BAB V PEMBAHASAN
5.6. Angka Bebas Jentik di Kota Medan Tahun 2012
Pada tahun 2012 di Kota Medan angka bebas jentik tertinggi terjadi ke wilayah Puskesmas Tegal Sari yaitu sebesar 99%. Dan ikuti oleh 13 puskesmas
lainnya dimana nilai angka bebas jentiknya ≥95%. Dan angka bebas jentik yang
ditinjau dari segi waktu, angka bebas jentik yang diperoleh dari Triwulan I hingga Triwulan IV sebesar <95%. Angka bebas jentik ini diperoleh melalui pemeriksaan jentik berkala yang dilaporkan oleh setiap puskesmas sebanyak satu kali dalam tiga bulan.
Pemeriksaan jentik berkala dilakukan dengan mengunjungi rumah dan tempat-tempat umum untuk memeriksa tempat penampungan air (TPA), non-TPA dan tempat penampungan air alamiah, di dalam dan diluar rumah/bangunan. Keberhasilan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dapat diukur dengan angka bebas jentik, apabila angka bebas jentik lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan demam berdarah dengue dapat dicegah atau dikurangi (Depkes, 2005).
Perbandingan jumlah rumah yang diperiksa dengan jumlah rumah seluruhnya, maka angka bebas jentik tersebut belum dapat mencakup seluruh kota Medan. Jumlah rumah yang diperiksa pada tahun 2012 sebanyak 31200 (7,07%) dari 441558 rumah yang ada di Kota Medan. Angka bebas jentik yang sesuai dengan standar hanya diperoleh oleh 14 wilayah puskesmas (35,87%) dari 39 wilayah puskesmas yang ada. Hal ini berarti kegiatan pemeriksaan jentik ini belum menyeluruh. Puskesmas melakukan pemeriksaan jentik berkala, kader Jumantik melaksanakan pemeriksaaan jentik dilingkungannya, namun tidak tersedia biaya operasional dan pengganti transport bagi kader Jumantik sehingga kegiatan mengendur.
Angka bebas jentik yang rendah mengindikasikan kepadatan jentik di wilayah tersebut masih tinggi (Achmad dalam Hariani, 2009). Padatnya jentik nyamuk itu identik dengan banyaknya tempat perkembangbiakan nyamuk. Untuk itu pelaksanaan
pemberantasan sarang nyamuk perlu ditingkatkan sehingga tempat perkembangbiakan nyamuk berkurang.
5.7. Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Kejadian DBD di tingkat puskesmas
Hubungan frekuensi pemberantasan sarang nyamuk dengan kejadian demam berdarah dengue di tingkat puskesmas di Kota Medan Tahun 2012 menunjukkan hubungan yang lemah atau tidak ada hubungan (r= -0,052) dan berpola negatif artinya semakin tinggi pemberantasan sarang nyamuk maka kejadian demam berdarah dengue akan menurun. Hasil statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi pemberantasan sarang nyamuk dengan kejadian demam berdarah dengue (p=0,754).
Hasil ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Parida (2012) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan atara pemberantasan sarang nyamuk dengan kejadian demam berdarah.
Frekuensi pemberantasan sarang nyamuk tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian demam berdarah dengue menurut tempat dapat dikarenakan pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan di wilayah puskesmas tidak rutin, terlihat dari frekuensi pemberantasan yang dilakukan terkadang tinggi kemudian menurun dan bahkan tidak dilakukan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya koordinasi petugas kesehatan lingkungan dengan kepala lingkungan maupun kepala lurah dan kurangnya partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk merupakan kegiatan
mengkondisikan lingkungan untuk mencegah atau mengurangi tempat perkembangbiakan vektor yang harus dilakukan terus-menerus (Soedarmo, 2009).
Pemberantasan sarang nyamuk merupakan salah satu cara pengendalian vektor dari empat cara pengendalian vektor yang ada. Dari semua cara pengendalian tersebut tidak ada satupun yang unggul. Untuk menghasilkan cara yang efektif maka dilakukan kombinasi dari beberapa cara tersebut (Soegijanto, 2008). Dengan pengendalian vektor yang terpadu dan rutin diasumsikan penderita penyakit demam berdarah dengue dapat menurun.
