karena kepegawaian negara ini sekarang masalahnya dalam rangka reformasi birokrasi itu penting sekali. Jadi saya kira penyelesaian kami perlu kita kumpul untuk menyamakan persepsi. Kami tidak juga terus keras begini tidak, saya hanya katakan kami aparatur negara baru ini ada sipil, ada TNI, ada ini, masih berpikir pola pikir begitu. sedangkan DPR RI langsung aparatur sipil negara, setelah melihat permasalahan yang sama. Kalau melihat permasalahannya saya baca sama dengan pokok-pokok pikiran dari DPR RI, wah masalahnya banyak sekali, sehingga terjadilan revisi Undang-Undang No.43 tidak lagi revisi, tetapi membongkar total menjadi Aparatur Sipil Negara. Kira-kira kami bisa mengerti itu. Memang kalau mau ke situ why not kenapa kita mau susah-susah, memang mau bongkar, bongkar tidak ada masalah.

Terima kasih Pak. KETUA RAPAT: Baik.

Saudara-saudara sekalian,

Ini untuk sekedar menyegarkan kita..., undang-undang ini bagian dari satu paket reformasi birokrasi yang besar. Jadi jangan melihat ini berdiri sendiri yaitu Undang-Undang Administrasi Pemerintahan, kita belum punya sampai sekarang. Undang-Undang Tata Hubungan Pusat dan Daerah, belum punya sampai sekarang. Ketiga, Undang-Undang Etika Penyelenggara Negara, belum punya sampai sekarang. Ke empat, kita baru punya Undang-Undang Pelayanan Publik salah satu, Undang-Undang Pelayanan Publik diikuti dengan Undang-Undang Ombudsman. Kemudian Undang-Undang tentang Pengawasan Negara, Undang-Undang tentang Kepegawaian Negara, ini belum punya semua. Keseluruhan ini merupakan satu paket dari reformasi birokrasi, reformasi. Tanpa ini tidak jadi reformasi ini tidak jadi. Karena itu undang-undang ini tidak berdiri sendiri, tidak standing alone dan jangan bayangkan situasi ini akan tetap saja, karena kita menyadari semua, kita semua yang di ruangan menyadari semua bahwa untuk bisa sejahtera bangsa ini salah satu syaratnya investasi, untuk ada investasi 3 komponen utamanya. Satu, peraturan perundang-undangan. Kedua, infrastruktur. Ketiga, birokrasi. Sudah jelas di situ bahwa birokrasi yang diatur dalam Undang No.8 tahun 1974 yang diperbaiki dengan Undang-Undang No.43 tahun 1999 belum mampu mewujudkan itu kan begitu Pak Muqowam? Thats the

questions, thats the idea.

Di samping itu di satu pihak kita menghadapi sebagian besar orang tinggal di daerah yang namanya comfort should comfort itu daerah yang... alam. Ini suatu lompatan besar, karena itu ada dua kemungkinan saya usulkan, kita langsung saja ke Panja sebagaimana dikatakan, saya yakin ketemu nanti di Panja atau pakai ...kita adakan rapat konsultasi dulu, saya kira bisa juga, tinggal kita pilih apakah kita langsung ke Panja, disitulah kita selesaikan.

Silakan.

F-PKS (H. TB. SOENMANDJAJA, SD): Pak Ketua, terima kasih Pak.

(15)

Pertama, kami ucapkan terima kasih kepada pemerintah, Pak Menteri yang sudah memberikan penjelasan, juga Pak Ketua yang telah mendetilkan begitu.

Mengenai Rancangan Undang-Undang dan DIM pemerintah ini, sesungguhnya pembahasan ke arah itu juga pernah terjadi dalam mikanya Pak ya, Pak Ketua mungkin masih ingat diantaranya usul-usul besar ya bahwa kita memang membutuhkan hanya payung hukum, Undang-Undang tentang Aparatur Negara begitu Pak Menteri semula, tapi memang semangat di aparatur sipil ini rupanya lebih kuat gasnya begitu daripada payung utamanya, tapi bisa ketemu nanti.

