• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RESMI RAPAT KOMISI V DPR RI DENGAN MENTERI DESA PDTT RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RESMI RAPAT KOMISI V DPR RI DENGAN MENTERI DESA PDTT RI"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RESMI RAPAT KOMISI V DPR RI DENGAN MENTERI DESA PDTT RI Tahun Sidang : 2019-2020

Masa Persidangan : III

Rapat ke- :

Jenis Rapat : Rapat Kerja Sifat Rapat : Terbuka

Hari, Tanggal : Kamis, 25 Juni 2020

Waktu : Pukul 10.05 s.d. 13.25 WIB

Tempat : Ruang Rapat Komisi V DPR RI (KK 5), Gedung Nusantara

Ketua Rapat : Lasarus., Sos./Ketua Komisi V DPR RI / F-PDIP Sekretaris Rapat : Nunik Prihatin Budiastuti, S.H.

Acara : Membahas Pembicaraan Pendahuluan RKA/KL dan RKP K/L dalam RAPBN TA. 2021

Hadir : 35 Anggota hadir dari 53 Anggota Komisi V DPR RI Hadir Mitra : Menteri Desa PDT RI

A. Anggota DPR RI: PIMPINAN :

1. Lasarus, S.Sos, M.Si 2. Ir. Ridwan Bae

3. H. Andi Iwan Darmawan.,Aras.,SE.,M.Si 4. H. Syarif Abdullah Alkadrie.,SH.,MH 5. Hj. Nurhayati

1. FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN:

5 orang Anggota dari 10 Anggota: 1. H. Herson Mayulu.,S.IP

2. Hj. Sadarestuwati.,SP.,MMA 3. Ir. Sudjadi

4. Bob Andika Mamana Sitepu.,SH 5. H.M. Rifqinizamy Karyasuda

2. FRAKSI PARTAI GOLKAR: 5 orang Anggota dari 7 Anggota:

(2)

1. Drs. Hamka B Kady, MS 2. Dr. H. Gatot Sudjito.,M.Si 3. H. Ansar Ahmad.,SE.,MM 4. H. Hasan Basri Agus 5. Ir. Anang Susanto.,M.Si 3. FRAKSI PARTAI GERINDRA: 4 orang Anggota dari 6 Anggota: 1. Hj. Novita Wijayanti.,SE.,MM 2. Iis Edhy Prabowo, S.Hum, MM 3. Drs.H.Mulyadi.,MMA

4. Ir.Eddy Santana Putra,MT

4. FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT: 3 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. Drs.H. Soehartono 2. Drs.H. Tamanuri, MM 3. Sri Wahyuni

5. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA : 4 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, S.Th 2. Ruslan M Daud

3. H. Dedi Wahidi.,S.Pd 4. H. Syafiuddin.,S.Sos

6. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT: 2 orang Anggota dari 5 Anggota: 1. Willem Wandik.,S.Sos

2. H. Irwan.,S.IP.,MP

7. FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA: 3 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. Ahmad Syaikhu

2. H. Syahrul Aidi Maazat.,Lc.,MA 3. H. Suryadi Jaya Purnama.,ST

8. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL: 3 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. H. A. Bakri.H.M.,SE 2. Hj. Hanna Gayatri.,SH 3. Athari Ghauthi Ardi

9. FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN:

1 orang Anggota dari 1 Anggota: 1. H. Muh Aras, S.Pd,MM

(3)

1. Menteri Desa PDT RI (Abdul Halim Iskandar) 2. Wamen Desa PDT (Budi Aril Setiadi)

(4)

KETUA RAPAT /KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS, S. SOS.,M.Si/F.PDIP):

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Selamat Pagi; dan

Salam Sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati Teman-teman Anggota Komisi V DPR RI,

Yang saya hormati Saudara Menteri Desa PDT dan Transmigrasi beserta Wamen beserta jajarannya,

Hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat rahmat-Nya kita bisa melaksanakan kegiatan rapat ini sesuai dengan undangan yang sudah kami sampaikan.

Materi kita hari ini yaitu fungsi anggaran dan terkait dengan fungsi anggaran DPR. Rapat dilaksanakan secara fisik dan diikuti juga secara virtual oleh beberapa Anggota. Informasi yang kami terima, sudah ada 8 fraksi dan 25 Anggota.

Pak Menteri. Saya atas nama Pimpinan dan Anggota Komisi V mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” karena ini masih dalam suasana Idul Fitri dan kita ketemu yang pertama, “Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Sebelum dilanjutkan, kami ingin memperkenalkan ada 1 Anggota baru Pak Menteri. Beliau adalah Sumail Abdullah, Nomor Anggota 108, Daerah Pemilihan Jatim III dari Fraksi Partai Gerindra tapi yang bersangkutan belum datang, tapi kalau sudah datang akan kita perkenalkan. Pak Menteri dan seluruh mitra wajib untuk tahu bahwa ketika ada Anggota yang pindah atau masuk pasti wajib diperkenalkan.

Seperti yang saya sampaikan tadi, sudah hadir 8 Fraksi dan 25 Anggota dari 53 Anggota. Setengah sudah lebih, setengah dari unsur fraksi sehingga telah memenuhi kuorum. Sesuai hasil kesepakatan Rapat Konsultasi Pengganti Rapat Bamus tanggal 16 Juni 2020 terkait Tata Cara Rapat Komisi atau Badan.

Masa Tatanan Baru atau yang lebih kerennya disebut New Normal pada Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2019-2020 ini. Pelaksanaan Raker atau RDP dihadiri oleh fisik maksimal 60% dari jumlah anggota komisi atau badan dengan komposisi sesuai dengan jumlah suara fraksi secara proporsional. Mitra kerja sendiri atau Pemerintah maksimal 45 orang dari kapasitas 60 tempat duduk yang tersedia di depan ini dan lamanya rapat kita cuman selama 4 jam.

Oleh karena itu, sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Pasal 251 Peraturan DPR RI tentang Tata Tertib, izinkan saya membuka rapat pada hari

(5)

ini dan berdasarkan Ketentuan Pasal 246 Ayat (1) Rapat Kerja ini saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

(RAPAT DIBUKA PUKUL 10.05 WIB)

Terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Saudara Menteri Desa PDT dan Transmigrasi beserta jajarannya yang telah memenuhi undangan kami pada hari ini.

Sebagaimana undangan yang telah disampaikan, Rapat Kerja pada hari ini diagendakan acara membahas Pembicaraan Pendahuluan RKA K/L (Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga) dan RKP (Rencana Kerja Pemerintah) Kementerian Lembaga dalam RAPBN Tahun Anggaran 2021. Saudara sekalian yang kami hormati,

Saudara Menteri beserta jajarannya, Teman-teman Anggota Komisi sekalian.

Sebagaimana kita ketahui bersama salah satu kebijakan keuangan Pemerintah pada Tahun 2020 yang menjadi landasan penting dalam perumusan kebijakan anggaran Tahun 2021 adalah ditetapkannya Perpu Nomor 1 Tahun 2020 dan Perpres Nomor 54 Tahun 2020 sebagai langkah penanganan Pandemi Covid 19 dan sekaligus untuk menjaga kondisi perekonomian serta stabilitas sistem keuangan.

Oleh karena itu, dalam rangka menjaga keberlanjutan pembangunan nasional di tengah tantangan fundamental ekonomi yang sangat dinamis. APBN sebagai instrument kebijakan fiskal hendaknya dirancang dengan lebih produktif, efektif dan efisien agar mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat dan perbaikan neraca keuangan Pemerintah.

Selanjutnya sebagaimana Surat Badan Anggaran tanggal 8 Juni 2020 perihal Penyampaian Ralat Rancangan Jadwal Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan RAPBN Tahun 2021 dan Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2021 dan sesuai Jadwal Rapat Kerja Komisi-Komisi dengan Mitra Kerjanya. Maka pada kesempatan Rapat Kerja hari ini Komisi V DPR RI hendak mendapatkan penjelasan saudara Menteri Desa PDT dan Transmigrasi, terkait Pembicaraan Pendahuluan RKA K/L dan RKP dalam RAPBN Tahun 2021 dari Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi.

Teman-teman Anggota Komisi V yang saya hormati dan Menteri Desa PDT dan Transmigrasi beserta jajarannya.

Demikian pengantar dari kami untuk rapat kita pada hari ini dan untuk mempersingkat waktu, saya persilakan kepada Saudara Menteri Desa PDT dan Transmigrasi untuk menyampaikan paparannya.

(6)

MENTERI DESA, PDT, DAN TRANSMIGRASI (ABDUL HALIM ISKANDAR): Terima kasih.

Mohon izin.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan,

Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Ketua Komisi V beserta seluruh jajaran Pimpinan dan Anggota Komisi V.

Pertama, kami sampaikan terima kasih atas waktu yang diberikan kepada kami dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk menyampaikan Rencana Kerja Kementerian Tahun 2021 sekaligus nanti saya ingin melaporkan sekilas tentang Realisasi Anggaran.

Selanjutnya sebelum saya menyampaikan paparan, izinkan kami keluarga besar Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Meskipun sudah lama tapi karena baru kali ini kita bisa bertatap muka secara langsung.

Ketua beserta jajaran Pimpinan dan Anggota Komisi V.

Langsung saja ke halaman 4. Pada posisi per Juni 2020 ini, kita sudah melakukan proses realisasi anggaran pada posisi 40,55% dari atas rencana. Dengan demikian, apa yang menjadi target capaian, serapan anggaran sudah sesuai dengan harapan.

Kemudian kita menginjak pada Rencana Kerja Tahun 2021, langsung halaman 6. Sebagaimana dimaklumi bahwa tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2021 adalah mempercepat pemulihan ekonomi dan reformasi sosial. Kemudian fokus pembangunannya adalah pemulihan industri pariwisata dan investasi, reformasi sistem kegiatan nasional, reformasi sistem jaring pengaman sosial, reformasi sistem ketahanan pertama.