5.8. Hubungan Frekuensi Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Kejadian DBD pada periode Januari-Desember
Hubungan frekuensi pemberantasan sarang nyamuk dengan kejadian demam berdarah dengue pada periode Januari-Desember di Kota Medan Tahun 2012 menunjukkan hubungan yang lemah atau tidak ada hubungan (r= 0,491) dan berpola positif artinya semakin tinggi pemberantasan sarang nyamuk maka kejadian demam berdarah dengue akan semakin tinggi. Hasil statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi pemberantasan sarang nyamuk dengan kejadian demam berdarah dengue (p=0,105).
Tidak terdapatnya hubungan yang signifikan antara frekuensi pemberantasan sarang nyamuk dengan kejadian demam berdarah dillihat dari segi waktu dapat dikarenakan adanya pengaruh perubahan cuaca sepanjang bulan Januari sampai bulan Desember sehingga kasus demam berdarah tetap ada atau bahkan meningkat. Suhu lingkungan yang lebih hangat akan menyebabkan lebih cepatnya pengaktifan virus
dengue didalam tubuh nyamuk (Achmadi, 2011). Sehingga penularan demam berdarah dengue semakin cepat.
Populasi nyamuk Aedes aegypti dipengaruhi oleh musim, pada waktu musim kemarau populasi nyamuk menurun sedangkan pada waktu musim penghujan populasi nyamuk meningkat (Soegijanto, 2008). Untuk mengatasi peningkatan jumlah kasus demam berdarah dengue sewaktu musim penghujan dilakukanlah pemberantasan sarang nyamuk untuk mengurangi tempat perkembangbiakan vektor. Namun, saat ini sedang dalam masa musim pancaroba, dimana musim kemarau atau musim penghujan tidak jelas kapan terjadi, sehingga kasus demam berdarah dengue masih tinggi.
5.9. Hubungan Persentase Angka Bebas Jentik dengan Kejadian DBD di tingkat puskesmas
Hubungan persentase angka bebas jentik dengan kejadian demam berdarah dengue di tingkat puskesmas di Kota Medan Tahun 2012 menunjukkan hubungan yang lemah atau tidak ada hubungan (r=0,082) dan berpola positif artinya semakin tinggi angka bebas jentik maka kejadian demam berdarah dengue akan semakin tinggi. Hasil statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persentase angka bebas jentik dengan kejadian demam berdarah dengue (p=0,619).
Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Asmara (2008) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara angka bebas jentik dengan kejadian demam berdarah dengue di Kotamadya Jakarta Timur Tahun 2005-2007.
Persentase angka bebas jentik tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian demam berdarah dengue dari segi tempat dapat dikarenakan pelaksanaan pemeriksaan jentik berkala yang belum mencakup keseluruhan Kota Medan yakni hanya sekitar 7,07 % dari seluruh rumah yang ada. Dengan demikian angka bebas jentik tidak menggambarkan kondisi yang sesungguhnya serta tidak sesuai dengan harapan. Hal ini menggambarkan kurang maksimalnya pengawasan dari puskesmas, kader, dan rendahnya partisipasi masyrakat wilayah puskesmas setempat.
Pemeriksaan jentik berkala yang dilakukan masih pada rumah penduduk sedangkan di tempat-tempat umum tidak dilakukan pemeriksaan jentik berkala dan adanya kemungkinan kesalahan penghitungan angka bebas jentik oleh petugas sehingga diperoleh angka bebas jentik yang tidak valid. Hal ini berarti angka bebas jentik tersebut tidak dapat memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai wilayah tersebut. Pelaksanaan pemeriksaan jentik berkala dapat berjalan kurang baik karena tidak didukung oleh adanya biaya operasional.
5.10. Hubungan Persentase Angka Bebas Jentik dengan Kejadian DBD pada periode Januari-Desember
Hubungan persentase angka bebas jentik dengan kejadian demam berdarah dengue di pada periode Januari-Desember di Kota Medan Tahun 2012 menunjukkan hubungan yang lemah atau tidak ada hubungan (r= -0,200) dan berpola negatif artinya semakin tinggi angka bebas jentik maka kejadian demam berdarah dengue akan menurun. Hasil statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan
antara persentase angka bebas jentik dengan kejadian demam berdarah dengue (p=0,800).
