PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN WONOGIRI
TAHUN 2013
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji Syukur kita Panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmatnya Buku Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 telah dapat diterbitkan. Profil kesehatan Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu sarana untuk menyajikan, memantau dan mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan di Kabupaten Wonogiri dan hasil kinerja penyelenggaraan standar pelayanan minimal kabupaten.
Profil Kesehatan tahun 2012 ini disusun dengan format baru berdasarkan Pedoman Penyusunan Profil Kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2008. Indikator dan data yang tercantum dalam Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 merupakan indikator yang dimuat dalam dokumen Indikator Indonesia Sehat 2010 dan dokumen Indikator Kinerja dari Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Indikator Indonesia Sehat 2010 dapat digolongkan ke dalam (1) indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator-indikator untuk mortalitas, morbiditas, dan status gizi. (2) Indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator-indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta (3) indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator-indikator untuk pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor terkait. Sedangkan Indikator Kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan terdiri atas 47 indikator kinerja dari 26 pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh Kabupaten/Kota se Propinsi Jawa Tengah.
Data yang digunakan dalam proses penyusunan buku profil kesehatan ini bersumber dari Laporan Data SIK Puskesmas maupun data dari Bidang-bidang di tingkatan Dinas. Namun karena data yang dibutuhkan sebagian belum ada dalam sistem pencatatan dan pelaporan yang telah berjalan selama ini, maka hasil kompilasi tabel Profil Kabupaten Wonogiri sebagaimana terlampir, beberapa tabel tidak lengkap karena tidak tersedia datanya sehingga diambilah data dari para pemegang program serta melibatkan pula
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
lintas sektor, diantaranya Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri, Dinas Pendidikan, BKKBN, dan sektor-sektor terkait lainnya.
Selanjutnya diharapkan saran dan kritik yang membangun, serta partisipasi dari semua pihak khususnya dalam upaya mendapatkan data/informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan.
Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaganya dalam penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri, kami sampaikan terima kasih.
Wonogiri, 2013 KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN WONOGIRI
dr. WIDODO, M.Kes
Pembina Utama Muda NIP. 19580725 198511 1 002
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 D A F T A R I S I Halaman Judul ... i Kata Pengantar ... ii Daftar Isi ... iv Daftar Tabel ... v Daftar Grafik ... vi
Daftar Gambar ... vii
Daftar Tabel Lampiran ... viii
Daftar Singkatan ... xi
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 4
1.3. Sistematika Penyajian ... 5
BAB II. GAMBARAN UMUM 2.1. Keadaan Geografi ... 7
2.2. Keadaan Penduduk ... 10
2.3. Keadaan Sosial Ekonomi ... 14
2.4. Tingkat Pendidikan ... 14
BAB III. SITUASI DERAJAT KESEHATAN 3.1. Visi dan Misi ... 17
3.2. Derajat Kesehatan ... 18
3.3. Indikator Derajat Kesehatan ... 19
3.4. Perilaku Masyarakat ... 46
BAB IV. SITUASI UPAYA KESEHATAN 4.1. Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesehatan Dasar ... 50
4.2. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak ... 50
4.3. Upaya Kesehatan Rujukan dan Kesehatan Khusus ... 58
4.4. Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan ... 59
BAB V. SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN 5.1. Sarana Kesehatan ... 60
5.2. Tenaga Kesehatan ... 63
5.3. Pembiayaan Kesehatan ... 65
BAB VI. PENUTUP 6.1. Kesimpulan ... 68
6.2. Saran ... 69
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
D A F T A R T A B E L
Tabel 01. Kepadatan Penduduk Kabupaten Wonogiri Menurut Kecamatan
Tahun 2012 ... 10 Tabel 02. Sex Ratio Penduduk dan Struktur Penduduk Menurut Golongan Umur
Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 ... 12 Tabel 03. Persentase Tingkat Pendidikan Penduduk Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 14 Tabel 04. Jumlah Penduduk Usia Sekolah, Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Menurut Umur di Kabupaten Wonogiri Tahun 2010, 2011 dan 2012 ... 16 Tabel 05. Estimasi Angka Harapan Hidup di Kabupaten Wonogiri ... 21 Tabel 06. Anggaran Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2011 ... 51
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
D A F T A R G R A F I K
Grafik 01. Trend Perkembangan Penduduk Tahun 2008 s/d 2012 ... 11 Grafik 02. Piramida Penduduk Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 ... 13 Grafik 03. Persentase Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Kabupaten Wonogiri Tahun 2011 dan 2012 ... 15 Grafik 03. Trend Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2007 s/d 2012 ... 22 Grafik 04. Trend Angka Kematian Ibu (AKI) Di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2007 s/d 2012 ... 25 Grafik 04. Trend Angka Kesakitan DBD di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2008 s/d 2012 ... 29 Grafik 05. Trend Persentase Kesembuhan TB Paru Di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2009 s/d 2012 ... 32 Grafik 06. Trend Jumlah Penderita Kusta MB Di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2007 s/d 2012 ... 35 Grafik 07. Trend Jumlah Penderita Diare Di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2007 s/d 2012 ... 36 Grafik 08. Trend Jumlah Penderita Campak Di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2007 s/d 2012 ... 37 Grafik 09. Trend Jumlah Bayi BBLR Di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2008 s/d 2012 ... 39 Grafik 11. Trend Persentase Rumah Sehat di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2007 s/d 2012 ... 44 Grafik 12. Persentase Strata Posyandu di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2007 s/d 2012 ... 49 Grafik 13. Persentase BBLR di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2009 s/d 2012 ... 53 Grafik 14. Trend Drop Out (DO) Imunisasi Bayi di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2008 s/d 2012 ... 55 Grafik 15. Persentase Pencapaian Desa/Kelurahan UCI di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2009 s/d 2012 ... 56 Grafik 16. Persentase Peserta KB Baru dan KB Aktif di Kabupaten Wonogiri
Tahun 2007 s/d 2012 ... 57 Grafik 17. Jumlah Posyandu di Kabupaten Wonogiri
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
DAFTAR GAMBAR
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
DAFTAR TABEL LAMPIRAN
Tabel 1. Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga Dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan
Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Kelompok Umur, Rasio Beban Tanggungan, Rasio Jenis Kelamin Dan Kecamatan
Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dan Kelompok Umur
Tabel 4. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Yang Melek Huruf Menurut Jenis Kelamin Dan Kecamatan
Tabel 5. Persentase Penduduk Laki-Laki Dan Perempuan Berusia 10 Tahun Ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Dan Kecamatan Tabel 6. Jumlah Kelahiran Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 7. Jumlah Kematian Bayi Dan Balita Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas
Tabel 8. Jumlah Kematian Ibu Menurut Kelompok Umur, Kecamatan, dan Puskesmas Tabel 9. Jumlah Kasus AFP (Non Polio) Dan AFP Rate (Non Polio) Menurut Kecamatan
dan Puskesmas
Tabel 10. Jumlah Kasus Baru TB Paru dan Kematian Akibat TB Paru Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas
Tabel 11. Jumlah Kasus dan Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+ Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas
Tabel 12. Jumlah Kasus dan Kesembuhan TB Paru BTA+ Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas
Tabel 13. Penemuan Kasus Pneumonia Balita Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas
Tabel 14. Jumlah Kasus Baru HIV, AIDS, dan Infeksi Menular Seksual Lainnya Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas
Tabel 15. Persentase Donor Darah Diskrining Terhadap HIV Menurut Jenis Kelamin Tabel 16. Kasus Diare yang ditangani menurut Jenis kelamin, Kecamatan dan Puskesms Tabel 17. Jumlah Kasus Baru Kusta menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Tabel 18. Kasus Baru Kusta 0-14 tahun dan cacat tingkat 2 menurut Jenis Kelamin,
Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 19. Jumlah Kasus dan Angka Prevalensi Penyakit Kusta menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 20. Persentase Penderita Kusta selesai berobat menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 21. Jumlah Kasus Penyakit yang dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 22. Jumlah Kasus Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I) menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 23. Jumlah Kasus DBD menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 24. Kesakitan dan Kematian akibat Malaria menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 25. Penderita Filariasis ditangani menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Tabel 26. Bayi Berat Badan Lahir Rendah menurut Jenis Kelamin, kecamatan dan Puskesmas