Sedangkan agenda pembangunan, prioritas nasional untuk Kementerian Desa oleh Bappenas diprioritaskan pada PN 2. Yaitu pengembangan wilayah untuk mengurangi kesenjangan. Saya kira nanti fokus kita disitu. Tentu tidak tepat juga tadi misalnya terkait dengan SDM, Ketahanan Ekonomi dan seterusnya, Insfrastruktur Ekonomi dan Pelayanan Dasar pasti masuk, tapi stressing-nya adalah program nasional pembangunan yang kedua pengembangan wilayah untuk mengurangi kesenjangan.

Pak Ketua, Para Wakil Ketua, dan Anggota Komisi V.

Selanjutnya di halaman 7, sekilas kita ingin juga laporkan Target Kinerja Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada RKP Tahun 2021 Misalnya terkait dengan pengembangan

(7)

status pembangunan desa target utama 61,15%, 15% ini indeksnya, 61,15 bukan persen, indeks 61,15 kemudian penurunan angka kemiskinan menjadi 11,7% dan seterusnya sampai pada indeks pengembangan 52 kawasan transmigrasi dan direvitalisasi pada posisi naik indeks 50,93 dengan base line Tahun 2019 dan Target RPJM Tahun 2024, satu contoh misalnya kemiskinan diharapkan menurunkan 9,9%. Tentu kita perlu kerja keras agar betul-betul tercapai pada Tahun 2024 penurunan kemiskinan di desa mencapai 9,9%. Pak Ketua dan Para Wakil Ketua serta Anggota Komisi V yang saya hormati.

Kemudian kita lanjut pada Halaman 9, bagi yang lain-lain bisa kita lanjut, tapi indikasi Tahun 2021. Ini sudah hasil kesepakatan Trilateral Meeting RKP 2021 antara 24 sampai 4 Juli 2020. Ini total anggaran yang ada di Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 4,108 894 810 dengan alokasi anggaran sebagaimana ada di atas Inspektorat Jenderal, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Desa, Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan dan seterusnya sampai pada Sekretariat Jenderal.

Pak Ketua, Wakil Ketua, dan Para Anggota Komisi V.

Output prioritas Tahun 2021, ini sudah kita rinci sedemikian rupa dan tentu sampai saat ini kita menunggu arahan dari Komisi V terkait dengan alokasinya. Jadi kita belum membahas atau menentukan lokasi terkait dengan ini meskipun ada kriteria-kriteria. Jadi kami berharap arahan dari Komisi V agar penetapan lokasi segera bisa kita sepakati bersama, tentu setelah rapat kerja ini dengan forum yang lebih detail, lebih teknis.

Tentu dengan tetap mendasarkan pada kriteria-kriteria yang kita sepakati agar target capaian untuk pembangunan pendesaan dan transmigrasi bisa tercapai sesuai dengan harapan kita semua utamanya di Tahun 2024 nanti. Ini sudah kita tuangkan di Halaman 10, 11, 12, 13, dan seterusnya, nanti tentu ini butuh detailing bagaimana harapan kita agar penentuan lokasi betul-betul didasarkan skala prioritas pembangunan. Namun demikian perlu ada kesepakatan atau arahan dari Pimpinan dan Anggota Komisi V.

Pak Ketua, Wakil Ketua dan Para Anggota Komisi V.

Selanjutnya pada Halaman 17, yang di halaman tadi mungkin pembahasannya lebih spesifik lagi Pak Ketua. Kemudian Halaman 17, Kementerian Desa telah merencanakan penataan kelembagaan sebagaimana Mandat Presiden bahwa perlu ada reformasi birokrasi, reformasi struktural agar lembaga semakin sederhana, semakin simple dan semakin puncak. Dengan merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2009 tentang Organisasi Kementerian Lembaga, Penataan Struktur Organisasi Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi serta Peta Proses Bisnis Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Bidang Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

(8)

Kita sudah melakukan pengurangan terhadap Unit Kerja Eselon I dan dari 7 menjadi 6. Jadi ada 1 Unit Kerja Eselon I yang kita hilangkan, kemudian kita juga sudah menyiapkan rencana pengalihan jabatan administratif ke Jabatan Fungsional untuk Eselon III dan IV.

Pak Ketua, Pak Wakil Ketua dan Bapak Ibu Wakil Ketua dan Bapak Ibu Anggota.

Posisi hari ini terkait dengan Rencana Struktur Organisasi Kementerian Desa sudah ada di Meja Pak Presiden sesuai dengan tahapan yang harus kita penuhi sebagaimana di halaman 18 konsepnya seperti itu. Jadi Dirjen-Dirjen atau Direktorat Jenderal agar perubahan-perubahan. Pertama, Dirjen-Dirjen Pembangunan Desa dan Perdesaan. Kemudian Dirjen Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Jadi kita langsung mengelaborasi bahwa kementerian ini bukan hanya Kementerian Desa tetapi juga Kementerian Transmigrasi dan Daerah Tertinggal. Kemudian ada Dirjen Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, kemudian Dirjen Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi, kemudian ada 2 badan:

1. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

2. Badan Pengembangan dan Informasi Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Pak Ketua, Wakil Ketua dan Para Anggota Komisi V.

Dengan nanti ketika struktur organisasi atau SOTK yang baru ini disahkan oleh Presiden, maka akan terjadi perombakan atau perubahan tatanan sebagaimana yang ada di Halaman 9. Itu tentu akan mengalami perubahan, penyesuaian dan tentu nanti kami juga mohon waktu setelah nanti keputusan atau Peraturan Presiden turun.

Kita akan segera melaporkan untuk menyesuaikan ruang-ruang yang sudah ada dengan memindahkan berbagai pagu indikatif sesuai dengan SOTK yang ada. Sehingga menurut kami masih butuh waktu 1 lagi paling tidak untuk lebih mendetailkan pagu indikatif dengan SOTK tadi. Sebenarnya tidak terlalu mendasar, karena lebih kepada memindahkan isi. Jadi inilah ruangan-ruangan yang sudah ada, kemudian total 4,108 ini kita gunakan ke ruangan baru dengan SOTK baru.

Pak Ketua, Pak Wakil Ketua, dan Para Anggota,

Bapak Ibu Wakil Ketua dan Bapak Ibu Anggota Komisi V.

Saya pikir itu laporan singkat dari kami. Tentu kami mohon arahan agar proses perencanaan penetapan pagu anggaran pagu indikatif untuk 2021 bisa segera kita laksanakan dan sebagaimana yang saya sampaikan tadi, kami mohon waktu berikutnya terkait dengan 2 hal. Pertama refocusing alokasi, kemudian yang kedua ketika nanti Peraturan Presiden yang terkait dengan

(9)

SOTK baru sudah terbit. Kita juga mohon waktu untuk menyampaikan penataan pagu indikatif sesuai dengan SOTK yang baru.

Demikian Ketua, Bapak Ibu Wakil Ketua. Mohon maaf. Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si): Baik terima kasih Pak Menteri.

Teman-teman sekalian.

Demikian paparan dari Pak Menteri. Pak Menteri.

Sebelum kita ke pendalaman Anggota, di Komisi V ini kita dengan 3 kementerian dan 3 badan mitranya, dan berdasarkan kepada semua mitra ini setiap kali rapat, mohon izin untuk teman-teman yang ada di ruangan ini mungkin perlu dihapal nomor teleponnya segala macam. Sebelum nanti ngomong satu-satu biar semuanya singkat, kebetulan Pak Menteri ini ada acara, mudah-mudahan nanti selesai tepat waktu, kita bisa angkut.

Yang kami harapkan Pak Menteri, komunikasi antara bapak-bapak punya staf yang ada di masing-masing teman-teman punya dapil untuk kiranya bisa berkomunikasi secara baik dengan kita semua di daerah pemilihan masing-masing. Selama ini jujur Pak Menteri ini terasa kita kurang, Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi. Ini saya sendiri sama Kepala Pimpinan tidak tahu pak siapa yang ada di Kalimantan Barat sana. Saya tanya Pak Syarif tadi sebelum saya ngomong sama dia bilang, padahal dua-duannya Pimpinan pak.

Jadi saya rasa pola komunikasi perlu kita perbaiki. Lebih bagus kan kita silaturahmi daripada kita ngomong kesini terus cari salah masing-masing kan tidak elok kita berteman ya kan? Ya Pak Wamen ya, ya nanti kan kalau Pak Menterinya sibuk Pak Wamen bisa menengahi, bisa menginisiasi supaya hubungan kita dalam konteks hubungan fungsi masing-masing, ya tidak membuat mufakat jahat, membuat mufakat jahat sekarang sudah ditungguin pak. Ini dalam konteks menghargai, menghormati posisi masing-masing.

Kami dengan 3 fungsi utama, legislasi, anggaran dan pengawasan. Tentu ketika di daerah kita bicara soal pengawasan pak. Kami harapkan fungsi pengawasan ini bisa berjalan dengan baik, objektif pak, tidak subyektif. Bisa obyektif kan kalau komunikasi berjalan dengan baik. Saya tahu kegiatan apa saja, tetapi kalau saya dengan Pak Syarif ini di samping Pimpinan Komisi, Saya ketua beliau wakil, kita juga dua-duanya tidak ketua partai di daerah, kesibukan kita tinggi pak.

(10)

Kalau kita yang harus cari-cari ke ujung-ujung dimana Bapak punya orang ya tidak jalan komunikasi kita. Itu contoh pak, demikian juga teman-teman yang lain. Ini perlu saya sampaikan. Ini omongan hampir dari semua anggota yang ada di ruangan ini.

Saya harap ini adalah bagian penting bahwa kita ini adalah mitra. Mitra ini harus beda dengan yang bukan mitra. Namanya mitra kan? Kita saling menghormati, saling menghargai satu sama lain sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Saya rasa yang sudah saya sampaikan nanti tidak perlu diulangi lagi karena kita mempersingkat waktu. Teman-teman silakan langsung saja. Terkait soal ini, Ketua sudah langsung ambil alih pak. Keluh kesah Anggota, Ketua sudah langsung secara terbuka, transparan, mengacu kepada aturan dan ketentuan yang berlaku. Nah kalimat yang terakhir ini penting pak, aturan dan ketentuan yang berlaku.

