• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP

6.2 Saran

6.2.1 Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun

a. Mengingat masih tingginya Insiden Rate (IR) dan Case Fatality Rate (CFR) kasus DBD, sebaiknya pihak instansi Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun lebih mengintensifkan kegiatan pemeriksaan jentik berkala dan menggalakkan program 3M Plus dilingkungan sekitar, sehingga dapat dijadikan sebagai monitoring. b. Untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus penderita demam

berdarah dengue pada golongan umur anak-anak usia sekolah, maka sebaiknya penyuluhan jangan hanya dilakukan dilingkungan sekitar rumah, namun juga dilakukan disekolah dengan menggunakan alat bantu berbagai media sehingga dapat menarik perhatian anak.

c. Mengingat daerah Kabupaten Karimun merupakan daerah endemis DBD, perlu dilakukan penanggulangan melalui lintas program dan lintas sektoral dalam pelaksanaan fogging massal dan abatesasi serta pemberantasan sarang nyamuk.

d. Mensosialisasikan hidup sehat tanpa jentik dengan metode modernisasi menggunakan media sosial.

6.2.2 Bagi Masyarakat

Diharapkan kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan kegiatan 3M Plus dan pelaksanaan PSN-DBD secara mandiri dan teratur sesuai standar agar dapat mengurangi keberadaan jentik nyamuk dilingkungan sekitar.

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Demam Berdarah Dengue (DBD)

2.1.1 Definisi Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod Borne Virus, genus Flavivirus, dan family Flaviviridae. DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penyakit DBD dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh kelompok umur. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat (Profil Kesehatan Indonesia 2014).

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, yang ditandai dengan demam mendadak 2-7 hari, lemah/lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai tanda perdarahan dikulit berupa bintik perdarahan (petechiae), lebam (echymosis) atau ruam (purpura), kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau renjatan (shock) (Ibrahim, 2012).

2.1.2 Etiologi DBD

Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus Dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, family Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu; DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya, keempat serotipe ditemukan dan bersirkulasi sepanjang tahun.

8

Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang terbanyak berhasil diisolasi (48,6%), disusul berturut-turut DEN-2 (28,6%), DEN-1 (20%), DEN-4 (2,9%) (Irianto, 2014).

Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi protektif seumur hidup untuk serotipe yang bersangkutan, tetapi tidak untuk serotipe yang lain. Ke-4 serotipe virus tersebut ditemukan diberbagai daerah di Indonesia. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan di Indonesia dan ada hubungannya dengan kasus-kasus berat pada saat terjadi kejadian luar biasa (KLB) (Usman Hadi, 2007).

2.2 Vektor Penular DBD 2.2.1 Morfologi

Di Indonesia nyamuk penular (vektor) penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang penting adalah Aedes aegypti, Aedes albopictus, dan Aedes

scutellaris, tetapi sampai saat ini yang menjadi vektor utama dari penyakit DBD adalah Aedes aegypti.

Nyamuk Aedes aegypti dikenal dengan sebutan black white mosquito atau tiger mosquito karena tubuhnya memiliki ciri yang khas yaitu adanya garis-garis dan bercak-bercak putih keperakan diatas dasar warna hitam. Sedangkan yang menjadi ciri khas utamanya adalah ada dua garis lengkung yang berwarna putih keperakan dikedua sisi lateral dan dua buah garis putih sejajar digaris median punggungnya yang berwarna dasar hitam (lyre shaped marking).

Menurut Soegijanto (2006), masa pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Aedes aegypti termasuk metamorphosis sempurna (holometabola) yang

9

dapat dibagi menjadi 4 tahap, yaitu telur, larva, pupa, dan dewasa. Berikut penjelasannya :

1. Telur

Telur nyamuk Aedes aegypti berbentuk ellips atau oval memanjang, berwarna hitam, berukuran 0,5-0,8 mm, permukaan poligonal, tidak memiliki alat pelampung, dan diletakkan satu per satu pada benda-benda yang terapung atau pada dinding bagian dalam tempat penampungan air (TPA) yang berbatasan langsung dengan permukaan air. Dilaporkan bahwa dari telur yang dilepas, sebanyak 85% melekat didinding TPA, sedangkan 15% lainnya jatuh ke permukaan air.

