Bapak Ibu Wakil Ketua dan seluruh Anggota Komisi V.
Pertama, saya menyatakan bahwa siap memperbaiki komunikasi dengan mitra kerja Komisi V sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Insya Allah saya akan lebih masukan kita. Jadi mohon maaf selama ini mungkin belum terlalu detail dalam segi pola hubungan antara Kementerian Desa dengan Komisi V. Tetapi Insya Allah data karena tadi saya sudah sampaikan bahwa Pak Gatot Sudjito bilang tolong dibuka portalnya.
Kalau saya jawab, bukan portal dibuka, saya hilangkan portalnya. Itulah makanya dari awal kami sampaikan urusan fokus, kita bicarakan bersama-sama antara Kementerian Desa dengan Komisi V dengan tetap mempertimbangkan kriteria karena apapun nanti ada tolak ukurnya.
Ya tentu mungkin disitu akan ada perdebatan utamanya terbantu yang ada di dapil jawa, pasti akan ada perdebatan yang serius, tetapi akan tetap ada porsi, ada diskresilah, tetap ada diskresi.
Kemudian yang kedua, terkait dengan BLT. BLT ini memang momentum yang juga tidak dibayarkan oleh kementerian desa sehingga pada awalnya kita fokus pada Padat Karya Tunai Desa. Kita melihat pak Padat Karya Tunai Desa itu suatu kebijakan yang memang gentle, sebenarnya kan BLT sebenarnya tetapi ada produk. Nah ini bedanya Padat Karya Tunai Desa dengan Padat Karya Tunai di luar Padat Karya Tunai Desa.
Nah makanya hari ini kita memberikan arahan kepada desa-desa penggunaan dana desa untuk padat karya tunai desa difokuskan kepada desa bina wisata. Desa bina wisata itu saya minta difokuskan untuk penyiapan resort supaya tempat wisata yang selama ini tidak terawat karena tidak dikunjungi selama musim pandemik ini, ini dibersihkan dengan pendekatan padat karya tunai.
Sektor itu asetnya desa, selalu saya tekankan Pak asset desa. Kenapa? Karena ada desa wisata yang perpaduan antara aset desa dengan aset masyarakat. Misalnya, di Purbalingga itu ada dikelola oleh BumDes tetapi misalnya di zona taman itu mereka ada desa tetapi 1 pengelolaan. Nah tentu ini diharus dipisahkan dalam perawatan, kalau toh itu menggunakan pendekatan ini harus dihitung, tidak bisa kemudian, karena tidak dilakukan pemetaan secara benar.
Nah terkait dengan BLT, kita memang sejak awal sudah mengantisipasi berbagai hal. Sejak awal kita bicara indikator, apa sih indikator miskin? Pertama terjadi perdebatan dengan 14 indikator yang sangat tidak masuk akal dan itu sempat jadi polemic. Karena dikira akan menjadi keputusan Kementerian Desa, padahal kita kemudian menyederhanakan indikator. Filosofinya bahwa BLT, kebijakan BLT itu hadir karena Covid. Maka dengan demikian, maka ketika Covid sudah tidak ada, maka BLT juga tidak ada.
Jadi BLT ini hanya kebijakan sesaat saja sepanjang ada Covid tetapi nanti kalau Covid sudah tidak ada, maka BLT pasti juga tidak. Nah ini sekaligus juga menyambung dengan dana desa. Saya melaporkan bahwa dana desa sudah disiapkan untuk 2021. Sehingga perdebatan terkait dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 dimana disana ada kesan tidak ada dana desa lagi di 2021, di rencana pembangunan dan rencana anggaran yang dipaparkan oleh Bu Menteri Keuangan sudah jelas disana ada Dana Desa untuk 2021.
Bapak Ibu sekalian yang saya hormati.