Saya rasa demikian. Sesuai dengan daftar yang ada pada saya, persingkat waktu.

Saya persilakan yang pertama Pak Herson Mayulu, bersiap-siap Pak Syahrul. Silakan.

F-PDIP (H. HERSON MAYULU, S.I.P.): Baik terima kasih.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi,

Salam bahagia bagi kita semua. Pimpinan Komisi,

Teman-teman Anggota Komisi V, Pak Menteri, Pak Wamen, Pak Sekjen,

Seluruh Eselon I, II, III dari Kementerian Desa yang sempat hadir.

Kita langsung saja. Jadi Pak Menteri saya memberikan apresiasi yang positif kepada Kementerian Pedesaan dimana di tengah-tengah pandemi ini petugasnya yang ada di provinsi kabupaten sampai desa ini sangat-sangat pro aktif dan itu saya rasakan selama beberapa kali saya turun ke daerah. Kebetulan ketemu Pak Wamen.

Namun di tengah-tengah pemulihan ekonomi yang kita rencanakan 2021 ini, saya juga melihat Kementerian Desa ini bolehlah bersyukur 2020 direfocusing masih ada Rp.2,5 triliun. Nah sekarang walaupun pemprovnya ada Rp.600 milyar sekian tapi pagu indikatifnya cukup lumayan, ada Rp.3,4 Triliun yang saya lihat data yang ada disini. Saya belum tahu berapa jumlah Kementerian Desa dari tahun lalu Rp.72 triliun, entah sekarang sudah berapa, jumlahnya saya belum tahu Pak Menteri.

(11)

Nah dari berbagai fakta yang kami lihat di lapangan maupun program-program yang disusun untuk 2021, saya melihat ada berbagai isu strategis yang muncul di Kementerian ini.

Yang pertama adalah soal realisasi anggaran. Sudah lumayan bagus, sudah ada 40,55% dari hasil rencana yang 35,10%, cukup bagus Pak Menteri.

Yang kedua, kami ingin tahu setelah terjadi refocusing anggaran atau penghematan anggaran, saya ingin melihat bagaimana pencapaian target prioritas nasional dalam artian pengentasan desa tertinggal menuju desa maju dan desa mandiri. Ini harus ada rencananya 2020 itu seperti apa? Maka setelah refocusing jadi bagaimana dan akhir tahun diperkirakan akan bagaimana, ini harus sudah ada.

Yang ketiga, fakta yang ada bahwa berbagai bantuan kepada masyarakat ada BST, ada BLT. Kami melihat dari pengalaman yang ada, justru BLT ini yang paling kena, paling pas, paling cocok. Kenapa? Dananya sudah di desa, penerimanya didata oleh masyarakat desa itu sendiri, boleh tidak menerima diputuskan dalam musyarawah desa. Ini cukup bagus, kita memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk menbangun dirinya sendiri.

Yang ketiga, isu berikutnya adalah kita mempertahankan ketahanan pangan masyarakat di daerah untuk pemenuhan ekonomi terutama ketahanan pangan yang ada di desa. Saya sekilas membaca ini ada berbagai program yang telah disusun oleh Kementerian Desa, misalnya penguatan lumbung desa. Ini belum ada, belum merata semua ini, mungkin secara spesifik ada di tempat tertentu, di tempat yang lain belum ada.

Kemudian saya justru kurang melihat gebrakan pertanian, padahal dalam pemulihan ekonomi ini langkah yang akan diambil nanti termasuk di Kementerian Desa ini adalah optimalisasi komoditas unggulan desa. Saya sudah melihat ada itu, ada desa yang hanya menanam cabe rawit, ada desa yang mengutamakan menanam pohon pisang dengan buahnya nanti menjadi hasil produksi dari masyarakat sendiri dan lain-lain dan lain-lain, ini saya sudah lihat di berbagai desa yang ada. Nah ini perlu penguatan di tahun depan.

Kemudian Badan Usaha Desa. Ini yang masih agak penuh tantangan. Oleh karena itu, kita perlu revitalisasi Badan Usaha Desa di Tahun 2021 nanti. Tentu ada berbagai program-program penguatan yang akan disusun oleh Kementerian Desa. Berupa upaya-upaya untuk bagaimana Badan Usaha

Desa ini menjadi kekuatan ekonomi di desa.

Kemudian permintaan Presiden agar desa-desa yang mungkin sudah bisa memenuhi persyaratan dijadikan desa digital. Kenapa? Agar mereka bisa mempromosikan, menjual hasil produksi di desa itu. Itu butuh kerja keras,

(12)

karena kita terbentur kepada wilayah-wilayah yang belum memiliki jaringan-jaringan baik yang optic maupun internet.

Isu yang berikut adalah sudah dilakukan yang lalu, pengembangan desa wisata. Ini kita harus cermati untuk pemulihan ekonomi masyarakat nanti. Berbagai program yang sudah dibuat. Kemarin saya dan Pak Dirjen mengunjungi desa wisata ini cukup bagus. Sehingga ke depan nanti kehendak Pak Menteri tadi agar alokasi berbagai program dibicarakan dengan Komisi V, kami mendukung itu. Sehingga kemitraan antara Komisi V dan Kementerian Desa ini betul-betul bisa berjalan dengan bagus dan kami Komisi V bisa melakukan pengawasan sesuai dengan fungsi yang ada di pundah kami.

Yang terakhir Pak Menteri, optimalisasi para pendamping, petugas-petugas yang ada. Kalau tadi Pak Ketua mengeluh koordinator provinsinya entah siapa. Kalau saya di Sulawesi Utara cukup komunikatif mereka, mereka cari saya kemudian kami saling bertukar pikiran. Nah ini setelah saya pelajari, mereka ini adalah petugas-petugas yang penuh resiko, turun ke desa dengan berbagai keterbatasan.

Alat pengaman diri saja tidak ada, gaji mereka bervariasi, Rp.3.500.000 sampai dengan Rp.4.500.000 yang dalam sebulan tidak cukup untuk biaya operasional mereka. Oleh karena itu, ketika kita berupaya mengoptimalkan peran mereka, kita juga harus melihat kesejahteraan mereka Pak Menteri. Mereka itu harus selalu ada jaminan. Mau jadi apa mereka, berapa penghasilan mereka sebulan? Sehingga betul-betul harapan kita untuk desa itu bisa membangun melalui peran teman-teman ini, itu akan terwujud di masa-masa yang akan datang. Kalau kita sepakat bahwa pembangunan itu kita mulai dari desa.

Kemarin ada berbagai pendapat bahwa dana desa ini mubazir, ini pendapat orang-orang yang tidak tahu persis keadaan di desa. Kalau saya justru saya ingin ditambah dananya. Kenapa? Karena telah ada muncul semangat baru dari masyarakat desa untuk membangun desanya, tidak seperti selama ini selalu lock down. Nah sekarang mereka bisa merencanakan, dananya sudah ada, sehingga mereka hasilnya nanti mereka pelihara, mereka bisa manfaatkan sendiri.

Demikian Pak Menteri isu yang saya angkat di awal perjumpaan kita dalam menyusun APBN 2021. Semoga berbagai program akan dikembangkan secara rinci di pertemuan-pertemuan yang berikut.

Demikian. Terima kasih.

Wallahumma Fiq Illah Aquamitoriq,

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si):

(13)

Selanjutnya Pak Syahrul, usahakan kalau bisa 3 menit, kita nanti usulkan pada pertemuan berikutnya.

Silakan Pak Syahrul.

F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, L.C., M.A.): Ya terima kasih pak.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Sesuai dengan kesepakatan kita yang kemarin, topik penghematan dilanjutkan kepada pembicara sebelumnya.

Pak Menteri.

Saya langsung saja kepada poinnya. Saya membaca di media tentang dengan muncul Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020. Ini ada ancaman terhadap tanah desa, mohon diklarifikasi mengenai status dana desa untuk Tahun 2021 apakah masih ada atau tidak. Yang saya baca di media ini seolah-olah nanti 2021 dana desa tidak ada.

Yang kedua, saya mengapresiasi Kementerian Desa dalam kontribusi usaha untuk penanganan Covid 19. Alhamdulillah komunikasi dengan Pak Menteri ini cukup aktif memberikan masukan-masukan dari bawah. Betul sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Herson, kalau kita memberikan BLT itu berdasarkan data Kementerian Sosial, ini data ini kacau sekali. Ada yang bahkan PNS mendapat BLT dari Kementerian Sosial. Sementara data yang dikelola oleh Desa melalui dana desa cukup-cukup akurat, terima kasih Pak Menteri.

Kemudian yang ketiga, yaitu masalah desa wisata. Waktu pertemuan kita dulu di awal, saya ingin memprediksi sedikit bahwasanya arah desa wisata ini adalah untuk menunjang pariwisata nasional yang sudah menjadi program nasional. Saya berpendapat bahwasanya kalau itu arahnya dana desa wisata ini untuk menunjang wisata nasional yang memang sudah besar, ini tidak nampak nanti kinerja Kementerian Desa. Nah kita berharap arah kebijakannya bahwasanya desa wisata ini lebih kepada bagaimana menggali potensi wisata yang ada di desa dan itu cukup banyak, sangat banyak sekali. Pak Menteri.

Tadi saya lihat di buku ini hanya ada di 50 desa. Saya mengusulkan ini Ketua pertama kalau bisa anggarannya diperbanyak dan jumlah desanya diperbanyak dan menjadi Program Padat Karya Tunai (PKT) seperti yang ada di Kementerian PU. Ini akan lebih optimal dia kalau dalam bentuk nanti program padat karya tunai sehingga apa? Itu akan menjadi pemasukan peluang pekerjaan bagi masyarakat nantinnya dalam pengelolaan wisata yang ada di desa. Ini poin yang terpenting yang ingin saya usulkan Ketua

(14)

yaitu anggarannya itu ditambah dan jumlah desanya dan tidak harus Rp.1 miliar.