Hal ini sesuai dengan penelitian Putri (2008), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara angka bebas jentik dengan kejadian demam berdarah dengue.
Tidak adanya hubungan yang signifikan antara persentase angka bebas jentik dengan kejadian demam berdarah dengue dilihat dari segi waktu dapat dikarenakan angka bebas jentik yang diperoleh dari triwulan I hingga Triwulan IV bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan tinggi atau rendahnya kejadian demam berdarah dengue sepanjang waktu tersebut. Proses terjadinya demam berdarah dengue disebabkan oleh banyak faktor seperti kepadatan vektor, host, lingkungan dan virus yang dibawa oleh penderita. Untuk itu perlu dilaksanakan surveilens entomologis untuk menentukan perubahan penyebaran vektor, mendapatkan pengukuran populasi vektor sepanjang waktu dan untuk memperoleh intervensi yang tepat serta surveilens virologis untuk upaya isolasi virus untuk studi masa yang akan datang (WHO, 2012). Penyebab faktor lain seperti kepadatan penduduk atau mobilitas penduduk memengaruhi proses timbulnya penyakit (Achmadi, 2011). Namun, angka bebas jentik tetap dianggap penting untuk upaya pencegahan dan sebagai indikator keberhasilan pemberantasan sarang nyamuk.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kota Medan pada periode Januari-Desember tahun 2012, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Frekuensi pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue paling banyak dilakukan oleh wilayah Puskesmas Medan Johor (8694 kali atau 18%), sedangkan yang paling sedikit dilaksanakan oleh wilayah Puskesmas Padang Bulan (4 kali atau 0,01%) dan yang paling banyak terjadi pada bulan Maret (7678 kali atau 15,89%) serta yang paling sedikit terjadi pada bulan Desember (703 kali atau 1,46%).
2. Angka bebas jentik tertinggi terjadi di wilayah Puskesmas Tegal Sari (99%), sedangkan yang paling rendah terjadi di wilayah Puskesmas Kel. Binjai (79,38%) dan Angka bebas jentik dari Triwulan I hingga Triwulan II berada dibawah 95%.
3. Penderita demam berdarah dengue sebagian besar berumur 15-44 tahun, sedangkan yang paling sedikit berumur <1 tahun dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah penderita kasus demam berdarah dengue pada laki-laki maupun perempuan.
4. Wilayah Puskesmas Helvetia (10,81%) merupakan wilayah yang paling tinggi jumlah kasusnya selama tahun 2012, sedangkan yang paling rendah berada di wilayah Puskesmas Darussalam (0,34%) dan Kasus tertinggi terjadi pada
bulan Januari (18,52%) dan yang paling rendah terjadi pada bulan Agustus (4,44%).
5. Tidak ada hubungan yang signifikan antara pemberantasan sarang nyamuk dan angka bebas jentik dengan kejadian demam berdarah baik menurut tingkat puskesmas maupun pada periode Januari-Desember.
6.2. Saran
1. Disarankan Dinas Kesehatan Kota Medan menghimbau petugas kesehatan lingkungan tiap puskesmas untuk meningkatkan koordinasi dengan kepala lingkungan atau kepala lurah diwilayah puskesmas tersebut dan mengawasi kegiatan pemberantasan sarang nyamuk sehingga kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dilaksanakan secara rutin.
2. Disarankan Dinas Kesehatan Kota Medan untuk laporan kasus demam berdarah dengue supaya membentuk format range umur yang tidak terlalu besar jaraknya sehingga diperoleh data yang lebih informatif.
3. Disarankan Dinas Kesehatan Kota Medan menghimbau tiap puskesmas untuk melakukan pemeriksaan jentik berkala secara menyeluruh dan rutin sehingga diperoleh angka bebas jentik yang dapat mewakili kondisi sebenarnya masing-masing wilayah.
4. Disarankan petugas kesehatan lingkungan tiap puskesmas melaksanakan pelatihan terhadap juru pemantau jentik sehingga diperoleh angka bebas jentik yang valid.