Kemudian kalau misalnya tadi mendengar harapan dari beberapa yang terhormat Anggota untuk ada katakanlah sejenis pendalaman Ketua, sebelum kita memasuki ke pembahasan DIM. Saya kira ini suatu hal yang arif ya, karena kalau sudah masuk ke Panja, ini kan yang disahkan di ruang ini tentu hanya 2 DIM saja, DIM 34 dan DIM 259 kalau tidak salah, berarti selebihnya masuk ke Panja. Nah padahal banyak Ibu Bapak yang terhormat Anggota yang saya kira sebaiknya memberikan..., ada pemerkayaan, ada penjelasan lebih jauh begitu Pak Ketua, sebelum kita masuk ke Panja, karena bekal-bekal dari fraksi sangat kita butuhkan di Panja nanti.

Nah oleh karena itu saya kira usul tadi baik dari Pak Mulyono, Ibu Ida, Pak Rahardi dan lain-lain, termasuk Pak Muqowam dan Ibu di sebelah sana Ibu Eddy dan lain-lain, saya cenderung Pak Ketua diadakan dulu itu satu katakanlah satu obrolan begitu perbincangan yang mendekatkan, sebab seperti dijelaskan Pak Menteri tadi, ternyata oh ini ada di PP tertentu, ini di aturan tertentu, ini kan ada sesuatu yang kami paling tidak sayalah tidak tahu itu. Nah dengan adanya penjelasan itu mungkin nanti kita bisa lebih maju. Jadi saya kira untuk satu maksimum dua kali pertemuan Pak Ketua, sebelum masuk ke dalam Panja itu masih memungkinkan.

Dan yang kedua, kami mohon Pak Ketua, melalui Pimpinan, dan mudah-mudahan pemerintah tidak berkeberatan, sungguhpun DIM ini sudah masuk, kami ingin mendapatkan satu DIM yang ini Pak Menteri DIM yang utuh begitu dalam satu kesatuan pasal, jadi tidak dimasukkan ke dalam pasal-pasal. Maksud saya, ini kan sudah masuk ke dalam DIM ya Pak ya, kami mohon dengan hormat, agar diusahakan begitu Pak Ketua satu DIM yang utuh, jadi belum masuk ke pasal-pasal Pak, sejenis Rancangan lah gitu. Sejenis Rancangan Undang-Undang persandingan ya kira-kira begitulah, sehingga kami dapat membaca secara utuh, sebab kalau sudah masuk ke DIM agak kejar-kejaran Pak Menteri, agak capek sedikit begitu, dan yang kedua juga mohon diberikan catatan pinggirnya sejauh dipandang perlu. Demikian Pak Ketua dua hal.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Ya Pak Muqowam silakan Pak Muqowam. F-PPP (Drs. H. AKHMAD MUQOWAM): Ketua, ya terima kasih.

Jadi memang kadang-kadang orang berkenalan itu ada yang secara lembut, ada yang harus begitu Pak agak keras-keras sedikit gitu Pak.

Nah usul saya konkrit, langsung Panja, tapi didahului dengan penjelasan. Ya jadi langsung masuk Panja, tapi bahwa apa yang menjadi diskursus, wacana, perbedaan, kita selesaikan sebelum masuk Panja, tapi forumnya di forum Panja, konsultasinya di Panja di sini. Jadi memang kalau kemudian kita lihat di DIM 1 saja, itu kemudian berpikir kita berbeda, rezim berpikir kita berbeda memang. Karena itu, jika Komisi II DPR RI sepakat maka kita putuskan sesuai dengan apa yang menjadi mekanisme, kita langsung Panja, tetapi sebelum Panja boleh ada pertemuan

(16)

sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, untuk memantapkan menjadi satu persepsi yang sama tentang apa yang kita ingin capai ke depan. Ya dengan Menteri, saya kira demikian.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Jadi itu kita putuskan begitu? Saya kira begitu ya?

Setuju?

Pak Menteri setuju?

F-PKS (H. TB. SOENMANDJAJA, SD):

Jadi maksudnya Pak Menteri, Pak Menteri ini, maju Pak Menteri jugalah Pak, kalau buat saya... tolong Pak di-break dulu Pak Ketua sebelum dibilang setuju nanti takut yang mana gitu ya. Jadi maksudnya begini Pak, kita mungkin satu tadi satu dua kali pertemuan tapi mohon jangan di dalam Panja Pak Muqowam, kalau di Panja sudah exlusive ini ya, jadi kita maunya semua terlibat dulu begitu ya, jadi ada pemerkayaan yang legal lebih lah, sebab kalau sudah di Panja nanti kan terbatas sekali orangnya.