Kembali ke masalah BLT. Itulah makanya kemudian kita di dalam melakukan proses pendataan dan tahap pengambilan keputusan siapa yang menerima BLT, kita agak detail. Pertama, pendataan oleh relawan Covid yang ketuanya Kepala Desa, wakilnya Ketua BPG, Anggotanya Aparatur Pemerintah Desa, Ketua RT, Ketua RW, Bapak Camat ataupun masyarakat dengan basis RT. Supaya lebih mudah dalam pemetaan dan dilakukan oleh 3 orang. Maksud kita itu sederhana kalau 3 orang itukan kalau bahasanya
adinda … karena tadi faseh dalam wallumma fiq, itu urusan kesepakatan. Nah maka 3 orang, kalau 3 orang menyatakan bahwa si A ini layak, maka sudah 3 perspektif menyatakan layak. Itu pak makanya kita meminta 3 orang yang melakukan pendataan.
Kemudian dibawa, itupun masih dibawa lagi ke Pusdesum untuk melakukan verifikasi dan penetapan. Kenapa kita melakukan itu? Saya sepakat dengan Pak Ketua terkait dengan data dan memang kita ingin melalukan perbaikan-perbaikan. Nah makanya pada beberapa waktu Covid memang kita fokus pada pemetaan kemudian perbaikan dan revitalisasi termasuk data pendamping desa.
Mohon maaf saya sendiri tidak banyak tahu apa sih tugas pendamping desa selama ini. Ternyata setelah saya masuk, saya dalami itu memang butuh penanganan agak serius. Makanya kemudian kita bangun sebuah sistem dan secara bertahap kita akan melakukan seleksi alam. Seleksi alam itu pasti jumlah pendamping desa setiap tahun akan mengalami penurunan. Karena apa?
Karena kita ingin kualifikasinya, kita ingin lebih meningkatkan profesionalitasnya dan kita membangun sebuah sistem aplikasi untuk memantau kinerja pendamping desa dalam bentuk self report. Kemudian self report itu kita verifikasi karena kalau kita melakukan evaluasi self report tidak mungkin. 30 sekian ribu pendamping desa dari 74.953 desa kalau tidak self report pasti tidak mungkin akan bisa terawasi dengan baik, utamanya adalah kinerja.
Tentu kami juga sangat terima kasih sekali tadi Bang Iwan menginformasikan ada rangkap, itu memang sudah masuk. Di dalam self report kita sudah masuk ada item menangkap apakah selain menjadi pendamping desa juga menjadi fasilitator atau pendamping di tempat lain.
Nah itu dalam proses. Insya Allah ke depan kita pastikan akan lebih memiliki kualifikasi dan tentu terkait dengan status, jadi status pendamping desa, bukan ASN. Kita mewacanakan pendamping desa itu menjadi P3K (Pegawai Pemerintah Perjanjian Kerja). Supaya apa? Supaya ada kejelasan dan saya bersepakat kita lagi berupaya agar pendamping desa ini menjadi bagian dari Kementerian Desa.
Sampai hari ini, mohon maaf pendamping desa belum sepenuhnya menjadi bagian dari Kementerian Desa, karena masih harus ada pelaporan dengan DPRD di Kabupaten. Menurut saya itu tetap harus tetapi memang harus kemudian, termasuk penggunaan dana desa pak.
Kita harus melakukan sedikit perombakan terkait dengan skala prioritas penggunaan dana desa. Saya sepakat kalau fokus tidak terlalu, tetapi kalau Bahasa jawa itu jika semua mau dijalani tetapi kami harus hati-hati. Jangan sampai kemudian regulasi yang kita keluarkan menimbulkan kritik dan penolakan karena dianggap terlalu masuk terhadap otoritas atau otonomi desa. Itulah makanya dalam hal tertentu memang kami harus masuk.
Misalnya, filosofinya begini, dana desa adalah APBN, bukan hibah ya tapi APBN.
Maka dana desa harus bersinergi dengan strategi pembangunan nasional dan tentu juga terkait dengan eletrifikasi. Di Indonesia ini masih ada 9 ribu sekian desa belum listrik menuju 100%. Maka di daerah-daerah itu fokus dana desa nanti 2021 prioritasnya untuk listrik, berdampingan dengan berbagai anggaran APBN lainnya.
