• Tidak ada hasil yang ditemukan

Angka Kematian Ibu (AKI)/Maternal Mortality Rate (MMR)

BAB II GAMBARAN UMUM

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

3.3. INDIKATOR DERAJAT KESEHATAN

3.3.2.3. Angka Kematian Ibu (AKI)/Maternal Mortality Rate (MMR)

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.

AKI =

Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari

setelah melahirkan, pada tahun tertentu, di daerah tertentu.

X Konstanta (100.000 bayi

lahir hidup) Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi

yang lahir hidup pada tahun tertentu, di daerah tertentu

Angka Kematian Ibu atau AKI mencerminkan resiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh keadaan, sosial ekonomi, keadaan kesehatan kurang baik menjelang kehamilan.Kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran.Serta tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.

Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi, dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas.

Untuk mengetahui besaran masalah kesehatan ibu, indikator yang digunakan adalah Angka Kematian Ibu (AKI).Perhitungan AKI disetiap puskesmas sulit dilakukan karena jumlah kelahiran hidup tidak mencapai 100.000 kelahiran hidup.

Untuk mengurangi bias perhitungan AKI yang direkomendasikan oleh WHO dalam 100.000 kelahiran hidup, maka digunakan Rasio Kematian Ibu. Untuk menghitung rasio kematian ibu di Kabupaten Wonogiri tidak dapat dilakukan karena angka kelahiran di Kabupaten Wonogiri kurang dari 100.000 kelahiran hidup.Namun demikian, bila diasumsikan, maka AKI

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 adalah 101,5 per 100.000 kelahiran hidup, atau 13 kematian dari 12.814 KLH. Angka ini meningkat cukup tajam bila dibandingkan capaian tiga tahun terakhir, yaitu tahun 2011 sebesar 75,25 per 100.000 KLH, tahun 2010 sebesar 86,9 per 100.000 KLH dan tahun 2009 sebesar 98,88 per 100.000 KLH. Apabila dibandingkan dengan target nasional tahun 2010 (150 per 100.000 kelahiran hidup), maka angka ini sudah mencapai target, namun apabila dibandingkan target daerah untuk tahun 2012 yaitu 90 per 100.000 KLH maka capaian tersebut belum mencapai target. Dari tahun 2008 sebenarnya kecenderungann AKI mengalami penurunan, akan tetapi untuk tahun ini, terjadi peningkatan yang cukup menyolok, hal ini dikarenakan kasus disertai dengan penyakit kronis atau komplikasi berat.

Kematian ibu terbesar berada di wilayah kerja UPT Puskesmas Ngadirojo(3 kematian).Sedangkan puskesmas dengan kasus 2 kematian terjadi di wilayah kerja UPT Puskesmas Wonogiri I. Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 8.

Grafik 4. Trend Angka Kematian Ibu (AKI)

Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2007 s/d 2012

Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri 2007, 2008, 2009, 2010, 2011dan Laporan Bidang Upaya Kesehatan Tahun 2012

124,48 113,96 98,88 86,97 75,25 101,5 0 20 40 60 80 100 120 140 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

Meningkatnya jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Wonogiri antara lain disebabkan oleh karena kasus yang ada disertai penyakit kronis atau komplikasi berat, misalnya :suspect ruptura uteri, perdarahan, partu lama, risiko tinggi akibat umur, eklamasi, serta post sectio. Hal ini dipengaruhi oleh masih kurangnya kuantitas maupun kualitas tenaga bidan terutama di wilayah terpencil serta kelengkapan sarana dan pra sarana dalam pelayanan obstetrik dan neonatal baik itu di Pondok Bersalin Desa (Polindes) maupun di puskemas, kondisi sosial ekonomi masih rendah yang juga mempengaruhi tingkat pendidikan masyarakat, sehingga menyebabkan pertolongan persalinan oleh dukun masih tinggi, kunjungan rumah (sweeping) post persalinan belum optimal, serta letak geografis yang masih sulit dijangkau. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan langkah yang segera dilakukan, misalnya meningkatkan keterpaduan pelayanan dalam deteksi resiko tinggi pada kehamilan / ANC, mulai dari tingkat pelayanan dasar sampai tingkat pelayanan rujukan. Selain itu juga perlu terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran bidan, dengan disertai peningkatan kompetensi tenaga bidan melaui pelatihan-pelatihan. Harapan kita agar bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR).Selain itu melalui pengembangan Desa Siaga dengan pembangunan poskesdes yang merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menurunkan AKI.