5. Disarankan Dinas Kesehatan Kota Medan menghimbau tiap puskesmas untuk melaksanakan pengendalian vektor tidak hanya dengan satu cara
pengendalian tetapi dengan cara yang terpadu seperti pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk yang diikuti pemberian abate, memelihara ikan pemakan jentik.
6. Disarankan petugas kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Kota Medan memberikan penyuluhan yang lebih intensif mengenai pemberantasan sarang nyamuk sehingga masyarakat memperoleh informasi tentang PSN sehingga masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan PSN dalam rangka penanggulangan penyakit demam berdarah dengue.
7. Disarankan pemerintah memberi dukungan yang lebih intensif dalam upaya penanggulangan penyakit demam berdarah dengue.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhage Fever (DHF) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang ditandai dengan demam mendadak dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah, nyeri hulu hati, disertai tanda perdarahan dikulit berupa petechie, purpura, lebam (echymosis), epistaksis, perdarahan gusi, muntah darah (hematemesis), melena, pembesaran hati (hepatomegali), trombositopeni, dan jika disertai kesadaran menurun atau renjatan disebut Dengue Shock Shyndrome (DSS) (WHO dalam Soedarmo (2009)).
Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus DEN-1, DEN-2, DEN-3 atau DEN-4 yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang sebelumnya telah terinfeksi oleh virus dengue dari penderita DBD (Ginanjar, 2008).
2.2. Etiologi DBD
Nyamuk demam berdarah akan terinfeksi virus dengue saat menghisap darah dari penderita demam berdarah. Virus dengue termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali, yaitu 35-45 nm.Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui
dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Jenis virus yang sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk. Namun karena jenis serotipe dari virus dengue ini ada 4, sehingga seseorang bisa kena 4 kali demam berdarah. Virus dengue ini dapat tetap hidup di alam ini melalui dua mekanisme, yaitu transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk dan transmisi virus dari nyamuk ke tubuh makhluk seperti manusia (Anies, 2006).
Misalnya seseorang yang telah terinfeksi oleh virus DEN-2, akan mendapatkan imunitas menetap terhadap virus DEN-2 pada masa yang akan datang. Namun, ia tidak memiliki imunitas menetap terhadap virus DEN-3 di kemudian hari. Selain itu ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa jika seseorang yang pernah terinfeksi oleh salah satu virus dengue, kemudian terinfeksi lagi oleh virus tipe lainnya, gejala klinis yang timbul akan jauh lebih berat dan sering kali fatal (Ginanjar, 2008).
2.3. Epidemiologi DBD
Epidemi dengue dilaporkan sepanjang abad kesembilanbelas awal dan awal abad kedua puluh di Amerika, Eropa Selatan, Afrika Utara, Mediterania timur, Asia dan Australia, dan beberapa pulau di Samudera India, Pasifik selatan dan tengah serta Karibia. Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue telah meningkat dan menetap baik dalam insiden dan distribusi sepanjang 40 tahun. Setiap tahun, diperkirakan terdapat 20 juta kasus infeksi dengue, mengakibatkan kira-kira 24 juta kematian (WHO, 2012).
1954, yaitu pada waktu terdapatnya epidemi demam yang menyerang anak disertai manifestasi perdarahan dan renjatan. Mereka menamakannya Philippine haemorrhagic fever untuk membedakannya dengan demam berdarah lainnya. Kemudian Hammon dkk. berhasil menemukan virus dengue sebagai etiologi penyakit demam berdarah dengue yang dinamakan virus dengue tipe 3 dan 4. Sampai dengan tahun 1956 baru dikenal virus tipe 1 dan 2. Pada tahun 1958 meletus epidemi serupa di Bangkok (Soedarmo, 2009).