2. Larva

Larva nyamuk Aedes aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulu-bulu sederhana yang tersusun bilateral simetris. Larva ini dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami 4 kali pergantian kulit (ecdysis), dan larva yang terbentuk berturut-turut disebut larva instar I, II, III dan IV. Larva instar I, tubuhnya sangat kecil, warna transparan, panjang 1-2 mm, duri-duri (spinae) pada dada (thorax) belum begitu jelas, dan corong pernapasan (siphon) belum menghitam. Larva instar II bertambah besar, berukuran 2,5-3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong pernapasan sudah berwarna hitam. Larva instar III lebih besar sedikit dari larva instar II. Larva instar IV telah lengkap struktur anatominya dan jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian kepala (chepal), dada (thorax), dan perut (abdomen).

10

Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk, sepasang antenna tanpa duri-duri, dan alat-alat mulut tipe pengunyah (chewing). Bagian dada tampak paling besar dan terdapat bulu-bulu yang simetris. Perut tersusun atas 8 ruas. Ruas perut ke-8 ada alat untuk bernapas yang disebut corong pernapasan. Corong pernapasan tanpa duri-duri, berwarna hitam, dan ada seberkas bulu-bulu (tuft), juga dilengkapi dengan seberkas bulu-bulu sikat (brush) dibagian ventral dan gigi-gigi sisir (comb) yang berjumlah 15-19 gigi yang tersusun dalam 1 baris. Gigi-gigi sisir dengan lekukan yang jelas membentuk gerigi. Larva ini tubuhnya langsing dan bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis negatif, dan waktu istirahat membentuk sudut hampir tegak lurus dengan bidang permukaan air.

3. Pupa

Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk tubuhnya bengkok, dengan bagian kepala-dada (cephalothorax) lebih besar bila dibandingkan dengan bagian perutnya, sehingga tampak seperti tanda baca “koma”. Pada bagian punggung (dorsal) dada terdapat alat bernapas seperti terompet. Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang alat pengayuh yang berguna untuk berenang. Alat pengayuh tersebut berjumbai panjang dan bulu dinomor 7 pada ruas perut ke-8 tidak bercabang. Pupa adalah bentuk tidak makan, tampak gerakannya lebih lincah dibandingkan dengan larva. Waktu istirahat posisi pupa sejajar dengan bidang permukaan air.

11

4. Dewasa

Nyamuk Aedes aegypti tubuhnya tersusun dari tiga bagian, yaitu kepala, dada dan perut. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk dan antena yang berbulu. Alat mulut nyamuk betina tipe penusuk-pengisap (piercing-sucking) dan lebih menyukai manusia (anthropophagus). Sedangkan nyamuk jantan bagian mulutnya lebih lemah sehingga tidak mampu menembus kulit manusia, karena itu tergolong lebih menyukai cairan tumbuhan (phytophagus). Nyamuk betina mempunyai antenna tipe pilose, sedangkan nyamuk jantan tipe plumose.

Dadanyamuk ini tersusun atas 3 ruasyaitu porothorax, mesothorax, dan metathorax. Setiap ruas dada ada sepasang kaki yang terdiri dari femur (paha), tibia (betis), dan tarsus (tulang pangkal kaki). Pada ruas-ruas kaki ada gelang-gelang putih, tetapi pada bagian tibia kaki belakang tidak ada gelang putih. Pada bagian dada terdapat sepasang sayap tanpa noda-noda hitam. Bagian punggung (mesontum) ada gambaran garis-garis putih yang dapat dipakai untuk membedakan dengan jenis lain. Gambaran punggung nyamuk Aedes aegypti berupa sepasang garis lengkung putih (bentuk: lyre) pada tepinya dan sepasang garis submedian ditengahnya. Pada bagian perut terdiri dari 8 ruas dan pada ruas-ruas tersebut terdapat bintik-bintik putih. Waktu istirahat posisi nyamuk Aedes aegypti ini tubuhnya sejajar dengan bidang yang dihinggapinya.