Tentu ini butuh sinergitas dan kerja sama dengan berbagai kementerian dan Alhamdulillah kita sudah punya formula sementara ini. Sekaligus Bu Neneng, misalnya pertamanya ketahanan pangan di Kalteng yang sudah, sudah hampir. Jelas Kementerian Desa tugasnya memastikan lahan dan lahan itu bersertifikat. Akhirnya beres, makanya saya juga terus terang … masuk kesana karena saya tidak mau kemudian apa yang ditugaskan oleh lintas kementerian tidak bisa kita laksanakan dengan baik.
Yang kedua, penyiapan sumber daya. Kenapa kita sangat komplit dan fokus? Pertama yang diuntungkan nanti masyarakat di daerah itu, urusan profi, bibit dan pertanian, urusan pintu air dan seterusnya total itu PUPR. Nah kebetulan ini memang program khusus. Sekaligus tadi terkait dengan asumsi overlapping antara Kementerian Desa atau pembangunan di desa dengan kementerian lain.
Insya Allah kalau di desa tidak ada overlapping sampai hari ini. Kenapa kami katakan tidak overlapping? Karena hampir 100% desa ketika merencanakan pembangunan tidak mau duitnya keluar dari desa itu. Bahkan perbatasan pun yang ketika masih abu-abu mereka tidak mau. Nah itulah yang kemudian menjadi lahannya PUPR, kecuali program khusus yang memang menjadi skala prioritas daerah, tetapi kalau dana desanya tidak ada dana overlapping.
Justru mereka ini tidak mau pak duitnya kepakai bahkan ada deket-deketin desa lain itu juga tidak mau, ini juga pasti jadi masalah. Sehingga sekian ratus ribu kilometer, sekian ratus ribu irigasi jalan dan seterusnya, itu setelah kita petakan itu terputus-putus. Jadi desa ini sekian, desa ini, sementara guna angka desa, ini belum.
Nah kita di 2021 ingin menyambung, karena dari pendekatan ekonomis sangat tidak ekonomis kalau hanya terputus di masing-masing desa. Nah ini juga kita akan komunikasi dengan PUPR dan terkait berbagai kementerian.
Mudah-mudahan kemudian kita sudah bicara perdesaan, karena kalau bicara desa itu hanya satuan, kalau bisa … ini sekaligus menyangkut dengan BumDes. BumDes kalau hanya bertahan pada desa ataupun BumDes sendiri dia jalan, tetapi tidak akan pernah mencapai suatu titik tertentu yang kita harapkan. Maka BumDes inipun nanti kita harapkan menjadi BumDes Smart.
Nah sekaligus menyinggung masalah BumDes kalau tadi ada yang mensinyalir Anggota Komisi V bahwa sekian ribu BumDes belum apa tidak
hidup dan seterusnya, 2.000 atau berapa tadi, mohon maaf mungkin itu fitnah. Karena yang benar lebih dari itu pak. Jadi yang benar tuh lebih dari itu. Dari 51.000 BumDes yang terdata di kita, 37.000 yang transaksi, yang ada pembukuan, berarti selebihnya tidak.
Jadi kalau disebut 2.000 itu fitnah, karena kalau terlalu kecil dari kenyataan. Nah kita juga kaget kok bisa begitu kenapa? Setelah kita dalami ternyata pendirian BumDes itu pada awalnya menjadi gerakan daerah. Jadi Bupati membuat gerakan, kecuali Bupati Ponorogo. Bupati gebrakan semua desa bikin BumDes.
Akhirnya, kemudian saya sampaikan jangan begitu, bangun BumDes harus didasarkan pada kebutuhan. Pertama harus tahu kondisinya apa dulu, baru bikin BumDes. Kalau tidak benar, pasti tidak jalan. Nah memang ya harus ada, harus sabar, harus telaten dan seterusnya.