Karena epidemi terus berlangsung terus di Thailand dan di negara lain dikawasan Asia Tenggara dengan nama yang berbeda, simposium WHO di Bangkok telah merumuskan defenisi perbedaan antara dengue fever syndrome dan dengue haemorrhage fever sebagai berikut. (i) Dengue Fever Syndrome yang lebih sering terjadi pada orang dewasa biasanya ditandai oleh demam dan mialgia hebat dan/atau artalgia dan leukopeni dengan atau tanpa timbulnya ruam. Gejala klinis, seperti nyeri kepala hebat, nyeri ada pergerakan bola mata, uji tourniquet positif, perubahan rasa, trombositopeni ringan, timbulnya beberapa petekia spontan sering dijumpai. (ii)
Dengue Haemorrhage Fever terutama menyerang anak dengan manifestasi demam tanpa mialgia dan artalgia yang menonjol, biasanya penyakit memburuk setelah dua hari pertama. Uji tourniquet positif dengan atau tanpa timbulnya ruam disertai beberapa gejala klinis, seperti petekia, purpura, ekimosis, epistaksis, hematemesis, melena, trombositoeni, perdarahan memanjang, hematokrit meningkat, dan berhentinya proses maturasi megakariosit. Dengue haermorrhage fever lebih lanjut dibagi dalam tanpa dan disertai renjatan (Soedarmo, 2009).
Selama tahun 1960-an dan 1970-an, DHF/DSS secara progressif meningkat sebagai masalah kesehatan, menyebar dari lokasi primernya di kota-kota besar ke kota-kota besar yang lebih kecil dan kota-kota negara-negara endemik. Penyakit ini mempunyai pola epidemik berdasarkan musiman dan siklus, dengan wabah besar terjadi pada interval 2-3 tahun. Selama periode ini, 1070207 kasus dan 42808 kematian dilaporkan, sebagian besar anak-anak. Selama hampir sepanjang tahun 1980-an, pada negara-negara endemik Cina, Indonesia, Malaysia, Mianmar, Filippina, Thailand, dan Vietnam, DHF/DSS menyebar secara luas, yang menyerang daerah pedesaan (WHO, 2012).
Di Indonesia, pertama kali dicurigai di Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun 1970. Pertama dilaporkan di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dari tahun 1968 sampai tahun 1972 wabah hanya dilaporkan di Pulau Jawa. Epidemi pertama di luar Jawa pada tahun 1972 di Sumatera Barat, Lampung, yang kemudian disusul di Riau, Sulawesi Utara, dan Bali. Pada tahun 1975, epidemi dilaporkan oleh 20 provinsi. Sampai tahun 1981, provinsi Timor-Timur merupakan satu-satunya provinsi yang belum melaporkan terdapatnya kasus Demam Berdarah Dengue (Soedarmo, 2009).
Sejak 1994, seluruh provinsi di Indonesia telah melaporkan kasus DBD dan daerah tingkat II yang melaporkan terjadinya kasus DBD juga meningkat. Namun angka kematian menurun tajam dari 41,3% (1968) menjadi 3% (1984) dan sejak tahun 1991 angka kematian ini stabil di bawah 3%. Menurut Soedarmo Poorwo Sodarmo, sewaktu terjadi wabah, berbagai tipe virus dengue berhasil diisolasi. Virus
virus dengue tipe 3 sangat berkaitan dengan kasus penyakit DBD derajat berat dan fatal (Ginanjar, 2008).
2.4. Vektor Penular Demam Berdarah Dengue (DBD)
Vektor utama penyakit Demam Berdarah Dengue adalah nyamuk Aedes aegypti. Dan nyamuk Aedes albopictus dianggap sebagai vektor penting selain Aedes aegypti. Para ahli berpendapat bahwa Aedes aegypti berasal dari Afrika, terutama Ethiopia dan mulai memasuki Asia Tenggara pada pertengahan abad ke-19 terutama di daerah pantai. Kemudian nyamuk ini mulai menyebar pada daerah pedalaman. Yang kemudian menyebar hampir keseluruh pelosok dunia dimungkinkan oleh meningkatnya volume perdagangan dengan kapal dan penyebarannya selalu disebabkan oleh manusia (Soedarmo, 2009).
Mula-mula nyamuk berdomisili di sekitar pelabuhan, selanjutnya menjalar ke pedalaman terutama melalui sungai atau alat lalu lintas lainnya. Didaerah perkotaan
Aedes aegypti biasanya ditemukan dan hampir selalu menggigit dalam rumah. Aedes albopictus terdapat di kebun dan pohon-pohon, menggigit terutama diluar rumah dan peranannya lebih kecil. Di daerah pedesaan Aedes aegypti tidak ada atau sangat jarang dan Aedes albopictus merupakan vektor utama (Soedarmo, 2009).