12

2.2.2 Siklus Hidup

Nyamuk Aedes aegypti seperti juga jenis nyamuk lainnya mengalami metamorphosis sempurna, yaitu: telur – jentik (larva) – pupa – nyamuk. Stadium telur, jentik dan pupa hidup di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam waktu ± 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentik/larva biasanya berlangsung 6-8 hari, dan stadium kepompong (pupa) berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk dewasa selama 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan (Depkes RI, 2014).

Gambar 2.1 Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti(Depkes RI, 2014) 2.2.3 Mekanisme Penularan

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus, dan vektor perantara. Virus Dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes. Nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor yang kurang berperan. Pada awal mulanya nyamuk Aedes aegypti berasal dari Mesir yang kemudian menyebar ke seluruh dunia,

13

melalui kapal laut dan udara. Nyamuk hidup dengan subur dibelahan dunia yang mempunyai iklim tropis dan subtropis seperti Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Di Indonesia nyamuk ini tersebar luas di pelosok tanah air, baik di kota-kota maupun di desa-desa, kecuali di wilayah yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut (Irianto, 2014).

Perkembangan hidup nyamuk Aedes aegypti dari telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10-12 hari. Hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta memilih darah manusia untuk mematangkan telurnya. Sedangkan nyamuk jantan tidak bisa menggigit/menghisap darah, melainkan hidup dari sari bunga tumbuh-tumbuhan. Umur nyamuk Aedes aegypti betina berkisar antara 3 minggu sampai 3 bulan atau rata-rata 1½ bulan, tergantung dari suhu kelembaban udara disekelilingnya. Kemampuan terbangnya berkisar antara 40-100 meter dari tempat perkembangbiakannya. Tempat istirahat yang disukainya adalah benda-benda yang tergantung yang ada di dalam rumah, seperti gordyn, kelambu dan baju/pakaian dikamar yang gelap dan lembab. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang berada dikelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovarian transmission), namun perannya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak didalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif). Di dalam tubuh manusia, virus

14

memerlukan waktu masa tunas 4-6 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul (Irianto, 2014).

Orang yang didalam tubuhnya terdapat virus dengue tidak semuanya akan sakit demam berdarah dengue. Ada yang mengalami demam ringan dan sembuh dengan sendirinya, atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit. Tetapi semuanya merupakan pembawa virus dengue selama satu minggu, sehingga dapat menularkan kepada orang lain diberbagai wilayah yang ada nyamuk penularnya. Sekali terinfeksi, nyamuk menjadi infektif seumur hidupnya (Widoyono, 2008).

2.3 Diagnosis Demam Berdarah Dengue (DBD)

Menurut Ginanjar (2007), untuk menegakkan diagnosis DBD diperlukan sekurang-kurangnya:

- Kriteria klinis 1 dan 2 - Dua kriteria laboratorium a. Kriteria klinis :

1. Demam tinggi yang berlangsung dalam waktu singkat, yakni antara 2-7 hari yang dapat mencapai 40°C. Demam sering disertai gejala tidak spesifik, seperti tidak nafsu makan (anoreksia), lemah badan (malaise), nyeri sendi dan tulang, serta rasa sakit di daerah belakang bola mata (retro orbita) dan wajah yang kemerah-merahan (flushing).

15

2. Tanda-tanda perdarahan seperti mimisan (epistaksis), perdarahan gusi, perdarahan pada kulit seperti tes Rumpeleede (+), ptekiae dan ekimosis, serta buang air besar berdarah berwarna merah kehitaman (melena).