Tabel 27. Status Gizi Balita menurut jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 28. Cakupan kunjungan ibu hamil, Persalinan ditolong tenaga kesehatan, dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 29. Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil menurut Kecamatan dan Puskemas
Tabel 30. Jumlah Ibu Hamil yang mendapatkan tablet Fe1 dan Fe3 menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 31. Jumlah dan Persentase Ibu Hamil dan Neonatal Resiko Tinggi/Komplikasi Ditangani menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 32. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi, Anak Balita dan Ibu Nifas menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 33. Proporsi Peserta KB Aktif menurut Jenis Kontrasepsi, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 34. Proporsi Peserta KB Baru menurut jenis kontrasepsi, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 35. Jumlah Peserta KB Baru dan KB Aktif menurut Kecamatan dan Puskesmas Tabel 36. Cakupan Kunjungan Neonatus menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan
Puskesmas
Tabel 37. Cakupan Kunjungan Bayi menurut Jenis Kelami, Kecamatan dan Puskesmas Tabel 38. Cakupan Desa/Kelurahan UCI menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 39. Cakupan Imunisasi DPT, HB dan Campak pada Bayi menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 40. Cakupan Imunisasi BCG dan Polio pada Bayi menurut Jenis Kelamin, kecamatan dan Puskesmas
Tabel 41. Jumlah Bayi yang diberi ASI Ekslusif menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 42. Pemberian Makanan Pendamping ASI Anak Usia 6-23 Bulan Keluarga Miskin menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 43. Cakupan Pelayanan Anak Balita menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 44. Jumlah Balita Ditimbang menurut Jenis kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Tabel 45. Cakupan Balita Gizi Buruk yang mendapat Perawatan menurut Jenis Kelamin,
Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 46. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD & Setingkat menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 47. Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD dan setingkat menurut jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 48. Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 49. Persentase Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat (Gadar) Level 1
Tabel 50. Jumlah Penderita dan Kematian pada KLB menurut Jenis KLB
Tabel 51. Desa/Kelurahan terkena KLB yang ditangani < 24 jam menurut Kecamatan dan Puskemas
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Tabel 52. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 53. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut pada anak SD dan setingkat menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas
Tabel 54. Jumlah Kegiatan Penyuluhan Kesehatan
Tabel 55. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 56. Cakupan Pelayanan Rawat Jalan Masyarakat Miskin (dan Hampir Miskin) menurut Strata Kesehatan, Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Tabel 57. Cakupan Pelayanan Rawat Inap Masyarakat Miskin (dan Hampir Miskin)
menurut Strata Kesehatan, Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 58. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap dan Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan
Tabel 59. Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit Tabel 60. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit
Tabel 61. Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 62. Persentase Rumah Sehat menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 63. Persentase Rumah/Bangunan Bebas Jentik Nyamuk Aedes menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 64. Persentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 65. Persentase Keluarga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 66. Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 67. Persentase Tempat Umum dan Pengelola Makanan (TUPM) Sehat menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 68. Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya menurut Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 69. Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat
Tabel 70. Jumlah Srana Pelayanan Kesehatan Menurut Kepemilikan
Tabel 71. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Kemampuan Labkes dan memiliki 4 Spesialis Dasar
Tabel 72. Jumlah Posyandu menurut Strata, Kecamatan dan Puskesmas
Tabel 73. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) menurut Kecamatan Tabel 74. Jumlah Tenaga Medis di Sarana Kesehatan
Tabel 75. Jumlah Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan
Tabel 76. Jumlah Tenaga Kefarmasian dan Gizi di Sarana Kesehatan
Tabel 77. Jumlah tenaga Kesehatan Masyarakat dan Sanitasi Di Sarana Kesehatan Tabel 78. Jumlah Tenaga Teknisi Medis dan Fisioterapis Di Sarana Kesehatan Tabel 79. Anggaran Keshatan Kbupaten
Tabel 80. Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas dan Rasio Korban Luka dan Meninggal terhadap Jumlah Penduduk
Tabel 81. Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beryodium yang Baik Tabel 82. Kasus Penyakit Tidak Menular di Puskesmas dan Rumah Sakit Tabel 83. Data Pelayanan Kesehatan Kerja
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
DAFTAR SINGKATAN
3M : Menutup, Menguras, dan Mengubur
ABJ : Angka Bebas Jentik
AIDS : Acquired Immuno Deficiency Syndrome
AKABA : Angka Kematian Balita
AKB : Angka Kematian Bayi
AKI : Angka Kematian Ibu
ANC : Antenatal Care (Pemeriksaan Ibu Hamil)
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
ASI : Air Susu Ibu
Askes : Asuransi Kesehatan
Bapel : Badan Pelaksana
Bapim : Badan Pembina
BB/TB : Berat Badan per Tinggi Badan
BB/U : Berat Badan per Umur
BBLR : Berat Badan Lahir Rendah
BCG : Bacilli Calmette- Guerin
BGM : Bawah Garis Merah
Bidang PKPK : Bidang Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
BPS : Badan Pusat Statistik
BTA : Basil Tahan Asam
CBR : Crude Birth Rate (Angka Kelahiran Kasar)
CDR : Case Detection Rate
DAK : Dana Alokasi Khusus
DBD : Demam Berdarah Dengue
DKK : Dinas Kesehatan Kabupaten
DO : Drop Out
DPT : Dipteri Pertusis dan Tetanus
GFK : Gudang Farmasi Kabupaten
Ha : Hektar
HB : Hepatitis B
HIV : Human Immunodeficiency Virus
IMR : Infant Mortality Rate (Angka Kematian Bayi)
IS : Indonesia Sehat
IUD : Intra Uterin Device
IUGR : Intra Uterine Growth Retardation
Jamsostek : Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Kab. : Kabupaten
Kal. : Kalurahan
KB : Keluarga Berencana
Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KK : Kepala Keluarga
KLB : Kejadian Luar Biasa
KLH : Kelahiran Hidup
Km2 : Kilometer persegi
KN : Kunjungan Neonatal
MA : Madrasah Aliyah
MB : Multi Basiler
MMR : Maternal Mortality Rate (Angka Kematian Ibu)
MOP/MOW : Metode Operasi Pria/Metode Operasi Wanita
MP-ASI : Makanan Pendamping Air Susu Ibu
MTs : Madrasah Tsanawiyah
Nakes : Tenaga Kesehatan
No. : Nomor
P2 : Pemberantasan Penyakit
P2PL : Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
PB : Pausi Basiler
PD3I : Penyakit Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum
Permenkes : Peraturan Menteri Kesehatan
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
PHLN : Pinjaman/Hibah Luar Negeri
PKD : Poliklinik Kesehatan Desa
PKG : Pemantauan Konsumsi Gizi
PLP : Penyehatan Lingkungan Pemukiman
PMS : Penyakit Menular Seksual
PMT-ASI : Pemberian Makanan Tambahan Air Susu Ibu
Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional
Polindes : Pondok Bersalin Desa
Poned : Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergency Dasar
Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu
PPK : Pemberi Pelayanan Kesehatan
PSG : Pemantauan Status Gizi
PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk
PTT : Pegawai Tidak Tetap
PUS : Pasangan Usia Subur
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Pustu : Puskesmas Pembantu
PWS-KIA : Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak
RFT : Release From Threatment
RI : Republik Indonesia
RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah
SD : Sekolah Dasar
SDM : Sumber Daya Manusia
Sie : Seksi
SIK : Sistem Informasi Kesehatan
SIM : Sistem Informasi Manajemen
SKN : Sistem Kesehatan Nasional
SMA : Sekolah Menengah Atas
SMP : Sekolah Menengah Pertama
SPAL : Saluran Pembuangan Air Limbah
SPM : Standar Pelayanan Minimal
TBC : Tuberculosis
TTU : Tempat-tempat Umum
UCI : Universal Child Immunization
UHH : Umur Harapan Hidup
UU : Undang-undang
WHO : World Health Organization (Organisasi Kesehatan Dunia)
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan nasional secara menyeluruh. Pembangunan di bidang kesehatan sangat terkait dan dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti pendidikan, sosial budaya, demografi dan geografis, perkembangan lingkungan fisik dan biologik, maupun aspek-aspek yang lain.