2.4.1. Klasifikasi Nyamuk Aedes aegypti
Adapun klasifikasi ilmiah nyamuk Aedes aegypti adalah sebagai berikut: Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Diptera
Famili : Culicidae Genus : Aedes
Spesies : Aedes aegypti
Aedes aegypti selain membawa virus dengue juga membawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya (Wikipedia, 2013).
2.4.2. Morfologi Nyamuk Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran kecil dengan dasar warna hitam. Probosis bersisik hitam, palpi pendek dengan ujung hitam bersisik putih perak. Oksiput bersisik lebar, berwarna putih terletak memanjang. Femur bersisik putih pada permukaan posterior dan setengah basal, anterior dan tengah bersisik putik memanjang. Tibia semuanya hitam. Tarsi belakang berlingkaran putih pada segmen basal kesatu sampai keempat dan segmen kelima berwarna putih. Sayap berukuran 2,5-3,0 mm, bersisik hitam (Soedarmo, 2009).
Gambar 1. Nyamuk Aedes aegypti dewasa Sumber: Ditjen PP dan PL, 2008
2.4.3. Perilaku dan Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual. Setiap hari nyamuk Aedes aegypti dapat bertelur rata-rata bertelur 100 butir. Telur menetas dalam satu sampai dua hari menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar satu ke instar empat memerlukan waktu sekitar lima hari. Setelah mencapai instar keempat, larva berubah menjadi pupa dimana larva memasuki masa dorman (inaktif, tidur). Pupa bertahan selama dua hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa. Perkembangan telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu tujuh sampai delapan hari, tetapi dapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak mendukung (Ginanjar, 2008).
Telur Aedes aegypti berwarna hitam seperti sarang tawon, diletakkan satu demi satu di permukaaan atau sedikit di bawah permukaan air dalam jarak ±2½ cm dari dinding tempat perindukan. Telur dapat bertahan sampai berbulanbulan pada suhu -2°C sampai 4-2°C. Namun, bila kelembapan terlalu rendah, maka telur akan menetas dalam waktu 4 hari (Soedarmo 2009).
Nyamuk Aedes aegypti betina suka bertelur diatas permukaan air pada dinding vertikal bagian dalam tempat-tempat yang berisi sedikit air. Air harus jernih dan terlindung dari cahaya matahari langsung. Tempat air yang dipilih yaitu tempat air yang di dalam dan dekat rumah dan juga yang tertutup longgar yang mengakibatkan ruang didalamnya cenderung lebih gelap. Pada umumnya larva nyamuk Aedes aegypti ditemukan di tempayan, drum, gentong atau bak mandi di rumah keluarga
yang kurang diperhatikan kebersihannya dan didaerah yang persediaan air minumnya tidak terdapat secara teratur (Soedarmo, 2009).
Nyamuk Aedes aegypti senang sekali kepada manusia atau bersifat antropofilik dan hanya nyamuk betina yang menggigit. Nyamuk betina biasanya menggigit didalam rumah, kadang-kadang di luar rumah, ditempat yang agak gelap. Nyamuk
Aedes aegypti biasanya beristirahat pada malam hari di tempat yang gelap, seperti pakaian berwarna gelap, kelambu, dan dinding dan dibawah rumah dekat tempat berbiaknya, biasanya ditempat yang lebih gelap. Nyamuk ini mempunyai kebiasaan menggigit berulang atau menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat (multiple biters). Hal ini karena nyamuk Aedes aegypti sangat sensitif dan mudah terganggu. Keadaan ini membantu nyamuk ini memindahkan virus dengue ke beberapa orang sekaligus sehingga ada laporan beberapa penderita Demam Berdarah Dengue di satu rumah (Soedarmo, 2009).
Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna, yaitu telur-larva-pupa-nyamuk dewasa. Stadium telur, larva, dan pupa hidup didalam air, sedangkan stadium dewasa hidup beterbangan. Hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta memilih darah manusia untuk mematangkan telurnya (Hadinegoro dan Satari, 2004).
Nyamuk betina dewasa yang mulai menghisap darah manusia, tiga hari