Jadi satu per satu kita benahi. Supaya apa pak? Supaya fokus kita memang ekonomi dan kesehatan. Karena sesuai dengan target capaian di pembangunan itu adalah sumber daya manusia dan ekonomi. Ketahanan ekonomi termasuk lumbung desa juga menjadi perhatian kita. Dengan demikian, maka hari ini misalnya yang kita lakukan, kita lagi mengidentifikasi BumDes yang sudah menggunakan digital dengan 3 kategori :
1. BumDes yang memang membangun aplikasi sendiri, platform sendiri untuk pemasaran dan lain-lain;
2. BumDes yang memanfaatkan kerja sama dengan e-commerce yang sudah ada (Bukalapak, Lazada, Shopee, dan lain-lain);
3. BumDes baru tingkat memanfaatkan media sosial.
Nah 3 ini lagi kita ubek-ubek untuk kita data, kemudian akan kita upayakan pendampingan. Kita memanfaatkan adanya kampus merdeka. Di dalam Kampus Merdeka itu ada 1 program yang namanya project desa dan justru disitulah kemudian kita terus lakukan kerja sama dengan Perguruan Tinggi. Dan kita minta kepada Perguruan Tinggi dalam melakukan pendampingan desa juga fokus.
Pertama tentu di sekitar-sekitar Perguruan Tinggi yang ada, kemudian kalau keluar, saya minta untuk ada koordinasi supaya apa? Supaya misalnya begini, ketimpangan antara Jawa dengan Luar Jawa. Nah Perguruan Tinggi Negeri itu saya minta justru fokus di luar Jawa. Misalnya, UGM kemarin saya sampaikan UGM dokter banyaklah, pendampingan desa di Indonesia Timur.
Meskipun sudah ada dan Insya Allah hampir semua Perguruan Tinggi Negeri sudah punya pendampingan di tempat-tempat yang membutuhkan pendampingan atau khusus. Namun sekarang kita coba kita sinergikan sehingga kita sampaikan target misalnya BumDes pendampingan dalam perencanaan dan penanganan akuntabilitasnya dan kita juga punya sistemlah.
Jadi Kementerian Desa punya sistem punya sistem untuk yang dipakai oleh BumDes tetapi kita juga tidak melarang BumDes bekerja sama dengan pihak ketiga untuk dalam pembuatan dan penerapan sistem.
Jadi intinya kita sepakat bahwa fokus kegiatan kita pembangunan desa pada sektor ekonomi. Mungkin itu Pak Ketua, dan Para Wakil Ketua yang bisa saya sampaikan secara umum.
Kemudian terkait dengan transmigrasi. Hampir semua sudah diintervensi meskipun agak telat. Misalnya KTM yang sudah stop 5 tahun itu, kemudian sudah diintervensi mulai 2017 sampai 2020, sudah diintervensi, tentu 2021 juga akan dilanjutkan intervensinya. Kita juga fokus juga ke transmigrasi, sekaligus saya ke transmigrasi.
Jadi begini, memang kita tidak menambah pak, sampai hari ini tidak ada persiapan. Karena apa? Karena itu biayanya tinggi dan kita tidak akan, kita sepakat dengan pernyataan salah satu Anggota tadi bahwa harus hati-hati karena penolakan. Sering berbeda antara statement Kepala Daerah dengan yang bekerja di lapangan. Satu Kepala Daerah siap, tetapi lapangannya tidak siap.
Makanya kita hati-hati betul untuk penanganan transmigrasi yang baru. Hari ini, kita fokus kepada pengananan daerah-daerah yang masih menjadi tanggung jawabnya Kementerian Desa dan belum diserahkan kepada daerah.
Nah ada beberapa yang sudah diserahkan ke daerah tetapi daerah minta diperbaiki dulu. Nah itu masih ada juga, contohnya tadi jembatan yang disampaikan. Itu sebenarnya sudah kita serahkan ke daerah, cuman daerah belum mau menerima. Nanti perbaiki dulu, baru diserahkan, ya betul juga sih masa barang rusak diserahkan. Ya kita lagi cari solusi untuk perbaikan.
Saya pikir itu Pak Ketua, dan Para Pimpinan serta Para Anggota Komisi, nanti akan kita sampaikan terkait dengan jawaban secara detail per penanggap dan seluruh masukan nanti kita akan inventarisasi. Jadi setiap dari rapat komisi, kami pasti melakukan pengkristalan, masukan-masukan yang memang harus.