3.3.3. Angka Kesakitan (Morbiditas)

Angka kesakitan penduduk diperoleh dari data yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 3.3.3.1. Penyakit Bersumber Binatang

A. Pemberantasan Penyakit Malaria (P2 Malaria)

Malaria adalah salah satu penyakit menular yang banyak terjadi di daerah tropis dan sub tropis. Penyakit ini semula sering muncul dan ditemukan di daerah rawa-rawa dan diperkirakan disebabkan oleh udara yang buruk, sehingga dikenal sebagai malaria (mal = jelek, aria = udara). Seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, pendapat ini dimentahkan oleh berbagai data mutakhir.

Malaria disebabkan oleh bibit penyakit yang hidup di dalam darah manusia. Bibit penyakit tersebut binatang bersel satu

Malaria merupakan salah satu penyakit yang dapat muncul kembali setelah dilakukan upaya eradikasi maupun eliminasi (re-emerging desease) dan masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat Asia Tenggara, begitu juga di Indonesia penyakit ini menjadi ancaman dan mempengaruhi tingginya angka kesakitan dan kematian.

Penyakit Malaria menyebar cukup merata di seluruh kawasan Indonesia, namun paling banyak dijumpai di luar wilayah Jawa-Bali, bahkan di beberapa tempat dapat dikatakan sebagai daerah endemis malaria. Menurut hasil pemantauan program diperkirakan sebesar 35% penduduk Indonesia tinggal di daerah endemis Malaria.

Jumlah penderita malaria di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2012, berdasarkan pemeriksaan sediaan darah, terdapat 3 penderita malaria, yaitu di wilayah UPT Puskesmas Tirtomoyo II, Wuryantoro dan Jatiroto. Apabila dibandingkan dengan tahun tahun 2010 dan 2011, angka ini menunjukkan kenaikan, dimana pada tahun 2010 tidak ditemukan penderita malaria dan di tahun 2011 ditemukan 2 penderita. Kondisi tahun ini sama dengan yang terjadi pada tahun 2009 yaitu tercatat ada 3 penderita.

Penderita malaria untuk tahun ini menyebar di tiga wilayah, daerah yang dalam dua tahun terakhir ini terdapat penderita malaria adalah wilayah UPT Puskesmas Jatiroto. Akan tetapi kasus yang ada adalah kasus dari luar daerah (import).

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

Hal ini perlu terus didukung dengan peran serta masyarakat dalam penanggulangan malaria antara lain melalui : (1) kepatuhan minum obat anti malaria agar setiap penderita dapat minum obat secara tuntas, (2) pencegahan gigitan nyamuk melalui pemakaian kelambu, pemasangan kasat kasa di rumah, pemakaian obat gosok penolak nyamuk (repellent), pemakaian baju tebal dan (3) pencegahan terjadinya sarang nyamuk malaria melalui pembersihan lumut di tempat-tempat/bagian rumah yang lembab, pencegahan terbentuknya genangan air, memelihara ikan pemakan jentik di genangan air, serta pencegahan terbentuknya sarang nyamuk.

B. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (P2 DBD)

Tingginya mobilitas penduduk, belum memasyarakatnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta masih rendahnya angka bebas jentik (ABJ),merupakan kondisi yang menyebabkan DBD masih merupakan masalah di Kabupaten Wonogiri.Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial).