Terima kasih Ketua.

F-PKB (DRA. HJ. IDA FAUZIYAH):

Ya Pak Ketua, saya kira undang-undang ini kan kita berharap kualitasnya juga bagus. Sehingga pelibatan banyak orang untuk ikut membahas juga diperlukan. Sehingga kalau langsung ke Panja menurut saya ruang untuk memberikan input masukan itu menjadi terbatas. Saya pertama mengusulkan di-clusteri kemudian dilihat mana pemerintah di situ, masih dalam suasana Rapat Kerja, kita lihat itu per cluster itu, baru setelah kemudian kita tidak ketemu, baru masuk Panja, tapi di situ kita di Rapat Kerja itu masih ada Pak Menteri, sehingga kita bisa langsung mendapatkan respon dari menteri, saya kira itu Pak Ketua.

F-PD (IR. NANANG SAMODRA KA,. M.SC): Pimpinan, komentar sebentar.

Terima kasih Pimpinan.

Kami ingin mencari jalan tengah dalam kasus ini. Sebelum kita Panja, kan Panja bisa ditetapkan dulu, tetapi nanti ada pra Panja istilahnya. Yang jadi gangguan untuk kami karena hanya ada dua pasal ini saja yang seandainya ini direvisi mungkin saya yakin bahwa yang ini juga bukan kitab suci, banyak hal-hal yang bisa dicari titik temunya, kemudian itu yang akan dijadikan bahasan. Kalau dulu dua begini agak sulit Pak Ketua. Jadi kami setuju ada pra Panja, tetapi Panjanya ini bisa ditetapkan sekarang juga tidak ada masalah, yang penting setelah itu ada bahasan yang konkrit lagi supaya Pak Menteri bisa mengatakan bahwa kita akan menyelesaikan secepat-cepatnya masalah ini.

Terima kasih.

PEMERINTAH (MENPAN & REFORMASI BIROKRASI): Baik, terima kasih Pak.

(17)

Saya setuju mau ke Panja langsung tetapi ada bunga-bunganya kira-kira begitu, karena Tata Tertib saya tahu, Tata Tertib kalau sudah ke Panja ya Panja, sudah Panja ke Pansus lagi begitu, tetapi di dalam mekanisme Panja tentunya sebelum masuk pembahasan DIM akan ada pembicaraan-pembicaraan tertentu antara kelompok-kelompok yang kita bisa panggil dari mana-mana, begitu pula kelompok dari komisi. Ini sebagai istilah kami dulu itu bunga-bunganya dulu, supaya nanti bila perlu menteri, saya siap saja, meskipun Panja saya hanya datang meskipun bukan pembahas Panja, tetapi penjelasan-penjelasan atau menyetujui ini kenapa begini, pemerintah kok begini dan sebagainya, oke saya putuskan begini sajalah begitu. Sehingga pada waktu kita naik ke Pansus, sudah dieleminir sekecil mungkin permasalahan lagi.

Saya kira saya setuju dengan pra atau istilahnya apa, yang penting kalau sudah ke Panja, setiap permasalahan yang diketemukan di dalam Panja, kami siap untuk maju, meskipun Panja, tidak ada masalah bagi kita.

Terima kasih Pak. KETUA RAPAT: Terima kasih.

Saya kira kita sudah ketemu ini, barang ini sulit, this is difficult but not imposible. Memang sulit tapi bukan tidak mungkin kita selesaikan secepatnya. Kalau kita baca apa yang dijelaskan oleh Pak Menteri tadi, ini sama dengan yang kita punya ini, persis ini. Jadi memang...ini akan beda ini ya toh? Yang...sama ama kita, wong dari sini juga duduknya dulu. Saya kan melanjutkan beliau saja ini. Nah jadi saya kira kita putuskan Panja tapi didahului dengan pra Panja, nanti waktu dan jadwalnya kita akan susulkan Pak Menteri. Jadi bisa disetujui ya?