Saya kira untuk Rp.500 juta atau Rp.400 juta 1 desa itu cukup membantu. Saya ada 1 contoh 1 desa yang kemudian kemarin saya datang kesana, itu luar biasa dengan desa wisata walaupun terpencil tetapi dikunjungi oleh 5 ribu orang, terbatas sarananya disana, itu masyarakat dengan adanya kunjungan wisata walaupun berbentuk kotak, itu penghasilan masyarakat desa sampai dengan Rp.200 ribu per hari. Ini luar biasa. Jadi mohon ini kita kaji bersama-sama dan saya apresiasi kepada Pak Menteri yang sangat aspiratif yang menyampaikan bahwasanya lokus daripada program ini dibicarakan dengan Komisi V. Ini sangat menyenangkan hati kami.

Kemudian yang selanjutnya, saya ingin bertanya. Ada dulu waktu Kementerian Desa ini hampir 10 tahun yang lalu itu membangun jembatan pak di Quancy, ada jembatan yang menyeberangi sungai di Quancy. Itu sekarang rusak, kayu-kayunya sudah patah dan mengancam keselamatannya.

Saya mohon arahannya bagaimana, karena asetnya ketika saya tanya kepada kabupaten itu masih asset kementerian katanya belum diserahkan kepada kabupaten. Sehingga kabupaten tidak bisa menganggarkan untuk perbaikannya.

Kemudian ada program BumDes, BumDes bersama pak, ada di Hin Hill ini BumDes Bersama. Kebetulan di Hin Hill itu ada suatu produk yaitu pusat kelapa Indonesia bahkan di Riau bahkan di Indonesia, itu sekarang dikelola oleh Desa. Nah ini karena butuh hilirisasi dan butuh teknologi yang lebih canggih, maka beberapa desa ini berkumpul untuk menyatukan BumDes mereka dan ini mohon bantuan juga dukungan dari Kementerian Desa nantinya.

Terakhir, saya mendapat juga sebagaimana yang kita sampaikan pada pertemuan yang lalu bahwasanya tadi Pak Herson menyampaikan tentang kesejahteraan pendamping desa. Saya mohon maaf, saya juga ingin menyampaikan tentang kesejahteraan Kepala Desa. Kita memang menyayangkan bahwasanya ada Kepala Desa yang terjerat hukum.

Nah tapi kita juga harus secara obyektif dan adil dalam menilai antara beban tanggung jawab yang mereka terima dengan penghasilan yang mereka terima. Memang ada kebijakan di beberapa daerah, tetapi kebijakan di pusat ini harus memberikan kepastian bahwasanya regulasi yang kita persiapkan itu memberikan kesejahteraan dan keamanan bagi mereka dalam menjalankan tugas. Karena kalau kita lihat secara nyata bahwasanya mereka ini bukan hanya harus mempertanggungjawabkan anggaran tetapi beban sosial. Ketika masalah-masalah ada di lapangan, yang pertama kali berhadapan itu adalah Kepala Desa.

(15)

Ini harus kita kaji secara komprehensif tentang masalah Kepala Desa ini karena kita tidak ingin abu-abu yang untuk menjadi bahan cara masuk kemudian NSR dan segala macam. Yang abu-abu itu harus diperjelas pak, karena yang abu-abu itu mesti kita perjelas sehingga ada kesejahteraan, ada tunjangan-tunjangan yang mesti kita persiapkan. Walaupun itu banyaknya di daerah tapi setidaknya regulasi ada yang kita berikan di pusat ini.

Terima kasih.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si): Terima kasih Pak Syahrul.

Selanjutnya Bunda Hanna Gayatri, bersiap-siap Pak Tamanuri. F-PAN (HANNA GAYATRI, S.H.):

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Yang saya hormati Teman-teman ku sekalian, Bapak Lasarus beserta Wakil-Wakil Ketua, Bapak Menteri beserta jajarannya.

Untuk itu pertanyaan saya yaitu mengenai rekomendasi pagu indikatif Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Tahun Anggaran 2021 apabila terdiri dari nominal dan program kerja sudah cukup realistis. Melalui Program Desa … dan Pendesaan … rekaman tidak jelas .Pentingnya pemberdayaan masyarakat desa dan pengembangan wilayah terutama di daerah tertinggal, kawasan perbatasan, pedesaan dan transmigrasi untuk kedepannya harus dibarengi dengan kebutuhan energi listrik dan kemajuan digital sehingga menjadi desa maju dan berteknologi.

Di kampung saya masih banyak yang di daerah Mesuji masih banyak belum ada listriknya. Yang tentunya akan mengurangi kesenjangan antar desa dan program litbang pendidikan dan pelatihan informasi era digital sekarang ini sangat produktif, peranannya apalagi sumber daya masyarakat dan pada kenyataannya masih down signal. Oleh karenanya, saya sangat konsen terhadap program ini yang Alhamdulillah dari masuk dalam skala prioritas Bum Des pada Tahun 2021 dengan 9 penelitian, 5.070 pelatihan masyarakat dan pendidikan serta pelatihan SN untuk 750 Desa.

Saya juga menghimbau agar Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mereformulasi alokasi penentuan skala prioritas dana desa agar lebih akomodatif untuk pembangunan kawasan daerah tertinggal.

Terima kasih.

Wabillahi Taufiq Wal Hidayah,

(16)

KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si): Terima kasih.

Silakan Pak Tamanuri, singkat pak.

F-P.NASDEM (Drs. H. TAMANURI, M.M.): Terima kasih Pak Pimpinan.

Yang saya hormati Rekan-rekan Anggota Komisi V DPR RI, Yang kami hormati Pak Menteri bersama jajarannya,

Hadirin yang berbahagia.

Saya tidak banyak-banyak ini, cuman ada sekitar 10.

Alhamdulillah Pagu Indikatif bapak Rp.3.409 Triliun, sudah lumayan pak. …(rekaman tidak terdengar) tetapi kita jangan berpikir ke belakang terus yang ke depan itu harus kita pikirkan pak. Transmigrasi yang sudah dituai untuk improvisasi sebesar 904 itu pastilah sekarang ini mungkin di Lampung itu tol ada perubahan, yang namanya transmigrasi lokal, itu orang mau jual tanah tidak bisa dan bisa diproses sama Agraria disana. Karena katanya ini adalah sertifikat transmigrasi dan ini harus menghilangkan ini harus melatih Kementerian Transmigrasi dari bawah sampai atas.

Nah oleh karena itu, saya mengharapkan supaya Bapak Menteri turun ke bawah. Ini jujur saja sertifikat-sertifikat itu sampai ke sudut situ, tapi tanahnya tidak ke sudut situ, beda. Yang penting itu dulu Bali, kalau dia 200 baru bagi semua, tempat tidak tahu kita, setelah ditelusuri baru kita buat. Nah inikan merugikan yang seperti ini dan mereka itu tidak semuanya berhasil. Oleh karena itu, tolong solusi jalan keluarnya bagaimana yang sertifikat tanah ini supaya bisa dijualbelikan dan masyarakat membutuhkan …(rekaman hilang).

Kemudian di depan bapak-bapak ini ada 2 fungsi bapak itu sebagai Menteri Desa dan sebagai Menteri Transmigrasi. Desa ini pak kalau terus-terusan kan desa kan ada 3 tingkatan, desa mandiri, desa berkembang, desa massif, jumlah bantuan tidak sama. Desa mandiri berebut-rebut lagi mau masuk desa sebentar lagi, supaya banyak bantuan.

Nah ini Pak kalau kita tidak telusuri penggunaan dan sasarannya itu bisa salah program itu, sebab itukan berkisar antara 800 sampai 1,2. Jadi ada transparannya yang sudah mempercantik jalan-jalannya dikasih macam-macam, yang pada pokoknya tidak transparan bagi masyarakat lagi. Kalau itu dibelikan sama tanah 10 hektar, kemudian dia tanam tanah itu dengan pisang … menghasilkan dan masuk di dalam your best. Sehingga lama kelamaan itu desa-desa kampung itu tidak lagi begitu mengharapkan bantuan dari atas, karena mereka sendiri sudah punya penghasilan, kita arahkan seperti ini.

(17)

Kemudian perlu bapak ketahui masih ditemukan oknum-oknum desa yang mengutamakan pribadi, mengutamakan keluarga, mengutamakan kelompok. Contoh saja, saya ada bantuan langsung kepada mereka. Nah justru orang-orang yang membutuhkan ini, yang dapat itu adiknya, besannya, ini sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Nah inilah gunanya Pak Menteri pendamping-pendamping itu. Pendamping-pendamping itu harus berani orangnya dan saya harapkan juga pendamping itu pendamping yang profesional, bukan pendamping dari Pak Syahrul, Pak Syahrul hitung kira-kira. Jadi betul-betul sampai profesional diatur.

Kemudian saya berpendapat mengenai, saya masih bisa tidak. Ini kita tidak usah-usah besar-besarlah namanya juga Kementerian Desa. Yang ada disitu air terjun yang kecil-kecil tetapi sudah dibuat oleh Kementerian Desa jalan setapak lewat situ.Kemudian tebing di atas itu dan lebih dekat atau tempat istirahat, ini sudah mulai berkembang, kan rakyat sekarang memerlukan itu, membutuhkan itu. Apalagi 3-4 bulan kita kena Covid 19 ini dan ini menghasilkan dengan tempat yang sedikit saja sekali masuk 5 ribu sudah menghasilkan.

Kemudian ada tambahan, kiriman orang pak, bukan dapil saya pak. Kiriman orang dari Nusa Tenggara Timur. Jadi disitu itu di kabupaten di penduduk awal, jumlah kecamatan sebanyak 17, jumlah desa 175. Dimana desa yang sudah kita aliri listrik sebanyak 102 desa sedangkan desa-desa yang belum dialiri listrik 80 desa-desa.