3. Adanya pembesaran organ hati (hepatomegali).

4. Kegagalan sirkulasi darah, yang ditandai dengan denyut nadi yang teraba lemah dan cepat, ujung-ujung jari terasa dingin serta dapat disertai penurunan kesadaran dan renjatan (syok) yang dapat menyebabkan kematian.

b. Kriteria laboratoris :

1. Penurunan jumlah trombosit (trombositopenia) < 100.000/mm3 2. Peningkatan kadar hematokrit > 20% dari nilai normal

2.4 Derajat Keparahan Penyakit DBD

Menurut Ginanjar (2007), derajat penyakit DBD berbeda-beda menurut tingkat keparahannya :

1. Derajat 1 : Panas badan selama 5-7 hari, gejala umum tidak khas, tes Rumpeleede (+).

2. Derajat 2 : Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan pada kulit berupa ptekiae dan ekimosis, mimisan (epistaksis), muntah darah (hematemesis), buang air besar berdarah berwarna kehitaman (melena), perdarahan gusi, perdarahan rahim (uterus), telinga dan sebagainya.

3. Derajat 3 : Ada tanda-tanda kegagalan sirkulasi darah, seperti denyut nadi teraba lemah dan cepat (>120x/menit), tekanan nadi (selisih antara tekanan

16

darah sistolik dan diastolik) menyempit (<20 mmHg). DBD derajat 3 merupakan peringatan awal yang mengarah pada terjadinya (syok).

4. Derajat 4 : Denyut nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur, denyut jantung >140x/menit, ujung-ujung jari kaki dan tangan terasa dingin, tubuh berkeringat, kulit membiru. DBD derajat 4 merupakan manifestasi syok, yang sering kali berakhir dengan kematian.

2.5 Pencegahan 1. Pencegahan Primer

Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk

mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Secara garis besar ada cara pengendalian vektor antara lain:

a) Pengendalian cara kimiawi, pada pengendalian kimiawi digunakan insektisida yang ditujukan pada nyamuk dewasa atau larva. Insektisida yang dapat digunakan adalah dari golongan organoklorin, organopospor, karbamat, dan pyrethoid.

b) Pengendalian hayati atau biologik, menggunakan kelompok hidup, baik dari golongan mikroorganisme hewan invertebrata atau vertebrata. Sebagai pengendalian hayati dapat berperan sebagai patogen, parasit, dan pemangsa. Beberapa jenis ikan kepala timah (Panchaxpanchax), ikan gabus (Gambusia affinis) adalah pemangsa yang cocok untuk larva nyamuk.

17

c) Pengendalian lingkungan, pencegahan yang paling tepat dan efektif dan aman untuk jangka panjang adalah dilakukan dengan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M yaitu: menguras bak mandi, bak penampungan air, tempat minum hewan peliharaan. Menutup rapat tempat penampungan air sedemikian rupa sehingga tidak dapat diterobos oleh nyamuk dewasa. Mengubur barang bekas yang sudah tidak terpakai, yang kesemuanya dapat menampung air hujan sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypty (Sukohar, 2014).

2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder dilakukan upaya diagnosis dan dapat diartikan sebagai tindakan yang berupaya untuk menghentikan proses penyakit pada tingkat permulaan sehingga tidak akan menjadi lebih parah. 1) Melakukan diagnosis sedini mungkin dan memberikan pengobatan

yang tepat bagi penderita demam berdarah dengue.

2) Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) yang menemukan penderita atau tersangka penderita demam berdarah dengue segera melaporkan ke Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam waktu 24 jam.

3) Penyelidikan epidemiologi dilakukan petugas Puskesmas untuk pencarian penderita panas tanpa sebab yang jelas sebanyak 3 orang atau lebih, pemeriksaan jentik, dan juga dimaksudkan untuk mengetahui adanya kemungkinan terjadinya penularan lebih lanjut

18

sehingga perlu dilakukan fogging fokus dengan radius 200 meter dari rumah penderita, disertai penyuluhan (Wirayoga, 2013).

3. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersierini dimaksudkan untuk mencegah kematian akibat penyakit demam berdarah dengue dan melakukan rehabilitasi. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan sebagai berikut: membuat ruangan gawat darurat khusus untuk penderita DBD disetiap unit pelayanan kesehatan terutama di Puskesmas agar penderita dapat penanganan yang lebih baik, transfusi darah penderita yang menunjukkan gejala perdarahan, mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) (Sukohar, 2014).