Pada tahun 2012, angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) sebesar 1,04 per 100.000 penduduk. Angka ini didapatkan dari perbandingan antara jumlah penderita sebanyak 13 orang, dan dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Pada dua tahun terakhir angka kesakitan Demam Berdarah Dengeu (DBD) mengalami kecenderungan penurunan, pada tahun 2010 angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) sebesar 28,41 per 100.000 penduduk, dengan penderita sebanyak 354 penderita dan tahun 2011 angka kesakitan DBD sebesar 0,88 per 100.000 penduduk dengan penderita sebanyak 11 penderita. Akan tetapi untuk tahun ini, angka kesakitan DBD ada kecenderungan kenaikan dari tahun sebelumnya, namun apabila dibandingkan dengan angka kesakitan dalam empat tahun terakhir, yaitu tahun 2008, 2009, 2010 dan tahun 2011, maka angka kenaikan tersebut masih rendah bila dibandingkan angka kesakitan pada tahun – tahun tersebut.

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 Grafik 4. Trend Angka Kesakitan DBD

Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2008 s/d 2012

Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri tahun 2008, 2009,2010, 2011 dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2012

UPT Puskesmas dengan jumlah penderita DBD tertinggi berada di wilayah UPT Puskesmas Wonogiri I sebanyak 4 penderita, dan dibawahnya UPT Puskesmas Selogiri dan Eromoko Imasing-masing sebanyak 2 penderita. Sedang UPT Puskesmas dengan 1 penderita, berada di wilayah kerja UPT Puskesmas Pracimantoro II, Wonogiri II, Ngadirojo, Jatisrono II, dan Girimarto.

Bila dilihat dari banyaknya penderita yang berasal dari wilayah kerja Puskesmas yang berpenduduk relatif padat, dan berada dalam jalur mobilitas yang tinggi, maka hal ini kemungkinan disebabkan oleh lingkungan pemukiman yang padat, banyaknya sampah, genangan air bersih, semak belukar pada lahan kosong, dan kebersihan lingkungan. Kemungkinan juga adanya baju-baju yang digantung di dalam rumah, kondisi rumah yang gelap dan lembab, menambah risiko untuk perkembangbiakan nyamuk jenis Aedes aegypti. Kemungkinan lain yaitu

27 33 28 1 1 0 5 10 15 20 25 30 35 40 2008 2009 2010 2011 2012

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

adanya mobilitas penduduk yang tinggi, yang dapat terinfeksi pada saat di lain daerah.

Beberapa sumber mengemukakan, bahwa jentik yang dihasilkan dari induk nyamuk yang sudah terinfeksi virus dengue, apabila sudah menjadi nyamuk, sudah akan mampu menularkan penyakit demam berdarah, karena sudah terinfeksi dari induknya. Sumber yang lain mengemukakan, nyamuk yang terinfeksi oleh virus dengue, akan mengalami kemunduran kemampuan menghisap darah. Sehingga nyamuk akan berulang-ulang mencoba dari satu orang ke orang yang lain, sekaligus menularkan virus dengue ke tubuh korban.

Apabila dihubungkan dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), dimana pada tahun 2012 ini dari 72.852 rumah yang diperiksa, baru 62.161 yang dinyatakan bebas jentik, atau sebesar 85,32%. Angka ini apabila dibandingkan dengan standar ABJ, dimana ABJ sebesar 95%, maka belum memenuhi ABJ yang dipersyaratkan, dan apabila dibandingkan dengan tahun lalu yaitu sebesar 92,66% maka tahun ini kecenderungannya menurun. ABJ paling rendah berada pada wilayah kerja UPT Puskesmas Karangtengah (39,60%), dan ABJ tertinggi berada di wilayah kerja UPT Puskesmas Sidoharjo (100%).Perlu dikaji lebih dalam untuk tahun-tahun selanjutnya tentang data Angka Bebas Jentik (ABJ), karena UPT Puskesmas Karangtengah dengan kondisi daerah berada di dataran tinggi, ABJ nya justru sangat rendah.