Kemudian jumlah rumah yang ada lebih kurang 27 ribu rumah dimana jumlah rumah yang sudah dialiri listrik sebanyak 19 ribuan. Sedangkan jumlah rumah yang belum dialirin listrik sebanyak 7 ribu kepala. Ini perlu diperhatikan pak, karena negara kita ini adalah negara nusantara, dari ujung ke ujung, yang merupakan kesatuan dan semuanya mau menikmati dan lain sebagainya.

Saya rasa demikian Pak Ketua. Mohon maaf kalau ada lebih kurang. Sekian, terima kasih.

Billahi Taufiq Wal Hidayah,

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si): Baik terima kasih Pak Tamanuri.

Selanjutnya Pak Hamka, bersiap-siap Pak Suryadi. F-PG (Drs. HAMKA BACO KADY, MS.):

(18)

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Pimpinan serta seluruh Anggota yang saya hormati. Terima kasih atas waktunya.

Mungkin saya mohon izin Pak Ketua, saya minta waktu karena sebentar saya bergeser ke anggaran.

Pertama, kalau melihat pagu indikatif ini Pak Menteri, artinya pagu indikatif yang diberikan kepada seluruh kementerian dan lembaga itu berdasarkan asumsi sementara. Asumsi sementara ini masih pembahasan melihat pertumbuhan ekonomi kita triwulan pertama masih mencapai 2,9 kwartal kedua insya allah pasti minus karena dimulainya dengan PSBB.

Mudah-mudahan Triwulan III dan IV itu bisa mencapai angka 4,5 sampai 5. Paling minimal, angka 4,5 pertumbuhan dengan kurs dollar 15 ribu lebih. Apa yang ingin saya sampaikan disini bahwa pagu indikatif ini masih sifatnya sangat tergantung bagaimana pagu ini dikelola oleh Pemerintah dengan baik dengan new normal-nya.

Nah oleh karena itu, di dalam menyusun program-program kerja yang berdasarkan pagu indikatif ini. Saya berharap mengarah kepada program-program yang prioritas-prioritas betul. Ini yang ingin saya sampaikan dan penyesuaian pimpinan nanti, mungkin sebentar ini tidak ada penyesuaian. Nanti setelah pengantar nota keuangan baru akan ada penyesuaian nanti setelah Agustus.

Yang ingin lagi saya garis bawahi bahwa diskusi mengenai tempat untuk mendapatkan anggaran yang baik itu harus antara Bappenas, Kementerian Keuangan dengan Kementerian Teknis. Disitulah sebenarnya harus digodok sedemikian rupa, kita harus kawal itu dengan baik sehingga anggaran itu bisa ditambah atau minta program tambahan. Itu kira-kira yang pertama.

Yang kedua, anggaran yang berdasarkan kedirjenan disini, memang Ditjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa ini Rp.2 triliun lebih, tetapi ini bukanlah berarti anggaran ke ditjen itu. Karena sebagian besar, 1,8 kalau saya tidak salah atau 1,6 itu adalah pembayaran gaji pendamping, itu luar biasa. Jadi ini yang Ditjen Pembangunan dan Pemberdayaan ini tidak diserap Desa yang 1,6 itu, itu pembayaran gaji.

Apa yang ingin saya sampaikan dalam anggaran ini Pak Menteri, coba kita evaluasi juga mengenai pendamping itu. Karena di bawah pengkajian kita semua, di bawah Komisi V, efektivitas daripada pendamping itu sendiri 1,6 walaupun itu kecil sebenarnya karena seluruh Indonesia, nah efektifitas. Nah terkait dengan itu, berdasarkan apa yang saya alami di daerah Pak Menteri. Saya juga sudah sampaikan ke Pak Sekjen itu ada beberapa aturan-aturan yang tumpang tindih antara Kementerian Keuangan dengan Kementerian

(19)

Desa. Itu juga sudah saya laporkan dan saya sudah sampaikan kepada Pak Sekjen.

Misalnya, BLT berdasarkan SK Surat dari Kementerian Keuangan, BLT Tahap II itu Rp.300 ribu. Saya mudah-mudahan sudah disesuaikan suratnya atau SK-nya Pak Menteri karena timbul masalah di bawah tahap kedua itu masih mau bayar 600 sedangkan ada surat Kementerian Keuangan bersamaan ini pak. Jadi yang mana mau diikuti, cepat itu harus disampaikan ke desa.

Nah kalau diikuti SK daripada Kementerian Desa, ya harus BLT yang 600 padahal Kementerian Keuangan 300. Jadi yang bingung itu adalah tingkat-tingkat pendampimh sendiri, tapi mudah-mudahan selesai dan ini juga sudah saya sampaikan pada waktu yang lalu kepada Pak Sekjen pada saat saya turun.

Nah selanjutnya Pak Menteri, Pak Tamanuri sudah menjelasan mengenai transmigrasi. Jangan kita menganggap daerah transmigrasi itu dikesampingkan programnya. Karena investasi kita itu sudah besar pak, kasihan pak pembinaan transmigrasinya itu orang-orang itu harus diberdayakan juga.

Nah kasihan ini dari tahun ke tahun kita investasi pak. Kalau tidak diberdayakan transmigran dari situ, itu akan bisa kembali tinggalkan rumah itu kalau tidak ada pekerjaan. Saya pernah dapatkan 1 lokasi di daerah saya. Mudik bareng Pak Menteri, mudik bareng tidak pulang-pulang sudah. Yang namanya di Kabupaten Takalar, di Tanah Keke pak itu mudik bareng tidak pulang.

Nah disini ada beberapa program sebenarnya pemberdayaan masyarakat disana, apalagi kita mengharapkan ketahanan pangan ini, ada program-program yang bisa diberikan kepada daerah-daerah transmigrasi atau daerah lainnya untuk mendukung program ketahanan pangan ini.

Jadi jangan sampai dianggap suatu daerah transmigran atau daerah transmigran untuk perubahan itu dianggap tidak terlalu penting. Kalau menurut saya investasi yang besar ada disitu Pak Menteri.

Jadi saya berharap ada Dirjen Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Pemukiman Transmigrasi juga harus dipikirkan. Jangan sampai anggarannya dipretelin terlalu jauh sehingga tidak bisa penempatan daerahnya, karena ada keterkaitan dia.

Nah apalagi dalam kondisi pandemic ini, ketahanan pangan itu juga menjadi fokus perhatian Pemerintah. Jangan kita abai disitu pak. Ini saya lari lagi ketahanan bahwa indikator nanti yang menentukan anggaran kita bisa disesuaikan naik itu setelah Triwulan III. Kita akan lihat nanti, dan saya yakin dan percaya dengan new normal ini pasti dia positif walaupun pasti negative di bawah 1 nanti Triwulan II itu tidak dapat.

(20)

Kalau kita nanti triwulan III dapat 3 dan keempat dapat 4, makanya appraise nanti akan jatuh pada 4,5 sampai 5,5 berhubungan. Artinya apa? Pagu Indikatif ini masih bisa disesuaikan atau tidak? Karena asumsi minimal yang dipake dalam Pagu Indikatif 4,5, padahal Pemerintah itu mengharapkan 5,3 atau 5. Nah kalau pertumbuhan ini jalan bersama programnya.

Saya kira itu Pak Menteri catatan-catatan saya.

Terima kasih Pak Lasarus Ketua telah memberikan kesempatan kepada saya. Ini sementara mohon maaf barangkali saya harus tinggalkan atas putusan Komisi V membahas disana. Nah kalau ada penambahan nanti, nanti kita fokus pada tripartit pak. Apapun yang kita bahas kalau kita tidak kawal di tripartit pertemuan itu pasti tidak akan ada penyesuaian-penyesuaian.

Saya kira demikian Pimpinan. Terima kasih atas waktunya dan jawabannya boleh tertulis karena saya harus melanjutkan perjuangan lagi di Badan Anggaran untuk menyusun Asumsi Makro di dalam penyusunan APBN 2021.

Terima kasih. Lebih kurangnya, saya mohon maaf. Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si):

Baik terima kasih Pak Hamka.

Nanti selesai dari Banggar lapor Pak Ketua ya? Ya baik silakan sekarang Pak Suryadi, bersiap-siap Pak Hasan Basri Agus.

F-PKS (H. SURYADI JAYA PURNAMA, S.T.): Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Terima kasih Pak Ketua.

Pak Menteri dan jajaran.

Tadi penghormatan sudah diwakili oleh Pak Ketua dan Pak Tamanuri tadi 10, kalau saya 1 saja Pak Ketua. Saya mulai dari 1A.

Saya mengkomentari tentang tadi di awal Pak Menteri menyampaikan adanya perubahan struktur organisasi kementerian dan bercita-cita menggunung. Hanya saja barangkali akan lebih baik tidak saja mengubah kamar-kamar tapi juga fungsi kamar. Maksud saya, pengalaman-pengalaman sebelumnya banyak sekali yang seharusnya menjadi kewenangan kementerian desa itu tentu ada di kementerian lain. Satu contoh tadi Pak Hamka juga sampaikan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Dana Desa, itukan Menteri Keuangan terlalu jauh mengintervensi. Harusnya namanya Menteri Desa, desa dengan segala

(21)

definisinya, dengan segala dinamikanya. Yang punya kompetensi di situ adalah Kementerian Desa, bukan Kementerian Keuangan, berapa jumlah yang harus dibantu, apa jenisnya dan seterusnya.

Ini harusnya menjadi kewenangan Menteri Desa, Menteri Keuangan mestinya yang mengatur tentang mekanisme pencairan dan pelaporan. Kalau ada dana, ini dana Pak Menteri silakan diatur seperti apa, kan kira-kira begitu dan banyak lagi kewenangan-kewenangan yang menurut saya menjadi tumpang tindih.

Termasuk kalau kita kembali tentang Undang-Undang Nomor 2, APBN kita ini kan sebagian besarnya diatur oleh Kementerian Keuangan dengan dasar uang kemudian bisa mengintervensi semua kementerian. Saya kira ini kita dukung Pak Menteri, usulannya tidak saja membahas ruangan tetapi juga fungsi ruangan ini diperbesar supaya makna Menteri Desa ini jadi lebih kuat. Itu yang 1A.