2.6 Epidemiologi DBD

KLB Dengue pertama kali terjadi pada tahun 1653 di French West Indies (Kepulauan Karibia), meskipun sudah lama dilaporkan di Cina yaitu pada permulaan tahun 922 SM. Di Australia serangan penyakit DBD pertama kali dilaporkan pada tahun 1897, serta di Italia dan Taiwan pada tahun 1931. KLB di Filiphina terjadi pada tahun 1953 sampai 1954, sejak saat itu serangan penyakit DBD disertai tingkat kematian yang tinggi melanda negara di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, Myanmar, Thailand, Singapura, Kamboja, Malaysia, dan Vietnam. Selama dua puluh tahun kemudian, terjadi peningkatan kasus dan wilayah penyebaran DBD yang luar biasa hebatnya, dan saat ini KLB muncul setiap tahunnya di beberapa negara di Asia Tenggara (Depkes RI, 2014).

19

Di Indonesia, penyakit DBD pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Jakarta dan Surabaya. Pada tahun 2010 telah menyebar di 33 provinsi dan 440 kota/kabupaten. Sejak ditemukan pertama kali kasus DBD terus meningkat dan bahkan sejak tahun 2004 kasus tersebut meningkat tajam. Kasus DBD terbanyak dilaporkan di daerah-daerah dengan tingkat kepadatan yang tinggi seperti provinsi-provinsi di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera (Depkes RI, 2014).

2.7 Distribusi DBD

Distribusi pada penderita DBD dikelompokkan berdasarkan: 1. Distribusi Berdasarkan Orang

Selama awal tahun epidemi pada setiap negara penyakit DBD ini kebanyakan menyerang anak-anak dan 95% kasus yang dilaporkan berumur kurang dari 15 tahun, namun pada berbagai negara melaporkan bahwa kasus-kasus dewasa meningkat selama terjadi kejadian luar biasa. Kelompok risiko tertinggi meliputi anak berumur 5-9 tahun. Filipina dan Malaysia baru-baru ini melaporkan banyak kasus berumur lebih 15 tahun, walaupun Thailand, Myanmar, Indonesia dan Vietnam tetap melaporkan banyak kasus dibawah 14 tahun. Kasus DBD yang berumur lebih 15 tahun banyak dijumpai di Amerika daripada Asia (Soegijanto, 2006).

Dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2000 proporsi kasus DBD terbanyak adalah pada kelompok umur 4-5 tahun (kelompok umur sekolah), tetapi pada tahun 1998 dan 2000 proporsi kasus pada kelompok umur 15-44 tahun meningkat. Jika dilihat menurut jenis kelamin, diketahui

20

dari laporan beberapa negara bahwa kelompok wanita dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) menunjukkan angka kematian yang tinggi dibandingkan dengan kelompok laki-laki. Sedangkan untuk distribusi berdasarkan etnik, Singapura dan Malaysia pernah mencatat adanya perbedaan angka kejadian infeksi diantara kelompok etnik (Soegijanto, 2006).

2. Distribusi Berdasarkan Tempat

Tempat terjangkitnya penyakit DBD pada umumnya adalah perkotaan. Hal ini disebabkan pada daerah perkotaan penduduknya cukup padat dan jarak antara rumah berdekatan, sehingga lebih memungkinkan terjadinya penularan penyakit DBD, mengingat jarak terbang nyamuk Aedes aegypti 50-100 meter. Tetapi sejak tahun 1975 menurut Saroso penyakit DBD dapat berjangkit di daerah pedesaan yang padat penduduk, keadaan ini erat hubungannya dengan mobilitas penduduk serta sarana transportasi yang semakin membaik (Safinah dalam Mandriani, 2009).

Dalam kurun waktu lebih dari 35 tahun sejak ditemukan virus dengue di Surabaya dan Jakarta, baik dalam jumlah penderita maupun daerah penyebaran penyakit terjadi peningkatan yang pesat. Sampai saat ini DBD telah ditemukan diseluruh propinsi di Indonesia dan lebih dari 200 kota telah melaporkan adanya kejadian luar biasa. Incidence rate meningkat dari 0,005 per 100.000 penduduk pada tahun 1968 menjadi berkisar antara 6-30 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2004).