Salah satunya tadi saya sepakat desa industri misalnya. Kemudian menelaah penginformasian lokus komunikasi saya sudah bayangkan. Nanti setelah selesai semua perencanaan pasti akan kita sampaikan kepada Bapak Ibu di Komisi V tempatnya dimana, lokusnya dimana setelah kita sepakati bersama-sama.
Baik yang itu terkait dengan skala prioritas pembangunan maupun yang terkait dengan kepentingan kesejahteraan rakyat masyarakat di sekitar kita masing-masing. Dan pada konteks disintensifikasi atau intensitas
komunikasi seperti yang saya sampaikan saya kira lebih masuk di tataran sistem supaya nanti saya bisa melakukan pengawalan-pengawalan.
Saya kira begitu Ketua, Para Wakil Ketua, Bapak/Ibu Wakil Ketua, dan para Anggota Komisi V. Kurang lebihnya mohon maaf.
Wallahumma Fiq Illa Aquamitoriq, Ihdinas Shiratal Mustaqin,
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS, S. SOS.,M.Si):
Saya rasa cukup ya Pak Menteri sudah menjelaskan secara panjang lebar. Pertanyaan kita semua nanti akan ditindaklanjuti lagi dengan jawaban dari dari Kementerian.
Cukup ya bapak ibu cukup? Baik, kita sudah cukup.
Sedikit saja Pak Menteri memang kalau untuk BumDes, saya rasa Kementerian Desa perlu masuk lebih dalam lagi. Alasan masa depan desa itu sebetulnya ada disini pak, untuk menghindari Tengkulak, bebaskan masyarakat dari praktek-praktek ijon digantinya dengan produk-produk mereka. Inikan yang melemahkan masyarakat desa ini juga adalah kekuatan-kekuatan pemodal yang masuk ke desa. Karena tidak ada pemersatu bagi kekuatan mereka yang ada disana.
Koperasi juga kadang-kadang pak bikinnya banyak tapi yang benar-benar melaksanakan kegiatan juga sangat sedikit. Nah melalui BumDes dengan didampingi oleh Kemendes, saya pikir ini salah satu harapan baru kita, salah satu jalan kita untuk mengangkat perekonomian di desa. Ya kita memang mau menuntaskan kemiskinan, tidak bicara baik pak, ekonominya kita sentuh.
Baik. Kalau demikian, langsung saja kita ke kesimpulan. Silakan Sekretariat Kesimpulan.
Draft Kesimpulan Rapat Kerja Komisi V DPR RI
dengan Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi 25 Juni 2020
1. Komisi V DPR RI memahami paparan tentang Pagu Indikatif Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi sesuai Surat Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional PPN/Bappenas Nomor S-376/MK.02./2020 dan B.310/M.PPN/D.8/PP.04.02/05/2020 tanggal 8 Mei 2020 tentang Pagu Indikatif Belanja K/L Tahun Anggaran 2021 serta hasil kesepakatan trilateral meeting tanggal 2-4 Juni 2020 sebagai berikut:
Dalam Ribuan NO . KEMENTERI AN PAGU KEBUTUHAN (Rp) PAGU INDIKATIF (Rp) SELISIH (Rp) 1. Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi 4.108.894.870,00 3.409.009.142,00 699.885.728, 00
Selanjutnya, Komisi V DPR RI bersama Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi akan memperjuangkan kenaikan anggaran sesuai dengan usulan pagu kebutuhan TA 2021 yang diusulkan untuk membiayai program-program prioritas sesuai dengan mekanisme pembahasan RUU tentang APBN di DPR RI.
2. Komisi V DPR RI bersama dengan Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi sepakat untuk menyesuaikan alokasi Pagu Anggaran belanja dan penyusunan dalam penyusunan program dan kegiatan pada RKA K/L RAPBN TA 2021 berdasarkan usul dan pendapat Komisi V DPR RI dalam memperjuangkan program pembangunan yang berskala nasional. Termasuk program pembangunan yang merupakan aspirasi daerah pemilihan Anggota Komisi V DPR RI, Program Peningkatan SDM dan Program prioritas berbasis masyarakat sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD.
Ini sama saja persis dengan kesimpulan kita dengan Kementerian-kementerian terdahulu.
Teman-teman.
Cocok? Sudah ya?
(RAPAT: SETUJU)