3.3.3.2. Penyakit Menular Langsung

A. Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2 TB Paru)

Berdasarkan laporan WHO (Global Tuberculosis Control 2012), pada tahun 2011, Indonesia merupakan negara dengan peringkat ke-4 terbesar, untuk kasus incident cases TBC, dengan peringkat 5 besar adalah India (2 – 2,5 juta), China (0,9 – 1,1 juta), Afrika Selatan (0,4 – 0,6 juta), Indonesia (0,4 – 0,5 juta), dan Pakistan (0,3 – 0,5 juta).

Angka tersebut diyakini sangat memungkinkan, apalagi bila dikaitkan dengan kondisi lingkungan perumahan, sosial ekonomi masyarakat,

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

serta kecenderungan peningkatan penderita HIV/AIDS di Indonesia saat ini.

Di wilayah Kabupaten Wonogiri, diperkirakan pada tahun 2012 terdapat 1.333 penderita BTA (+). Dari angka perkiraan tersebut, didapatkan penderita baru BTA (+) sebesar 452 penderita, atau Case Detection Rate (CDR) sebesar 33,91%. Persentase penemuan tertinggi berada di wilayah UPT Puskesmas Wonogiri II (78,26%), Slogohimo (76,25%), dan Baturetno I (75,33%). Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 11.

Apabila dibandingkan dengan tahun 2011, perkiraan terdapat 1.333 penderita BTA (+), dari angka perkiraan tersebut, didapatkan penderita baru BTA (+) sebesar 446 penderita, atau Case Detection Rate (CDR) sebesar 33,45%.Tahun 2010, perkiraan terdapat 1.045 kasus BTA (+), dari angka perkiraan tersebut, didapatkan kasus baru BTA (+) sebesar 360 kasus, dengan angka CDR sebesar 34,45%. Sehingga apabila dibandingkan dengan tahun 2011, ada sedikit peningkatan CDR dari 33,45% menjadi 33,91%.

Tahun 2012 ini terjadi kenaikan angka CDR walaupun hanya 0,46%, namun angka tersebut masih dibawah target jika dibandingkan target CDR baik target nasional (70%) maupun target kabupaten (51%). Menurut Prof. Bhisma Murti, dkk, dalam makalahnya yang berjudul ”Evaluasi Program Pengendalian Tuberkulosis Dengan Strategi Dots Di Eks Karesidenan Surakarta”, beberapa faktor penyebab rendahnya CDR: (1) Kesulitan suspek kasus mengeluarkan dahak, meskipun telah diberikan mukolitik-ekspektoran (terutama pasien suspek TB yang telah diobati sebelumnya dengan obat anti-tuberkulosis/ OAT yang tidak standar); (2) Program TB hanya mengandalkan Passive Case Finding (PCF) untuk menjaring kasus TB; (3) Penerapan estimasi prevalensi kasus BTA positif TB yang seragam di seluruh Indonesia, yaitu 107 kasus/100,000 penduduk, untuk semua kota, kabupaten dan kecamatan; (4) Penyebab lain, seperti penjaringan terlalu longgar

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

(terlalu sensitif), banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek terjaring, dan kualitas dahak yang diperiksa kurang baik.

Pada tahun 2012 dari 446 penderita yang diobati, didapatkan angka kesembuhan sebesar 91,03% (406 penderita). Sedangkan untuk tahun-tahun sebelumnya yaitu tahun-tahun 2011 dari 446 penderita yang diobati, didapatkan angka kesembuhan sebesar 90,77% (423 penderita). Sedangkan pada tahun 2010, dari 391 penderita didapatkan data kesembuhan penderita TB sebesar 341 penderita, atau sebesar 87,21%. Apabila dibandingkan dengan tahun 2009, dimana angka kesembuhan TB mencapai 96,79%, maka pada tahun 2012 persentase kesembuhan TB mengalami penurunan. Sedangkan bila dibandingkan dengan target Indonesia Sehat 2010 (85%), maka persentase kesembuhan di Kab. Wonogiri sudah diatas target. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 12.