21

3. Distribusi Berdasarkan Waktu

Pola berjangkitnya infeksi virus dengue dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-32°C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk Aedes akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama. Di Indonesia, karena suhu udara dan kelembaban tidak sama disetiap tempat, maka pola waktu terjadinya penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. Di Jawa pada umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal Januari, meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun (Depkes RI, 2004).

2.8 Surveilans Epidemiologi Penyakit DBD 2.8.1 Surveilans Kasus

Surveilans kasus DBD dapat dilakukan dengan surveilans aktif maupun pasif. Di beberapa negara pada umumnya dilakukan surveilans pasif. Meskipun sistem surveilans pasif tidak sensitif dan memiliki spesifitas yang rendah, namun sistem ini berguna untuk memantau kecenderungan penyebaran dengue jangka panjang. Pada surveilans pasif setiap unit pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, poliklinik, balai pengobatan, dokter praktek swasta, dll) diwajibkan melaporkan setiap penderita termasuk tersangka DBD ke dinas kesehatan selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam (Depkes RI, 2005).

Surveilans aktif adalah yang bertujuan memantau penyebaran dengue di dalam masyarakat sehingga mampu mengatakan kejadian, dimana berlangsung penyebaran kelompok serotipe virus yang bersirkulasi. Untuk mencapai tujuan tersebut sistem ini harus mendapat dukungan laboratorium diagnostik yang baik.

22

Surveilans seperti ini pasti dapat memberikan peringatan dini atau memiliki kemampuan prediktif terhadap penyebaran epidemik penyakit DBD (Depkes RI, 2005).

2.8.2 Surveilans Vektor

Surveilans untuk nyamuk Aedes aegypti sangat penting untuk menentukan distribusi, kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor resiko berdasarkan waktu dan tempat yang berkaitan dengan penyebaran dengue, dan tingkat kerentanan atau kekebalan insektisida yang dipakai, untuk memprioritaskan wilayah dan musim untuk pengendalian vektor. Data tersebut akan memudahkan pemilihan dan penggunaan sebagian besar peralatan pengendalian vektor, dan dapat dipakai untuk memantau keefektifannya. Ada beberapa metode yang tersedia untuk deteksi dan pemantauan populasi larva dan nyamuk dewasa. Pemilihan metode pengambilan sampel yang tepat bergantung pada tujuan khusus surveilans, tingkat gangguan, dan ketersediaan sarana dan prasarana (Depkes RI, 2005).

a. Survei Jentik (Pemeriksaan jentik)

Survei jentik dilakukan dengan cara melihat atau memeriksa semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dengan mata telanjang untuk mengetahui ada tidaknya jentik. Ada 2 metode survei jentik yang dilakukan, yaitu:

i. Single Larva

Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.

23

ii. Visual

Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik disetiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Biasanya dalam program DBD menggunakan cara visual.

Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti adalah:

a. House Indeks (HI), yaitu persentase rumah yang terjangkit larva atau pupa.

��= �����ℎ����ℎ������������������

�����ℎ����ℎ������������� 100%

b. Container Indeks (CI), yaitu persentase container yang terjangkit larva atau pupa.

��=�����ℎ���������������������������

�����ℎ���������������������� 100%

c. Breteau Indeks (BI), yaitu jumlah container yang positif per-100 rumah yang diperiksa.

��= �����ℎ���������������������������

�����ℎ����ℎ������������� 100 ����ℎ

Dari ukuran diatas dapat diketahui persentase Angka Bebas Jentik (ABJ), yaitu jumlah rumah yang tidak ditemukan jentik per jumlah rumah yang diperiksa dikalikan 100%.

���= �����ℎ����ℎ������������������������

�����ℎ����ℎ������������� 100%

ABJ dilakukan oleh kader kesehatan dalam Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) dengan kategori tidak memenuhi target : ABJ < 95% dan memenuhi target :

24

ABJ ≥ 95%. Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) merupakan bentuk evaluasi hasil kegiatan yang dilakukan tiap 3 bulan sekali disetiap Desa/Kelurahan endemis

Dokumen terkait