1B Pak Ketua, ya mohon maaf supaya tidak terlalu tegang Pak Ketua. Tentang deadlock, ada sekitar, hampir Rp.200 miliar untuk pembayaran gaji dari pendamping ini yang direncanakan 2021. Kita tahu bahwa 2020 inikan belum selesai, artinya belum terjadi. Apakah kita akan menunda? Walaupun pada pembahasan sebelumnya sudah terjadi pemotongan tapi kan realitanya bahwa APBN kita di 2020 yang sedang berjalan ini sangat dinamis. Menteri Keuangan berkali-kali melakukan perubahan, ya walaupun misalnya Perpresnya begini itu bisa dikoreksi oleh Permenkeu.

Nah maksud saya, barangkali Pak Menteri juga bisa mencoba mengotak-ngatik kembali Anggaran 2020 ini, supaya tidak kita secara sengaja menjadikan beban di 2021. Kita akan mendorong ya, masih ada kemungkinan APBNP dan seterusnya. Supaya kita sudah senang anggarannya naik 3,4 ternyata itu utang di tahun sebelumnya. Jadi jangan sampai seperti itu dan ini mungkin perlu dijelaskan kenapa juga ada gebrakan. Apakah jumlah tenaga yang bertambah ataukah hanya uangnya yang berkurang?

Berikutnya Pak Menteri, saya mengapresiasi beberapa program dan tadi sebagian besarnya memang berbasis masyarakat karena masyarakat kita memang lebih banyak di desa. Nah saya mengusulkan kalau fokus kita disini adalah 2021 pemulihan industri, pemulihan pariwisata dan pemulihan investasi dan satu sudah direspon dengan program desa wisata, saya mengusulkan ada desa industri pak Menteri.

Bahan baku industri kita itu sebagian besar ada di desa tetapi masyarakat desa yang memiliki makna industri melimpah itu tidak bisa sejahtera. Karena penjualan bahan baku tidak memiliki nilai tambah. Kalau Kementerian Desa bisa membuat program industrI di desa yang berskala mikro kecil dan menengah. Saya kira sebagian besar masalah di Indonesia selesai dengan program. Supaya industri itu tidak hanya ada di industri-industri berskala besar di wilayah-wilayah atau pinggiran perkotaan, tetapi betul-betul industri yang dijangkau oleh masyarakat desa. Karenanya,

(22)

mungkin perlu ada program khusus dengan judul besar “Desa Industri” karena ada kebijakannya sangat jelas, itu fokus untuk pemulihan industri.

Nah industri besar ini akan sulit untuk bergerak di situasi pandemic ini, karena badannya terlalu besar, jadi kurang lincah. Tapi kalau industri yang di desa ini dalam sehari 2 hari mereka bisa berproduksi karena mesin-mesinnya juga sangat sederhana, bisa dimultikan ke kebun yang satu ke kebun yang lain begitu dengan skala yang lebih kecil.

Saya kira ini mungkin perlu menjadi perhatian Pak Menteri dan adapun yang lain-lain tadi masalah komunikasi kita juga sangat mendukung. Kemarin juga saya singgung agar komunikasi yang baik antara Pak Menteri dengan Komisi V tidak saja menjadi budaya personal tetapi menjadi budaya organisasi.

Kita berharap Pak Menteri juga memberikan arahan yang tegas kepada seluruh jajaran agar seluruh jajaran di Kementerian Desa ini bisa berkomunikasi, berkoordinasi dengan baik dengan para Anggota di Komisi V. Terima kasih Pak Ketua.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si): Wa’alaikumsalam.

Terima kasih Pak Suryadi.

Silakan Pak Hasan Basri, bersiap-siap Pak Rifky. F-PG (H. HASAN BASRI AGUS):

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama-tama kami ingin sampaikan kepada Pak Menteri, kami memberikan apresiasi yang cukup tinggi terhadap program bapak dan kami menilai bahwa program ini cukup baik dan bagus dan dirasakan oleh masyarakat.

Saya menggarisbawahi bahwa berdasarkan memang data di pihak bapak ini Kemendes cukup akurat, relatif ya. Walaupun masih ada kelemahan-kelemahan dibandingkan dengan, mohon maaf tadi saya katakan program tadi … tadi, dan ini tidak lain tidak bukan adalah atas kerja keras petugas-petugas bapak yang di lapangan.

Jadi oleh sebab itu, saya ada beberapa desa yang saya kunjungi, ada beberapa kabupaten yang saya langsung memberikan penjelasan kepada mereka. Tetapi ada 1 hal saya ingin sampaikan kepada bapak tentang honor petugas bapak Lapangan menurut informasi dibintangi dan dilaporkan kecil. Kemudian nanti dibintang lagi, kalau bisa ya tidak dibintang dan saya membuat surat kepada Pak Menteri. Salah satu yang ingin saya sampaikan keluhan dari petugas bapak di lapangan. Itu yang pertama.

(23)

Yang kedua, masalah peran bapak untuk menambah bantuan 3 bulanan. Kalau yang pertama 600, yang kedua 300, perlu dikoordinasikan betul nanti bisa heboh di lapangan. Kemendes 6 bulan kasih bantuan, pertama 600, kedua 300, jangan-jangan sosial tidak ada. Itu nanti akan meribut data masyarakat kita pada desa termasuk juga Pak Gubernur, Pak Bupati. Gubernur jangan-jangan mungkin hanya 3 bulan, ya bapak 6 bulan. Ini masuk dalam rangka nanti jangan sampai bentrok kegiatan ini dengan instansi lain juga memberikan bantuan kepada warga.

Kemudian yang selanjutnya saya tadi melihat data tentang status desa, ada desa mandiri, desa berkembang dan desa tertinggal. Kalau kami melihat pak kami minta data, kalau bisa setiap provinsi kami dimiliki data dalam rangka pengawasan kami terhadap desa-desa yang tertinggal terutama. Kalau yang berkembang dan mandiri, saya kira tidak begitu jadi target dan sasaran kami, yang tertinggal ini dengan indikator-indikator desa tertinggal itu apa?

Dan kami juga inginkan agar Kementerian Desa mempunyai target per tahun tentang pemberantasan desa tertinggal itu dan sampai tahun terakhir kalau tidak salah ini kelihatannya tinggal lagi 9.120-an. Bayangkan dengan itu, sampai sejauhmana dampaknya dengan adanya per orang. Apakah ada usulan ya meski ada penambahan orang sedikit, kalau desa tertinggal apakah juga demikian? Itu yang ketiga.

Yang keempat pak, ini kaitannya dengan penghargaan terhadap Bupati, Walikota dan Gubernur. Hemat kami kalau bisa per tahun dikasih penghargaraan terhadap Bupati, Walikota, Gubernur sekalipun Camat. Ini pengalaman dulu waktu kami mensukseskan Program KB. Itu kasih penghargaraan per tahun kepada Kepala Daerah yang bisa peningkatan, merubah status desa tertinggal menjadi desa mandiri atau lain-lain. Sebab kita inikan kalau penghargaan akhirnya mereka juga bersaing bagaimana mengubah status desa tertinggal menjadi tidak tertinggal.

Kemudian selanjutnya, kaitan dengan yang lain-lain pak kalau tadi masalah anggaran, saya pikir memang kalau bisa nanti ke depan, bantuan untuk bantuan desa dana desa itu nanti kita atur lagi. Kalau tadi teman-teman terdahulu menilai bahwa dana bantuan untuk desa yang Rp.1 miliar itu kalau bisa ditambah, itupun sekarang ditambah 1 milyar melihat sebagian besar masih di bawah Rp.1 miliar.

Kalau bisa capaian dan program tahun ini bisa ditargetkan bisa tercapai pada … Sebab terus terang memang dampaknya terhadap perkembangan ekonomi masyarakat desa. Kemudian kesejahteraan masyarakat desa tentang bantuan ini cukup besar dan sangat menarik dan betul-betul membantu masyarakat kita. Salah satunya adalah jalan-jalan porsatapa ke kebon, ke sawah, semuanya sudah banyak yang buat, itu semua tidak lain tidak bukan ada bantuan, kemudian jalan desa.

(24)

Itu saja Pak Menteri beberapa hal yang ingin kami sampaikan. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si):

Wa’alaikumsalam.

Baik. Pak Guntur, ini mantan, dia menang medan lapangan. Pak Rifqi, bersiap-siap Bu Novi setelah itu Pak Eddy Santana. F-PDIP (H.M. RIFQINIZAMY KARSAYUDA):

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Pimpinan dan Anggota Komisi V yang kami hormati, Pak Menteri,

Pak Wakil Menteri dan seluruh Pejabat Eselon I Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi yang berbahagia.

Pertama, kami mengucapkan terima kasih karena Pak Menteri melalui Pak Sekjen memberikan progress pengucuran BLT kepada kami pada Tahap Pertama. Tentu progress itu di lapangan kami cross check karena kita semua tentu tidak ingin Pak Menteri hanya menerima data dari rekan-rekan di bawah termasuk dari pendamping desa. Jika di tempat-tempat lain nanti relative baik, di Kalimantan ada dinamika yang seperti bebas. Bahkan dari data saja ketika misalkan bikin undang ke kami itu masih ada kabupaten yang baru 25% penyaluran BLT dan yang 100% pun gejolaknya cukup kuat di masyarakat.

Ini saya kira akan menjadi hikmat dan pembelajaran kita untuk penyaluran pada tahap-tahap berikutnya dan jangan sampai suratnya hanya sekali, tapi tahap berikutnya tentu kami akan tunggu agar apresiasinya juga. Tadi Pak Ketua Komisi secara tersirat bilang kalau sebagai sahabat Pak Menteri bisa berbuat baik karena tak ada tak sayang tetapi mungkin sebagai mitra kerja tentu kewajiban kita untuk saling mengingatkan dan memperbaiki.