F-PKS (H. TB. SOENMANDJAJA, SD):

Begini Pak Ketua sedikit, setuju Pak Ketua. Jadi sebetulnya saya juga belum mengenal Tatib pasal berapa mengenai Mpu Pra Panja itu ya. Setahu saya itu, sudahlah kita buat Rapat Kerja kedualah Pak Ketua, ini Rapat Kerja pertama katakan begitu, Rapat Kerja satu kali lagi, sehingga tidak ada Mpu Pra Panja itu. Nah soal Panja dibentuk silakan saja, cuma nanti Rapat Kerja 1 kali lagi setelah itu masuk Panja, begitu Pak Ketua.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Rapat Kerja saja. Ada Rapat Kerja kedua, nanti baru Panja Pak, Rapat Kerja jadi satu kali lagi.

F-PDIP (ZAINUN AHMADI): Pimpinan.

Kita kan juga ada jadwal-jadwal yang lain, ini salah satunya adalah Rapat Kerja tentang ini undang-undang ini ASN ini. Kalau mau ada Rapat Kerja lagi lalu kapan ini mau diselesaikan? Bukan, yang saya maksud begini Ketua, tidak ada istilah Pra Panja itu tidak ada, itu yang perlu dicatat, karena itu karena kalau bisa diselesaikan sekarang, kenapa tidak? Tadi sudah sampai pada Panja. Jadi kan ini akan selesai semua di Panja, tadi kan jaminan Ketua sendiri bahwa ini tidak ada perbedaan antara kita sama menteri, yang penting kan semangatnya. Ini kan juga baru usulan toh. Usulan bisa diterima, ditolak, ditampung, ini usul DIM pemerintah, baru usul, bukan suatu sikap... saya kira gitu Pak Menteri. Saya tidak hendak mengatakan bahwa dengan bahwa kita hanya sepakat pada Pasal 34 dan 259 bukan itu. Saya kira ini banyak hal yang mungkin kalau tadi Pak Muqowam bilang ko banyak yang kosong-kosong mungkin belum siap saja. Tetapi saya melihat kalau dari keterangan pemerintah tadi yang disampaikan oleh Pak Menteri tadi,

(18)

sebenarnya kita sama. Semangat untuk membuat bahwa ini Undang-Undang Kepegawaian harus disempurnakan. Apakah judulnya tetap dengan kepegawaian atau dengan ASN itu satu. Di situ nanti kita selesaikan di Panja, perlunya Panja itu kan untuk membahas hal-hal yang krusial itu tadi. Kalau sekarang ini Rapat Kerja lagi, Rapat Kerja lagi, kapan mau selesai? Ingat kita punya target dengan legislasi kita punya target, sekarang sudah masuk Oktober, itu perlu dipikirkan juga Pak. Kalau sekarang break untuk menyatukan mana yang berbeda tadi itu, itu yang saya maksud, jadi tidak ada Rapat Kerja lagi gitu loh, maksud saya ini selesaikan pada sekarang ini dengan suatu kesimpulan, kesimpulannya adalah sekarang kan agendanya penyerahan Daftar Inventarisasi Masalah, oke kita terima ini usulan. Yang kedua, pengesahan jadwal mekanisme, kita setujui tidak? Dan selanjutnya pembahasan. Itu saya kembalikan kepada agenda acara kita.

Terima kasih pimpinan. KETUA RAPAT:

Baik, saya kalau disetujui begini, pertama kita minta kepada tim ahli masing-masing untuk memperbaiki lagi ini ya, timnya memperbaiki, langsung kita masuk ke Panja begitu ya? jadi dengan demikian saya yakin betul kita pasti ketemu di Panja kok. Jadi sekarang tim ahli masing-masing memperbaiki ini, dibuat perumusan baru lagi untuk kita bawa ke Panja. Saya kira begitu. Apakah itu bisa disepakati?

F-GERINDERA (HJ.MESTARIYANI HABIE, SH.): Ketua, terima kasih Ketua.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

Jadi saya setuju dengan pendapat Pak Soemandjaja dengan Ibu Ida, satu kali Rapat Kerja lagi, karena menurut saya mekanismenya usulan DIM dari pemerintah ini diterima dulu oleh Komisi II DPR RI dalam pleno Komisi II DPR RI ini, tetapi tadi seluruh pendapat dari teman-teman sepertinya belum menerima secara bulat. Jadi memang masih ada satu Rapat Kerja lagi untuk menyatukan apakah diterima atau tidak DIM dari pemerintah ini.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Baik saudara-saudara sekalian.

Ini kan bisa diputuskan ini. Memang kalau kita ikuti ketentuan, ini DIM harus diterima dulu, dengan demikian memang harus ada Rapat Kerja satu kali lagi Pak dengan didahului dengan perbaikan DIM diserahkan itu kepada kita lalu kita tentukan Panja. Saya kira itu yang kita putuskan pada hari ini. Dengan demikian kita bisa selesai, biarkan pemerintah memperbaikinya, kita ketemu dalam satu Rapat Kerja lagi pada Rapat Kerja itu akan diserahkanlah DIM-nya nanti. Saya kira begitu? Kemudian saya kira Pak Menteri silakan.

PEMERINTAH (MENPAN & REFORMASI BIROKRASI): Terima kasih Pak.

Saya lagi mikir Bapak-bapak mau reses, tinggal beberapa hari ini, saya kira waktu tersisa ini tadi bukan pra tapi antara kelompok kami dengan kelompok komisi saya pakai ketemu hasil ini yang kita Rapat Kerjakan gitu, karena saya melihat bahwa kalau lihat isu strategis tentang kepegawaian ini sudah sama semua kita sama, cuma mungkin ada... kekosongan hukum atau di undang-undang atau PP, Perpres dan sebagainya...kami, ada overlap juga ada, ada juga multitafsir dan sebagainya, saya kira ini yang kita perlu bicarakan jangan sampai kita maju, tetapi

(19)

masih masalah di sini, dari situ baru kita Rapat Kerja, terserah kapan rakernya dan dalam Rapat Kerja yang akan datang itu solusi yang kita bicarakan, sehingga Panja bisa...

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Baik, kita punya waktu untuk Rapat Kerja yang akan datang itu tanggal 25 Oktober, Selasa tanggal 25 Oktober kita Rapat Kerja, sebelumnya didahului dengan pertemuan para ahli. Dengan demikian selesai ya? ya begitu tidak apa-apa, terus reses. Memang waktunya kita uber-uberan, saya kira itu yang bisa kita putuskan, jadi tanggal 25 Rapat Kerja, yang kedua sebelumnya didahului dengan tim masing-masing untuk memperbaiki. Saya kira demikian saudara-saudara sekalian, saya kira cukup untuk pertemuan kita pada hari ini. Saya kira Pak Menteri cukup. Saya bisa akhiri dengan ucapan syukur alhmadulillaah ini sulit barang sulit, saya tahu, dari awal sudah tahu bahwa barang ini tidak mudah. Dari awal kami sudah tahu, sangat tidak mudah, tapi we have

to go on harus terus jalan ya. Demikian terima kasih.

Wassalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. (DITUTUP PUKUL 11.10 WIB)

Jakarta, 12 Oktober 2011 a.n. Ketua Rapat

Sekretaris

ARINI WIJAYANTI, SH.,MH. 19710518 199803 2 010

Referensi

Dokumen terkait

Wa'alaikum Salam. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semua. Pimpinan beserta Anggota Komisi IV DPR RI, Pak Sekjen beserta

Terima kasih banyak Bapak Ketua.. Yang terhormat Bapak/Ibu Anggota Komisi VII lainnya. Terima kasih catatan Bapak Ketua akan menjadi catatan penting buat kami dan Insya Allah

Terima kasih Pimpinan. Dari beberapa yang disampaikan oleh Pimpinan dan Anggota Komisi IV DPR tentunya yang pertama kami mencatat semua masukan-masukan yang telah

Baik terima kasih Ibu Hetifah. Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak Fikri, Pimpinan Sidang. Para Pimpinan Komisi X yang saya hormati. Mas Menteri dengan seluruh

Baik, terima kasih Bapak Pimpinan. Pak Menteri Koperasi dan UMKM dan Kepala BKPM serta jajaran yang saya hormati. Terima kasih atas penjelasan yang diberikan, saya

Iya terima kasih Pimpinan. Pimpinan dan Anggota yang saya hormati, begitu juga Ibu Menteri. Yang pertama menyikapi terkait anggaran saya memberikan apresiasi dan setuju terhadap

KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.. 2 Yang saya hormati segenap Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V DPR RI. Yang

Sebelum kami mengakhiri laporan ini, melalui kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada anggota Panja, Pimpinan Komisi II DPR atau Wakil Pengusul RUU yang