Dari aspek global, dengan adanya Millenium Development Goals (MDG’s) mensyaratkan pencapaian-pencapaian tertentu pada tahun 2015, maka hal ini menjadi target sekaligus tantangan hal yang harus dicapai negara pada tahun 2015. Target-target ini kemudian diturunkan ke tingkat provinsi, yang selanjutnya diteruskan ke tingkat kabupaten maupun kota. Pentingnya pencapaian MDG’s ini diindikasikan dengan keluarnya Instruksi Presiden No. 3 tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan, yang didalamnya menyebutkan bahwa pengambil kebijakan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing, dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan yang berkeadilan, yang salah satunya adalah program-program Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium. Dalam MDG’s, terdapat 8 (delapan) tujuan utama, yang 5 (lima) diantaranya berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan bidang kesehatan.
Sejalan dengan MDG’s dan Instruksi Presiden No. 3 tahun 2010, Pemerintah Kabupaten Wonogiri mengeluarkan Peraturan Bupati No. 9 tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan di Kabupaten Wonogiri, mengamanatkan pencapaian SPM tahun 2015 ditetapkan minimal berdasarkan target yang termuat dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 741/MENKES/PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Dalam rangka mendukung program MDG’s di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), yang pelaksanaannya diutamakan untuk kegiatan promotif dan preventif. Program BOK yang telah digulirkan Kementerian Kesehatan mulai 2010 diharapkan membawa peningkatan capaian kinerja daerah, terutama dukungan terhadap capaian MDG’s di Kabupaten Wonogiri.
Desentralisasi bidang kesehatan yang telah disusun pada bulan Januari 2001 dikembangkan menjadi langkah strategis untuk menyelesaikan berbagai hambatan dan tantangan yang dihadapi pusat dan daerah. Oleh karena itu perlu adanya peraturan untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi dan berbagai pedoman teknis.
Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang mengatur pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah mengandung konsekuensi bahwa masing-masing daerah harus memiliki sistem kesehatan tersendiri, termasuk dukungan dalam menyusun sistem informasinya. Kualitas Sistem Informasi Kesehatan Nasional sangat ditentukan oleh kualitas dari sistem-sistem informasi kesehatan (SIK) provinsi. Dan untuk memperoleh sistem kesehatan provinsi yang akurat, maka diperlukan pemantapan sistem informasi kabupaten/kota. Begitu pula dengan UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dimana pada pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik. Hal ini menyiratkan bahwa instansi yang berwenang wajib menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Demikian pula pada ayat (3), disebutkan bahwa setiap informasi publik harus dapat diperoleh setiap pemohon informasi publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana. Sehingga dalam penyediaan ini dibutuhkan suatu sistem yang mendukung penyediaan informasi, terutama di bidang kesehatan. Menjembatani apa yang menjadi amanat dalam peraturan regulasi tersebut, maka dibentuklah suatu sistem informasi kesehatan (SIK) di tingkat kabupaten.
SIK kabupaten/kota diharapkan dapat menyediakan data dan informasi dalam penyusunan rencana pembangunan daerah tersebut serta sebagai landasan pengembangan sumber daya kesehatan secara benar, akurat, dan lengkap. Dari data
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
dan informasi ini pula terlihat pencapaian indikator-indikator keberhasilan pembangunan kesehatan, maupun untuk keperluan perencanaan, evaluasi, dan pelaporan.
Adanya surat Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Nomor IR.01.01/VI/062/2011 tanggal 18 Januari 2011 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota (yang Responsif Gender), semakin menekankan pentingnya SIK di tingkat kabupaten/kota. Dalam surat ini, disertakan Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan Kab/Kota, edisi terpilah menurut jenis kelamin. Dan berdasarkan pertemuan petugas SIK kabupaten kota se Provinsi Jawa Tengah, disepakati bahwa kabupaten kota se-Jawa Tengah belum siap untuk menggunakan format profil ini, dikarenakan surat edaran tersebut datang, setelah beberapa kabupaten kota telah melaksanakan pengumpulan data, berdasarkan format profil yang lama.
Kebutuhan akan informasi di masyarakat, dari hari ke hari menunjukkan peningkatan yang cukup jelas. Ditambah dengan dukungan teknologi yang memungkinkan informasi dapat diakses dalam waktu yang sangat singkat. Masyarakat semakin kritis terhadap masalah-masalah kesehatan, apalagi bila hal ini merupakan kebutuhan dan masalah mereka, maka kebutuhan mereka akan informasi akan semakin terasa. Kepedulian masyarakat ini memberikan nilai positif bagi perkembangan pembangunan kesehatan, sehingga tuntutan data dan informasi yang dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu dapat tersedia. Dan salah satu produk yang dapat menjawab kebutuhan tersebut adalah “Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012”.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri bermaksud memberikan gambaran situasi kesehatan di Kabupaten Wonogiri yang diterbitkan setahun sekali. Dalam setiap terbitannya Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri memuat berbagai data tentang kesehatan dan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, fasilitas kesehatan, pencapaian program-program kesehatan, dan keluarga berencana. Data di analisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Dalam memberikan ulasan secara sederhana, disertakan pula data tahun-tahun sebelumnya, sehingga dapat diketahui perkembangan suatu program.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Dengan demikian jelas bahwa tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 ini adalah dalam rangka menyediakan sarana untuk perencanaan, pemantauan, dan mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan di Kabupaten Wonogiri tahun 2012 yang mengacu kepada Visi Bupati Wonogiri, yaitu “Terwujudnya Pemerintahan Wonogiri Yang Kredibel dan Efektif Demi Terciptanya Kehidupan Masyarakat Yang Berkualitas Dan Berakhlak Mulia, Bebas Dari Kemiskinan”, serta pembinaan dan pengawasan terhadap puskesmas-puskesmas binaan dalam pencapaian Visi Kabupaten.
1.2. TUJUAN
1.2.1. Tujuan Umum
Tersedianya data dan informasi di bidang kesehatan, secara baik, sederhana, informatif, benar, akurat, lengkap, dan tepat waktu, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam berbagai kebutuhan dan kewenangan.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.2.2.1. Dapat disajikannya data dan informasi tentang indikator pencapaian tahun 2012, yang meliputi derajat kesehatan masyarakat, perilaku sehat, lingkungan sehat, dan pelayanan kesehatan;
1.2.2.2. Dapat disajikannya data dan informasi tentang indikator standar pelayanan minimal Kabupaten Wonogiri yang meliputi 26 kewenangan wajib dan 8 kewenangan tambahan;
1.2.2.3. Data/informasi yang disajikan dapat digunakan untuk mendukung sistem manajemen kesehatan pada setiap tingkat administrasi kesehatan (perencanaan, pemantauan, pengerakan pelaksanaan, dan evaluasi tahunan program-program kesehatan).