Yang kedua, posisi teman-teman pendamping desa, menurut saya posisi yang sangat strategis dalam rangka membantu dan mendampingi. Agar dana desa termasuk APBDes secara keseluruhan itu bisa maksimal dan semuanya dilaksanakan. Hanya saja kita masih berdebat, sejauhmana memang posisi pendamping desa yang notabene-nya adalah kepanjangan tangan dari Kementerian Desa. Karena kita kan tidak punya bahas lain misalnya seperti kementerian lain di tingkat provinsi, kabupaten atau di bawahnya. Ini contohnya APBN tetapi yang handle lebih banyak adalah Kepala Dinas Petin tempat masing-masing.

(25)

Jadi Pak Menteri, Pak Presiden punya kebijakan tetapi yang menuai keuntungan para bupati, pejabat di bawah. Ini kita Menteri berdarah-darah ini kalau sudah Pileg, sudah Pilpres. Kita setting anggaran di pusat, kita bikin kebijakan di pusat, yang untung yang ikut Pilkada.

Kita tidak usah sebut partailah, secara global begitulah di pusat. Karena itu, saya kira kita perlu memikirkan secara serius agar kepanjangan tangan ini jangan hanya terima honor, tetapi kemudian kiblatnya masih 2, ke Al Harod, dan ke Al Aqsa. Tidak boleh itu bapak, harus jelas kiblatnya dan Komisi V ini 1 kiblat dengan Pak Menteri dan kalau Pak Menteri beda kiblat juga dengan kita, nah ini makin ruwet persoalan ini.

Dalam konteks pendamping desa menurut saya kalau kiblatnya nanti sudah diperjelas nanti maka mereka harus bisa melakukan review secara serius terhadap dana APBD. Sehingga fungsi mereka itu betul-betul mempunyai kekuatan dan karena itu memang pendamping desa kapasitasnya harus kita lihat betul kalau perlu kita tinjau ulang di beberapa tempat.

Karena sebagian cuman ngandelin pernah jadi petugas pemberdaya di masa-masa lalu yang tentu dinamika inikan masa kini belum tentu cocok. Belum lagi kalau kita bicara hal-hal yang lain yang saya kira kita bisa bicara di luar ruangan dan dalam dimensi kami yang tidak terbuka seperti sekarang.

Yang ketiga, soal transmigrasi bu. Saya beberapa waktu yang lalu menjadi narasumber bersama Pak Dirjen Pak Nurdin oleh teman-teman DPP Patri. Saya kira urusan transmigrasi ini bukan menjadi isu nomor satu, tidak jadi mainstream di tempat kita sekarang.

Oleh karena itu, saya pikir kita perlu memperhatikan juga urusan-urusan itu. Termasuk bagaimana dukungan pendanaan kepada 2 Direktorat Jenderal saya kira yang mengurusi urusan transmigrasi. Karena transmigrasi ini banyak juga yang dalam “tidak terlalu berhasil”. Hanya pindah dari tempat penduduk yang padat ke tempat penduduk yang tidak padat tetapi kesejahteraan tidak kunjung datang. Bahkan di banyak tempat justru berkonflik dengan orang-orang kampung, dengan orang-orang lokal.

Nah ini yang perlu kemudian kita cek betul, urusan konflik ambil hadiah misalnya masuk ke kampung, ladang kakek nenek kita diambil, dan kalau konfliknya atas nama hukum ya kita kalah terus. Padahal waktu masuk dipetakan dengan benar karena dulu semangat yang penting pindahin dulu, urusan belakangan.

Nah sekarang ini jadi masalah dimana-mana dan dari seluruh persoalan konflik agraria baru sekitar 30 sekian persen yang diberesin. Itu urusan legalisasi tanah, dan belum lagi urusan sosialogis dan yang lain-lain. Karena itu, tidak adil kalau Direktorat Jenderal ini anggarannya tidak besar pak, kalau kita mau menyelesaikan persoalan warisan sebagian besar warisan di masa lalu. Tapi kan kita tidak boleh kemudian mengelak atas tanggung jawab ini di masa-masa sekarang.

(26)

Yang terakhir pak soal BumDes dan Desa Wisata. Ini kalau tadi Pak Menteri dengan Bahasa Pak Menteri inikan Guru Politik kita semua, senior politik kita. Nanti lokasinya kita serahkan ke teman-teman Komisi V, tetapi kalau dibagi 52 tidak cukup pak, BumDes-nya, Desa Wisata-nya. Jadi pada akhirnya omongan Pak Menteri menjadi tidak opticable begitu. Jadi saya tidak perlu lanjut lagi, nanti saya kualat kalau sama kakanda ini ngomong terlalu jauh, tetapi ini warning dari kami pak.

Jadi jangan kemudian antara apa yang disampaikan dengan data itu tidak sinkron. Saya tidak mau kita minta-minta Kalsel, yang lain minta dan mungkin tidak bisa dipenuhi karena memang sedikit banget. Sementara banyak hal yang tidak perlu diurus oleh Kementerian Desa, karena sudah diurus oleh Kementerian lain itu dimasukin kesini. Bangun jalan itu bisa pak pakai uang PU, kita masih punya banyak kegiatan. Bangun urusan pertanian tidak perlulah Kementerian Desa ada Kementerian Pertanian.

Fokus saja kita pada urusan-urusan desa dan ini kalau memang beberapa Direktorat Jenderal itu memang anggarannya terkesan dipaksakan, saya mengusulkan ada strukturisasi di Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi. Agar tidak terjadi pemborosan, jangan nanti alasannya di mitra kita itu kalau adinda tidak mungkin kita kasih anggaran, kalau begitu saya kira kita terus mewarisi persoalan bobroknya birokrasi ini dari dulu dan di masa mendatang.

Mohon maaf, mohon ampun ini di Bulan Syawal, karena itu mudah-mudahan semuanya kita diridhai oleh Allah SWT dalam mengemban amanah ini di masa-masa mendatang.

Billahi Taufiq Wal Hidayah,

Wallahumma Fiq Illa Aquamitoriq,

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si): Pak Menteri.

Jadi apa yang disampaikan oleh saudara kita itu, mohon atensi Pak Menteri. Tadi saya juga mau ngomong hal itu yang mau saya sampaikan. DIPA Anggaran kami sudah menurunkan … kita bisa geser-geser pak. Ini kalau kami geser-geser kesini kan tidak elok, sudah disampaikan tolong nanti Bapak dengarkan secara elok. Sekarang anggota kita berapa, kita 52, programnya? Programnya 50, kita pimpinan relakan saja tidak usah dapat.

Jadi saya rasa ini dicatat tetapi bukan serius. Kalau kita geser-geser kan tidak elok pak, bapak yang tahu medan disana dengan skala prioritas. Kami di Komisi V ini berusaha menjadi mitra yang baik karena bapak sudah bikin studi, kemudian perencanaan dan semua kegiatan yang ada tadi sudah ada studinya, sudah ada perencanaan. Nah kalau kami geser-geser disini tidak tahu studinya, tidak tahu perencanaan tidak tahu. Namun demikian yang

(27)

tadi disampaikan memang itu fakta. Ya karena ada fungsi masing-masing pasti, seperti dari awal.

Saya rasa demikian tidak perlu kita pertajam, nanti saya ngobrol sama Pak Hari saja.

Selanjutnya saya persilakan Ibu Novi, bersiap-siap Pak Eddy Santana. F-P.GERINDRA (Hj. NOVITA WIJAYANTI, SE, MM):

Terima kasih Pimpinan.

Pak Ketua, Wakil Ketua dan Bapak Ibu yang saya hormati, Pak Menteri dan jajaran, seluruhnya yang saya hormati, Pak Wamen, semuanya.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Langsung saja karena katanya Pak Menteri mau cepat-cepat, padahal biasanya kita tidak suka yang cepat-cepat.

Pak Ketua.

Langsung saja Pak Menteri.

Kalau saya ini sejujurnya sangat setuju bahwa Anggaran Kementerian Desa itu banyak. Karena apa? Karena yang kita tahu daerah-daerah inikan mayoritasnya itu desa, 70% penduduk ada di desa. Kemudian yang miskin juga kota sama desa banyak desa tetapi sangat wajar kalau anggaran di desa itu harusnya banyak. Tetapi realitanya seperti ini dan kebetulan juga disini seperti yang tadi teman-teman sampaikan, mayoritas tahun ini untuk pendamping desa banyak sehingga anggarannya yang untuk program-program di desa menjadi kurang.

Apalagi dialihkan kepada bantuan-bantuan yang kemarin agak didengungkan karena datanya kurang tepat dan lain sebagainya. Jadi yang pertama harapan saya bantuan tersebut datanya ya mumpung sekarang desa diperbaiki. Tolonglah segera diperbaiki karena yang tepat dapat bantuan kalau tidak ya, kalau bantuan itu pasti dia juga kepengen. Jadi tolong dikoordinasikan dengan jajaran-jajaran yang berkepentingan.

Kemudian yang berikutnya adalah Anggaran Desa, saya berharap sekali Pak Menteri ada target-target khusus setiap tahun. Mungkin tadi sudah disampaikan oleh Pak Herson, tetapi saya ingin sampaikan bahwa di Indonesia di desa tertinggal kemudian berkembang dan bahkan sangat tertinggal, kemudian juga mandiri, maju.

Saya ingin setiap tahun Pak Menteri dan jajaran bisa menyampaikan target tahun depan itu yang tertinggal itu menjadi berkembang berapa, begitu pak. Kemudian yang sangat tertinggal itu berapa menjadi berapa? Jadi kita

(28)

tahu bahwa semangat yang seperti kemarin saya sampaikan bahwa anggaran di desa itu kan pikirnya adalah mengangkat perekonomian yang ada di desa.

Supaya yang miskin menjadi tidak miskin terus apalagi sekarang ini Covid banyak sekali masyarakat yang mendadak miskin atau bahkan pura-pura menjadi miskin agar supaya mendapatkan bantuan. Jadi poinnya adalah target setiap tahun ke depan sehingga yang sangat tertinggal menjadi meningkat baik. Kemudian tertinggal menjadi berkembang atau bagaimana dengan jumlah-jumlah yang ditargetkan oleh Pak Menteri.