Grafik 5. Trend Persentase Kesembuhan TB Paru Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2009 s/d 2012

Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri tahun 2009,2010, 2011 dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2012

96,79 87,21 90,77 91,03 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00 94,00 96,00 98,00 2009 2010 2011 2012

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

B. Pemberantasan Penyakit Kusta (P2 Kusta)

Penyakit kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae. Kuman Mycobacterium Leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata dua hingga lima tahun. Setelah lima tahun, tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas, penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta. Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:

- Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.

- Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang. Jika ditinjau dari situasi global, Indonesia merupakan negara penyumbang jumlah penderita kusta ketiga terbanyak setelah India dan Brazil. Masalah ini diperberat dengan masih tingginya stigma di kalangan masyarakat dan sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini, sebagian besar penderita dan mantan penderita kusta dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan serta pekerjaan, yang berakibat pada menurunnya produktivitas dan lebih lanjut akan meningkatkan angka kemiskinan.

Untuk kepentingan pengobatan, WHO membagi penyakit kusta menjdi dua tipe, yaitu tipe Pausibasiler (PB)/kusta kering, dan tipe Multibasiler

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

(MB)/kusta basah. Pada kusta tipe PB terdapat 1 – 5buah bercak pada kulit dengan distribusi yang tidak simetris, hilangnya sensasi rasa yang jelas dan hanya mengenai satu cabang saraf, namun memberi hasil pemeriksaan bakterioskopik yang negatif. Pengobatan Penyakit kusta tipe PB ini cenderung lebih sebentar daripada tipe basah. Sedangkan pada kusta tipe MB ditandai dengan adanya bercak atau kelainan pada kulit lebih dari lima buah, dengan distribusi yang lebih simetris, hilangnya sensasi rasa kurang jelas namun mengenai banyak cabang saraf, serta ditemukan hasil yang positif pada pemeriksaan bakterioskopik. Penularan terjadi apabila seseorang kontak dengan pasien sangat dekat dan dalam jangka panjang.

Di Kabupaten Wonogiri, pada tahun 2012 dari total 34 penderita tercatat sebanyak 4 penderita PB dan 30 penderita MB sehingga didapatkan angka NCDR (New Case Detection Rate) sebesar 2,71 per 100.000 penduduk.Penderita kusta dengan tipe MB terbanyak berada di wilayah UPT Puskesmas Jatisrono 1 ( 4 penderita), untuk data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 17.

Sedangkan pada tahun 2011, tercatat sebanyak 3 penderita PB dan 39 penderita MB, sehingga total penderita penyakit kusta ada 42 penderita.Dibandingkan dengan tahun 2010, tercatat sebanyak 8 penderita PB, dan 7 diantaranya RFT PB (88%). Penderita kusta dengan tipe MB sebanyak 42 penderita, dengan RFT MB sebanyak 18 penderita (42,86%).Sedangkan pada tahun 2009 jumlah penderita Kusta yang terdaftar (PB dan MB) sebanyak 56 orang, dengan persentase Release From Threatment Pausi Basiler (RFT PB) sebesar 100% dan Release From Threatment Multi Basiler (RFT MB) sebesar 51,02%.

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

Grafik 6. Trend Jumlah Penderita Kusta MB

Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2007 s/d 2012

Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri tahun 2007, 2008, 2009,2010, 2011 dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2012

Apabila dibandingkan dengan tiga tahun terakhir yaitu tahun 2009, 2010 dan 2011, maka pada tahun 2012 ini cenderung terus mengalami penurunan.

C. Pemberantasan Penyakit Diare (P2 Diare)

Penyakit diare adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan, maupun kotoran yang disertai darah dan lendir.

Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, diare disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus, parasit), alergi (terhadap makanan maupun obat-obatan), infeksi oleh virus maupun bakteri lain yang menyertai penyakit lain, maupun oleh karena pemanis buatan.

Berdasarkan laporan Bidang P2PL tahun 2012 terdapat 12.684 penderita dengan angka kesakitan sebesar 10,13 per 1.000 penduduk. Dari seluruh

39 44 56 42 39 30 0 10 20 30 40 50 60 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

penderita tersebut, tidak terdapat kematian. Sedangkan pada tahun 2011, terdapat 17.911 penderita, dengan angka kesakitan sebesar 14,30 per 1.000 penduduk. Apabila dibandingkan dengan tahun 2010, terjadi kenaikan, dimana pada tahun 2010 terdapat 12.150 penderita, dengan angka kesakitan sebesar 9,75 per 1.000 penduduk. Dan pada tahun 2009, terdapat 10.687 penderita dan angka kesakitan akibat diare sebesar 8,65 per 1.000 penduduk.

Adapun trend penyakit diare pada tahun 2007 s/d 2012 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Grafik7. Trend Jumlah Penderita Diare

Di Kabupaten Wonogiri, tahun 2007 s/d 2012

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri tahun 2007, 2008, 2009,2010, 2011 dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2012 Berdasarkan grafik, terlihat bahwa perkembangan penderita penyakit Diare di Kabupaten Wonogiri mengalami siklus naik dan turun dari tahun 2007 s/d tahun 2012.

3.3.3.3. Kejadian Luar Biasa

Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Wonogiri selama tahun 2012 tercatat 18 KLB, dan keseluruhannya ditangani < 24 jam (100%). Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 51. KLB yang terjadi

18.228 20.822 10.687 12.150 17.911 12.684 0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

berupa keracunan makanan, penyakit chikungunya, diare dan Demam Berdarah Dengue.

3.3.3.4. Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

Difteri, Pertusis, Tetanus, campak, polio dan hepatitis B merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Penyakit-panyakit ini timbul karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi.

Di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2009 data yang diterima dari laporan SIK puskesmas tentang penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) hanya data penyakit campak yang rata-rata terisi. Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan kejadian luar biasa (KLB). Pada tahun 2012 tercatat sebanyak 45 penderita campak di Kabupaten Wonogiri. Adapun untuk data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 22. Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2011, tercatat sebanyak 30 penderita, pada 2010 di Kabupaten Wonogiri, jumlah penderita campak sebanyak 47 penderita, pada tahun 2009 sejumlah 90 penderita, dan pada tahun 2008 sebanyak 27 penderita.

Grafik 8. Trend Jumlah Penderita Campak

Di Kabupaten Wonogiri, tahun 2007 s/d 2012

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri tahun 2007, 2008, 2009, 2010, 2011 dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2012

27 90 47 30 45 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 2008 2009 2010 2011 2012

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

Pada tahun 2012, penderita terbanyak berada di wilayah UPT Puskesmas Wonogiri II (11 penderita), UPT Puskesmas Selogiri (8 penderita), UPT Puskesmas Wuryantoro dan UPT Puskesmas Jatisrono 1 masing-masing dengan 5 penderita. Data selengkapnya dapat dilihat di lampiran, tabel 22. 3.3.4. Status Gizi

Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum, karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusui sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui.

Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai indikator-indikator status gizi masyarakat antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, ASI Ekslusif, Kecamatan Bebas Rawan Gizi dan Garam Beryodium. 3.3.4.1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang, banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria, dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil.

Di Kabupaten Wonogiri, pada tahun 2012 tercatat 626 dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram, atau 4,9% dari bayi lahir ditimbang. Dari data tersebut, jumlah BBLR terbanyak berada di wilayah UPT Puskesmas Ngadirojo (46 bayi), kemudian UPT Puskesmas Kismantoro (32 bayi dan UPT Puskesmas Purwantoro I (31 bayi). Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 26. Dibandingkan dengan tahun 2011 tercatat sebanyak 608, tahun 2010, terdapat 449 bayi BBLR (3,25% dari total bayi lahir hidup), dan keseluruhannya telah ditangani sesuai dengan standar.

Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012

Pada tahun 2009, dimana kejadian BBLR sebanyak 691 bayi (4,88% dari total bayi lahir hidup) dan pada tahun 2008 terdapat kejadian BBLR sebanyak 550 bayi (3,89% dari total bayi lahir hidup).

Dokumen terkait