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
1.3. SISTEMATIKA PENYAJIAN
1.3.1. Bab 1. Pendahuluan
Berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan profil kesehatan dan sistematika dari penyajian.
1.3.2. Bab 2. Gambaran Umum
Menyajikan gambaran umum Kabupaten Wonogiri. Selain uraian tentang letak geografis, administratif, dan informasi umum lainnya, juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misal kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan lingkungan. Data ini didapatkan dari lintas sektoral terkait.
1.3.3. Bab 3. Situasi Derajat Kesehatan
Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian kesakitan dan angka status gizi masyarakat.
1.3.4. Bab 4. Situasi Upaya Kesehatan
Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan serta upaya pelayanan keehatan lainnya yang diselenggarakan oleh Kabupaten Wonogiri.
1.3.5. Bab 5. Situasi Sumber Daya Kesehatan
Menguraikan tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan, dan sumber daya kesehatan lainnya.
1.3.6. Bab 6. Kesimpulan
Diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri di Tahun 2011. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat, bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 1.3.7. Lampiran
Berisi resume/angka pencapaian Kabupaten Wonogiri dan 83 tabel data yang merupakan gabungan Tabel Indikator Kabupaten Sehat dan indikator pencapaian kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
BAB II GAMBARAN UMUM
2.1. KEADAAN GEOGRAFI
Letak Kabupaten Wonogiri secara geografis terletak pada garis lintang 7O32’ - 8O15’ lintang selatan dan garis bujur 110O41’ - 111O18’ bujur timur. Keadaan alamnya sebagian besar terdiri dari pegunungan yang berbatu gamping, terutama di bagian selatan, termasuk jajaran pegunungan seribu, yang merupakan mata air dari Bengawan Solo, walaupun ada juga daerah dataran maupun daerah pantai.
Kabupaten Wonogiri berbatasan dengan :
- Sebelah Timur : Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur
- Sebelah Utara : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karangayar
- Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Ponorogo
- Sebelah Barat : Daerah Istimewa Yogyakarta.
Gambar 01. Peta Kabupaten Wonogiri, tahun 2013
Sumber : http://www.wonogiri.go.id/download/kab.jpg
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Berdasarkan Kantor Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2012, menunjukan bahwa Kabupaten Wonogiri memiliki luas wilayah sebesar 182.236,0236 ha (1.822,36 km2). Kabupaten Wonogiri memiliki 25 Kecamatan dan 294 desa/kelurahan. Kecamatan terjauh dari pusat kota adalah Kecamatan Paranggupito, sejauh 68 km, sedangkan kecamatan terdekat adalah Kecamatan Selogiri. Kecamatan Puhpelem yang memiliki luas wilayah 3.162 ha yang sekaligus merupakan kecamatan tersempit wilayahnya, sedangkan kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Pracimantoro. Sementara Kecamatan Karangtengah adalah kecamatan yang paling tinggi lokasinya yang berada pada ketinggian 600 meter diatas permukaan air laut dan yang paling rendah adalah Kecamatan Selogiri.
Sedangkan jarak ke kabupaten/kota terdekat dan ibukota provinsi adalah :
- Kota Surakarta : 32 km - Kabupaten Sukoharjo : 17 km - Kabupaten Klaten : 67 km - Kabupaten Boyolali : 55 km - Kabupaten Sragen : 49 km - Kabupaten Karanganyar : 49 km - Kota Semarang : 133 km
Berdasarkan ketinggiannya dari permukaan laut Kabupaten Wonogiri daerahnya berada di ketinggian: - 101-200 meter di kecamatan : 1. Selogiri , 2. Wonogiri, 3. Nguntoronadi, 4. Baturetno, 5. Wuryantoro, 6. Eromoko,
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 7. Giriwoyo, 8. Tirtomoyo, 9. Giritontro, 10. Paranggupito. - 201-300 meter di kecamatan 1. Bulukerto 2. Manyaran 3. Ngadirojo 4. Jatipurno 5. Pracimantoro 6. Batuwarno 7. Purwantoro - 301-400 meter di kecamatan 1. Sidoharjo 2. Kismantoro - 401-500 meter di kecamatan 1. Jatisrono 2. Slogohimo 3. Girimarto
- 501-600 meter di kecamatan Jatiroto
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
2.2. KEADAAN PENDUDUK
2.3.1. Kepadatan Penduduk
Tabel 1. Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
NO KECAMATAN LUAS WILAYAH (km2) JUMLAH JUMLAH PDDK JUMLAH RUMAH TANGGA RATA-RATA JIWA/RT KEPADAT AN PDDK (/km2) DESA KELU -RAH AN DESA +KEL. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 PRACIMANTORO 142,1 17 1 18 75.965 26.607 2,97 534,44 2 GIRITONTRO 61,6 5 2 7 26.314 9.010 2,92 426,97 3 GIRIWOYO 100,6 14 2 16 50.462 16.910 2,98 501,61 4 BATUWARNO 51,7 7 1 8 22.095 7.260 3,04 427,78 5 TIRTOMOYO 93,0 12 2 14 65.024 20.635 3,15 699,11 6 NGUNTORONADI 80,4 9 2 11 30.150 10.185 2,96 374.95 7 BATURETNO 89,1 13 0 13 58.071 18.249 3,18 651,75 8 EROMOKO 120,4 13 2 15 52.518 17.294 3,04 436,34 9 WURYANTORO 72,6 6 2 8 31.113 11.105 2,80 428,49 10 MANYARAN 81,6 5 2 7 44.859 13.920 3,22 549,47 11 SELOGIRI 50,2 10 1 11 62.762 18.765 3,34 1.250,74 12 WONOGIRI 82,9 9 6 15 98.503 30.229 3,26 1.187,93 13 NGADIROJO 93,3 9 2 11 70.307 23.140 3,04 753,88 14 SIDOHARJO 57,2 10 2 12 52.049 16.149 3,22 909,95 15 JATIROTO 62,8 13 2 15 48.083 15.296 3,14 766,02 16 KISMANTORO 69,9 8 2 10 46.133 14.085 3,28 660,36 17 PURWANTORO 59,5 13 2 15 65.571 20.304 3,23 1.101,48 18 BULUKERTO 40,5 9 1 10 39.901 12.527 3,19 984,72 19 SLOGOHIMO 64,2 15 2 17 62.004 18.996 3,26 966,55 20 JATISRONO 50,0 15 2 17 76.340 24.071 3,17 1.525,88 21 JATIPURNO 55,5 9 2 11 46.856 14.584 3,21 844,86 22 GIRIMARTO 62,4 12 2 14 55.880 17.731 3,15 895,94 1 2 3 4 5 6 23 KARANGTENGAH 84,6 5 0 5 25.974 8.899 2,92 307,06 24 PARANGGUPITO 64,8 8 0 8 21.489 7.479 2,87 331,88 25 PUHPELEM 31,6 5 1 6 24.083 7.787 3,09 761,64 JUMLAH 1.822,4 251 43 294 1.252.506 400.217 3,13 687,30
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Th. 2012
Penduduk kabupaten berdasarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 memiliki jumlah penduduk sebesar 1.252.506 jiwa yang tersebar di 25 kecamatan dengan luas wilayah 182.236,02 Ha dan kepadatan penduduk sebesar 687,30 jiwa per km2.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 Dari tabel di atas nampak bahwa :
- Jumlah penduduk terbesar : Kecamatan Wonogiri - Jumlah penduduk terkecil : Kecamatan Paranggupito
- Kepadatan tertinggi : Kecamatan Jatisrono
- Kepadatan terendah : Kecamatan Karangtengah
- Wilayah terluas : Kecamatan Pracimantoro
- Wilayah tersempit : Kecamatan Puhpelem
Grafik 1.
TREND PERKEMBANGAN PENDUDUK TAHUN 2008 s/d 2012
Sumber : Profil Kesehatan 2008, 2009, 2010, 2011 dan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Th. 2012
Dari grafik di atas, tampak bahwa pertumbuhan penduduk di Kabupaten Wonogiri dalam empat tahun terakhir mengalami peningkatan, namun untuk tahun 2012 ini ada sedikit penurunan, namun sangat sedikit yaitu sebesar 424 orang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena angka kematian yang relatif lebih tinggi dibanding dengan angka kelahiran serta banyaknya penduduk yang pergi merantau ke luar daerah. Selain itu juga bisa disebabkan ada penduduk yang secara administrasi sudah meninggal atau pindah tempat tinggal, namun secara administrasi baru tercatat pada tahun ini. 1.212.667 1.234.880 1.245.923 1.252.930 1.252.506 1.190.000 1.200.000 1.210.000 1.220.000 1.230.000 1.240.000 1.250.000 1.260.000 2008 2009 2010 2011 2012
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
2.3.2. Sex Ratio Penduduk dan Struktur Penduduk Menurut Golongan Umur Tabel 2. Sex Ratio Penduduk dan Struktur Penduduk
Menurut Golongan Umur Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
NO KELOMPOK UMUR
(TAHUN)
JUMLAH PENDUDUK
LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI
+PEREMPUAN 1 2 3 4 5 1 0-4 36.669 34.820 71.489 2 5-9 40.700 38.070 78.770 3 10-12 27.532 26.126 53.658 4 13-17 45.041 42.028 87.069 5 18-21 36.504 34.529 71.033 6 22-25 35.421 33.937 69.358 7 26-50 249.715 240.176 489.891 8 51-70 116.769 121.377 238.146 9 >=71 40.827 52.265 93.092 JUMLAH 629.178 623.328 1.252.506
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Wonogiri Tahun 2012 Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perkembangan ratio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan. Berdasarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2012, rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Wonogiri tahun 2012 sebesar 100,94. Terlihat bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan jumlah penduduk perempuan dan jumlah antara penduduk laki-laki dan perempuan hampir seimbang di tiap kecamatan.
Struktur penduduk Kabupaten Wonogiri menurut jenis kelamin dan golongan umur dapat dilihat pada piramida berikut :
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Grafik 2. Piramida Penduduk Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Dari piramida tersebut terlihat bahwa ciri penduduk Kabupaten Wonogiri bersifat ekspansive karena sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda. Jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di tiap golongan umur hampir sama. Penduduk laki-laki Kabupaten Wonogiri paling banyak berada di kelompok umur 26-50 tahun. Sedangkan untuk penduduk perempuan, tertinggi pada juga berada pada kisaran umur 26-50 tahun. Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit berada pada golongan umur 10-12 tahun baik penduduk laki-laki maupun perempuan.
2.3.3. Angka Kelahiran Kasar / Crude Birht Rate (CBR)
Angka Kelahiran Kasar / Crude Birht Rate (CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama.
Hingga saat ini masih belum didapat angka resmi mengenai tingkat kelahiran kasar per tahun di Kabupaten Wonogiri. Berdasarkan perkiraan/estimasi Angka Kelahiran Kasar (CBR = Jumlah Kelahiran Hidup / Jumlah Penduduk x 1000) Kabupaten Wonogiri pada tahun 2012 adalah :
CBR = 12.814 x 1.000
1.252.506
= 10,23
Angka Kelahiran Kasar (CBR) mempunyai kecenderungan menurun dari tahun ke tahun, hal ini dimungkinkan dikarenakan suksesnya program Keluarga Berencana. -300.000 -200.000 -100.000 0 100.000 200.000 300.000 0-4 5-9 10-12 13-17 18-21 22-25 26-50 51-70 >=71 Perempuan Laki-laki
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
2.3. KEADAAN SOSIAL EKONOMI
2.3.1. Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)
Angka beban tanggungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas) dengan usia produktif (antara 15 sampai 64 tahun) dikalikan 100 (www.bps.go.id). Angka beban tanggungan dapat digunakan sebagai indikator ekonomi dari suatu negara, apakah tergolong negara maju atau bukan. Semakin rendah angka beban tanggungan, maka semakin maju negara tersebut.
Berdasarkan data penduduk tahun 2012, didapatkan data :
Umur tidak produktif (umur 0 s/d 15 tahun dan di atas 70 tahun) sebanyak 382.660 jiwa, sedangkan umur produktif (umur 16 s/d 70 tahun) 869.846 jiwa.
Sehingga didapatkan angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Kabupaten Wonogiri tahun 2012 sebesar 43,99. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 44 orang penduduk usia non produktif. Angka ini menurun bila dibandingkan dengan tahun 2011, sebesar 44,18.
2.4. TINGKAT PENDIDIKAN
Tabel 3. Persentase Tingkat Pendidikan
Penduduk Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
No. Tingkat Pendidikan Jumlah
(2012) Persentase 2009 2010 2011 2012 1 2 3 4 5 6 7 1. Tidak/blm pernah sekolah 190.485 7,17% 7,83% 15,99% 15,2 % 2. Tidak/blm tamat SD 174.893 16,46% 15,44% 14,36% 14,0 % 3. SD/MI 457.324 42,40% 41,75% 36,71% 36,5 % 4. SLTP/MTs 215.689 17,22% 17,57% 16,51% 17,2 % 5. SLTA/MA 178.581 13,87% 14,43% 13,68% 14,3 % 6. Akademi/Diploma 15.781 1,44% 1,42% 1,26% 1,3 % 7. Universitas 19.753 1,45% 1,56% 1,49% 1,6 % Jumlah 1.252.506 100,00% 100,00% 100,00% 100 %
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri 2009, 2010, 2011 dan Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penduduk Kabupaten Wonogiri pada tahun 2012 paling banyak dalam katagori “SD/MI” yakni sebesar 36,5%. Dibandingkan pada tahun 2011 yang hampir seluruh kategori mengalami penurunan, pada tahun 2012 justru sebaliknya, ada 4 kategori yang mengalami kenaikan yaitu kategori SLTP/MTs naik dari 16,51% menjadi 17,2%, SLTA/MA naik dari 13,68% menjadi
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
14,3%, Akademi/Diploma naik dari 1,26% menjadi 1,3% dan universitas mengalami kenaikan dari 1,49 menjadi 1,6 %. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan yang relatif lebih tinggi.
Apabila dibandingkan dengan tahun 2011 dalam bentuk grafik, maka akan tampak grafik sebagai berikut :
Grafik 3. Persentase Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Wonogiri Tahun 2011 dan 2012
Sumber : Profil Kesehatan 2011 dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2012
Dari grafik tersebut, terdapat penurunan persentase penduduk dengan tingkat pendidikan SD, dan terjadi peningkatan persentase di tingkat pendidikan SLTP dan SLTA. Begitu pula untuk tingkat pendidikan universitas, juga terjadi peningkatan persentase. Namun begitu, masih relatif tingginya persentase yang tidak/belum pernah sekolah, memerlukan perhatian tersendiri.
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 2011 2012
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Tabel 4. Jumlah Penduduk Usia Sekolah, Berdasarkan Tingkat Pendidikan Menurut Umur di Kabupaten Wonogiri Tahun 2010, 2011, dan 2012
No.
Tingkat Pendidikan
Menurut Umur
Jumlah (2010) Jumlah (2011) Jumlah (2012)
Laki-Laki Perem
puan Jumlah Laki-Laki
Peremp
uan Jumlah Laki-Laki
Peremp uan Jumlah 1. SD (7-12 tahun) 227.254 231.659 458.913 226.644 233.319 459.963 224.383 232.941 457.324 2. SLTP (13-15 tahun) 104.542 88.554 193.096 111.470 95.344 206.814 115.863 99.826 215.689 3. SLTA (16-18 tahun) 91.852 66.753 158.605 98.733 72.723 171.456 102.550 76.031 178.581 Jumlah 423.648 386.966 810.614 436.847 401.386 838.233 442.796 408.798 851.594
Sumber : Profil Kesehatan 2010, 2011, dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2012
Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah penduduk usia sekolah pada tahun 2012 paling banyak berada di tingkat pendidikan Sekolah Dasar dan yang paling sedikit berada di tingkat pendidikan SLTA. Tabel di atas juga memperlihatkan bahwa penduduk laki-laki lebih banyak mengikuti pendidikan bila dibandingkan dengan penduduk perempuan. Apabila dibandingkan dengan tahun 2011, maka terdapat peningkatan penduduk yang mengikuti pendidikan, baik di jenjang SLTP maupun SLTA, namun untuk jenjang pendidikan SD, terjadi penurunan. Data selengkapnya dapat dilihat di lampiran 4.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
3.1. VISI DAN MISI
3.1.1. Visi
Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri yang ingin dicapai adalah : “Terwujudnya Masyarakat Wonogiri Sehat Dan Mandiri.“
Sesuai dengan visi, tugas pokok, fungsi, dan kewenangan, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri berfungsi sebagai motor penggerak dalam pembangunan di bidang kesehatan. Dalam usaha pencapaian visi tersebut, maka dirumuskan langkah-langkah utama dalam bentuk misi.
3.1.2. Misi
Dalam usaha mewujudkan visi yang telah ditentukan, maka dirumuskan misi yang diemban, yaitu :
1. Menggerakkan Pembangunan Berwawasan Kesehatan
Dalam setiap sektor pembangunan, maka kesehatan harus mendapatkan perhatian.Sehingga setiap kebijakan publik, harus memperhitungkan dampaknya terhadap kesehatan.
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat dengan bertumpu pada potensi daerah
Peningkatan kemauan, kemampuan, dan peran serta individu maupun keluarga dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan pribadi dan lingkungannya.
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Kabupaten Wonogiri Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu, merata di setiap daerah, dan masyarakat mampu untuk menjangkaunya, baik dari segi waktu, biaya, maupun tenaga.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
4. Mendorong pemeliharaan dan peningkatan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya
3.2. DERAJAT KESEHATAN
Terdapat beberapa keterkaitan dari beberapa aspek yang dapat mendukung meningkatnya kinerja yang dihubungkan dengan pencapaian pembangunan kesehatan, diantaranya adalah: (1) Indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator-indikator untuk mortalitas (kematian), morbiditas (kesakitan), dan status gizi. (2) Indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator-indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta (3) Indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator-indikator untuk pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor-sektor terkait.
Pengertian tentang keadaan sehat dan sakit sangat penting mengingat kita harus dapat menentukan ada tidaknya permasalahan kesehatan, terutama penyakit diantara masyarakat dan seberapa banyaknya. Secara sederhana keadaan sakit itu dinyatakan sebagai :
- Penyimpangan dari keadaan normal, baik struktur maupun fungsinya, atau - Keadaan dimana tubuh atau organisme atau bagian dari organisme/populasi
yang diteliti tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dilihat dari keadaan patologisnya.
Menurut UU RI No. 36 tahun 2009, yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,spritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap oranguntuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.Beberapa aspek yang dapat dihubungkan dengan derajat kesehatan adalah :perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan.
Program pembangunan kesehatan yang selama ini dilaksanakan dapat dikatakan cukup berhasil sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara cukup bermakna, walaupun masih dijumpai bebarapa masalah dan hambatan yang mempengaruhi pelaksanaan pembangunan kesehatan. Derajat kesehatan yang
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
optimal dapat dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur mortalitas dan yang mempengaruhinya yaitu morbiditas dan status gizi masyarakat.
Di Indonesia, indikator derajat kesehatan dapat dilihat dari ; Umur Harapan Hidup (UHH), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan, dan angka kesakitan / kematian karena penyakit tertentu serta status gizi masyarakat.
Adapun indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator-indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta Indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator-indikator untuk pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor terkait.
3.3. INDIKATOR DERAJAT KESEHATAN
Beberapa indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat pada suatu daerah adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup (UHH) dan Status Gizi. Indikator tersebut ditentukan dengan 4 (empat) faktor utama yaitu Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan, dan Faktor Genetika.
Keempat faktor utama ini diintervensi melalui beberapa kegiatan pokok yang mempunyai dampak ungkit besar terhadap upaya-upaya percepatan penurunan AKI, AKB, AKABA, dan Peningkatan Status Gizi Masyarakat serta status Angka Kesakitan dan Kondisi Penyakit Menular.
Keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan dapat dinilai sebagai indikator output yang cukup signifikan mempengaruhi indikator outcome sebagaimana yang dijelaskan berikut ini.
3.3.1. Umur Harapan Hidup (UHH)
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.
Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.
Angka Harapan Hidup Saat Lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu.
Idealnya Angka Harapan Hidup dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut Umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat Tabel Kematian. Tetapi karena sistem registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan dengan baik, maka untuk menghitung Angka Harapan Hidup digunakan cara tidak langsung dengan program Mortpak Lite.
Menurut Peraturan Presiden (Perpres) No. 29 tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012, dalam Buku III Bab III disebutkan bahwa Umur Harapan Hidup periode tahun 2010 – 2015 untuk Provinsi Jawa Tengah adalah 72,60.
Sedangkan untuk estimasi angka harapan hidup 2000 - 2025di Indonesia menurut www.statistik-indonesia.com seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Tabel 5. Estimasi Angka Harapan Hidup di Indonesia
No. Provinsi 2000-2005 (2002) 2005-2010 (2007) 2010-2015 (2012) 2015-2020 (2017) 2020-2025 (2022) 1 2 3 4 5 6 7 1. Jawa Tengah 68.9 71 72.6 73.6 74.2 Sumber : http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/922/938/ Dalam RPJM 2006-2012, upaya untuk meningkatkan UHH menjadi 70 tahun merupakan hal penting yang perlu dicermati melalui upaya-upaya peningkatan kegiatan program yang berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat seperti penurunan resiko kesakitan, pada keluarga rentan, trend penyakit degeneratif dan tidak menular, serta peningkatan kesehatan pra usila yang dapat hidup produktif dan mandiri.
Umur Harapan Hidup (UHH) dipengaruhi oleh masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) serta Angka Kematian Bayi (AKB). Semakin tinggi jumlah kematian bayi maka makin rendah Umur Harapan Hidup. Untuk Kabupaten Wonogiri dikarenakan data real belum ada maka digunakan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2011, yaitu sebesar 72,38.
3.3.2. Angka Kematian (Mortalitas)
3.3.2.1. Angka Kematian Bayi (AKB) / Infant Mortality Rate (IMR)
Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per 1.000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
AKB =
Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu di
daerah tertentu X Konstanta
Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu
Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator yang paling sensitif untuk menentukan derajat kesehatan suatu daerah. Dari laporan jumlah kematian bayi yang disampaikan dari masing-masing Puskesmas, dapat
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
diperkirakan bersumber dari fasilitas pelayanan kesehatan (facility based) dan dari laporan masyarakat atau kader (community based).
Pada tahun 2012, AKB Kabupaten Wonogiri berdasarkan laporan dari Bidang Upaya Kesehatan, didapatkan angka sebesar 6,56 per 1.000 kelahiran hidup, atau 84 kematian dari 12.814 kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan tahun 2010 dan 2011, maka angka ini mengalami penurunan, dimana pada tahun 2010 mencapai angka 12,25 per 1.000 kelahiran hidup dan tahun 2011 mencapai angka 10,08. Jadi dalam 3 tahun ini terjadi kecenderungan penurunan yang cukup signifikan, hal ini secara tidak langsung menunjukkan peningkatan kualitas program kesehatan bayi yang tentu saja akan berdampak meningkatnya derajad kesehatan di wilayah tersebut.
AKB Kabupaten Wonogiri tahun 2012 yaitu mencapai 6,56 per 1.000 kelahiran penduduk sudah melampaui target apabila dibandingkan dengan target nasional tahun 2010 (40/1.000), dan target di tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2013 sebesar 8,5/1.000. (Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2008 – 2013).
Grafik 3. Trend Angka Kematian Bayi (AKB)
di Kabupaten Wonogiri Tahun 2007 – 2012
Sumber :Data Profil Kesehatan Kab. Wonogiri 2007, 2008, 2009, 2010, 2011dan Laporan Bidang Upaya Kesehatan Dinas Kesehatan Kab. Wonogiri Tahun 2012. 4,53 12,32 9,75 12,25 10,1 6,6 0 2 4 6 8 10 12 14 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Jumlah kematian bayi terbanyak berada di wilayah UPT Puskesmas Manyaran dan UPT Puskesmas Selogiri(6 kematian), adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 7.
3.3.2.2. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-5 tahun selama satu tahun tertentu per 1.000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi).
AKABA =
Banyaknya kematian anak berusia 0-5 th pada
satu tahun tertentu di daerah tertentu X Konstanta Jumlah Kelahiran Hidup
AKABA merupakan salah satu indikator kesehatan yang ikut mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. AKABA di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2012 sebesar 7,26 per 1.000 kelahiran hidup, dengan jumlah kasus sebanyak 93 kematian, termasuk kematian bayi, dibandingkan dengan 12.814 KLH. Apabila dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 11,81 per 1.000 kelahiran hidup, dengan jumlah kasus sebanyak 157 kematian, termasuk kematian bayi, dibandingkan dengan 13.289 KLH dan tahun 2010 yaitu sebesar 11,02 per 1.000 KLH, atau 156 kematian dari 14.159 KLH, maka angka ini menunjukkan peningkatan. Sedangkan bila dibandingkan dengan tahun 2009, angka ini juga mengalami peningkatan, yang menunjukkan angka 11,02 per 1.000 KLH. Apabila dibandingkan dengan tahun 2008, terdapat perbedaan yang menyolok, dimana pada tahun 2008 menunjukkan angka 0,49 per 1.000 KLH. Adanya perbedaan yang mencolok ini disebabkan oleh karena adanya perbedaan perhitungan, dimana pada tahun 2008, sebagai pembagi adalah jumlah seluruh balita, sedangkan pada tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012, sebagai pembagi adalah jumlah kelahiran hidup.
Kematian balita tertinggi berada di wilayah UPT Puskesmas Manyaran (7 kematian) dan Selogiri (6 kematian).Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 7.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
3.3.2.3. Angka Kematian Ibu (AKI)/Maternal Mortality Rate (MMR)
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
AKI =
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari
setelah melahirkan, pada tahun tertentu, di daerah tertentu.
X Konstanta (100.000 bayi
lahir hidup) Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi
yang lahir hidup pada tahun tertentu, di daerah tertentu
Angka Kematian Ibu atau AKI mencerminkan resiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh keadaan, sosial ekonomi, keadaan kesehatan kurang baik menjelang kehamilan.Kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran.Serta tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.
Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi, dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas.
Untuk mengetahui besaran masalah kesehatan ibu, indikator yang digunakan adalah Angka Kematian Ibu (AKI).Perhitungan AKI disetiap puskesmas sulit dilakukan karena jumlah kelahiran hidup tidak mencapai 100.000 kelahiran hidup.
Untuk mengurangi bias perhitungan AKI yang direkomendasikan oleh WHO dalam 100.000 kelahiran hidup, maka digunakan Rasio Kematian Ibu. Untuk menghitung rasio kematian ibu di Kabupaten Wonogiri tidak dapat dilakukan karena angka kelahiran di Kabupaten Wonogiri kurang dari 100.000 kelahiran hidup.Namun demikian, bila diasumsikan, maka AKI
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 adalah 101,5 per 100.000 kelahiran hidup, atau 13 kematian dari 12.814 KLH. Angka ini meningkat cukup tajam bila dibandingkan capaian tiga tahun terakhir, yaitu tahun 2011 sebesar 75,25 per 100.000 KLH, tahun 2010 sebesar 86,9 per 100.000 KLH dan tahun 2009 sebesar 98,88 per 100.000 KLH. Apabila dibandingkan dengan target nasional tahun 2010 (150 per 100.000 kelahiran hidup), maka angka ini sudah mencapai target, namun apabila dibandingkan target daerah untuk tahun 2012 yaitu 90 per 100.000 KLH maka capaian tersebut belum mencapai target. Dari tahun 2008 sebenarnya kecenderungann AKI mengalami penurunan, akan tetapi untuk tahun ini, terjadi peningkatan yang cukup menyolok, hal ini dikarenakan kasus disertai dengan penyakit kronis atau komplikasi berat.
Kematian ibu terbesar berada di wilayah kerja UPT Puskesmas Ngadirojo(3 kematian).Sedangkan puskesmas dengan kasus 2 kematian terjadi di wilayah kerja UPT Puskesmas Wonogiri I. Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 8.
Grafik 4. Trend Angka Kematian Ibu (AKI)
Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2007 s/d 2012
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri 2007, 2008, 2009, 2010, 2011dan Laporan Bidang Upaya Kesehatan Tahun 2012
124,48 113,96 98,88 86,97 75,25 101,5 0 20 40 60 80 100 120 140 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Meningkatnya jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Wonogiri antara lain disebabkan oleh karena kasus yang ada disertai penyakit kronis atau komplikasi berat, misalnya :suspect ruptura uteri, perdarahan, partu lama, risiko tinggi akibat umur, eklamasi, serta post sectio. Hal ini dipengaruhi oleh masih kurangnya kuantitas maupun kualitas tenaga bidan terutama di wilayah terpencil serta kelengkapan sarana dan pra sarana dalam pelayanan obstetrik dan neonatal baik itu di Pondok Bersalin Desa (Polindes) maupun di puskemas, kondisi sosial ekonomi masih rendah yang juga mempengaruhi tingkat pendidikan masyarakat, sehingga menyebabkan pertolongan persalinan oleh dukun masih tinggi, kunjungan rumah (sweeping) post persalinan belum optimal, serta letak geografis yang masih sulit dijangkau. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan langkah yang segera dilakukan, misalnya meningkatkan keterpaduan pelayanan dalam deteksi resiko tinggi pada kehamilan / ANC, mulai dari tingkat pelayanan dasar sampai tingkat pelayanan rujukan. Selain itu juga perlu terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran bidan, dengan disertai peningkatan kompetensi tenaga bidan melaui pelatihan-pelatihan. Harapan kita agar bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR).Selain itu melalui pengembangan Desa Siaga dengan pembangunan poskesdes yang merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menurunkan AKI.
3.3.3. Angka Kesakitan (Morbiditas)
Angka kesakitan penduduk diperoleh dari data yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 3.3.3.1. Penyakit Bersumber Binatang
A. Pemberantasan Penyakit Malaria (P2 Malaria)
Malaria adalah salah satu penyakit menular yang banyak terjadi di daerah tropis dan sub tropis. Penyakit ini semula sering muncul dan ditemukan di daerah rawa-rawa dan diperkirakan disebabkan oleh udara yang buruk, sehingga dikenal sebagai malaria (mal = jelek, aria = udara). Seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, pendapat ini dimentahkan oleh berbagai data mutakhir.
Malaria disebabkan oleh bibit penyakit yang hidup di dalam darah manusia. Bibit penyakit tersebut binatang bersel satu
Malaria merupakan salah satu penyakit yang dapat muncul kembali setelah dilakukan upaya eradikasi maupun eliminasi (re-emerging desease) dan masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat Asia Tenggara, begitu juga di Indonesia penyakit ini menjadi ancaman dan mempengaruhi tingginya angka kesakitan dan kematian.
Penyakit Malaria menyebar cukup merata di seluruh kawasan Indonesia, namun paling banyak dijumpai di luar wilayah Jawa-Bali, bahkan di beberapa tempat dapat dikatakan sebagai daerah endemis malaria. Menurut hasil pemantauan program diperkirakan sebesar 35% penduduk Indonesia tinggal di daerah endemis Malaria.
Jumlah penderita malaria di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2012, berdasarkan pemeriksaan sediaan darah, terdapat 3 penderita malaria, yaitu di wilayah UPT Puskesmas Tirtomoyo II, Wuryantoro dan Jatiroto. Apabila dibandingkan dengan tahun tahun 2010 dan 2011, angka ini menunjukkan kenaikan, dimana pada tahun 2010 tidak ditemukan penderita malaria dan di tahun 2011 ditemukan 2 penderita. Kondisi tahun ini sama dengan yang terjadi pada tahun 2009 yaitu tercatat ada 3 penderita.
Penderita malaria untuk tahun ini menyebar di tiga wilayah, daerah yang dalam dua tahun terakhir ini terdapat penderita malaria adalah wilayah UPT Puskesmas Jatiroto. Akan tetapi kasus yang ada adalah kasus dari luar daerah (import).
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Hal ini perlu terus didukung dengan peran serta masyarakat dalam penanggulangan malaria antara lain melalui : (1) kepatuhan minum obat anti malaria agar setiap penderita dapat minum obat secara tuntas, (2) pencegahan gigitan nyamuk melalui pemakaian kelambu, pemasangan kasat kasa di rumah, pemakaian obat gosok penolak nyamuk (repellent), pemakaian baju tebal dan (3) pencegahan terjadinya sarang nyamuk malaria melalui pembersihan lumut di tempat-tempat/bagian rumah yang lembab, pencegahan terbentuknya genangan air, memelihara ikan pemakan jentik di genangan air, serta pencegahan terbentuknya sarang nyamuk.
B. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (P2 DBD)
Tingginya mobilitas penduduk, belum memasyarakatnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta masih rendahnya angka bebas jentik (ABJ),merupakan kondisi yang menyebabkan DBD masih merupakan masalah di Kabupaten Wonogiri.Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial).
Pada tahun 2012, angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) sebesar 1,04 per 100.000 penduduk. Angka ini didapatkan dari perbandingan antara jumlah penderita sebanyak 13 orang, dan dibandingkan dengan jumlah penduduk.
Pada dua tahun terakhir angka kesakitan Demam Berdarah Dengeu (DBD) mengalami kecenderungan penurunan, pada tahun 2010 angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) sebesar 28,41 per 100.000 penduduk, dengan penderita sebanyak 354 penderita dan tahun 2011 angka kesakitan DBD sebesar 0,88 per 100.000 penduduk dengan penderita sebanyak 11 penderita. Akan tetapi untuk tahun ini, angka kesakitan DBD ada kecenderungan kenaikan dari tahun sebelumnya, namun apabila dibandingkan dengan angka kesakitan dalam empat tahun terakhir, yaitu tahun 2008, 2009, 2010 dan tahun 2011, maka angka kenaikan tersebut masih rendah bila dibandingkan angka kesakitan pada tahun – tahun tersebut.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 Grafik 4. Trend Angka Kesakitan DBD
Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2008 s/d 2012
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri tahun 2008, 2009,2010, 2011 dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2012
UPT Puskesmas dengan jumlah penderita DBD tertinggi berada di wilayah UPT Puskesmas Wonogiri I sebanyak 4 penderita, dan dibawahnya UPT Puskesmas Selogiri dan Eromoko Imasing-masing sebanyak 2 penderita. Sedang UPT Puskesmas dengan 1 penderita, berada di wilayah kerja UPT Puskesmas Pracimantoro II, Wonogiri II, Ngadirojo, Jatisrono II, dan Girimarto.
Bila dilihat dari banyaknya penderita yang berasal dari wilayah kerja Puskesmas yang berpenduduk relatif padat, dan berada dalam jalur mobilitas yang tinggi, maka hal ini kemungkinan disebabkan oleh lingkungan pemukiman yang padat, banyaknya sampah, genangan air bersih, semak belukar pada lahan kosong, dan kebersihan lingkungan. Kemungkinan juga adanya baju-baju yang digantung di dalam rumah, kondisi rumah yang gelap dan lembab, menambah risiko untuk perkembangbiakan nyamuk jenis Aedes aegypti. Kemungkinan lain yaitu
27 33 28 1 1 0 5 10 15 20 25 30 35 40 2008 2009 2010 2011 2012
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
adanya mobilitas penduduk yang tinggi, yang dapat terinfeksi pada saat di lain daerah.
Beberapa sumber mengemukakan, bahwa jentik yang dihasilkan dari induk nyamuk yang sudah terinfeksi virus dengue, apabila sudah menjadi nyamuk, sudah akan mampu menularkan penyakit demam berdarah, karena sudah terinfeksi dari induknya. Sumber yang lain mengemukakan, nyamuk yang terinfeksi oleh virus dengue, akan mengalami kemunduran kemampuan menghisap darah. Sehingga nyamuk akan berulang-ulang mencoba dari satu orang ke orang yang lain, sekaligus menularkan virus dengue ke tubuh korban.
Apabila dihubungkan dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), dimana pada tahun 2012 ini dari 72.852 rumah yang diperiksa, baru 62.161 yang dinyatakan bebas jentik, atau sebesar 85,32%. Angka ini apabila dibandingkan dengan standar ABJ, dimana ABJ sebesar 95%, maka belum memenuhi ABJ yang dipersyaratkan, dan apabila dibandingkan dengan tahun lalu yaitu sebesar 92,66% maka tahun ini kecenderungannya menurun. ABJ paling rendah berada pada wilayah kerja UPT Puskesmas Karangtengah (39,60%), dan ABJ tertinggi berada di wilayah kerja UPT Puskesmas Sidoharjo (100%).Perlu dikaji lebih dalam untuk tahun-tahun selanjutnya tentang data Angka Bebas Jentik (ABJ), karena UPT Puskesmas Karangtengah dengan kondisi daerah berada di dataran tinggi, ABJ nya justru sangat rendah.
3.3.3.2. Penyakit Menular Langsung
A. Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2 TB Paru)
Berdasarkan laporan WHO (Global Tuberculosis Control 2012), pada tahun 2011, Indonesia merupakan negara dengan peringkat ke-4 terbesar, untuk kasus incident cases TBC, dengan peringkat 5 besar adalah India (2 – 2,5 juta), China (0,9 – 1,1 juta), Afrika Selatan (0,4 – 0,6 juta), Indonesia (0,4 – 0,5 juta), dan Pakistan (0,3 – 0,5 juta).
Angka tersebut diyakini sangat memungkinkan, apalagi bila dikaitkan dengan kondisi lingkungan perumahan, sosial ekonomi masyarakat,