Kemudian saya mendapat informasi mengenai pendamping desa yang wacananya katanya akan di-ASN-kan. Nah saya ingin di forum ini daripada saya ditanya oleh pendamping desa.

Saya tanya apa betul ada wacana pendamping desa itu akan di-ASN-kan atau ditingkatdi-ASN-kan menjadi aparat begitu kontraknya? Sedangdi-ASN-kan banyak juga dari teman-teman banyak yang kurang, harus dievaluasi. Karena saya disini saya lihat banyak sekali dan anggaran mayoritas terhadap pendamping desa.

Kemudian yang terakhir Pak Menteri, program-program yang turun ke desa baik BumDes yang tadi cuman sedikit, kemudian desa wisata yang bahkan dibagi Anggota Dewan Komisi V saja kurang begitu. Nah ini juga kadang-kadang kan bahasnya agak-agak puyeng-puyeng begitu ini bagaimana? Sudah kalau ada juga kita tidak dapat, apalagi ada, kurang. Sudah begitu kadang-kadang kita mengusulkan supaya tidak dapat tahu-tahu di dapil kita turun itu barang begitu dan mereka tidak mau ini ada Komisi V di dapil.

Jadi harapan saya disini program yang turun khususnya Rp.3 miliar 52 Anggota di Komisi V itu dikoordinasikan dengan kita. Jangan sampai kita usulkan turun, tahu-tahu seperti embung umpamanya. Umpamanya saya usul embung, oh tidak ada bu disini embung, tahu-tahu turun, ada di beberapa desa.

Nah inikan sama saja, saya sih tidak mengerti. Saya yakin Pak Menteri dan jajaran di pusat menginformasikan untuk berkoordinasi dengan kita, makanya tertib sekali dari dulu, dari periode yang lalu juga saya sampaikan bahwa Pak Menteri dan jajaran jangan sampai jadi korban di rapat ini oleh ulah-ulah yang ada di bawah.

Karena sudah turun tetapi tidak dilaksanakan sehingga nanti Pak Menterinya yang jadi diuwel-uwel sama kita begitu. Diuyel-uyelnya tidak enak begitu, bagaimana sih masa kita tidak dapat, kita minta tidak dikasih, tahu-tahu turun begitu.

Umpamanya di Cilacap dapil saya di Banyumas, itukan bikin sakitnya itu disini begitu loh ya Pak Menteri dan lain sebagainya yang tidak satu program, pasti banyak sekali. Harapan saya, itu jangan-jajaran 52 khusus Anggota Komisi V ini dimana dana turun kita koordinasikan dengan kita,

(29)

supaya kita harmonislah begitu. Kalau mitra itukan kayak suami istri. Kalau satunya jalan sendiri itukan tidak enak, jadi mesti bermitra dan harmonis dan harapannya nanti di Banggar ini Pak Eddy Santana dan lainnya bisa memperjuangkan juga supaya anggaran desanya itu bisa meningkat.

Demikian Pak Ketua, Pimpinan semuanya, Pak Menteri. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Nanti kalau kurang, saya japri Pak Menteri saja. Terima kasih.

KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si): Baik.

Silakan Pak Eddy Santana.

F-P.GERINDRA (Ir. EDDY SANTANA PUTRA, M.T.): Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Komisi V yang saya hormati,

Ketua dan Para Wakil Ketua,

Anggota Komisi V yang sangat hormati dan Pak Menteri, Wakil Menteri beserta jajaran.

Pertama, tentu baru ketemu lagi setelah Lebaran dan saya mohon maaf lahir batin “Minal Aidzin Wal Faizin”.

Pak Menteri dan jajaran.

Tadi sudah banyak disampaikan, saya hanya mungkin tambahan perkuatan. Jadi pertama tadi sudah diingatkan oleh Pak Ketua masalah komunikasi. Nah sebetulnya ini pak, ini berawal saya pernah ngomong, waktu dulu pernah ngomong juga, saya rasa sudah 3 kali. Urusan pendampingnya itu apa?

Jadi kita itu tidak tahu, saya tidak kenal di provinsi, yang di kabupaten tambah tidak kenal lagi, di desa tambah lagi. Jadi siapa-siapa yang, tidak ada, tidak ada sama sekali koordinasinya. Padahal Kementerian Desa PDTT ini adalah mitra Komisi V, kami sampaikan juga. Ada 35.168 orang pendamping untuk target 2021.

Nah pertanyaan saya, ini rekrutmennya bagaimana di 2021? Apakah ini yang diambil yang lama atau yang baru lagi, setiap tahun ada? Nah kami juga sebetulnya ingin tahu, dibuka saja pak, secara terbuka rekruitmen ini sehingga tahu atau ya kasihlah kesempatan kami-kami ini juga ikut

(30)

berpartisipasi bersama-sama dengan Kementerian. Karena kami fungsi pengawasannya disitu untuk sama-sama melaksanakan itu proses rekruitmen. Saya kira jelas maksud kami.

Kemudian saya berbahagia sekali bahwa zaman Pak Menteri yang baru ini ada restrukturisasi organisasi. Tadi disampaikan juga beberapa teman, satu Direktorat Jenderal Eselon I, dilebur ya. Tadi saya lihat masih kebanyakan pak, masih terlalu banyak itu tapi kasihan Eselon I. Kasihan kalau dimerger lagi banyak yang hilang jabatan Eselon I. Tapi maksud saya begini, ini Kementerian Desa PDTT itu sama dengan PUPR karena dia mengelola 120 sampai 150 triliun, kalau kita hanya 3 sampai 4 saja. Apakah tidak ada evaluasi lagi? Coba diinikan lagi pak.

Mungkin lebih banyak jabatan fungsional lebih bagus karena masih jadi satu dia dan kalau dianggarkan 3. Jangan ada Kementerian Desa ini pekerjaannya sama, tumpang tindih, sudah ada yang diurus Bupati, diurus Gubernur, diurus yang lain-lain, ada PU juga, PUPR termasuk. Saya menginginkan Kementerian Desa lebih konsentrasi, pengembangan ekonomi misalnya desa, dan tidak perlu asas pemerataan keadilan pak.

Saya dari eskud, jadi kalau dapat kami itu besar Rp.1 miliar untuk SD, dulu azas pemerataan dibagi sekian ratus SD dapatnya pintu saja, pintu yang rusak, toilet, wc-nya, terus atap separuh. Nah itu mari kita tinggalkan proses seperti itu, tapi kita lihat mana yang perlu. Jadi kita bisa melihat iniloh desa yang setelah kami masuk, Kementerian Desa PDTT ini dari tertinggal menjadi baik, lebih baik ekonominya. Jadi masyarakat desa itu lebih sejahtera.

Nah saya kira seperti itu, bahwa ini masuknya sama, masuk di jalan pasar, masuk di jalan desa misalnya, bisa saja itu, tapi maksud saya tidak perlu seluruh desa diperhatikan, atau gantian saja pak. Tahun ini sekian desa ini tapi tuntas begitu ya, tidak perlu 35 ribu desa apa 10 ribu desa tuntas. Urusan peningkatan ekonomi desa tersebut sampai tadi BumDes-nya bagaimana, industri rumahnya waktu desa itu sejak mereka bisa menjual hasilnya, dan sebagainya bisa dipasarkan, sampai segitu.

Saya lihat belum ada pak, karena ini kelihatan-kelihatan juga tapi ada beberapa usulan kita buat Pak Jo tujukan kesana ada desa yang cukup berhasil untuk desa wisata, mereka yang mengelola, setelah dikasih BumDes dan dikelola oleh koperasi. Nah saya kira hal-hal seperti itu pak.

Dan kemudian terakhir masalah Transmigrasi pak. Ini hati-hati pak transmigrasi, banyak penolakan di daerah-daerah, banyak konflik. Sekarang kita ini pilah-pilah pak. Transmigrasi zaman Belanda itu kolonisasi itu sudah berhasil, kalau sudah besar tidak usah masuk lagi. Seperti di Sumatera Selatan Blitar, kemudian Tugu Mulyo, itu sudah masuk pak, sudah bisa menyekolahkan anaknya ke Pulau Jawa, ke Universitas terkenal, malah ada yang ke luar negeri. Itu sudah maju tapi masuk lagi transmigrasi yang belum berhasil yang disampaikan oleh teman-teman dan tidak perlu menambah dulu.

Referensi

Dokumen terkait

8. Hasil pengindraan jauh berupa foto udara dihasilkan oleh … a. Wahana penginderaan jauh yang memiliki ketinggian lebih dari 1.000 km dpal pada saat perekaman

Berdasarkan pendapat tentang tujuan membaca maka dapat ditegaskan bahwa tujuan membaca adalah untuk meningkatkan pengetahuan, serta mempersiapkan kemampuan anak dalam

Antuk sih Ida Shang Hyang Widi Wasa, Sekadi daging Pamidabdab semeton dadia sane sampun praside cumpu kayune sareng sami, Angganing Manggala Dadia lan Prawantaka Yadnya Pemerajan

Berdasarkan hal tersebut, hasil kajian dengan tiga sudut pandang analisis (relasi gender, posisi, dan konten) yang memiliki afirmasi yang lebih tinggi untuk nilai

Pada penelitian ini hipotesis 1 dan 2 akan menggunakan model regresi linier sederhana untuk melakukan pengujian dengan memanfaatkan program SPSS 20.0, sedangkan

Setelah pembuatan dan pengujian produk, kemudian masing-masing kelompok melakukan pemasaran produk melalui media promosi yang telah ditentukan oleh masing-masing

Dari 28 industri batik, jenis produksi yang paling dominan di Kampung Batik Laweyan adalah batik tulis dengan prosentase 40%, sedangkan posisi kedua terdapat batik

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu data profil pendidikan jenjang pendidikan dasar yaitu Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah